Makhluk Peziarah

Sumber Tulisan : Koran Sindo

Hidup itu gerak. Ke mana pun mata memandang selalu melihat manusia bergerak, baik sendiri-sendiri maupun berkelompok.

Ketika seseorang terlihat diam atau tidur pun dalam dirinya berlangsung prosesi dan peristiwa gerak, utamanya jantung dan pernafasan. Juga pikiran dan emosinya. Betapa kompleks dan sibuknya organ-organ tubuh kita yang tak pernah diam. Sejak dari mata, jari, mulut, kaki, tangan, semuanya tak pernah diam.

Terlebih emosi, yang terdiri atas kata energy and motion—sebuah daya jiwa yang selalu bergerak dan menggerakkan, sehingga menimbulkan perasaan suka dan duka, senang danbenci, sertasekianbanyak perasaan lain yang setiap saat hadir, di mana pun seseorang berada. Bahkan tanpa kita sadari bumi tempat kita berada ini juga selalu dalam posisi bergerak.

Bertawaf mengelilingi matahari. Kuriositas (curiosity ) atau dorongan untuk selalu ingin mengetahui hal-hal baru merupakan ciri manusia. Dorongan ini difasilitasi oleh mata, telinga, dan kaki sehingga setiap ada kesempatan seseorang selalu ingin berziarah, jalan-jalan, rekreasi, atau berpetualang memperluas wawasan dan pengalaman hidupnya.

Pengalaman artinya sesuatu yang pernah dijalani, dirasakan, dan diketahui. Dalam pengembaraan ini faktor imajinasi sangat besar pengaruhnya. Sekian banyak inovasi sains dan teknologi supermodern pada awalnya distimulasi oleh kekuatan imajinasi manusia yang tak ada batasnya. Makanya, dalam sejarah pemikiran manusia dikenal istilah mitos dan logos.

Mitos merupakan sebuah daya khayal manusia yang sangat liar dan bebas tak terstruktur. Manusia bebas membayangkan dan mengkhayalkan apa saja. Dulu orang membayangkan jalan-jalan ke angkasa mengendarai karpet. Orang Jawa membayangkan Gatotkaca terbang ke angkasa. Lalu Ontorejo bisa menghilang masuk ke bumi.

Seiring dengan perjalanan dan pengalaman panjang hidup manusia yang disertai daya nalar yang logis, maka logos berusaha menstrukturkan daya-daya imajinasi yang liar itu agar bisa diwujudkan dalam realitas empiris.

Logos ini pada urutannya melahirkan formula ilmu pengetahuan sehingga imajinasi tentang karpet terbang atau Gatotkaca jalan-jalan ke angkasa sekarang tergantikan oleh pesawat terbang berkat dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi. Begitu pun sosok imajinasi Ontorejo masuk dan menghilang ke perut bumi, sekarang diperankan oleh para insinyur pertambangan untuk berburu tambang di dalam perut bumi atau para penyelam lautan mencari mutiara.

Manusia melakukan ziarah karena berbagai motif dan pertimbangan. Ada motivasi bisnis, rekreasi, keilmuan, tugas negara, riset, dan motif lain. Yang sangat fenomenal adalah ziarah ke planet lain. Namun, sesungguhnya tanpa kita sadari kita semua hampir setiap hari melakukan ziarah, bertemu orang lain dan mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru.

Terlebih mereka yang hidup di kota metropolitan, sering kali berjumpa kenalan dan komunitas baru, termasuk komunitas berbeda profesi, agama, budaya, dan bahasa. Semua pengalaman itu pasti memperkaya wawasan hidup seseorang. Ada pula yang membuat gelisah setelah melihat komunitas lain yang lebih maju, membuat seseorang menjadi iri, rendah diri, ataupun sebaliknya menjadi terpacu untuk mengejar ketertinggalannya.

Ketika kita mempelajari sejarah dan ilmu bumi, sesungguhnya kita juga tengah berziarah ke masa lalu dan jalanjalan secara virtual ke negara orang untuk mengenal alam dan budayanya. Dengan semakin banyak stasiun televisi, semakin banyak sajian acara yang mengajak pemirsa untuk berziarah, berwisata, dan istilah lain yang spirit dan maknanya sama.

Implikasi sosial lebih jauh, sekarang ini apa yang dahulu disebut ”budaya asli” suatu masyarakat, lamalama tak bisa lagi dipertahankan karena muncul budaya hibrida dan eklektik. Campuran, perjumpaan, asimilasi, dan integrasi dari berbagai elemen budaya yang berbeda-beda. Termasuk juga budaya yang bernuansa agama.

Misalnya tradisi perayaan tahun baru Masehi, yang awalnya bagian dari budaya Barat-Kristen, sekarang telah menjadi agenda tahunan di lingkungan masyarakat Islam. Begitu pun Valentine Day. Sebaliknya, umat nonmuslim juga telah akrab dan partisipasi ikut memeriahkan hari-hari besar Islam, utamanya Idul Fitri.

Dunia semakin pendek jaraknya dan mudah dijangkau. Sekaligus juga semakin plural dan warna-warni. Jumlah penduduk bumi bertambah setiap menit. Artinya, objek ziarah budaya juga semakin banyak yang menarik dikunjungi. Secara teologis, hidup ini pun sebuah ziarah.

Namun ziarah bukan sekadar rekreatif, melainkan dengan visi dan misi yang mulia. Yaitu memakmurkan bumi, menyejahterakan sesama makhluk Ilahi yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban Tuhan di akhirat nanti.

PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah @komar_hidayat

source: http://nasional.sindonews.com/read/1040514/18/makhluk-peziarah-1441330751

Festive Culture

Sumber Tulisan: Disini

(KORAN SINDO, 24 Mei 2013). Dari sekian banyak predikat yang dilekatkan pada manusia, salah satunya adalah homo festivus. Ini karena manusia sangat senang dan kreatif mencipta acara festival, acara pesta perayaan.

Coba saja perhatikan, masyarakat dan bangsa mana pun di dunia pasti memiliki tradisi festival yang pada umumnya dan pada mulanya berkaitan dengan keyakinan keagamaan. Banyak festival yang sampai sekarang masih kental warna agamanya, namun banyak juga yang dimensi agamanya hilang, yang bertahan tinggal festivalnya yang bersifat profan. Acara festival selalu tampil dalam bentuk kemeriahan publik, disertai nyanyian-nyanyian dan tarian.

Mengapa festival selalu bertahan dan dipertahankan? Satu, festival mampu mengikat emosi warga komunitas, mengusir rasa sepi dan terasing dari komunitasnya. Seseorang dengan mudah lebur ke dalam keramaian publik, terlebih lagi jika ada musik dan tarian massal. Lebih semangat lagi jika festival itu diperlombakan, maka emosi dan identitas kelompok kian menguat.

Dua, festival bisa mengobati kegelisahan (axiety) warga masyarakat ketika merasa kehilangan makna dan arah dalam hidup, sehingga dengan festival mereka diingatkan akan nilai-nilai warisan masa lalu serta cita-cita hidup yang lebih tinggi, terutama ketika seseorang ikut festival keagamaan. Yang paling kolosal adalah festival haji. Sebuah ritual keagamaan yang dirayakan secara spektakuler, melewati sekat-sekat etnis dan bangsa, yang semuanya terarah untuk memuji Allah.

Di situ terdapat unsur bacaan puji-pujian, gerakan yang terstruktur, dan pakaian ihram yang khas. Tiga, setiap festival selalu melahirkan suasana kegembiraan dalam kebersamaan. Dimensi estetika tak pernah ketinggalan. Dalam festival budaya, olahraga dan kenegaraan selalu mengundang kreasi baru dari tahun ke tahun.

Dalam festival kenegaraan, faktor uang dan ongkos lain yang diperlukan, tak lagi menggunakan logika bisnis. Negara tak segan-segan mengeluarkan biaya tinggi. Di situ telah terjadi sakralisasi dan mitologi, sekalipun di luar domain agama. Kalau dalam ritual agama terjadi sakralisasi terhadap simbol dan instrumen keagamaan, dalam festival kenegaraan sakralisasi dilekatkan pada simbol-simbol negara seperti bendera, tanah air, dan para pahlawan bangsa.

Di luar festival agama dan negara, masyarakat juga sangat kreatif dan produktif mencipta festival lain. Misalnya peristiwa ulang tahun, pernikahan, open house, dan lainnya. Semakin banyak penduduk bumi, semakin banyak jumlah dan ragam penyelenggaraan festival. Mari kita amati kehidupan sekeliling kita sendiri maupun melalui pemberitaan di media massa.

Selalu saja ada panggung pesta, perayaan, perlombaan karya seni, dan ritual kehidupan yang memiliki pola sama, lalu diulang- ulang dengan berbagai modifikasi dan tambahan aksesori seiring dengan kemajuan teknologi. Indonesia, yang dikenal sebagai masyarakat majemuk, sungguh kaya ragam festival yang diselenggarakan masyarakatnya.

Kini kemajemukan tadi ditambah lagi oleh munculnya ormas, parpol, forum, paguyuban, asosiasi hobi, organisasi profesi, dan entah apa lagi yang masing-masing pasti memiliki agenda festival, sehingga mendorong lahirnya apa yang disebut festive culture. Tren ini tentu menjadi sasaran dan peluang bagi kalangan perancang mode, koreografer, dan industri hiburan serta media sosial seperti televisi.

Di luar keluh kesah dan hiruk-pikuk kegiatan politik dengan bumbu korupsi yang kadang menyebalkan, festival kehidupan tetap berjalan dan semakin meriah karena telah membaur berbagai ritme, gaya dan pola hidup dalam panggung budaya dan agama. Saya sering tercenung ketika duduk di airport, mengamati lalu-lalang orang melakukan perjalanan. Bandar udara selalu saja ramai dan masing-masing pribadi atau kelompok memiliki agenda serta tujuan yang berbeda.

Di situ terdapat kemeriahan, kegembiraan, keluh kesah, kekecewaan, dan perasaan lain, namun semuanya berlangsung bagaikan sebuah ritme dan festival kehidupan itu sendiri. Hal serupa juga terjadi di perkantoran, mal, pusat-pusat industri, kantor birokrasi dan sebagainya. Sekali lagi, hidup itu sendiri merupakan festival yang mesti dirayakan. Bagaimana cara mencapainya dan untuk kepentingan apa dan siapa, serta apa niatnya, tergantung pribadi masing-masing.