Mengaji lewat YouTube

Oleh: Komaruddin Hidayat

SAYA sangat berterima kasih kepada pencipta YouTube, semoga kreasinya jadi amal saleh di hadapan Tuhan. Mengapa? Karena YouTube sangat membantu dan mempermudah saya mengaji, mengikuti berbagai diskusi dan ceramah ilmiah yang sangat berkualitas secara gratis.

Kita tinggal pilih topik dan penceramah, dalam bidang apa pun, termasuk agama, termasuk agama Islam. Dengan mudah dan murah kita bisa berkenalan dengan para pemikir Indonesia dan dunia.

Di antara topik ceramah dan diskusi yang selalu saya ikuti adalah studi perbandingan agama dan filsafat yang disampaikan sarjana Barat atau sarjana muslim yang tinggal di Barat. Misalnya saja dialog antara pendeta Kristen dan intelektual muslim seputar pertanyaan: apakah Bibel dan Alquran firman Tuhan?

Masing-masing berusaha menyampaikan argumennya secara ilmiah tanpa nada marah dan mengafirkan yang lain. Mereka berdiskusi sesuai dengan topik dan substansi yang telah disepakati. Silakan pendengar mengambil simpulan sendiri.

Yang juga sangat mengasyikkan adalah mengikuti ceramah ilmuwan Barat yang masuk Islam. Cukup banyak YouTube menyajikan ini.

Sering kali saya dibuat terhenyak mendengarkan cara pandang mereka terhadap Islam, sebuah cara pandang baru dan lain yang tidak biasa saya dengarkan dalam ceramah di Indonesia. Misalnya saja pengalaman Jeffry Lang masuk Islam. Bagaimana perkenalan pertama dengan Alquran dan apa yang membuatnya terpikat pada kitab suci ini sehingga akhirnya masuk Islam.

Ada juga sarjana ahli sejarah Bibel yang akhirnya memeluk Islam setelah melakukan kajian kritis-kompararif dua kitab suci tersebut. Dan masih banyak YouTube menyajikan kisah orang Barat berkonversi ke Islam.

Namun menarik juga mengikuti paparan kritis terhadap Islam. Dalam YouTube, Islam kerap dikritik dengan berbagai argumen rasional, hal yang tidak terbayang bisa terjadi di Indonesia.

Jika hal ini terjadi di Indonesia, pasti pelakunya segera divonis sebagai menghina Islam dan sejenisnya. Jadi berbagai pikiran keislaman yang di sini sudah dianggap liberal dan itu disampaikan oleh orang Islam sendiri sesungguhnya pemikiran itu masih sangat jauh dari liberal jika kita sering mengikuti perdebatan agama di YouTube. Semua itu merupakan kuliah gratis bagi mereka yang ingin berdakwah di kalangan masyarakat intelektual yang terbiasa berpikir kritis dan liberal.

Kuliah agama di YouTube sangat membantu mereka yang tidak sempat membaca buku dan tidak sempat datang ke forum pengajian. Dengan modal handphone dan langganan wifi, kita bisa belajar di mana saja, kapan saja, daripada bergosip di medsos.

Beragam pendakwah dan ulama di Indonesia juga bisa diikuti, sejak dari penceramah yang lucu sampai yang nadanya keras. Berbagai ulama dengan latar belakang keilmuan yang berbeda-beda menambah wawasan keislaman kita.

Janganlah terikat hanya pada satu ustaz dan satu kelompok pengajian. Dengarkan semuanya untuk memperluas wawasan agar kita tidak berpandangan sempit. Islam itu luas, jangan dipersempit. Sepandai-pandai seorang ulama, dia tetap dibatasi oleh bidang kajiannya yang juga terbatas. []

KORAN SINDO, 19 Januari 2018

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Ajakan ke Jalan Tuhan

DAKWAH artinya mengajak atau mengundang. Yaitu mengajak ke jalan Tuhan. Ada dua kata kunci yang mesti diperhatikan, yaitu kata mengajak dan jalan Tuhan.

Layaknya undangan ke pesta perkawinan, maka pihak yang mengajak atau mengundang mesti bersikap simpatik, ramah, menghargai pihak yang diundang, dengan bahasa jelas dan enak didengar. Bukan teriak-teriak dengan paksaan.

Kita semua memiliki pengalaman dan perasaan, jika ajakan dan undangan itu bersikap simpatik, kita pun akan membalasnya dengan simpatik pula. Tetapi, jika seseorang menyeru, memanggil, mengundang, dan mengajak dengan bahasa dan cara kasar, bahkan dengan nada marah dan mengancam, pasti kita akan tersinggung serta cenderung menolaknya.

Demikian halnya dengan berbagai dakwah keagamaan yang kita saksikan dalam masyarakat dan media sosial. Masih ada dakwah yang disampaikan dengan nada marah-marah, menghakimi, bahkan marah jika yang diajak tidak mau. Bahkan, ada yang mengancam agar mau diajak.
Tentu dakwah dengan cara mengancam dan menakutkan ini bertolak belakang dengan kata dan konsep dakwah itu sendiri. Sekali lagi, dakwah artinya memanggil, menyeru, dan mengundang. Bukan memarahi dan mengancam.

Dakwah bisa juga dianalogikan dengan orang berjualan menawarkan barang dagangannya. Sebaik apa pun barang yang dimiliki, jika cara menawarkan barangnya tidak cerdas dan menarik, pasti orang enggan membelinya.

Metode ini secara eksplisit disebutkan dalam Alquran (Nahl 16: 125), Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana, dengan nasihat yang baik, dan kalaupun mereka mengajak berdebat, lakukanlah dengan cara yang baik.

Kata kunci kedua adalah jalan Tuhan. Dalam bahasa Arab terdapat banyak kata yang bermakna jalan. Artinya, banyak jalan menuju Tuhan. Dalam penggalan terjemahan ayat Alquran di atas, ajaklah mereka ke jalan Tuhan. Jadi, penekanannya di sini adalah agar seseorang masuk dan berjalan di jalan Tuhan.

Adapun tingkat kekuatan dalam berjalan atau berlari, tiap orang memiliki kapasitas berbeda-beda. Kalaupun mereka menggunakan alat bantu berupa sepeda, motor, atau mobil, kapasitas, kekuatan, dan kecepatannya berbeda-beda pula.

Bunyi lahiriah teks tentang berdakwah itu yang pertama seseorang mau bergabung di jalan Tuhan, tapi mesti disadari bahwa capaian dan prestasi seseorang dalam perjuangan mendekati Tuhan itu jangan dipaksakan dan diseragamkan. Lebih dari itu, di sana banyak jalan menuju Tuhan. Jadi, siapa pun yang berdakwah janganlah dengan bahasa marah-marah serta mudah menghakimi dan mengafirkan orang lain jika berbeda.

Dalam berbagai kesempatan, saya sering berjumpa dan berdialog dengan teman-teman seputar pemahaman dan praktik keberagamaan. Ada pengusaha yang salatnya minus, tidak disiplin salat lima kali sehari. Namun, begitu sedekah, zakat dan amal sosialnya banyak.

Ada juga sebaliknya, ibadahnya rajin tetapi perilaku sosialnya kurang bagus. Ada orang yang miskin ilmu dan miskin harta, tapi rajin dan pemurah untuk menolong tetangga jika memperoleh kesulitan. Dia membantu dengan tenaganya.

Hal-hal demikian ini tentu kita bisa mengkritiknya, namun kita tidak bisa memaksa mengikuti apa yang kita maui dan kita juga tidak tahu bobot ketakwaannya di hadapan Tuhan. Apalagi aspek keimanannya yang sangat pribadi, kita tidak tahu.

Mengingat negara dan ruang publik milik rakyat dengan beragam agama, bahasa, dan budaya, maka siapa pun berdakwah hendaknya jangan melakukan ceramah dan provokasi yang merusak ruang publik serta memperlemah negara. Keberadaan negara dan ruang publik itu mesti dijaga bersama-sama, sebagaimana masyarakat menjaga keamanan pasar, tempat masyarakat melakukan transaksi jual-beli, apa pun latar belakang etnik dan agamanya.

Selain itu, juga sekolah-sekolah negeri, mesti dijaga karakter inklusifnya karena dibiayai uang rakyat. Kecuali lembaga pendidikan yang sejak awal sudah bersifat eksklusif keagamaan seperti madrasah negeri.

Mendakwahkan agama ibarat menawarkan emas. Sekalipun kualitas bagus, asli, mestinya ditawarkan dengan cara elegan agar tidak merendahkan kualitas barang yang ditawarkan. Kebenaran sebuah agama mampu membela dirinya sendiri. Jangan malah direndahkan oleh para agen penjualnya. []

KORAN SINDO, 24 November 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah