Agama dan Tradisi

Oleh: Komaruddin Hidayat

AGAMA itu diyakini datang dari “langit”, sedangkan tradisi tumbuh dari “bumi”. Tapi setiap agama yang hadir di bumi pasti akan bertemu dan menyatu dengan tradisi lokal.

Bahkan sebuah agama pada urutannya juga akan melahirkan tradisi baru, yaitu tradisi keagamaan. Oleh karena itu agama dan tradisi selalu menyatu, bagaikan menyatunya roh dan tubuh. Kita semua begitu terlahir langsung diasuh dan dibesarkan oleh tradisi.

Yang paling mencolok tentu dalam hal bahasa, makanan, dan agama. Anak kecil akan berbahasa mengikuti bahasa lingkungan keluarga dan sosialnya.

Begitu pun selera dan cara makan serta jenis makanan yang disantap sangat dipengaruhi tradisi keluarganya. Juga dalam aspek keberagamaan, seorang anak akan mengikuti agama orang tuanya meskipun setelah dewasa bisa saja seseorang menyatakan berganti keyakinan agamanya.

Pola pikir seseorang pun sangat dipengaruhi lingkungan tradisi yang membesarkannya. Dengan demikian, secara ontologis-teologis, agama dan tradisi bisa dibedakan, tetapi pada praktiknya agama dan tradisi tak mungkin dipisahkan atau bahkan dibedakan.

Paham dan praktik agama yang sampai pada kita, apa pun agamanya, sudah melalui berbagai saluran tradisi dan tafsiran sehingga bisa jadi di sana terjadi reduksi dan deviasi dari ajaran dasarnya meskipun kadarnya berbeda-beda. Kita melihat dalam sejarah, agama tumbuh menjadi besar setelah keluar dari tempat kelahirannya, bertemu dengan budaya baru di luarnya.

Tafsiran dan pengalaman umat beragama yang sedemikian banyak dan beragam tanpa disadari juga telah bercampur baur, saling memperkaya yang lain. Ini bagaikan model pakaian, sudah tumpang tindih dan bercampur modelnya meskipun elemen dasarnya tetap.

Kadang perjumpaan agama juga berbenturan. Secara komunal umat beragama punya rumah dan basis yang jelas, tetapi pada ranah kehidupan sosial terjadi perjumpaan lintas umat. Terlebih lagi dengan situasi masyarakat dunia yang semakin plural sebagaimana juga Indonesia, keragaman agama dan tradisi keagamaan juga mudah kita jumpai di mana-mana.

Beruntunglah dasar negara kita Pancasila sehingga kerja sama antarumat yang berbeda sudah biasa dan berlangsung lama, bahkan difasilitasi negara. Di era demokrasi, persilangan antar-pemikiran dan tradisi agama semakin leluasa. Dengan demikian, pada ranah budaya, berbagai unsur agama bisa saja bertemu dan berkembang bersamaan tanpa merusak keyakinan agama masing-masing.

Panggung budaya itu bagaikan pasar atau mal yang mempertemukan dan menampung berbagai macam orang dan dagangan. Mempertemukan beragam penjual dan pembeli. Salah satu yang ditawarkan adalah agama yang telah dikemas atau dibungkus sedemikian rupa agar menarik bagi calon pembelinya.

Agama-agama besar yang tumbuh di Nusantara ini semuanya adalah pendatang. Agama datang ke sini dengan kendaraan bermacam-macam. Ada yang datang bersama pedagang, ada pula yang beriringan dengan imperialis. Bersama jalannya waktu, agama yang asalnya dari luar telah tumbuh menyatu dengan budaya dan tradisi lokal.

Dengan demikian, pemahaman, praktik, dan kemasan agama yang ada sekarang ini semakin kental dan kaya nuansa budaya lokalnya. Misalnya saja istilah surga yang asalnya dari tradisi Hindu, orang Islam pun menggunakan kata surga dan neraka yang disesuaikan dengan konsep Islam.

Berbagai tradisi dan agama bercampur di ranah Nusantara. Yang paling khas dan tidak bercampur adalah tata cara ibadahnya. Tapi, selain ibadah, sesungguhnya pergaulan lintas umat beragama tak mungkin dibatasi.

Sekali lagi, ibarat pasar, tak ada pembedaan latar belakang etnik dan agama.. Yang penting terjaga suasana damai dan saling menguntungkan bagi semua pihak. Masing-masing silakan menawarkan dagangan atau ajarannya dengan cara yang menarik dan saling menghargai, tidak boleh main paksa dan mengancam yang lain. []

KORAN SINDO, 12 Januari 2018

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

You Are What You Read

AKHIR-akhir ini handphone (HP) tidak lagi sekadar tool atau alat komunikasi jarak jauh, tetapi telah naik kelas menjadi bagian integral dan perpanjangan dari kepribadian seseorang atau extended self. Telepon genggam telah mengganti tradisi ngobrol dan tatap muka yang telah lama mengakar di masyarakat tradisional, lalu berubah menjadi ngobrol di dunia maya dan gambar.

Bersamaan dengan tren masyarakat yang semakin individualistis, baik karena pengaruh kompetisi berebut sumber ekonomi maupun kemacetan lalu lintas, kebutuhan orang berkomunikasi lalu difasilitasi oleh telepon seluler yang tak pernah lepas ke mana pun dan di mana pun seseorang berada. Fenomena ini sangat mudah diamati di lingkungan keluarga dan masyarakat. Ketika seseorang kehilangan HP-nya seakan kehilangan sebagian dirinya.

Komunikasi melalui WhatsApp dan Twitter menggabungkan budaya ngobrol dan membaca, chatting and writing, serta menghilangkan hierarki. Perasaan dan pikiran apa pun dengan leluasa dituliskan layaknya peristiwa ngobrol, tapi dalam format tulisan.

Jika seseorang menulis dalam media sosial semacam surat kabar atau majalah, di sana terdapat editor yang menyeleksi dan mengoreksi sebelum disebarkan. Ada redaktur yang bertanggung, jelas orang dan alamatnya.

Namun dalam media online, lalu lintas berlangsung bebas hampir-hampir tanpa rambu-rambu dan tanpa hierarki. Semua berkedudukan sama. Kita juga sulit mengecek dan tidak mudah percaya, apakah nama pengirim dan penulis itu benar-benar autentik orangnya ataukah nama samaran. Terlebih, jika tulisan itu berupa copy paste (copas).

Oleh karenanya, ketika informasi dan teks itu bagaikan hujan lebat yang masuk dan mengguyur pekarangan HP kita, maka jangan buru-buru percaya. Jangan semuanya ditelan. Di situlah kedewasaan emosi, integritas intelektual, serta selera bacaan seseorang akan terlihat.

Ada orang yang selektif, menganggap banyak sampah yang masuk ke ruang hati dan pikiran kalau saja dibaca semuanya. Kita menjadi garbage collector.

Pengumpul sampah, baik sampah tulisan maupun sampah visual. Sikap selektif ini sangat penting, mengingat di sana terdapat nasihat klasik, you are what you read. Apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan seseorang itu, banyak dipengaruhi oleh apa yang dilihat dan dibaca.

Mengapa kaum kapitalis sangat peduli pada iklan, bahkan rela mengeluarkan uang ratusan miliar untuk iklan? Karena mereka yakin bahwa apa yang dilihat itu akan memengaruhi pilihan dan menggerakkan tindakan untuk berbelanja.

Maka tak heran, belakangan ini iklan properti Meikarta, misalnya, muncul di berbagai media massa dan sudut-sudut kota Jakarta dengan asumsi bahwa iklan itu akan menstimulasi masyarakat untuk membelinya. Dana triliunan rupiah dibelanjakan untuk iklan.

Saya ingin berbagi cerita. Ada seorang teman bergabung dalam sebuah WhatsApp Group (WAG). Teman tadi sehabis membaca selalu ngedumel dan kadang hatinya panas karena isi dalam WAG itu tidak sejalan dengan pandangan politiknya dan agamanya. Pendeknya, isinya dianggap sampah, kasar, dan tidak etis.

Tetapi anehnya, dia tidak mau keluar dari WAG dan selalu saja membaca postingan yang dia tidak senang. Jadi, dengan setia membaca postingan yang tidak disenangi, sama saja dengan setia mengundang fans memasukkan sampah ke dalam hati dan pikirannya.

Mestinya, jika tidak senang cukup keluar dari WAG atau tidak membacanya. Kecuali jika yang dibacanya itu bermutu, maka teks postingan itu bagaikan vitamin atau cahaya yang membuat hati dan pikiran sehat serta terang dalam memandang hidup.

Membaca berarti juga menulis ulang dalam folder memori mental. Maka bacalah buku dan postingan yang sehat, berkualitas, karena bacaan itu pada urutannya akan mengkristal ingatan dan referensi ketika seseorang berbicara serta bertindak.

Saat ini sudah terlalu banyak sampah visual dan tekstual. Jangan sampai merusak selera kita menjadi rendah dan murahan.

Tuhan menciptakan ruang hati dan pikiran begitu mahal dan mulia. Jangankan hati dan pikiran, kalau kita punya almari pun pakaian yang kotor tidak akan kita masukkan. Rumah pun tiap pagi dan sore kita sapu, pel, dan bersihkan agar mengkilap. Terlebih cawan hati dan pikiran, mestinya lebih bersih. []

KORAN SINDO, 17 November 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Kitab Suci dan Pilkada

Oleh: Komaruddin Hidayat

DI luar dugaan, sebaris ayat Al-Maidah 51 dari Alquran tiba-tiba menjadi sangat populer, dikait-kaitkan dengan Pilkada DKI Jakarta. Pesan yang ingin ditonjolkan, umat Islam jangan memilih pemimpin yang tidak seiman.

Kata “pemimpin” terjemahan dari kata “aulia” dalam Alquran menjadi bahan diskusi panjang lebar mengingat kata “aulia” maknanya lebih luas dari kata “pemimpin”. Awalnya ayat itu dikemukakan Basuki Thahaja Purnama atau Ahok, Gubernur DKI, lalu rekaman videonya diedit dan disebarkan sehingga menjadi viral nasional.

Saya tak akan memasuki diskusi tafsir ayat itu dan terlibat pro-kontra Pilkada DKI. Hanya ingin membuat catatan kecil bahwa ayat-ayat Alquran sering kali ditarik-tarik dalam pemilu dan pilkada.

Bisa jadi niatnya agar politik tetap berada di jalur yang benar menurut keyakinan agamanya. Itu bagian dari dakwah. Namun bisa saja karena motif lain, yaitu memanfaatkan wibawa kitab suci untuk memenangi pilkada.

Di sini motif politik dan kekuasaan yang primer, kutipan kitab suci posisinya sekunder. Praktik seperti ini tak aneh dalam sejarah Islam. Dulu yang namanya mazhab Khawarij paling doyan mengafir-ngafirkan sesama muslim yang berbeda paham dalam menafsirkan ayat-ayat Alquran.

Jadi, di samping Alquran selalu mengajak menjaga persaudaraan, perdamaian, dan bertukar pendapat dengan santun, nyatanya banyak pula yang berbeda dan bertengkar karena perbedaan tafsir. Mereka berbeda karena pesan ayat yang memungkinkan timbulnya berbagai penafsiran.

Kitab tafsir atas kitab suci Alquran pasti paling banyak jumlahnya ketimbang tafsir atas kitab-kitab suci agama lain. Bahkan ilmu tafsir merupakan salah satu disiplin ilmu keislaman yang kokoh, banyak ulama dan profesornya, banyak pula karya tulisnya.

Latar belakang akademis seseorang akan memengaruhi ketika mendekati dan menafsirkan Alquran. Lebih dari itu, tradisi menghafal dan lomba melagukan kitab suci hanya dilakukan umat Islam. Rasanya tak ada kitab suci selain Alquran yang dihafal dari awal sampai akhir.

Namun suasananya menjadi lain ketika tafsir kitab suci sudah masuk atmosfer politik. Ulama Pakistan pernah menentang pencalonan Benazir Butto dengan dalil Alquran tidak setuju seorang perempuan jadi presiden atau perdana menteri.

Presiden itu ibarat imam salat, harus laki-laki. Di Indonesia kalau tidak salah pernah juga muncul polemik serupa ketika Megawati maju sebagai calon presiden. Muncul dalil-dalil ayat Alquran dan Hadis yang menentang pencalonannya semata karena perempuan. Tapi akhirnya baik Benazir Butto maupun Megawati diterima juga sebagai kepala negara.

Sewaktu Gus Dur dicalonkan juga muncul perdebatan, menurut dalil agama, bolehkah orang yang sakit, terlebih penglihatannya yang sakit, bisa jadi kepala negara? Padahal dia mesti menandatangani sekian banyak surat keputusan sangat penting, tetapi tidak bisa membacanya?

Sekarang ini menjelang Pilkada DKI muncul lagi perdebatan seputar boleh-tidaknya seorang nonmuslim dipilih sebagai gubernur. Tapi ada lagi turunan masalahnya, yaitu Ahok dinilai telah menistakan Alquran. Jadi di sini ada dua masalah yang berhimpitan. Kita tunggu saja bagaimana akhir perdebatan ini.

Secara pribadi saya sepenuhnya memahami bahwa seorang muslim sangat wajar menjadikan Alquran sebagai pedoman hidupnya, termasuk dalam memilih pemimpin, memilih pekerjaan, memilih pasangan hidup dan seterusnya. Alquran adalah pedoman dan petunjuk kehidupan. Meski begitu di sisi lain juga masih dalam batas toleransi munculnya perbedaan penafsiran terhadap ayat Al-Maidah 51 karena pesannya tidak eksklusif dan absolut.

Bagi mereka yang nonmuslim atau bisa jadi seorang muslim, berpandangan bahwa pilkada adalah urusan duniawi yang bersifat rasional, empiris, tidak mesti terlalu jauh berdebat soal ayat mengingat tugas pokok pimpinan daerah itu sudah jelas, calon-calonnya juga sudah jelas. Jadi, pahami dan rumuskan saja apa kebutuhan utama warga DKI, lalu pilih siapa yang diyakini bisa memenuhi dan melayani kebutuhan warganya.

Gubernur itu pemenang tender yang bernama pilkada, tugasnya sebagai pelayan dan pemimpin. Kerjanya dibatasi waktu dan diawasi DPRD, BPK, KPK, pers, dan rakyat. Jangan sampai pilkada malah memecah belah umat beragama dan kerukunan berbangsa. Salurkan aspirasi keberagamaannya dengan cara yang cerdas dan terhormat. []

Koran SINDO, 21 Oktober 2016
Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Jadilah Air Yang Jernih

Oleh: Komaruddin Hidayat

RUPANYA peringatan ulang tahun ke-80 BJ Habibie tidak cukup hanya sekali dirayakan. Selasa 2 Agustus 2016 lalu, HUT Habibie (25 Juni 1936) dirayakan lagi di Hotel Shangri-La Jakarta atas prakarsa Dato Sri Tahir, pendiri Mayapada Foundation. Persahabatan kedua orang itu sudah terjalin lama. Tahir mengagumi Habibie sebagai putra bangsa yang sangat peduli pada dunia pendidikan agar Indonesia mampu bersaing dalam bidang sains dan industri dalam kancah dunia. Habibie tak pernah lelah untuk mendorong dan menginspirasi generasi muda untuk selalu menuntut ilmu, karena sebuah bangsa akan maju bukan karena kekayaan sumber daya alamnya, melainkan keunggulan ilmu pengetahuan dan integritas generasi mudanya.

Dalam sambutannya, Habibie berpesan kepada para tamu dengan menggunakan metafora air. Jadilah air yang jernih. Yang selalu membawa kesegaran, kebersihan, dan kesuburan bagi lingkungannya. Air yang jernih senantiasa diperlukan oleh siapa pun. Untuk minum, mandi, mencuci kesemuanya diperlukan air jernih. Begitulah kehidupan kita, mari kita isi agar dengan jatah usia yang sangat terbatas, kita isi dengan karya laksana air jernih yang selalu bermanfaat dan diperlukan orang lain. Kehadirannya selalu ditunggu atau bahkan dicari karena kelangsungan hidup ini sangat bergantung pada air. Jangan jadi air yang keruh dan kotor yang akan jadi sumber penyakit.

Metafora Habibie berupa air ini sejalan dengan narasi Alquran yang sering kali menggunakan kata air dan cahaya. Padang yang tandus itu bisa berubah menjadi hijau dan enak dipandang setelah air hujan mengguyurnya. Lalu, hewan ternak merumput sehingga bisa menyuguhkan daging segar dan susu untuk manusia. Bahkan terdapat ayat yang menyatakan, ’dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup’. Wa ja’alna minal ma’i kulla syai’in hayyin. Jika tubuh mengalami dehidrasi, mesti segera memperoleh perawatan medis agar tidak fatal akibatnya.

Metafora lain adalah cahaya yang kehadirannya akan mendatangkan terang karena gelap akan lari. Kita sangat memerlukan cahaya agar jalan terlihat terang benderang sehingga terhindar dari lubang atau jurang yang mencelakakan. Ajaran para nabi dan rasul Allah itu sering diibaratkan air dan cahaya. Air membawa kehidupan dan kesegaran, cahaya menuntun pada jalan yang benar dan lurus.

Jadi, meneruskan sambutan dan menilai sosok Habibie, dia telah berusaha hadir dan tumbuh bagaikan air yang membawa kesuburan dan nilai tambah dari apa yang dilakukan selama ini. Sayang sekali, mimpi besar dengan seluruh kesiapannya untuk membangun industri dirgantara terganjal di tengah jalan. Ratusan anak didiknya yang dikuliahkan ke berbagai kampus papan atas dunia akhirnya justru negara dan bangsa lain yang menikmati hasilnya. Mereka tidak bisa mengimplementasikan ilmunya di negaranya sendiri. Sebuah teka-teki dan kecelakaan sejarah.

Habibie juga bagaikan cahaya. Tak lelah berbagi ilmu dan pengalaman hidupnya untuk kita semua. Dia akan tercatat sebagai salah satu peletak dasar tradisi berdemokrasi secara elegan. Meski tidak duduk dalam pemerintahan, dia tidak pernah menunjukkan kesal pada lawan politiknya, karena Habibie memandang semuanya adalah teman seperjuangan dalam memajukan bangsa dengan cara dan kemampuannya masing-masing. Maka ibarat air jernih, Habibie selalu disambut hangat oleh semua pihak. Semua politisi menaruh respek padanya. Kehadirannya tidak mengancam, tetapi menyejukkan.

Mewakili The Habibie Centre, Sofian Effendi memberi sambutan singkat pada malam itu. Dengan berseloroh, mantan rektor UGM ini mengatakan bahwa Pak Habibie sekarang ini tak ubahnya selebritas bintang film. Sibuk syuting pembuatan film. Dua film tentang dirinya telah beredar di gedung bioskop, Habibie-Ainun dan Rudy Habibie, sekarang tengah digarap berjudul Ainun. Telah menunggu pembuatan film berikutnya, pengalaman dan kesaksian Habibie mengawal transisi pascalengsernya Pak Harto yang penuh intrik dan ketegangan.

Dalam usianya yang ke-80, Pak Habibie masih energik dan selalu antusias jika pidato di atas mimbar. Otaknya selalu bekerja aktif sehingga selalu segar bugar mengalahkan usia fisiknya. Empat bulan lalu saya menemani Pak Habibie memberi sambutan pada acara peluncuran buku Dato Tahir, Living Sacrifice, di Kampus NTU Singapura.

Mengawali pidatonya, Habibie berucap: I am sorry, my English is not good. So, allow me to speak in bahasa Indonesia. Saya sangat tersentuh dengan kalimat itu, betapa Habibie bersikap rendah hati. Siapa yang meragukan kecakapan Pak Habibie berbahasa Inggris? Atau dia ingin mengingatkan agar warga Singapura menghargai bahasa dan bangsa Indonesia, mengingat ekonomi Singapura sangat dipengaruhi ekonomi Indonesia. Bukankah banyak orang kaya Indonesia yang uangnya parkir di Singapura? Selamat panjang umur Pak Habibie, engkau bagaikan air jernih yang selalu membawa kesejukan, kesuburan, dan pertumbuhan bagi anak-anak bangsa. []

Koran SINDO, 5 Agustus 2016
Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Sawang Sinawang

Oleh: Komaruddin Hidayat

DALAM frase Jawa dikenal istilah sawang sinawang yang dalam bahasa psikologi disebut persepsi. Kita mengenal dan menilai orang di sekitar kita mungkin sekali lebih banyak berdasarkan persepsi, dimulai dengan melihat dan mendengar apa kata orang. Terlebih sekarang berita dan gosip lewat medsos (media sosial) telah menjadi konsumsi sehari-hari, sehingga apa yang kita katakan dan nilai tentang orang lain tak lebih hanya persepsi.

Orang saling memandang, menduga-duga, lalu disimpulkan sendiri. Seterusnya disebar lewat medsos semacam Twitter, Facebook atau Whatsapp. Mungkin sekali asupan pikiran lewat medsos itu tak ubahnya junkfood, makanan yang tak lagi bergizi meskipun bergairah melahapnya serta murah harganya. Jika disebut murah sesungguhnya juga tidak karena kita membayar pulsa dan membuang waktu hanya untuk bergosip.

Saya mengamati beberapa orang yang ikut WAG, Whatsapp group, lebih dari lima. Setiap hari pesan yang masuk bisa di atas 500. Bayangkan saja, berapa lama waktu untuk membaca dan merespons, belum lagi mesti berpikir dan menuliskannya dengan jari. Menulis pesan pendek lewat medsos biasanya dilakukan terburu-buru, sambil lalu, dan tidak mendalam. Tidak juga terstruktur dengan baik logika dan bahasanya.

Jika hal ini menjadi kebiasaan yang mentradisi, sangat mungkin membuat otak kita tidak terlatih berpikir dan menulis secara sistematis, reflektif dan mendalam. Dan ini kurang bagus dampaknya bagi remaja kita. Mereka juga tidak terbiasa membaca novel yang tebal-tebal. Padahal novel yang bagus sangat membantu untuk mengembangkan imajinasi dan menambah wawasan hidup. Juga memperkaya khazanah berbahasa yang indah.

Sebagian besar isi otak dan rekaman emosi kita jangan-jangan produk persepsi, bukan hasil informasi ilmiah ataupun informasi yang sahih dan valid. Jika betul demikian keadaannya, sungguh disayangkan. Kalau kita beli flashdisk, tentu yang hendak kita rekam dan simpan adalah memori yang baik-baik dan berguna. Ketika kita membeli lemari pakaian, yang kita simpan pakaian yang bersih dan ditata rapi. Apa yang terjadi jika pakaian kotor dan sampah yang kita simpan? Pasti bau dan tidak sehat.

Ungkapan sawang sinawang dalam bahasa Jawa memiliki nilai positif, ketika didasari sikap bersangka baik pada orang lain. Bahwa kita tidak baik cepat-cepat menilai dan menghakimi orang lain hanya berdasar kesan dan penglihatan. Hanya berdasar kata orang. Tetapi kita juga tidak dibenarkan menyelidiki serba ingin tahu kehidupan pribadi seseorang.

Oleh karena itu, bersangka baik lebih didahulukan dan diutamakan ketimbang bersangka buruk. Lebih dari itu, jangan mudah silau dan iri melihat orang lain yang kelihatannya mewah dan gemerlap hidupnya. Urip iku sawang sinawang. Hidup itu hanya saling memandang dan menduga-duga. Di balik gemerlap hidup seseorang, pasti menyimpan problem yang disembunyikan, karena tak ada kehidupan tanpa problem.

Sebaliknya, kita seringkali terkecoh dengan penampilan seseorang yang kelihatannya miskin atau sederhana, ternyata dia memiliki kekayaan materi berlimpah atau kebahagiaan hidup yang tidak kita miliki. Oleh karenanya, mengingat hidup ini saling sawang sinawang, maka ojo gumunan. Jangan mudah kagum terhadap penampilan seseorang. Jangan mudah silau lalu bersikap minder atau kecil hati. Jangan mudah kecil hati.

Ojo kagetan. Jangan mudah kaget melihat dan bertemu seseorang yang penampilan awalnya memukau. Melihat rumahnya mewah bak istana. Kita tidak tahu persis kehidupan sejatinya di balik itu semua. Ojo dumeh. Jangan bersikap mentang-mentang. Sombong dan tinggi hati. Roda kehidupan ini senantiasa berputar. Ada kalanya di atas, lain kesempatan di bawah. Makanya bersikaplah wajar. Urip sak madyo. Hidup tidak banyak tingkah, agar tidak mengundang kesan dan komentar yang Anda sendiri tidak senang jika mendengarnya.

Demikianlah, tulisan singkat ini muncul terstimulasi oleh lingkungan sosial yang seringkali asyik bergunjing membicarakan pesan singkat, kutipan dan gambar yang beredar di medsos. Di antara pesan-pesan dan kutipan-kutipan itu banyak pula yang bagus, berisi kutipan ayat-ayat suci, kalimat bijak dan gambar yang mengundang aha!. Namun jangan-jangan semua itu easy come, easy go. Tak sempat dicerna dan direkam mendalam dalam hati dan pikiran, bagaikan angin lalu atau air lewat. Yang tersisa hanya sedikit. []

Koran SINDO, 15 Juli 2016
Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Generasi Penikmat

Oleh: Komaruddin Hidayat

Orang arif-bijaksana mengingatkan kita semua untuk hati-hati dan waspada ketika terjadi peralihan generasi, baik peralihan generasi pada ranah keluarga, perusahaan, maupun bangsa.

Kita mengenal empat tipologi generasi yaitu generasi pendiri, pembangun, penikmat, dan generasi perusak. Dalam konteks berbangsa dan bernegara di depan mata kita terpampang wajah-wajah siapa saja yang masuk ke dalam kategori pendiri bangsa, pembangun bangsa, penikmat hasilpembangunan, dan perusak hasil pembangunan. Naluri orang tua itu selalu ingin membahagiakan anak-anaknya.

Para pejuang 45 misalnya, yang dahulu hidupnya susah semasa zaman Belanda dan Jepang, selalu saja diceritakan kepada anak cucu bagaimana susahnya cari makan, pakaian, dan menempuh pendidikan. Dan, semua itu tidak ingin dialami oleh generasi penerusnya. Maka itu, ketika mereka akhirnya sukses lalu cenderung memanjakan anak-cucunya.

Cukuplah orang tua yang menderita, anak-anaknya yang panen menikmati hidup. Cinta kasih kepada anak adalah mulia, terpuji. Itu ibarat madu yang manis dan menyehatkan. Tetapi, memanjakan sehingga anak-anak tidak memiliki mental juang dan tahan banting adalah racun. Dan, itu akan merugikan perjalanan sebuah bangsa.

Maka itu, kita lihat banyak anakanak yang orang tuanya termasuk pendiri dan pembangun bangsa, tapi mereka lalu hidup dalam zona nyaman sebagai penikmat pembangunan yang diwariskan ayahnya. Pada zona ini terbuka dua kemungkinan, adakah akan bangkit dan maju dengan fasilitas yang serbaberkecukupan ataukah akan tergelincir jadi generasi perusak?

Saya mengamati, ada beberapa pendiri dan pemilik perusahaan besar dan termasuk jajaran puncak piramida orangorang terkaya di Indonesia, tetapi langsung merosot tajam begitu beralih ke generasi anak, belum lagi ke cucu. Ini juga terjadi pada keluarga mantan pejabat tinggi negara, yang gagal melakukan kaderisasi.

Meski begitu, ada juga perusahaan dan karier kehidupan yang semakin maju diteruskan oleh anakanaknya. Orang bilang, keunggulan generasi kelas menengah itu untuk naik ke atas tidak sesulit kelas bawah. Dan, kalaupun jatuh, sakitnya juga tidak sesakit jatuhnya kelas atas. Sungguh menarik mengamati dan belajar dari kebangkitan generasi penerus sebuah bangsa, terutama negara tetangga.

Misalnya saja Jepang, Korea Selatan, Singapura, Filipina, ataupun Malaysia. Belajar keras, bekerja keras, dan disiplin sangat ditekankan pada anak-anak Jepang, Korea Selatan, dan Singapura. Generasi kedua dan ketiga disiapkan untuk maju ikut berkompetisi dalam panggung keilmuan, teknologi, dan ekonomi, meneruskan serta mewujudkan cita-cita pendiri bangsanya. Mereka disadarkan dan disiapkan bahwa hidup itu penuh persaingan. Bahkan lawan selalu mengintipnya. Jika lengah, pasti akan kalah tergilas. []

KORAN SINDO, 03 Juni 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Anak Kampung

Oleh: Komaruddin Hidayat

Khususnya di Pulau Jawa, suasana kampung dulu dan sekarang sudah banyak berubah. Saya terlahir di Kampung Pabelan, dekat Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, akhir 1953. Dalam rentang waktu 60 tahunan, banyak yang sudah berubah, sekalipun banyak pula yang masih sama. Jumlah penduduk desa bertambah banyak, namun dari segi ekonomi dan pendidikan tidak banyak berubah. Sawah-sawah di perdesaan Jawa semakin sempit, belum setelah dibagi-bagi pada anak-anak sebagai ahli warisnya, sementara sektor industri hampir-hampir tidak berkembang, khususnya di daerah Magelang.

Sampai tamat SLTA praktis saya habiskan umur saya di Desa Pabelan, baik untuk belajar di tingkat sekolah dasar —dulu namanya SR (Sekolah Rakyat)— maupun sekolah lanjutan di Pesantren Pabelan. Tumbuh sebagai anak di kampung, yang mengasuh seakan seluruh warga kampung karena orang tua saling mengetahui dan menjaga keselamatan anak-anak, sehingga ke mana pun anak pergi bermain, orang tua tidak merasa khawatir. Anak kampung itu tak ubahnya ayam kampung.

Pagipagi dilepas dari kandangnya, sore akan kembali dengan sendirinya dengan perut kenyang. Kelebihan ayam kampung itu bisa cari makan sendiri di kebun, tidak mudah terserang penyakit, daging dan telurnya lebih mahal harganya disbanding ayam negeri yang hidupnya dimanjakan. Untuk menyalurkan kebutuhan bermain bagi anak kampung sangatlah murah dan mudah. Semua alat yang dibutuhkan bisa dibuat sendiri dengan bahan yang tersedia.

Misalnya membuat layanglayang, mobil-mobilan dari kulit jeruk, petasan bambu dengan karbit, main gobak sodor, gundu, adu menyelam di sungai, adu jangkrik, dan masih banyak permainan lain yang sekarang tidak lagi populer. Semasa kecil, masjid merupakan pusat berkumpulnya anak-anak baik untuk bermain di halamannya yang luas maupun di ruang serambi. Bahkan sekali-sekali kami tidur di masjid. Kami belajar membaca Alquran tidak menunggu disuruh siapa pun, tetapi secara suka rela kami belajar di masjid dengan guru yang juga dengan suka rela mengajari kami.

Seiring berjalannya waktu, suasana damai perdesaan yang kami alami dulu sekarang sudah berubah. Listrik masuk desa sungguh sangat signifikan pengaruhnya. Kehadiran televisi telah mengurangi atau mengalihkan aktivitas anak-anak untuk bermain di luar rumah. Saya tak lagi melihat permainan anak-anak yang dahulu sangat populer dari ujung ke ujung desa.

Jumlah sekolah dasar meningkat dengan bangunannya yang permanen. Beberapa remajanya mulai mengenal kehidupan kota, sebagian bekerja sebagai buruh di kota, pekerja bangunan dan jasa angkutan umum. Saya sulit menduga-duga, apa yang menjadi mimpi anak-anak remaja kampung yang dari segi pendidikan mayoritas hanya tamat SD, sebagian kecilnya lagi hanya SMP. Pasti mereka tidak tahu apa itu MEA, Masyarakat Ekonomi ASEAN, tidak juga bonus demografi, yang justru akan menjadi beban jika usia angkatan kerja kitamiskinpendidikan, skill, dan gizi.

Orang tua sering kali bercerita betapa susahnya hidup di zaman Belanda dan Jepang. Tanpa disadari, cerita pahit kenangan masa lalu itu bisa memengaruhi mental miskin warga desa serta tahan banting. Bahwa kondisi sekarang jauh lebih baik ketimbang zaman dulu. Kalaupun di dunia kita kalah, kemenangan di akhirat sudah menunggu asal kita sabar dan tawakal kepada Allah. Kehidupan desa yang saya rasakan semasa kecil, hidup itu sekadar untuk bertahan dan menapaki hari tua sembari berdamai dengan nasib.

Ketika pengaruh kota masuk desa, terutama melalui televisi dan banyak warga kampong yang mulai bekerja di kota, apa pun pekerjaannya, tembok isolasi mulai terbuka. Kemiskinan semakin dirasakan sebagai penyiksaan, tidak bisa lagi dijinakkan dengan membandingkan semasa penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang.

Cerita-cerita masa lalu tidak lagi populer, menghilang bersama beragam permainan semasa kecil saya dulu. Yang kemudian muncul adalah tontonan gebyar artis sinetron dan penyanyi dangdut yang mendadak populer dan kaya, yang mungkin sekali menstimulasi anak-anak kampung untuk bermimpi bagaimana mengubah nasib.

Saya sendiri merasa beruntung berhasil menerobos tembok isolasi kampung, lalu bergulat berguru kehidupan di Jakarta sejak 1974. Tetapi setiap pulang kampung, yang muncul adalah rasa empati dan kasihan melihat kondisi perdesaan yang masih tertindas oleh kemajuan kota. Dalam konteks nasional, pemerintah kita memang tidak punya master plan bagaimana membangun perdesaan di Pulau Jawa yang padat penduduk ini. []

KORAN SINDO, 08 Januari 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Menjaga Hati

Sumber Tulisan: Disini

HATI merupakan bagian diri manusia yang misterius. Karena kemisteriusannya, penggunaannya pun seringkali sangat simbolik. Sering kita mendengar ungkapan, hatiku terluka atau hatiku tercabik-cabik, yang biasanya dilontarkan orang yang baru ditinggalkan kekasih, atau baru mendengar berita duka.
Demikian pula ketika diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris.

Hati menjadi heart, yang padahal terjemahan literalnya adalah jantung. Mungkin ini menunjukkan bahwa hati yang seringkali disebutkan dalam konteks ungkapan seperti di atas tadi, adalah bagian vital bagi hidup manusia seperti vitalnya fungsi jantung bagi kita.

Karenanya menjaganya, menjadi keniscayaan bagi mereka yang ingin menjaga hidup dan kehidupan. Sedemikian pentingnya hati ini, maka meskipun dalam berkomunikasi kita melibatkan telinga, mulut, pikiran, mata dan tangan, tapi untuk minta agar komunikasi berjalan dua arah, ungkapan yang dikeluarkan adalah mohon per-hati-an dan bukan mohon per-telinga-an.

Atau kita perhatikan ungkapan-ungkapan lain yang sifatnya meminta, menyarankan seperti, Harap diper-hati-kan! atau Hati-hati di jalan.
Kita tidak tahu siapa orang pertama yang membawa istilah hati ini menjadi khazanah Bahasa Indonesia dan dalam komunikasi harian.

Dalam Bahasa Inggris dan Arab, terdapat beragam kata yang serumpun dengan kata hati, yang semuanya berkaitan sikap batin, yang selalu ingin mendapatkan rasa damai, kasih, sadar, tulus, dan peduli serta cinta.

Ketika kita bingung memutuskan suatu perkara, dianjurkan agar mendengarkan “hati nurani” atau “suara hati.” Ketika hendak memilih pasangan hidup, orangtua selalu pesan, Sing ati-ati milih konco urip kanggo sak lawase.” (Hati-hati memilih teman hidup untuk selamanya).

Demikian vitalnya peran hati, sehingga Nabi Muhammad SAW bersabda, siapapun yang hatinya baik, maka baiklah semua perilakunya. Dan, siapa yang hatinya sakit, maka sakitlah semua amalnya. Jadi, betapa sentralnya peran “hati” dalam kehidupan sehari-hari, karena dari situlah terpancar energi kebaikan dan keburukan, dorongan ke arah kemuliaan atau kenistaan.

Karena suara hati selalu mengajak pada kebaikan, maka orang yang bijak mesti mendengarkan kata hatinya, sebelum berbicara dan bertindak. Hati nurani adalah guru, pembimbing, dan konsultan yang tak mau berbohong. Terlebih jika hati ini selalu diterangi dan ditambah energi Ilahi, maka akan semakin kuat dan jelas petuahnya agar kita berada di jalan yang benar, yang baik, dan ingin menggembirakan sesama.

Salah satu fungsi ibadah dan puasa adalah, membersihkan kotoran-kotoran agar tak mengeras dan berkarat, sehingga menutupi masuknya cahaya Ilahi untuk menerangi relung hati. Kalau sudah tertutup, maka suara hati nurani bisa kalah, suaranya lemah, perintahnya tak berwibawa.

Yang cenderung terjadi, seseorang lalu begitu rentan dipengaruhi dan dikendalikan nafsu rendahan yang hanya mengejar kenikmatan fisik, dengan mengorbankan kebahagiaan moral-spiritual.

Kenikmatan fisik durasinya pendek, dan semakin tua usia seseorang, maka semakin mengecil kenikmatan fisik yang bisa diraih. Ketika kesehatan kian menurun, berbagai macam penyakit berdatangan, satu-satu kenikmatan fisik menyatakan “selamat jalan.”

Dulu, ketika masih berstatus mahasiswa, ingin makan enak tak punya uang, setelah tua punya jabatan tinggi dan uang berlebih, tak boleh makan enak. Sungguh, kalau saja direnungkan, betapa singkatnya kenikmatan dunia melayani dan memanjakan kita.

Tetapi mereka yang hatinya selalu berjaga, selalu aktif dan senantiasa disirami energi cahaya Ilahi. Maka, semakin tua usia seseorang hatinya justru makin sehat, makin lapang dan makin bijak, sehingga kebahagiaan yang akan diraih justru lebih tinggi kualitasnya, yaitu kebahagiaan moral-spiritual.

Jika kebahagiaan fisik didapat dengan mengumpulkan dan menumpuk materi, maka kebahagiaan moral-spiritual didapat justru dengan banyak memberi dan berbagi pada sesama.

The more You give, the more You recieve. Tak ada dermawan jatuh miskin, justru rezekinya makin berkah dan bertambah. Ketika memberi dengan penuh ikhlas, sesungguhnya seseorang sedang menabung dengan bunga berlipat ganda, sebagaimana dijanjikan Tuhan.

Jadi, menjalani hidup mesti “hati-hati.” Mesti didengarkan suara hati yang selalu membisikkan kebenaran, kebaikan dan kedamaian. Tentu saja pikiran harus juga digunakan, namun mesti didampingi hati. Tanpa didampingi hati nurani, kecerdasan yang berdampingan nafsu serakah bisa berbuat sangat kejam, tidak mengenal belas kasih.

Pikiran bertugas memecahkan problem teknis, sedangkan hati yang memberikan makna dan arah kehidupan. Misalnya, bagaimana menciptakan mobil, itu tugas pikiran yang kemudian dibantu keterampilan tangan. Bagaimana menciptakan telepon, itu prestasi kecerdasan nalar. Tapi jika ditanyakan, untuk apa mobil dan telepon diciptakan, hati nurani yang mestinya menjawab.

Mobil dicipta bukan untuk berperang, bukan untuk pamer, bukan untuk menaikkan gengsi, tapi mempermudah silaturahim, mempermudah cari nafkah, mempermudah anak-anak berangkat sekolah yang semua itu bermuara agar hidup ini makin berkualitas dan bermakna baik di hadapan manusia maupun Tuhan.

Sadar bahwa yang dimohon adalah perhatiannya, maka mestinya yang diberikan adalah hati. Menyadari agar semua tugas harus dilaksanakan dengan hati-hati. Ingat kata “hati” sampai diulang dua kali, maka ketika melaksanakan tugas juga harus sepenuh hati.

Lagi-lagi, betapa dalam dan bijaknya orangtua yang menyelipkan kata “hati” dalam Bahasa Indonesia. Saya belum tahu, apakah bahasa lain memiliki wisdom seindah itu. Bagaimana bekerja dengan menghadirkan hati? Contoh paling mudah dan nyata adalah sewaktu berdoa.

Ketika berdoa, yang mesti hadir dan berbicara adalah hatinya. Peran mulut hanyalah membantu agar hati fokus dalam berdoa. Jadi, ketika yang berdoa hanya mulut, meski hafal dan keras, tapi hatinya absen, maka itu bukanlah berdoa, melainkan hanya melafalkan kalimat doa. Ketika sembahyang hatinya tak hadir dan fokus pada Tuhan, secara ekstrem itu bukanlah sembahyang, melainkan olahraga menyerupai gerak sembahyang.

Saya sendiri sering merenung, mengapa ada buku yang usianya sudah puluhan dan ratusan tahun masih terasa segar dan menyegarkan ketika dibaca? Tapi ada buku yang terasa hambar ketika dibaca?

Konon, ada orang yang ketika menulis buku disertai kehadiran, ketulusan, dan kecerdasan hati. Dari lubuk hati terdalam mereka ingin berbagi cinta dan ilmu dengan pembacanya.

Bahkan ada yang menyucikan diri ketika dalam proses penulisan. Mungkin karya-karya tulis semacam itu yang memang ditulis dari hati dan akan memperoleh respons dari hati pembacanya. Mari kita berhati-hati menjaga hati.

Meraih Hidup Bermakna

Sumber Tulisan: Disini

MEMBINCANG tentang makna hidup, ada sebuah buku, Man’s Search for Meaning, karya Victor Frankl, telah terjual lebih dari sembilan juta eksemplar. Buku itu mengingatkan kita semua, setiap orang selalu mencari makna di balik semua tindakan dan peristiwa yang menyangkut dirinya.

Frankl  pernah tinggal di kamp Nazi selama tiga tahun dalam suasana putus asa menunggu pembantaian maut. Di situlah dia terhentak dan tersadarkan, untuk apa dan siapa seseorang rela mengambil risiko dalam hidupnya, bahkan reiiko kematian. Pasti ada sesuatu makna yang sangat berharga sehingga seseorang rela hidup menderita.

Pada awalnya mungkin sekali hidup ini kita jalani sekadar mengikuti dorongan insting.  Seperti perasaan lapar lalu menggerakkan untuk makan. Rasa kantuk mendorong mencari tempat tidur. Haus membuat kita mencari minum.

Tetapi ketika kebutuhan insting secara rutin sudah terpola ritme pemenuhannya, kita lalu bertanya lebih lanjut. Untuk apa semua ini saya jalani?  Pasti kita menjalani hidup tidak semata didorong oleh kinerja insting. Selalu saja kita dibuat gelisah oleh berbagai pertanyaan, seperti: Bagaimanakah meraih hidup yang bermakna (meaningful life)?

Setiap pribadi memiliki cara pandang dan penilaian masing-masing atas apa yang dilakukan atau hendak dilakukan. Bagi anak-anak yang lagi menjalani masa puber, apa yang dianggap bermakna dan berharga tentu berbeda dari kalangan orangtuanya.

Seorang pemain sinetron pemula di televisi mungkin saja prestasi yang paling bermakna dan menjadi obsesi adalah ketika rating penontonnya naik. Ada lagi orang yang menempatkan rumah dan mobil mewah atau jabatan sebagai simbol dan ukuran keberhasilan hidup. Apa iya begitu?

Filsafat hidup, keyakinan, dan ajaran agama akan selalu hadir menjadi rujukan bagi seseorang dan  masyarakat untuk menentukan bagaimanakah hidup yang bermakna. Mereka yang menganut paham hedonisme berpandangan, sukses dan kenikmatan hidup adalah ketika mampu memanjakan kenikmatan dan kelezatan fisikal-emosional.

Pendeknya hidup menjadi bermakna dan berharga ketika terpenuhinya dengan mudah kebutuhan dan kenikmatan badani. Penganut paham hedonisme ada yang permanen sebagai keyakinan hidup, namun ada    yang menjadi gaya hidup sementara dan mengalami perubahan di tengah jalan, mungkin setelah usia lanjut ketika gemerlap dunia tak lagi setia menemani.

Profesi juga sangat berpengaruh bagi seseorang dalam membayangkan, mengejar, dan membangun hidup bermakna yang menjadi sumber kebanggaan dan kebahagiaan. Seorang seniman, atlet, penulis, militer, dan profesi lainnya, masing-masing memiliki gambaran, dan memori peristiwa-peristiwa serta prestasi hidup yang dianggap paling bermakna bagi hidupnya.

Mereka yang memiliki kejelasan konsep tentang hidup bermakna dan merasa tertantang untuk meraihnya, hidupnya lebih dinamis dan terarah. Seberapa besar makna hidup yang membanggakan  seseorang  berkaitan dengan seberapa besar perjuangan dan pengorbanan.

Mereka yang hidupnya datar-datar saja tanpa perjuangan dan pengorbanan, mungkin tingkat kebahagiaan dan kebanggaan terhadap dirinya juga rendah, datar-datar saja. Kebalikan dari penganut filsafat hidup hedonisme-materialisme adalah mereka yang menganut paham idealisme-spiritualisme. Bahwa hidup yang pantas dibanggakan dan bermakna itu bukannya terletak dalam terpenuhinya kenikmatan badani-duniawi yang mendatangkan self-glory, tetapi prestasi yang medekati  pada nilai-nilai kehidupan ideal yang berguna sebanyak mungkin bagi masyarakat.

Sejarah memiliki banyak catatan, siapa-siapa saja pemimpin bangsa dan dunia yang masuk kategori penganut filsafat dan idelogi hedonisme dan yang masuk ketegori idealisme-spiritualisme. Penghadapan kategori ini tidak mesti kelompok hedonis berarti kaya-raya, lalu pendukung idealisme adalah orang-orang  miskin.

Faktor utama yang membedakan adalah sistem nilai yang diyakini dan diperjuangkan. Dari situ akan muncul perbedaan dalam membuat agenda hidup dan menentukan prioritas serta kesiapan untuk berkorban dalam mencapai target yang dipandang bermakna dan berharga bagi hidupnya.

Mereka yang menganut paham dan gaya hidup hedonis, kurang tertarik berbicara moralitas yang berakar pada idealisme-spiritualisme. Hidup ini begitu singkat, mengapa tidak dinikmati secara optimal? Kalaupun mereka taat hukum dan menjalani hidup sehat, pertimbangannya semata untuk kenikmatan dan kepentingan dirinya. Satu paham dan keyakinan yang jelas tidak sejalan dengan ajaran Islam.

Ikhlas Sumber Kebahagiaan

Sumber Tulisan: Disini
IKHLAS itu ruh kehidupan dan sumber kebahagiaan. Ikhlas hanya bisa keluar dari pribadi yang bekerja dengan semangat memberi dan melayani, bukan dari pribadi yang mengejar upah dan tepuk tangan.
Orang yang bekerja semata karena mengejar upah, maka durasi kesenangannya hanya sesaat, yaitu ketika menerima uang. Begitu uang dibelanjakan dan habis dibagi, maka kesenangannya pun menghilang.
Ada nasihat klasik, ikhlas itu ibarat burung yang bernyanyi. Dia menyanyi karena bisanya dan hobinya menyanyi, tidak mengharapkan pujian dan tepuk tangan dari pendengarnya.
Ada lagi yang mengibaratkan melayani dan menolong orang dengan ikhlas itu  bagaikan orang membuang hajat. Dia merasa lega dan bahagia setelah mengeluarkannya dan tak ingin mengingat-ingat kembali.
Demikianlah, bekerja keras tanpa disertai dengan tindakan cerdas dan ikhlas ujungnya hanya kekecewaan. Di dalam melayani dan memberi, seseorang merasa bangga pada dirinya karena hidupnya merasa bermakna bagi orang lain. Dengan memberi seseorang merasa kaya. Oleh karena itu agama banyak mengajarkan memberi bukannya meminta dan menerima.
Orang yang sibuk bekerja jika tidak ikhlas dan tidak tahu untuk apa dan siapa yang dia lakukan, mudah menimbulkan rasa lelah. Jadi, agar pekerjaan dapat dilakukan dengan baik dan sempurna serta melegakan hati, mesti didasari pemahaman, ketrampilan dan keikhlasan.
Perbuatan dan ucapan yang keluar dari hati yang ikhlas juga akan dirasakan oleh orang-orang yang berada di sekelilingnya. Kalaupun terjadi salah faham akan mudah diselesaikan dengan damai karena orang yang ikhlas akan mudah menerima kritik dan tidak mudah sakit hati. Bahkan kritik akan diterimanya dengan lapang hati dan ucapan terima kasih agar tidak merusak amalnya.
Rasulullah bersabda, orang hidup yang perbuatannya absen dari ruh keikhlasan maka dia ibarat mayat berjalan. Amal perbuatannya tidak akan tercatat sebagai amal saleh. Bagaimana mengetahui tingkat dan kadar keikhlasan seseorang?
Ini yang tidak mudah. Hanya yang bersangkutan mestinya yang paling tahu, ketika berbuat sesuatu, termasuk salat, puasa, dan berderma. Apakah itu semua dilakukan dengan tulus semata mengharap ridha Allah ataukah terbersit motif lain,  hanya yang bersangkutan yang tahu.
Namun hal ini perlu dijelaskan dan dilatihkan pada diri kita sendiri dan pada orang lain, khususnya kepada anak-anak agar mereka terlatih untuk membiasakan ikhlas dan beramal.
Kitab suci Alquran menyebutkan, orang yang berderma menolong orang lain tetapi mengharap pujian atau niatnya pamer, maka hilanglah semua kabajikannya. Dia tidak mendapatkan apa-apa dari yang telah dikerjakannya kecuali kecewa. (Albaqarah 2:264).
Dalam melaksanakan tugas negara pun akan berbeda mereka yang memiliki semangat pengabdian dibanding mereka yang mengejar kekuasaan dan kekayaan. Dengan jiwa yang ikhlas, sebuah jabatan akan dipandang sebagai peluang untuk meningkatkan amal kebajikannya melayani masyarakat luas. Dia sadar, jika mengkhianati amanat jabatan maka dosanya akan besar karena dampak negatif yang ditimbulkannya akan menyengsarakan orang banyak.
Sebaliknya, kalau dengan jabatan itu dia dapat membantu orang banyak, maka pahala kebajikannya akan berlipat. Tetapi, lagi-lagi, yang lebih penting adalah bagaimana bekerjadengan baik, professional, dan membawa manfaat bagi banyak orang. Sedangkan soal pahala serahkan saja karena itu urusan Allah yang Maha Kasih dan Bijak.
Ketika menjalani puasa, sesungguhnya kita juga sedang belajar untuk ikhlas. Tidak makan tidak minum, kita jalankan semata karena cinta kepada Allah dan mengikuti petunjukNya, bukan karena ingin diakui oleh manusia.