Mengaji lewat YouTube

Oleh: Komaruddin Hidayat

SAYA sangat berterima kasih kepada pencipta YouTube, semoga kreasinya jadi amal saleh di hadapan Tuhan. Mengapa? Karena YouTube sangat membantu dan mempermudah saya mengaji, mengikuti berbagai diskusi dan ceramah ilmiah yang sangat berkualitas secara gratis.

Kita tinggal pilih topik dan penceramah, dalam bidang apa pun, termasuk agama, termasuk agama Islam. Dengan mudah dan murah kita bisa berkenalan dengan para pemikir Indonesia dan dunia.

Di antara topik ceramah dan diskusi yang selalu saya ikuti adalah studi perbandingan agama dan filsafat yang disampaikan sarjana Barat atau sarjana muslim yang tinggal di Barat. Misalnya saja dialog antara pendeta Kristen dan intelektual muslim seputar pertanyaan: apakah Bibel dan Alquran firman Tuhan?

Masing-masing berusaha menyampaikan argumennya secara ilmiah tanpa nada marah dan mengafirkan yang lain. Mereka berdiskusi sesuai dengan topik dan substansi yang telah disepakati. Silakan pendengar mengambil simpulan sendiri.

Yang juga sangat mengasyikkan adalah mengikuti ceramah ilmuwan Barat yang masuk Islam. Cukup banyak YouTube menyajikan ini.

Sering kali saya dibuat terhenyak mendengarkan cara pandang mereka terhadap Islam, sebuah cara pandang baru dan lain yang tidak biasa saya dengarkan dalam ceramah di Indonesia. Misalnya saja pengalaman Jeffry Lang masuk Islam. Bagaimana perkenalan pertama dengan Alquran dan apa yang membuatnya terpikat pada kitab suci ini sehingga akhirnya masuk Islam.

Ada juga sarjana ahli sejarah Bibel yang akhirnya memeluk Islam setelah melakukan kajian kritis-kompararif dua kitab suci tersebut. Dan masih banyak YouTube menyajikan kisah orang Barat berkonversi ke Islam.

Namun menarik juga mengikuti paparan kritis terhadap Islam. Dalam YouTube, Islam kerap dikritik dengan berbagai argumen rasional, hal yang tidak terbayang bisa terjadi di Indonesia.

Jika hal ini terjadi di Indonesia, pasti pelakunya segera divonis sebagai menghina Islam dan sejenisnya. Jadi berbagai pikiran keislaman yang di sini sudah dianggap liberal dan itu disampaikan oleh orang Islam sendiri sesungguhnya pemikiran itu masih sangat jauh dari liberal jika kita sering mengikuti perdebatan agama di YouTube. Semua itu merupakan kuliah gratis bagi mereka yang ingin berdakwah di kalangan masyarakat intelektual yang terbiasa berpikir kritis dan liberal.

Kuliah agama di YouTube sangat membantu mereka yang tidak sempat membaca buku dan tidak sempat datang ke forum pengajian. Dengan modal handphone dan langganan wifi, kita bisa belajar di mana saja, kapan saja, daripada bergosip di medsos.

Beragam pendakwah dan ulama di Indonesia juga bisa diikuti, sejak dari penceramah yang lucu sampai yang nadanya keras. Berbagai ulama dengan latar belakang keilmuan yang berbeda-beda menambah wawasan keislaman kita.

Janganlah terikat hanya pada satu ustaz dan satu kelompok pengajian. Dengarkan semuanya untuk memperluas wawasan agar kita tidak berpandangan sempit. Islam itu luas, jangan dipersempit. Sepandai-pandai seorang ulama, dia tetap dibatasi oleh bidang kajiannya yang juga terbatas. []

KORAN SINDO, 19 Januari 2018

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Harta Panas

HATI-hati dengan harta kekayaan yang kita miliki, salah satunya dari warisan orang tua. Agama selalu mengajarkan untuk berdoa agar mendapatkan rezeki yang halal dan berkah. Bukan harta haram dan panas yang tidak mendatangkan ketenteraman dan keberkahan.

Banyak kasus di sekeliling kita yang menjadi pembelajaran sangat berharga. Ketika orang tuanya meninggal, tanah kuburnya belum kering, anak-anaknya justru sudah bersengketa berebut warisan. Peristiwa demikian ini akar masalahnya ada dua.

Pertama, orang tua tidak mengantisipasi untuk membagi warisan jika sewaktu-waktu meninggal. Yang demikian tentu kita maklumi, karena kematian itu rahasia Tuhan, tidak tahu kapan terjadi. Namun, ternyata ada beberapa orang tua yang sudah berwasiat sebelum meninggal.

Semua anggota keluarganya dikumpulkan, didengarkan aspirasinya dan komitmennya jika suatu saat orang tua meninggal agar tidak bertengkar soal warisan. Orang tua berwasiat, jangan sampai anak-anak berebut warisan, karena akan menyiksa di alam kuburnya.

Sebaliknya, para anggota keluarga diminta agar memanfaatkan warisan itu di jalan Tuhan agar mendatangkan dividen pahala kebaikan bagi orang tua yang telah meninggal, atau disebut amal jariyah, maupun bagi yang masih hidup.

Kedua, akar penyebab mengapa ahli waris bertengkar karena secara ekonomi belum pada mandiri dan tidak memiliki pendidikan serta akhlak mulia. Jika anak-anak memperoleh pendidikan yang baik dan hidup mandiri secara ekonomi, pada umumnya harta warisan tak akan menjadi sumber sengketa.

Mereka malu memperebutkan harta yang bukan hasil jerih payah dan keringat sendiri. Makanya keluar nasihat orang tua, harta warisan itu barang halal yang panas.

Akan lebih panas lagi jika ternyata harta yang diwariskan itu dulunya didapat dengan jalan tidak halal oleh orang tuanya. Orang tua pasti lebih bahagia meninggalkan keturunan yang berpendidikan, bisa hidup mandiri, diterima, dan dicintai lingkungan sosialnya.

Sering kali kita saksikan, hanya dalam hitungan bulan dan tahun harta warisan habis, itu pun didahului dengan pertengkaran dalam pembagiannya. Anak laki-laki minta bagian lebih besar dari perempuan, padahal secara ekonomi lebih mapan ketimbang saudara perempuannya. Sementara pihak perempuan memandang tidak adil karena anak laki-laki lebih banyak menghabiskan uang sewaktu orang tuanya masih hidup.

Ada contoh orang tua yang menarik direnungkan. Sebelum meninggal soal warisan sudah diselesaikan semuanya. Orang tua hidup dengan jatah dirinya. Bahkan dipesankan pada anak-anaknya, kalau suatu saat meninggal agar hartanya disedekahkan untuk kepentingan masyarakat, anak-anak jangan mengambilnya karena semuanya sudah mendapat bagian dan sudah mandiri, sekalipun tidak kaya raya.

Cerita serupa ini dulu juga sering dilakukan orang tua yang hendak pergi haji, sewaktu masih naik kapal. Ketika pergi haji sudah siap meninggal di perjalanan atau di Tanah Suci, yakin bahwa dia berjalan di atas jalan Tuhan, kalau meninggal langsung masuk surga. Maka agar harta warisannya tidak menjadi sumber fitnah dan pertengkaran keluarga, orang tua sudah meninggalkan wasiat tentang pembagian hartanya.

Ada juga cerita inspiratif lain tentang harta warisan. Ada orang tua wafat meninggalkan anak tiga dan sawah yang cukup luas. Atas nasihat orang tua, sebaiknya jangan dibagi-bagi sawahnya karena masing-masing pasti akan memperoleh bagian yang kecil.

Disarankan agar digarap dan diberdayakan bersama, dijadikan modal usaha bersama, lalu siapa yang lagi memerlukan uang yang besar, misalnya untuk ongkos bangun rumah, maka dia diutamakan, dibangunkan bersama-sama.

Selanjutnya, apa yang terjadi? Ketiga anaknya memiliki rumah masing-masing, prestasi sekolahnya bagus, harta sawah warisannya utuh, bahkan kekayaannya bertambah. Zakat dan amal sosialnya tak pernah dilupakan. Kalau saja orang tua bisa mengintip dari alam kubur, tentu merasa bahagia. []

KORAN SINDO, 20 Oktober 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Isu Gender

Oleh: Komaruddin Hidayat

RELASI lelaki-perempuan senantiasa menjadi bahan diskusi yang tak pernah berakhir. Ini juga menyangkut persoalan karier dan pembagian kerja dalam kehidupan rumah tangga, posisi, serta promosi karyawan-karyawati di kantor, bahkan dalam dunia politik.

Siapakah yang lebih superior antara kaum laki-laki dan perempuan? Tentu tak ada jawaban tunggal yang disepakati semua pihak. Di sana terdapat beberapa teori yang mencoba menganalisis mengenai relasi gender.

Secara umum, setidaknya terdapat empat referensi yang menjadi rujukan untuk memperbincangkan relasi gender, yaitu faktor geografi, pendidikan, kemajuan teknologi, dan pandangan keagamaan.

Mengenai aspek geografi, mari kita lihat secara sekilas. Masyarakat yang hidup di lingkungan alam yang keras, misalnya padang pasir, maka laki-laki lebih dominan perannya dalam mencari kebutuhan ekonomi, misalnya berburu hewan.

Ditambah lagi, jika sering terjadi perkelahian antarsuku, maka laki-laki mesti tampil di depan. Perempuan yang lagi hamil dan mengasuh bayi, misalnya, tentu mesti tinggal di rumah.

Situasi demikian pada urutannya menempatkan laki-laki sebagai hero, pahlawan, dan menempatkan perempuan sebagai instrumen reproduksi anak yang tidak memiliki kekuatan sosial dan ekonomi.

Nasib perempuan sepenuhnya bergantung pada laki-laki. Dalam ungkapan bernada ekstrem, laki-laki tampil sebagai somebody, lalu perempuan sebagai something.

Dalam konteks ini, yang menarik direnungkan adalah agama-agama besar dunia, seperti hanya Islam, lahir dan tumbuh dimulai dari masyarakat padang pasir yang secara sosiologis-politis bias laki-laki. Adakah pengaruh masyarakat patrimonial ini dalam menafsirkan dan mempraktikkan paham keagamaan yang mereka anut?

Kebalikan dari kondisi geografis yang keras, mari kita lihat kondisi geografis nusantara yang pertaniannya sangat makmur. Alamnya hijau, indah, lautnya luas kaya dengan ikan sehingga memungkinkan perempuan hidup mandiri dengan bercocok tanam dan beternak tanpa bergantung sepenuhnya pada kekuatan otot laki-laki.

Di beberapa daerah posisi perempuan lebih mandiri secara ekonomi dibanding dengan laki-laki karena rajin dan pintar bertani. Bahkan, ada perempuan yang menjadi kepala pemerintahan. Sementara laki-laki ada yang bermalas-malasan dan suka adu jago.

Karena itu, perempuan nusantara sejak dulu biasa pergi ke kebun atau ke pasar sendirian. Ini tentu suatu hal tidak dijumpai pada masyarakat padang pasir. Nusantara yang makmur dan aman memungkinkan para perempuan bepergian sendiri, tanpa dikawal suami atau saudara laki-laki. Di beberapa daerah posisi perempuan lebih tinggi sehingga terbentuk masyarakat matrimonial.

Lalu faktor ketiga, yaitu pendidikan. Berkat modernisasi, peluang untuk meraih pendidikan juga terbuka bagi laki-laki maupun perempuan, anak kota maupun desa.

Pendidikan juga telah mengubah konsep tentang kekuatan dan keunggulan seseorang yang mengunggulkan otot digeser oleh kompetisi keunggulan otak. Artinya, kehebatan seseorang bukan dinilai karena kekuatan ototnya untuk maju perang, tetapi karena prestasi pendidikannya.

Perbedaan biologis dan inklinasi psikologis antara laki-laki dan perempuan memang berbeda, misalnya kapasitas hamil dan melahirkan bagi perempuan tak akan tergantikan oleh laki-laki. Namun, dengan pendidikan dan keahlian seseorang, maka faktor gender menjadi tergeser oleh soft skill.

Ini mudah diamati misalnya saja dalam dunia pendidikan. Banyak jabatan guru yang diisi perempuan dan ternyata hasil dan prestasinya tidak kalah dibanding laki-laki.

Masih banyak profesi lain yang mudah diamati di sekeliling kita membuktikan bahwa kategori lelaki-perempuan tidak selalu relevan dipertahankan dalam bidang-bidang jasa seperti dokter, perawat, bankir, dan lainnya.

Paling fenomenal adalah kemajuan sains dan teknologi yang telah mengubah secara drastis perbedaan lelaki-perempuan dalam dunia kerja. Dengan munculnya artificial intelligence, peran otot dan otak sebagian telah tergantikan oleh teknologi.

Yang diperlukan adalah kemampuan mengenali dan mengoperasionalkan teknologi super canggih. Contohnya adalah profesi pilot, sekarang tidak lagi dominasi kaum laki-laki. Begitu pun dalam dunia arsitektur dan rancang bangun properti, banyak perempuan mampu melakukan karena memiliki skill dan penguasaan teknologi.

Dulu kakek-nenek kita tidak membayangkan benda dan peralatan berbobot satu ton bisa diangkat atau dipindahkan ke tempat tinggi. Sekarang dengan teknologi, seorang perempuan bisa mengoperasionalkan alat canggih untuk mengangkat barang-barang berat. Jadi, teknologi telah mengurangi arogansi kaum laki-laki yang mengandalkan fisiknya.

Isu gender ini cukup pelik dan kadang menimbulkan kontroversi ketika dibawa ke ranah agama. Ada anggapan, sekali lagi ini sebuah anggapan, bahwa agama itu lebih memihak pada posisi dan kepentingan laki-laki.

Yang jadi rujukan adalah kenyataan bahwa semua nabi utusan Tuhan itu laki-laki. Begitu pun yang jadi imam sembahyang atau kebaktian agama adalah laki-laki. Selain itu, juga paham tentang warisan, laki-laki menerima lebih banyak ketimbang perempuan.

Dalam hal jadi saksi, perempuan juga dianggap separuh bobotnya. Ini semua memperkuat anggapan bahwa agama lebih mendahulukan laki-laki.

Pertanyaan yang muncul, apakah doktrin agama itu absolut, tidak ada penafsiran lain, ataukah ada kaitannya dengan budaya dan kondisi geografis saat sebuah agama lahir dan tumbuh, misalnya masyarakat tradisional yang hidup di padang pasir?

Sejauh ini pembagian lelaki-perempuan dalam hal jadi imam salat, misalnya, kelihatannya dianggap absolut. Tak diperlukan penafsiran lagi.

Tetapi dalam konteks sosial, khususnya di Indonesia, kiprah perempuan jauh lebih luas dan lebih dinamis dibanding perempuan di lingkungan masyarakat Arab. Di sini perempuan bisa menduduki jabatan presiden, menteri, rektor universitas, hakim, diplomat, dan sekian posisi dan karier lainnya.

Ini semua tak lepas dari pengaruh faktor geografis, pendidikan, kemajuan teknologi, dan pemahaman serta sikap keagamaan masyarakat Indonesia yang terbuka dan moderat. []

KORAN SINDO, 15 September 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Sakral dan Profan

Oleh: Komaruddin Hidayat

KEDUA istilah di atas, sakral dan profan, lazim dijumpai dalam berbagai kajian ilmu sosial, filsafat, dan agama. Secara populer sakral artinya suci, disucikan, atau dianggap suci, sedangkan profan bermakna sebaliknya. Contoh paling sederhana, ada dua buku tebal, yang satu kitab suci, satunya lagi buku akademis.

Buku pertama dianggap sakral, yang lain profan. Tentu saja sakralitas sebuah entitas berkaitan dengan kepercayaan dan iman seseorang. Kitab Injil dan Alquran bagi pemeluk Nasrani dan Islam diyakini sakral sehingga disebut kitab suci, tetapi bagi orang ateis dianggap profan.

Bagi muslim, bangunan Kakbah dan batu hitam (hajar aswad) yang melekat di tembok Kakbah, Mekkah, dianggap sakral, suci, bukan bangunan sembarangan dan bukan sembarang batu. Kakbah itu bahkan disebut baitullah dan hajar aswad itu simbol tangan Tuhan.

Secara tekstual, baitullah berarti rumah Allah. Apakah berarti rumah milik Allah ataukah Allah bertempat di situ? Tentu bukan begitu maknanya. Semua langit dan bumi seisinya adalah milik Allah.

Di situ terkandung konsep sakral, sesuatu yang dianggap suci. Dan Kakbah memiliki derajat kesucian istimewa karena semua bangunan masjid oleh umat Islam juga disebut tempat suci. Tempat ibadah agama lain, misalnya gereja, juga dipandang sebagai tempat suci. Tempat khusus untuk memuji Tuhan.

Contoh lain yang sakral dan yang profan misalnya gerakan salat dan senam. Keduanya sama-sama gerak tubuh secara teratur dan terstruktur, tetapi senam tubuh diposisikan sebagai budaya yang bersifat profan.

Jadi yang disebut sakral selalu dikaitkan dengan keyakinan dan ritual keagamaan, sedangkan yang profan masuk pada kategori kebudayaan. Keduanya secara teori dan konsep bisa dibedakan, tetapi pada praktik dan kenyataannya sesungguhnya tidak bisa dipisahkan antara yang sakral dan yang profan, antara agama dan budaya.

Bangunan masjid, misalnya, sejak dari bahan, arsitektur, karpet, menara, dan seluruh wujud fisiknya adalah fenomena budaya tak ubahnya bangunan rumah. Hanya saja oleh masyarakat disepakati sebagai masjid, tempat suci, di mana entitas budaya tadi disakralkan sebagai instrumen keagamaan.

Begitu pun bahasa Arab adalah bahasa budaya. Tapi ketika dipinjam atau dipilih Tuhan untuk mewadahi wahyu yang diterima Nabi Muhammad, bahasa Arab itu lalu disakralkan. Terjadi sakralisasi budaya.

Tapi proses sakralisasi ini kadang melewati batas proporsinya. Misalnya model pakaian budaya Arab yang dikenakan Nabi juga oleh sebagian orang disakralkan, dianggap sebagai pakaian keagamaan.

Mengenakan gamis model Arab diidentikkan dengan mengikuti sunah Rasulullah, padahal sejatinya adalah fenomena budaya, bukan agama. Wilayah profan, bukan sakral. Dulu orang-orang kafir yang memusuhi Rasulullah juga sama pakaiannya.

Jadi bagi mereka yang menganut paham sekularisme, semua yang ada ini profan, sekuler, duniawi, tak ada kualitas ilahi di dalamnya. Tapi ada pula yang membedakan antara entitas sakral, yang suci atau disucikan, dan entitas yang duniawi, sekuler, yang masuk ranah budaya.

Makanya ada ungkapan, yang agama jangan dibudayakan, yang budaya jangan diagamakan. Lebih ekstrem lagi, sesungguhnya yang suci secara absolut itu hanyalah Allah semata. Selain Allah dianggap suci atau disucikan karena menjadi instrumen dalam peribadatan untuk memuji dan menyucikan Allah.

Meski begitu, jika ditarik pada tataran kesadaran dan perilaku batin orang beriman, semua tindakan yang diniati sebagai sujud dan berserah diri kepada Tuhan adalah suci. Bekerja mencari rezeki (uang) juga tindakan sakral karena menjalankan perintah Tuhan. Apa pun kegiatannya yang dimaksudkan dan diarahkan sebagai amal saleh adalah suci, sebagai ibadah, tidak semata salat. []

KORAN SINDO, 18 Agustus 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Reason in History

 

Oleh: Komaruddin Hidayat

JIKA sejarah diibaratkan panggung yang senantiasa berjalan tak kenal henti, aktor yang tampil di panggung sejarah ini silih berganti, sambung-menyambung baik pada konteks individu maupun generasi, entah sampai kapan kehidupan berlangsung, kita tidak tahu.

Setiap menit terjadi peristiwa kelahiran dan kematian, namun jumlah kelahiran rupanya lebih banyak ketimbang yang pamitan undur diri, sehingga jumlah manusia di muka bumi terus membengkak dan bertambah. Diperkirakan hari ini tidak kurang dari enam miliar manusia berada bumi.

Setiap pribadi dan generasi memiliki peran dan tantangan masing-masing. Ada di antaranya yang kreatif menciptakan teknologi dari bentuknya yang sangat sederhana, seperti halnya tongkat, lalu dikembangkan oleh generasi berikutnya dalam aspek bahan, bentuk, dan gunanya sehingga saat ini setiap bangunan mesti ada unsur tongkat sebagai penyangganya.

Inovasi yang juga abadi adalah teknologi roda. Mungkin dulu bentuk, bahan dan gunanya sangat simpel untuk ukuran sekarang.

Tetapi bayangkan dan amati, andaikan tak ada teknologi roda, maka sekian ragam kendaraan, mulai sepeda ontel, motor, mobil, hingga pesawat terbang pasti tidak akan berkembang seperti yang kita saksikan dan nikmati hari ini. Bahkan fungsi roda masuk ke sekian ragam produk teknologi, mulai jam tangan yang kecil dan rumit sampai dengan kursi, lemari, dan meja, banyak yang menggunakan jasa roda.

Masyarakat modern tinggal menikmati dan mengembangkan warisan teknologi roda, sampai-sampai ada ungkapan: We should not reinvent the wheel.

Demikianlah, sejarah manusia telah menciptakan dan mewariskan sangat banyak temuan dan percobaan dalam berbagai bidang, baik dalam bidang sains, teknologi, pranata sosial, sistem politik, ekonomi, pendidikan, kebudayaan maupun paham keagamaan.

Jika direnungkan, dalam perjalanan sejarah itu ada kekuatan logos dan reason yang ikut berperan mengarahkan jalannya kebudayaan. Di sana terdapat daya dan kekuatan penalaran logis yang selalu menyertai perjalanan dan pengembaraan manusia di muka bumi ini.

Pikiran waras lebih dominan ketimbang yang sakit. Sekalipun sering muncul drama dan episode konflik serta peperangan yang digerakkan dan digelorakan oleh nafsu atau emosi untuk menghancurkan yang lain, namun akal sehat akan tampil mengutuk, mengerem, dan menata kembali lakon sejarah yang berantakan dan berdarah-darah.

Misalnya saja, sadar dan menyesali akibat tragedi Perang Dunia (PD) I dan PD II yang mengerikan itu, maka akal budi memandang sangat urgen untuk membentuk Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) guna menata dan menjaga perdamaian dunia. Akibatnya jumlah peperangan di dunia semakin mengerucut jumlahnya, sekalipun tidak mungkin kerusuhan dan peperangan dihilangkan seluruhnya.

Begitu pun berbagai pranata atau institusi sosial sejak dari model pemerintahan sebuah negara sampai tingkat pemerintahan desa, semuanya itu produk inovasi dan evolusi penalaran akal budi manusia yang berkembang dari zaman ke zaman, tujuannya adalah bagaimana menciptakan keteraturan, keselamatan, dan kedamaian hidup masyarakat. Misalnya ide dan sistem demokrasi, teori dan praktiknya senantiasa berkembang dalam sejarah.

Sekali lagi, ini merupakan produk penalaran kolektif masyarakat yang berlangsung secara evolutif dari generasi ke generasi, dan ketika penalaran itu menjadi sebuah teori yang baku maka teori itu kemudian mengarahkan perilaku sosial masyarakat, bahkan sekarang berkembang artificial intelligence dan robot sebagai ekstensi cerdasan manusia.

Dengan mengamati semua ini, terlihat jelas adanya the power of reasoning in history, yang berkembang dan bekerja lintas generasi, bangsa, dan agama. Kekuatan ini bekerja secara otonom, invisible power, melahirkan hubungan dialektis antara manusia sebagai aktor dan hukum sejarah yang bersifat impersonal. Makanya ada istilah the iron law of history. Hukum besi sejarah.

Bagi yang percaya terhadap the reason in history, mereka akan memandang hidup lebih optimistis. Bahwa proses kehidupan ini bergerak semakin membaik dan naik bagaikan spiral.

Tetapi bagi yang kalah, mungkin mereka akan berpandangan sebaliknya. Bahwa hidup ini kian turun kualitasnya. Tanda bahwa kiamat sudah dekat. Perbedaan cara pandang itu muncul karena perbedaan mindset kepercayaan masing-masing pribadi. []

KORAN SINDO, 4 Agustus 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Beragama dengan Marah

Oleh: Komaruddin Hidayat

KATA marah dan ramah itu jumlah dan bunyi hurufnya sama, tapi beda letak posisinya sehingga konotasinya juga sangat beda. Bahkan, bertolak belakang. Kemarahan itu tidak saja muncul dalam relasi sosial sehari-hari dalam urusan yang profan, melainkan dalam beragama kadang kala seseorang memunculkan kemarahan.

Saya kira itu bisa dibenarkan, atau bahkan mungkin diperlukan, ketika dilakukan dalam waktu, tempat, dan peristiwa yang tepat. Terhadap mereka yang terang-terangan dan gamblang menghina dan menodai agama, wajar kalau ada ulama yang mengaku sebagai penjaga martabat agama marah.

Tetapi ketika kemarahan tidak dilandasi dasar yang kuat dan hati yang ikhlas, maka kemarahan hanya akan merugikan dirinya karena ketika seorang marah, ada kecenderungan nalar sehatnya menurun.

Marah yang baik adalah marah yang terkontrol dan memiliki nilai edukatif, baik bagi orang yang marah dan yang dimarahi maupun bagi kebaikan publik. Dalam bahasa teologi dan kitab suci, kadang Tuhan juga digambarkan memiliki sifat marah.

Namun begitu, sifat kasih sayang-Nya jauh melebihi sifat marahnya. Kemarahan Tuhan lebur ke dalam sifat kasih-Nya. Karenanya, Tuhan mengajarkan agar setiap mengawali pekerjaan apa pun hendaknya dimulai dengan mengingat dan menyebut asma Tuhan yang Mahakasih agar sejak dari niat, tujuan, dan caranya dibimbing dan dirahmati oleh Allah.

Adapun yang kadang mengusik hati dan menimbulkan tanda tanya adalah ketika ekspresi keberagamaan disampaikan dengan marah, dengan menggunakan simbol dan istilah-istilah agama, namun konteksnya kurang tepat. Misalnya melakukan penyerangan dengan cara meledakkan bom bunuh diri, sementara sasaran dan korbannya belum tentu bersalah. Bahkan, sangat mungkin satu bangsa dan satu agama.

Mereka itu marah dengan melibatkan simbol dan jargon agama. Padahal, kemarahan itu mungkin saja akibat dirinya terpinggirkan dari dinamika politik dan ekonomi, merasa dirinya terancam dan jadi korban, namun sasaran kemarahannya sesungguhnya tidak jelas. Yang jadi korban pun mungkin nasibnya secara politik dan ekonomi tak beda jauh dari dirinya.

Ada lagi ekspresi kemarahan dalam bentuk verbal, yaitu ungkapan yang penuh kebencian dan cacian dengan disertai istilah-istilah keagamaan, menilai orang yang tidak sepaham dengan kata kafir, munafik, lemah iman, dan sejenisnya. Mereka seakan memiliki hak monopoli untuk menafsirkan dan menentukan kebenaran agama.

Padahal, kalau niatnya ingin berdakwah dan berbagi ajaran agama yang begitu baik dan mulia, maka caranya pun harus baik dan mulia. Dalam kaitan ini, saya salut kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengeluarkan fatwa mengharamkan ujaran fitnah, kebohongan, dan adu domba dalam media sosial (medsos).

Dampak negatifnya cukup parah bagi masyarakat. Sama halnya kita menyebar racun kepada masyarakat sehingga layak diharamkan dan pelakunya, siapa pun, melakukan mesti diingatkan atau diberi sanksi.

Marah yang muncul karena dorongan nafsu like or dislike, tanpa alasan yang benar, hanya akan menimbulkan lawan atau setidaknya membuat persahabatan renggang, bahkan putus. Ujungnya merugikan diri sendiri. Terlebih jika kemarahan urusan politik yang berangkat dari kepentingan pribadi atau kelompok, lalu meminjam dan memanipulasi jargon-jargon agama, ujungnya akan menodai citra dan martabat agama.

Seperti citra Islam yang dirusak oleh teroris. Berbagai ledakan bom di Eropa, pelakunya diidentifikasi sebagai aktivis gerakan keagamaan Islam.

Dalam Alquran memang ada isyarat-isyarat yang membolehkan marah dan maju perang. Tapi yang dominan adalah menebar rahmat.

Bahkan, itu jadi misi Rasulullah. Menebar keramahan, bukan kemarahan. Menebar kebenaran, kebaikan, dan kedamaian. Bukan menebar terorisme dan cacian. []

KORAN SINDO, 9 Juni 2017
Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Islam di Garis Batas

Oleh: Komaruddin Hidayat

Percobaan kudeta di Turki pada Jumat (15/7) malam sungguh mengagetkan. Kudeta ini mengingatkan kita pada kudeta militer yang terjadi pada 1960, 1971, 1980, dan 1997, yang terhitung berhasil. Hanya saja, yang jadi alasan sangat berbeda. Kudeta sebelumnya kekuatan militer sekuler berhadapan dengan kekuatan sipil, sekarang—berita yang beredar—yang berseteru sama-sama kekuatan islamis. Namun, keterlibatan pihak ketiga mungkin saja ada.

Secara geografis ataupun kultural, Turki merupakan garis batas, atau titik temu, antara Timur Tengah dan Eropa. Warga Turki, sekitar 80 juta, 95 persen adalah Muslim Sunni, meskipun negaranya sekuler. Islam di Turki memiliki sejarah panjang dan sangat kaya. Pernah menjadi pusat kekuatan politik dan militer yang disegani dunia selama enam abad di bawah Kesultanan Usmani (Ottoman Empire), yang berakhir pada Perang Dunia II ketika Ottoman bersama Jerman dikalahkan tentara Sekutu. Eksistensi Turki sebagai bangsa diselamatkan oleh Mustofa Kemal Ataturk dan pasukannya kemudian mendirikan sebuah negara baru bernama Republik Turki (1923).

Prinsip republikanisme dan sekularisme yang diperjuangkan Ataturk merupakan antitesis terhadap ideologi dinasti Islamisme Ottomanisme. Ideologi Turkisme ditampilkan sebagai antitesis terhadap Pan-Ottomanisme. Menurut Ataturk, hanya dengan mengobarkan ideologi nasionalisme, maka Turki bisa bertahan melawan gempuran Sekutu dan rongrongan bangsa-bangsa Arab yang diprovokasi oleh Inggris dan Perancis dengan janji mereka akan memiliki negara sendiri jika melepaskan diri dari Ottoman.

Sejak awal berdirinya Republik Turki, militer menempatkan diri sebagai pendiri dan pengawal paham sekularisme, juga merasa warga negara kelas satu. Jika Republik Indonesia diperjuangkan oleh rakyat, Turki dilahirkan oleh jajaran elite militer di bawah komando Mustofa Kemal Ataturk, sehingga muncul istilah revolution from above dan democracy under the bayonet. Mustofa Kemal pun diberi gelar Ataturk— Bapak Bangsa Turki—oleh Majlis Agung Turki pada 1934.

Islam pinggiran

Terdapat cara pandang terhadap Islam dengan kategori pusat dan pinggiran, di mana dunia Arab, khususnya Arab Saudi, sebagai pusatnya (the heartland of Islam). Masyarakat Islam Turki dan Indonesia diposisikan pinggiran, baik secara geografis maupun budaya, sehingga dua masyarakat ini masuk kategori the least Arabized Muslim countries, masyarakat Muslim, tetapi pengaruh Arabnya tak kental. Masyarakat Turki dan Indonesia memiliki bahasa dan budaya nasional tersendiri, sangat berbeda dari Arab.

Pertanyaan yang muncul, adakah Islam pinggiran semacam Turki dan Indonesia berarti juga kualitas dan kuantitas keislamannya juga pinggiran dan supervisial? Ternyata tidak selalu demikian. Bandingkan saja dengan Yahudi dan Nasrani yang keduanya lahir di Timur Tengah. Sekarang kedua agama ini selalu diposisikan sebagai agama Barat. Budaya dan peradaban Yahudi dan Nasrani dengan segala capaian politik, ekonomi, dan sains selalu dipersepsikan sebagai prestasi dan budaya Barat. Jerusalem merupakan bukti dan jejak sejarah Yahudi dan Nasrani, tetapi bukan pusat peradaban. Yang mengemuka justru wilayah konflik dan perang yang sulit diprediksi kapan akan berakhir.

Kondisi serupa mirip Islam, meski kondisinya jauh lebih baik. Posisi Mekkah-Madinah bukti dan saksi otentik jejak sejarah Islam. Akan tetapi, situasi Timur Tengah saat ini justru tengah diwarnai kegaduhan politik dan peperangan sehingga menghancurkan warisan peradaban masa lalu, alih-alih membangun yang baru. Jadi, kategori pusat-pinggiran dalam memandang Islam tak lagi tepat.

Sekarang ini, muncul pusat-pusat studi Islam di luar wilayah Arab yang memiliki keunikan dan keunggulan yang tidak ditemukan di Timur Tengah. Banyak intelektual Muslim Arab yang memilih berkarier di luar negara asalnya. Islam yang berkembang di Turki, Iran, dan Indonesia memiliki distingsi dan diferensiasi yang sarat dengan inovasi budaya non-Arab dan semua ini telah memperkaya lanskap kebudayaan Islam.

Eksperimentasi Turki

Menurut beberapa pengamat, Islam di Turki dan Indonesia memiliki kemiripan. Keduanya bukan Arab, melainkan sekaligus juga telah meratakan jalan bagi sebuah eksperimentasi historis bagaimana Islam masuk dan berinteraksi secara intens dengan ide dan praktik demokrasi, modernisasi, dan pluralisme, suatu hal yang sulit dilakukan oleh masyarakat Arab. Kemal Ataturk sendiri dinilai sebagai pelaksana dari gagasan Zia Gokalp (1878-1924), pengagum Emile Durkheim, dengan gagasannya untuk menyatukan nasionalisme, islamisme, dan modernisme bagi masa depan Turki. Bagi Gokalp, Islam merupakan identitas dan kekuatan kohesi sosial masyarakat Turki, tetapi pemerintahannya mesti dimodernisasi dengan model Barat.

Mesti dipisahkan antara urusan agama dan negara. Maka, Kemal Ataturk pun melakukan revolusi kebudayaan, salah satu elemennya adalah de-Arabisasi. Berbagai simbol Arab digusur, tetapi Islam sebagai agama tetap dipertahankan. Orang-orang Turki di Eropa memiliki formula, I am Turk, therefore I am a Muslim. Oleh karena itu, orang-orang Turki tetap setia dengan identitas keislamannya meskipun tak mesti taat menjalankan ritual agama.

Di wilayah Turki yang sistem pemerintahannya sekuler itu, tidak ditemukan bangunan gereja baru, sementara masjid bermunculan. Suasana kampus di Turki pun tak ubahnya kampus di Barat, pergaulan muda-mudi terlihat begitu bebas, tetapi begitu kembali ke lingkungan keluarganya mereka menjadi konservatif. Sekalipun pemerintah, terutama militer, tetap setia menjaga paham sekularisme, orang Turki sangat sadar bahwa kejayaan Islam semasa Ottoman menjadi kebanggaan dan sumber inspirasi serta motivasi mereka untuk bangkit kembali membangun kebesaran bangsa Turki di masa depan. Jadi, semangat islamisme dan pemerintahan sekularisme adalah dua hal yang eksis dan tumbuh bersamaan.

Baik Fethullah Gulen maupun Erdogan datang dari keluarga dan pendidikan santri par excellence. Namun jika Erdogan tergoda untuk membawa dan mengubah politik Turki ke pendulum islamis, pasti akan memancing reaksi, terutama dari sayap militer. Bagi blok Barat, Turki berada di garis batas untuk membendung ekspansi blok Timur. Posisi Turki sangat dibutuhkan Barat. Namun karena dihambat bergabung ke Uni Eropa, Turki lalu mendekati blok Rusia dan sekutunya.

Negara-negara Asia Tengah mayoritas berbahasa Turki dan mitra bisnis bagi Turki. Suatu kekuatan politik dan ekonomi yang jadi perebutan pengaruh Turki, Iran, dan Rusia. Oleh karena itu, Uni Eropa terbelah sikapnya, apakah menerima atau menolak keanggotaan Turki. Kelihatannya Erdogan memiliki insting politik tajam, ingin memainkan posisi strategisnya di antara kekuatan Barat, Timur, dan Arab. Ketiganya memerlukan Turki sebagai sahabat baik mereka; bahkan mitra strategis dari sisi militer, bisnis, dan tenaga kerja.

Kudeta kilat

Hanya dalam waktu lima jam kudeta bisa dijinakkan, yang dilanjutkan dengan penangkapan ribuan tokoh yang dituduh terlibat, terdiri atas sedikitnya 50.000 orang yang dianggap lawan politiknya, termasuk tentara, 100 polisi, 755 hakim, gubernur, bupati, dan jajaran fungsionaris universitas; mulai dari rektor, dekan, dan dosen. Mereka dianggap pengkhianat negara dan kelompok teroris. Fethullah Gulen (75), yang sejak 1999 tinggal di Pennsylvania, AS, dituduh sebagai dalangnya.

Padahal, kalau saja keduanya bersinergi, sesungguhnya Erdogan-Gulen pasangan ideal bagi kemajuan dan eksperimentasi Islam Turki pada era global ini. Erdogan memegang kendali politik dalam negeri, lalu Gulen berkiprah melakukan diplomasi dan kontribusi kultural-intelektual pada panggung dunia. Tidak kurang dari 3.000 sekolah dan pusat kebudayaan Turki tersebar di sejumlah negara, di bawah kepemimpinan Gulen.

Dengan kekayaan sejarah dan posisinya di garis batas, diharapkan Turki mampu memberikan salah satu model keislaman yang kontributif kepada masyarakat Barat dengan tetap setia pada identitas keislamannya. Namun, terjadinya kudeta dan mengerasnya perseteruan antara Erdogan dan Gulen, yang bisa mengguncang stabilitas dan progresivitas Turki, jangan-jangan Turki akan mundur kembali terbawa demam politik Arab yang lelah dengan konflik serta menguras ongkos sosial, politik, dan ekonomi yang teramat mahal. Dalam situasi demikian, apa yang hendak diperankan Indonesia? []

KOMPAS, 30 Juli 2016
Komaruddin Hidayat | Guru Besar Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah

Poros Baru Mindanao-Aceh

Oleh: Komaruddin Hidayat

JAUH di luar nalar, peristiwa tsunami di Aceh (2004) pada urutannya setelah dua belas tahun kemudian mendekatkan poros pendidikan di Aceh dan Mindanao, dua wilayah yang memiliki kemiripan nasib. Dua provinsi yang alamnya kaya raya, tetapi penduduk setempat memandang pemerintah pusat yang menguasai dan menikmati hasilnya, lalu kedua wilayah itu menempuh perlawanan dengan senjata. Di Aceh terdapat GAM (Gerakan Aceh Merdeka), di Mindanao muncul MNLF (Moro National Liberation Front), dan MILF (Moro Islamic Liberation Front)

Tragedi tsunami di Aceh itu seketika membuat ribuan anak menjadi yatim, tak lagi memiliki sandaran membangun masa depan. Karena merasa jiwa mereka terpanggil, beberapa teman di lingkungan Metro TV dan Media Indonesia di bawah kepemimpinan Surya Paloh, mendirikan Yayasan Sukma Bangsa.

Agenda pertama dan utamanya ialah mendirikan tiga sekolah Sukma Bangsa di tiga wilayah, yakni Pidie, Lhokseumawe, dan Bireuen, semuanya berasrama untuk menyantuni anak-anak kurban tsunami. Modal pertama yang digunakan ialah dana yang terkumpul melalui program sosial Indonesia Menangis.

Generasi baru Aceh

Sebagai salah seorang pengurus Yayasan yang turut membidani lahirnya Sekolah Sukma Bangsa (SSB), saya dan teman-teman merasa bersyukur dan hampir-hampir tak percaya dengan capaian sekolah selama ini, mengingat berbagai rintangan dan tantangan yang kami hadapi cukup berat, terutama pada lima tahun pertama. Bukan saja masalah finansial yang mesti kami atasi untuk membiayai proses pendidikan bagi seluruh siswa, guru, dan karyawan, melainkan juga berbagai fitnah dan ancaman dari beberapa kelompok masyarakat akibat kesalahpahaman mereka terhadap misi dan eksistensi SSB yang dianggap melawan tradisi dan ideologi mereka.

Para siswa tinggal di asrama lazimnya sebuah pesantren, sejak dari tingkat SMP dan SMU. Para guru juga didatangkan dari berbagai provinsi di luar Aceh untuk mempercepat proses penanaman dan pemahaman akan nilai-nilai keindonesiaan. Kami menyeleksi dan melatih guru-guru agar benar-benar siap mental dan pengetahuan untuk mendidik siswa yang kehilangan keluarga serta tempat tinggal. Jadi, mereka bukan sekadar pengajar, melainkan juga pengganti orangtua. Kami menerapkan metode pendidikan dan pengajaran yang berorientasi futuristik, global, dengan tetap memperkukuh nilai keindonesiaan dan keacehan yang kental dengan keislaman.

Banyak tamu dan peneliti asing datang ke SSB, mereka tertarik melakukan penelitian bagaimana membangun pendidikan pascatrauma tsunami, dengan siswa yang menanggung beban psikologis Ketika para tamu datang, baik dari dalam maupun luar negeri, kami persilakan mereka mengamati dan mengikuti kegiatan para guru dan siswa secara langsung agar bisa berdialog dengan mereka secara lugas dan autentik. Apa yang kami lakukan sebagian sudah kami tulis dan terbitkan dalam beberapa judul buku, semoga menjadi kontribusi pemikiran dan pengalaman bagi dunia pendidikan di Indonesia.

Para siswa SSB terlahir dan tumbuh seiring dengan lahirnya generasi milenium di Tanah Air yang terkoneksi dengan kehidupan global melalui jejaring internet. Mereka ialah native netizen, melompat jauh dari lingkaran pergaulan orangtua mereka yang sebagian ialah para combatan GAM, hidup di hutan. Komunitas SSB bagaikan a brand new cultural enclave bagi masyarakat Aceh. Kami berharap mereka terbebas dari warisan konflik antarorangtua mereka, baik konflik antarsesama warga Aceh maupun dengan pemerintah pusat.

Di balik tragedi tsunami, terbuka lebar gerbang perdamaian dan pendidikan baru bagi anak-anak yatim korban tsunami. Di SSB, mereka menemukan keluarga besar dan bersama-sama membangun mimpi serta merintis masa depan yang lebih menjanjikan dengan modal collective memory kejayaan Aceh masa lalu. Integritas, toleransi, cinta ilmu, dan cinta bangsa sangat ditekankan di SSB. Makanya, sempat heboh ketika peserta ujian nasional SMU angkatan pertama yang lulus tak sampai 40%, sementara tawaran kunci jawaban dari pengawas ujian justru ditolak siswa SSB.

SSB-Finlandia University

Untuk menjadikan SSB sebagai salah satu pilihan pendidikan terbaik di Tanah Air, khususnya daerah Aceh, kami menjalin kerja sama dengan Universitas Finlandia, mendidik 30 guru SSB untuk meraih Master di bidang keguruan. Finlandia kami pilih, di samping sejak lama pemerintah Finlandia menaruh kepedulian pada proses perdamaian di Aceh, juga karena pendidikan di sana dianggap paling baik di dunia.

Ketika saya berkunjung ke Tampere University, misalnya disebutkan bahwa fakultas keguruan menerima peminat tertinggi calon mahasiswa. Artinya, putra-putri terbaik di Finlandia memilih profesi sebagai guru. Guru memiliki posisi yang terhormat dan tepercaya serta gaji yang cukup. Guru memperoleh kepercayaan dari pemerintah dan masyaraka sehingga sekolah berhak mengubah kurikulum tanpa intervensi Kementerian Pendidikan.

Di Finlandia, semua sekolah berafiliasi dengan fakultas pendidikan sehingga jajaran guru besarnya ikut bertanggung melakukan evaluasi dan peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan. Dengan demikian, menteri pendidikan di sana cukup membuat kebijakan umum untuk menjaga kualitas pendidikan.

Tentu saja, Finlandia dengan penduduk sekitar lima juta tidak fair jika dibandingkan dengan Indonesia yang penduduknya di atas 230 juta. Namun, pengalaman dan inovasi mereka menarik untuk dipelajari. Dengan program 30 Master, diharapkan akan mempercepat peningkatan mutu SSB ke depan dan lebih memungkinkan SSB untuk membuka cabang di luar Aceh.

Ada apa dengan Mindanao?

Sejak lima tahun lalu, Direktur Akademik Yayasan Sukma, Ahmad Baedowi dkk, sudah menjalin kontak kerja sama untuk membantu memajukan pendidikan dengan pemerintah dan aktivis pendidikan di Mindanao. Kami berempati dengan nasib pendidikan di sana dengan melihat dari dekat situasi pendidikan di Aceh selama masa konflik. Makanya, ketika muncul berita terjadi penyanderaan terhadap 10 awak kapal Indonesia, Surya Paloh meminta Ahmad Baedowi dkk untuk ikut serta melakukan lobi dalam rangka pelepasan sandera.

Dengan bantuan beberapa relasi di Mindanao dan pejabat ARMM (Autonomous Region in Muslim Mindanao), misi kemanusiaan Yayasan Sukma Bangsa punya andil besar dalam pelepasan sandera. Yayasan menawarkan 30 beasiswa bagi anak-anak miskin Mindanao untuk studi di SMP dan SMU Sukma Bangsa di Aceh sampai tamat. Pada Jumat 17 Juni lalu telah dilakukan penandatanganan MoA (Memorandum of Agreement) antara Yayasan Sukma dan ARMM bertempat di kantor KBRI Manila, tentang realisasi bantuan pendidikan tersebut. Saya hadir dan memberi sambutan atas nama Yayasan Sukma, didahului sambutan dari Dubes RI di Manila, Letjen (Purn) Johny Lumintang. []

MEDIA INDONESIA, 20 Juni 2016
Komaruddin Hidayat ; Ketua Majelis Pendidikan Yayasan Sukma

Kita dan Wajah Suram Arab

Oleh: Komaruddin Hidayat

Sehabis menyaksikan gerhana matahari total di Palu, 9 Maret lalu, saya makan siang satu meja di rumah dinas gubernur Sulawesi Tengah bersama Jusuf Kalla dan Imam Daruquthny, intelektual Muhammadiyah; serta Farid Masdar Mas’udi, kiai intelektual Nahdlatul Ulama.

Jusuf Kalla (JK) mengatakan, para ilmuwan jauh-jauh hari sudah bisa menghitung, tanggal, jam, dan tempat kapan dan di mana gerhana matahari total bisa disaksikan. Ratusan ilmuwan asing berdatangan ke Palu untuk menyaksikan fenomena alam langka ini. Ternyata perhitungannya tepat. Jarak putar bulan dan matahari bisa dihitung secara ilmiah.

Lalu, dia bertanya kepada dua intelektual Muhammadiyah dan NU itu, apakah susahnya umat Islam Indonesia menentukan datangnya Ramadhan dan Idul Fitri? Tolonglah Muhammadiyah dan NU bermusyawarah mencari titik temu. Tentu masing-masing harus saling mengalah untuk memperoleh kesepakatan. Bukankah masalah khilafiah hukum selalu memungkinkan ditafsir ulang karena masuk wilayah ijtihadi? Anehnya, meskipun Muhammadiyah dan NU berbeda dalam menentukan awal Ramadhan dan Idul Fitri, mereka sepakat kembali merayakan tahun baru Hijriah. Ini tidak konsisten.

Dunia Arab

Menurut JK, kita mesti bersyukur, perbedaan dalam menentukan awal Ramadhan di Indonesia tentu saja tidak separah perbedaan yang terjadi di dunia Arab yang mengarah pada peperangan sesama Muslim. Jangankan bagi orang awam, para pengamat ahli Timur Tengah pun merasa kesulitan meramalkan kapan dunia Arab akan meraih kedamaian. Infrastruktur dan kebudayaan Arab yang dibangun ratusan tahun hancur hanya dalam hitungan dekade dan akan memakan waktu lama untuk memulihkan kembali. Itu pun kalau bisa.

Begitu banyak variabel yang membuat suasana politik Timur Tengah kian semrawut dan menyedihkan. Sedikitnya, menurut JK, terdapat tujuh akar persoalan pokok yang saling berkaitan yang tak mudah diselesaikan bersamaan.

Pertama, sentimen sukuisme yang mengakar kuat di dunia Arab sejak ratusan tahun lalu yang sewaktu-waktu berpotensi menimbulkan konflik dan peperangan. Kedua, kemunculan konflik baru gerakan rakyat pseudo-demokrasi versus penguasa tiran. Gerakan rakyat ini berhasil menumbangkan Presiden Tunisia Zainuddin bin Ali, disusul jatuhnya Presiden Mesir Hosni Mubarak, lalu pemimpin Libya Moammar Khadafy, Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, dan sebelumnya dengan sebab yang berbeda didahului kejatuhan penguasa Irak Saddam Hussein. Semua itu merupakan tsunami politik di Arab yang membuat wajah Timur Tengah dan Islam semakin suram, menakutkan, dan sekaligus mengenaskan.

Ketiga, konflik kelompok Sunni dan Syiah juga telah memicu krisis politik yang berkepanjangan di Timur Tengah, yang diwakili terutama oleh Arab Saudi dan Iran, yang hal ini juga menambah runcing fraksi di Palestina, antara Fatah dan Hamas. Keempat, ditemukannya sumber minyak tidak saja menjadi sumber kemakmuran, tetapi juga sumber konflik, baik sesama negara di Timur Tengah maupun kekuatan luar yang ikut berebut ladang minyak.

Kelima, konflik historis antara keluarga Hasyimiyah di Jordan yang dikalahkan keluarga Saudi setelah bubarnya Kerajaan Usmani, yang sekarang menjadi penguasa dua kota suci Mekkah dan Madinah. Keenam, kehadiran dan peran Israel yang didukung Barat, terutama Amerika Serikat, telah menjadi bisul yang selalu membuat suhu politik dunia Arab panas serta mengakibatkan derita berkepanjangan rakyat Palestina. Ketujuh, tidak adanya pemimpin kuat yang disegani di dunia Arab yang mampu menjembatani dan mendamaikan konflik sesama mereka serta memiliki lobi dan pengaruh kuat dalam panggung internasional.

Setelah keruntuhan Kesultanan Usmani akibat kalah dalam Perang Dunia I, dunia Islam Arab mengalami krisis kepemimpinan politik dan peradaban. Wilayah Arab dikapling-kapling oleh Inggris dan Perancis dengan batas wilayah yang tidak solid karena kebanyakan merupakan padang pasir. Namun, setelah tahun 1930-an ditemukan ladang-ladang minyak, perbatasan antarnegara berubah menjadi sangat penting. Meskipun mayoritas masyarakat Arab berbicara dengan bahasa yang sama, memeluk agama yang sama, ternyata kesamaan bahasa, agama, dan daratan tidak bisa menjadi pemersatu. Kabah di Mekkah yang menjadi kiblat sembahyang dan pusat umrah serta haji seluruh umat Islam belum mampu menjadi pemersatu masyarakat Arab. Fanatisme etnis dan kepentingan dinasti tetap saja memunculkan persaingan sengit.

Krisis Suriah yang berlangsung lima tahun terakhir kian menambah suram wajah Arab. Lebih dari 5 juta jiwa warga Suriah eksodus ke luar negeri, mayoritas ke Turki. Sekitar 300.000 jiwa tewas akibat konflik bersenjata. Ironisnya lagi, ratusan ribu imigran ini sebagian justru ditampung di negara-negara Eropa non-Muslim, korban dari peperangan sesama Muslim. Di tempat yang baru ini, tak mudah bagi mereka untuk beradaptasi dengan budaya dan hukum setempat sehingga menimbulkan masalah sosial.

Selama ini, keberadaan negara Israel saja sudah cukup membuat gaduh dunia Arab, kini ditambah lagi dengan kelahiran NIIS yang seakan menjadi saudara kandung Israel dalam membuat babak belur dunia Timur Tengah. NIIS tidak pernah menyerang Israel yang jelas-jelas melakukan agresi terhadap Palestina. Mengakhiri bincang-bincang seputar kegaduhan yang terjadi di Timur Tengah, JK mengutip tulisan George Friedman dalam bukunya, The Next 100 Years, ketika terjadi kekacauan di dunia Islam, khususnya di Timur Tengah, pemenangnya tetap saja Amerika Serikat.

Muslim non-Arab

Baik Yahudi, Nasrani, maupun Islam, ketika ketiga agama itu berkembang di luar ranah kelahirannya, telah mendorong lahirnya budaya dan peradaban baru, produk akulturasi dan sinkretisme antara nilai keagamaan dan budaya lokal. Sejarah mencatat, puncak peradaban Islam di abad tengah justru tumbuh berkembang di Iran, Irak, Spanyol, dan Turki. Di empat wilayah ini, Islam bertemu terutama dengan filsafat Yunani yang sangat menekankan pemikiran rasional, termasuk masalah ketuhanan dan kenegaraan.

Merasa tertantang oleh pendekatan filosofis-rasional dan radikal warisan Aristotelianisme, lahirlah pemikir-pemikir Muslim bintang zaman, misalnya Farabi, Alkindi, Ibnu Sina, Imam Ghozali, Ibnu Rusyd, dan beberapa nama lain. Mereka bersikap kritis apresiatif terhadap peradaban non-Arab yang pada urutannya melahirkan peradaban sintetik dengan basis keislaman. Zaman itu sering dipandang sebagai masa keemasan peradaban Islam. Jadi, yang dinamakan peradaban Islam sarat dengan muatan unsur peradaban non-Arab dan non-Islam, dengan cirinya yang humanis, rasional, dan universal.

Kehadiran Islam ke Indonesia yang kemudian dipeluk mayoritas rakyat sungguh merupakan keajaiban sejarah. Banyak teori yang memberikan penjelasan rasional mengapa wilayah Nusantara menjadi kantong umat Islam terbesar di dunia. Salah satunya adalah melalui jalur perdagangan. Rempah-rempah menjadi daya tarik pedagang Muslim dari Timur Tengah datang ke Nusantara sambil menyebarkan agama. Jika teori ini betul, faktor anugerah alam memiliki peran signifikan dalam penyebaran Islam di Indonesia. Sesungguhnya tak hanya Islam, agama lain dan ideologi dunia pun berkembang subur di bumi Nusantara ini. Dengan kata lain, sejak dulu bumi Nusantara ini telah menarik orang luar datang ke sini terutama dengan motif ekonomi yang diikuti penyebaran agama, entah Hindu-Buddha, Islam, atau Kristen. Bahkan, sekarang Konghucu pun ditetapkan sebagai agama. Yang juga fenomenal, ideologi komunisme yang anti agama pun pernah berkembang luas di Indonesia yang kini digantikan oleh ideologi kapitalisme global.

Jadi, di bumi Nusantara ini sejak ratusan tahun memang telah terjadi kontestasi antar-agama dan ideologi asing. Dalam hal agama, Islam tampil sebagai pemenangnya. Namun, dalam panggung ekonomi, posisi Islam tergeser. Meskipun demikian, jangan sampai kontestasi antar-komunitas agama dan ideologi lalu mengarah pada konflik dan saling menghancurkan seperti yang terjadi di dunia Arab. Sekali perang dan saling bunuh dimulai, tak pernah akan dilupakan oleh masing-masing pihak serta sulit untuk dihentikan. Berarti kita menciptakan neraka untuk diri kita sendiri. Sebaliknya, mari menjadikan kehidupan beragama di Indonesia yang menempuh jalan moderat dan damai menjadi inspirasi dan kontribusi pada dunia. []

KOMPAS, 28 Maret 2016
Komaruddin Hidayat | Guru Besar Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah

Jalan

Sumber Tulisan : Disini

PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
@komar_hidayat

Yang namanya hidup itu berarti selalu bergerak. Salah satunya adalah berjalan. Makanya kalau kita melihat sekeliling, pasti akan ditemukan yang namanya jalan, entah jalan besar atau kecil, lurus atau berkelok, datar, naik atau turun.

Manusia selalu bergerak merupakan naluri bawaan. Selalu ingin melihat wilayah yang baru. Selalu ingin memperluas wawasan dan pengalaman hidupnya. Untuk memfasilitasi naluri sebagai peziarah ini, diciptakanlah sarana sejak dari sandal, sepatu, jalan, kendaraan hingga sekian peralatan lain agar perjalanan nyaman. Tak kalah penting, manusia juga membangun jembatan.

Tidak cukup melalui daratan, manusia juga berjalan dengan menggunakan jalur lautan dan udara. Lautan dan udara pun dikavling- kavling untuk lalu lintas kapal dan pesawat udara sehingga kemacetan tidak saja terjadi di daratan, tetapi sekarang jalan udara di atas Bandara Soekarno- Hatta Jakarta dan Adisutjipto Yogyakarta juga sering macet. Pesawat mesti antre untuk takeoff maupun landing.

Ketika perjalanan dan pengembaraan fisik untuk mengetahui luasnya dunia terhambat secara teknis, diciptakanlah internet dan teknologi fotografi serta televisi demi memenuhi dahaga berziarah berlanglang buana. Sekarang, dengan duduk di depan komputer atau televisi, kita bisa menjangkau dunia yang lebih luas dan warna-warni meskipun dalam sajian potongan-potongan gambar, rekaman video atau foto.

Orang bilang kita hidup di era visual age. Meskipun begitu, dorongan untuk melihat teritori, bukan sekadar peta, tak pernah mati. Makanya industri motor, mobil, dan pesawat selalu berkembang. Agen-agen travel pun bermunculan. Ketika realitas ini saya kaitkan dengan ajaran Islam, saya menemukan beberapa istilah konseptual di mana Islam juga sangat menekankan etos gerak.

Anda mungkin sangat akrab dengan istilah-istilah ini yang semuanya memiliki konotasi gerak dan jalan. Misalnya kata syariah, thariqah, sabilillah, hijrah, thawaf, madzhab, musafir, ziyarah, sa’i, isra’, mi’raj. Kata-kata itu semuanya mengandung makna berjalan atau bergerak baik pada level fisik maupun spiritual, berdimensi horizontal maupun vertikal. Kata syariah misalnya berasal dari sebuah jalan yang mendekatkan sumber mata air.

Oleh Islam lalu ditransendensikan sebagai jalan menuju kebahagiaan dan keselamatan dunia-akhirat. Jadi di situ Islam (dan agama pada umumnya) memberikan dimensi moral spiritual agar aktivitas hidup yang selalu ditandai dengan gerak itu memiliki tujuan yang lebih bermakna, bukan sekadar mobilitas fisik tanpa tujuan yang bersifat Ilahi. Ketika seseorang memiliki mobil, sebuah pertanyaan moral muncul.

Untuk bergerak ke mana dan untuk tujuan apa seseorang menjalankan mobilnya? Ketika kaki melangkah keluar rumah, ke mana dan untuk apa tubuh ini hendak dibawa? Semua aktivitas fisik dan intelektual yang kita lakukan ujungnya mesti mengundang pertanyaan moral, apa makna dan manfaat apa dari semua itu?

Mengabaikan pertanyaan moral sama saja menempatkan manusia tak ubahnya seperti hewan atau mesin. Pasalnya, salah satu dimensi dan misi manusia sebagai moral being adalah menegakkan nilai-nilai moral dalam kehidupannya di mana pun berada. Bayangkan saja, di mana pun pergi kita akan melihat sarana jalan dan teknologi yang mendukung agenda perjalanan manusia.

Mobilitas migrasi manusia semakin bertambah. Pergerakan manusia terjadi di sekeliling kita dan kita juga menjadi bagian dari gerak itu. Lagi-lagi, sesungguhnya apa agenda paling primer dari mobilitas ini semua? Bagi mereka yang tidak memiliki tujuan hidup mungkin saja tidak penting bertanya ke mana tubuh ini mau dibawa.

Tidak penting kaki akan berhenti di mana karena tidak memiliki tujuan. Bisa jadi yang primer adalah avoiding the pain, menghindari apa pun yang menyakitkan, lalu looking for the pleasure, mengejar apa pun yang dirasakan menyenangkan. Dalam konteks ini semua, hidup itu pun sebuah ziarah. Sebuah perjalanan. Kita tengah menelusuri lorong waktu yang kadang terasa pengap dan kadang menyegarkan.

Kadang terang dan lain kali remang-remang atau gelap. Faina tadzhabun? Ke mana engkau hendak pergi, tanya Allah dalam Alquran. Dalam perjalanan ini jika ditanyakan pada akal, ke mana ujungnya, tak lain adalah kematian.

Tapi kesadaran moral dan agama menyatakan bahwa di sana mesti ada jalan dan kehidupan lain mengingat banyak sekali utang-piutang moral seseorang yang belum lunas terbayar. Dan sungguh melukai rasa keadilan jika kematian yang menanti di pengujung jalan ini mengakhiri semua cerita dan drama kehidupan seseorang.