The Fallen Creature

Oleh: Komaruddin Hidayat

ADA pandangan teologis bahwa manusia itu bagaikan makhluk yang terjatuh (the fallen creature). Terusir dan terlempar dari alam surgawi karena menentang titah Ilahi sehingga manusia mesti menebusnya dengan hidup sengsara di muka bumi.

Kehidupan duniawi adalah sebuah rangkaian pencarian dan pendakian jalan pulang kembali ke alam surgawi yang penuh derita. Kelahirannya diawali dengan jeritan tangis, ujungnya adalah kekalahan ketika dihadapkan pada misteri kematian yang menakutkan. Di tengahnya adalah sebuah ketidaktahuan dan ketidakpastian.

Hatinya selalu dihinggapi perasaan harap-harap cemas. Berharap semoga menemukan cahaya terang dan jalan kemudahan untuk bisa kembali ke alam surgawi, tapi juga selalu cemas karena setiap langkahnya mengandung spekulasi tidak memberi jaminan kepastian. Trial and error.

Dalam pandangan teologis ini, kalau saja bukan karena kasih dan maaf dari Tuhan, maka hidup ini tak lebih sebagai rangkaian penderitaan yang sekali-sekali diselingi senyum kegembiraan. Kalau bukan kasih dan ampunan Tuhan yang kemudian mengutus rasul-Nya sebagai guru dan penggembala agung, maka manusia akan melihat dunia sebagai titik alpa dan omega.

Titik awal dan akhir yang dihubungkan dengan tali usia sangat pendek untuk ukuran individual. Kita tidak cerita apa sebelum dan sesudah kehidupan ini.

Jarak antara lahir dan mati bagaikan jarak tempuh dalam sebuah rumah singgah, masuk pintu depan, istirahat dan bermain sebentar di ruang tengah, lalu keluar pintu belakang. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika kaum atheis yang berpandangan pesimis mengatakan, hidup itu bermula dari kejatuhan dan berakhir pada kekalahan.

Namun, bersyukurlah bagi orang beriman, Tuhan maha pengasih dan pemaaf. Kehadiran manusia diyakininya bukan sebuah kutukan, melainkan sebuah ziarah untuk memakmurkan bumi dan menikmati indahnya ciptaan Tuhan.

Sebuah ziarah sambung menyambung lintas generasi dengan mandat yang amat mulia. Khalifah Allah di muka bumi. Manusia sebagai mandataris Tuhan mengingat kualitas dan posisinya paling unggul di tengah seluruh makhluk-Nya.

Meski posisinya sangat mulia, manusia tetaplah manusia. Sebagaimana kita sadari dan alami, hidup ini tak pernah terbebas dari dosa dan kesalahan. Bahkan, tak ada hari tanpa berbuat kesalahan.

Hanya saja ada kesalahan dengan akibat yang kecil, ada yang besar, dan fatal. Kesalahan atau kelengahan orang mengendarai sepeda, risiko dan akibat yang ditimbulkan jauh berbeda jika kesalahan serupa dilakukan seorang pilot. Kesalahan membuat keputusan yang dilakukan rakyat biasa, akibat yang muncul sangat jauh berbeda jika tindakan serupa dilakukan seorang presiden.

Masih dari sudut pandang teologis, salah satu asma Allah adalah pemaaf, pengampun, dan penerima taubat. Pasti Allah maha tahu bahwa manusia makhluk yang lemah, mengingat Allah sendiri yang mendesain dan menciptanya. Manusia tak pernah absen dari berbuat salah.

Bahkan, Adam sendiri terusir dari alam surgawi akibat kesalahan yang dilakukan. Karena itu, Allah selalu membuka pintu maaf dan taubat. Bayangkan, andaikan tak ada pintu maaf, maka hidup benar-benar sebuah rangkaian kutukan dan derita. Life is a terrible joke. Hidup itu guyonan yang mengerikan.

Begitu pun dalam kehidupan sehari-hari, andaikan tak ada kata maaf, maka yang terjadi adalah sebuah panggung perseteruan, baik vertikal maupun horizontal. Baik antarpribadi maupun kelompok. Baik antarpejabat dan rakyat. Muncul jarak menganga menimbulkan rasa nyeri di hati setiap tersentuh atau bertemu orang yang pernah menyakiti.

Karena itu, Tuhan selalu memuji pada orang yang suka memaafkan. Memaafkan itu sebuah sumber energi bisa mendekatkan hati yang berjauhan. Menyembuhkan luka yang tergores. Memperindah kehidupan dan membuat ringan beban hidup sehingga kita bukannya makhluk yang terlempar di bumi yang terkutuk, melainkan sebuah ziarah mesti dirayakan. []

KORAN SINDO, 21 Juli 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Manusia Terbebaskan

Oleh: Komaruddin Hidayat

Mengingat dalam kehidupan ini banyak dijumpai jebakan, ranjau, tipuan dan godaan yang tak mudah dielakkan, pertanyaannya adalah: siapa orang yang merdeka dan terbebaskan itu? Who is the liberated man?

Pertanyaan ini penting direnungkan bagi mereka yang ingin membangun kehidupan yang otentik dan bermakna di tengah membeludaknya beraneka ragam informasi yang membuat kita serasa dikurung dan dipaksa membuat keputusan tanpa didasari renungan dalam-dalam. Hidup serasa kehilangan kemerdekaan dan kemandirian.

Saya sendiri pernah secara sadar membuat keputusan untuk tidak membuka Twitter, Facebook, dan mengurangi menonton televisi serta tidak membaca surat kabar sampai waktu tertentu karena ingin merasakan ketenangan dan keheningan, terbebaskan dari luapan informasi tanpa seleksi. Ada kalanya media sosial tampil bagaikan agen terorisme yang merampas ketenangan.

Dengan kata lain, saya ingin terbebaskan dari hegemoni media massa yang tidak mencerahkan. Bagi kalangan remaja, peredaran narkoba sudah kelewat batas. Serangan bandar narkoba sudah sangat akut, membunuh masa depan anak-anak bangsa. Begitu pun fenomena rokok. Akibatnya kualitas angkatan kerja kita tidak kompetitif baik dari skill maupun kesehatan.

Anehnya, mereka yang mengonsumsi merasa bergabung ke dalam komunitas orang bebas, free man, padahal yang terjadi justru sebaliknya. Mereka telah terampas kemerdekaannya, terjerembap ke dalam ranjau dan penjara kehidupan yang menyengsarakan, tak ubahnya melakukan tindakan bunuh diri secara perlahan. Jadi, untuk meraih kemerdekaan dan kebebasan sungguh tidak mudah.

Seseorang justru harus memenangkan perjuangan agar tidak jatuh ke dalam jeratan gaya hidup yang merendahkan dan merusak martabat kemanusiaannya. Cara pandang ini sesungguhnya sejalan dengan ajaran agama yang merupakan kekuatan pembebasan (liberating force), bukannya beban bagi manusia.

Karena agama yang benar datang dari Tuhan yang Mahabenar, maka jika ajaran agama dipahami dan dijalani dengan benar pasti akan mendatangkan kemenangan hidup berupa kebaikan dan kemuliaan. Karena agama antikebodohan, kemalasan dan kemiskinan, sesungguhnya ajaran dasar agama adalah sebagai kekuatan pembebas, kekuatan moral, sosial dan intelektual untuk membangun peradaban luhur yang terbebaskan dari kemiskinan, kebodohan dan peperangan.

Dengan kalimat lain, orang yang terbebaskan adalah mereka yang tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang sehat lahir-batin, pribadi yang produktif dan bermakna. Pribadi yang bisa mengaktualkan potensinya sehingga bisa memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi diri dan orang lain.

Dalam pandangan mazhab naturalis murni, untuk menjadi pribadi yang baik dan prima seseorang cukup mengikuti dan mengembangkan potensinya secara optimal sesuai hukum alam. Alam tak ubahnya ibu kandung yang mengasuh dan membesarkan manusia dengan penuh kasih. Dengarkan pesan alam. Cintai alam, alam akan mencintaimu dan melindungimu.

Bagi orang beriman, apa yang disebut hukum alam itu sesungguhnya juga hukum Tuhan karena Tuhan yang menciptakannya. Tidak cukup hukum alam, di sana juga ada hukum dan ajaran agama yang dibawa oleh para rasul-Nya demi kebaikan dan keselamatan manusia. Ajaran para rasul Tuhan menyatakan sesungguhnya manusia tidak memiliki kebebasan mutlak.

Apa yang manusia miliki hakikatnya anugerah dan pinjaman Tuhan. Oleh karena itu, manusia diminta menggunakan anugerah hidup sesuai petunjuk Tuhan sebagai pemiliknya. Setiap hendak melakukan sesuatu, seorang beriman mesti minta izin dan pertolongan Tuhan mengingat sejatinya manusia tidak memiliki kekuatan dan kontrol kehidupannya secara mutlak.

Dalam Islam, semua tindakan hendaknya dimulai dengan: Bismillahirrahmanirrahim. Ini merupakan kepasrahan bercampur doa, semoga yang dilakukan mendapat izin, berkah dan pertolongan Tuhan sang pemilik hidup. Jadi, dengan selalu berpegang ada tali Allah maka manusia akan terbebaskan atau terselamatkan.

Manusia yang terbebaskan tidak berarti lari menjauhi dunia, lalu bermeditasi menyembah Tuhannya karena konsep pembebasan mengandung pesan dan agenda perjuangan hidup untuk berkarya membangun peradaban. Jadi, mereka yang terbebaskan adalah mereka yang berhasil menghalau berbagai ranjau dan jebakan hidup yang menghalangi dirinya untuk tumbuh menjadi insankamil.

Manusia yang berhasil meraih kesempurnaannya sesuai dengan potensi yang telah dianugerahkan Tuhan padanya. Kita menjadi sedih dan kasihan ketika melihat sekian banyak pejabat tinggi negara yang dianugerahi Tuhan untuk bisa berbuat banyak membantu dan melayani sesama hamba Tuhan yang kurang beruntung, namun malah disia-siakan kesempatan itu.

Jabatan itu malah disalahgunakan hanya untuk mengumpulkan kekayaan haram dan memikirkan diri dan kelompoknya. Mereka ini bukannya masuk kelompok manusia yang terbebaskan, namun terpenjara oleh pikiran dan tindakannya yang picik. []

KORAN SINDO, 09 Oktober 2015
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Fitrah Manusia Ber-Tuhan

Sumber Tulisan : Disini

Dalam sebuah forum dialog lintas umat beragama, sebelum menyampaikan ceramah, saya mengajukan dua pertanyaan untuk dijawab secara tertulis lalu dikumpulkan.

Pertama, perputaran bumi, matahari, dan planet di jagat semesta ini dikendalikan oleh satu Tuhan atau banyak Tuhan? Kedua, Tuhan yang kita sembah itu sama atau beda? Ketika jawaban tertulis dikumpulkan, jawaban pertama seragam. Bahwa semesta ini diciptakan dan dikendalikan oleh satu Tuhan. Argumen paling sederhana, ibarat pesawat terbang, jika banyak yang mengatur, pasti akan bertabrakan. Jadi, peserta meyakini bahwa yang paling logis dan mudah diterima nalar adalah hanya satu Tuhan yang paling berkuasa yang menguasai dan mengatur semesta ini. Yang menarik adalah jawaban nomor dua. Peserta yang jumlahnya sekitar 80 itu terbelah menjadi dua dan skor hampir seimbang. Bahwa mereka menyembah Tuhan yang berbeda.

Dari jawaban di atas, lalu saya majukan pertanyaan baru. Karena di ruang ini terdapat beragam pemeluk agama dan meyakini Tuhan yang berbeda, bumi yang kita huni dan matahari yang setia menyinari kita semua ini, pemeluk agama apa yang paling berhak mengklaim sebagai penghuni paling sah dalam pandangan Tuhan? Andaikan Tuhan menagih rekening matahari, ibarat PLN menagih uang listrik, kelompok agama apa yang paling berhak mengumpulkan sebagai mandataris Tuhan? Saya hanya sekadar melemparkan pertanyaan, tidak untuk dibahas pada forum itu.

Perdebatan abadi

Keyakinan dan pencarian manusia terhadap Tuhan sudah berlangsung berabad-abad. Banyak teori yang menjelaskan mengapa dalam diri manusia terdapat dorongan dan kebutuhan bertuhan. Banyak juga filsuf dan saintis yang membangun teori bahwa keyakinan tentang Tuhan itu palsu dan ilusi akibat dari kelemahan diri manusia menghadapi teka-teki hidup yang tak terjawab. Namun, jika dikumpulkan dan ditimbang, argumen dan keyakinan tentang Tuhan jauh lebih kuat. Dalam hal ini faktor pewahyuan dan kenabian amat sangat berperan.

Jika muncul perdebatan di kalangan saintis, penyelesaiannya lebih mudah mengingat obyek yang diperdebatkan masih dalam wilayah empiris. Pembuktiannya bersifat induktif dan positif. Di sini bukti (proof) empiris yang dijadikan rujukan. Namun, keyakinan terhadap Tuhan yang digunakan adalah argumentasi berdasarkan penalaran dan merujuk pada wibawa kitab suci serta pengalaman beragama, mengingat obyek yang diperselisihkan sifat abstrak, immateri. Yang namanya pengalaman beragama pun sulit dibuktikan jika menggunakan pendekatan sains.

Misalnya pengakuan Muhammad ketika bermeditasi di Gua Hira ditemui Malaikat Jibril. Di situ kekuatan pribadi Muhammad yang dikenal sebagai orang yang tak pernah berbohong dan kandungan berita yang disampaikan menjadi bahan para sahabat untuk membangun argumentasi, apakah mau percaya atau menolak. Namun, jika orang minta bukti empiris, lalu ramai-ramai mengajak Muhammad ke Gua Hira untuk berjumpa Malaikat Jibril, tentu tidak bisa diulangi lagi. Itu pengalaman beragama yang sangat privat. Begitu juga pengalaman isra-mikraj. Namun, akan berbeda dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad dan para sahabat dari Mekkah ke Madinah, pembuktiannya bersifat historis dan disaksikan banyak orang.

Meskipun abstrak, tak terbantahkan bahwa keyakinan pada Tuhan dan ajaran-Nya sangat besar pengaruhnya pada kehidupan seseorang dan komunitasnya. Banyak peradaban agung lahir dari keyakinan dan gerakan keagamaan. Monumen-monumen besar dengan arsitektur yang indah, juga dilahirkan dari keyakinan dan dorongan keagamaan. Seperti Candi Borobudur, gereja-gereja tua di Eropa, dan bangunan masjid di Timur Tengah, semua memiliki nilai arsitektur sangat tinggi sebagai persembahan pada Tuhan atau lebih tepat sarana menyembah Tuhan.

Namun, di sisi lain, tak terbilang lagi jumlahnya, peperangan dan tindak kekerasan meletus juga karena motivasi keagamaan. Ini bermula dari adanya keyakinan setiap agama memiliki jalan keselamatan (salvation) yang dijanjikan Tuhan, terutama keselamatan di akhirat. Keyakinan dan konsep keselamatan ini lalu berkembang pada penilaian bahwa di luar agamanya tidak ada jalan keselamatan. Artinya, orang yang berbeda agama berarti kafir, semuanya calon penghuni neraka. Sikap terhadap orang kafir ini ada tiga pilihan. Satu, mereka diajak dengan baik-baik agar ikut menjadi umat seiman dan seagama. Kedua, dibiarkan dan dihargai pilihan keyakinan agamanya dengan tetap menjaga persahabatan sesama manusia. Ketiga, diperangi karena orang kafir berarti melawan Tuhan yang mereka sembah yang berarti juga posisinya sebagai lawan mereka.

Konflik dan perang dengan motif keagamaan selalu mengandung logika paradoksal. Menawarkan kedamaian dan keselamatan dengan cara ancaman dan kekerasan. Meneriakkan misi Tuhan yang Maha Pengasih sambil mengintimidasi dan membunuh. Melakukan kekejaman dan pembunuhan, tetapi dianggap tindakan suci (holy war). Jika tidak ada cara pandang dan pendekatan baru, maka perbedaan pemahaman dan keyakinan agama akan selalu memicu konflik dan kekerasan. Tidak mengagetkan jika muncul sekelompok masyarakat ingin menemukan Tuhan di luar doktrin dan komunitas agama. God and spirituality without religion. Untuk apa beragama kalau agama bukannya menjadi kekuatan perdamaian dan peradaban.

Produk kultural dan ideologi

Meyakini dan mengikatkan diri sebagai komunitas umat beriman (the community of believers) sangat berbeda sifat dan implikasinya dari ikatan seseorang sebagai warga negara (citizen). Kewarganegaraan (citizenship) ditandai dengan kartu tanda penduduk dan paspor sehingga seseorang terikat wilayah dan hukum positif di mana dia tinggal. Adapun komunitas umat beragama menganggap hukum Tuhan di atas hukum positif dan tidak mengenal batas wilayah. Mereka merasa sebagai anggota Kerajaan Langit meskipun realitasnya lahir, tumbuh, dan tinggal di bumi. Mereka ada yang terobsesi membangun kejayaan langit, tetapi kadang dengan membuat kerusakan di muka bumi.

Namun, ada juga yang berpandangan bahwa misi agama itu untuk membangun kemakmuran dan kedamaian di muka bumi. Keselamatan akhirat itu reproduksi dan akibat dari prestasi membangun proyek kemanusiaan selama hidupnya. Oleh karena itu, pilihan dan praktik keberagamaan seseorang merupakan pilihan dan perjuangan moral. Sebuah tindakan moral meniscayakan dua syarat. Pertama, seseorang beragama berdasarkan pilihan bebas, bukan produk ancaman dan intimidasi. Kedua, moral itu muncul dalam konteks hubungan sesama manusia. Seseorang dikatakan bermoral baik jika berhasil membangun hubungan yang baik sesama manusia. Dalam konteks ini, ajaran Islam sangat jelas dan tegas bahwa ukuran dan ujian keimanan itu selalu dikaitkan dengan perbuatan baik terhadap sesamanya. Oleh karena itu, menyebarkan agama dengan ancaman justru merusak prinsip ajaran Islam. Kesalehan dan ketulusan tak akan muncul dari situasi terpaksa.

Jika nalar sepakat hanya ada satu Tuhan, tetapi mengapa terdapat ragam agama? Terdapat pandangan, naluri, dan kebutuhan beragama itu mirip naluri dan dorongan manusia untuk berbicara guna mengekspresikan perasaan dan pikirannya. Maka, bahasa yang akan digunakan adalah bahasa yang dia kenal dan familiar sejak kecil. Berbahasa tidak hanya mengucapkan kata-kata, sesungguhnya bahasa juga berfungsi dalam ranah pemikiran dan tindakan. Meminjam frasa Heidegger, language is the house of being. Sementara itu, setiap orang adalah anak kandung bahasa dan budaya yang membesarkannya yang pada urutannya keterikatan pada identitas budayanya berkembang menjadi sikap ideologis.

Oleh karena itu, pluralitas bahasa, sebagaimana agama, tak terelakkan. Pada tataran metabahasa dikatakan, There is only One Language, but everyone speaks with a language. Ungkapan serupa juga bisa diberlakukan pada ranah agama: There is only One True Religion but every believer tends to only embrace a religion.

Saya sangat sadar, menyikapi perbedaan bahasa dan agama tentu berbeda. Di sini saya hanya menganalogikan keragaman keduanya karena dorongan intrinsik yang muncul dari dalam, lalu seseorang terlahir disambut oleh budaya yang berbeda. Dalam bahasa tak ada janji-janji keselamatan hidup sebagaimana agama.

Peran institusi negara

Mengingat subyek yang bertuhan dan beragama itu manusia yang sama-sama tinggal di bumi yang sama dengan matahari yang juga sama, pilihan keyakinan dan tawaran keselamatan hidup yang melampaui batas dunia hendaknya jangan menghancurkan tata kehidupan di bumi. Yang mesti diusahakan adalah terjadinya kesesuaian (taufik) antara kehendak Langit dan kreasi manusia di bumi. Tuhan yang diyakini sebagai sumber kasih mesti diwujudkan dalam kehidupan sosial yang diikat dengan tali kasih (silaturahim). Sikap keberagamaan hendaknya mendatangkan rahmat bagi semesta.

Sesungguhnya fitrah manusia untuk bertuhan seiring dengan fitrah manusia untuk hidup merdeka, damai, dan teratur. Oleh karena itu, sejarah mencatat, proses panjang bagaimana manusia membangun perserikatan dan lembaga sosial sejak yang primitif sampai modern bernama negara untuk menjaga kedamaian dan kemerdekaan. Zaman dahulu ikatan suku dan agama sangat kuat, terlebih lagi ketika bergabung sentimen suku dan agama, maka kekuatannya kian solid sehingga mendorong jadi kekuatan misionaris-ekspansionis untuk memperluas pengaruh agama, militer, dan ekonomi.

Gejolak politik dan kekerasan yang terjadi di Timur Tengah akhir-akhir ini sulit dipisahkan antara sentimen keagamaan, perebutan sumber ekonomi, dan ekspansi militer. Ketiganya berjalin berkelindan dengan implikasi wajah agama jadi muram dan seram.

Di zaman modern, konstruksi negara cenderung lebih rasional dan warganya semakin plural. Kehadiran negara diperlukan untuk melindungi warganya, apa pun asal-usul etnis dan agamanya. Jadi, jika agama menjanjikan pada pemeluknya keselamatan di akhirat, negara memiliki tugas menjanjikan keselamatan warganya di dunia. Cukup menarik direnungkan, hubungan agama dan negara di Indonesia memiliki cita-cita sangat ideal, yaitu mempertemukan agenda agama dan negara sebagaimana tertera dalam Pancasila. Negara memberi wadah dan fasilitas bagi penyebaran agama, agama menjadi sumber kekuatan moral dalam kehidupan bernegara.

Sejak dulu di bumi Indonesia yang satu tumbuh beragam agama. Mereka mungkin sekali meyakini Tuhan Yang Esa, sebagai pencipta dan pengatur semesta, tetapi mengambil jalan yang berbeda-beda sehingga muncul pluralitas agama dan aliran kepercayaan. Adalah tugas negara untuk melindungi keselamatan warganya tanpa membedakan keyakinan agamanya.

KOMARUDDIN HIDAYAT

Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 27 Juli 2015, di halaman 6 dengan judul “Fitrah Manusia Ber-Tuhan”.

The Tyranny of Habit

Sumber Tulisan: Disini

Disadari atau tidak, dalam kehidupan ini banyak sekali ungkapan dan perilaku yang selalu diulang-ulang yang pada urutannya menimbulkan pola permanen berupa kebiasaan dan selanjutnya kebiasaan akan membentuk karakter seseorang.

Contoh yang paling mudah diamati tentu saja dalam hal berbahasa. Tindakan yang berakar pada kebiasaan tak perlu lagi dipikirkan dan dipersiapkan matang- matang karena akan berlangsung hampir secara otomatis layaknya sebuah mesin. Kita semua pasti punya pengalaman bagaimana sebuah proses kebiasaan terbentuk sekalipun dijalani tanpa disadari atau dipersiapkan.

Misalnya saja pengalaman mengendarai mobil. Pada awalnya terasa begitu sulit, tegang, dan takut menabrak atau ditabrak. Tapi lama-lama setelah dicoba dan dijalani berulang kali akan terbiasa dan kita bisa mengendarai mobil dengan rileks bahkan menyenangkan. Tangan, kaki, dan perasaan seakan bekerja secara otomatis.

Salah satu aspek dalam pendidikan sesungguhnya adalah bagaimana membantu anak didik agar membangun kebiasaan yang benar dan baik agar pada urutannya terbentuk karakter dan pribadi yang baik serta terbiasa berpikir benar dan logis. Dalam pendidikan olahraga apa yang disebut training dan coaching, intinya adalah menggali bakat dan membentuk kebiasaan yang benar.

Misalnya seni dan cara menggiring bola agar cepat dan sulit direbut lawan. Dalam olahraga golf, sekalipun sudah menjadi pemain kelas dunia tetap diharuskan driving, yaitu latihan memukul bola hampir setiap hari berkisar seribu bola. Gunanya untuk menjaga ritme, gaya dan feeling agar kebiasaan yang sudah terbentuk tidak berubah atau rusak ketika bermain sungguhan.

Lalu apa hubungannya dengan tirani kebiasaan sebagaimana tertulis dalam judul di atas? Masalah serius akan muncul ketika seseorang telah terbelenggu dengan kebiasaan buruk, baik cara berpikir, bertutur kata, berperilaku, termasuk dalam hal kebiasaan makan dan minum. Kebiasaan yang telah terbentuk lama dan kokoh satu sisi membuat seseorang nyaman dan mudah menjalani hidup, tetapi sisi yang lain kebiasaan bisa menjelma menjadi penjara dan pembunuh.

Contoh paling mudah adalah kebiasaan makan dan minum yang tidak sehat, terlebih lagi yang mengandung alkohol tinggi dan zat adiktif, maka penggunanya tak ubahnya memelihara dan membesarkan musuh yang satu saat akan menyiksa dan membunuh dirinya. Kita dengan mudah melihat contoh tirani kebiasaan yang ujungnya telah menghancurkan karier hidup seseorang.

Mereka yang biasa mengambil hak orang lain meskipun kelihatannya sepele dan kecil, suatu saat jika kesempatan muncul akan berani melakukan korupsi dalam jumlah yang besar. Mereka yang terbiasa berbicara kotor dan merendahkan orang lain, jangan kaget ketika menjadi pejabat publik bicaranya sering kali tidak sopan dan menyakiti hati anak buah.

Kebiasaan bisa bermetamorfosis menjadi ideologi ketika berbaur dengan tradisi dan paham keagamaan serta bertemu dengan kalkulasi politik dan ekonomi. Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk ini terdapat puluhan, bahkan ratusan, kebiasaan berupa ritual-ritual adat dan keagamaan yang menurut pandangan orang modern tak lagi cocok.

Misalnya, selama bulan Ramadan di kampung saya dulu setelah jam satu malam terdengar beduk masjid ditabuh keras-keras sampai jam tiga pagi. Maksudnya untuk membangunkan ibu-ibu agar bangun untuk mempersiapkan makan sahur untuk keluarga. Kebiasaan ini rasanya tak lagi cocok dipertahankan. Biarlah mereka istirahat tidur. Bagi keluarga yang memiliki jam bisa disetel weakernya untuk membangunkan kapan mereka mau.

Soal makan sahur, dengan adanya teknologi kulkas dan microwave , hanya dalam waktu setengah jam semuanya bisa terhidang dalam kondisi segar dan panas. Jadi, teknologi bisa mengganti kebiasaan memukul beduk di tengah malam untuk membangunkan orang serta menjaga kondisi makanan tetap segar. Masih berkaitan dengan kebiasaan yang perlu ditinjau ulang adalah kebiasaan membaca Alquran dengan menggunakan pengeras suara di masjid di saat orang istirahat tidur.

Ada seorang teman yang sudah bertahun-tahun menulis naskah dengan mesin ketik. Ketika ditawari dengan komputer, dia merasa tidak familier karena ketika dicoba malah mengganggu kelancaran dan produktivitasnya dalam berpikir. Lalu kembali lagi menulis dengan mesin ketik kuno. Ada lagi yang lebih antik, ada seorang penulis sangat produktif yang semua naskahnya dia tulis dengan pulpen, tulisan tangan.

Setelah jadi baru minta bantuan orang untuk menyalin ke dalam komputer. Baginya jari-jari tangan bergerak seiring dengan berpikir. Jika pakai komputer, kreativitasnya terganggu. Demikianlah, kebiasaan itu bisa membuat pekerjaan efisien, cepat dan tidak perlu membuat persiapan lama karena syaraf-syaraf tubuh sudah familier untuk melakukannya.

Namun mesti diingat kebiasaan juga bisa berkembang menjadi tiran yang membelenggu sehingga seseorang sulit berubah dan berkembang. Orang yang sudah berusia lanjut, pindah rumah atau kamar saja sulit tidur. Terlebih lagi diminta menggunakan telepon genggam, malah bingung karena sudah terbiasa menggunakan telepon kuno dengan pegangan yang besar.

Demikian juga menyangkut selera makan, banyak orang yang sudah mapan dan terpenjara dengan selera makanan daerahnya sehingga tidak bisa menikmati menu lain sekalipun kandungan gizinya lebih bagus, harga lebih mahal. Makanya banyak orang yang tersiksa tinggal di luar negeri karena sulit beradaptasi dengan makanan, cuaca, lingkungan sosial dan hal-hal lain yang serbabaru.

Dalam era yang serbaberubah ini, antara lain berkat kemajuan teknologi, seseorang dituntut untuk memiliki kesediaan dan keterampilan untuk beradaptasi. Seorang sarjana yang baru saja diwisuda hendaknya memiliki kapasitas intellectual adaptability karena akan menghadapi tantangan dan peluang baru yang belum pernah dipelajari sewaktu duduk di kampus.

Adaptasi intelektual tidak berarti mudah kompromi secara moral. Sedemikian pentingnya peranan habit atau kebiasaan sehingga banyak pakar psikologi yang melakukan studi dalam bidang ini. Seperti Charles Duhigg dalam karyanya The Power of Habit, Why we do what we do and how to change (2012). Habit memiliki kekuatan untuk menjalani dan meraih sukses hidup, namun habit bisa jadi penjara yang membuat seseorang sulit berubah dan berkembang.

Terlebih habit yang sudah dibalut dan dicampur dengan sentimen kesukuan dan keagamaan, akan sangat sulit untuk berubah atau diubah. Kita pun merasa nyaman tinggal dalam rumah habit, meskipun tahu-tahu dikejutkan oleh tsunami perubahan sosial yang membuat kita bingung tidak tahu harus berbuat apa. Ibarat kambing yang tertindih kandang yang roboh akibat angin kencang.

Mother Earth

Sumber Tulisan: Disini

Dalam bahasa Arab dan Inggris, bumi diposisikan dalam kategori perempuan. Begitupun dalam bahasa Indonesia sehingga dikenal istilah “ibu pertiwi”. Ini menunjukkan sikap sangat bijak, santun, serta dalam bahwa manusia memang sewajarnya dan seharusnya menghormati sosok ibu yang memiliki karakter mencintai, memberi, dan melayani (loving, giving, and caring). Ada sabda Rasulullah yang terkenal:

Surga itu berada di bawah telapak kaki ibu. Ada lagi sabdanya yang lain bahwa keridaan Allah itu bergantung pada keridaan orang tua, terutama sang ibu. Kebenaran sabda Rasulullah itu banyak diyakini dan dibuktikan oleh masyarakat, bahkan juga tidak terbatas pada umat Islam. Bangsa dan masyarakat mana pun, apa pun agamanya, memiliki keyakinan dan tradisi menghormati ibu. Siapa yang mendapatkan kutukan dari ibu, hilanglah kehidupan surgawinya, baik di dunia maupun di akhirat.

Sekarang ini kita melihat dan merasakan sendiri, bagaimana sengsaranya kehidupan masyarakat ketika tidak pandai-pandai menghargai mother earth. Mereka yang menyatakan diri sebagai masyarakat modern, berpendidikan tinggi, menguasai iptek, namun tidak jaminan memperoleh kehidupan surgawi, kehidupan yang aman sejahtera, ketika mendapatkan kemarahan dari bumi. Banjir di mana-mana. Hutan rusak. Pendeknya, ekologi alam telah dirusak oleh anak-anaknya sendiri.

Yang mengherankan, mereka yang paling merusak dan durhaka pada ibu pertiwi adalah mereka yang telah mendapatkan pendidikan tinggi dan secara ekonomi kaya-raya. Jangan sampai dilupakan, kekayaan apa pun yang dibanggakan oleh manusia semua diambil dari bumi. Semaju dan secanggih teknologi yang dikembangkan dan dibanggakan manusia, semua berasal dari bumi. Ketika orang berbangga dengan produk teknologi automotif, semua bahan bodi dan bahan bakarnya disediakan dan diambil dari kandungan bumi.

Begitupun rumah megah, makanan, dan pakaian mewah, semua dilayani oleh mother earth. Perhiasan emas sampai berlian itu bahkan semua karena kasih sayang bumi pada manusia. Karena itu, sangat tepat bumi lalu diberi predikat sebagai ibu pertiwi. Surga berada di bawah telapak kakinya. Siapa yang durhaka, tidak mau merawat dengan baik-baik akan dicap sebagai malin kundang, yang berubah jadi batu.

Yang jadi batu dan membatu adalah hati dan pikirannya, tak lagi memiliki hati nurani, akal sehatnya tak lagi berfungsi. Kekayaan dan fasilitas yang disediakan mother earth berubah jadi malapetaka. Jadi sumber rebutan, pertikaian, dan peperangan. Kehidupan surgawi lenyap, berubah jadi neraka. Perilaku alam itu selalu taat berislam pada Tuhannya. Begitu kata Alquran. Dia berserah diri mengikuti hukum-hukumnya yang telah diciptakan Tuhan.

Walahu aslama man fissamawati wal ardhi. Air selalu mengalir ke tempat yang rendah, begitulah perilaku air mengikuti hukum Tuhan. Air hujan diturunkan untuk menyuburkan tanah. Begitulah hukum Tuhan. Matahari berputar pada porosnya. Itulah takdir Tuhan yang telah didekritkan. Jadi, semesta ini, menurut Alquran, berislam sesuai fitrahnya tanpa pernah membangkang.

Yang memiliki potensi dan sering membangkang terhadap hukum Tuhan adalah manusia karena manusia diberi akal pikiran dan kebebasan berkehendak. Manusia memiliki anugerah dan sekaligus ujian paling mahal yang tidak dimiliki makhluk lain yaitu kemerdekaan. Kemerdekaan inilah yang mestinya menjadi modal untuk meningkatkan darma bakti pada mother earth sebagai rasa syukur pada Tuhan. Namun, kemerdekaan dan kecerdasan inilah yang seringkali menjerumuskan manusia karena kerakusan dan kesombongannya.

Mereka lupa diri bahwa melawan mother earth tak mungkin menang. Manusia tak mungkin memenangkan dan mengubah hukum Tuhan yang telah menjelma menjadi hukum alam. Yang mestinya dilakukan adalah memahami hukum alam, lalu bersahabat dengan alam, dan lebih tinggi lagi adalah merawat dan mencintai alam, rumah kita. Ibu kita semua.

Hujan itu pada dasarnya anugerah alam agar tanah subur yaitu kualitas air yang telah dipisahkan dari zat garamnya lewat tangan matahari agar terjadi penguapan, lalu dibawa oleh angin ke daratan, lalu disimpan oleh hutan demi untuk melayani kebutuhan manusia. Jadi, betapa sombong, bodoh, dan rakusnya ketika masyarakat semakin merasa modern, merasa semakin maju pendidikannya, namun semakin tidak mau dan tidak mampu memahami dan bersahabat dengan alam yang amat sangat baik.

Yang selalu giving, loving, and caring. Memberi, mencintai, dan melayani manusia. Hutan kita rusak. Danau-danau sebagai waduk air kian menyempit untuk membangun rumah megah yang hanya menimbulkan kecemburuan sosial dan penyebab banjir. Sungai- sungai ibarat saluran pembuluh darah kita tutup dengan sampah-sampah sehingga terjadi kolesterol yang ujungnya stroke. Tubuh negara dan masyarakat jadi lumpuh. Banyak organ-organnya yang tidak berfungsi.

Hidup menjadi tidak produktif, bahkan menelan biaya mahal. Siapa lagi kalau bukan mother earth yang menyediakan sumber anggaran. Ironis. Setiap tahun kita semua berkeluh kesah, bertengkar, dan menderita akibat banjir, lalu lintas macet, perekonomian lumpuh, politisi sibuk bertengkar. Semua itu tak lebih sebagai tontonan akibat kebodohan, kesombongan, dan kerakusan kita. Sampai kapan drama memperolok-olok diri sendiri ini akan berakhir? []

KORAN SINDO, 31 Januari 2014
Komaruddin Hidayat ; Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Komunitas Batu Akik

Sumber Tulisan : Disini

Saya tidak ahli dan tidak pula hobi mengumpulkan batu akik, tetapi senang mendengar cerita dan obrolan seputar batu akik mulai dari kalangan sopir-sopir sampai artis dan politisi. Bahkan juga teman dosen.

Faktor pertama yang saya nilai positif adalah menciptakan lapangan kerja, melahirkan pusaran ekonomi baru, serta menambah pengetahuan betapa kayanya ragam bebatuan di bumi Nusantara ini. Tampaknya terjadi pergeseran sikap masyarakat terhadap batu akik. Dulu batu akik sering diasosiasikan dengan pandangan mistis. Batu akik mengandung kekuatan gaib, misalnya saja kesaktian atau pengasihan.

Orang berburu batu akik yang bisa mendatangkan aura agar orang lain terpikat atau takluk pada pemakainya. Makanya batu akik dikategorikan sebagai jimat. Sampai sekarang pun masih banyak orang memitoskan batu akik khususnya jenis batu yang dianggap memiliki khasiat mendatangkan keberuntungan. Meski begitu yang saat ini mengemuka dan heboh di masyarakat cenderung sekadar mode.

Artinya batu akik sebagai perhiasan dan koleksi. Harganya pun berkisar mulai puluhan ribu, ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Beberapa daerah asal yang diperebutkan misalnya saja dari Ambon, Garut, Aceh, Bengkulu, Kalimantan. Pusat-pusat perajin batu akik bermunculan. Bahkan dijual juga gerinda alat pemotongan dan penghalusan batu untuk dijadikan mata cincin dengan ukuran yang dikehendaki. Tak pelak lagi maraknya jual beli batu akik ini telah menciptakan karya seni dan ekonomi kreatif bagi rakyat.

Saya sendiri sering mendengar cerita jual beli akik yang dilakukan sopir saya, Toni. Keuntungan tidak seberapa, tetapi lumayan untuk menambah penghasilan dan punya topik obrolan baru, katanya. Daripada ngegosip . Kita tidak tahu sampai kapan batu akik naik daun dan meramaikan pasar. Semoga saja berlangsung terus. Kalau saja kalangan selebritas ikut mempromosikan dengan mengenakan cincin berbatu akik secara berganti-ganti, pasti rakyat akan ikut-ikutan.

Adanya batu akik yang bisa menyembuhkan penyakit, secara rasional, mudah dijelaskan. Mungkin sekali ada bebatuan yang mengandung zat kimia tertentu dan punya daya medis yang menyembuhkan bagi pemakainya. Kebetulan saja cocok dengan penyakit yang diderita. Jadi itu semata interaksi alami, tak ada faktor magisnya. Berbagai obat itu pun asalnya dari bumi. Bebatuan itu juga dari bumi.

Sangat mungkin terdapat jenis bebatuan yang mengandung obat melalui sentuhan kulit manusia. Atau mengeluarkan energi penyembuh ketika memperoleh cahaya matahari. Naiknya posisi batu akik ini konon ceritanya bermula dari hadiah Pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kepada Presiden Amerika Serikat Barack Obama berupa batu akik jenis bacan berwarna hijau berasal dari Maluku dan ketika dipakai telah mengundang perhatian para wartawan foto.

Sejak itu batu akik menjadi booming. Bahkan ketika diselenggarakan Konferensi Asia Afrika (KAA) belum lama ini, para delegasi KKA masing-masing diberi cendera mata berupa batu akik Indonesia. Yang pasti sekarang bermunculan perajin dan pedagang batu akik karbitan sekalipun dalam batas skala ekonomi kecil. Meski begitu denyutnya telah meramaikan wacana dalam komunitas pencinta batu akik berkat dukungan media massa.

Orang bilang, kita kembali ke zaman batu, tapi tidak sembarang batu karena batu akik yang heboh sekarang ini telah mendapat sentuhan seni dan teknologi modern. Namun ada juga suara lain, mencuatnya batu akik ini merupakan sindiran alam bahwa hati kita telah membatu. Tak lagi memiliki getaran kepekaan terhadap berbagai penyimpangan dan kerusakan moral yang terjadi di sekeliling kita.

Belajar Mendengar

Sumber Tulisan : Disini

Dalam hadis riwayat Abu Hurairah yang dikutip dari Kitab Sahih Bukhari, tentang keutamaan puasa disebutkan bahwa  puasa itu “junnah” atau perisai. Maka, janganlah berkata kotor dan berbuat bodoh. Apabila ada orang yang memeranginya atau mencaci makinya, hendaklah ia berkata “sesungguhnya aku sedang berpuasa”.

Hadis ini hanyalah secuil dari sekian banyak dalil yang berbicara tentang hikmah puasa sebagai perisai agar kita menjaga lisan. Lisan atau lidah kita memang salah satu anggota tubuh yang dianggap tidak mudah dikendalikan.

Ada pepatah “lidah tidak bertulang” untuk menunjukkan  betapa lentur dan tidak ada tertrukturnya dia, sehingga mengatur dan mengendalikannya bukanlah perkara mudah. Ada kecenderungan bahwa anggota tubuh kita yang satu ini lebih dominan dan aktif dibandingkan yang lain: tangan, kaki, kepala atau telinga.

Ketika tangan memberi satu kali, maka lisan terkadang sudah mengeluarkan woro-woro tentang pemberian itu 10 kali lipat banyaknya; ketika kaki baru lima langkah menuju mesjid, bisa jadi lisan kita sudah berbicara 50 kata dengan kawan kita yang bertemu di jalan, yang kadang kadang isinya berbau riya, ghibah dll;

Juga, ketika ngobrol pun, saat telinga kita baru menangkap lima kalimat dari lawan bicara, kadang lisan kita dengan tak sabar langsung menyambar berbicara dan lupa untuk  mendengarkan isi pembicaraan lawan bicara.

Hal itu bisa terjadi, karena ketika orang lain berbicara, telinga kita  bukannya mendengarkan dan mencoba memahami apa yang didengarnya, tapi justru kepala kita sibuk memikirkan apa yang akan diucapkan. Sehingga yang terjadi adalah bukan sebuah komunikasi yang fair, dua arah, tetapi yang satu mendominasi yang lain. Ibarat main pingpong, yang satu hanya peduli bagaimana memasukkan bolanya ke meja lawan tanpa mau serius menerima dan menangkis bola yang diterimanya.

Kalau sudah begitu, maka yang terjadi adalah bukan lagi sebuah ôgameö yang menyenangkan karena tidak ada lagi aspek ôplayfulö dan ôfun.ö Dan, bahkan dengan permainan seperti itu, bukan saja tidak menyenangkan dan membosankan tapi juga sesungguhnya kemungkinan besar dia pun akan kalah.

Berbicara memang lebih mudah daripada mendengarkan. Karena ketika berbicara kita cenderung untuk melepaskan ego, sedangkan ketika mendengarkan, kita harus menahan dan mengendalikan ego.  Sehingga ada pepatah mengatakan ôBig egos have little ears,” orang yang egonya besar, memiliki telinga kecil.

Tentu saja telinga kecil disini tidak untuk dimaknai literal, namun untuk menunjukkan kekikiran atau keengganan orang yang berego besar untuk membuka telinganya untuk mendengar orang lain. Saking lebih bernilainya mendengar daripada berbicara, dikatakan bahwa kalau  berbicara itu perak, maka  mendengarkan itu adalah emas.

Namun, ada juga mendengar tapi sesungguhnya tidak mendengar, dalam bahasa Inggris dibedakan antara ôhearing dan listeningö. Hearing  adalah mendengar tanpa ada kesungguhan untuk memahami apa yang didengarnya, sedangkan listening  adalah mendengar dengan kesungguhan dan bukan basa basi.

Tentu saja tidak mudah untuk menjadi pendengar yang baik dan sungguh-sungguh karena  untuk itu dibutuhkan kerendahan hati, kesabaran dan sikap empati yang tinggi. Selain itu, bukan perkara mudah memahami apa yang didengar karena sesungguhnya setiap kepala itu memiliki ôduniaö sendiri yang juga kompleks.

Karena kompleksitas urusan ômendengarö ini, pantaslah kalau seorang filosof Jerman, Erich Fromm, pada  tahun 1994 menulis buku ôthe Art of Listeningö  atau seni mendengarkan.

Tulisan ini tidak untuk menganjurkan kita puasa berbicara. Namun ini hanya sekedar tadzkirah  atau upaya mengingatkan betapa cenderung mudahnya kita untuk berkata tapi sulit untuk mendengar; betapa mudahnya  kita mengomentari tapi merasa tidak nyaman untuk dikomentari apalagi isinya kritik atau saran.

Berbicara memang merupakan bagian dari aktivitas keseharian kita yang sulit dihindari. Namun, yang bisa dihindari adalah berbicara yang menyakiti atau membawa kemadharatan atau berbicara sesuatu yang tak perlu atau idle talk .

Pepatah Arab mengatakan “khairul kalam maa qalla wa dalla” (sebaik baik perkataan adalah yang sedikit tapi jelas dan bermanfaat). Semoga puasa kita bisa menjadi perisai bagi lisan, telinga dan hati kita.

Perbedaan Pendapat

Sumber Tulisan: Disini

TERDAPAT ungkapan klasik, rambut sama hitam, tapi isi kepala berbeda-beda.
Sungguh benar, ilmu pengetahuan berkembang dinamis dan pesat justru karena terdapat perbedaan pendapat dan perbedaan teori dalam masyarakat ilmuwan.
Sifat ilmu selalu open ended. Selalu terdapat celah untuk dikritik. Dengan kritik, ilmu pengetahuan berkembang menyempurnakan dirinya. Pohon ilmu kemudian berkembang melahirkan cabang dan ranting sehingga komunitas ilmuwan juga berkembang seiring perkembangan ilmu pengetahuan.
Dalam bidang ilmu keagamaan pun berlaku fenomena bahkan dalil tersebut. Agama Islam, misalnya, semasa hidup Rasulullah Muhammad SAW, umat Islam dengan mudah datang menghadap Rasulullah guna menyampaikan berbagai masalah, dan semua persoalan pun selesai. Waktu itu Rasulullah memiliki otoritas tunggal yang tak tertandingi.
Namun situasi berubah ketika Rasulullah wafat. Umat Islam makin berkembang serta memasuki wilayah baru di luar Makkah dan Madinah yang tidak memiliki tradisi Islam kuat serta sedikitnya ulama yang paham betul terhadap Islam.
Perjumpaan umat Islam di abad tengah dengan tradisi yang berkembang di Irak, Mesir, Iran, dan India, dihadapkan pada persoalan umat yang kian kompleks, yang tidak dijumpai umat Islam di masa Rasulullah. Terlebih sekarang di mana umat Islam masuk ke Amerika dan Eropa.
Ulama klasik yang tumbuh di Makkah dan Madinah lebih mudah menjumpai warisan tradisi Rasulullah yang terjaga secara turun temurun, di samping problem sosialnya tidak mengalami perkembangan dan perubahan secara drastis.
Tetapi sangat berbeda ketika umat Islam berjumpa dengan sebuah masyarakat yang telah mengenal dan kental tradisi Yahudi, Kristen, Yunani, Romawi dan Hindu-Budha. Di situ muncul dialog dan perdebatan intelektual-filosofis yang tidak terjadi pada masa sahabat.
Situasi baru memaksa ulama Islam melakukan ijtihad untuk menghadapi tantangan baru. Ijtihad ini terjadi dalam berbagai cabang ilmu keislaman, dalam bidang fikih, teologi, filsafat, tata negara, ekonomi, ilmu kedokteran dan lain sebagainya.
Saat melakukan ijtihad, yang menjadi dasar utama adalah Alquran, hadis, tradisi para sahabat Rasul, pendapat ulama, dan konteks sosial yang dihadapi. Karena ulama itu lahir dan tumbuh dalam konteks sosial yang berbeda, serta mendalami cabang ilmu yang berbeda, maka sangat logis kalau kemudian muncul perbedaan pendapat terhadap suatu masalah keagamaan.
Contoh perbedaan yang selalu muncul antara lain menyangkut penentuan awal Ramadan. Ini sangat dimungkinkan, dan pasti akan selalu muncul, mengingat kitab yang dibaca juga berbeda, dan nash Alquran sertahadis yang dijadikan rujukan juga memungkinkan terjadinya kesimpulan lebih dari satu.
Bagi umat Islam yang tinggal di dekat kutub, pasti menghadapi problem tersendiri ketika menafsirkan hilal dan waktu salat serta iftar (berbuka puasa) karena adakalanya matahari tidak kelihatan selama berbulan-bulan.
Bahkan saya sendiri pernah berkunjung ke Kota Saint Petersberg, Rusia, di mana jam 12 malam masih bisa melihat jarum jam tangan mata telanjang.
Posisi geografis Indonesia yang sangat berbeda dari wilayah Saudi Arabia tempat kelahiran Rasulullah tentu menuntut fikih yang cocok dengan Indonesia.
Mereka yang hidupnya banyak beraktivitas di laut, atau yang berprofesi terbang di udara, tentu merasa kurang pas dengan rujukan fikih klasik yang ditulis untuk menjawab problem daratan.
Jadi, Islam memang agama yang dinamis, yang selalu menuntut ijtihad, dengan tetap berpegang pada tauhid dan berdasarkan Alquran dan Sunah Rasulullah.
Ketika ada pendapat yang berbeda, pilih saja yang paling dirasa sreg dan mendatangkan ketenangan di hati.

Terus Belajar

Sumber Tulisan : Disini

JADILAH pembelajar sepanjang hayat! Menuntut ilmu itu kewajiban bagi setiap muslim sejak kecil sampai datangnya ajal. Begitulah sabda dan perintah Rasulullah Muhammad yang sudah saya dengar dan bahkan hafal sejak kecil dari guru mengaji saya di masjid.

Nabi Muhammad mewajibkan umatnya tidak pernah berhenti belajar untuk kebaikan hidupnya. Setelah sarjana dan berkecimpung dalam dunia pendidikan saya bertemu dengan pesan serupa dalam Bahasa Inggris, “Be a life-long learner!”.

Dalam Bahasa Arab, kata alam, ilmu dan amal, terdiri atas tiga huruf yang sama, hanya susunan letaknya berbeda. Namun sesungguhnya ketiganya memiliki korelasi fungsional yang saling berkaitan.

Pertama, alam, adalah sumber dan obyek kajian untuk digali informasinya karena alam bekerja berlandaskan hukum-hukumnya yang pasti. Alam seisinya juga mengandung berbagai rahasia yang masih terpendam untuk dimanfaatkan oleh manusia. Mereka yang berhasil menggali dan menginterogasi rahasia alam maka akan memperoleh ilmu, dan orang yang berilmu disebut alim.

Kedua, tentang ilmu. Mereka  yang pantas disebut sebagai orang alim  adalah yang menguasai ilmu tentang alam  yang dalam istilah Inggris disebut scientist. Dalam masyarakat kita orang alim biasanya ditujukan pada mereka yang ahli dalam bidang keagamaan. Itu tidak sepenuhnya salah, namun kurang tepat mengingat sumber utama agama mereka pelajari lebih banyak merujuk pada kitab suci, bukan kitab semesta.

Kata kunci ketiga adalah amal. Bahwa hasil pengembaraan seorang ilmuwan setelah meneliti fenomena alam, hendaknya dilanjutkan dengan karya nyata berupa amal.

Jadi, alam, ilmu, dan amal di dalam ajaran Islam merupakan tiga pilar dan tiga serangkai untuk membangun peradaban. Dengan merenungkan keagungan alam, maka seorang ilmuwan akan sampai pada pertanyaan, siapa disainer dan pencipta semua ini?

Maka disinilah muncul peristiwa syahadat atau kesaksian. Kesaksian atau syahadat yang benar terhadap Tuhan sebagai Sang Pencipta yang pantas dikagumi dan disembah adalah kesaksian yang didasari ilmu pengetahuan, bukan sekadar ucapan formal.

Dengan demikian kalau saya sendiri ditanya, syahadat yang manakah yang menandai iman saya dan yang diakui oleh Tuhan, saya tidak bisa menjawabnya. Tentu saja sejak kecil saya dan kita telah diajarkan untuk mengucapkan kalimat kesaksian. Namun tak ubahnya anak kecil menyanyikan lagi Indonesia Raya atau hafal kalimat Sumpah Pemuda, namun tidak faham dan tidak menghayatinya.

Jadi, ketika kita berhenti belajar maka sebuah kemandegan, stagnasi, kejumudan, akan menutupi ruang  pertumbuhan hidup kita. Hakikat belajar bukan sekadar tahu, melainkan dengan belajar seseorang menjadi tumbuh dan berubah. To learn is to grow and change.

Tidak sekadar belajar lalu berubah, tetapi juga mengubah keadaan. Ketika ilmu itu diamalkan, diharapkan seseorang berpartisipasi dalam mengubah diri dan lingkungannya. Olehkarenanya, dengan senantiasa belajar dan mengajar, pertanyaannya adalah seberapa jauh kita turut serta membuat orang lain pintar dan terdorong membuat perubahan. Inilah yang juga terkandung dalam kalimat bijak, harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, orang mati meninggalkan warisan ilmu dan amal saleh.

Korelasi dan keseimbangan antara belajar, mengajar, dan beramal telah diajarkan oleh metabolisme dan kinerja tubuh kita sendiri. Agar senantiasa sehat, tubuh memerlukan makanan, lalu keluar keringat dengan cara beraktivitas. Kalau tidak, pasti akan terserang penyakit karena tidak adanya keseimbangan antara input, aktivitas, dan output.  Di antara penyakit yang menghantui adalah kolestrol dan stroke. Ini terjadi karena seseorang hanya senang mengkonsumsi tapi enggan berproduksi.

Dalam ranah sosial ekonomi juga berlaku hukum ini. Ketika banyak orang kaya senang menghimpun harta tetapi enggan membelanjakan untuk mendukung sektor pertumbuhan ekonomi rakyat, maka sebuah bangsa pasti akan terkena ‘kolestrol dan stroke’ sehingga lumpuh. Masyarakat tidak memiliki kekuatan daya beli. Fenomena ini sudah lama terjadi di Indonesia.

Jadi sunatullah atau hukum alam itu berlaku pada ranah sosial, alam semesta, dan diri manusia sendiri. Siapa yang melawan hukum alam pasti akan kalah dan menghancurkan dirinya sendiri.

Bahwa kita mesti dengan rendah hati harus selalu belajar agar bisa bersahabat, berguru, dan berdamai dengan kehidupan. Lalu berbagi pada sesama baik dalam bentuk pengetahuan maupun karya nyata sehingga gerak spiral umat manusia senantiasa naik dan berkembang.

Janganlah beperilaku seperti anak kecil yang asyik membuat istana di atas pasir di tepian pantai, lalu bangunannya tiba-tiba hancur terhempas air ombak. Lebih parah lagi, kalau bangunan yang kita buat itu hancur terbakar karena kebodohan kita sendiri. Atau jauh lebih parah lagi kalau hancur karena kita memang senang saling menghancurkan.

Kalau demikian,  berarti kita tidak lagi mau belajar, mengajar, dan beramal dan berarti pula kita stagnan tidak mampu menerima mandat dan jabatan mulia sebagai mandataris Tuhan di muka bumi.

Sabda dan peristiwa

Sumber Tulisan : Disini

PERNAH ada masa-masa antara sabda dan peristiwa itu terjadi hubungan dialektis, yang satu memengaruhi dan menciptakan yang lain. Sabda mampu mengubah jalannya sejarah.

Namun, sekarang ini kita hidup di mana kata-kata tak lagi punya wibawa, tak sanggup menggerakkan serta menciptakan perubahan dan peristiwa. Kita hidup di era produsen kata-kata yang bertaburan dan tak terkontrol lagi dari mana dan mau ke mana ledakan katakata itu berasal dan bermuara. Dahulu pada masa hidup rasul-rasul Tuhan kata yang keluar itu sangat wibawa.

Saking wibawa dan dihormatinya, kata disebut firman, titah, atau sabda. Masyarakat menghargai dan taat pada sabda rasul karena yakin akan wibawa dan kebenaran isinya serta respek dan percaya pada ketulusan hati serta keluhuran budi mereka. Para rasul Tuhan itu juga manusia biasa, makan, tidur, berbicara, dan berperilaku layaknya manusia pada umumnya karena Tuhan memilih rasul memang dari komunitas manusia agar keteladanannya bisa diikuti.

Bukan sosok yang datang dari planet lain dengan bahasa dan perilaku yang tidak dipahami sehingga mustahil dijadikan role model.. Sekadar contoh, bagaimana sabda yang disampaikan Rasulullah Muhammad SAW berupa ayat-ayat Alquran dan nasihatnya telah menciptakan perubahan sosial yang luar biasa, yang tak terbayangkan, dengan nalar sejarah. Masyarakat padang pasir yang terpisahkan dari pusat-pusat peradaban dunia waktu itu hanya dalam waktu 23 tahun berubah menjadi sumber mata air peradaban baru yang luapan pengaruhnya tak habis-habisnya sampai hari ini.

Revolusi sosial itu bermula ketika ada pemuda, Muhammad, menyatakan menerima pesan Tuhan agar diteruskan kepada masyarakat Arab waktu itu, yang berbunyi: Aku bersaksi tiada ilah, melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah. Kalimat itu begitu pendek, mudah diucapkan. Namun, ketika awal mula sabda itu dideklarasikan, terjadilah keguncangan sosial luar biasa, yang menimbulkan kemarahan para penggede Arab waktu itu, bahkan sampai mengancam jiwa Muhammad.

Sabda itu dianggap sebuah manifesto subversi yang menggerogoti dan ingin menggulingkan hegemoni epistemologi, keyakinan, dan kekuasaan puncak elite piramida sosial, lalu dihadirkan kekuatan baru yang abstrak, namun sangat powerful pengaruhnya, yaitu Allah Yang Rahman dan Rahim. Waktu itu orang menjadi budak (abdu) penguasa, materi, dan suku, lalu oleh Muhammad dialihkan bahwa jika seseorang ingin merdeka, jadilah budak Allah (Abdullah).

Jadi, manifesto syahadat adalah sebuah manifesto dan gerakan pembebasan atau liberasi dari penghambaan pada sesuatu yang posisinya di bawah derajat manusia yang merupakan puncak ciptaan Tuhan. Karena itu, sungguh tidak pantas dan tidak logis kalau manusia menghambakan diri selain kepada Allah. Manusia adalah ciptaan Allah yang berada di puncak piramida seluruh ciptaan-Nya sehingga selain pada Allah, manusia harus melihatnya ke bawah.

Deklarasi syahadat itu telah merontokkan hegemoni dan dominasi elite penguasa waktu itu dan menempatkan Muhammad sebagai tokoh pembebas yang disambut sorak-sorai oleh para budak dan kalangan miskin yang terpinggirkan. Muhammad sebagai pemimpin moral, spiritual, dan politik tidak punya obsesi untuk membangun istana dan menumpuk kekayaan sehingga kekuatan pribadi dan gagasannya mampu mengikat loyalitas para pengikutnya secara tulus dan militan, jauh dari ikatan transaksional kepentingan bisnis atau jabatan.

Jadi dapat dibayangkan, betapa dekatnya keterkaitan antara sabda dan peristiwa empiris-sosiologis waktu itu. Ayat-ayat suci yang diyakini sebagai firman Tuhan itu turun secara berangsur selama 23 tahun dan sebagian merekam hubungan dialektis antara sabda dan peristiwa. Selama dua dekade terjadi hubungan dialektis-konstruktif antara sabda dan peristiwa yang gegap gempita, namun juga menciptakan tradisi baru berupa sujud merendahkan diri di hadapan Tuhan dengan keheningan dan kelembutan hati.

Sabda menciptakan peristiwa, dan peristiwa melahirkan sabda. Lalu, mari kita amati bagaimana yang terjadi saat ini? Sabda yang sama telah diperlombakan dengan iming-iming hadiah dan dilantunkan dalam ruang yang sejuk dan jauh dari realitas sosial. Atau, sabda yang sama mengalir keluar dari para penceramah agama di layar kaca dengan selingan iklan, namun dipertanyakan, seberapa besar dampaknya terhadap peristiwa sosial.

Dengan ungkapan lain, apakah sabda suci yang sama itu ketika disampaikan hari ini masih bisa menciptakan perubahan sosial seperti pada masa kemunculannya? Setiap hari kita mendengarkan sabda suci yang disampaikan para penceramah agama dan kita juga seringkali mendengarkan titah para penguasa negeri, namun hampir tidak berpengaruh apa-apa terhadap realitas sosial.

Sabda dan titah penguasa telah kehilangan wibawa. Di sana tidak ada sosok pemimpin penyampai sabda yang mampu menciptakan peristiwa sebagaimana yang terjadi pada zaman kerasulan. Dunia sudah berubah. Aktor sosial dan variabel penggerak perubahan sudah berganti. Sekarang bahkan hadir apa yang disebut virtual society dengan warganya yang disebut netizen. Sebuah komunitas yang sangat cair yang dihubungkan dengan kata-kata melalui internet.

Muncul fenomena komunitas finger generation yang saling ngobrol melalui pesan singkat dengan bantuan handphone, sibuk dengan jari-jarinya. Ini semua semakin memisahkan antara kata dan realitas, antara sabda dan peristiwa. Ketika berbelanja pun yang melakukan transaksi cukup angka yang muncul dari pertemuan kartu kredit dan mesin alat pembayaran.

Kita hidup dalam sebuah negeri tanpa subjek dan aktor pemandu yang wibawa dan jadi panutan layaknya konduktor dalam sebuah orkestra. Kita hidup bagaikan dalam sebuah masyarakat kerumunan, dihubungkan dengan kata-kata yang sangat cair dan kadang liar.