You Are What You Read

AKHIR-akhir ini handphone (HP) tidak lagi sekadar tool atau alat komunikasi jarak jauh, tetapi telah naik kelas menjadi bagian integral dan perpanjangan dari kepribadian seseorang atau extended self. Telepon genggam telah mengganti tradisi ngobrol dan tatap muka yang telah lama mengakar di masyarakat tradisional, lalu berubah menjadi ngobrol di dunia maya dan gambar.

Bersamaan dengan tren masyarakat yang semakin individualistis, baik karena pengaruh kompetisi berebut sumber ekonomi maupun kemacetan lalu lintas, kebutuhan orang berkomunikasi lalu difasilitasi oleh telepon seluler yang tak pernah lepas ke mana pun dan di mana pun seseorang berada. Fenomena ini sangat mudah diamati di lingkungan keluarga dan masyarakat. Ketika seseorang kehilangan HP-nya seakan kehilangan sebagian dirinya.

Komunikasi melalui WhatsApp dan Twitter menggabungkan budaya ngobrol dan membaca, chatting and writing, serta menghilangkan hierarki. Perasaan dan pikiran apa pun dengan leluasa dituliskan layaknya peristiwa ngobrol, tapi dalam format tulisan.

Jika seseorang menulis dalam media sosial semacam surat kabar atau majalah, di sana terdapat editor yang menyeleksi dan mengoreksi sebelum disebarkan. Ada redaktur yang bertanggung, jelas orang dan alamatnya.

Namun dalam media online, lalu lintas berlangsung bebas hampir-hampir tanpa rambu-rambu dan tanpa hierarki. Semua berkedudukan sama. Kita juga sulit mengecek dan tidak mudah percaya, apakah nama pengirim dan penulis itu benar-benar autentik orangnya ataukah nama samaran. Terlebih, jika tulisan itu berupa copy paste (copas).

Oleh karenanya, ketika informasi dan teks itu bagaikan hujan lebat yang masuk dan mengguyur pekarangan HP kita, maka jangan buru-buru percaya. Jangan semuanya ditelan. Di situlah kedewasaan emosi, integritas intelektual, serta selera bacaan seseorang akan terlihat.

Ada orang yang selektif, menganggap banyak sampah yang masuk ke ruang hati dan pikiran kalau saja dibaca semuanya. Kita menjadi garbage collector.

Pengumpul sampah, baik sampah tulisan maupun sampah visual. Sikap selektif ini sangat penting, mengingat di sana terdapat nasihat klasik, you are what you read. Apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan seseorang itu, banyak dipengaruhi oleh apa yang dilihat dan dibaca.

Mengapa kaum kapitalis sangat peduli pada iklan, bahkan rela mengeluarkan uang ratusan miliar untuk iklan? Karena mereka yakin bahwa apa yang dilihat itu akan memengaruhi pilihan dan menggerakkan tindakan untuk berbelanja.

Maka tak heran, belakangan ini iklan properti Meikarta, misalnya, muncul di berbagai media massa dan sudut-sudut kota Jakarta dengan asumsi bahwa iklan itu akan menstimulasi masyarakat untuk membelinya. Dana triliunan rupiah dibelanjakan untuk iklan.

Saya ingin berbagi cerita. Ada seorang teman bergabung dalam sebuah WhatsApp Group (WAG). Teman tadi sehabis membaca selalu ngedumel dan kadang hatinya panas karena isi dalam WAG itu tidak sejalan dengan pandangan politiknya dan agamanya. Pendeknya, isinya dianggap sampah, kasar, dan tidak etis.

Tetapi anehnya, dia tidak mau keluar dari WAG dan selalu saja membaca postingan yang dia tidak senang. Jadi, dengan setia membaca postingan yang tidak disenangi, sama saja dengan setia mengundang fans memasukkan sampah ke dalam hati dan pikirannya.

Mestinya, jika tidak senang cukup keluar dari WAG atau tidak membacanya. Kecuali jika yang dibacanya itu bermutu, maka teks postingan itu bagaikan vitamin atau cahaya yang membuat hati dan pikiran sehat serta terang dalam memandang hidup.

Membaca berarti juga menulis ulang dalam folder memori mental. Maka bacalah buku dan postingan yang sehat, berkualitas, karena bacaan itu pada urutannya akan mengkristal ingatan dan referensi ketika seseorang berbicara serta bertindak.

Saat ini sudah terlalu banyak sampah visual dan tekstual. Jangan sampai merusak selera kita menjadi rendah dan murahan.

Tuhan menciptakan ruang hati dan pikiran begitu mahal dan mulia. Jangankan hati dan pikiran, kalau kita punya almari pun pakaian yang kotor tidak akan kita masukkan. Rumah pun tiap pagi dan sore kita sapu, pel, dan bersihkan agar mengkilap. Terlebih cawan hati dan pikiran, mestinya lebih bersih. []

KORAN SINDO, 17 November 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Saudara dan Persaudaraan

ORANG Inggris punya ungkapan, It is a chance, not by choice, that makes you a brother or sister. But it is heart, by choice and effort, that makes a brotherhood and sisterhood. Karena ikatan darah (blood line) maka Anda memiliki saudara, namun tak jaminan antara sesama saudara terbangun persaudaraan.

Dulu Nabi Yusuf pernah dilempar ke sumur oleh saudara-saudaranya karena dengki dan cemburu, namun Tuhan menyelamatkan, bahkan akhirnya Yusuf jadi penguasa di Mesir dan memaafkan kejahatan saudara-saudara sekandungnya. Jika ditarik ke belakang lagi, anak Adam juga terlibat pertengkaran sampai pada pembunuhan, antara Kabil dan Habil.

Kisah serupa telah memberikan pelajaran kepada kita bahwa hubungan darah seayah-seibu pun tidak jaminan menciptakan persaudaraan dan kerukunan antara mereka. Sampai-sampai muncul istilah family quarrel, pertengkaran antarkeluarga. Dalam kajian teologi, family quarrel itu juga terjadi pada pemeluk rumpun agama anak-cucu Ibrahim, yaitu Yahudi, Nasrani, dan Islam.

Mereka mempertengkarkan truth claim, agama siapakah yang paling benar di mata Tuhan. Mereka bertengkar, pemeluk agama mana yang berhak masuk surga, bahkan sampai kafir-mengafirkan yang berujung pada pertumpahan darah.

Di lingkungan istana, cerita pertengkaran keluarga ini tidak aneh. Keturunan raja sering terlibat perseteruan karena berebut jabatan, fasilitas, dan warisan. Yang fenomenal adalah berebut posisi sebagai putra mahkota.

Jalinan persaudaraan terbentuk karena berbagai faktor. Bagi para perantau, jika di tempat barunya bertemu orang sedaerah dan sesuku sering kali menjadi akrab melebihi saudara sendiri. Terlebih jika bertemunya di luar negeri maka rasa persaudaraan bisa lebih kental lagi.

Mengapa? Karena seseorang di rantau kadang merasa kesepian, tidak memiliki teman dekat. Lebih dari itu, sesungguhnya jika seseorang mendapatkan kesulitan, yang paling dekat untuk dimintai pertolongan, atau yang segera bisa menolong, adalah tetangga dan teman terdekat, bukannya saudara kandung yang tinggalnya berjauhan. Meskipun saudara sekandung, jika tinggalnya berjauhan maka sulit memberikan pertolongan segera.

Ada lagi ikatan keagamaan. Akhir-akhir ini muncul kelompok pengajian yang eksklusif, ikatannya melebihi ikatan keluarga. Sosok guru dan ajarannya menjadi figur sentral yang menyatukan murid-muridnya.

Bahkan, ada yang rela meninggalkan keluarga besarnya karena beda paham dan keyakinan agamanya. Di antara mereka pun memiliki sebutan khas, “akhi” dan “ukhti”, saudara laki dan saudara perempuan seakidah.

Ada persaudaraan lain yang mungkin kontraktual, yaitu saudara seorganisasi dan separtai. Mereka disatukan oleh kepentingan politik sesaat. Tapi ketika agenda kepentingannya berubah dan berbeda, persaudaraan pun buyar.

Belakangan ini juga muncul persaudaraan baru, antara lain persaudaraan karena kesamaan dan ikatan profesi serta persaudaraan yang tumbuh dan terbina karena sesama satu almamater. Persaudaraan ini lalu membentuk komunitas digital dalam dunia maya. Setiap hari bertegur sapa, berbagi cerita, dan gosip melalui WhatsApp Group (WAG). Sekali-sekali mereka bertemu mengadakan kopi darat (kopdar), tidak hanya berceloteh di udara terus.

Tidak mudah, memang, untuk membangun persaudaraan yang solid dan kekal, baik berdasarkan hubungan darah maupun berangkat dari perkenalan dan pertemanan. Meskipun penduduk bumi sudah mencapai 6 miliar, penduduk Indonesia 240 juta, yang namanya sahabat sejati tidaklah banyak.

Pepatah lama mengatakan, temanmu yang sejati adalah yang mau ikut menangis bersamamu, bukan yang mendekat saat engkau tertawa gembira. Teman yang seperti inilah kadang kedekatannya melebihi saudara.

Biasanya persaudaraan rusak jika sudah melibatkan kalkulasi untung-rugi, semangatnya mengambil, bukan memberi. Padahal, kalau saja sikap dasarnya saling memberi, berbuat ihsan, pada akhirnya justru akan lebih enak dan menguntungkan, saling memperoleh apa yang diharapkan dari teman tanpa harus meminta. Karena teman yang baik akan punya sikap empati yang tinggi, menawarkan pertolongan tanpa harus dijemput dengan permintaan.

Dalam masyarakat yang lebih mendahulukan “aku”, bukannya “kami” dan “kita”, yang egoistis-individualistis, persaudaraan yang solid dan tulus, rasanya semakin langka. Dulu persaudaraan yang terbentuk di dunia pesantren tumbuh dan solid. Namun, belakangan ini mungkin sudah mulai mengendur. Pilihan politik dan mazhab keagamaan pun adakalanya bisa merusak persaudaraan. []

KORAN SINDO, 3 November 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Harta Panas

HATI-hati dengan harta kekayaan yang kita miliki, salah satunya dari warisan orang tua. Agama selalu mengajarkan untuk berdoa agar mendapatkan rezeki yang halal dan berkah. Bukan harta haram dan panas yang tidak mendatangkan ketenteraman dan keberkahan.

Banyak kasus di sekeliling kita yang menjadi pembelajaran sangat berharga. Ketika orang tuanya meninggal, tanah kuburnya belum kering, anak-anaknya justru sudah bersengketa berebut warisan. Peristiwa demikian ini akar masalahnya ada dua.

Pertama, orang tua tidak mengantisipasi untuk membagi warisan jika sewaktu-waktu meninggal. Yang demikian tentu kita maklumi, karena kematian itu rahasia Tuhan, tidak tahu kapan terjadi. Namun, ternyata ada beberapa orang tua yang sudah berwasiat sebelum meninggal.

Semua anggota keluarganya dikumpulkan, didengarkan aspirasinya dan komitmennya jika suatu saat orang tua meninggal agar tidak bertengkar soal warisan. Orang tua berwasiat, jangan sampai anak-anak berebut warisan, karena akan menyiksa di alam kuburnya.

Sebaliknya, para anggota keluarga diminta agar memanfaatkan warisan itu di jalan Tuhan agar mendatangkan dividen pahala kebaikan bagi orang tua yang telah meninggal, atau disebut amal jariyah, maupun bagi yang masih hidup.

Kedua, akar penyebab mengapa ahli waris bertengkar karena secara ekonomi belum pada mandiri dan tidak memiliki pendidikan serta akhlak mulia. Jika anak-anak memperoleh pendidikan yang baik dan hidup mandiri secara ekonomi, pada umumnya harta warisan tak akan menjadi sumber sengketa.

Mereka malu memperebutkan harta yang bukan hasil jerih payah dan keringat sendiri. Makanya keluar nasihat orang tua, harta warisan itu barang halal yang panas.

Akan lebih panas lagi jika ternyata harta yang diwariskan itu dulunya didapat dengan jalan tidak halal oleh orang tuanya. Orang tua pasti lebih bahagia meninggalkan keturunan yang berpendidikan, bisa hidup mandiri, diterima, dan dicintai lingkungan sosialnya.

Sering kali kita saksikan, hanya dalam hitungan bulan dan tahun harta warisan habis, itu pun didahului dengan pertengkaran dalam pembagiannya. Anak laki-laki minta bagian lebih besar dari perempuan, padahal secara ekonomi lebih mapan ketimbang saudara perempuannya. Sementara pihak perempuan memandang tidak adil karena anak laki-laki lebih banyak menghabiskan uang sewaktu orang tuanya masih hidup.

Ada contoh orang tua yang menarik direnungkan. Sebelum meninggal soal warisan sudah diselesaikan semuanya. Orang tua hidup dengan jatah dirinya. Bahkan dipesankan pada anak-anaknya, kalau suatu saat meninggal agar hartanya disedekahkan untuk kepentingan masyarakat, anak-anak jangan mengambilnya karena semuanya sudah mendapat bagian dan sudah mandiri, sekalipun tidak kaya raya.

Cerita serupa ini dulu juga sering dilakukan orang tua yang hendak pergi haji, sewaktu masih naik kapal. Ketika pergi haji sudah siap meninggal di perjalanan atau di Tanah Suci, yakin bahwa dia berjalan di atas jalan Tuhan, kalau meninggal langsung masuk surga. Maka agar harta warisannya tidak menjadi sumber fitnah dan pertengkaran keluarga, orang tua sudah meninggalkan wasiat tentang pembagian hartanya.

Ada juga cerita inspiratif lain tentang harta warisan. Ada orang tua wafat meninggalkan anak tiga dan sawah yang cukup luas. Atas nasihat orang tua, sebaiknya jangan dibagi-bagi sawahnya karena masing-masing pasti akan memperoleh bagian yang kecil.

Disarankan agar digarap dan diberdayakan bersama, dijadikan modal usaha bersama, lalu siapa yang lagi memerlukan uang yang besar, misalnya untuk ongkos bangun rumah, maka dia diutamakan, dibangunkan bersama-sama.

Selanjutnya, apa yang terjadi? Ketiga anaknya memiliki rumah masing-masing, prestasi sekolahnya bagus, harta sawah warisannya utuh, bahkan kekayaannya bertambah. Zakat dan amal sosialnya tak pernah dilupakan. Kalau saja orang tua bisa mengintip dari alam kubur, tentu merasa bahagia. []

KORAN SINDO, 20 Oktober 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Dunia Simulacra

Oleh: Komaruddin Hidayat


SEWAKTU masih nyantri di Pondok Pabelan, Magelang, ada nasihat kiai yang masih melekat di hati. Bahwa seseorang akan naik derajatnya karena ilmu pengetahuan, akhlak (integritas), dan membuang jauh-jauh sikap malas. Bahwa pendidikan itu sangat vital dalam kehidupan ini karena pendidikan mampu mengubah nasib seseorang, keluarga, dan bangsa.
Banyak nasib keluarga desa miskin berubah nasibnya ketika salah satu anaknya memperoleh pendidikan bagus yang mengantarkan pada karier ekonomi bagus dan pada urutannya bisa membantu pendidikan saudara-saudaranya. Bahkan, banyak pembantu rumah tangga (PRT) yang mengirimkan gaji bulanannya untuk biaya anaknya di kampung. Jawabnya sama.
Artinya, masyarakat sangat menyadari bahwa untuk mengubah nasib seseorang, maka pendidikan adalah jalan terbaik yang mesti ditempuh. Orang tua yang berhasil mengantarkan pendidikan anak-anaknya yang berkualitas, jauh lebih berharga dan berbahagia hidupnya dibandingkan dengan mewariskan harta tanpa disertai pendidikan.
Sekarang ini dunia pendidikan terseret masuk pada persaingan pasar. Lembaga pendidikan yang tidak bisa menghasilkan alumni berkualitas dan kompetitif dalam lapangan kerja akan menyusut peminatnya. Prestasi sebuah sekolah dan universitas tidak bisa lagi diukur dengan banyaknya lulusan, wisudawan-wisudawati, jika yang bersangkutan tidak memiliki ilmu, keahlian khusus, integritas, dan kemampuan komunikasi sosial.
Indonesia beruntung punya tetangga Australia, Singapura, dan Malaysia, sehingga kita dihadapkan langsung dalam persaingan di dunia pendidikan. Kita pantas malu dengan mereka yang jauh lebih progresif dan inovatif dalam pendidikan.
Dalam hal pendidikan karakter, sekarang ini beban guru dan orang tua sangatlah berat. Mereka dihadapkan problem dan variabel baru yang berkembang di luar kontrol.
Dulu pertumbuhan seorang anak diasuh bersama lingkungan keluarga, masyarakat, dan budaya yang solid dan homogen sehingga pertumbuhan karakternya mudah diarahkan dan diprediksi. Tetapi sekarang, meminjam istilah Jean Baudrillard, filsuf Prancis, kita hidup dalam era simulacra.
Masyarakat diserbu oleh simbol-simbol, penanda, dan iklan yang tidak selalu mewakili realitas sejati. Di sisi lain, simbol-simbol itu dipercaya telah menjadi sebuah realitas sesungguhnya.
Masyarakat menjadi objek yang dirayu dan diserbu oleh iklan pencitraan dan produk konsumsi sehingga masuk perangkap sebagai consumer society yang tidak menjadi kebutuhan primernya.
Begitu menghidupkan TV atau handphone langsung diserbu iklan, termasuk iklan politik. Begitu keluar rumah, mata langsung disergap oleh iklan-iklan. Situasi ini lalu melahirkan visual garbage atau sampah visual.
Dampaknya bagi pendidikan karakter, menurut Baudrillard, harga diri seseorang lalu dinilai oleh apa yang dikonsumsi, oleh gaya hidup, oleh kemasan dan atribut yang dipakai, bisa jadi seragam ormas atau partai, yang tidak mewakili pribadinya yang autentik.
Ketika seseorang masuk mal, misalnya, yang akan dinilai adalah berapa banyak dia berbelanja, merek apa yang dikonsumsi, tidak peduli jabatan dan profesi, atau karakternya. Orang membangun identitasnya bukan bergerak ke dalam diri dengan membangun karakter dan perenungan untuk membentuk pribadi autentik yang setia pada nurani dan akal sehat, tetapi bergerak keluar mengikuti logika dan selera pasar serta pencitraan diri.
Pasar di sini tidak selalu berkonotasi ekonomi, tetapi juga pasar politik. Di era simulacra, orang pun sangat sulit berpisah barang sehari dari telepon selulernya karena akan merasa ketinggalan atau terpisah dari dunia luar, dunia hiperealitas yang telah dinikmatinya meskipun semu.

 

Pendidikan karakter haruslah membawa kembali bangsa ini sebagai subjek, dimulai dari jajaran elitenya, orang tua, dan guru agar menjadi subjek serta pribadi yang autentik. Sayangnya, para elite sendiri telah terjerat ke dalam panggung simulacra, sebuah tontonan simbolik yang penuh jargon dan wacana yang dikapitalisasi oleh industri media sosial. Keduanya jadi agen produsen wacana, tapi terputus dari realitas keseharian rakyat serta cita-cita kemerdekaan.
Dunia medsos telah merobohkan batas-batas privat dan publik, bahkan tembok rumah dan kamar pun ditembus oleh agresivitas dunia maya yang tidak lagi maya karena pengaruhnya sangat kuat pada kehidupan nyata. Hal-hal yang semua sangat pribadi diekspos ke ruang publik, sedangkan ruang publik digeser oleh agenda dan pikiran pribadi serta komunal, salah satunya komunalisme keagamaan.
Pilar pendidikan karakter ini jika tidak dipikirkan dan direformulasikan ulang, saya khawatir situasinya ibarat kompetisi antara produsen obat nyamuk dan peternak nyamuk. Antara pendidik dan pengedar narkoba. Antara juru dakwah dan produsen limbah visual yang memenuhi ruang publik. []

 

KORAN SINDO, 6 Oktober 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Liburan Keluarga

Oleh: Komaruddin Hidayat
Sekarang ini agenda liburan keluarga semakin ngetren. Kebutuhan keluarga tidak sekadar fokus pada sandang, papan, dan pangan seperti zaman kakek-nenek dulu, tetapi juga menyangkut kebutuhan akan pendidikan dan liburan. Anda akan menjumpai banyak turis lokal berbaur dengan asing di tempat objek wisata Indonesia.
Bahkan di luar negeri pun akan mudah ditemui turis-turis Indonesia. Mereka tidak semuanya datang dari keluarga menengah ke atas secara ekonomi, tetapi banyak keluarga menengah ke bawah yang sengaja menabung untuk berwisata ke luar negeri, layaknya menabung untuk biaya perjalanan umrah atau haji.
Sesungguhnya kebutuhan berlibur itu sejak dulu sudah dirasakan dan dilakukan. Namun, sekarang objeknya diperluas. Bahkan telah menjadi bagian dari gaya hidup (lifestyle). Badan dan pikiran itu butuh istirahat serta merasakan suasana baru yang menyegarkan sehingga di Indonesia liburan sering disebut rekreasi (re-creation).
Berkat kemudahan moda transportasi dan sumber informasi membuat masyarakat semakin tertarik mengeksplorasi objek-objek wisata ternama dan kota-kota besar dunia, baik di dalam maupun luar negeri.
Berkaitan dengan meningkatnya minat masyarakat melakukan wisata, maka agen-agen perjalanan juga tumbuh pesat. Mereka berlomba menawarkan jasa, informasi, dan harga untuk menarik pembelinya.
Wisata yang paling ramai adalah perjalanan umrah-plus. Di samping untuk menunaikan ibadah umrah di Mekkah, yang menjadi daya tariknya adalah tambahan wisata ke kota lain, seperti Yerusalem, Istanbul, Mesir, atau Spanyol. Mereka ingin melihat warisan sejarah, keindahan alam, dan keunikan kotanya.
Bagi kehidupan rumah tangga, wisata keluarga ini sangat berguna untuk menyegarkan suasana baru, memotong kebiasaan dan rutinitas yang kadang membosankan serta membelenggu pikiran sehingga membunuh kreativitas. Ini dilakukan tidak mesti jauh-jauh ke luar negeri dengan biaya mahal. Terpenting ada jeda dari kungkungan rutinitas, lalu menghirup udara dan suasana lain.
Dalam perjalanan rombongan, seseorang akan mengenal lebih jauh karakter orang lain, terutama ketika dihadapkan problem di perjalanan. Apakah seseorang punya rasa empati, apatis, egois, penolong, sabar, problem solver, dan semua itu akan terlihat dalam perjalanan terutama ketika muncul masalah, misalnya, ada salah satu anggota rombongan sakit, jadwal perjalanan meleset, kehilangan uang, dan lainnya.
Coba saja perhatikan ketika dihadapkan makanan yang tidak disukainya, apakah seseorang langsung mengkritik makanan yang sudah tersedia atau berusaha menikmati jatah rezeki hari itu. Anak-anak dan orang tua perlu membiasakan untuk tidak mencela makanan yang sudah terhidang, apa pun rasanya, karena akan mengurangi nikmat dan rasa syukur pada Tuhan.
Selain itu, juga menyakiti yang memasak dan menghidangkannya, kalau saja mereka tahu. Kalau memang tidak suka tak usah dimakan, tapi jangan disertai cercaan.
Tentang etika makan ini ada beberapa pengalaman dan pembelajaran yang menarik dari negeri orang. Beberapa restoran di Manila dan Jerman, misalnya, kalau menyisakan makanan di piring akan didenda. Jadi, bayarnya lebih mahal dari tarifnya. Bahkan ada yang disindir, di belahan bumi lain banyak orang kelaparan, mengapa Anda tega-teganya membuang makanan? Sebaliknya, kalau makanan habis bersih tak ada yang tersisa, maka akan memperoleh diskon.
Praktik seperti ini sesungguhnya sejalan dengan nasihat Rasulullah agar jangan menyisakan makanan di piring. Ambillah makanan sebanyak yang bisa dihabiskan. Pendeknya, ketika tersedia makanan dan kita bebas mengambilnya, entah di hotel atau acara pesta,  mengambil sedikit demi sedikit itu lebih baik ketimbang sekali mengambil banyak namun tidak dihabiskan.
Itu soal makanan. Dalam liburan keluarga, orang tua juga memiliki kesempatan melatih anak-anaknya untuk mengurus diri sendiri sejak dari check in di bandara dan berbagai keperluan di perjalanan, serta melatih mereka berkomunikasi dengan orang asing. Jadi, di samping untuk rekreasi dan merasakan kebersamaan dalam perjalanan, liburan juga untuk mendidik anak-anak bertanggung jawab pada diri sendiri dan beradaptasi tinggal di luar rumah sendiri.

 

Human being is a traveller being,” kata orang. Manusia adalah sosok “wanderer“, makhluk yang senang jalan-jalan melakukan pengembaraan. Itu akan sangat menyenangkan ketika dilakukan bersama orang-orang terdekat, yaitu keluarga.
Pengalaman suka-duka bersama dalam perjalanan wisata akan memperkokoh ikatan suami-istri dan keluarga. Anak-anak akan selalu terkenang dan akan jadi bahan cerita dalam pergaulan sosialnya. Suatu peristiwa yang melibatkan emosi secara intens, baik suka maupun duka, akan terekam kuat dalam ingatan.
Semakin banyak ingatan yang menyenangkan, anak-anak akan semakin sehat jiwanya dan percaya diri. Karena itu, penting sebuah keluarga untuk memperbanyak deposito ingatan yang menyenangkan, salah satunya liburan bersama ke tempat-tempat indah dan bersejarah. Mengenal kehidupan masyarakat lain itu sangat berguna untuk memperkaya batin kita.
Bagi mereka yang senang berkeluh kesah tentang kemacetan dan tumpukan sampah di Indonesia, cobalah jalan-jalan ke kota pedalaman India, sebuah negara dengan penduduk satu miliar jiwa. Sepulang dari sana, Anda pasti akan memiliki perspektif baru. Atau jalan-jalan ke negara Arab atau Afrika yang alamnya gundul, panas, banyak hamparan padang pasir, ditambah lagi konflik bersenjata telah menghancurkan kota seisinya.
Begitu kembali ke Indonesia, Anda akan memiliki cara pandang baru tentang Indonesia. Pengalaman ini ada yang menyebutnya “passing over“. Kita melintasi batas yang selama ini mengurung dan mengungkung kita untuk mengetahui dunia lain, lalu kembali lagi dengan wawasan lebih luas dan kaya. Istilah “passing over” juga dianjurkan untuk dilakukan dalam wawasan dan kehidupan beragama agar pemahaman seseorang tidak picik dan selalu penuh kecurigaan serta kebencian kepada mereka yang dianggap lain dan berbeda. []

 

KORAN SINDO, 29 September 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah