Risiko memilih pemimpin

Sumber Tulisan : Disini

PEMIMPIN itu ibarat pilot. Jika tidak memiliki keahlian dan rasa tanggung jawab tinggi terhadap tugas yang diembannya, akan mencelakakan seluruh penumpangnya. Pemimpin itu ibarat sopir bus.

Penumpangnya ingin duduk tenang, nyaman, selamat sampai tujuan. Pemimpin itu ibarat imam dalam salat. Jika bacaannya tidak bagus dan tidak punya wibawa ilmu serta akhlak, makmum ragu berdiri di belakangnya, salatnya tidak khusyuk. Pemimpin itu pelindung anak buahnya, mesti berani ambil risiko demi keselamatan yang dipimpinnya. Ada teori, bakat kepemimpinan itu bawaan lahir.

Seperti ragam pepohonan yang tumbuh di hutan, memang ada jenis pohon besar yang tumbuh menjulang tinggi di antara pohon-pohon lain yang rendah. Namun, ada juga pendapat, pemimpin itu terlahir dan tumbuh berkat pendidikan, baik pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Dengan demikian, pemimpin itu bisa dididik dan dikondisikan.

Semua orang berhak dan berbakat jadi pemimpin. Bahkan ada lagi pandangan, pemimpin itu tugas mulia, merupakan panggilan suci yang mesti diperebutkan untuk sarana memperbanyak amal kebajikan dengan melayani rakyat. Demikianlah, dalam kehidupan sosial diperlukan berbagai ragam jenis jabatan kepemimpinan, baik formal maupun informal. Baik yang berskala besar maupun kecil.

Dalam panggung politik, yang lagi heboh dan selalu heboh adalah peristiwa pilkada untuk memilih bupati, wali kota, atau gubernur. Juga pemilu untuk memilih pasangan presiden dan wakil presiden. Sekarang ini orang bilang kita berada pada tahun politik. Tahun persiapan untuk memilih presiden. Peristiwa ini dianggap sangat penting, bahkan vital, karena rakyat sudah lelah dengan kondisi sosial-politik yang pengap, yang penuh dengan berita korupsi, kriminal, peredaran narkoba, serta pembengkakan angka pengangguran dan kemiskinan.

Tahun politik ini juga terasa semakin hangat karena para parpol yang maju menjadi kontestan semakin agresif mempromosikan calon-calon wakil rakyat untuk duduk di DPR serta jago-jagonya untuk bertanding menjadi capres-cawapres. Tak kalah aktif adalah peranan media televisi, lembaga survei, dan konsultan politik yang ikut mengondisikan munculnya industri politik.

Media dan parpol adalah mesin untuk menyulap agar sebuah figur menjadi populer, mirip mempromosikan sebuah produk industri mobil agar terkenal dan membangkitkan minat masyarakat untuk membeli. Padahal produk industri mobil dan produk parpol sangat berbeda kualitas dan peran sosialnya. Jika kita salah memilih dan membeli motor atau mobil, tak akan berdampak besar secara sosial. Tapi, salah memilih wali kota, bupati, gubernur, atau presiden sangatlah besar implikasinya.

Sedihnya, rakyat tidak cukup punya pengetahuan akurat terhadap tokoh-tokoh yang ditawarkan parpol. Lebih menyedihkan lagi kalau rakyat memilih hanya karena dibagi uang yang diistilahkan ”serangan fajar” menjelang hari pencoblosan. Di beberapa daerah dilaporkan, malam hari sebelum hari pemilihan warga desa sudah menunggu ”uang pembagian”, siapa calon yang paling besar membagi uang, dia yang akan dipilih.

Praktik ini jelas menipu dan merusak proses demokrasi, baik yang memilih maupun yang dipilih berkonspirasi menghancurkan etika dan tatanan politik yang menyuburkan korupsi dan akan menyengsarakan rakyat. Menjelang pemilu ini menarik diamati sikap politik anak-anak muda yang apatis terhadap pemilu. Kalau saja jumlah mereka yang sekitar 50 juta itu mau menggunakan haknya untuk mencoblos, lalu tertuju untuk memilih presiden yang benar dan tepat, sesungguhnya mereka punya andil besar mengubah sejarah bangsanya.

Karena itu, menjadi sangat penting merangkul anak-anak muda agar menggunakan haknya. Di pihak lain parpol agar menampilkan putra bangsa yang benar-benar bermutu dan memiliki semangat dedikasi membangun bangsa, bukan berebut jadi presiden dengan kalkulasi bisnis. Dalam setiap pilkada maupun pemilu, nasib bangsa dan rakyat dalam pertaruhan.

Apakah akan bangkit untuk maju ataukah akan semakin terpuruk. Peristiwa pencoblosannya hanya dalam hitungan menit. Namun, akibat yang ditimbulkan bagi kehidupan sosial-politik amat sangat besar dan berlangsung lama. Kalaupun yang terpilih adalah pemimpin yang bagus, itu pun memerlukan waktu lama dan kerja keras untuk memperbaiki kondisi bangsa ini.

Tapi, jika salah memilih, proses kerusakan dan kemunduran akan berlangsung sangat cepat. Lebih mudah dan cepat merusak keadaan ketimbang membangun dan memperbaiki keadaan.

Enam tipe pemimpin

Sumber Tulisan: Disini

DISKUSI tentang kepemimpinan semakin sering mengemuka di negeri ini sehubungan dengan banyaknya pilkada dan momen menjelang pemilu. Banyak buku yang membahas teori kepemimpinan (leadership), tetapi kali ini saya akan melihatnya secara singkat dan sederhana saja.

Setidaknya terdapat enam macam kepemimpinan yang mudah kita cerna. Satu, umat beriman biasanya merujuk dan mengidealkan kepemimpinan para nabi. Mereka ini muncul dari tengah umatnya dengan kekuatan pribadi dan akhlaknya. Namun di atas semua itu mereka diyakini memperoleh dukungan dan bimbingan Allah serta disertai senjata pemungkas untuk menaklukkan umatnya yang membangkang, yang disebut mukjizat.

Tentu saja warisan ajarannya sangat bagus untuk dicontoh dan dijadikan sumber inspirasi. Namun kita tidak mungkin menggantikan posisinya karena bagi umat Islam tak ada lagi nabi setelah Rasulullah Muhammad, sosok yang hidupnya terjaga dari dosa (maksum). Dua, pemimpin berdasarkan keturunan darah biru atau anak raja. Pemimpin tipe ini ada yang hebat, adil, dicintai rakyat, tetapi ada juga yang bengis dan menindas rakyatnya.

Bagi Indonesia, kepemimpinan berdasarkan darah biru ini sudah berlalu. Kita tidak lagi hidup di zaman kerajaan. Dulu, kekuasaan raja diperoleh setelah berhasil menaklukkan lawannya sehingga istana raja selalu dilindungi dengan tembok tinggi serta tentara yang kuat untuk menakuti lawannya yang hendak melakukan balas dendam atau hendak menaklukkan.

Tiga, kepemimpinan intelektual pejuang. Banyak negara yang merdeka setelah Perang Dunia melahirkan pemimpin yang berasal dari tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan. Mereka ini sangat akrab dan mengenal rakyatnya sehingga ketika duduk menjadi pemimpin dalam tubuh pemerintahan sangat mudah berempati dengan pikiran dan perasaan rakyatnya. Semangat perjuangan dan komitmen ideologis untuk memajukan bangsanya lebih kental ketimbang semangat menikmati jabatan formalnya.

Tipe pemimpin model ini yang sangat mudah dikenali harihari ini adalah sosok Nelson Mandela. Di Indonesia kita juga punya Bung Karno dan Bung Hatta serta teman-teman seangkatan mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan. Mereka itu pemimpin-pejuang yang juga sosok intelektual.

Empat, ada pemimpin bertipe teknokratik-ilmuwan. Mereka menjadi pemimpin karena kemampuannya yang menonjol dibandingkan yang lain dalam bidang keilmuan dan keahliannya dalam mengendalikan sebuah organisasi pemerintahan layaknya memimpin sebuah perusahaan. Pemimpin negara Singapura mendekati tipe ini. Untuk Indonesia, pada jajaran menteri lebih cocok pemimpin tipe ilmuwanteknokratik ini.

Di sini profesionalisme sangat ditekankan. Mereka paham agenda apa yang mesti dilakukan dan menguasai cara bagaimana melakukannya untuk memenuhi tugas yang dibebankan pada jabatannya. Untuk konteks Indonesia, kelemahan tipe ini sering kali kurang memahami realitas budaya dan tradisi bangsanya dan menganggap bahwa dengan pendekatan teknokratik masalah bangsa akan selesai.

Lima, ada tipe pemimpin baru di Indonesia akhir-akhir ini yang tampil dengan mengandalkan popularitas dan dukungan parpol pendukungnya sehingga berhasil mendapatkan posisi legal-formal dalam tubuh pemerintahan. Menjadi problem serius ketika popularitas itu tidak disertai kompetensi dan integritas karena mereka memenangi pemilihan semata karena kekuatan uang dan jejaring dinastiisme.

Tipe pemimpin inilah yang telah merusak cita-cita luhur kemerdekaan dan demokrasi. Mereka berbeda dari tipe pemimpin intelektual- pejuang yang memiliki andil besar dalam pergerakan kemerdekaan atau tipe ilmuwan-teknokratik yang mengandalkan profesionalisme.

Enam, tipe pemimpin yang mampu menyintesiskan lima tipe yang ada untuk menghadapi dan menjawab problem bangsa yang berkembang dinamis. Terutama perpaduan sifat ketulusan, kecintaan, dan kesabaran dari tipe para nabi, semangat perjuangan dan pengorbanan membela martabat bangsa dari tipe intelektual-pejuang dan kemampuan teknokratik dalam mengelola birokrasi negara modern.

Adapun mandat dan legalitas dari parpol pendukung hanyalah bersifat instrumental, jangan sampai parpol dijadikan ”majikan” dari karier politiknya. Pemimpin tipe keenam itu mungkin bisa disebut sebagai pemimpin profetik-teknokratik. Disebut profetik karena kedekatan, kecintaan, dan komitmennya dalam membela dan melayani rakyat dan disebut teknokratik karena kemampuan dan penguasaannya secara teknis-empiris dalam memecahkan problem bangsa dan masyarakat dengan menggunakan instrumen birokrasi dan ilmu pengetahuan modern.

Fenomena yang mengemuka, ada pemimpin yang memiliki semangat membela rakyat, tetapi miskin kemampuan teknokratik. Sebaliknya, banyak teknokrat merasa hebat dalam bidangnya, tetapi tidak memiliki pemahaman mendalam terhadap problem dan karakter bangsanya serta kurang memiliki komitmen membela kepentingan rakyat.

Yang konyol adalah tampilnya orang-orang yang berambisi menjadi pemimpin-penguasa yang memanfaatkan celah titik lemah demokrasi untuk meraih suara rakyat dengan cara membeli dan membodohi rakyat. Mari kita pilih pemimpin bangsa yang tepat demi kesejahteraan dan kemajuan anak-anak cucu kita.