Islam Nusantara

 

Oleh: Komaruddin Hidayat

PERINGATAN malam Tahun Baru di Indonesia mungkin paling unik karena tidak ditemukan di negara lain. Apa itu?

Di berbagai masjid diadakan zikir dan ceramah keagamaan Islam. Padahal peralihan tahun baru Masehi itu merupakan tradisi Barat yang Kristiani, masih menjadi bagian dari perayaan Natal atau milad Yesus.

Tentu oleh umat Islam diyakini milad Nabi Isa, meskipun menyangkut tanggal menjadi perdebatan di kalangan sejarawan dan hal ini juga disadari oleh kalangan gereja. Tetapi bagi mereka yang penting adalah pemaknaan iman, bukan lagi perdebatan kalender.

Lalu, apa alasan umat Islam ikut merayakan Tahun Baru, namun diisi dengan zikir dan ceramah agama, padahal tahun baru Masehi merupakan tradisi Kristiani? Ada sekelompok ulama yang menganggap bidah menyelenggarakan peringatan tahun baru itu.

Jangankan pergantian tahun Masehi, milad atau maulud Nabi Muhammad saja tidak disetujui sebagian ulama itu, dengan alasan Rasulullah tidak pernah memperingati hari kelahirannya. Makanya, mereka ini juga menganggap bidah terhadap perayaan tahun kelahiran atau ulang tahun, ditambah lagi dengan meniup lilin. Biasanya mereka menyebut sebuah hadis, “Siapa yang meniru-niru perilaku satu kaum (kafir) maka akan masuk pada golongan mereka.”

Tetapi, ada juga yang melihatnya dari sisi budaya dan pendidikan. Pada malam Tahun Baru, daripada diisi hura-hura yang tidak bermutu, bahkan cenderung mendekatkan pada tindakan maksiat, bukankah lebih baik diisi zikir dan pengajian di masjid? Adapun pergantian tahun itu adalah produk sejarah. Produk budaya.

Semasa Nabi Isa ataupun Yesus hidup juga tak dikenal nyanyian gereja dan perayaan Tahun Baru seperti sekarang ini. Itu semua adalah ijtihad budaya, bukan soal keimanan. Jadi, selama dari sisi akidah dan iman tidak mengganggu, perayaan tahun baru Masehi tidak apa-apa.

Bahkan yang namanya tahun baru Hijriah ketika masa hidup Rasulullah Muhammad juga belum dikenal. Nabi Muhammad sendiri dikenal hari kelahirannya dengan dikaitkan dengan kedatangan tentara gajah di bawah Raja Abrahah yang hendak menghancurkan Kakbah.

Kreasi atau bidah budaya keagamaan itu adalah khas kekayaan Islam Nusantara. Tentu saja di berbagai dunia Islam lain juga terjadi bidah budaya.

Tetapi mungkin Indonesia paling kaya ragamnya, mengingat masyarakat Nusantara ini sangat majemuk, plural, dan sangat kental diwarnai oleh tradisi Hindu-Budha sebelum Islam datang. Misalnya saja, di daerah pesisir utara Jawa Tengah umat Islam sudah terbiasa menyembelih kerbau sebagai hewan kurban, bukannya sapi.. Dipilih kerbau agar tidak melukai perasaan umat Hindu yang memuliakan sapi. Ini suatu sikap toleran yang sangat bijak, tanpa menghilangkan esensi dan fungsi kurban.

Misalnya lagi, pemaknaan baru terhadap tumpengan yang semula sebagai sesajen. Diubah maknanya sebagai rasa syukur kepada Allah, makanannya lalu dimakan ramai-ramai dan bangunan gunungan tumpeng serta makanan di kaki gunungan diberi makna baru. Orang yang beriman, yang tertuju kepada Allah, hendaknya senantiasa bersyukur dan senang berbagi kepada orang-orang di sekitar. Makanya, di kaki gunungan tumpeng itu terdapat berbagai ragam makanan untuk dinikmati ramai-ramai.

Perilaku orang beriman itu senantiasa melimpah, tidak mengancam orang-orang di sekitarnya, melainkan membawa rahmat dan damai. Dakwah seperti itulah yang dulu disampaikan Wali Sanga sehingga dalam sejarah Islam, masuknya Islam ke Nusantara ini berlangsung damai, bukan dengan penaklukan senjata.

Jadi, ajaran dasar Islam itu sama. Isi rukun Islam dan rukun Iman itu sama. Tetapi penafsiran dan kontekstualisasi dalam ranah sosial dan budaya bisa berbeda-beda.

Sejarah juga mencatat perkembangan sains dalam Islam pernah berkembang pesat ketika Islam berbaur dan tertantang oleh budaya baru di luar tanah kelahirannya, Mekkah dan Madinah. Ilmu fikih, filsafat, dan tasawuf pun begitu juga halnya.

Dalam hal budaya dan sains, inovasi dan kreasi atau bidah itu justru suatu kebutuhan. Tentang ekspresi keislaman Nusantara ini bisa dikembangkan lagi secara panjang lebar. []

KORAN SINDO, 5 Januari 2018

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Ihwal Nama

Oleh: Komaruddin Hidayat
SALAH satu peristiwa penting dalam kehidupan rumah tangga adalah memberi nama ketika bayi lahir. Biasanya orang tua telah menyiapkan nama untuknya. Sangat menarik mengamati berbagai nama di Nusantara yang memiliki ciri dan keragaman sangat banyak.
Ada nama yang mengandung doa, ada yang berkaitan dengan nama tempat kelahiran, ada nama yang diasosiasikan dengan tanggal dan bulan kelahiran, dan ada nama yang merupakan gabungan nama ayah dan ibunya. Ada juga nama yang dikaitkan dengan peristiwa politik serta tokoh kenamaan.
Jika diamati secara sekilas, mayoritas warga Indonesia bagian barat dekat dengan tradisi Islam, sedangkan timur dengan tradisi Kristen, yang keduanya berpengaruh dalam pemilihan nama. Lalu, wilayah Jawa kental dengan pengaruh Hindu-Buddha dan pewayangan.
Tetapi seiring dengan jalannya waktu, pemilihan nama itu juga berkembang. Ambil saja contoh Aceh, Batak, dan Minang, masing-masing memiliki ciri yang mudah dibedakan.
Aceh kental dengan pengaruh Arab Islam, Batak dengan nuansa marganya, dan Minang mengalami transformasi signifikan setelah terjadi pemberontakan PRRI (Pemerintah Revolusioner  Republik Indonesia) yang diproklamasikan pada 15 Februari 1958 dan berakhir ditumpas pada 1960.
Orang Minang dulunya memberi nama anak-anaknya kental dengan pengaruh Arab Islam, daerah dan suku, tetapi pascaperistiwa PRRI, nama anak-anak Minang lalu berubah dengan nuansa Barat, Persia, dan Jawa.
Tujuannya untuk memutus mata rantai yang menjadi beban sejarah agar tidak menghalangi karier politik, bisnis, dan pergaulan sosial ketika pihak pemerintah  menganggap mereka sebagai keluarga pemberontak. Namun, perasaan trauma itu sekarang sudah berlalu.
Beberapa contoh nama orang Minang yang berubah pasca-PRRI misalnya: Andrinof Chaniago, Arzetti Bilbina, Bastian Tito, Edwar Djamaris, Elprisdat M Zein, Jeffrie Geovanie, Philips Jusario Vermonte, Pia Zebadiah Bernadet, Wisber Loeis, Robert Kenedi, Irwan Prayitno, Sudirman, Masno, Azyumardi Azra, berbeda dari kebiasaan nama-nama orang tua mereka.
Pergantian nama karena pertimbangan politik juga terjadi di kalangan keluarga keturunan Tionghoa pascaperistiwa Gestapu 1965 yang menimbulkan terputusnya hubungan diplomatik Jakarta-Beijing antara 1967–1990. Banyak komunitas China yang pulang kembali ke RRC, tapi lebih banyak warga keturunan yang tetap tinggal di Indonesia dengan mengganti nama, misalnya saja Rudy Hartono Kurniawan, maestro bulu tangkis, nama aslinya Nio Hap Liang; Mochtar Riady (Lio Mo Tie) seorang pengusaha kenamaan pendiri Lippo Group; Alim Markus (Liem Boen Kwang), pemilik Maspion Group; Eka Tjipta Widjaja (Oei Ek Tjhong), pendiri dan pemilik Grup Sinar Mas. Hanya sedikit yang percaya diri dengan tetap memakai nama Tionghoa, misalnya Kwik Kian Gie, Mely G Tan, dan Liem Swie King.
Di daerah Manado dan Indonesia bagian timur memiliki kedekatan nama dengan Barat yang kristiani, terutama Portugis, seperti John Titaley, Ignas Kleden, Manuel Kasieppo, Rikard Bagun, Don Bosco, Freddy Numberi, Bob Tutupoli, Daniel Sahuleka, Daniel Dakidae.
Di Jawa masih kuat pengaruh bahasa dan tradisi Sanskerta serta dunia pewayangan. Sebut saja Soekarno, Soeharto, Kasman Singodimedjo, Sudarmono, Try Sutrisno, Sumarsono, Gatot Subroto, Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, Suprapto, Moerdiono.
Ada lagi yang dikombinasikan dengan identitas kesantrian, misalnya Dawam Rahardjo, Yusuf Wibisono, Aqib Suminto, Mohamad Roem, Ahmad Suryodipuro, Syafrudin Prawironegoro. Adapun yang terinspirasi oleh tokoh pewayangan seperti Arjuna, Abimanyu, Dewi Sinta, Nawang Wulan, Arimbi, Punta Dewa, Danang Parikesit, dan semacamnya.

 

Namun bagi keluarga generasi milenium yang lahir dekade ‘80-an, mereka memberi nama anak-anaknya punya selera dan referensi lain lagi. Antara lain gabungan nama ayah-ibunya, seperti Maya Susanti, lahir pada Mei, anak dari pasangan Susanto dan Yanti. Atau Alan Agusta, anak dari Lembah Anai, lahir Agustus. Ada penyanyi bernama Evi Tamala, Evi dari Tasikmalaya.
Mereka yang masih setia berpegang pada pengaruh Arab-Islam juga mengalami perubahan. Misalnya Nisa, yang pada generasi orang tuanya adalah Anisah. Namira, dulu digunakan kata Namiroh. Fatima, dulunya Fatimah.
Dalam masyarakat Jawa, ada pandangan bahwa nama itu hendaknya selaras dengan status sosialnya. Ada nama yang lazim digunakan di lingkungan keraton atau ningrat, nama untuk kalangan santri kauman, dan nama untuk rakyat biasa. Ada orang yang sakit-sakitan dan agar sehat kembali mesti berganti nama, karena nama yang melekat dianggap keberatan.
Banyak rakyat awam yang memiliki nama Bejo, dengan harapan agar hidupnya memperoleh keberuntungan. Ada lagi Slamet, Paijo, Poniman, Ngadimin, Ngadiyem, Ngatinah. Nama-nama ini mengisyaratkan mereka datang bukan dari kalangan ningrat.
Dengan menganalisis sebuah nama, kita akan terbantu mengetahui asal-usul wilayah, budaya, dan kelas sosialnya. Namun, semua itu sekarang secara perlahan mengalami perubahan dengan semakin majunya pendidikan sehingga derajat seseorang bukan ditentukan oleh hubungan darah, melainkan prestasi pendidikan.
Kecuali dicantumkan nama marganya, kadang kita sulit mengetahui asal-usul seseorang hanya lewat namanya. Atau yang menggunakan nama Arab-Islam dari sisi agama mudah ditebak, mereka dari kalangan santri atau kauman, meskipun tidak selalu benar. Misalnya dari segi nama kalau kita mendengar nama Datuk Tahir, Nursalim, Teddy Rahmat, mungkin sekali menyangka mereka itu seorang muslim, padahal warga keturunan Tionghoa dan nonmuslim.  
Membahas soal nama ini sesungguhnya pembaca bisa menelusuri asal-usul namanya sendiri dan mengapa orang tua memberi nama yang melekat pada dirinya. Tanyakan dan diskusikan saja dengan orang tua, apa makna dan harapan di balik nama yang dilekatkan itu.  
Begitu pun bagi orang tua yang telah dianugerahi anak, Anda memiliki selera dan alasan tersendiri ketika memilih nama untuk putra-putri Anda. Apakah ada unsur doa, atau sekadar enak didengar dan diucapkan, atau pengingat peristiwa kelahirannya, atau ada penjelasan lain.
Jika dulu banyak orang tua datang ke ahli agama atau tokoh masyarakat untuk minta nama bagi anaknya, sekarang di toko buku dijual contoh dan daftar nama-nama yang diambil dari berbagai sumber agama, bangsa, dan kitab suci. Anda tinggal pilih atau dijadikan sumber inspirasi.
Ingat, nama itu bukan sekadar barang yang melekat bagaikan baju. Nama itu pada urutannya menyatu dengan identitas, kepribadian, dan sejarah seseorang, bahkan juga menyangkut martabat keluarganya. Bayangkan, bagaimana yang terjadi dengan relasi dan komunikasi sosial andaikan seseorang tidak punya nama? []

 

KORAN SINDO, 22 September 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Textual Culture

Oleh: Komaruddin Hidayat

DARI sekian banyak agama, Islam paling menonjol dalam hal menghargai budaya tulis, dan paling kaya warisannya dalam teks keagamaan. Ini bermula dari keyakinan umat Islam dan bukti sejarah, bahwa wahyu dan mukjizat yang diberikan Allah pada Nabi Muhammad adalah kitab suci Alquran, bukan mukjizat seperti Rasul sebelumnya berupa peristiwa fisik-inderawi. Seperti Nabi Musa membelah lautan, Nabi Ibrahim tidak terbakar api, atau peristiwa banjir semasa Nabi Nuh.

Pada awalnya Alquran diwahyukan lalu dihafalkan, namun perkembangan seterusnya diabadikan dalam bentuk tulisan. Jadi, tradisi lisan dan tulisan berkembang bareng. Setahu saya tradisi menghafal kitab suci hanya terjadi di kalangan umat Islam.

Penghargaan pada teks Alquran begitu tinggi karena Alquran diyakini sebagai firman Tuhan yang suci dan tidak boleh diubah. Makanya umat Islam sangat teguh membela kesucian Alquran, termasuk membela teks produk percetakan modern. Yang dibela substansinya, namun kertasnya ikut dimuliakan selagi di situ tertulis ayat-ayat Alquran.

Karena Alquran itu berbahasa Arab, maka kitab ini sudah diterjemahkan ke ratusan bahasa lain dengan jumlah eksemplar yang tak terhitung lagi. Yang juga sangat unik dan khas dalam tradisi Islam, Alquran telah mendorong lahirnya studi ilmu tafsir dan setiap zaman muncul ulama tafsir yang bertujuan menggali dan menemukan mutiara pesan-pesan Alquran yang tersembunyi di balik kata dan bahasa itu.

Makanya kita mengenal ratusan dan ribuan buku yang berusaha menafsirkan dan menguraikan ayat-ayat Alquran, baik yang utuh 30 juz maupun sebatas penggalan-penggalan surat dan ayatnya saja.

Di samping Alquran, munculnya budaya teks datang dari himpunan sabda Nabi Muhammad yang kemudian ditulis dan terhimpun dalam teks hadist, baik ucapan Nabi yang diyakini otentik, sahih, maupun riwayat yang dianggap lemah dan palsu. Kesemuanya terhimpun, untuk dokumentasi dan objek penelitian untuk membedakan mana riwayat hadist yang sahih dan palsu.

Kenyataan ini ikut memperkaya dan memperkuat tradisi penelitian, pemeliharaan dan penulisan teks sebagai tafsiran dan ulasan atas teks Alquran dan Hadist. Karena kedua sumbernya dianggap datang dari Tuhan, maka umat Islam sangat memuliakan kitab suci maupun hadist.

Jadi, pada abad ke-6 sampai ke-13, dunia Islam merupakan masyarakat yang paling maju, paling mengenal dan menghargai tradisi baca tulis. Ketika dunia Barat masih dalam kegelapan, dunia Islam telah terang benderang, bermunculan pusat-pusat studi keilmuan yang sangat produktif melahirkn teks.

Buku-buku klasik warisan Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Arab yang pada urutannya menyebar ke Eropa. Namun perkembangan selanjutnya pusat-pusat kemajuan dunia bergeser.

Ketika dunia Islam cukup puas dengan warisan budaya tekstual dan disibukkan oleh perebutan kekuasaan politik, Eropa meneruskan apa yang dirintis dunia Islam dalam bidang ilmu pengetahuan empiris warisan Yunani yang diperkenalkan oleh ilmuwan muslim.

Tidak sekadar mewarisi dan meneruskan, secara kreatif dan inovatif Eropa mengembangkannya. Makanya khazanah teks keagamaan tetap terjaga dalam Islam sampai hari ini, namun kegiatan riset keilmuan empiris telah beralih dan berkembang pesat di Barat. Umat Islam terpaku pada pendekatan jadali dan mau’idhoh dalam memaknai dan mengembangkan Islam.

Metode jadali itu sebuah pendekatan debat beradu dalil dan argumen, sedangkan mau’idhoh itu nasihat berupa ceramah-ceramah, tapi sangat kurang mengembangkan pendekatan riset empiris dengan menggunakan instrumen laboratorium. Juga melemah pendekatan bilhikmah atau filosofis dengan metode burhani atau demonstratif thinking.

Akibatnya, wajah dunia Islam tak lagi ditandai sebagai pusat ilmu pengetahuan dan kajian filsafat yang berdiri paling depan. Yang menonjol tradisi ritual dan budaya tekstual keagamaan yang diperdebatkan dan diceramahkan.

Budaya ceramah dan kesetiaan pada tradisi teks sangat kuat, namun tidak diimbangi dengan inovasi sains empiris. Ini juga terlihat di Indonesia. Akan dianggap kurang Islami kalau sebuah pidato tanpa disertai teks suci.

Semakin banyak menyebut teks akan dinilai semakin Islami. Padahal kalau kita baca Alquran banyak ayatnya yang menyuruh membaca dan melakukan rekayasa ayat kauniyah atau ayat semesta secara saintifik empiris yang pada urutannya melahirkan teknologi modern.

Karena cara berpikirnya seperti itu, maka banyak yang heran dan protes ketika UIN Jakarta mendirikan fakultas umum, misalnya Fakultas Kedokteran. Dinilainya itu akan mengurangi perhatiannya pada kajian Islam.

Mereka lupa bahwa Islam menyuruh umatnya sehat, maka wajib mendirikan Fakultas Kedokteran. Islam menyuruh akuntabel dalam transaksi bisnis, maka UIN wajib membuka program studi akuntansi. Demikianlah seterusnya.

Jadi, pemikiran dikotomis antara ilmu agama dan ilmu umum itu dalam Islam hanya dikenal secara epistemologis sebagai disiplin keilmuan, namun bukan sebagai moda kehidupan (way of life) dan moda berfikir (mode of thinking). Jika mindset ini tidak berubah, siap-siap saja menghadapi kekalahan atau bahkan ditaklukkan oleh dunia non-muslim yang lebih maju dalam bidang sains, teknologi dan senjatanya. Dan itu sudah dan tengah terjadi. []

KORAN SINDO, 20 Januari 2017
Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Siapa Pembela Alquran

Oleh: Komaruddin Hidayat

SIAPA pun orangnya kalau hak milik yang sangat dicintai dan dihargainya dihina pasti akan tersinggung. Misalnya ada orang menghina famili, suku, agama atau kitab suci yang dimuliakannya, pasti dia akan tersinggung dan marah.

Hanya cara dan ekspresi kemarahannya berbeda-beda. Ada yang sangat emosional, ada yang sedang-sedang saja, atau mungkin malah ada yang balik menasihatinya dengan cerdas dan lemah lembut.

Bagi mereka yang biasa membaca karya tulis orientalis, sangat banyak dijumpai tulisan mereka yang mencerca, memfitnah serta merendahkan Nabi Muhammad SAW dan Alquran. Untung saja buku-buku itu tidak diakses dan dibaca oleh kebanyakan umat Islam sehingga tidak memancing kemarahan.

Di antara buku-buku itu terkesan ingin merendahkan citra Nabi Muhammad dengan menyajikan cerita-cerita palsu yang dikemas secara rasional untuk meyakinkan pembaca. Jika mereka berhasil merendahkan Nabi Muhammad, implikasi lanjutan yang dikehendaki adalah untuk merendahkan dan tidak memercayai warisannya, terutama Alquran.

Jadi, kalau sosok pembawanya berhasil didegradasi, maka konsekuensinya Alquran yang disampaikan kehilangan kesahihannya. Menurun wibawanya.

Namun, uniknya, yang membela dan mengkritik balik karya orientalis yang menyudutkan Islam itu sebagian adalah juga orientalis Barat yang karena integritas keilmuannya mengoreksi kesalahan mereka. Dengan demikian, secara ilmiah historis yang ikut membela kerasulan Muhammad dan Alquran tidak dimonopoli oleh umat islam saja.

Di dalam Alquran Surat Al-Hijr (15: 9) dinyatakan, “Sungguh Kami telah menurunkan Alquran, dan Kami pasti akan menjaganya.” Dalam ilmu tafsir, jika digunakan kata “Kami”, berarti Allah melibatkan aktor lain. Mungkin sekali yang dimaksud adalah Rasulullah Muhammad dan orang-orang yang mengimani dan mencintai Alquran yang senantiasa menjaga kesucian dan kemuliaan Alquran.

Bagi orang-orang nonmuslim, kekaguman kepada Alquran adalah jika melihat orang-orang muslim berhasil membangun akhlak mulia dan peradaban luhur berkat pengamalannya terhadap isi Alquran. Makanya ketika Aisyah, isteri Nabi, ditanya, bisakah secara singkat digambarkan bagaimana akhlak Rasulullah itu? Akhlaquhul quran. Alquran itulah akhlak Nabi.

Sosok pemimpin yang berhasil mengubah watak Umar bin Khattab yang semula beringas, penyembah berhala, dan tega mengubur hidup-hidup anak perempuannya berubah total menjadi pribadi yang amat sederhana, rendah hati, adil, tegas dan berwibawa. Yang mudah menangis melihat penderitaan orang lain dan ketika bersujud.

Dalam episode sejarah Islam, yang paling menonjol membela proses pewahyuan dan kompilasi Alquran adalah para sahabat Nabi. Tapi setelah Alquran utuh dan diabadikan dalam wujud mushaf/buku atau sekarang dengan teknologi digital, Alquran hadir menemui para penantang dan pembacanya tanpa ada pembelanya.

Sebagai mukjizat ilahi, Alquran sanggup membela dirinya sendiri, bahkan menaklukkan lawan-lawannya sebagaimana Umar bin Khattab tergetar hatinya mendengarkan sentuhan Alquran lalu menyatakan memeluk Islam.

Bagi sebagian orang, justru Alquran yang menjadi penunjuk jalan dan pembela umat Islam agar menang menghadapi berbagai jebakan thaghut dan setan. Tapi, sekali lagi, jika ada orang yang menodai Alquran memang mesti diingatkan dengan cara yang simpatik, siapa tahu dengan begitu nantinya akan jatuh cinta dan mengimani Alquran.

Untuk memuliakan Alquran, cara terbaik adalah mengimani dan mengamalkannya agar menjadi manusia teladan (uswah hasanah) dan pembawa rahmat bagi lingkungannya. Menurut para pakar, generasi awal Islam maju dan disegani dunia karena mengamalkan Alquran yang membuahkan peradaban unggul pencerah zaman.

Tapi sekarang sebagian orang memilih-milih surat dan ayat sebagai legitimasi untuk membunuh orang sehingga muncul sinisme dan salah paham bahwa Alquran dianggapnya sebagai kitab penyebar kebencian, bukannya rahmat dan kasih sayang. []

Koran Sindo, 16 Desember 2016
Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Budaya Mudik Lebaran

Oleh: Komaruddin Hidayat

RASULULLAH mengingatkan umatnya, ibarat memacu kuda maka mendekati garis finis hendaknya larinya semakin kencang agar menjadi pemenang. Begitu pun dalam ibadah puasa Ramadan, di 10 hari terakhir hendaknya diperbanyak ibadah karena hari-hari itu justru akan menentukan kualitas dan keutuhan ibadah Ramadan. Namun, rupanya yang lebih heboh ialah agenda pulang mudik. Semoga saja mudik Lebaran pun akan tercatat sebagai ibadah.

Fenomena Lebaran telah berakar kuat dalam masyarakat dan ini akan tetap bertahan terus terlebih ketika urbanisasi juga semakin meningkat.

Pengamat asing mengatakan orang Indonesia, khususnya Jawa, they are very much attached to their lands. Masyarakat kita sangat terikat kuat dengan tanah air dan kampung halaman.

Itu terbukti, ketika keluarga yang mengalami rumah hancur terkena tanah longsor ditawari pindah tempat oleh pemerintah, mereka menolak pindah. Jadi, masyarakat Indonesia bukan bangsa yang senang berdiaspora. Mangan ora mangan asal ngumpul.

Tentu saja di kalangan generasi muda sudah mulai kendur ikatan etnik dan kedaerahan, mereka berkarier dan hidup di rantau. Namun, sangat jauh jika dibandingkan dengan masyarakat Tionghoa, Turki, India, dan Yahudi, yang tinggal dan membangun komunitas di luar negeri.

Dugaan saya, kata lebaran berasal dari bahasa Jawa, yang berarti seseorang sudah selesai menyelenggarakan sebuah hajatan. Itulah hajatan melaksanakan perintah puasa selama Ramadan. Dengan hadirnya Hari Lebaran, seseorang diajarkan untuk lebur, yaitu menyatu kembali dengan sesama hamba Tuhan, apa pun status sosialnya, setelah kembali ke fitrahnya.

Itu ditandai dengan diselenggarakannya acara halalbihalal di lingkungan perkantoran dan masyarakat, sebuah forum untuk saling memaafkan dan memperkukuh rajutan sosial.

Lebaran juga mendorong munculnya sikap luber, yaitu sikap filantropis, senang berbagi rezeki, mensyukuri anugerah Tuhan yang diterimanya selama ini. Karena itu, banyak keluarga muslim yang mengeluarkan zakat tahunan serta sedekah sehabis Ramadan, di luar zakat fitrah. Tradisi mudik pulang kampung juga menjadi medium untuk mengekspresikan rasa syukur setelah puasa sebulan yang di dalamnya terkandung semangat lebur dan luber.

Kreasi masyarakat

Tradisi yang memiliki dimensi keagamaan sulit hilang atau dihilangkan dari masyarakat, seperti di Bali tempat agama dan budaya telah menyatu. Di Indonesia, budaya Lebaran justru semakin meriah dan menguat karena dampak ekonomi dan sosialnya sangat positif bagi masyarakat dan negara.

Budaya Lebaran secara signifikan ikut memperkukuh kohesi sosial dan mendukung pemerataan ekonomi. Mobilitas warga yang sedemikian masif telah mendorong pembangunan infrastruktur dan menghidupkan bisnis transportasi nasional dengan segala turunannya. Tradisi pulang mudik yang awalnya hanya populer di kalangan masyarakat Jawa sekarang juga menular ke luar Jawa.

Festival yang telah mentradisi yang diciptakan negara ialah peringatan kemerdekaan 17 Agustus. Namun, dampak sosial ekonominya tidak sebesar dan seheboh Lebaran. Begitu pun pesta tahun baru. Gebyarnya hanya sesaat dan miskin aura keagamaannya. Namun, suasana Ramadan yang ditutup dengan Idul Fitri sangat kental aura religiositasnya.

Banyak orang yang mengeluarkan zakat dan sedekah pada bulan Ramadan sehingga ketika tiba Hari Lebaran suasana batin terasa lega. Masing-masing merasa saling memaafkan dan dimaafkan.

Suasana yang demikian ini bukan hasil rekayasa politik, melainkan benar-benar tumbuh dari bawah, keluar dari hati yang selalu ingin memperbaiki kualitas hidup dan merasakan nikmatnya kebersamaan, toleransi, dan kedamaian yang muncul dari penghayatan iman.

Konon sejarahnya, di Eropa hari libur Sabtu dan Minggu disebut holiday karena diinspirasi Bibel bahwa Tuhan istirahat mengurus dunia pada Sabtu. Karena itu, manusia juga istirahat dari kerja mengejar duniawi lalu diganti dengan acara ritual memuja Tuhan sehingga pada holy-day, hari suci, orang pergi ke gereja atau kuil untuk memuja Tuhan.

Namun, sekarang telah terjadi proses sekularisasi, nilai-nilai keagamaan justru hilang pada holiday, yang menonjol ialah pesta duniawi yang penuh hura-hura. Ketika saya jalan-jalan ke Eropa Timur masih terdapat sisa-sisa tradisi Kristen kuno. Ketika datang Sabtu dan Minggu, toko-toko tutup sekalipun banyak turis. Itu pengaruh metafora Bibel, bahwa Sabtu Tuhan pun istirahat sehingga manusia juga mesti istirahat lalu diganti dengan memperbanyak berdoa dan bekerja bakti, tidak mencari uang.

Dari sekian banyak tradisi, jika di dalamnya ada unsur keagamaan, biasanya itu akan mampu bertahan lama. Contoh yang fenomenal ialah masyarakat Hindu Bali, antara ritual keagamaan dan budaya telah menyatu, bahkan menjadi daya tarik turis yang mendatangkan devisa.

Bagi masyarakat Islam Indonesia, selama Ramadan juga berkembang tradisi berbuka bersama. Jusuf Kalla, wakil presiden, pernah berujar kepada saya, puasa itu hanya sebulan, tapi acara berbuka puasa bisa 50 kali, karena mesti menghadiri undangan acara buka bersama di berbagai tempat.

Ketika Lebaran tiba, yang paling utama dari segi agama ialah mendirikan salat Idul Fitri di lapangan atau masjid agung. Namun, yang membuat heboh ialah acara pulang mudik kumpul keluarga, dilanjutkan dengan silaturahim saling memaafkan dan menikmati hidangan Lebaran bersama tetangga dan sanak saudara.

Silaturahim itu juga diselenggarakan di perkantoran, biasanya pada minggu pertama masuk kerja, diikuti semua karyawan lintas agama.

Mengingat animo pulang mudik tetap tinggi, syukurlah pemerintah selalu berusaha meningkatkan kenyamanan dan keamanan acara mudik berupa perbaikan infrastruktur sehingga budaya Lebaran semakin terasa ramah dan menggembirakan. Orang bilang, kalau tidak mudik, Lebarannya serasa hanya separuh. []

MEDIA INDONESIA, 02 Juli 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Memaafkan Itu Sehat

Oleh: Komaruddin Hidayat

Agama selalu memberi pujian kepada orang yang saling memaafkan. Jika berbuat salah jangan segansegan mengakui kesalahannya serta meminta maaf dan pihak yang dimintai jangan pelit untuk memaafkan.

Semuanya hendaknya dilakukan dengan tulus. Bahkan sekalipun terhadap musuh, memaafkan itu tindakan yang terpuji. Namun ihwal maaf-memaafkan ini pada praktiknya tidak semudah membicarakannya. Baik meminta maupun memberi maaf itu berat. Jika itu terjadi antarnegara, praktiknya semakin berat karena ada unsur gengsi dan harga diri sebuah negara.

Kebenaran ajaran agama tentang maaf-memaafkan ini tidak sulit dibuktikan secara empiris dengan bantuan ilmu jiwa. Orang yang hatinya dipenuhi rasa marah, dendam, dan kecewa kepada orang lain pasti terasa berat membawanya. Bayangkan, orang membawa beban fisik saja meskipun ringan jika terus-menerus dibawa pasti akan letih, capai. Lama-lama akan terasa semakin berat.

Begitu juga halnya orang yang menyimpan kejengkelan dan kebencian di hati, lamalama akan semakin terasa berat jika tidak dilepaskan. Ada orang yang melepaskan kebencian dengan cara menumpahkannya kepada orang yang dibenci. Apa yang terjadi? Bisa jadi akan lepas sementara, tapi setelahnya justru akan membesar jika terjadi perlawanan balik.

Perhatikan saja, sering terjadi perkelahian fisik yang bermula dari adu mulut. Akibatnya luka di hati kian menganga. Makanya cara terbaik mengurangi beban yang menjadi penyakit hati adalah saling memaafkan. Ketika orang memaafkan dengan tulus, yang pertama diuntungkan adalah pihak yang memaafkan karena dengan begitu dia telah menaruh dan membuang beban di hatinya.

Ada sebuah eksperimentasi yang dilakukan seorang guru kepada murid-muridnya. Mereka disuruh membawa kentang masingmasing lima biji. Lalu anak-anak diminta menuliskan nama lima orangyangmerekabenci. Setelah itu dimasukkan di kantong plastik dan dibiarkan terbuka, tidak bolehdiikat rapat.

Kantongberisi kentang itu mesti dibawa ke mana pun mereka berada, bahkan juga ketika mau tidur agar diletakkan di sampingnya atau ke kamar kecil, selama seminggu. Sebelum hari kelima, anakanak mulai mencium bau kentang busuk. Muncul rasa risi. Mereka menanti tibanya hari pembebasan, hari ketujuh.

Tiba harinya anak-anak pergi ke sekolah dengan semangat karena sudah tak tahan lagi dengan bau busuk itu. Lalu bu guru menyuruh membuang kentang busuk itu. Namun sebelumnya bu guru bertanya kepada muridmuridnya, ”Bagaimana pengalamanmu dengan kentang-kentang yang kamu bawa itu?” Murid menjawab, ”Bau Bu, kami tidak tahan. Seminggu serasa lama sekali ke mana-mana diikuti bau busuk.”

Bu guru pun meneruskan nasihatnya. Begitulah contoh nyata yang sudah mereka rasakan dan alami sendiri bahwa jika anak-anak itu menyimpan hati busuk berupa kebencian, iri, dan dengki, mereka sendiri yang akan tersiksa dan merugi. Tapi begitu kentang busuk itu dibuang, legalah hati anak-anak semua.

Merasa terbebaskan dari penderitaan bau busuk. Begitu juga halnya jika anak-anak menjaga hatinya selalu bersih, saling memaafkan, pasti hati serasa lapang dan hidup nyaman dijalani. Demikianlah, di balik perintah agama agar kita saling menolong dan maaf-memaafkan, secara empiris ternyata kebaikannya kembali kepada manusia.

Allah tidak mengambil keuntungan dari kebaikan hamba- Nya, tidak juga dirugikan atas kejahatan hamba-Nya. Allah tetap Maha Agung, terlepas manusia akan menyembah- Nya ataukah tidak. Allah tetap Maha Kaya dan mandiri, apakah hamba-Nya mau bersyukur atau mengingkari anugerah rezeki- Nya. Maaf-memaafkan ini tidak saja ketika datang hari Lebaran, tetapi jika ingin hidup sehat, setiap saat sebaiknya hal itu kita lakukan jika kita merasa terjadi gesekan dengan keluarga atau teman. []

KORAN SINDO, 01 Juli 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Mengapa Mudah Marah?

Oleh: Komaruddin Hidayat

AKHIR-AKHIR ini masyarakat kita mudah marah, bahkan mengamuk dan tega membunuh teman sendiri. Tentu alasan mereka beraneka ragam. Secara psikologis, orang marah itu bisa jadi disebabkan beberapa hal, yaitu merasa tersinggung atau dihinakan, kepentingan terancam oleh pihak lain, merasa dizalimi dan dirugikan, iri dan dengki, merasa keamanan dan kenyamanan hidup terancam, sakit jiwa, terprovokasi, terbawa arus perilaku kelompok karena dorongan solidaritas, pesanan dengan imbalan uang, motif berjuang membela Tuhan menurut versi keyakinannya, dan ketika jalan damai dan nalar sehat gagal untuk menemukan solusi persengketaan.

Mungkin saja terdapat motif dan penyebab lain seseorang mudah marah. Dorongan marah dan mengamuk itu mudah terekspresikan manakala seseorang bergabung dalam kelompok yang masif, sementara pemerintah atau pemimpin masyarakat lemah, lengah, dan kehilangan wibawa.

Biasanya seseorang akan berpikir ulang untuk melakukan tindak kekerasan kalau sendirian, tapi akan muncul keberanian kalau bergabung ke dalam kelompok. Itu disebabkan perilaku kelompok cenderung emosional dan menggeser nalar sehat.

Melawan ketidakadilan

Sejarah mencatat berbagai pergolakan sosial biasanya dilakukan mereka yang merasa teraniaya atau dizalimi kelompok lain yang lebih kuat. Perasaan teraniaya itu jika membesar dan mengental akan menjadi sikap perlawanan yang pada urutannya akan menjelma menjadi kekuatan militan yang tidak takut risiko apa pun, termasuk risiko kematian.

Itu terjadi dulu semasa perjuangan perlawanan penjajah Belanda, yang hari ini juga dilakukan para pejuang Palestina melawan hegemoni Israel, atau dulu ditunjukkan warga Vietnam melawan tentara Amerika. Perjuangan manusia mencari keadilan, meraih kemerdekaan, dan perubahan nasib selalu muncul sepanjang sejarah.

Konsep keadilan dan kemerdekaan memang tidak mudah didefinisikan. Namun, mereka yang terzalimi dan terjajah tak perlu penjelasan ilmiah karena langsung merasakan dan mengalami secara nyata dan autentik sehingga melahirkan energi untuk marah dan melakukan perlawanan sesuai dengan kemampuan dan keberanian.

Jadi, jika di berbagai tempat terjadi gejolak dan konflik sosial, sebaiknya kita jangan buru-buru menghakimi, tapi mengkaji secara jernih, mendalam, dan objektif apa sesungguhnya akar permasalahannya sehingga seseorang atau sekelompok masyarakat marah dan mengamuk. Namun, yang lebih penting lagi ialah pemerintah bersama tokoh masyarakat bergandengan tangan mencegah agar tidak terjadi benturan fisik.

Kita semua saudara yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga kerukunan dan kedamaian rumah kita, Indonesia. Belum cukupkah pelajaran pahit akibat perang saudara yang terjadi di Mesir, Libia, Irak, Yaman, dan Suriah? Sekali konflik fisik terjadi, sungguh tidak mudah untuk mengakhiri dan mendamaikan. Itu akan menyisakan luka dalam yang sewaktu-waktu akan terasa perih dan kambuh kembali.

Konflik keagamaan

Belakangan ini keresahan dan konflik sosial yang muncul justru berakar pada paham keagamaan, terutama yang terjadi di Timur Tengah yang berimbas ke Indonesia, misalnya, antara kelompok penganut mazhab Sunni dan Syiah, yang akar persoalannya lebih pada perebutan akses politik dan ekonomi.

Di Indonesia yang sejak awal masyarakatnya sudah sangat plural dari segi budaya, agama, dan aliran kepercayaan, perbedaan keyakinan agama ini mestinya tidak dijadikan alasan untuk bertikai, mengancam, dan menafikan yang lain. Kalau pun agama terlibat dalam konflik antarkelompok, pasti ada faktor-faktor politik dan ekonomi yang dominan. Situasi akan semakin runyam jika pemerintah melakukan pembiaran atau tidak segera meredam.

Misalnya, kelompok Ahmadiyah, mengapa baru sekarang diributkan? Dunia ini semakin plural. Jika hanya karena perbedaan keyakinan agama lalu menimbulkan konflik sosial, saya kira ke depan masyarakat kita akan dibuat lelah dan marah terus-menerus karena perbedaan dan keragaman pendapat semakin banyak dan membesar.

Hubungan dan benturan antarkelompok yang berbeda frekuensi akan semakin naik. Teknologi internet merobohkan batas-batas komunikasi antarpenduduk Bumi. Terlebih, jika pengaruh asing ikut bermain dalam satu konflik regional, kehidupan beragama ikut terganggu. Ekspresi keberagamaan yang akan menonjol ialah konflik dan ritual, bukannya kekuatan peradaban yang mencerdaskan dan menyejahterakan umat dan bangsa.

Membatasi dan memonopoli suatu paham keagamaan tentu tidak mudah karena menyangkut pengalaman, pikiran, dan keyakinan seseorang. Dalam hidup keberagamaan, terdapat aspek metafisik, pengalaman hidup, mazhab pemikiran, keyakinan, solidaritas kelompok, pengaruh budaya, dan politik yang saling berkelindan.

Mengendalikan dan mengklaim satu keyakinan agama juga sangat sulit mengingat pemahaman agama itu dinamis dan tidak ada instansi yang memiliki hak paten layaknya sebuah produk teknologi. Dalam kasus pemalsuan dan pembajakan produk teknologi, misalnya, pihak yang dirugikan bisa langsung menggugat ke lembaga pengadilan.

Namun, bagaimana kalau ada pihak-pihak yang mempunyai tafsiran keagamaan baru yang dipengaruhi paham mainstream? Siapa yang paling berhak mengontrol dan melarang? Aktivitas fisik bisa saja dikontrol, tapi pikiran, keyakinan, dan ideologi tak akan bisa ditaklukkan secara fisik. Problem dan fenomena itu ke depan akan semakin bermunculan.

Dalam konteks masyarakat Barat yang sekuler, munculnya paham dan perbedaan itu tidak begitu menjadi masalah karena agama diposisikan sebagai urusan pribadi. Negara tak akan mencampuri. Yang penting tidak melanggar undang-undang negara dan tidak mengganggu orang lain.

Pembiaran?

Berita yang muncul akhir-akhir ini ialah masyarakat dengan dalih menjaga kemurnian agama sering melakukan ancaman dan pengusiran terhadap mereka yang dianggap mengikuti ajaran sesat atau berbeda dari paham mainstream. Itu dilakukan secara berkelompok sehingga pemerintah, khususnya aparat kepolisian, merasa kewalahan atau melakukan pembiaran.

Di situ nalar sehat dan spirit persaudaraan telah tergusur oleh kemarahan. Mengusir mereka yang berbeda paham dianggap menodai keyakinan mayoritas, sedangkan memusuhi mereka diyakini sebagai amal saleh untuk membela dan memuliakan Tuhan.

Sekali lagi, kita tidak bisa mengekang pikiran dan keyakinan seseorang. Namun, paham keberagamaan yang menghalalkan darah orang yang tidak berdosa atau merusak hubungan baik dalam keluarga dan masyarakat pasti akan memancing kemarahan dan kebencian masyarakat. Pemerintah wajar turun tangan. Agama merupakan sumber perdamaian dan peradaban, bukan mesin perang. Namun, selama mereka tidak melakukan provokasi dan menciptakan keresahan sosial, tidak dibenarkan mereka diperlakukan seperti penjahat. Jangan-jangan pemerintah dan jajaran ulama serta kaum intelektual juga ikut-ikutan bingung. []

MEDIA INDONESIA, 01 Februari 2016
Komaruddin Hidayat | Guru besar Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Proeksistensi

Oleh: Komaruddin Hidayat

Candi Borobudur yang berada di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, oleh UNESCO ditetapkan sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia.
Sekalipun candi ini merupakan warisan Hindu-Buddha yang dibangun sekitar abad ke-7, masyarakat sekelilingnya mayoritas beragama Islam, termasuk mereka yang bekerja sebagai penjaga keamanan, penjual suvenir, pemandu wisata, dan pekerja lain yang berkaitan dengan Borobudur.

Oleh karena itu, sulit dipahami oleh masyarakat Islam sekitar ketika dulu pernah ada orang meledakkan bom dengan tujuan untuk menghancurkan monumen sejarah ini dengan alasan akan merusak akidah umat Islam.

Patung-patung itu dianggap berhala yang diharamkan untuk disembah. Padahal, jangankan agama Islam, agama Hindu-Buddha pun tidak mengajarkan menyembah batu.

Orang Islam yang bertawaf mengelilingi Kakbah dan berebut mencium Hajar Aswad juga bukan memuja Kakbah.

Terbayang, andaikan Borobudur ini berada di Timur Tengah, mungkin sekali telah dihancurkan oleh kelompok Taliban atau pun ISIS karena mereka memang rendah apresiasinya terhadap warisan dan monumen sejarah. Sekian banyak warisan budaya keagamaan, termasuk gereja yang usianya ratusan tahun, merekahancurkan.

Karena terlahir dan tumbuh dewasa di daerah Magelang, saya merasakan dan melihat sendiri betapa masyarakat di sana hidup damai dalam keragaman agama dan budaya. Di sana terdapat pusat pendidikan seminari Katolik yang terkenal di tingkat Asia Tenggara, yaitu di Muntilan dan Mertoyudan.

Tak jauh dari situ terdapat pondok pesantren tua yang tersohor, misalnya saja Pesantren Watucongol, Pesantren Pabelan, Pesantren Tegalrejo, dan Pesantren Payaman. Di Muntilan juga terdapat bangunan Kelenteng Konghucu tertua di Indonesia. Jadi, Magelang merupakan daerah titik temu berbagai agama dan budaya tua yang semuanya hidup damai, berdampingan, dan tidak saling menghancurkan, yang saya istilahkan proeksistensi, bukan sekadar koeksistensi.

Akhir-akhir ini muncul suasana batin sebagian umat Islam yang selalu menekankan perbedaan yang mengarah pada kebencian dan permusuhan terhadap kelompok umat beragama lain. Bahkan terhadap sesama muslim hanya karena berbeda mazhab, mereka mudah melakukan kekerasan. Perlu kita sadari bahwa ajaran dasar Islam itu satu, namun memungkinkan muncul tafsiran yang berbeda, sehingga melahirkan beragam mazhab.

Namun, ajaran dasarnya tak pernah berubah sejak zaman Rasulullah sampai hari ini. Sejak dari doktrin bagaimana salat, puasa, zakat, dan haji, semuanya sama dan tak berubah. Tetapi ketika menyangkut kekuasaan politik yang berimplikasi pada keuntungan ekonomi, muncullah ketegangan dan pertikaian antarkelompok.

Situasi ini semakin memburuk ketika ada kekuatan luar yang mendompleng mengambil keuntungan. Apa yang terjadi di Timur Tengah dan Indonesia selalu terkena dampaknya, akarnya adalah persaingan politik-ekonomi dan kekuasaan dengan melibatkan kekuatan asing, Amerika dan Rusia.

Khususnya di wilayah Magelang, saya mengalami sendiri. Dulu perbedaan agama dan mazhab itu tidak menimbulkan perpecahan dalam keluarga dan masyarakat. Namun, akhir-akhir ini umat beragama di berbagai kawasan cenderung menjadi sensitif dan pemarah ketika melihat perbedaan. Berbeda itu tidak bisa dinafikan, bahkan kini kian membesar dengan hadirnya revolusi teknologi informatika, terutama internet. Kalau kita tidak siap menghadapi maka jangan-jangan keberagamaan justru akan menjadi pemicu keresahan dan perpecahan masyarakat. Agama bukan memperkuat negara, melainkan malah jadi beban negara.

Kalau setiap perbedaan, lalu disikapi dengan penindasan dan ancaman, ini menunjukkan negara gagal melindungi dan mendidik warganya untuk hidup damai saling menghormati. Lebih dari itu, kalangan intelektual dan ulama berarti gagal menawarkan jalan damai bagi umatnya yang bertikai. Kesimpulan akhir bisa mengarah bahwa umat beragama, termasuk partai keagamaan, lebih disibukkan oleh percekcokan ketimbang memajukan peradaban, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat.

Slogan Bhinneka Tunggal Ika dan Islam sebagai rahmat hanya berhenti sebagai pernyataan verbal. Ini mesti menjadi keprihatinan kita semua, jangan sampai organisasi semacam ISIS yang merupakan urusan internal Irak dan Suriah menjalar ke Indonesia. Apa urusan kita dengan ISIS?

Pertanyaan serupa juga berlaku dengan ide mendirikan kekhalifahan, yang sesungguhnya bagi umat Islam Indonesia tidak relevan. Karena umat Islam Indonesia justru memiliki prestasi politik yang luar biasa, yaitu ikut mendirikan Republik Indonesia, bukan negara agama, bukan negara sekuler, bukan pula sistem dinasti atau khalifah sebagaimana yang masih berlaku di Timur Tengah.

Dulu di Indonesia berdiri banyak kesultanan yang kemudian bergabung masuk dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jadi, isu dan agenda kekhalifahan yang diusung ISIS tidak relevan untuk gerakan Islam Indonesia. []

KORAN SINDO, 29 Januari 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Pesantren

Oleh: Komaruddin Hidayat

Sejak awal mula, pesantren merupakan pusat pendidikan keagamaan di daerah perdesaan yang dipimpin seorang kiai. Dari segi bahasa, kata pesantren dan kiai yang berasal dari bahasa Sansekerta sudah menunjukkan produk akulturasi budaya Islam dan Hindu. Santri artinya pelajar, tempatnya disebut pesantren. Lembaga pendidikan pesantren memiliki keunikan tersendiri yang masih bertahan sampai hari ini. Di situ ada figure sentral yang disebut kiai, bagaikan sumber mata air keilmuan yang menarik para santri berdatangan dan tinggal di asrama berdekatan dengan rumah kiai.

Di zaman penjajahan, pesantren merupakan basis perlawanan terhadap penguasa, baik karena alasan agama maupun membela Tanah Air. Penjajah Belanda waktu itu diidentikkan dengan orang kafir (Kristen) dan pesantren di mata penjajah diposisikan sebagai basis perlawanan umat Islam terhadap penguasa. Oleh orang kota, komunitas pesantren sering kali dipersepsikan sebagai orang kampungan karena memang lahir dan besar di kampung, bahkan belajarnya juga di kampung.

Oleh orang kota, mereka dianggap tidak terpelajar—padahal kata santri itu sendiri berarti pelajar— hanya karena orang pesantren waktu itu umumnya buta huruf dan buta bahasa Eropa. Di pesantren yang dipelajari hanyalah kitab-kitab klasik berhuruf Arab yang kertasnya sudah menguning sehingga popular dengan sebutan kitab kuning, yaitu kitab keagamaan yang dikarang oleh ulama klasik. Mayoritas pesantren dimiliki kiai yang berafiliasi kepada NU.

Adapun Muhammadiyah lebih fokus membangun lembaga pendidikan model sekolah yang kebanyakandidirikandiperkotaan sehingga warga Muhammadiyah sering dipersepsikan sebagai orang-orang modernis dan warga NU sebagai orang-orang tradisionalis. Lembaga pendidikan Muhammadiyah dimiliki oleh perserikatan, sedangkan lembaga pesantren umumnya dimiliki oleh pribadi kiainya.

Seiring dengan perkembangan zaman, dunia pesantren banyak mengalami perubahan. Pembedaan dikotomis pemahaman keagamaan antara warga Muhammadiyah dan NU juga mengarah pada konvergensi. Dunia pesantren mulai mengadopsi sistem sekolah, sementara beberapa sekolah Muhammadiyah mengadopsi sistem pesantren meskipun jumlahnya lebih banyak pesantren yang mulai memberlakukan sistem sekolah di pagi harinya.

Karena ciri pesantren ditandai dengan adanya sosok kiai, kualitas dan popularitas kiai sangat menentukan terhadap kualitas dan popularitas pesantrennya. Kurikulum pendidikan pesantren berlangsung selama 24 jam di bawahpengawasandanbimbingan kiai dan para pembantunya yang disebut ustaz atau guru. Model pendidikan seperti itulah yang saya masuki setelah tamat SR (sekolah rakyat), yaitu Pondok Pesantren Pabelan, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi pesantren itu hanya 10 menit bila ditempuh dengan berjalan kaki dari rumah saya.

Sebelum masuk pesantren, ayah saya menyuruh belajar pertukangan kayu di STK (Sekolah Teknik Kanisius) Muntilan. Namun tidak sampai setahun saya keluar karena merasa kurang tertarik, di samping mesti jalan kaki ke kota. Ketika almarhum Kiai Hamam Ja’far membuka Pesantren Pabelan pada 1965, saya bersama 28 santriwansantriwati berbaur di kelas yang sama, merupakan santri angkatan pertama. Pusat belajar kami di serambi masjid, dilengkapi meja dan bangku layaknya sebuah ruang kelas. Meski begitu kami belajar sangat serius.

Para guru atau ustaz masuk kelas dengan mengenakan dasi. Kami belajar sangat disiplin. Malam hari pun kadang ada kelas. Setidaknya ada jam wajib belajar. Hidup di pesantren dari bangun tidur sampai mau tidur diatur dengan jadwal. Beberapa nilai pesantren yang merupakan living values serta selalu dijaga dan ditaati adalah, pertama, persaudaraan.

Bayangkan saja, setiap hari 24 jam berkumpul, belajar, dan hidup bareng selama beberapa tahun, maka terbentuk suasana persaudaraan yang akrab. Di pesantren pantang terjadi perkelahian. Risikonya dikeluarkan. Kedua, kesederhanaan. Di pesantren tumbuh suasana hidup sederhana.

Santri dikondisikan untuk merasa malu kalau bermewah diri melebihi saudaranya yang lain dengan membanggakan kekayaan orang tuanya. Ketiga, cinta ilmu. Belajar di pesantren tidak ditanamkan untuk mengejar ijazah. Kalaupun ada ujian, itu bagian dari belajar, bukan belajar untuk lulus ujian. Oleh karenanya di pesantren mencontek itu aib besar. Keempat, berwawasan luas. Kami diajari untuk menatap kehidupan lebih luas karena panggung kehidupan yang telah menanti tidak sebatas ruang kelas.

Dunia itu luas, isinya sangat beragam. Jangan mudah kagetan (terkejut), jangan mudah gumunan (silau dan kagum), janganmudah membenci. Kelima, mandiri. Di pesantren kami selalu diingatkan agar bisa dan berani hidup di atas kaki sendiri. Jangan bermentallembek, selaluinginmencari sandaran dan belas kasih orang. Pekerjaan apa pun mulia di mata Allah asal halal dan tidak merepotkan orang lain. Keenam, ikhlas.

Jalanilah hidup dengan ikhlas, jangan ciut hati ketika dicela dan dikritik, jangan pula lupa diri ketika dipuji. Setialah pada hati nurani karena hati nurani penghubung terdekat kepada Allah. Demikianlah, angkatan pertama santri Pondok Pabelan hanya bertahan empat tahun yang semuanya memang berasal dari Desa Pabelan. Satusatu selepas itu keluar. Ada yang bekerja sebagai kusir andong, ada yang bertani, berjualan martabak di kota, menjadi sopir truk, kondektur bus, membantu administrasi pesantren, jadi ibu rumah tangga, dan lainlain.

Saya sendiri lalu pindah meneruskan ke Madrasah Aliyah Al-Iman, Muntilan. Saya hanya setahun di sekolah yang baru ini semata untuk mendapatkan ijazah setingkat SLTA. Tanpa ijazah SLTA saya tak mungkin diterima sebagai mahasiswa. Terima kasih pesantren, kau laksana ibu kandungku yang telah mendidik dan membesarkan diriku. Saya sedih dan prihatin ketika ada beberapa teroris yang membawa-bawa nama pesantren, padahal setahu saya para kiai itu sangat menekankan kedamaian, kerukunan, dan keramahan sekalipun terhadap mereka yang bukan muslim.

Justru karena sikap kiai yang seperti itu, dulu Islam sangat mudah diterima masyarakat perdesaan di Pulau Jawa yang semula beragama Hindu-Buddha atau penganut kepercayaan lokal. []

KORAN SINDO, 22 Januari 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Muslim Indonesia

Sumber Tulisan : Disini

ISLAM yang semula muncul di wilayah Arabia pada abad ke-6 Masehi secara dinamis terus berkembang memasuki berbagai benua. Indonesia yang letaknya jauh dari Arabia dan terhalang benua India yang mayoritas beragama Hindu, sungguh merupakan keajaiban sejarah.
Bahkan secara demografis, Indonesia disebut sebagai kantong umat Islam terbesar di dunia. Jumlah umat Islam di Timur Tengah masih d ibawah Indonesia.
Dalam lintasan sejarah, adalah Islam Indonesia yang datang dan berkembang tanpa melalui peperangan. Melainkan lewat perdagangan dan penyebaran secara damai. Perang muncul belakangan ketika penjajah Barat datang.
Keberagaman seseorang dan masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor. Indonesia sebagai negara kepulauan yang tanahnya amat subur tentu watak masyarakatnya berbeda dari penduduk Arabia yang dikelilingi padang pasir yang dalam sejarahnya senang  berperang antarsuku memperebutkan sumber air dan padang rumput.
Masyarakat Nusantara hidup terpencar ke ribuan pulau yang subur, sehingga ikatan suku dan daerah begitu kuat. Namun, tidak perlu berebut sumber air atau padang rumput.
Dulu, kota pantai merupakan pusat perdagangan dan sekaligus juga pusat penyebaran Islam dan bahasa Melayu. Ikatan keislaman dan peran bahasa Melayu ini pada urutannya menjadi pengikat kohesi keindonesiaan.
Dengan berkembangnya zaman, peran kota pantai merosot. Pusat perdagangan dan keislaman serta industri tumbuh pesat di kota pedalaman. Terlebih dengan kemajuan transportasi pesawat terbang.
Namun, ekspresi keislaman di Indonesia juga sangat dipengaruhi dan diperkaya oleh sekian ragam adat, tradisi, dan bahasa yang berkembang di Indonesia. Fakta ini membuat muslim di Indonesia menjadi unik dan memiliki karakter tersendiri. Antara lain keberagamaan yang toleran dan menghargai tradisi lokal.
Sebagian orang mengatakan itu bid’ah dan pendangkalan agama. Namun, sebagian lagi mengatakan itulah kekayaan budaya muslim Indonesia yang mampu mengakomodasi tradisi lokal tanpa merusak prinsip ajaran Islam.
Jadi, pada dasarnya sifat orang Indonesia itu toleran, ramah, senang berkawan, sebagaimana sifat pedagang.
Dan pada awalnya Islam yang berkembang juga lebih menekankan dimensi tasawuf yang menekankan keluhuran budi pekerti sehingga lebih mudah bergaul.
Baru belakangan saja muncul gerakan radikalisme-terorisme  dan dakwah agama yang keras yang  mudah mengafirkan dan menjelekkan orang lain, bahkan terhadap umat Islam. Andaikan dulu para pembawa Islam sikapnya seperti itu, pasti Nusantara ini tidak menjadi kantong umat Islam seperti sekarang ini.