Pendidikan Mengubah Hidup

 

Oleh: Komaruddin Hidayat

SEWAKTU masih nyantri di Pondok Pabelan, Magelang, ada nasihat kiai yang masih melekat di hati, bahwa seseorang akan naik derajat karena ilmu pengetahuan, akhlak (integritas), dan membuang jauh-jauh sikap malas. Coba kita amati kehidupan sosial sekeliling. Banyak keluarga desa miskin berubah nasib ketika salah satu anak dan warganya memperoleh pendidikan bagus yang mengantarkan pada karier ekonomi yang lebih baik, dan pada urutannya bisa membantu pendidikan saudara-saudaranya.

Saya sering bertanya pada teman yang sudah sarjana dan sudah memperoleh pekerjaan, bagaimana rasanya sudah kerja? Rata-rata menjawab gembira karena bisa membantu biaya pendidikan adik-adiknya. Bahkan pertanyaan serupa juga saya ajukan ke PRT (pembantu rumah tangga), jawabnya sama. Gaji yang diterima sebagian ditabung untuk membantu pendidikan keluarganya.

Artinya, masyarakat sangat menyadari untuk mengubah nasib seseorang, pendidikan satu-satunya jalan yang mesti ditempuh. Orangtua yang berhasil mengantarkan pendidikan anak-anaknya yang berkualitas jauh lebih berharga daripada mewariskan harta tanpa disertai pendidikan.

Pada zaman modern, pendidikan itu diintegrasikan dengan sistim sekolahan sehingga orang yang berpendidikan artinya mereka yang memiliki ijazah resmi sebagai tanda tamat dan sewaktu-waktu ijazah itu diperlukan untuk melamar pekerjaan dan menaiki jenjang karier. Sekalipun kita kecewa dengan kualitas pendidikan di Tahah Air, sistem pendidikan di sekolah tetap kita butuhkan. Dalam skala nasional kita bisa membandingkan, wilayah dan etnik yang maju selalu berkorelasi dengan tradisi dan tingkat pendidikan yang sudah mapan.

Jika dibandingkan dengan masyarakat lain, penduduk Jawa lebih maju karena memiliki tradisi sekolah yang sudah tua dan mapan. Perguruan tinggi yang bagus-bagus berada di Jawa. Belum lagi kondisi alamnya yang subur. Namun, pemerintah mesti mendorong tumbuhnya pusat-pusat pendidikan yang bagus secara merata di seluruh Tanah Air. Sekarang ini dunia pendidikan, mau tak mau, terseret masuk pada persaingan mutu produk layaknya dunia industri.

Lembaga pendidikan yang tidak bisa menghasilkan alumnus yang berkualitas dan kompetitif dalam lapangan kerja akan menyusut peminatnya. Prestasi sebuah sekolah dan universitas tidak bisa lagi sekadar memperbanyak wisudawan-wisudawati tanpa yang bersangkutan memiliki kedalaman, teori ilmiah, skill, kemampuan komunikasi sosial dan integritas. Ketika melamar pekerjaan, semata mengandalkan ijazah tidak jaminan diterima tanpa tambahan pendukung lain, misalnya, pengalaman kerja, kemampuan berbahasa asing keterampilan komputer dan komunikasi sosial.

Situasi ini jauh berbeda dari tahun-tahun jauh sebelumnya ketika jumlah sarjana masih sedikit sehingga siapa pun memiliki ijazah menjadi jaminan untuk memperoleh pekerjaan. RI beruntung punya tetangga Australia, Singapura, dan Malaysia sehingga dihadapkan pada persaingan dan pembelajaran langsung dari kemajuan mereka dalam memajukan pendidikan. Sekitar 100 tahun lalu orang memandang Australia tak lebih sebagai daratan luas yang tandus di bawah koloni Inggris, tempat pembuangan penjahat kulit putih dari daratan Eropa.

Tetapi sekarang Australia berhasil membangun peradaban moderen dan menjadi tujuan pendidikan dari berbagai negara asing, termasuk dari Indonesia. Berkat pendidikan yang dikelola serius dan maju, salah satu sumber devisa Australia datang dari sektor pendidikan, di samping sumber alamnya yang dapat dieksplorasi dan dikelola dengan sangat baik. Begitu pun Singapura yang dulu miskin ketika lepas dari Malaysia, sekarang menjadi negara kota yang sangat maju dalam industri pendidikan yang berdampak pada kemajuan jasa kesehatan dan keuangan sebagai hub kemajuan ekonomi Asia Tenggara.

Lagi-lagi, pendidikan lah yang telah mengubah Singapura menjadi salah satu negara kota termodern tidak hanya di Asia Tenggara, tapi juga dunia. Yang juga membuat kita terpana, kemajuan pendidikan di Malaysia. Pusat-pusat pendidikan di sana dibangun dengan standar internasional, termasuk bahasa pengantarnya. Putra-putri Malaysia yang terbaik dijaring lalu dikirim keluar negeri untuk belajar di perguruan tinggi ternama di dunia dalam rangka mendongkrak program dan standar internasionalisasi pendidikan di dalam negerinya ketika alumninya kembali ke Malaysia.

Dan ini sudah berlangsung tiga generasi secara masif. Jumlah universitas di Indonesia lebih dari 4.000, lebih banyak daripada jumlah perguruan tinggi di Tiongkok. Namun kualitasnya masih medioker, alias pas-pasan, jauh di bawah Singapura. Kekalahan kontingen olahraga RI di SEA Games yang berada di nomor lima mengindikasikan pembinaan bakat dan bibit unggul anak-anak bangsa tidak berjalan bagus, untuk tidak mengatakan kedodoran.

Saya pernah mendengar cerita, dulu Bung Karno mengirimkan putra-putri bangsa terbaik untuk mendalami sains dan teknologi ke negara maju dengan harapan kekayaan alam Indonesia dieksplorasi bangsa sendiri. Namun, agenda Bung Karno berantakan, lalu yang lebih menonjol orang belajar ke luar negeri untuk mendalami ilmu sosial, terutama ke Barat (AS). Gagasan Bung Karno ini diteruskan BJ Habibie dengan mengirim putra-putri terbaik untuk belajar sains, tapi lagi-lagi karena turbulensi politik banyak dari mereka yang tidak pulang ke Tanah Air lalu memilih berkarier di luar negeri.

Saat ini RI memiliki sarjana ilmu sosial yang jauh lebih banyak daripada sarjana bidang sains. Fenomena ini berpengaruh pada perkembangan ekonomi dan politik. Kata demokrasi seakan jadi mantra suci yang selalu muncul dalam wacana sosial. Orang lebih disibukkan wacana dan manuver politik menghadapi pilkada dan pemilu, tetapi lemah sekali dalam inovasi sains serta pengembangan bidang industri manufaktur.

Kita jadi mangsa empuk dan menggiurkan bagi negara produsen dan eksportir asing karena jumlah penduduk Indonesia yang tinggi dan sumber alamnya yang melimpah, padahal SDA semakin menipis dan lingkungan rusak. Pada para siswa kita tidak bisa lagi memberikan harapan besar atas belas kasih alam, tanpa dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih. Pembelajaran ilmu sejarah di sekolah perlu diubah materinya. Tidak hanya fokus pada sejarah Indonesia, tetapi perlu sejarah komparatif bangkitnya negara-negara di Asia agar siswa memiliki kesadaran dan tantangan membangun bangsa sendiri di tengah persaingan global. []

MEDIA INDONESIA, 11 September 2017

Komaruddin Hidayat | Dewan Penasihat Yayasan Sukma,Jakarta

Guru yang Menginspirasi

 

Oleh: Komaruddin Hidayat

SEWAKTU belajar di pesantren, ada ungkapan kiai yang selalu saya ingat. Menurutnya, metode mengajar itu tak kalah penting dari materi yang hendak diajarkan. Namun guru yang baik jauh lebih penting daripada materi pelajaran dan metode pengajarannya. Jadi sosok guru merupakan aktor terpenting bagi suksesnya sebuah proses pembelajaran dan pendidikan.

Guru bagaikan aktor atau aktris yang setiap hari tampil untuk dilihat, didengarkan, dan ditiru tutur katanya. Makanya sebaik apa pun konsep kurikulum yang dihasilkan pemerintah, kalau kualitas gurunya tidak berkualitas, sasaran dan target pendidikan tidak akan tercapai.

Statemen ini telah dibuktikan Pemerintah Finlandia yang menerapkan rekrutmen calon guru sangat ketat hingga mengantarkan negara ini berada paling tinggi dalam bidang pendidikannya. Pelamar calon mahasiswa terbanyak adalah pada fakultas keguruan.

Makanya tenaga pengajar di sana adalah putra-putri terbaik bangsanya. Mereka bekerja sebagai pendidik tidak direcoki berbagai urusan birokrasi. Sebaliknya mereka mendapatkan kebebasan berinovasi berdasarkan riset secara kontinu.

Dalam berbagai forum pelatihan guru, saya sering membagikan kertas kepada para peserta untuk menuliskan nama guru dan sekolahnya yang telah memengaruhi kualitas dan jalan hidup mereka. Siapakah guru-guru yang memberi inspirasi, motivasi, dan teladan yang masih terkenang meskipun sudah belasan tahun tidak pernah berjumpa.

Setelah dituliskan, mereka lalu saya minta berbagi cerita di hadapan peserta. Dari sekian pengalaman memberi pelatihan guru, guru-guru yang baik setidaknya memiliki empat ciri.

Pertama, mereka menguasai materi yang hendak diajarkan. Kedua, pandai memilih metode yang tepat agar mudah dipahami siswa serta tidak menjemukan. Ketiga, membangkitkan imajinasi dan motivasi siswa untuk berani bermimpi tentang masa depan. Keempat, mengajar dengan cinta.

Sewaktu menjadi mahasiswa, saya pernah diajar oleh seorang dosen yang rajin membaca. Koleksi bukunya banyak. Namun ketika memberi kuliah, mahasiswa sulit memahaminya.

Mungkin ini disebabkan miskin metode. Kurang kreatif dan terampil membuat hal-hal yang rumit menjadi simpel tanpa kehilangan substansinya. Dia pintar untuk diri sendiri, tetapi kurang pandai memintarkan mahasiswa.

Sebaliknya, saya pernah bertemu dengan dosen yang bacaannya tidak kaya, tetapi pintar meringkaskan isu yang sulit, lalu mengembangkannya dengan contoh-contoh yang familier dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja, dosen dan guru yang baik adalah yang menguasai keduanya.

Para psikolog mengatakan, usia pelajar itu disebut formative years. Masa pembentukan pribadi. Kalau pada usia mereka menemukan lingkungan dan guru yang bagus, yang memiliki empat kriteria di atas, umumnya ketika masuk kuliah mereka akan meraih prestasi yang bagus.

Berdasarkan pengamatan saya di lingkungan Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, mahasiswa dan alumni yang prestasinya menonjol dan berhasil menempuh program doktor di universitas ternama di dunia umumnya mereka datang dari lingkungan pendidikan yang bagus. Bahkan banyak di antara mereka yang berasal dari dunia pesantren atau mirip boarding school.

Di pesantren tumbuh budaya cinta ilmu dan hidup sederhana dalam suasana persaudaraan. Tak dikenal berantem antarsiswa. Ada suatu prinsip, attitude above knowledge.

Para siswa begitu hormat dan santun kepada guru. Nilai dan tradisi ini justru sangat kuat berakar dalam masyarakat Jepang. Sementara kultur semacam ini saat ini semakin menurun di lingkungan sekolah kita pada umumnya.

Dengan munculnya media sosial (medsos), anak-anak dan masyarakat memiliki hobi baru, yaitu berkomunikasi lewat Twitter atau WhatsApp. Lewat medsos, berbagai macam informasi mudah didapat. Mereka terlibat diskusi dan perdebatan lewat medsos tanpa kedalaman, yang menonjol justru sikap like or dislike, bukannya right or wrong.

Di sana juga ada nilai dan tradisi yang hilang, yaitu sopan santun, layaknya dialog guru-murid, dalam perjumpaan tatap muka. Makanya jangan heran, isi dan komunikasi di medsos sering kali penuh caci maki. Tak ada jenjang tua dan muda. Semuanya merasa sama dan bebas menulis apa saja.

Di lingkungan sekolah, terlebih lagi dengan sistem boarding, mesti ditumbuhkan budaya sekolah (school culture) yang membiasakan diri menghormati keunikan pribadi masing-masing. Setiap anak adalah istimewa, maka biasakan menghargai perbedaan dengan tetap berpegang pada nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan universal.

Semua itu sulit diwujudkan kalau tak ada jalinan cinta kasih antara guru-murid, antarsesama murid, dan antarsemua komunitas sekolah. Mengajar tanpa cinta tak akan membekas dalam sanubari anak didik.

Allah pun mengutus para rasul-Nya karena cinta kepada makhluknya. Sekalipun seorang guru menguasai materi dan metode yang hendak diajarkan, jika masuk kelas tanpa hati, bekasnya tak akan mendalam.

Bila guru melibatkan hati dalam mengajar, murid juga akan melibatkan hati dalam menerimanya. Guru yang baik tidak sekadar terpaku untuk transfer pengetahuan, tapi yang menebarkan cinta kasih dan menginspirasi anak didiknya. []

KORAN SINDO, 28 Juli 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Interkoneksitas Ilmu Pengetahuan

Oleh: Komaruddin Hidayat

Yang namanya universitas itu merupakan sarana dan upaya sistematis untuk mendekati dan memahami universum bagi komunitas intelektual kampus. Orang yang tamat jenjang tertinggi setelah studi di universitas, diharapkan mengenal realitas hidup yang universal dan diharapkan mampu menyumbangkan pemikiran untuk memecahkan problem sosial yang muncul. Makanya titelnya PhD, Philosphy of Doctor. Ini tidak mesti berarti doktor filsafat, namun diharapkan mampu melihat dan berpikir filosofis universal terhadap realitas hidup dan kehidupan.

Untuk memasuki pintu universum itu maka dibukalah berbagai pintu fakultas, lalu dalam fakultas dirinci lagi menjadi program studi atau departemen. Masalahnya, fakultas itu sering kali berubah peran, dari pintu gerbang menjadi kamar tertutup yang memenjarakan mahasiswanya sehingga terkurung tidak mampu melihat dan mengapresiasi ilmu yang berkembang di fakultas lain.

Padahal ilmu itu bekerja saling berhubungan dan memerlukan yang lain, sebagaimana realitas hidup yang kompleks dan saling terkait. Ini juga tecermin dalam realitas semesta yang elemenelemennya saling terhubung. Ketertutupan fakultas dan program studi itu semakin rapat ketika muncul revolusi industri yang memesan pada universitas untuk menyediakan dan memasok tenaga kerja dengan skill yang spesifik guna memenuhi tuntutan kerja di pabrik. Maka muncul istilah link and macth.

Belajar ilmu itu mesti yang memiliki keterkaitan langsung dengan peluang pekerjaan yang disediakan oleh dunia industri. Yang namanya sarjana, lalu berperan bagaikan sekrup bagi mesin industri yang sekarang perannya mulai digantikan robot. Salahkah konsep di atas? Tentu saja tidak salah.

Dalam masyarakat industri memang sangat dirasakan adanya kebutuhan tenaga kerja yang memiliki keahlian spesifik. Turunan dari konsep ini maka tataran di bawahnya muncul SMK, sekolah menengah kejuruan. Tidak mengherankan makanya di Barat beredar candaan, jika ingin jadi orang kaya jangan mengambil program doktor. Doktor itu tidak cocok untuk bekerja mengejar kekayaan. Cukup MBA untuk memasuki sebuah usaha yang menjanjikan secara ekonomi.

Doktor itu pada awalnya memang dimaksudkan sebagai komunitas ilmuwan yang mencintai riset, memberikan kritik dan pencerahan pada komunitas praktisi dan politisi. Makanya titelnya PhD. Mereka mengembangkan tradisi berpikir filosofis agar mendapatkan wisdom dan memberikan rambu-rambu atau tanda zaman pada masyarakat.

Doktor itu diharapkan mampu membaca dan mengembangkan interkoneksitas keilmuan yang tumbuh dalam berbagai fakultas. Interkoneksitas ilmu itu analog dengan jejaring sosial, jejaring alam, bahwa variabel yang satu memengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain. Hal ini juga mirip dengan kerja otak. Tak ada yang linier tapi susunan saraf otak itu sangat lembut dan jumlahnya miliaran saling berkaitan.

Yang juga menarik, interkoneksitas ilmu, saraf otak dan realitas sosial sangat mirip dengan metode Alquran. Berbeda dari logika buku ilmiah yang linier, ayat-ayat Alquran itu bagaikan lingkaran. Ayat yang satu menjelaskan yang lain. Makanya mempelajari Alquran memerlukan metode tersendiri. Kadang terkesan diulang-ulang, padahal konteksnya berbeda. Ini yang membuat Alquran tak pernah habis dipelajari.

Memasuki era informasi ini, semakin terasa kita dituntut untuk bisa menghubungkan ilmu yang satu dengan yang lain. Kalau tidak maka akan kebingungan dibanjiri informasi yang kadang sampah dan tidak logis. Dengan mengetahui prinsip-prinsip dasar disiplin ilmu, kita akan terkondisikan berpikir interdisipliner sehingga bisa memahami universum relatif utuh.

Bukan terkurung oleh sekat fakultas. Semua ilmu itu mestinya bisa dipahami oleh orang lain atau lintas fakultas terutama menyangkut kontribusinya terhadap masalah kemanusiaan dan kenegaraan. []

KORAN SINDO, 17 Juni 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Doktor Itu Beban

Oleh: Komaruddin Hidayat

Secara formal-administratif, jenjang tertinggi sekolah itu ketika seseorang berhasil menamatkan prodi S-3 dengan meraih titel doktor. Jika dihitung dan dirunut dari bawah, pada umumnya untuk menamatkan pendidikan TK (taman kanak-kanak) diperlukan waktu 2 tahun, SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, sarjana 4-5 tahun, S-2 atau master 2-3 tahun, S-3 atau doktor 4-5 tahun. Jadi seseorang kalau saja menyelesaikan studi sampai terminal akhir bisa menghabiskan usianya sekitar 20-22.

Itu belum berbicara kualitas karena sekarang ada juga institusi yang menjual gelar master atau doktor tanpa repot-repot duduk mengikuti kuliah, melakukan riset, dan menulis disertasi. Makanya ada beberapa kategori universitas. Ada yang sudah terkenal dan lolos dalam akreditasi lembaga internasional yang berwibawa, ada yang masuk kategori papan atas tingkat nasional dan sudah terakreditasi, ada juga yang sering disebut sebagai perguruan tinggi abal-abal sekalipun jumlah mahasiswanya di atas 20 ribuan.

Bagi saya, apa pun kualitas dan peringkat sebuah perguruan tinggi, kesemuanya layak diapresiasi. Semuanya ingin memajukan mahasiswa untuk menambah ilmu pengetahuan. Selagi mereka secara tulus dan serius ingin mengembangkan kualitas dirinya dengan ilmu, akhlak, dan keterampilan hidup, nantinya masyarakat yang menilai dan merasakan hasilnya.

Yang kita sedih dan sakit hati adalah jika titel formal kesarjanaan itu diraih secara tidak fair dan hanya untuk menaikkan gengsi. Itu sebuah penipuan kepada diri sendiri, masyarakat, dan negara. Mengapa negara? Karena banyak pegawai negeri yang kemudian mengambil program master ataupun doktor, tetapi dengan jalan pura-pura kuliah, yang penting memperoleh ijazah untuk mendongkrak kepangkatan dan gajinya.

Mereka jarang ikut kuliah dan membayar orang lain untuk menulis tugas makalah, tesis, dan disertasi. Yang demikian itu dosennya diduga kuat mengetahui, tetapi hanya mendiamkan saja. Yang penting membayar uang kuliah dan bimbingan. Syukur-syukur ada tambahan uang terima kasih atas statusnya sebagai pembimbing.

Saya sendiri ketika tamat menempuh pendidikan doktor tahun 1990 pada usia yang ke- 37 dari Middle East Technical University, Ankara, Turki, seketika muncul rasa malu dan gamang. Merasa berat dan malu dengan titel PhD yang saya miliki. Saya menulis disertasi tentang filsafat politik.

Saya sadar betul, ibarat hutan ilmu, banyak pohon besar ilmuwan yang saya kenal namanya dan karyanya, tetapi tidak sempat dan tidak sanggup saya membaca serta menyelaminya. Yang paling melegakan tentu saja saya bisa tamat dan menggenggam titel doktor, simbol terminal akhir bagi seorang mahasiswa setelah melalui perjuangan yang tidak ringan. Titel doktor bagi saya ibarat SIM bagi seorang pengemudi.

Titel doktor haruslah dimiliki seorang dosen sekalipun doktor bukan jaminan kualitas kecendekiaan seseorang. Disayangkan, masyarakat sering kali salah persepsi dan terlalu besar harapannya terhadap penyandang gelar doktor. Terlebih doktor alumni luar negeri. Doktor lalu diasosiasikan dengan jabatan dan kekayaan.

Padahal doktor itu lebih tepat diposisikan sebagai ilmuwan atau akademisi yang kiprah dan pendalaman intelektualnya justru dimulai setelah menamatkan pendidikan doktornya. Tapi kenyataan di lapangan sangat menyedihkan. Begitu seseorang selesai dengan studi doktornya, tuntutan ekonomi keluarga dan harapan masyarakat begitu tinggi.

Sebagai PNS, gaji doktor jauh di bawah standar kebutuhan untuk hidup layak, boro-boro hidup mewah. Makanya banyak doktor yang kemudian memilih jadi birokrat di lingkaran departemen pemerintahan atau mengajar di berbagai universitas semata untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan biaya sekolah anak-anaknya.

Kalau sudah sibuk dengan tugas birokrasi atau mengajar secara rutin, praktis tidak sempat lagi membaca buku, riset atau menulis. Puncak ilmunya adalah sewaktu menulis disertasi. Setelah itu masuk fase antiklimaks. Teman-teman saya yang doktor sadar betul akan beban dan tuntutan terhadap mereka agar kerja produktif di bidang keilmuan.

Tapi fasilitas negara untuk melakukan riset amat sangat minim. Makanya sekalipun Indonesia memiliki banyak doktor, langit keilmuannya tetap rendah. Masih jadi bangsa konsumen ilmu asing, bukannya produsen. []

KORAN SINDO, 27 Mei 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Poros Baru Studi Islam

Oleh: Komaruddin Hidayat

Saya memulai karier sebagai dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sejak 1981, dengan modal ijazah doktorandus. Ijazah ini sudah setingkat MA menurut tradisi Belanda, tapi di perguruan tinggi AS masih dianggap strata satu, karena belum memiliki ijazah resmi master. Padahal, untuk meraih doktorandus diperlukan waktu studi enam tahun, sudah ekuivalen dengan masa tempuh untuk meraih master. Saya menempuhnya sampai tujuh tahun. Bahkan beberapa aktivis ‘66 ada yang memerlukan waktu 14 tahun baru tamat doktorandus.

Sekarang hampir semua perguruan tinggi di Indonesia menerapkan strata S-1, S-2, dan S-3 dengan pembatasan waktu yang ketat, sehingga mahasiswa dituntut lebih menekankan studi, semakin berkurang peluang kiprah di luar kampus. Sejak diangkat sebagai dosen, sesungguhnya saya malu. Merasa tidak pantas. Sama saja dengan alumni SMA mengajar SMA. Secara intelektual dan emosional belum memenuhi syarat.

Semasa studi di pesantren saya selalu membayangkan betapa indahnya kalau saja bisa meneruskan belajar Islam ke Timur Tengah seperti di Mesir, Arab Saudi, atau Irak. Terbayang waktu itu masyarakat Arab orangnya saleh-saleh, calon penghuni surga karena mereka hidup dengan mengikuti tradisi ajaran Islam yang diwariskan Rasulullah. Tertanam dalam hati bahwa bahasa Arab adalah bahasa surga karena bahasa Arab adalah bahasa kitab suci Alquran. Belajar bahasa Arab seakan identik dengan belajar agama.

Kenangan dan impian sewaktu di pesantren ternyata meleset. Selagi masih kuliah justru saya ingin meneruskan studi lanjut ke Amerika Serikat (AS) atau Kanada. Dua orang yang memengaruhi pikiran saya, almarhum Prof Harun Nasution dan Nurcholish Madjd. Prof Harun alumni Mesir, meneruskan program master dan doktor di McGill University, Montreal, Kanada. Cak Nur alumni UIN Jakarta, menamatkan doktor di Chicago University, AS.

Berkat bergaul dekat dengan keduanya, di mata saya mereka berbudi luhur, santun, berintegritas tinggi, pengetahuan agama maupun umum sangat luas dan dalam. Kemuliaan akhlak dan keluasan ilmunya sangat mengesankan tidak saja terhadap saya, tetapi juga mahasiswa UIN Jakarta, terutama mereka yang juga aktivis HMI. Makanya banyak kemudian alumni UIN Jakarta yang tadinya berasal dari pesantren tertarik meneruskan program doktornya ke AS, Kanada, Inggris dan Australia.

Sebut saja Dr Din Syamsuddin dari UCLA, Dr Azyumardi Azra dari Columbia University, Dr Bahtiar Effendy dan Dr Saiful Mujani dari Ohio State University. Alumni doktor dari McGill paling banyak jumlahnya. Ada Fuad Jabali, Yeni Ratnaningsih, Nurlena, Yusuf Rahman, Didin Syafruddin, Muhammad Zuhdi, Hendro Prasetyo, dan Ali Munhanif.

Lalu ada Dr Mulyadi dari Chicago University, Dr Jamhari Makruf dan Dr Ismatu Ropi dari Australian National University (ANU), Dr Din Wahid dan Dr Chaider Bamualim dari Leiden University, Dr Saiful Umam dari University of Hawaii, Dr Amelia Fauzia dari Melbourne University, Dr Jajang Jahroni dari Boston University, dan masih banyak lagi alumni UIN Jakarta yang tidak saya sebut namanya, yang berasal dari pesantren berhasil menamatkan doktor dari universitas papan atas dunia, termasuk dari Sorbone, Berkeley, dan Harvard. Di negeri Barat sendiri beberapa universitas papan atas memiliki program studi Islam dengan mendatangkan profesor-profesor ternama dari dunia Islam.

Fakta di atas setidaknya menunjukkan satu hal, yaitu telah terjadi poros baru para santri Indonesia belajar Islam tidak selalu berkiblat ke dunia Arab. Terlebih sekarang lagi dilanda krisis politik, ekonomi, dan peradaban, jadilah daya tarik studi ke dunia Arab menurun. Saya sendiri meneruskan studi master dan doktor tidak ke Arab, tidak juga ke Barat, melainkan ke Turki. Neither West nor East. Sebuah negara yang terjepit antara Arab dan Barat, atau, negara yang mempertemukan antara tradisi Arab dan Barat.

Dari semua yang saya sebutkan di atas, saya paling senior. Peluang pertama yang terbuka bagi saya belajar ke luar negeri adalah ke Turki, yang waktu itu tidak masuk daftar tujuan studi bagi mahasiswa Indonesia.
Peluang ke Barat dengan basis beasiswa masih dalam proses negosiasi. Saya tidak punya gambaran bagaimana perguruan tinggi di Turki. Yang penting menamatkan doktor di luar negeri. Munawir Sjadzali, menteri agama kala itu, meminta saya menjadi pionir belajar ke Turki. Itu bangsa dan negara yang sangat kaya dengan sejarah masa lalunya. Bangsa yang tidak pernah dijajah Barat, bahkan pernah menguasai sebagian Eropa dan hampir seluruh dunia Islam semasa Kekhalifahan Usmani (Ottoman Empire ).

Saya belajar di Ankara, Turki, antara 1984-1990. Terbukanya poros baru dosen-dosen UIN dan IAIN belajar ke perguruan tinggi di luar Timur Tengah tak lepas dari peran Munawir Sjadzali yang sengaja mendorong mereka agar mempelajari ilmu sosial kontemporer untuk memperkaya studi Islam klasik yang telah dipelajari di pesantren dan IAIN. Sekarang ini minat dosen muda alumni pesantren lebih tertarik studi Islam ke perguruan tinggi Barat ketimbang ke Timur Tengah. Ada apa ini? []

KORAN SINDO, 22 April 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Peran Sosial Agama

Oleh: Komaruddin Hidayat

Dalam pandangan Marxian, kritik dan solusi yang ditawarkan agama untuk mengatasi problem sosial tidak pernah tepat sasaran karena salah asumsi dan metode.

Ketika merebak kemiskinan dan kesengsaraan, misalnya, solusinya mesti melalui analisis dan aksi sosial secara empiris dan terukur, bukan dengan lari kepada Tuhan yang akan memberikan penyembuhan psikologis sesaat, tetapi masalah utamanya tidak terselesaikan. Formula kebenaran agama berdasarkan kepercayaan yang bersifat subyektif sulit diukur dan dikuantitatifkan, sementara masalah sosial ekonomi sangat empiris. Tidak tepat diselesaikan dengan cara pandang normatif-metafisis. Tulisan ini akan mengulas secara singkat perbedaan metode kerja ilmu alam, ilmu sosial, dan ilmu agama dalam kontribusinya dalam menyelesaikan masalah sosial.

Ilmu alam

Obyek kajian ilmu alam dan kinerjanya lebih jelas dan konsisten dibandingkan dengan ilmu sosial dan humaniora. Variabelnya relatif homogen dan statis sehingga keberhasilannya mudah diukur dan diramal (predictable). Dalam kajian ilmu alam, antara subyek yang meneliti dan obyek yang diteliti terdapat jarak dan perbedaan karakter yang jelas sehingga ilmu alam sering disebut sebagai hard science atau exact science. Kalaupun terjadi deviasi dan kesalahan dalam membuat kesimpulan mudah dievaluasi dan diverifikasi secara faktual-empiris sehingga dengan demikian para saintis pun mudah untuk sepakat ketika dihadapkan pada bukti empiris.

Pada tataran teknis-aplikatif, jasa ilmu alam yang paling nyata adalah dalam jasa kedokteran yang tidak membedakan ras, suku, dan agama. Jasa lainnya yang juga mencolok adalah dalam layanan teknologi transportasi dan informasi. Siapa pun orangnya, apa pun agamamya, mereka bukannya menolak jasa sains, sebaliknya malah rela mengeluarkan dana besar untuk memperolehnya. Dengan demikian, penyebaran produk sains dan sikap masyarakat dalam menerimanya lebih luas dan lebih lapang ketimbang penyebaran agama. Masyarakat modern tidak bisa hidup tanpa jasa sains dan teknologi, sekalipun tanpa agama.

Ilmu sosial

Adapun ilmu sosial dan humaniora antara subyek yang meneliti dan obyek yang diteliti batasnya kabur karena sama-sama manusia yang memiliki kehendak dan emosi yang selalu berubah-ubah. Variabelnya begitu banyak dan heterogen ketika kita hendak mempelajari dunia manusia. Tidak mudah membuat formula idealstate of society yang diterima dan disepakati oleh para ilmuwan sosial, bahkan juga oleh masyarakat pada umumnya. Meskipun begitu cara kerja serta hasil yang ditawarkan ilmu sosial masih mudah dievaluasi dan diverifikasi mengingat data dan pengalaman yang ditampilkan bersifat empiris-historis, sekalipun asumsi dan variabelnya begitu banyak. Setiap komunitas dan bangsa memiliki mimpi, ingatan kolektif, mitos, keinginan, dan agenda hidup yang tidak sama, yang selalu berkembang dinamis dari zaman ke zaman.

Dengan memanfaatkan jasa ilmu alam dan teknologi, ilmu sosial berusaha melakukan rekayasa sosial untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar manusia, terutama dalam aspek kesejahteraan sandang, papan, pangan, dan kesehatan sebagaimana yang diperjuangkan oleh ideologi sosialisme dan kapitalisme. Akan tetapi, kenyataannya, warga dunia yang miskin, kurang gizi, dan tunawisma masih ditemukan di mana-mana, sementara mereka yang hidup mewah juga semakin banyak.

Untuk mengatasi ini, maka ilmu sosial selalu berusaha keras agar bisa menghasilkan berbagai resep dan formula politik yang bertujuan membantu penyelenggaraan pemerintahan sebuah negara agar warganya terpenuhi dan terlindungi hak- haknya. Akan tetapi, lagi-lagi, peperangan dan berbagai bentuk penindasan manusia terhadap yang lain juga terjadi di mana- mana. Demokrasi yang oleh sebagian orang dianggap mantra suci dan sakti masih juga menyisakan problem sosial yang tidak bisa diselesaikan.

Jika ilmu alam berusaha menginterogasi obyek alam lewat laboratorium agar alam mengenalkan diri akan sifat-sifatnya sehingga terhimpun laws of nature, ilmu sosial pun berbuat serupa, yaitu melakukan penelitian mengenai apa yang menjadi sifat dasar manusia serta apa saja yang didambakan sepanjang sejarahnya sehingga terhimpun berbagai asumsi dan hasil penelitian empiris yang kemudian dikuantitatifkan. Namun, ternyata sistem nilai dan perilaku manusia berbeda-beda antara masyarakat yang satu dari yang lain dikarenakan faktor yang juga berbeda-beda. Karena itu, tidak ada satu grand theory dan paradigma ilmu sosial yang bersifat universal. Kalaupun ada, paradigma ilmu sosial pun tidak sesolid kaidah-kaidah ilmu alam.

Di Indonesia, pakar-pakar ilmu sosial, terutama dalam bidang ekonomi dan politik, mesti jujur dan rendah hati untuk mengakui kesalahan-kesalahan asumsi dan formula yang disodorkan kepada pemerintah yang ternyata tidak berhasil menyejahterakan rakyat. Resep dan formulanya pasti ada yang keliru. Saat ini, misalnya, kita sepertinya lagi heboh dan mabuk demokrasi, tetapi korupsi selalu saja terjadi, kualitas kehidupan kita menurun. Berbagai perangkat negara sudah komplet, tetapi bangsa ini seperti berjalan di tempat, padahal pengeluaran anggaran belanja negara semakin membengkak.

Ilmu agama

Asumsi, premis, dan cita ideal yang ditawarkan ilmu agama berbeda lagi. Ciri dan kekuatan pokok agama adalah kepercayaan atau iman kepada Tuhan dan kepada hal-hal metafisik. Agama hadir dengan himpunan norma-norma atau nilai kehidupan agar seseorang selamat di dunia dan kehidupan setelah mati. Setiap agama mengajarkan doktrin eskatologis (kehidupan setelah mati) dan keselamatan (salvation) yang kemudian disertasi konsep surga-neraka. Masuk surga adalah target dan tujuan akhir misi kehidupan, sekalipun ada yang mau membayarnya dengan menjalani hidup miskin dan meledakkan bom bunuh diri agar meraih surga.

Tak mudah merumuskan idealstate of society menurut ilmu agama karena yang selalu ditawarkan adalah himpunan nilai baik dan buruk yang bersumber dari wahyu (revelation). Menurut ajaran Islam, misalnya, tidak ada preferensi absolut apakah sebuah pemerintahan mau menerapkan model demokrasi, kerajaan, kapitalisme, sosialisme, ataupun yang lain. Yang penting butir-butir norma agama dilaksanakan. Begitu pun gambaran hidup setelah mati kita tidak mempunyai data empiris. Yang ada adalah sederet ancaman siksa neraka jika menabrak norma agama dan insentif kenikmatan surgawi sebagai ganjaran dari ketaatan melaksanakan tuntunan agama ketika hidup di dunia. Ketika berbicara surga-neraka, kitab suci pun menggunakan ungkapan metaporis karena sesungguhnya otak dan perasaan hanya akan mengetahui dan mengenal apa yang pernah dialami sebelumnya.

Salah satu kekuatan agama yang membuatnya selalu eksis sepanjang zaman adalah agama memberikan makna dan harapan ketika seseorang dihadapkan derita dan misteri hidup yang sulit diterima nalar, sementara ilmu tidak mampu menjawabnya. Dalam ungkapan lain, agama memberikan sense of meaning and purpose of life berdasarkan iman. Di sinilah salah satu kekuatan agama, yang oleh pengkritiknya di sini pula kelemahan agama yang dinilai memanipulasi derita dan misteri hidup dengan jawaban yang sangat metafisis-spekulatif.

Dalam relasi sosial, agama memiliki peran integratif bagi umatnya yang seiman, yang sekaligus juga peran disintegratif terhadap yang berbeda keyakinan imannya. Makanya, setiap agama cenderung eksklusif (to exclude), bukannya inklusif (to include) terhadap kelompok luar. Namun, sikap eksklusif ini bukan monopoli agama mengingat spirit sukuisme dan nasionalisme-chauvinisme juga memiliki kecenderungan serupa. Konflik antar- bangsa, suku, dan kelas akan semakin mengeras jika memperoleh amunisi dari spirit keagamaan sehingga semangat membela agama dan suku tidak bisa lagi dipisahkan.

Kohesivitas dan solidaritas iman berlangsung lintas negara dan bangsa, dan bisa mengalahkan loyalitas seseorang kepada bangsa dan negaranya. Makanya, kita melihat sepak terjang kelompok teroris yang mengaku memperjuangkan agama kiprahnya melintasi batas negara. Mereka telah mengalahkan rasa takut mati karena justru dengan kematian semakin dekat kepada cita-cita ideal tertinggi untuk masuk surga. Betulkah mereka masuk surga setelah membunuh dan mencelakakan banyak orang tidak bersalah, keyakinan dan klaim kebenaran itu tidak bisa diverifikasi sebagaimana yang berlaku dalam ilmu alam-ilmu sosial yang bersifat empiris.

Meskipun agama merupakan himpunan normatif dan sebagian lagi askriptif, banyak data dan fakta bahwa agama juga telah melahirkan pribadi-pribadi pejuang moral pencerah zaman. Akan tetapi, dalam konteks rekayasa sosial, di zaman modern ini koalisi hasil kerja ilmu alam dan ilmu sosial-humaniora jauh lebih memperlihatkan hasilnya ketimbang ilmu agama. Bahkan, untuk melaksanakan pesan dan tuntutan nilai agama, jasa ilmu sosial dan sains amat sangat diperlukan. Misalnya, pesan agama untuk hidup sehat, tanpa dukungan kinerja ilmu kedokteran sulit dilaksanakan. Begitu pun untuk memberantas kejahatan, agama sangat memerlukan institusi negara yang dirancang oleh ilmu sosial yang dipersenjatai oleh hasil kinerja ilmu alam.

Jadi, dengan esai singkat ini saya hanya ingin mengajak pembaca melihat ulang peran sosial agama yang kadang klaimnya begitu luas, agama dapat menyelesaikan semua persoalan hidup. Dunia akan beres dengan agama. Religion is a solution. Sementara yang mengemuka, ekspresi dan peran sosial agama di sejumlah wilayah justru destruktif, menjadi sumber keresahan dan keributan. Kita sepakat bahwa agama menawarkan nilai-nilai kebajikan hidup dan menjanjikan keselamatan akhirat. Namun, mengapa untuk meraih surga di akhirat ada yang mesti membayarnya dengan menciptakan kegaduhan dan ketakutan warga dunia? Lalu, peran sosial apa yang hendak ditawarkan? Jika yakin bahwa agama yang dianutnya datang dari Tuhan Yang Maha Mencintai dan Mengasihi penduduk Bumi, mestinya ekspresi keberagamaan seseorang akan jadi instrumen penyebar cinta kasih Tuhan terhadap sesamanya dalam rangka membangun kehidupan yang berkeadaban.

Pengalaman Indonesia

Dalam hal kehidupan sosial keagamaan, Indonesia sangat kaya dan unik. Agama telah mendorong lahirnya organisasi sosial keagamaan, bahkan juga partai politik, yang membantu peran negara dalam mendidik dan mencerdaskan warga negara. Negara sangat berterima kasih kepada agama sehingga dengan APBN negara memberikan dukungan finansial dan politik kepada berbagai institusi sosial keagamaan. Tokoh dan institusi sosial keagamaan juga memberikan dukungan dan masukan moral kepada pemerintah dan negara. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai ruang publik dan institusi negara dijadikan obyek kontestasi hegemoni agama karena sifat pemeluk agama yang cenderung eksklusif dan sulit menerima kritik. Yang muncul adalah relasi kalah-menang, padahal di antara mereka baru pemula dalam mempelajari agama. []

KOMPAS, 22 April 2016
Komaruddin HidayatGuru Besar Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah

Mengajar Keluarga Adam Malik

Oleh: Komaruddin Hidayat

Suatu hari di tahun 1979, Prof Harun Nasution, masih Rektor IAIN Syarif Hidayatullah saat itu, memanggil saya untuk memberi pelajaran Islam bagi keluarga Wakil Presiden Adam Malik, terutama anak-anaknya.

Pak Adam Malik minta didatangkan guru agama ke rumahnya di Jalan Diponegoro, lalu Pak Harun mempercayakan tugas itu kepada saya. Mereka memerlukan guru agama dengan pendekatan rasional. Mereka lama tinggal di luar negeri. Orang-orangnya senang berdiskusi. “Tipikal orang Batak,” kata Pak Harun, “kamu yang cocok mengajari mereka.” Pengalaman bekerja sebagai wartawan dan pernah aktif di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) membuat saya cukup percaya diri menerima permintaan ini.

Sesuai jadwal, saya pun datang ke kediaman Adam Malik, Jalan Diponegoro 29. Karena ini tempat kediaman wakil presiden, ketika masuk mesti melewati pemeriksaan, ditanya KTP dan tujuannya apa. Penjagaan ketat, standar rumah pejabat tinggi negara. Saya menghadap Bu Endang, sekretaris Wapres, kemudian diantar ke ruang belajar. Keluarga sudah berkumpul di ruang terbuka dekat taman belakang. Sangat nyaman untuk ruang pertemuan keluarga.

Acara ini saya lakukan setiap hari Jumat, dimulai pukul 9 pagi. Saya mengajar untuk mereka sekitar empat tahun, mengajar layaknya memberi kuliah kepada mahasiswa. Saya buat silabus dan saya bagi buku rujukan pokok. Salah satunya buku Pengantar Studi Islam karya Miftah Farid yang berisikan tema-tema pokok ajaran Islam yang dia persiapkan untuk mahasiswa ITB (Institut Teknologi Bandung).

Peserta intinya adalah putra Pak Adam Malik, yaitu Otto, Budi, Ilham, Rini, dan beberapa keluarga dekat serta staf sekretariat, sehingga rata-rata 10 orang setiap pertemuan. Karena mereka pernah belajar dan tinggal di luar negeri, wawasannya terlihat luas dan terbiasa berdiskusi secara bebas.

Setiap datang ke rumah Wapres, penjaganya selalu berganti-ganti.
Mungkin mereka heran ketika saya lapor mau mengajar agama, mengingat penampilan saya bukan tipikal ustaz. Kesan saya, keluarga itu begitu kompak dan rukun. Senang berkumpul dan pergi bareng-bareng, termasuk juga salat Jumat pindah-pindah masjid di wilayah Jakarta.

Sosok Pak Adam Malik dan Bu Nelly bagaikan rumah tempat anak cucu berkumpul dan berteduh dalam suasana yang selalu hangat. Meski anak-anaknya sudah dewasa dan tinggal di rumah masing-masing, tetap saja rumah di Jalan Diponegoro seakan jadi rumah utama mereka. Jika muncul problem keluarga, orang tua ikut menyelesaikan. Saya sendiri ikut merasakan keakraban keluarga ini.

Sehabis salat Jumat lalu makan bareng sambil ngobrol ke sana kemari. Gosip-gosip politik dan anekdot yang lucu tak pernah lepas dari obrolan.
Pak Adam pernah bercanda, suatu saat temannya kehilangan jam di NewYork. Lalu Pak Adam Malik memberi respons, ”Wah, wah, rupanya ada juga orang Batak yang kerja di sini,” candanya. Saya surprised ketika Pak Adam Malik memberi buku tentang filsafat tasawuf yang rupanya pernah dibacanya. Antara lain tentang tokoh sufi Idries Shah dan buku yang membahas wahdatul wujud, konsep menyatunya sang hamba dan Tuhannya. Manunggaling kawula Gusti.

Lima tahun saya bergaul dekat dengan keluarga Pak Adam Malik. Pernah suatu hari dia menyatakan kekecewaan kepada Pak Harto, gara-gara mengetahui posisinya berakhir sebagai wapres hanya melalui berita surat kabar. Katanya, apa beratnya kalau Pak Harto memberi tahu langsung secara lisan, toh sama-sama teman seperjuangan, sebelum keputusan itu disampaikan ke publik. Ini tidak etis dan melukai persahabatan.

Sebelum menjabat wakil presiden untuk periode 1978-1983, Adam Malik (1917-1984) pernah menjabat duta besar RI (1959), juga pernah menjabat menteri luar negeri pada 1966-1978. Untuk mengenang jasa-jasanya, pada 5 September 1985 Ibu Tien Soeharto meresmikan rumah kediaman di Jalan Diponegoro 29 itu menjadi Museum Adam Malik. Semasa hidup Adam Malik, rumah di Jalan Diponegoro itu berfungsi lebih dari sekadar rumah tempat tinggal, melainkan juga museum pribadi yang menarik minat para pengunjung.

Banyak benda-benda antik seperti batu permata dan guci buatan China yang usianya cukup tua. Koleksi yang paling khas dan tak ada duanya adalah berbagai ragam bentuk dan merek kamera atau tustel yang dipakai sejak Pak Adam Malik meniti karier sebagai wartawan pada zaman prakemerdekaan. Lalu koleksi suvenir yang diterima selama berkarier sebagai diplomat.

Begitu banyak kenangan saya yang bersifat humanis dengan keluarga Adam Malik. Mereka kaya dengan cerita humor dan anekdot politik maupun kehidupan sehari-hari. Saya sendiri sejak itu merasa akrab dengan Istana Wapres dan sosok wapres penerus Adam Malik karena sering diminta memberi khotbah Jumat dan ceramah pada hari-hari besar keagamaan.

Pada 1985 saya meninggalkan Jakarta, meneruskan kuliah tingkat master dan doktor di Turki, sebuah pergulatan baru menjadi mahasiswa miskin dimulai lagi. Beredarnya berita bahwa museum Adam Malik mengalami kebangkrutan dan banyak koleksinya hilang membuat hati saya ikut teriris sedih. []

KORAN SINDO, 01 April 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Mengajar dengan Hati

Oleh: Komaruddin Hidayat

Selaku dosen junior di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 1981, setiap masuk ruang kuliah untuk mengajar saya berusaha menata hati. Tidak cukup hanya menguasai materi ajar, tetapi ke ruang kelas mesti membawa cinta.

Hati mesti gembira. Saya ingat salah satu sabda Rasulullah: Barangsiapa menyampaikan ilmu Allah pada orang lain dengan ikhlas, maka gantian Allah yang akan menjadi gurunya, mengajari ilmu yang belum diketahuinya. Itu saya yakini sejak masih di pesantren sampai hari ini. Bahwa mengajar hendaknya diniati sebagai ibadah, dilakukan dengan ikhlas, kemuliaan ilmu itu jangan ditukar dengan gaji.

Kalaupun terima gaji, itu upah sebagai pegawai negeri sipil (PNS) yang dibayarkan oleh negara. Jika diniati sebagai ibadah, Allah akan memberi imbalan dengan cara-Nya sendiri, di luar gaji PNS. Tentu ini merupakan keyakinan iman. Di samping sebagai karyawan pemerintah, jauh lebih penting lagi saya ingin menjadi karyawan Tuhan sehingga yang akan saya dapatkan bukan saja rezeki yang halal dan berkah, namun juga Allah akan membukakan jalan untuk memperoleh ilmu baru.

Mengajar dengan hati itu akan terasa ringan dalam melakukannya, dan lagi akan menimbulkan jalinan yang lebih akrab dengan mahasiswa. Yang demikian itu saya rasakan dan amati setiap mengikuti kuliah almarhum Prof Dr Harun Nasution. Pak Harun selalu menolak menghadiri undangan seminar jika bentrok dengan jadwal mengajar. Mengajar dan bertemu mahasiswa selalu menjadi prioritas.

Pak Harun terlihat semakin antusias memberi kuliah jika mahasiswa aktif bertanya secara kritis. Mahasiswa yang diam, tak pernah bertanya, tidak berarti dia pintar, katanya. Sebaliknya, mungkin tidak tahu apa yang akan ditanyakan, atau tidak tahu dan tidak berani bagaimana bertanya. Pak Harun selalu mengoreksi jika mahasiswa salah membuat pertanyaan, tanpa mempermalukan. Ilmu pengetahuan itu tersembunyi di balik pertanyaan yang kritis dan mendasar.

Pertanyaan yang serius dan sistematis namanya research. Sebuah pencarian kebenaran terhadap objek yang diriset. Jadi, dengan bertanya mahasiswa akan mendapatkan informasi lebih banyak lagi dari dosen. Ini mirip dengan pepatah lama, malu bertanya sesat di jalan. Pelajar dan mahasiswa Indonesia memang kalah aktif dalam mengajukan pertanyaan dibanding hasil pendidikan di Barat yang sejak awal siswa diajari bersikap asertif. Menyampaikan perasaan dan pikirannya dalam forum secara jujur. They are thinking loudly.

Berpikir sambil berbicara. Kalau masyarakat Timur cenderung thinking silently. Tetapi kita tidak tahu persis, apakah diam berarti berpikir atau pasif. Sepanjang pengalaman memberi kuliah, mahasiswa strata satu kebanyakan enggan mengajukan pertanyaan kritis pada dosen. Kalaupun ada hanya sedikit jumlahnya. Tetapi jika dosen membiasakan dan mengondisikan sejak awal, suasana kuliah akan berubah. Menjadi cair dan lebih hidup.

Salah satu cara paling efektif adalah memberi tugas pada mahasiswa untuk menyampaikan hasil kajiannya terhadap topik tertentu, lalu diperdalam dan diperkaya oleh dosen. Keengganan bertanya dan mendebat guru ini mungkin sekali dipengaruhi oleh pendidikan sewaktu di SMP dan SMA, khususnya di pesantren, di mana guru adalah pembicara, murid adalah pendengar. Guru adalah sosok yang paling tahu, yang tidak mungkin ilmunya dilangkahi oleh murid.

Murid masuk kelas layaknya celengan yang siap diisi oleh guru, lalu dicatat, dihafal, dan nanti dikeluarkan untuk menjawab pertanyaan dalam ujian. Pola menghafal untuk bersiap menghadapi ujian masih cukup menonjol dalam pendidikan kita. Padahal, yang lebih penting itu proses memahami dan latihan menyelesaikan masalah agar terbentuk sikap kritis kreatif, bukan berpikir repetitif, mengingat dalam realitas kehidupan ini akan ditemui masalah dan tantangan baru.

Guru-guru kita kurang mendidik para siswa untuk berimajinasi, keluar dari pakem berpikir yang ada. Rasa kagum dan mencintai profesi guru atau dosen, rasanya sudah merupakan panggilan hati sejak kecil. Kata orang bijak, seorang guru itu memberikan yang terbaik dan termahal dari apa yang dimiliki untuk anak-anak bangsa. Jika orang kaya menolong orang lain dengan memberikan sebagian kecil hartanya, seorang guru memberikan hati, pikiran, dan jiwanya.

Mereka mesti tampil sebagai role model bagi muridnya, guru artinya digugu lan ditiru, mendidik mereka agar berbudi luhur, berpengetahuan luas, bisa mandiri, dan berani menghadapi masa depan yang kita semua belum tahu dan belum mengalami. Mirip ungkapan Khalil Gibran, orang tua, termasuk guru, hendaknya berperan bagaikan busur yang mampu melepaskan anak panahnya untuk melesat jauh ke depan, melampaui dan meninggalkan dirinya.

Anak-anak kita akan menjadi anak zamannya. Mereka berumah di masa depan. Guru dan orang tua hanya bisa mengantarkan dan membayangkan, tetapi tidak bisa menyertai dan tidak bisa menengoknya. Sampai hari ini saya percaya bahwa jika guru mengajar dengan hati, maka murid juga akan mendengarkan dengan hati, bukan sekdar masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Bahkan ada yang mengatakan, masuk telinga kanan keluar lagi dari telinga kanan.

Makanya, kalau seseorang ingin menyampaikan pengumuman, dimulai dengan kalimat: Saudara-saudara sekalian, mohon per-hati-an…. []

KORAN SINDO, 11 Maret 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Menjadi Sarjana

Oleh: Komaruddin Hidayat

Sekitar empat dekade yang lalu, menyandang titel sarjana dari perguruan tinggi negeri (PTN) itu sangat membanggakan dan jaminan diterima sebagai pegawai negeri sipil (PNS) bagi yang berminat. Bagi orang tua pada umumnya, kalau anaknya sudah tamat kuliah dan meraih titel sarjana, maka langkah berikutnya adalah masuk menjadi PNS.

Dalam pandangan masyarakat kampung, menjadi PNS itu merupakan idaman tertinggi. Orang tua sering berkata, PNS itu tiap bulan pasti panen, tidak kenal musim kemarau atau musim hujan seperti yang dialami para petani.

Sawahnya tidak pernah dimakan tikus. Penghasilannya ajeg, setiap bulan terima gaji. Makanya banyak orang tua yang menginginkan anak atau menantunya bekerja sebagai pegawai negeri. Tapi sekarang keadaan sudah berubah.

Untuk diterima menjadi PNS, peluangnya semakin sempit. Saking banyaknya peminat, sering terbetik berita bisik-bisik bahwa untuk bisa diterima mesti membayar uang koneksi minimal Rp50 juta.

Pada tahun 80-an ketika tamat kuliah dari IAIN, jumlah pegawai negeri di kampung saya, Pabelan, Magelang, tak melebihi jumlah jari tangan. Salah satunya adalah ayah saya, Imam Hidayat, seorang tentara berpangkat prajurit, katanya sebagai hadiah dari keikutsertaannya bergerilya melawan Belanda dan Jepang. Sekolahnya setingkat SD pun tidak tamat. Ayah saya perangainya sangat halus, sangat jauh dari kesan seorang militer.
Saya tidak pernah bercerita pengembaraanku sampai berhasil jadi sarjana. Setahunya, saya bekerja di Jakarta. Yang selalu saya lakukan hanyalah minta doa restu semoga selamat lahir-batin bekerja di Ibu Kota.

Menjelang tamat dari IAIN, almarhum Prof Harun Nasution, waktu itu menjabat rektor, meminta agar saya nantinya mau bergabung menjadi dosen, berarti masuk PNS. Sebuah tawaran yang menggembirakan, meskipun saya tidak terlalu antusias karena sudah menikmati bekerja di dunia jurnalistik. Sejak kecil, saya memang mencintai profesi guru. Kenangan masa kecilku tentang guru begitu indah, damai, dan terhormat. Masih mudah mengingat kembali guru-guru SD yang telah menjadi bagian dari perjalanan intelektual saya, antara lain Pak Djumali, Bu Ambar, Pak Sugriwo, Pak Suratmin, Pak Suparman, Bu Romlah. Kadang muncul keinginan berjumpa dan mencium tangan mereka sebagai tanda hormat dan terima kasih, sekalipun saya tahu mereka sudah meninggal. Sering terpikir, sebagai seorang dosen ataupun guru, apakah kesan dan penilaian mahasiswa terhadap saya?

Sampai hari ini, jumlah sarjana ilmu sosial di Indonesia jauh lebih banyak dibanding ilmu-ilmu alam dan teknik sehingga kekayaan alam yang sedemikian melimpah belum bisa dieksplorasi secara efektif oleh putra-putra bangsa sendiri. Konon ceritanya, Bung Karno banyak mengirimkan putra-putri bangsa terbaik belajar ke negara blok Uni Soviet untuk mendalami ilmu teknik dan nuklir, agar kekayaan alam Nusantara dikelola oleh bangsa sendiri. Tetapi mimpi Bung Karno itu berantakan dengan terjadinya tragedi Gestapu, dan setelah itu kiblat pendidikan kita beralih ke Barat, di mana ilmu sosial jadi primadonanya. Sumber alam dieksplorasi dan dikuasai oleh modal asing (Barat).

Dari sekian banyak program studi, rasanya hanya kedokteran yang paling jelas keahliannya. Begitu tamat langsung bekerja sebagai dokter. Sebagai sarjana Ilmu Perbandingan Agama, saya sendiri merasa tidak jelas profesi apa yang paling tepat. Saya mempelajari berbagai agama dan filsafat, namun tidak cukup mendalam. Mirip profesi wartawan, merasa mengetahui banyak hal tetapi serbasedikit. Sok tahu. Untunglah saya senang membaca buku ilmu-ilmu sosial, meskipun hanya pengantar, sehingga sangat membantu untuk melakukan intellectual adabtability dan mencari titik temu serta interkoneksitas antardisiplin ilmu. Ini sangat diperlukan mengingat kehidupan ini pada kenyataannya merupakan sebuah jejaring yang saling berkaitan (the web of life).

Sebagai sarjana Ilmu Perbandingan Agama, suatu keniscayaan untuk mempelajari psikologi, antropologi, sosiologi, dan sejarah, mengingat semuanya itu sangat instrumental untuk memahami perkembangan agama dari masa ke masa.

Diperlukan interdisiplin ilmu untuk mengkaji beragam ekspresi dan praktik keberagamaan dalam masyarakat, sejak dari yang menonjolkan aspek sufisme sampai gerakan fundamentalisme-radikalisme yang ingin mendirikan kekhilafahan dan senang mengafirkan kelompok lain yang berbeda mazhab. Jadi, praktik keberagamaan itu melahirkan banyak mazhab dan wajah.

Bagi orang luar, siapa pun alumni IAIN dianggap ahli ilmu keislaman. Padahal, Islam sebagai warisan peradaban dan studi keilmuan, dibagi ke dalam banyak cabang dan ranting sebagaimana tecermin dalam banyaknya jumlah fakultas dan program studi UIN (Universitas Islam Negeri) hari ini.

Oleh karena itu, muncul candaan dan kritik terhadap alumni IAIN yang bergelar S Ag atau Sarjana Agama, lalu dipelesetkan menjadi Sarjana Alam gaib, karena yang dibicarakan seputar akhirat, atau Sarjana Acan gawe, karena sulit cari pekerjaan.

Dengan berubahnya IAIN menjadi UIN, dari institut ke universitas, banyak kajian dibuka, khususnya di UIN Jakarta, seperti kedokteran, ekonomi, psikologi, politik, sains, yang diintegrasikan dengan studi keislaman sebagai sarana mobilitas intelektual anak-anak santri agar memiliki kecakapan teknokratik. Tapi sangat disayangkan, pihak Kemenristek-Dikti tidak paham atau tidak ingin memahami agenda integrasi keilmuan ini sehingga kurang sportif pada agenda UIN untuk membuka prodi sains, misalnya jurusan Pertambangan atau Geologi yang jelas-jelas dibutuhkan oleh kaum santri agar ikut serta mengeksplorasi dan mengelola kekayaan alam negeri tercinta ini.

Dunia perguruan tinggi sekarang ini tidak lagi hanya menekankan diri sebagai Teaching University, tetapi sudah bergerak menjadi Research University. Bahkan beberapa perguruan tinggi sudah berada dalam tahapan Entrepreneurial University. Masing-masing memiliki standar dan karakter tersendiri. []

KORAN SINDO, 26 Februari 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Pendidikan Mengangkat Martabat Bangsa

Sumber Tulisan: Disini

Komaruddin Hidayat ; Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
KORAN SINDO, 12 September 2014

Dalam berbagai forum pelatihan guru-guru saya sering memulai dengan mengajukan pertanyaan sambil memegang handphone (HP/telepon genggam) dan mikrofon: mengapa harga handphone jauh lebih mahal, bahkan berlipat, ketimbang mikrofon, padahal secara fisik ukurannya lebih kecil?

Jawabannya tentu sudah kita ketahui bersama. Meski ukurannya kecil, HP memiliki banyak fungsi yang sangat membantu aktivitas kita sehari-hari. Yang paling primer adalah mendekatkan jarak pendengaran dan pembicaraan yang tadinya jauh dan tak akan terjangkau oleh telinga lalu menjadi dekat. Di mana saja, kapan saja, selagi sinyalnya bagus kita bisa berkomunikasi lisan dengan teman melalui HP sekalipun berjarak lintas benua.

Lebih dari sekadar untuk berbicara, HP juga dilengkapi berbagai fasilitas yang kita perlukan, sejak dari kamera, kalender, akses ke internet, musik, peta bumi, kamus, Alquran, dan sebagainya. Faktor lain lagi yang membuat menarik dan mahal adalah desainnya yang indah dan mungil. Jadi, apa yang membuatnya mahal? Karena di dalam HP terdapat investasi sains dan teknologi canggih.

Demikian pula halnya dengan manusia. Hal yang membuatnya berharga dan dicintai serta diperlukan banyak orang bukan terletak pada fisiknya yang besar, melainkan kualitas yang melekat pada dirinya, terutama integritas dan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Keduanya ini merupakan produk pendidikan yang bermutu dan berkesinambungan, mengingat mendidik seseorang sampai membuahkan hasil diperlukan waktu sekitar 20-25 tahunan.

Beda dari menanam padi atau jagung yang menjanjikan panen hanya dalam waktu 3 bulanan. Pisang sekitar 6 bulanan, kelapa sekitar 5 tahunan. Jadi, untuk meletakkan dasar dan strategi pendidikan bagi anak-anak bangsa mesti berpikir jauh ke depan, bukan berubah-ubah dan heboh setiap lima tahunan seperti halnya pemilu. Presiden beserta jajaran kabinet serta anggota DPR boleh saja ganti setiap lima tahun.

Namun, pola dan strategi pendidikan tidak boleh berubah-ubah, kecuali dalam jangka waktu tertentu berdasarkan riset dan pemikiran yang matang. Bahkan sangat bisa jadi keberhasilan sebuah program pendidikan, ibarat menanam benih pohon, seorang presiden atau menteri pendidikan yang meletakkan fondasinya tidak melihat hasilnya karena sudah lebih dulu meninggal.

Sejarah berbagai negara memberikan pelajaran, misalnya saja China, Australia, Jepang, Korea, Hong Kong, Singapura, dan Malaysia, bahwa berkat pemerintah mereka yang sangat peduli dan serius dalam merancang dan melaksanakan strategi pendidikan bagi rakyatnya, negara-negara itu lebih maju.

Penduduk bukannya menjadi beban dan menambah angka kemiskinan, tetapi sebagai kekuatan produktif untuk memacu dan menyangga kemajuan bangsa dan negaranya. Australia, yang dulunya sebagai tempat pembuangan atau penampungan penjahat kulit putih dari Eropa, sekarang merupakan salah satu negara paling makmur di dunia dan menjadi kiblat pendidikan. Jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar ke Australia lebih besar ketimbang mereka yang ke Amerika.

Ini semua berpangkal pada sistem pendidikannya yang dikelola secara serius dan terbuka bagi inovasi baru yang lebih baik. Begitu pun Jepang dan Korea Selatan, meski sumber daya alam dan jumlah penduduknya jauh lebih kecil dibanding Indonesia, karena pendidikannya bagus maka sektor industri menjadi terdongkrak maju yang pada urutannya membanjiri pasar Indonesia.

Padahal, berapa banyak universitas di Indonesia yang usianya lebih tua, jumlah mahasiswanya lebih banyak, namun alumni yang dihasilkan tidak seproduktif mereka. Di mana letak kesalahannya? Bagaimana halnya dengan negara-negara kecil seperti Hong Kong atau Singapura? Mereka lebih mudah dan cepat melakukan pemerataan dan akselerasi pendidikan bagi warganya.

Singapura yang dulu lebih dikenal sebagai kota transit dan belanja, sekarang berhasil mengubah citranya sebagai negara yang menawarkan pendidikan bagus. Banyak profesor asing kelas dunia dihadirkan ke Singapura sehingga kultur dan kualitas pendidikannya berkembang baik berada pada peringkat kelas dunia. Yang juga fenomenal adalah Malaysia. Putra-putri terbaiknya secara masif difasilitasi untuk belajar ke luar negeri pada universitas kelas dunia atas beasiswa negara.

Selain itu, sekian banyak sarjana berkualitas dari Indonesia ditawari untuk menjadi dosen di Malaysia. Mereka bekerja untuk mendidik dan memintarkan warga Malaysia dengan fasilitas dan gaji cukup. Jadi, jika sektor pendidikan di Indonesia tidak dibenahi secara serius dan memperoleh perhatian serta prioritas langsung dari jajaran wakil rakyat dan presiden, mudah diprediksi bangsa ini akan kalah bersaing dalam percaturan global.

Sekarang pun dalam berbagai hal sudah kalah bersaing karena kelemahan kualitas SDM kita. Akar masalahnya adalah pada kebijakan dan politik pendidikan yang salah. Akibatnya, perkembangan penduduk yang mestinya menjadi ” bonus demografi”, jangan-jangan malah menjadi beban negara. Subsidi negara selalu naik, tetapi produktivitas rakyat menurun.

Kita tidak bisa lagi menggantungkan kemurahan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan hidup tanpa disertai keunggulan sains dan teknologi dibawah pemerintahan yang bersih.