Pesona Tidore

SEBUAH ketidaksengajaan yang sangat mengesankan, akhirnya sampai juga saya menginjakkan kaki di Pulau Tidore setelah diskusi buku Building A Ship While Sailing bersama pengarangnya, SD Darmono, di Universitas Khairun, Ternate, pada 23 Oktober lalu.

Hanya 10 menit naik kapal boat dari Ternate, Anda akan sampai di Pulau Tidore, sebuah pulau di Maluku Utara seluas sekitar 40 km persegi dengan penduduk 100.000 jiwa. Alamnya subur, bangunan kantor, masjid, dan rumah berdiri di pinggir jalan menghadap ke laut di bawah kaki Gunung Matubu.

Hanya butuh waktu dua jam dengan naik mobil untuk berkeliling menelusuri jalan utama Tidore melihat keindahan alam dengan suasananya damai. Bangunan masjid terlihat di sepanjang perjalanan sehingga Pulau Tidore juga disebut Pulau Seribu Masjid.

Menurut Rifda Amarina, seseorang pengusaha putri Ternate alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) yang menjadi guide kami, masyarakat Tidore hidupnya santai, tenang, bahagia, tidak merasa dikejar-kejar waktu, tidak juga cemas menghadapi masa depan. Mereka tidak konsumtif, berpakaian sekadarnya, terpenting nyaman dan sopan.

Terlihat memang beberapa ibu dengan daster berjalan santai di jalan utama untuk belanja dan ada lagi yang naik motor. Saya melihat beberapa orang tua hanya mengenakan pakaian pendek tanpa baju duduk-duduk di depan rumah. Mereka hidup damai menyatu dengan alam. Kendaraan umum tidak boleh beroperasi di atas pukul 18.00 agar tidak mengganggu ketenangan malam.

Rifda menunjuk lembaran seribu rupiah, di sana ditampilkan Pulau Maitara yang sangat menawan dikelilingi laut yang jernih, ikut mempercantik pemandangan alam Tidore dan Ternate. Sejak dulu Pulau Tidore juga dikenal dengan komoditas cengkeh dan palanya yang membuat Belanda, Portugis, dan Spanyol berebut datang ke pulau ini.

Kami sempat mengunjungi peninggalan benteng Portugis di Ternate dan benteng Spanyol di Tidore, dua negara yang pernah bersaing menguasai rempah-rempah di sana. Namun, pedagang Arab datang lebih dahulu sambil menyebarkan Islam sehingga wilayah ini disebut jaziratul muluk, wilayah yang memiliki banyak raja atau sultan.

Saking indah alamnya dan kaya dengan ragam ikannya, banyak mereka yang hobi memancing untuk datang ke tempat ini. Di pengujung Oktober ini untuk yang pertama kali diselenggarakan turnamen memancing tingkat internasional di sekitar Pulau Widi.

Widi International Fishing Turnament 2017 ini diikuti 12 negara dengan jumlah peserta sekitar 250 orang. Para turis pemancing ini diharapkan nanti ikut mempromosikan fishing tour daerah Maluku Utara pada dunia, mengingat wilayah ini kaya dengan berbagai jenis ikan langka dengan airnya yang jernih serta ombaknya kecil karena dikelilingi pulau-pulau.

Berbeda dari pemancing masyarakat kita, peserta turnamen ini tidak akan membawa pulang ikannya. Kalau berhasil mendapatkan ikan, panitia atau juri akan menimbang dan menghitung bobotnya, lalu ikannya dilepas kembali ke laut. Jadi pemenang adalah yang terbanyak menangkap ikan.

Kata Rifda, penduduk Tidore akan merasa miskin dan malu jika tidak bisa menyediakan makan bagi setiap tamu yang berkunjung ke rumahnya. Kehidupan mereka ditopang oleh pertanian dan nelayan. Bangunan rumah dan masjidnya kokoh, bagus-bagus, tetapi penduduk sedikit.

Kesultanan Ternate dan Tidore masih dilestarikan sampai hari ini. Dulu di antara sultan itu kadang terjadi perseteruan. Misalnya, pada tahun 1521, Sultan Mansur Tidore menerima Spanyol sebagai sekutu untuk mengimbangi Kesultanan Ternate yang bersekutu dengan Portugis. Namun, pada masa Sultan Nuku (1780–1805), Kesultanan Tidore dan Ternate bisa dipersatukan untuk melawan Belanda yang dibantu Inggris.

Hari ini Kesultanan Tidore dipegang oleh Sultan Husain Syah. Ketika kami berkunjung ke istananya hanya sempat berbicara lewat telepon karena Sultan sedang di Jakarta. Sedangkan Kesultanan Ternate dipegang Mudzafar Shah.

Di antara sultan Ternate yang terkenal adalah Sultan Babullah (1528–1583) yang namanya diabadikan sebagai nama Airport Ternate, sedangkan ayahnya, Sultan Hairun, namanya diabadikan sebagai Universitas Negeri Khairun, Ternate.

Melihat dari dekat kekayaan dan keindahan alam Maluku Utara, sungguh merupakan potensi industri pariwisata amat sangat besar. Mengingatkan kita pada industri wisata Yunani yang memberikan devisa tertinggi pada kas negara.

Tetapi sangat disayangkan potensi ini tidak atau belum diberdayakan oleh pemerintah pusat dan daerah secara optimal. Saya kira turis asing, seperti Jepang atau Belanda, akan sangat menikmati tinggal berlama-lama di Pulau Tidore yang sepi dengan pemandangan alamnya yang memesona sambil menapak tilas sejarah. []

KORAN SINDO, 27 Oktober 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Kuliah Sambil Kerja

Oleh: Komaruddin Hidayat

Bisa studi lanjut ke luar negeri itu menjadi idaman bagi banyak mahasiswa. Orang membayangkan betapa enak dan kerennya kalau bisa memperoleh beasiswa ke negara maju.

Tentu saja bayangan itu tidak salah, namun bagi mereka yang menjalani akan memiliki pengalaman dan cerita lain. Adalah hal yang lumrah, kuliah sambil bekerja untuk mencari tambahan biaya. Terlebih jika mengambil program pascasarjana dengan disertai istri dan anak, beban psikologis dan ekonomis cukup berat dirasakan yang berimplikasi pada kelancaran dan prestasi studinya. Secara intelektual, para penerima beasiswa ke perguruan tinggi di Barat, misalnya, mesti melewati persaingan yang berat dan ketat.

Oleh karenanya, mereka yang telah lolos ujian seleksi bahasa dan potensi intelektual pasti bagus kualitasnya. Jadi, sesungguhnya masalah yang lebih berat berakar pada masalah nonakademis. Banyak tantangan dan hambatan yang mesti dihadapi oleh mahasiswa di luar negeri. Tradisi belajar di Timur Tengah berbeda dari perguruan tinggi di Barat. Di samping iklim, ada pula faktor makanan.

Orang Indonesia sulit berpisah dari makan nasi. Juga kecenderungan untuk selalu berkumpul dengan teman sedaerah. Kebiasaan ini akan menghambat proses sosialisasi memasuki pergaulan internasional. Akibatnya, sekalipun tinggal di luar negeri, mayoritas waktunya diisi dengan berpikir dan berbicara dalam bahasa Indonesia. Makanya ada beberapa mahasiswa yang memilih berkawan dekat dengan orang asing agar lebih terasa belajar di luar negeri dan juga untuk memperlancar bahasa.

Mahasiswa yang membawa keluarga, istri dan anak misalnya, umumnya istri mencari pekerjaan untuk mendapatkan uang tambahan karena dana beasiswa yang diterima suami tidak cukup. Ada yang jadi baby sitter, kerja di restoran, jualan makanan, dan sebagainya. Tidak jarang ketika datang libur musim panas selama tiga bulan suami juga bekerja musiman. Saya sendiri pernah kerja pada KBRI di Jeddah Arab Saudi selama musim haji.

Lama kerja 40 hari di bagian informasi haji. Tugas saya mencatat jamaah haji yang sakit dan meninggal lalu tiap malam mengirim berita ke Jakarta. Selama kuliah di Turki saya tiga kali menjadi tenaga musim haji, dengan honor 50 riyal per hari. Jumlah yang lumayan untuk tambahan biaya hidup dan membeli buku serta keperluan lain. Beruntunglah mereka yang memperoleh beasiswa cukup sehingga waktunya hanya diisi untuk studi.

Sekali lagi, problem belajar di luar negeri cukup beragam. Ada teman yang studi di Belanda dan gagal di tengah jalan karena bermasalah dengan profesornya yang menurutnya kaku, sulit diajak berdiskusi, memandang rendah mahasiswa Indonesia sebagai inlander. Profesor pembimbing disertasi pada umumnya memang demanding, ingin perfeksionis karena kalau mahasiswa bimbingannya tidak bagus hasilnya, yang menjadi taruhan nama baik dirinya.

Ini berbeda dari profesor pembimbing di Indonesia yang kurang serius dan kurang fokus karena sambil mencari kerja sampingan. Kembali ke soal kerja, setiap datang musim haji KBRI di Arab Saudi selalu membuka lowongan kerja bagi mahasiswa Indonesia khususnya di Timur Tengah mengingat dibutuhkan tenaga kerja untuk membantu melayani jamaah haji. Keuntungan bagi mahasiswa, di samping memperoleh honor, juga dapat menunaikan ibadah haji.

Bagi KBRI juga diuntungkan karena mahasiswa menguasai bahasa Arab dan memahami tata cara ibadah haji serta lingkungan sosial Arab. Umumnya mahasiswa di Timur Tengah pernah bekerja sebagai temus haji. Sebuah istilah yang sangat akrab, maksudnya tenaga musim haji. Peminat menjadi temus haji ini juga menarik mahasiswa Indonesia yang tengah belajar di India dan Eropa. Mungkin juga sekarang sudah merembet ke Amerika.

Banyak cerita suka dan duka kuliah di luar negeri. Terutama ketika keluarga sakit, bersamaan tugas kuliah yang menuntut kerja keras, sementara uang beasiswa tidak mencukupi. Lebih stres lagi ketika sudah diperingatkan batas waktu beasiswa mendekati berakhir, padahal tugas riset dan penulisan disertasi belum selesai. Bagi kita yang di Indonesia selalu membayangkan kuliah di luar negeri itu serbamewah dan menyenangkan. Ini bisa dipahami karena setelah tamat dan kembali ke Indonesia jarang yang mau bercerita pengalaman pahitnya. Bahkan ada yang sengaja menutupinya.

Saya merasa beruntung karena sejak kuliah strata satu di Jakarta memang sambil bekerja. Jadi, sudah punya tabungan mental bagaimana rasanya menjadi mahasiswa miskin, yang kemudian justru saya jadikan cambuk untuk menaklukkan berbagai rintangan yang menghadang. []

KORAN SINDO, 13 Mei 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Pesona Istanbul

Oleh: Komaruddin Hidayat

Maret 1985 saya pertama kali menginjak Istanbul, Turki, dengan tujuan meneruskan studi pascasarjana di Universitas Istanbul, sebagaimana dokumen yang saya terima dari kedutaan Turki di Jakarta.

Saya ke Turki atas tawaran Menteri Agama Munawir Sjadzali. Setiba di Istanbul, setelah istirahat sejenak di hotel, saya langsung mendatangi pemimpin Universitas dengan menunjukkan surat pengantar Kedutaan Turki di Jakarta. Sebuah kampus megah dan klasik. Namun, yang membuat kaget dan kecewa, ternyata bahasa pengantarnya bahasa Turki.

Menurut penjelasan pimpinan fakultas, dibutuhkan waktu dua tahun untuk mendalami bahasa Turki guna membaca dan menulis karya ilmiah setingkat disertasi. Saya putuskan untuk mencari kampus lain, tetapi mesti diproses dari awal lagi. Maka saya menghadap duta besar RI di Ankara, Marsekal Abdulrachim Alamsyah.

Dengan gesit dia langsung mencari informasi, bahkan langsung membuat janji dengan rektornya, yaitu kampus Middle East Technical University (METU), Ankara. Keesokan harinya kami ke kampus. Hatiku langsung jatuh cinta. Sebuah kampus besar, dikelilingi hutan, terdapat lapangan sepak bola, banyak lapangan tenis, dan gedung-gedung fakultas serta asrama mahasiswa.

Saya mendaftar ke fakultas sosial, jurusan filsafat, namun mesti menunggu karena pembukaan semester baru tiga bulan lagi. Di negara orang, tiga bulan waktu berjalan terasa sangat lama. Untuk pulang ke Jakarta biaya tidak ada. Membaca kegundahan saya, Pak Dubes yang sangat baik hati ini menawari saya tinggal di rumah dinas.

Jadi, selama tiga bulan saya isi dengan kursus bahasa Turki, bahasa Inggris, dan rajin olahraga badminton serta tenis bersama teman-teman KBRI Ankara. Tiba harinya masuk kuliah dan tinggal di asrama, layaknya tinggal di kota kecil, international small city. Semua kebutuhan akomodasi, konsumsi, dan kesehatan gratis.

Belasan bus kampus antar-jemput karyawan dan mahasiswa hilir-mudik setiap hari di METU-Ankara. Yang paling berat adalah pisah dengan keluarga. Beasiswa setiap bulan hanya sekitar USD100. Jika untuk ukuran gaya hidup sewaktu di pesantren, tentu ini sudah mewah. Ini hanya standar untuk mahasiswa bujangan, mengingat semua fasilitas belajar terpenuhi.

Tetapi sebagai mahasiswa yang berkeluarga dengan dua anak, sungguh ini suatu tantangan baru, mengingatkan saya waktu tahun 1974 mengadu nasib ke Jakarta dengan kondisi miskin. Untunglah saya berdua dengan Amin Abdullah dari UIN Yogyakarta yang juga pejuang kehidupan bermental tahan banting. Pernah juga terpikir pulang melamar kuliah ke Kanada atau AS.

Tetapi, saya pikir temanteman akan menilai kami lari dari gelanggang perang. Tidak konsisten dengan niat dan tekad untuk studi ke Turki. Di lain sisi, membayangkan untuk menyelesaikan program master dan doktor dengan beasiswa kecil dan pisah dari keluarga, hati dan pikiran ini ngelangut. Ternyata kuliah di luar negeri dan pisah dari keluarga itu sangat berat.

Yang membuat saya tetap optimistis dan semangat adalah, pertama, melihat dari dekat Kota Istanbul yang begitu indah dan menyimpan kekayaan sejarah luar biasa. Turki satu-satunya negara muslim yang tidak pernah dijajah Barat, bahkan menaklukkan sebagian wilayah Eropa. Kedua, sikap Pak Dubes yang selalu siap membantu mencari solusi setiap ada problem, termasuk mencarikan tiket pulang ke Tanah Air setiap liburan musim panas.

Ketiga, suasana dan fasilitas kampus METU yang memungkinkan kami belajar serius. Kota Istanbul semula bernama Konstantinopel, ibu kota Kekaisaran Bizantium atau Kerajaan Katolik Romawi Timur, yang direbut oleh pasukan Sultan Muhammad Al-Fatih pada 1453. Drama peperangan yang berlangsung 50 hari ini sangat heroik, masing-masing mengerahkan pasukan dan strategi perang yang selalu menjadi kajian sejarah sampai hari ini, bahkan di Istanbul terdapat museum panorama penaklukan Konstantinopel itu dalam film tiga dimensi.

Pengunjung serasa berada di tengah medan pertempuran. Kejatuhan Konstantinopel ke tangan kekuasaan Islam seakan sebagai perimbangan dengan jatuhnya Granada pusat Islam di Spanyol yang jatuh ke tangan penguasa Katolik. Meski saya tamat S-3 dari METU pada 1990, setiap ada kesempatan saya dengan senang hati berkunjung ke Turki, khususnya Istanbul yang penuh pesona.

Belum lama ini, April 2016, saya ke Istanbul menemani Wapres Jusuf Kalla menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi OKI, yang dihadiri sekitar 30 kepala negara anggotanya. Tiga buah Jembatan Bosporus yang menghubungkan daratan Asia dan Eropa memperteguh posisi Kota Istanbul sebagai penghubung budaya Barat dan Timur, menyimpan warisan sejarah era Yunani, Katolik, Islam, dan peradaban kontemporer yang kesemuanya masih bisa dilihat dan dirasakan. []

KORAN SINDO, 29 April 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Pyongyang yang Cantik

Oleh: Komaruddin Hidayat

Juni 1983 saya menghadiri Konferensi Jurnalis Internasional di Pyongyang, Korea Utara. Lantaran waktu itu tak ada rute penerbangan melalui China agar lebih pendek, saya mesti terbang melingkar Jakarta- Moskow-Pyongyang.

Sesampai di Pyongyang, saya baru sadar, pada konferensi ini yang hadir para jurnalis aliran kiri, pendukung blok Uni Soviet yang tengah menghadapi penetrasi kekuatan Islam Afghanistan melawan Moskow, yang terkenal sebagai perang Soviet versus Afghanistan 1979-1989 di mana Amerika Serikat (AS) berada di belakang Afghanistan.

Uni Soviet di bawah kepemimpinan Leonid Brezhnef ingin mempertahankan pemerintahan Marxis-Lenin di Afghanistan di bawah komando Presiden Karmal, namun gagal karena memperoleh perlawanan sengit dari pasukan Mujahidin yang dibantu AS dan Pakistan. Moskow dibuat kaget ketika menemui kenyataan bahwa banyak tentara Uni Soviet, bahkan juga anggota KGB, ternyata membelot membela Afghanistan karena hubungan etnis dan agama (Islam).

Seperti kita ketahui bersama, rakyat negara bagian Asia Tengah masih banyak yang diam-diam memegang tradisi dan keyakinan Islam. Oleh karenanya, ketika mereka dikirim untuk menumpas perlawanan Afghanistan, banyak yang membelot sehingga tahun 1989 Soviet menyatakan mundur, tetapi perang saudara di Afghanistan masih berlanjut sampai hari ini.

Waktu itu Korea Utara berpenduduk sekitar 22 juta jiwa dipimpin Presiden Kim Il-sung yang berkuasa selama 46 tahun, sejak Korut berdiri 1948 sampai kematiannya tahun1994. Pyongyang ibu kota Korut sangat cantik. Semuanya terawat rapi dan serba teratur. Namun di balik kecantikan kota dengan warganya yang serbateratur dan disiplin, berlaku kontrol tangan besi Kim Il-sung yang bertindak diktator militeristik.

Saya perhatikan wajah-wajah panitia yang berusaha melayani para tamu sebaik dan seramah mungkin, tidak mencerminkan keramahan asli dan spontan. Mungkin benar kata pengamat, perilaku warga Korut serbadiatur negara. Bahkan untuk tersenyum atau menangis di depan publik tidak bisa sembarangan. Saya memperoleh cerita dari guide tour, jika menyimpan uang yang tertera foto Kim Ilsung tidak boleh disaku celana bawah, foto wajahnya juga tidak boleh dilipat.

Lalu, jika melewati patungnya mesti berhenti sejenak untuk memberikan hormat. Kalau tidak, bisa-bisa akan mendapatkan hukuman karena antarmereka saling bertindak sebagai mata-mata negara terhadap sesamanya. Penguasa Korut berusaha meyakinkan rakyatnya bahwa negara mereka paling indah, paling sejahtera dan paling unggul. Dengan berbagai cara, rakyat dihalangi untuk mengetahui dunia luar sehingga praktis Korut merupakan negara dan masyarakat tertutup.

Korut dan Kuba mungkin dua negara yang masih setia melaksanakan doktrin Marxisme- Leninisme, sementara Uni Soviet sudah bubar karena hantaman gelombang kapitalisme dan demokratisasi sebagaimana China yang sudah mulai mengadopsi model kapitalisme Barat. Sekarang ini Korut dipimpin Kim Jong-un, cucu dari Kim Ilsung. Sebuah pemerintahan dinastiisme yang otoriter-tiranik. Korea merupakan negara yang terbelah dengan berakhirnya Perang Dunia II.

Lagi-lagi, aktornya adalah AS dan sekutunya, di pihak lain Uni Soviet bersama gengnya. Uni Soviet didukung China menduduki Korea Utara, AS mengendalikan Korsel. Nasib serupa yang jadi korban persaingan antara blok Barat dan Timur adalah Vietnam yang juga terbelah menjadi Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, juga Jerman yang terbelah menjadi Jerman Barat dan Jerman Timur, namun kini keduanya telah menyatu kecuali Korea.

Ketika berlangsung konferensi, saya diberi waktu untuk menyampaikan pandangan politik mengenai pendudukan Moskow atas Afghanistan. Tanpa banyak pertimbangan saya sampaikan bahwa saya tidak setuju. Kita mesti menghargai kemerdekaan bangsa dan negara lain. Pidato singkat saya tentu saja sangat tidak disukai forum sehingga ketika selesai konferensi saya diundang menjadi tamu di TASS Moskow, kantor berita Uni Soviet waktu itu.

Saya diceramahi mengapa Moskow mengintervensi Afghanistan, karena AS telah menjadikan Afghanistan sebagai pintu gerbang untuk mengganggu stabilitas Uni Soviet melalui wilayah selatan yang berbatasan dengan Pakistan. Saya ditunjuki peta dunia mengenai agresivitas dan ekspansi AS ke negara-negara sahabat Uni Soviet. Kenangan yang tersisa, Pyongyang kotanya cantik. Tapi rakyatnya tertekan. Jauh berbeda dari Korea Selatan yang lebih terbuka dan pengaruh budaya AS sangat kental.

Negara adidaya ini selalu berkecenderungan menguasai dan mengendalikan negara lain dengan berbagai cara, baik melalui kekuatan senjata, ekonomi maupun politik. Indonesia pun tak luput dari objek kontestasi negara-negara adidaya. []

KORAN SINDO, 15 April 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Mengajar Keluarga Adam Malik

Oleh: Komaruddin Hidayat

Suatu hari di tahun 1979, Prof Harun Nasution, masih Rektor IAIN Syarif Hidayatullah saat itu, memanggil saya untuk memberi pelajaran Islam bagi keluarga Wakil Presiden Adam Malik, terutama anak-anaknya.

Pak Adam Malik minta didatangkan guru agama ke rumahnya di Jalan Diponegoro, lalu Pak Harun mempercayakan tugas itu kepada saya. Mereka memerlukan guru agama dengan pendekatan rasional. Mereka lama tinggal di luar negeri. Orang-orangnya senang berdiskusi. “Tipikal orang Batak,” kata Pak Harun, “kamu yang cocok mengajari mereka.” Pengalaman bekerja sebagai wartawan dan pernah aktif di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) membuat saya cukup percaya diri menerima permintaan ini.

Sesuai jadwal, saya pun datang ke kediaman Adam Malik, Jalan Diponegoro 29. Karena ini tempat kediaman wakil presiden, ketika masuk mesti melewati pemeriksaan, ditanya KTP dan tujuannya apa. Penjagaan ketat, standar rumah pejabat tinggi negara. Saya menghadap Bu Endang, sekretaris Wapres, kemudian diantar ke ruang belajar. Keluarga sudah berkumpul di ruang terbuka dekat taman belakang. Sangat nyaman untuk ruang pertemuan keluarga.

Acara ini saya lakukan setiap hari Jumat, dimulai pukul 9 pagi. Saya mengajar untuk mereka sekitar empat tahun, mengajar layaknya memberi kuliah kepada mahasiswa. Saya buat silabus dan saya bagi buku rujukan pokok. Salah satunya buku Pengantar Studi Islam karya Miftah Farid yang berisikan tema-tema pokok ajaran Islam yang dia persiapkan untuk mahasiswa ITB (Institut Teknologi Bandung).

Peserta intinya adalah putra Pak Adam Malik, yaitu Otto, Budi, Ilham, Rini, dan beberapa keluarga dekat serta staf sekretariat, sehingga rata-rata 10 orang setiap pertemuan. Karena mereka pernah belajar dan tinggal di luar negeri, wawasannya terlihat luas dan terbiasa berdiskusi secara bebas.

Setiap datang ke rumah Wapres, penjaganya selalu berganti-ganti.
Mungkin mereka heran ketika saya lapor mau mengajar agama, mengingat penampilan saya bukan tipikal ustaz. Kesan saya, keluarga itu begitu kompak dan rukun. Senang berkumpul dan pergi bareng-bareng, termasuk juga salat Jumat pindah-pindah masjid di wilayah Jakarta.

Sosok Pak Adam Malik dan Bu Nelly bagaikan rumah tempat anak cucu berkumpul dan berteduh dalam suasana yang selalu hangat. Meski anak-anaknya sudah dewasa dan tinggal di rumah masing-masing, tetap saja rumah di Jalan Diponegoro seakan jadi rumah utama mereka. Jika muncul problem keluarga, orang tua ikut menyelesaikan. Saya sendiri ikut merasakan keakraban keluarga ini.

Sehabis salat Jumat lalu makan bareng sambil ngobrol ke sana kemari. Gosip-gosip politik dan anekdot yang lucu tak pernah lepas dari obrolan.
Pak Adam pernah bercanda, suatu saat temannya kehilangan jam di NewYork. Lalu Pak Adam Malik memberi respons, ”Wah, wah, rupanya ada juga orang Batak yang kerja di sini,” candanya. Saya surprised ketika Pak Adam Malik memberi buku tentang filsafat tasawuf yang rupanya pernah dibacanya. Antara lain tentang tokoh sufi Idries Shah dan buku yang membahas wahdatul wujud, konsep menyatunya sang hamba dan Tuhannya. Manunggaling kawula Gusti.

Lima tahun saya bergaul dekat dengan keluarga Pak Adam Malik. Pernah suatu hari dia menyatakan kekecewaan kepada Pak Harto, gara-gara mengetahui posisinya berakhir sebagai wapres hanya melalui berita surat kabar. Katanya, apa beratnya kalau Pak Harto memberi tahu langsung secara lisan, toh sama-sama teman seperjuangan, sebelum keputusan itu disampaikan ke publik. Ini tidak etis dan melukai persahabatan.

Sebelum menjabat wakil presiden untuk periode 1978-1983, Adam Malik (1917-1984) pernah menjabat duta besar RI (1959), juga pernah menjabat menteri luar negeri pada 1966-1978. Untuk mengenang jasa-jasanya, pada 5 September 1985 Ibu Tien Soeharto meresmikan rumah kediaman di Jalan Diponegoro 29 itu menjadi Museum Adam Malik. Semasa hidup Adam Malik, rumah di Jalan Diponegoro itu berfungsi lebih dari sekadar rumah tempat tinggal, melainkan juga museum pribadi yang menarik minat para pengunjung.

Banyak benda-benda antik seperti batu permata dan guci buatan China yang usianya cukup tua. Koleksi yang paling khas dan tak ada duanya adalah berbagai ragam bentuk dan merek kamera atau tustel yang dipakai sejak Pak Adam Malik meniti karier sebagai wartawan pada zaman prakemerdekaan. Lalu koleksi suvenir yang diterima selama berkarier sebagai diplomat.

Begitu banyak kenangan saya yang bersifat humanis dengan keluarga Adam Malik. Mereka kaya dengan cerita humor dan anekdot politik maupun kehidupan sehari-hari. Saya sendiri sejak itu merasa akrab dengan Istana Wapres dan sosok wapres penerus Adam Malik karena sering diminta memberi khotbah Jumat dan ceramah pada hari-hari besar keagamaan.

Pada 1985 saya meninggalkan Jakarta, meneruskan kuliah tingkat master dan doktor di Turki, sebuah pergulatan baru menjadi mahasiswa miskin dimulai lagi. Beredarnya berita bahwa museum Adam Malik mengalami kebangkrutan dan banyak koleksinya hilang membuat hati saya ikut teriris sedih. []

KORAN SINDO, 01 April 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Pertama Kali ke Luar Negeri

Oleh: Komaruddin Hidayat

Sebagai orang kampung dari keluarga miskin, pengalaman pertama kali ke luar negeri dengan pesawat terbang sungguh merupakan pengalaman tak terlupakan. Bahkan sejak proses mengurus paspor hatiku sudah berbunga-bunga.

Waktu itu saya mewakili Pengurus Besar HMI menghadiri seminar kebudayaan Islam di Kuala Lumpur, Malaysia. Persisnya pada bulan April 1980. Saya datang bertiga bersama Sahar L Hasan, sekarang aktivis Partai Bulan Bintang (PBB), dan Harry Azhar Azis yang sekarang menduduki jabatan sebagai ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Karena Malaysia dan Indonesia sama-sama menggunakan bahasa Melayu, yang paling mengesankan adalah naik pesawat terbang ke luar negeri sekalipun jarak penerbangan Jakarta-Kuala Lumpur hanya dua jam. Saya bertemu dengan dua sosok intelektual dan aktivis Malaysia yang sangat populer dan disegani. Pertama Prof Naquib al-Attas, kedua Anwar Ibrahim. Saya membeli dua buah buku Naquib yang berulang kali saya baca ulang karena isinya yang cukup mencerahkan, yaitu Islam and Secularism serta Islam dan Peradaban Melayu.

Prof Naquib melakukan kritik epistemologis sangat mendasar terhadap filsafat Barat yang telah memengaruhi dunia Islam. Dia menawarkan agenda Islamisasi ilmu pengetahuan untuk menangkal proses sekularisasi pemikiran yang meracuni generasi muda Islam. Adapun di buku kedua, Naquib menjelaskan sumbangan bahasa dan peradaban Melayu terhadap penyebaran Islam di Indonesia.

Dikatakannya, terjadi hubungan simbiosis antara penyebaran Islam, bahasa Melayu, dan dinamika perdagangan yang pada urutannya baik Islam maupun bahasa Melayu dengan cepat menyebar ke wilayah Nusantara dengan pusatnya di kota-kota pantai. Budaya pantai yang egaliter juga sejalan dengan karakter Islam dan bahasa Melayu, berbeda dari budaya pedalaman serta karakter bahasa Jawa atau Sunda yang mempertahankan strata sosial.

Dengan ditetapkannya bahasa Melayu sebagai bahasa Indonesia, komunikasi sosial berlangsung egaliter dan bahasa Indonesia juga menjadi pengikat kohesi berbangsa dengan masyarakatnya yang sangat majemuk. Salah satu efek pengalaman pertama ke luar negeri yang saya rasakan kala itu adalah munculnya keinginan dan lamunan, kapan bisa ke luar negeri berikutnya?

Bagi keluarga yang berkecukupan, liburan ke luar negeri tentu bukan acara yang menghebohkan. Tapi bagi saya yang masih berstatus mahasiswa, bisa ke Malaysia atas sponsor donatur HMI merupakan kebanggaan tersendiri yang ternyata menjadi pemula untuk jalan-jalan ke
luar negeri pada tahun-tahun berikutnya.

Sampai hari ini saya ingat-ingat sedikitnya 40 negara pernah saya kunjungi, baik sebagai wartawan, undangan seminar maupun untuk rekreasi. Sayang sekali saya tidak membuat catatan tertulis dan lengkap saat menjelajahi berbagai kota dunia dan bertemu dengan orang-orang yang menginspirasi hidup saya. Misalnya sebagai tamu Muammar Qadafi, diterima dalam kemah di halaman istananya. Ketika pulang diberi uang lalu saya belikan dasi dan parfum karena uang Libya sulit dibelanjakan di luar negaranya.

Dulu hubungan antara Indonesia dan Malaysia saya rasakan hangat dan akrab. Sama-sama rumpun Melayu yang memiliki banyak kesamaan. Indonesia dianggap saudara tua yang disegani. Banyak guru dan dosen Indonesia diundang ke sana untuk membantu meningkatkan kualitas pendidikan mereka. Tapi dengan berjalannya waktu, Malaysia yang saat ini berpenduduk sekitar 30 juta banyak membuat terobosan dalam bidang pendidikan yang pada urutannya mendongkrak perbaikan ekonomi negaranya.

Sebagai bagian dari negara persemakmuran Inggris, bahasa Inggris masih dipertahankan, bahkan dijadikan bahasa pengantar dalam pembelajaran di kampus, sehingga sangat membantu mempermudah kerja sama keilmuan dengan negara-negara Barat, terutama Inggris dan Australia. Ini berbeda dari Indonesia yang pernah dijajah Belanda, yang kemerdekaannya diraih melalui pertempuran, sehingga bahasa Belanda pelan-pelan hilang. Di samping pula bahasa Belanda memang tidak menonjol sebagai bahasa ilmiah dan bahasa diplomasi dalam panggung global. []

KORAN SINDO, 18 Maret 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah