Agama dan Tradisi

Oleh: Komaruddin Hidayat

AGAMA itu diyakini datang dari “langit”, sedangkan tradisi tumbuh dari “bumi”. Tapi setiap agama yang hadir di bumi pasti akan bertemu dan menyatu dengan tradisi lokal.

Bahkan sebuah agama pada urutannya juga akan melahirkan tradisi baru, yaitu tradisi keagamaan. Oleh karena itu agama dan tradisi selalu menyatu, bagaikan menyatunya roh dan tubuh. Kita semua begitu terlahir langsung diasuh dan dibesarkan oleh tradisi.

Yang paling mencolok tentu dalam hal bahasa, makanan, dan agama. Anak kecil akan berbahasa mengikuti bahasa lingkungan keluarga dan sosialnya.

Begitu pun selera dan cara makan serta jenis makanan yang disantap sangat dipengaruhi tradisi keluarganya. Juga dalam aspek keberagamaan, seorang anak akan mengikuti agama orang tuanya meskipun setelah dewasa bisa saja seseorang menyatakan berganti keyakinan agamanya.

Pola pikir seseorang pun sangat dipengaruhi lingkungan tradisi yang membesarkannya. Dengan demikian, secara ontologis-teologis, agama dan tradisi bisa dibedakan, tetapi pada praktiknya agama dan tradisi tak mungkin dipisahkan atau bahkan dibedakan.

Paham dan praktik agama yang sampai pada kita, apa pun agamanya, sudah melalui berbagai saluran tradisi dan tafsiran sehingga bisa jadi di sana terjadi reduksi dan deviasi dari ajaran dasarnya meskipun kadarnya berbeda-beda. Kita melihat dalam sejarah, agama tumbuh menjadi besar setelah keluar dari tempat kelahirannya, bertemu dengan budaya baru di luarnya.

Tafsiran dan pengalaman umat beragama yang sedemikian banyak dan beragam tanpa disadari juga telah bercampur baur, saling memperkaya yang lain. Ini bagaikan model pakaian, sudah tumpang tindih dan bercampur modelnya meskipun elemen dasarnya tetap.

Kadang perjumpaan agama juga berbenturan. Secara komunal umat beragama punya rumah dan basis yang jelas, tetapi pada ranah kehidupan sosial terjadi perjumpaan lintas umat. Terlebih lagi dengan situasi masyarakat dunia yang semakin plural sebagaimana juga Indonesia, keragaman agama dan tradisi keagamaan juga mudah kita jumpai di mana-mana.

Beruntunglah dasar negara kita Pancasila sehingga kerja sama antarumat yang berbeda sudah biasa dan berlangsung lama, bahkan difasilitasi negara. Di era demokrasi, persilangan antar-pemikiran dan tradisi agama semakin leluasa. Dengan demikian, pada ranah budaya, berbagai unsur agama bisa saja bertemu dan berkembang bersamaan tanpa merusak keyakinan agama masing-masing.

Panggung budaya itu bagaikan pasar atau mal yang mempertemukan dan menampung berbagai macam orang dan dagangan. Mempertemukan beragam penjual dan pembeli. Salah satu yang ditawarkan adalah agama yang telah dikemas atau dibungkus sedemikian rupa agar menarik bagi calon pembelinya.

Agama-agama besar yang tumbuh di Nusantara ini semuanya adalah pendatang. Agama datang ke sini dengan kendaraan bermacam-macam. Ada yang datang bersama pedagang, ada pula yang beriringan dengan imperialis. Bersama jalannya waktu, agama yang asalnya dari luar telah tumbuh menyatu dengan budaya dan tradisi lokal.

Dengan demikian, pemahaman, praktik, dan kemasan agama yang ada sekarang ini semakin kental dan kaya nuansa budaya lokalnya. Misalnya saja istilah surga yang asalnya dari tradisi Hindu, orang Islam pun menggunakan kata surga dan neraka yang disesuaikan dengan konsep Islam.

Berbagai tradisi dan agama bercampur di ranah Nusantara. Yang paling khas dan tidak bercampur adalah tata cara ibadahnya. Tapi, selain ibadah, sesungguhnya pergaulan lintas umat beragama tak mungkin dibatasi.

Sekali lagi, ibarat pasar, tak ada pembedaan latar belakang etnik dan agama.. Yang penting terjaga suasana damai dan saling menguntungkan bagi semua pihak. Masing-masing silakan menawarkan dagangan atau ajarannya dengan cara yang menarik dan saling menghargai, tidak boleh main paksa dan mengancam yang lain. []

KORAN SINDO, 12 Januari 2018

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Ajakan ke Jalan Tuhan

DAKWAH artinya mengajak atau mengundang. Yaitu mengajak ke jalan Tuhan. Ada dua kata kunci yang mesti diperhatikan, yaitu kata mengajak dan jalan Tuhan.

Layaknya undangan ke pesta perkawinan, maka pihak yang mengajak atau mengundang mesti bersikap simpatik, ramah, menghargai pihak yang diundang, dengan bahasa jelas dan enak didengar. Bukan teriak-teriak dengan paksaan.

Kita semua memiliki pengalaman dan perasaan, jika ajakan dan undangan itu bersikap simpatik, kita pun akan membalasnya dengan simpatik pula. Tetapi, jika seseorang menyeru, memanggil, mengundang, dan mengajak dengan bahasa dan cara kasar, bahkan dengan nada marah dan mengancam, pasti kita akan tersinggung serta cenderung menolaknya.

Demikian halnya dengan berbagai dakwah keagamaan yang kita saksikan dalam masyarakat dan media sosial. Masih ada dakwah yang disampaikan dengan nada marah-marah, menghakimi, bahkan marah jika yang diajak tidak mau. Bahkan, ada yang mengancam agar mau diajak.
Tentu dakwah dengan cara mengancam dan menakutkan ini bertolak belakang dengan kata dan konsep dakwah itu sendiri. Sekali lagi, dakwah artinya memanggil, menyeru, dan mengundang. Bukan memarahi dan mengancam.

Dakwah bisa juga dianalogikan dengan orang berjualan menawarkan barang dagangannya. Sebaik apa pun barang yang dimiliki, jika cara menawarkan barangnya tidak cerdas dan menarik, pasti orang enggan membelinya.

Metode ini secara eksplisit disebutkan dalam Alquran (Nahl 16: 125), Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana, dengan nasihat yang baik, dan kalaupun mereka mengajak berdebat, lakukanlah dengan cara yang baik.

Kata kunci kedua adalah jalan Tuhan. Dalam bahasa Arab terdapat banyak kata yang bermakna jalan. Artinya, banyak jalan menuju Tuhan. Dalam penggalan terjemahan ayat Alquran di atas, ajaklah mereka ke jalan Tuhan. Jadi, penekanannya di sini adalah agar seseorang masuk dan berjalan di jalan Tuhan.

Adapun tingkat kekuatan dalam berjalan atau berlari, tiap orang memiliki kapasitas berbeda-beda. Kalaupun mereka menggunakan alat bantu berupa sepeda, motor, atau mobil, kapasitas, kekuatan, dan kecepatannya berbeda-beda pula.

Bunyi lahiriah teks tentang berdakwah itu yang pertama seseorang mau bergabung di jalan Tuhan, tapi mesti disadari bahwa capaian dan prestasi seseorang dalam perjuangan mendekati Tuhan itu jangan dipaksakan dan diseragamkan. Lebih dari itu, di sana banyak jalan menuju Tuhan. Jadi, siapa pun yang berdakwah janganlah dengan bahasa marah-marah serta mudah menghakimi dan mengafirkan orang lain jika berbeda.

Dalam berbagai kesempatan, saya sering berjumpa dan berdialog dengan teman-teman seputar pemahaman dan praktik keberagamaan. Ada pengusaha yang salatnya minus, tidak disiplin salat lima kali sehari. Namun, begitu sedekah, zakat dan amal sosialnya banyak.

Ada juga sebaliknya, ibadahnya rajin tetapi perilaku sosialnya kurang bagus. Ada orang yang miskin ilmu dan miskin harta, tapi rajin dan pemurah untuk menolong tetangga jika memperoleh kesulitan. Dia membantu dengan tenaganya.

Hal-hal demikian ini tentu kita bisa mengkritiknya, namun kita tidak bisa memaksa mengikuti apa yang kita maui dan kita juga tidak tahu bobot ketakwaannya di hadapan Tuhan. Apalagi aspek keimanannya yang sangat pribadi, kita tidak tahu.

Mengingat negara dan ruang publik milik rakyat dengan beragam agama, bahasa, dan budaya, maka siapa pun berdakwah hendaknya jangan melakukan ceramah dan provokasi yang merusak ruang publik serta memperlemah negara. Keberadaan negara dan ruang publik itu mesti dijaga bersama-sama, sebagaimana masyarakat menjaga keamanan pasar, tempat masyarakat melakukan transaksi jual-beli, apa pun latar belakang etnik dan agamanya.

Selain itu, juga sekolah-sekolah negeri, mesti dijaga karakter inklusifnya karena dibiayai uang rakyat. Kecuali lembaga pendidikan yang sejak awal sudah bersifat eksklusif keagamaan seperti madrasah negeri.

Mendakwahkan agama ibarat menawarkan emas. Sekalipun kualitas bagus, asli, mestinya ditawarkan dengan cara elegan agar tidak merendahkan kualitas barang yang ditawarkan. Kebenaran sebuah agama mampu membela dirinya sendiri. Jangan malah direndahkan oleh para agen penjualnya. []

KORAN SINDO, 24 November 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Saudara dan Persaudaraan

ORANG Inggris punya ungkapan, It is a chance, not by choice, that makes you a brother or sister. But it is heart, by choice and effort, that makes a brotherhood and sisterhood. Karena ikatan darah (blood line) maka Anda memiliki saudara, namun tak jaminan antara sesama saudara terbangun persaudaraan.

Dulu Nabi Yusuf pernah dilempar ke sumur oleh saudara-saudaranya karena dengki dan cemburu, namun Tuhan menyelamatkan, bahkan akhirnya Yusuf jadi penguasa di Mesir dan memaafkan kejahatan saudara-saudara sekandungnya. Jika ditarik ke belakang lagi, anak Adam juga terlibat pertengkaran sampai pada pembunuhan, antara Kabil dan Habil.

Kisah serupa telah memberikan pelajaran kepada kita bahwa hubungan darah seayah-seibu pun tidak jaminan menciptakan persaudaraan dan kerukunan antara mereka. Sampai-sampai muncul istilah family quarrel, pertengkaran antarkeluarga. Dalam kajian teologi, family quarrel itu juga terjadi pada pemeluk rumpun agama anak-cucu Ibrahim, yaitu Yahudi, Nasrani, dan Islam.

Mereka mempertengkarkan truth claim, agama siapakah yang paling benar di mata Tuhan. Mereka bertengkar, pemeluk agama mana yang berhak masuk surga, bahkan sampai kafir-mengafirkan yang berujung pada pertumpahan darah.

Di lingkungan istana, cerita pertengkaran keluarga ini tidak aneh. Keturunan raja sering terlibat perseteruan karena berebut jabatan, fasilitas, dan warisan. Yang fenomenal adalah berebut posisi sebagai putra mahkota.

Jalinan persaudaraan terbentuk karena berbagai faktor. Bagi para perantau, jika di tempat barunya bertemu orang sedaerah dan sesuku sering kali menjadi akrab melebihi saudara sendiri. Terlebih jika bertemunya di luar negeri maka rasa persaudaraan bisa lebih kental lagi.

Mengapa? Karena seseorang di rantau kadang merasa kesepian, tidak memiliki teman dekat. Lebih dari itu, sesungguhnya jika seseorang mendapatkan kesulitan, yang paling dekat untuk dimintai pertolongan, atau yang segera bisa menolong, adalah tetangga dan teman terdekat, bukannya saudara kandung yang tinggalnya berjauhan. Meskipun saudara sekandung, jika tinggalnya berjauhan maka sulit memberikan pertolongan segera.

Ada lagi ikatan keagamaan. Akhir-akhir ini muncul kelompok pengajian yang eksklusif, ikatannya melebihi ikatan keluarga. Sosok guru dan ajarannya menjadi figur sentral yang menyatukan murid-muridnya.

Bahkan, ada yang rela meninggalkan keluarga besarnya karena beda paham dan keyakinan agamanya. Di antara mereka pun memiliki sebutan khas, “akhi” dan “ukhti”, saudara laki dan saudara perempuan seakidah.

Ada persaudaraan lain yang mungkin kontraktual, yaitu saudara seorganisasi dan separtai. Mereka disatukan oleh kepentingan politik sesaat. Tapi ketika agenda kepentingannya berubah dan berbeda, persaudaraan pun buyar.

Belakangan ini juga muncul persaudaraan baru, antara lain persaudaraan karena kesamaan dan ikatan profesi serta persaudaraan yang tumbuh dan terbina karena sesama satu almamater. Persaudaraan ini lalu membentuk komunitas digital dalam dunia maya. Setiap hari bertegur sapa, berbagi cerita, dan gosip melalui WhatsApp Group (WAG). Sekali-sekali mereka bertemu mengadakan kopi darat (kopdar), tidak hanya berceloteh di udara terus.

Tidak mudah, memang, untuk membangun persaudaraan yang solid dan kekal, baik berdasarkan hubungan darah maupun berangkat dari perkenalan dan pertemanan. Meskipun penduduk bumi sudah mencapai 6 miliar, penduduk Indonesia 240 juta, yang namanya sahabat sejati tidaklah banyak.

Pepatah lama mengatakan, temanmu yang sejati adalah yang mau ikut menangis bersamamu, bukan yang mendekat saat engkau tertawa gembira. Teman yang seperti inilah kadang kedekatannya melebihi saudara.

Biasanya persaudaraan rusak jika sudah melibatkan kalkulasi untung-rugi, semangatnya mengambil, bukan memberi. Padahal, kalau saja sikap dasarnya saling memberi, berbuat ihsan, pada akhirnya justru akan lebih enak dan menguntungkan, saling memperoleh apa yang diharapkan dari teman tanpa harus meminta. Karena teman yang baik akan punya sikap empati yang tinggi, menawarkan pertolongan tanpa harus dijemput dengan permintaan.

Dalam masyarakat yang lebih mendahulukan “aku”, bukannya “kami” dan “kita”, yang egoistis-individualistis, persaudaraan yang solid dan tulus, rasanya semakin langka. Dulu persaudaraan yang terbentuk di dunia pesantren tumbuh dan solid. Namun, belakangan ini mungkin sudah mulai mengendur. Pilihan politik dan mazhab keagamaan pun adakalanya bisa merusak persaudaraan. []

KORAN SINDO, 3 November 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Indeks Kebahagiaan

 

Oleh: Komaruddin Hidayat

BISAKAH kebahagiaan yang bersifat subjektif-kualitatif diukur lalu dikuantitatifkan? Dengan bantuan ilmu psikologi dan statistik, para sarjana telah mencoba melakukan pengukuran, antara lain melalui wawancara.

Sepanjang yang merasakan derita dan bahagia itu manusia, sesungguhnya bisa digali, diajak dialog, dan secara statistik bisa diukur lalu diperbandingkan. Hanya saja mesti diingat bahwa kebahagiaan seseorang sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya dan agama yang dianut seseorang.

Namun dari semua masyarakat yang hendak disurvei, di sana terdapat kemiripan faktor yang mendukung kebahagiaan seseorang. Misalnya kebutuhan rasa aman, lingkungan sosial yang jujur, tempat tinggal, lapangan kerja, penerimaan sosial, kesehatan, pendidikan dan pandangan optimistik melihat masa depannya.

Terdapat dua masyarakat atau negara yang dilaporkan paling bahagia saat ini, yaitu Buthan dan Norwegia, dua masyarakat yang memiliki budaya dan agama yang berbeda. Buthan adalah kerajaan kecil dengan luas wilayah 38.394 km persegi, berpenduduk sekitar 750.000 jiwa. Sebuah masyarakat agraris, pemeluk Buddha yang sangat setia. Income per kapita sekitar USD2.730. Letaknya berdekatan China, India, dan Nepal, serta berada di lereng Pegunungan Himalaya.

Berdasarkan World Happiness Report (WHR) 2017, dari 155 negara yang diurvei, Norwegia dinyatakan sebagai bangsa yang paling bahagia di dunia. Menyusul di bawahnya adalah Denmark, Iceland, Switzerland, dan Finlandia. Kesemuanya tergolong negara kecil dengan jumlah penduduk sekitar 5 juta, bahkan kurang.

Norwegia letaknya di semenanjung Skandinavia, bertetangga dengan Swedia, Finlandia, dan Rusia, dengan luas wilayah 385.525 km persegi serta berpenduduk sekitar 5 juta jiwa. Alam Norwegia sangat kaya, memiliki cadangan minyak bumi, gas alam, mineral, makanan laut dan air segar yang melimpah di bawah pemerintahan seorang raja. Pendapat per kapita sekitar USD54.397.

Beberapa aspek yang dijadikan kriteria mencakup rasa aman, sikap tolong-menolong, kedermawanan, kejujuran, pemerintahan yang melindungi dan melayani, ketersediaan lapangan kerja, emosi positif warganya, bebas dari rasa tertekan dan eudaimonia atau perasaan hidup bermakna dan memiliki tujuan yang jelas.

Warga Amerika Serikat, misalnya, meskipun secara ekonomi tinggi dan maju, tingkat kebahagiaan rakyatnya menurun. Berbagai ancaman terorisme dan dinamika politik serta ekonomi yang fluktuatif telah mengurangi rasa aman dan bahagia warganya.

Indeks kebahagiaan China pun menurun. Suasana hidup yang penuh kompetitif dalam ekonomi dan politik, memang telah menciptakan kegaduhan. Restless, noicy. Kondisi demikian kurang, atau tidak, dirasakan masyarakat negara-negara kecil yang menempati peringkat kebahagiaan tinggi.

Sebagai pemeluk Buddha, masyarakat Buthan bahkan diajari konsep detachment. Hidup merdeka, tak mau terbelenggu oleh nikmat dunia. Bahkan warga Buthan diajarkan untuk selalu berbuat baik dan mengingat mati sebagai jalan pembebasan.

Dalam konstitusi Buthan tertulis, yang dalam bahasa Inggris berbunyi: If the government cannot create happiness for its people, then there is no purpose for government to exist. Makanya cukup populer ungkapan Khesan Namgyel Wangchuck, Raja ke-5 Buthan, yang menegaskan bahwa Gross National Happiness (GNH) lebih penting dari Gross National Product (GNP).

Jika diskusi ini dibawa ke ranah bangsa dan masyarakat Indonesia, bagaimana potretnya? Dalam WHR 2017 ini, Indonesia menduduki peringkat ke-81.

Sebagai negara besar dan yang penduduknya tersebar ke sekian banyak pulau dengan beragam tradisi, agama, sumber ekonomi, dan pekerjaan, sudah pasti tidak bisa disajikan secara utuh dan mudah potret kebahagiaan warganya sebagaimana negara-negara yang penduduknya di bawah 5 juta dan menempati daratan yang sama.

Jika diambil rata-rata secara nasional, income per kapita rakyat Indonesia sekitar USD3.500. Tapi pada kenyataan di lapangan, ada yang di atas USD25.000 dan ada yang di bawah USD1.000. Pemerataan masih jauh untuk diwujudkan dan dinikmati.

Belum lagi bicara ketersediaan lapangan kerja, rasa aman, dan optimisme memandang hari depan, suasana batin masyarakat Indonesia pun diliputi rasa ketidapkastian (uncertain). Suasana keterbukaan dan persaingan antarbangsa dan negara telah menimbulkan dorongan untuk maju, tetapi juga perasaan tertinggal dan terancam, bahkan sebagian merasa sebagai warga negara yang kalah.

Di tengah ekspansi ekonomi dan pengaruh budaya asing yang semakin gencar, sesungguhnya masyarakat Indonesia memiliki tradisi dan modal untuk merasa bahagia. Setidaknya terdapat empat faktor yang pantas disyukuri.

Pertama, alam Indonesia yang indah sehingga untuk melihat dan menikmati alam tak perlu pergi rekreasi jauh-jauh dan mahal. Bandingkan saja dengan mereka yang tinggal di alam yang panas dan gersang. Di sini terdapat laut, pantai, sawah, sungai, gunung, hutan, pedesaan yang membuat bangsa lain iri.

Kedua, tradisi hidup komunalisme. Berbeda jauh dari masyarakat barat, masyarakat kita masih memiliki hubungan kekerabatan yang kuat, baik atas dasar suku, marga, famili maupun kedaerahan.

Sekarang ini dengan ditemukannya media sosial berbasis internet, hubungan kekerabatan dan pertemanan lama mudah terjalin kembali. Sering sekali ada acara reuni teman sekolah atau sedaerah yang difasilitasi dengan WhatsApp untuk mengumpulkan teman-teman lama. Secara psikologis forum ini membuat para peserta merasa bahagia, terhibur, membuang lelah dan jenuh dari rutinitas kerja.

Ketiga, tradisi humor. Coba saja perhatikan, betapa kayanya tradisi humor dan candaan di tengah masyarakat kita. Berbagai problem hidup yang pahit bahkan bisa dan sering diolah menjadi bahan humor dan parodi, sehingga menjadi semacam katarsis sosial.

Jika ditelusuri ke belakang, kekayaan humor mungkin berkaitan dengan kekayaan dan keragaman suku yang dulunya hidup secara komunal, dalam lingkungan alam dan sosial yang nyaman, sehingga masyarakatnya menjadi santai, tidak mesti kerja keras yang pada urutannya mengondisikan untuk senang bercanda.

Keempat, aspek ini mungkin yang sangat besar perannya dalam membuat seseorang tahan uji dan sabar menjalani kehidupan. Yaitu faktor agama.

Meskipun secara ekonomi Indonesia kalah jauh dibanding Norwegia atau Jepang, tapi angka bunuh diri sangat kecil. Jumlah angka bunuh diri dalam sebuah masyarakat merupakan salah satu indikator kerentanan jiwa ketika diterpa masalah hidup.

Masyarakat Indonesia yang dikenal religius, apapun agama dan kepercayaannya, mempunyai peran sangat besar pada pemeluknya untuk selalu bersabar ketika musibah dan senantiasa bersyukur menerima anugerah Tuhan, termasuk anugerah kehidupan ini.

Banyaknya mimbar pengajian keagamaan melalui televisi, radio, di tempat ibadah dan dalam masyarakat sudah pasti memperkuat dan menginspirasi mental masyarakat untuk merayakan kehidupan dengan memperbanyak amal kebajikan dan menjaga silaturahmi. Keduanya ini menimbulkan eudaimonia, yaitu perasaan hidup bermakna, memiliki tujuan hidup dan harmoni sosial. []

KORAN SINDO, 8 September 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Mengapa Berumah Tangga

Oleh: Komaruddin Hidayat

MESKIPUN jumlah penduduk bumi semakin bertambah dari hari ke hari, tidak berarti hidup seseorang merasa kian hangat karena banyak teman. Sebaliknya, kita sering mendengar ungkapan paradoksal, sepi dalam keramaian.

Yang demikian bisa terjadi ketika seseorang tidak memiliki teman dekat yang cocok dan saling mencintai, terutama teman hidup lawan jenis yang bisa menciptakan suasana batin, to love and to be loved, saling merasa mencintai dan dicintai. Akan lebih kuat lagi ketika perasaan batin itu dikukuhkan dalam ikatan perkawinan dengan mengikuti petunjuk dan pedoman agama sehingga menjadi lebih sakral.

Secara psikologis dan memperhatikan isyarat Alquran (30:21), dorongan orang berkeluarga itu untuk mendapatkan hidup sakinah dan memperoleh keturunan. Sakinah artinya tenang, tenteram dan nyaman, yang di dalamnya tumbuh mawaddah dan rahmah.

Yang pertama, mawaddah, dalam istilah psikologis mungkin bisa dimaknai sebagai conditional love. Yaitu, orang mencintai dan memilihnya sebagai sebagai pasangan hidup karena adanya beberapa pertimbangan, misalnya karena kecantikan atau ketampanannya, agamanya, asal-usul keluarganya, kemampuan finansialnya, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, mawaddah artinya “cinta karena”. Orang memilih pasangan hidup pada tahap awalnya lebih dominan dimensi “cinta bersyarat”.

Bersama jalannya waktu, diharapkan tumbuh rahmah, cinta kasih yang tulus, senantiasa ingin memberi, atau unconditional love, “cinta tanpa syarat”, atau “cinta walaupun”. Orang tua memiliki kiasan, rumah tangga itu bagaikan tempat berlabuh. Tentu ungkapan ini muncul dari masyarakat maritim atau pelaut. Mereka merasakan sebuah risiko perjalanan laut yang setiap saat bisa dihantam ombak.

Ketika siang hari udara panas. Ketika datang malam suasana gelap. Ikan yang diburu pun tidak selalu berhasil ditangkap. Kalau badan dan pikiran sudah letih, yang dirindukan adalah pantai tempat berlabuh untuk memperoleh suasana rileks, aman, dan nyaman.

Begitulah mestinya sebuah kehidupan rumah tangga, menjadi tempat yang membuat aman, nyaman, damai dan merdeka bagi semua anggota kekuarga begitu masuk rumah. Saat ini sesungguhnya kehidupan di darat tidak kalah bahaya dan penuh risiko dibanding kehidupan di laut bagi para nelayan.

Persaingan dan perebutan yang keras terjadi hampir di semua lini kehidupan sehingga membuat suasana hostile, hurried, dan humourless. Di mana-mana muncul suasana permusuhan, hidup serba buru-buru, dan suasana rileks, humor, jadi barang yang mahal.

Nabi Muhammad memberikan kiasan rumah tangga itu bagaikan taman surgawi, baiti jannati. Kiasan ini tentunya karena pengaruh gersangnya alam padang pasir, yang selalu merindukan taman hijau, rindang, dan tempat bermain. Demikian juga kehidupan keluarga, idealnya adalah bagaikan taman tempat santai, rileksasi, menghilangkan semua beban dan ketegangan hidup.

Tetapi pada kenyataannya kehidupan keluarga tidak selalu indah dan seideal yang dibayangkan setelah seseorang menjalin perkawinan dan membangun rumah tangga. Namun begitu, kita juga menyaksikan banyak sekali keluarga yang bahagia, mereka sukses mengalahkan dan menjinakkan berbagai problem dan tantangan yang menghadang.

Banyak pasangan yang berhasil meraih status rahmah, yaitu cinta tanpa syarat, terutama sering kita jumpai dalam pasangan tua. Mereka tetap kokoh saling mencintai “walaupun” usia sudah lanjut, “walaupun” kondisi fisik tak lagi menarik, “walaupun” sakit-sakitan, dan sekian “walaupun” lainnya.

Namun perlu dicatat bahwa pohon cinta yang akarnya menghunjam, daunnya rindang dan buahnya lebat bukan datang dengan sendirinya. Tetapi mesti dipupuk, dirawat dan dijaga oleh pasangan suami-istri. Suatu usaha yang mulia namun kadang terasa berat sehingga ada juga pasangan yang putus di tengah jalan, karena berbagai faktor, mengingat jalinan suami-istri tak ada yang terbebas dari berbagai cobaan dan godaan.

Yang namanya kehidupan rumah tangga selalu saja muncul masalah-masalah baru yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya, sampai-sampai muncul ungkapan populer, It is easy to build a house, but not a home.

Bagaimana halnya dengan keturunan? Ini juga anugerah sekaligus ujian. Sering kita temukan orangtua prihatin dan merasa kurang beruntung karena tidak punya keturunan, namun tak sedikit orangtua yang mengeluh dan pusing karena problem anak-anaknya.

Perubahan sosial yang berlangsung sedemikian cepat tanpa dibarengi edukasi publik telah membuat banyak masyarakat bingung, tidak tahu apa yang sesungguhnya tengah terjadi. Orangtua selalu dibayangi rasa was-was, khawatir dan takut terhadap anak-anaknya, baik khawatir dari segi keamanan, pengaruh narkoba, perkelahian, pergaulan bebas, dan berbagai sumber kekhawatiran lain, termasuk pengaruh gerakan radikalisme-terorisme.

Pendeknya para orangtua dan guru saat ini dihadapkan problem yang semakin berat dalam mendidik anak-anak dan remaja. Belum lagi banyak remaja yang memandang pesimistis terhadap masa depan mereka.

Salah satu sumber harapan dan optimisme dalam upaya menjaga dan meningkatkan kualitas keluarga dan masa depan generasi penerus adalah senantiasa berpegang teguh pada nilai-nilai agama, pada tradisi luhur, memiliki pendidikan yang bagus, memilih lingkungan pergaulan yang berkualitas, memberi asupan yang bergizi dan halal.

Berbagai problem yang menghadang janganlah dihindari, tetapi dipahami dan diatasi karena sesungguhnya problem kehidupan itu justru mengajarkan pada kita agar tumbuh menjadi pribadi lebih kuat dan lebih bijak. []

KORAN SINDO, 25 Agustus 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Memaknai Hari Lebaran

Oleh: Komaruddin Hidayat

KATA Idul Fitri mengandung dua makna. Pertama, kembali pada fitrah kesucian seseorang setelah sebulan berpuasa. Ini sesungguhnya lebih tepat dipahami sebagai sebuah doa. Semoga dosa-dosa diampuni dan dengan puasa memperoleh kekuatan serta komitmen baru untuk senantiasa menjaga kefitrian kita.

Kedua, kembali pada kebiasaan sebelumnya, yaitu pagi-pagi kita makan dan minum. Makanya Idul Fitri merupakan perayaan dan tasyakuran rohani dan jasmani sekaligus. Pada hari itu Allah melarang seorang mukmin berpuasa.

Dalam masyarakat Jawa khususnya, Idul Fitri dikenal dengan sebutan Lebaran. Lebar artinya rampung, usai; yaitu berhasil merampungkan perintah puasa.

Terdapat beberapa kata dan istilah yang serumpun dengan kata lebar (usai), yang memiliki spirit dan pengayaan arti dari Idul Fitri, yaitu luber. Maksudnya, perayaan Idul Fitri ditandai dengan jiwa luber, melimpah, yang diwujudkan dengan pelunasan zakat fitrah dan sedekah untuk menyempurnakan ibadah Ramadan.

Ketika kita berkunjung ke rumah tetangga, saudara atau teman, berbagai hidangan sudah tersedia. Kenangan waktu kecil dulu, ruang tamu seakan disulap jadi warung, menyediakan berbagai makanan yang tentu saja gratis.

Kata lain yang serumpun adalah lebur. Idul Fitri merupakan momentum seseorang untuk melebur ke dalam jaringan sosial yang penuh semangat perdamaian dan egaliter. Kita saling memaafkan dan menghargai sesama manusia yang pada dasarnya adalah baik.

Sikap lebur hanya dimungkinkan jika kita memiliki pandangan positif serta respek pada yang lain. Untuk ini diperlukan jiwa yang lebar atau luas.

Ini terlihat dan terasakan, ketika Idul Fitri tiba, jiwa kita menjadi lebar, lapang, karena sekat-sekat yang membatasi persaudaraan telah kita robohkan. Kita saling memaafkan dan mendoakan.

Dalam bahasa Sunda juga dikenal kata lubar, yang artinya lapang. Kalau semua itu kita wujudkan dengan sungguh-sungguh maka muncul istilah labur. Dalam masyarakat Jawa, labur berarti membuat pagar dan tembok menjadi putih kembali. Begitulah semangat Idul Fitri, semoga kita berhasil membuat hati, pikiran dan perilaku menjadi putih kembali.

Uraian singkat di atas sedikitnya menjelaskan sebuah realitas sosial keagamaan, bahwa Islam di Nusantara ini telah berbaur dengan tradisi lokal, keduanya saling mengisi dan memperkaya. Tentu saja sumber agama datang dari wahyu ilahi, sedangkan budaya adalah kreasi manusia.

Tetapi hubungan agama dan budaya, bagaikan hubungan ruh dan tubuh. Tanpa budaya maka pesan wahyu sulit dipahami dan diterapkan dalam sebuah masyarakat, atau ibarat pesawat tidak punya landasan untuk mendarat.

Bahkan, halalbihalal dan mudik Lebaran yang sedemikian kolosal saat ini menjadi acara khas Indonesia. Sebuah inovasi dan kreasi budaya keagamaan yang sangat jenius dan berhasil, bahkan telah menjadi bagian dari agenda negara.

Lebaran sepenuhnya agenda masyarakat tanpa minta APBN. Namun, pemerintah membantu memfasilitasi terhadap warga negaranya. Adapun ritual salat Id dan khotbahnya seragam di seluruh dunia. Namun, ekspresi kulturalnya berbeda-beda. Ini sebuah bidah budaya (cultural innovation) yang mesti kita apresiasi dan lestarikan.

Makanya kalau ada kelompok ekstremis yang menempatkan negara RI sebagai musuh agama, pemikiran itu jelas salah. Ajaran agama apa yang dilarang di Indonesia?

Agenda yang mendesak itu bagaimana memberantas korupsi, meningkatkan kualitas pendidikan, menciptakan lapangan kerja, dan bersama-sama menjaga kedamaian. Bukan gerakan merobohkan Indonesia, lalu diganti dengan ideologi lain yang tak punya akar historis-politis di Indonesia. Itu hanya akan menciptakan segregasi dan perseteruan sosial yang sia-sia, bahkan menyengsarakan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kebaikan apa yang mau ditiru dan diimpor dari krisis Suriah yang dimotori oleh ISIS? Yang ada hanyalah sebuah kehancuran dan kesengsaraan rakyat dan tercorengnya martabat Islam.

Sebagai pesan penutup, dengan datangnya Idul Fitri, yang berakhir itu puasa makan dan minum di siang hari. Adapun pesan puasa hati, pikiran, dan tindakan justru akan diuji setelah Idul Fitri, apakah kita berhasil menjalani training Ramadan ataukah gagal. []

KORAN SINDO, 23 Juni 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Komunalisasi Ruang Publik

Oleh: Komaruddin Hidayat

Menurut cita rasa bahasa, kata ‘Indonesia’ merujuk pada letak dan kondisi geografis, yaitu sederet pulau di lautan India, bukan menunjuk sebuah entitas bangsa. Pernyataan ini lebih mudah dipahami dengan membuat perbandingan, misalnya Turki, nama bangsa dan negaranya adalah identik. Atau bangsa dan negara Korea, keduanya juga identik. Sementara kata Indonesia jika dimaksudkan sebagai sebuah bangsa, yang namanya bangsa Indonesia masih dalam proses menjadi Indonesia atau mengindonesia. Sebuah cita-cita politik yang memerlukan perjalanan panjang dan berliku.

Melihat geneologi bangsa dan negara Indonesia, Indonesia merupakan proyek politik dari warga masyarakat serta pemimpin daerah yang tinggal dan tersebar di Nusantara ini untuk meraih kemerdekaan dari cengkeraman penjajah. Indonesia merupakan rumah besar yang elemen-elemen bangunan dan kamar-kamarnya terdiri dari sekian ragam etnis, budaya dan agama yang sepakat tegak berdiri saling bergandeng tangan, saling menjaga dan memperkokoh yang lain.

Hidup berdaulat, merdeka dan sejahtera merupakan cita-cita dan tekad utama yang mendasari berdirinya Republik Indonesia. Oleh karena itu, moto Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar menggambarkan pluralitas suku, bahasa, dan agama penduduk Nusantara, tetapi sebuah janji dan komitmen politik yang harus dipenuhi oleh pemerintah dan negara untuk melindungi serta memupuk pohon kebinekaan itu.

Wilayah yang diperebutkan

Moto Bhinneka Tunggal Ika dan kesepakatan Pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara juga merupakan bukti sejarah dan janji politik agar Indonesia tak dikuasai dan dimiliki ideologi primordial, komunal, dan kesukuan karena jika hal itu terjadi pasti Indonesia akan gaduh, kehilangan ruh dan mengingkari jati dirinya dengan ongkos sosial, ekonomi, dan politik teramat mahal.

Langkah paling logis dan strategis adalah memenuhi janji untuk menjaga keutuhan berbangsa serta menyejahterakan warganya secara merata karena merekalah pemilik sejati Tanah Air Indonesia. Pemerintah dan negara mesti menindak tegas serta menghalau terhadap predator dengan berbagai macam bentuk, rupa, kostum, dan modus yang merampas hak-hak rakyat serta mau menggergaji tiang negara.

Sejak dulu wilayah Nusantara ini memang selalu menjadi daerah yang diperebutkan (contested zone) oleh kekuatan asing. Kekuatan asing mana yang tidak tertarik untuk datang dan menguasai wilayah yang indah, makmur dengan sumber alamnya kaya raya ini?

Oleh karena itu, konsep Indonesia asli itu tidak mudah dicarikan akar tunggangnya secara otentik. Bahkan, agama-agama besar yang diakui oleh negara pun semuanya agama pendatang. Meminjam bahasa bisnis, semuanya adalah agama impor. Kalaupun ada agama asli Indonesia, barangkali berupa kepercayaan dan tradisi lokal yang masih bertahan di sejumlah daerah yang posisinya pun semakin tergusur. Akan tetapi, memang demikianlah yang terjadi, di tingkat global pun migrasi penduduk lintas bangsa, agama, dan negara semakin intens.

Hal ini bisa memperkaya peradaban sebuah bangsa, tetapi bisa juga malah menimbulkan persoalan baru, seperti ekses eksodus kurban peperangan di Timur Tengah yang mencari suaka ke Eropa. Sejumlah pelaku teroris diidentifikasi sebagai warga imigran.

Bangsa-bangsa yang dulu dikenal sebagai kapitalis, imperialis dan agresor nalurinya tidak akan pernah mati. Yang berubah adalah modusnya. Namun, mereka dihadapkan kenyataan sosial baru bahwa sekarang ini tak akan bisa sebuah bangsa dan negara untuk maju dan kaya sendiri. Dalam diplomasi luar negeri, kata kemandirian telah diubah menjadi kemitraan. Ketika ilmu pengetahuan, teknologi dan demokrasi semakin mendunia, semua bangsa dipaksa untuk saling kerja sama dan menghargai hak-hak bangsa lain. Naluri imperialisme mesti berdamai dengan rasionalitas urgensi kerja sama antarbangsa. Kita hidup dalam global network society.

Urgensi kerja sama dan nafsu kompetisi ini mengingatkan kita pada teori Darwinisme sosial, survival of the fittest. Hanya mereka yang kuat dan fit memasuki lingkungan baru yang bisa bertahan dan berkembang. Kalau ada negara yang kaya sumber alamnya, tetapi tidak memperoleh perlindungan kuat, pasti akan jadi mangsa negara kuat yang agresif.

Ini sudah dan masih berlangsung di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Sampai-sampai muncul istilah a natural curse. Kekayaan sumber daya alam yang tidak memperoleh perlindungan dan pemanfaatan yang benar, akan berbalik menjadi sumber malapetaka. Alam mengutuk balik penghuninya. Lihat saja apa yang terjadi di Irak, Libya, Suriah, dan beberapa daerah di Indonesia.

Yang menyedihkan adalah ketika terjadi persekongkolan kekuatan asing dan oknum-oknum dalam negeri sebagai komprador. Lebih menyedihkan lagi ketika oknum dalam negeri itu menggunakan instrumen negara untuk merusak dan merampok kekayaan rakyat dan negaranya sendiri.

Politik komunalisme

Perkembangan dan perubahan politik yang berlangsung sedemikian cepat, ditambah lagi pengguna media sosial (medsos) yang terus bertambah membuat masyarakat mengalami gegar ledakan informasi, bingung, tidak bisa membedakan antara berita sampah, hoaks, dan yang konstruktif-edukatif. Lewat medsos siapa pun punya peluang yang sama untuk menulis menyampaikan aspirasi dan opininya terhadap berbagai berita dan peristiwa yang terjadi.

Sedemikian penuh dan hiruk pikuk informasi dan opini di medsos sehingga komunitas netizen cenderung berpikir fragmentaris dan eklektik tanpa kedalaman. Bahasa medsos pun cenderung subyektif, like or dislike, bukannya salah atau benar berdasarkan kajian dan perenungan mendalam.

Suasana gamang dan insecure, mendorong seseorang untuk membangun afiliasi emosional dan imajiner dengan mereka yang memiliki gelombang emosi yang sama. Afiliasi emosional ini akan menjadi semakin kental ketika disatukan oleh kesamaan kepentingan dan identitas keagamaan sehingga pada urutannya menimbulkan crowd mentality. Mental kerumunan. Ketika tampil figur yang bisa menjadi lokomotif, komunitas netizen yang bermental kerumunan ini bisa muncul sebagai kekuatan riil meskipun hanya sesaat karena bukan himpunan massa yang organik.

Dalam sebuah pesta demokrasi, mental kerumunan ini mudah dikapitalisasi dan direkayasa untuk sebuah tujuan politik jangka pendek. Kehadiran medsos dan sosok pemimpin massa sangat instrumental untuk menjaring dan menggalang emosi yang sama dalam menentukan sikap politik massa, meskipun di situ tidak jarang terjadi proses manipulasi dan pembodohan.

Bahkan, organisasi semacam Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS) pun sangat sadar dan piawai melakukan propaganda sampai cuci otak (brain washed) melalui medsos. Anak-anak muda yang tidak beruntung secara ekonomi dan dangkal wawasan pengetahuan agamanya menjadi sasaran empuk propaganda gerakan NIIS dan gerakan radikal sejenisnya.

Dalam konteks Indonesia yang penduduknya sangat beragam dan dari sisi pendidikan serta ekonomi masih banyak yang kurang beruntung, mereka mudah tertarik jika ada tawaran insentif berjihad mencari kemuliaan di jalan Tuhan dan janji-janji perbaikan nasib. Di antara janji-janji yang ditawarkan itu adalah mengganti ideologi dan sistem kenegaraan yang menerapkan demokrasi lalu diganti sistem kekhalifahan. Pancasila dan demokrasi itu pemerintahan taghut, berhala, kafir, mesti diganti. Atau setidaknya diterapkan sistem syariah, tetapi syariahmenurut pemahaman mereka.

Tema-tema itu pantas diragukan, jangan-jangan hanya jargon kosong dan pemikiran utopia karena yang sesungguhnya terjadi adalah perebutan kekuasaan dan sumber daya ekonomi di kalangan elite yang kemudian mengkapitalisasi sentimen komunalisme etnis dan agama. Menjadi semakin complicated ketika kekuatan asing ikut bermain memperburuk suasana dengan melatih para aktivis radikal dan menyuplai kebutuhan finansialnya.

Jika asumsi dan dugaan di atas benar, kita mesti bersiap-siap mental mendekati Pemilu 2019 ini Indonesia akan semakin gaduh. Ekspresi keagamaan yang garang yang akan lebih mengemuka, dan bukannya keberagamaan yang sejuk dan mencerahkan untuk bersama-sama memajukan dan menyejahterakan rakyat Indonesia. []

KOMPAS, 19 Juni 2017
Komaruddin Hidayat ; Dosen pada Fakultas Psikologi UIN Jakarta