Three Filters of Socrates

Oleh: Kang Komar

DI TENGAH menyeruaknya hoax dan ujaran kebencian terutama lewat medsos, saya jadi ingat nasihat Socrates, 470-399 SM saat bagaimana kiatnya untuk menepis berbagai berita dan ujaran kebencian yang hanya akan merusak kerukunan dan kedamaian sosial.

Kiat Socrates ini dikenal dengan sebutan ‘Tiga Filter Socrates’. Dia merumuskan filters ini setelah mengamati masyarakat Yunani kuno ketika mereka terlibat dalam persaingan perebutan pengaruh politik, mirip suasana batin masyarakat Indonesia yang tengah menghadapi pilkada dan pemilu.

Nasihat Socrates, kalau ada orang datang membawa berita kepadamu, pertanyaan pertama yang mesti dimajukan adalah; Apakah berita yang kamu sampaikan itu sebuah kenyataan yang benar, ataukah fiktif alias bohong.

Mungkin sekali seseorang akan menjawab bahwa berita itu benar adanya. Bahkan disertai data dan fakta. Ini bukan mengada-ada.

Kalaupun yang disampaikan sebuah fakta, bukan hoax, Socrates masih bertanya: Andaikan aku tahu isi berita itu, kebaikan apa yang akan aku peroleh darinya? Jika tak ada kebaikan, sebaliknya, malah menambah beban dan bahkan menimbulkan keburukan pada diriku, maka tak perlu kita terima tawaran berita itu.

Tidak semua peristiwa dan fakta yang terjadi pada orang lain mesti kita ketahui karena adakalanya dengan mengetahui malah berakibat buruk dan merusak persahabatan. Berita itu bisa meracuni pikiran dan perasaan. Namun, bisa saja sebuah berita oleh yang menyampaikan dinilai benar dan baik.

Bagi Socrates, masih harus difilter lagi dengan pertanyaan: Berita itu akan membawa manfaat apa bagi saya dan masyarakat luas andaikan saya dan masyarakat mengetahui?

Jadi, untuk menjaga hati dan pikiran agar tidak kotor dan terkena penyakit dari informasi yang berseliweran, atau bahkan sekarang ini bagaikan virus wabah yang menyerang kita, maka kita disarankan selalu memasang tiga filter tadi.

Sebelum kita buka mata, telinga dan jendela pikiran, kita tanya dulu, apakah isi berita itu, faktual, apakah memberi nilai tambah berupa pengetahuan yang baik. Lebih dari itu, apakah isi berita itu mendatangkan manfaat?

Nasihat Socrates itu secara moral sangat sejalan dengan ajaran agama yang kita pelajari. Namun jika diperhadapkan dengan praktik dalam panggung politik dan bisnis yang terjadi, jangan-jangan sebaliknya. Kebohongan telah menjadi lahan bisnis baru.

Pada zaman Socrates, dulu kebohongan dan ujaran kebencian disampaikan secara lisan dan jangkauan penyebarannya sangat terbatas. Tetapi hari ini dengan medsos yang berbasis internet, kebohongan, ujaran kebencian, dan fitnah bisa disebarkan dengan sangat mudah, cepat, dan luas. Ironisnya, ada orang-orang yang senang dengan berita-berita sensasional, tidak difilter dan tidak peduli apakah berita itu benar, baik, dan berguna.

Yang demikian ini merebak karena dalam dirinya dikuasai oleh cara berpikir kalah-menang menurut emosi dan kepentingan dirinya, bukan melihat orang lain dalam tataran yang sama sebagai sesama manusia dan hamba Tuhan yang mesti dihargai martabatnya.

Dalam istilah Alquran, orang yang bergosip menjelekkan teman itu diibaratkan sebagai “pemakan bangkai” (Alhujurat 12). Ini tentu lebih pedas dari nasihat Socrates.

Mengapa ibarat makan bangkai? Karena orang yang kita bicarakan kejelekannya tidak hadir, tidak mendengar dan tidak bisa membela diri, tak ubahnya binatang mati, tak berdaya diperlakukan apapun. Lalu bangkai itu kita nikmati, kita asyik bergosip tentang orang itu. Padahal perbuatan itu sangat menjijikkan dan kita benci kalau saja kita sadari. Begitu kata Alquran.

Untuk mencintai nilai-nilai kejujuran dan kebaikan itu memerlukan latihan dan pembiasaan yang dimulai dan dikondisikan sejak masa kanak-kanak terutama dalam lingkungan keluarga. Ini mirip dengan cinta kebersihan.

Anak-anak yang dari kecil oleh orang tuanya ditanamkan cinta kebersihan dan keteraturan, maka dia akan merasa risih melihat lingkungan kotor. Dalam hal ini, kita bisa belajar Jepang. Sulit menemukan sampah di sudut-sudut kota dan di lorong jalan. Orang di Jepang terbiasa mengantongi bungkus roti atau kulit pisang, baru dibuang kalau ketemu tempat sampah.

Mestinya mata, telinga dan pikiran kita juga kita pagari sebagai filter, jangan sembarang berita masuk ke folder memori kita. Mesti selektif membaca berita yang sering menyergap handphone kita. Kalau terasa tidak sehat, segera kita delete. Jangan malah disebarkan. Begitu pun membuka saluran TV, ingat dengan tiga filter Socrates. Jika tidak baik dan tidak mendatangkan manfaat, tak usah ditonton..

Sekadar berbagi pengalaman, dengan berat hati saya keluar dari beberapa WA Group (WAG) karena isi dan berita yang beredar sering kali berisi ujaran kebencian yang merusak keharmonisan dalam persahabatan. Ini saya amati terjadi sejak Pilkada DKI dan masih berlangsung sampai hari ini. []

KORAN SINDO, 26 Januari 2018

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Saudara dan Persaudaraan

ORANG Inggris punya ungkapan, It is a chance, not by choice, that makes you a brother or sister. But it is heart, by choice and effort, that makes a brotherhood and sisterhood. Karena ikatan darah (blood line) maka Anda memiliki saudara, namun tak jaminan antara sesama saudara terbangun persaudaraan.

Dulu Nabi Yusuf pernah dilempar ke sumur oleh saudara-saudaranya karena dengki dan cemburu, namun Tuhan menyelamatkan, bahkan akhirnya Yusuf jadi penguasa di Mesir dan memaafkan kejahatan saudara-saudara sekandungnya. Jika ditarik ke belakang lagi, anak Adam juga terlibat pertengkaran sampai pada pembunuhan, antara Kabil dan Habil.

Kisah serupa telah memberikan pelajaran kepada kita bahwa hubungan darah seayah-seibu pun tidak jaminan menciptakan persaudaraan dan kerukunan antara mereka. Sampai-sampai muncul istilah family quarrel, pertengkaran antarkeluarga. Dalam kajian teologi, family quarrel itu juga terjadi pada pemeluk rumpun agama anak-cucu Ibrahim, yaitu Yahudi, Nasrani, dan Islam.

Mereka mempertengkarkan truth claim, agama siapakah yang paling benar di mata Tuhan. Mereka bertengkar, pemeluk agama mana yang berhak masuk surga, bahkan sampai kafir-mengafirkan yang berujung pada pertumpahan darah.

Di lingkungan istana, cerita pertengkaran keluarga ini tidak aneh. Keturunan raja sering terlibat perseteruan karena berebut jabatan, fasilitas, dan warisan. Yang fenomenal adalah berebut posisi sebagai putra mahkota.

Jalinan persaudaraan terbentuk karena berbagai faktor. Bagi para perantau, jika di tempat barunya bertemu orang sedaerah dan sesuku sering kali menjadi akrab melebihi saudara sendiri. Terlebih jika bertemunya di luar negeri maka rasa persaudaraan bisa lebih kental lagi.

Mengapa? Karena seseorang di rantau kadang merasa kesepian, tidak memiliki teman dekat. Lebih dari itu, sesungguhnya jika seseorang mendapatkan kesulitan, yang paling dekat untuk dimintai pertolongan, atau yang segera bisa menolong, adalah tetangga dan teman terdekat, bukannya saudara kandung yang tinggalnya berjauhan. Meskipun saudara sekandung, jika tinggalnya berjauhan maka sulit memberikan pertolongan segera.

Ada lagi ikatan keagamaan. Akhir-akhir ini muncul kelompok pengajian yang eksklusif, ikatannya melebihi ikatan keluarga. Sosok guru dan ajarannya menjadi figur sentral yang menyatukan murid-muridnya.

Bahkan, ada yang rela meninggalkan keluarga besarnya karena beda paham dan keyakinan agamanya. Di antara mereka pun memiliki sebutan khas, “akhi” dan “ukhti”, saudara laki dan saudara perempuan seakidah.

Ada persaudaraan lain yang mungkin kontraktual, yaitu saudara seorganisasi dan separtai. Mereka disatukan oleh kepentingan politik sesaat. Tapi ketika agenda kepentingannya berubah dan berbeda, persaudaraan pun buyar.

Belakangan ini juga muncul persaudaraan baru, antara lain persaudaraan karena kesamaan dan ikatan profesi serta persaudaraan yang tumbuh dan terbina karena sesama satu almamater. Persaudaraan ini lalu membentuk komunitas digital dalam dunia maya. Setiap hari bertegur sapa, berbagi cerita, dan gosip melalui WhatsApp Group (WAG). Sekali-sekali mereka bertemu mengadakan kopi darat (kopdar), tidak hanya berceloteh di udara terus.

Tidak mudah, memang, untuk membangun persaudaraan yang solid dan kekal, baik berdasarkan hubungan darah maupun berangkat dari perkenalan dan pertemanan. Meskipun penduduk bumi sudah mencapai 6 miliar, penduduk Indonesia 240 juta, yang namanya sahabat sejati tidaklah banyak.

Pepatah lama mengatakan, temanmu yang sejati adalah yang mau ikut menangis bersamamu, bukan yang mendekat saat engkau tertawa gembira. Teman yang seperti inilah kadang kedekatannya melebihi saudara.

Biasanya persaudaraan rusak jika sudah melibatkan kalkulasi untung-rugi, semangatnya mengambil, bukan memberi. Padahal, kalau saja sikap dasarnya saling memberi, berbuat ihsan, pada akhirnya justru akan lebih enak dan menguntungkan, saling memperoleh apa yang diharapkan dari teman tanpa harus meminta. Karena teman yang baik akan punya sikap empati yang tinggi, menawarkan pertolongan tanpa harus dijemput dengan permintaan.

Dalam masyarakat yang lebih mendahulukan “aku”, bukannya “kami” dan “kita”, yang egoistis-individualistis, persaudaraan yang solid dan tulus, rasanya semakin langka. Dulu persaudaraan yang terbentuk di dunia pesantren tumbuh dan solid. Namun, belakangan ini mungkin sudah mulai mengendur. Pilihan politik dan mazhab keagamaan pun adakalanya bisa merusak persaudaraan. []

KORAN SINDO, 3 November 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Dunia Simulacra

Oleh: Komaruddin Hidayat


SEWAKTU masih nyantri di Pondok Pabelan, Magelang, ada nasihat kiai yang masih melekat di hati. Bahwa seseorang akan naik derajatnya karena ilmu pengetahuan, akhlak (integritas), dan membuang jauh-jauh sikap malas. Bahwa pendidikan itu sangat vital dalam kehidupan ini karena pendidikan mampu mengubah nasib seseorang, keluarga, dan bangsa.
Banyak nasib keluarga desa miskin berubah nasibnya ketika salah satu anaknya memperoleh pendidikan bagus yang mengantarkan pada karier ekonomi bagus dan pada urutannya bisa membantu pendidikan saudara-saudaranya. Bahkan, banyak pembantu rumah tangga (PRT) yang mengirimkan gaji bulanannya untuk biaya anaknya di kampung. Jawabnya sama.
Artinya, masyarakat sangat menyadari bahwa untuk mengubah nasib seseorang, maka pendidikan adalah jalan terbaik yang mesti ditempuh. Orang tua yang berhasil mengantarkan pendidikan anak-anaknya yang berkualitas, jauh lebih berharga dan berbahagia hidupnya dibandingkan dengan mewariskan harta tanpa disertai pendidikan.
Sekarang ini dunia pendidikan terseret masuk pada persaingan pasar. Lembaga pendidikan yang tidak bisa menghasilkan alumni berkualitas dan kompetitif dalam lapangan kerja akan menyusut peminatnya. Prestasi sebuah sekolah dan universitas tidak bisa lagi diukur dengan banyaknya lulusan, wisudawan-wisudawati, jika yang bersangkutan tidak memiliki ilmu, keahlian khusus, integritas, dan kemampuan komunikasi sosial.
Indonesia beruntung punya tetangga Australia, Singapura, dan Malaysia, sehingga kita dihadapkan langsung dalam persaingan di dunia pendidikan. Kita pantas malu dengan mereka yang jauh lebih progresif dan inovatif dalam pendidikan.
Dalam hal pendidikan karakter, sekarang ini beban guru dan orang tua sangatlah berat. Mereka dihadapkan problem dan variabel baru yang berkembang di luar kontrol.
Dulu pertumbuhan seorang anak diasuh bersama lingkungan keluarga, masyarakat, dan budaya yang solid dan homogen sehingga pertumbuhan karakternya mudah diarahkan dan diprediksi. Tetapi sekarang, meminjam istilah Jean Baudrillard, filsuf Prancis, kita hidup dalam era simulacra.
Masyarakat diserbu oleh simbol-simbol, penanda, dan iklan yang tidak selalu mewakili realitas sejati. Di sisi lain, simbol-simbol itu dipercaya telah menjadi sebuah realitas sesungguhnya.
Masyarakat menjadi objek yang dirayu dan diserbu oleh iklan pencitraan dan produk konsumsi sehingga masuk perangkap sebagai consumer society yang tidak menjadi kebutuhan primernya.
Begitu menghidupkan TV atau handphone langsung diserbu iklan, termasuk iklan politik. Begitu keluar rumah, mata langsung disergap oleh iklan-iklan. Situasi ini lalu melahirkan visual garbage atau sampah visual.
Dampaknya bagi pendidikan karakter, menurut Baudrillard, harga diri seseorang lalu dinilai oleh apa yang dikonsumsi, oleh gaya hidup, oleh kemasan dan atribut yang dipakai, bisa jadi seragam ormas atau partai, yang tidak mewakili pribadinya yang autentik.
Ketika seseorang masuk mal, misalnya, yang akan dinilai adalah berapa banyak dia berbelanja, merek apa yang dikonsumsi, tidak peduli jabatan dan profesi, atau karakternya. Orang membangun identitasnya bukan bergerak ke dalam diri dengan membangun karakter dan perenungan untuk membentuk pribadi autentik yang setia pada nurani dan akal sehat, tetapi bergerak keluar mengikuti logika dan selera pasar serta pencitraan diri.
Pasar di sini tidak selalu berkonotasi ekonomi, tetapi juga pasar politik. Di era simulacra, orang pun sangat sulit berpisah barang sehari dari telepon selulernya karena akan merasa ketinggalan atau terpisah dari dunia luar, dunia hiperealitas yang telah dinikmatinya meskipun semu.

 

Pendidikan karakter haruslah membawa kembali bangsa ini sebagai subjek, dimulai dari jajaran elitenya, orang tua, dan guru agar menjadi subjek serta pribadi yang autentik. Sayangnya, para elite sendiri telah terjerat ke dalam panggung simulacra, sebuah tontonan simbolik yang penuh jargon dan wacana yang dikapitalisasi oleh industri media sosial. Keduanya jadi agen produsen wacana, tapi terputus dari realitas keseharian rakyat serta cita-cita kemerdekaan.
Dunia medsos telah merobohkan batas-batas privat dan publik, bahkan tembok rumah dan kamar pun ditembus oleh agresivitas dunia maya yang tidak lagi maya karena pengaruhnya sangat kuat pada kehidupan nyata. Hal-hal yang semua sangat pribadi diekspos ke ruang publik, sedangkan ruang publik digeser oleh agenda dan pikiran pribadi serta komunal, salah satunya komunalisme keagamaan.
Pilar pendidikan karakter ini jika tidak dipikirkan dan direformulasikan ulang, saya khawatir situasinya ibarat kompetisi antara produsen obat nyamuk dan peternak nyamuk. Antara pendidik dan pengedar narkoba. Antara juru dakwah dan produsen limbah visual yang memenuhi ruang publik. []

 

KORAN SINDO, 6 Oktober 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Refleksi 1 Muharam Momentum Hijriah

Oleh: Komaruddin Hidayat

SECARA tegas dan jelas Alquran menyatakan kehadiran Islam yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW itu merupakan misi kerahmatan bagi semesta. Islam dalam arti generiknya sesungguhnya mencakup semua agama yang dibawa seluruh rasul Allah sejak Nabi Adam dan setelahnya. Jadi, pada dasarnya semua agama yang berasal dari Allah itu adalah sama dan identik pesannya, sebagai wujud kasih-Nya untuk memimbing manusia ke jalan yang benar, baik, dan membahagiakan.

Setiap agama umumnya memiliki kalender masing-masing untuk menandai hari-hari dan peristiwa besar yang kemudian dirayakan dengan upacara kenegaraan ataupun keagamaan. Peristiwa keagamaan ini pada urutannya melebur ke dalam ranah budaya sehingga upacara keagamaan dan keagamaan saling mengisi. Termasuk juga penetapan kalender agama dan bangsa saling memperkaya. Misalnya, sebagai bangsa besar Tiongkok memiliki kalender sendiri untuk menentukan hari-hari besar mereka. Dalam dunia akademis dan perdagangan, tampaknya yang dominan ialah kalender Masehi, yaitu dimulai dari peristiwa kelahiran Yesus Kristus.

Umat Islam sesungguhnya memiliki kalender tersendiri meskipun mereka juga menggunakan kalender Masehi. Bertepatan pada Ahad, 2 Oktober 2016 ini jatuh 1 Muharam 1438 Hijriah, sebagai awal tahun baru yang diciptakan dunia Islam. Disebut kalender Hijriah karena momentumnya memang bukan diambil dari hari kelahiran Nabi Muhammad, melainkan peristiwa perjuangannya yang dipandang sangat strategis dan historis dalam sejarah Islam, yaitu peristiwa hijrah dari Mekah ke Madinah. Secara historis peristiwa hijrah ini merupakan mata rantai yang sangat menentukan kemenangan dan perkembangan penyebaran Islam. Umat Islam begitu berat menghadapi tekanan musuh sewaktu di Mekah, lalu atas izin Allah berpindah dan melakukan konsolidasi di Madinah. Di kota ini umat Islam semakin besar jumlahnya, fondasi ajaran Islam semakin mapan, dan pada gilirannya Rasulullah dan umatnya kembali lagi ke Mekah dan menaklukkannya dengan cara damai.

Sebuah konvensi

Kota Mekah dan Madinah ialah dua kota yang menjadi basis dan saksi masa-masa awal pembentukan ajaran dan umat Islam yang hidup sezaman dengan Rasulullah. Masa inilah yang selalu menjadi rujukan dan sumber inspirasi bagi pembinaan umat Islam setelahnya dari zaman ke zaman. Oleh karena itu, setiap tiba tahun baru Hijriah, umat Islam sedunia selalu mengadakan upacara peringatan untuk mengenang kembali dan meneladani Rasulullah dan para sahabatnya bagaimana membangun komunitas muslim yang beradab, tercerahkan, yang berhasil gemilang mengganti kehidupan tidak beradab (jahiliah) menjadi sangat beradab (civilized).

Pada awalnya kalender itu memang sebuah konvensi sebagai tanda perjalanan waktu, dengan mandasarkan hitungan putaran bumi, matahari, dan bulan yang kemudian melahirkan tonggak-tonggak waktu sejak dari menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, dan abad. Akan tetapi, untuk selanjutnya kalender selalu muncul dalam kesadaran batin kita bagaikan sebuah rumah yang berjalan (moving house) yang di dalamnya menyimpan seribu satu kenangan dan catatan peristiwa yang berjalan menyertai kita. Bahkan, seluruh aktivitas kita pun selalu dibayangi dan dibatasi waktu.

Jam tangan dan kalender tak pernah luput dari kesadaran kita sehari-hari. Di mana pun kita memasuki dunia kerja, di situ akan selalu bertemu dengan informasi tanggal, hari, bulan, dan tahun.

Bahkan juga jam. Jam tangan yang awal mulanya diciptakan manusia untuk mengetahui informasi waktu, sekarang posisinya menjadi berbalik. Bagi kalangan eksekutif yang serbasibuk, bahkan selalu merasa dikejar-kejar jam dan waktu. Sampai-sampai muncul ungkapan, kalau bisa seminggu itu menjadi sepuluh hari karena merasa sempit waktu yang tersedia untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan.

Setiap orang memiliki jatah waktu 24 jam sehari semalam untuk melakukan aktivitas. Meski jatah waktunya sama, hasilnya ternyata berbeda-beda. Setiap orang juga berbeda dalam memaknai dan merasakan jalannya jarum jam dari menit ke menit. Ada yang merasa waktu berlalu dengan cepat, ada yang merasa lambat. Dengan demikian, rentang waktu ternyata bukan sekadar jumlah dan akumulasi hitungan menit, melainkan sangat berkaitan dengan suasana kejiwaan seseorang. Inilah yang saya maksudkan psikologi waktu.

Waktu metafisik

Ketika kita menghitung waktu secara empiris, dengan mendasarkan jumlah edar bumi mengelilingi matahari, di sana sesungguhnya ada kategori waktu yang bersifat metafisik (metaphysical time). Bahwa kita semua mengada mesti mengasumsikan dan meniscayakan berada dalam ruang dan waktu. Ketika kita berpikir tentang waktu, kita sudah berada dalam waktu. Makanya selalu muncul pertanyaan baku terhadap keberadaan seseorang; di mana dan kapan? Di mana menunjukkan ruang, kapan menunjukkan waktu. Bahkan, terhadap orang yang sudah meninggal pun berlaku pertanyaan; di mana dia sekarang? Berapa lama dia tinggal di alam kubur? Apakah langsung pindah ke surga atau neraka? Neraka itu ada batasnya atau tidak? Kalau kekal, apakah sama dengan kekalnya Tuhan? Demikianlah, ini termasuk kategori waktu metafisik. Sedangkan Tuhan yang mahaabsolut diyakini berada di luar ruang dan waktu yang digambarkan dan dialami manusia. Namun, di atas semuanya itu, ada sebuah pertanyaan yang sangat fundamental. Apakah hidup ini sekadar kita jalani bagaikan sebuah mesin atau hewan tanpa makna? Apakah ketika usia semakin tua tak ubahnya mesin tua yang kekuatan dan harganya juga kian merosot dan diobral murah? Menarik direnungkan, ketika orang mengadakan peringatan hari ulang tahun, yang diucapkan bukannya panjang usianya, melainkan panjang umurnya. Dalam bahasa Arab, istilah umur masih seakar dengan kata makmur.

Artinya, orang dikatakan panjang umurnya jika hidupnya produktif, mendatangkan kemakmuran bagi lingkungannya. Orang yang panjang usianya, tapi defisit amal kebajikannya dan tidak produktif bagi lingkungannya, disebut bangkrut hidupnya. Lafii khusrin, kata Alquran. Sungguh hidup yang merugi.

Adalah iman dan banyaknya amal kebajikan yang membuat panjang umur seseorang. Bahkan, meski seseorang telah dikatakan mati, sesungguhnya umurnya tetap berjalan selama warisan kebajikannya masih dirasakan orang banyak, yang dalam Islam disebut amal jariah, atau amal kebaikan yang sustainable. Yang berkelanjutan melebihi usia seseorang. Oleh karenanya, sungguh tepat nasihat orang bijak; waktu itu ibarat pedang yang sangat tajam. Jika engkau tidak mampu menjinakkan dan menggunakannya dengan benar, engkau sendiri yang akan tertebas oleh pedang itu. Hidup adalah pilihan, dan pilihan menentukan nasib. Kalau hidup hanya memuja ketampanan fisik dan kekayaan harta, satu-satu akan menjauhi dan meninggalkan kita. Peringatan tahun baru Hijriah dalam konteks berbangsa adalah jangan pernah kita lengah memanfaatkan momentum, terlena oleh aspek prosedural dan seremonial dalam berdemokrasi, tetapi melupakan substansi. Bahwa kita semua wajib mengawal semua proses politik untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. []

MEDIA INDONESIA, 1 October 2016
Komaruddin Hidayat | Guru Besar Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Sawang Sinawang

Oleh: Komaruddin Hidayat

DALAM frase Jawa dikenal istilah sawang sinawang yang dalam bahasa psikologi disebut persepsi. Kita mengenal dan menilai orang di sekitar kita mungkin sekali lebih banyak berdasarkan persepsi, dimulai dengan melihat dan mendengar apa kata orang. Terlebih sekarang berita dan gosip lewat medsos (media sosial) telah menjadi konsumsi sehari-hari, sehingga apa yang kita katakan dan nilai tentang orang lain tak lebih hanya persepsi.

Orang saling memandang, menduga-duga, lalu disimpulkan sendiri. Seterusnya disebar lewat medsos semacam Twitter, Facebook atau Whatsapp. Mungkin sekali asupan pikiran lewat medsos itu tak ubahnya junkfood, makanan yang tak lagi bergizi meskipun bergairah melahapnya serta murah harganya. Jika disebut murah sesungguhnya juga tidak karena kita membayar pulsa dan membuang waktu hanya untuk bergosip.

Saya mengamati beberapa orang yang ikut WAG, Whatsapp group, lebih dari lima. Setiap hari pesan yang masuk bisa di atas 500. Bayangkan saja, berapa lama waktu untuk membaca dan merespons, belum lagi mesti berpikir dan menuliskannya dengan jari. Menulis pesan pendek lewat medsos biasanya dilakukan terburu-buru, sambil lalu, dan tidak mendalam. Tidak juga terstruktur dengan baik logika dan bahasanya.

Jika hal ini menjadi kebiasaan yang mentradisi, sangat mungkin membuat otak kita tidak terlatih berpikir dan menulis secara sistematis, reflektif dan mendalam. Dan ini kurang bagus dampaknya bagi remaja kita. Mereka juga tidak terbiasa membaca novel yang tebal-tebal. Padahal novel yang bagus sangat membantu untuk mengembangkan imajinasi dan menambah wawasan hidup. Juga memperkaya khazanah berbahasa yang indah.

Sebagian besar isi otak dan rekaman emosi kita jangan-jangan produk persepsi, bukan hasil informasi ilmiah ataupun informasi yang sahih dan valid. Jika betul demikian keadaannya, sungguh disayangkan. Kalau kita beli flashdisk, tentu yang hendak kita rekam dan simpan adalah memori yang baik-baik dan berguna. Ketika kita membeli lemari pakaian, yang kita simpan pakaian yang bersih dan ditata rapi. Apa yang terjadi jika pakaian kotor dan sampah yang kita simpan? Pasti bau dan tidak sehat.

Ungkapan sawang sinawang dalam bahasa Jawa memiliki nilai positif, ketika didasari sikap bersangka baik pada orang lain. Bahwa kita tidak baik cepat-cepat menilai dan menghakimi orang lain hanya berdasar kesan dan penglihatan. Hanya berdasar kata orang. Tetapi kita juga tidak dibenarkan menyelidiki serba ingin tahu kehidupan pribadi seseorang.

Oleh karena itu, bersangka baik lebih didahulukan dan diutamakan ketimbang bersangka buruk. Lebih dari itu, jangan mudah silau dan iri melihat orang lain yang kelihatannya mewah dan gemerlap hidupnya. Urip iku sawang sinawang. Hidup itu hanya saling memandang dan menduga-duga. Di balik gemerlap hidup seseorang, pasti menyimpan problem yang disembunyikan, karena tak ada kehidupan tanpa problem.

Sebaliknya, kita seringkali terkecoh dengan penampilan seseorang yang kelihatannya miskin atau sederhana, ternyata dia memiliki kekayaan materi berlimpah atau kebahagiaan hidup yang tidak kita miliki. Oleh karenanya, mengingat hidup ini saling sawang sinawang, maka ojo gumunan. Jangan mudah kagum terhadap penampilan seseorang. Jangan mudah silau lalu bersikap minder atau kecil hati. Jangan mudah kecil hati.

Ojo kagetan. Jangan mudah kaget melihat dan bertemu seseorang yang penampilan awalnya memukau. Melihat rumahnya mewah bak istana. Kita tidak tahu persis kehidupan sejatinya di balik itu semua. Ojo dumeh. Jangan bersikap mentang-mentang. Sombong dan tinggi hati. Roda kehidupan ini senantiasa berputar. Ada kalanya di atas, lain kesempatan di bawah. Makanya bersikaplah wajar. Urip sak madyo. Hidup tidak banyak tingkah, agar tidak mengundang kesan dan komentar yang Anda sendiri tidak senang jika mendengarnya.

Demikianlah, tulisan singkat ini muncul terstimulasi oleh lingkungan sosial yang seringkali asyik bergunjing membicarakan pesan singkat, kutipan dan gambar yang beredar di medsos. Di antara pesan-pesan dan kutipan-kutipan itu banyak pula yang bagus, berisi kutipan ayat-ayat suci, kalimat bijak dan gambar yang mengundang aha!. Namun jangan-jangan semua itu easy come, easy go. Tak sempat dicerna dan direkam mendalam dalam hati dan pikiran, bagaikan angin lalu atau air lewat. Yang tersisa hanya sedikit. []

Koran SINDO, 15 Juli 2016
Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Generasi Penikmat

Oleh: Komaruddin Hidayat

Orang arif-bijaksana mengingatkan kita semua untuk hati-hati dan waspada ketika terjadi peralihan generasi, baik peralihan generasi pada ranah keluarga, perusahaan, maupun bangsa.

Kita mengenal empat tipologi generasi yaitu generasi pendiri, pembangun, penikmat, dan generasi perusak. Dalam konteks berbangsa dan bernegara di depan mata kita terpampang wajah-wajah siapa saja yang masuk ke dalam kategori pendiri bangsa, pembangun bangsa, penikmat hasilpembangunan, dan perusak hasil pembangunan. Naluri orang tua itu selalu ingin membahagiakan anak-anaknya.

Para pejuang 45 misalnya, yang dahulu hidupnya susah semasa zaman Belanda dan Jepang, selalu saja diceritakan kepada anak cucu bagaimana susahnya cari makan, pakaian, dan menempuh pendidikan. Dan, semua itu tidak ingin dialami oleh generasi penerusnya. Maka itu, ketika mereka akhirnya sukses lalu cenderung memanjakan anak-cucunya.

Cukuplah orang tua yang menderita, anak-anaknya yang panen menikmati hidup. Cinta kasih kepada anak adalah mulia, terpuji. Itu ibarat madu yang manis dan menyehatkan. Tetapi, memanjakan sehingga anak-anak tidak memiliki mental juang dan tahan banting adalah racun. Dan, itu akan merugikan perjalanan sebuah bangsa.

Maka itu, kita lihat banyak anakanak yang orang tuanya termasuk pendiri dan pembangun bangsa, tapi mereka lalu hidup dalam zona nyaman sebagai penikmat pembangunan yang diwariskan ayahnya. Pada zona ini terbuka dua kemungkinan, adakah akan bangkit dan maju dengan fasilitas yang serbaberkecukupan ataukah akan tergelincir jadi generasi perusak?

Saya mengamati, ada beberapa pendiri dan pemilik perusahaan besar dan termasuk jajaran puncak piramida orangorang terkaya di Indonesia, tetapi langsung merosot tajam begitu beralih ke generasi anak, belum lagi ke cucu. Ini juga terjadi pada keluarga mantan pejabat tinggi negara, yang gagal melakukan kaderisasi.

Meski begitu, ada juga perusahaan dan karier kehidupan yang semakin maju diteruskan oleh anakanaknya. Orang bilang, keunggulan generasi kelas menengah itu untuk naik ke atas tidak sesulit kelas bawah. Dan, kalaupun jatuh, sakitnya juga tidak sesakit jatuhnya kelas atas. Sungguh menarik mengamati dan belajar dari kebangkitan generasi penerus sebuah bangsa, terutama negara tetangga.

Misalnya saja Jepang, Korea Selatan, Singapura, Filipina, ataupun Malaysia. Belajar keras, bekerja keras, dan disiplin sangat ditekankan pada anak-anak Jepang, Korea Selatan, dan Singapura. Generasi kedua dan ketiga disiapkan untuk maju ikut berkompetisi dalam panggung keilmuan, teknologi, dan ekonomi, meneruskan serta mewujudkan cita-cita pendiri bangsanya. Mereka disadarkan dan disiapkan bahwa hidup itu penuh persaingan. Bahkan lawan selalu mengintipnya. Jika lengah, pasti akan kalah tergilas. []

KORAN SINDO, 03 Juni 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Menjadi Wartawan

Oleh: Komaruddin Hidayat

Di Jakarta, kuliah sambil bekerja atau bekerja sambil kuliah, rupanya tidak sulit dijalani. Banyak keluarga di kota besar yang memerlukan guru privat untuk mengajari matematika dan agama untuk anak-anaknya.

Tentu ini peluang bagus bagi mahasiswa yang terjun bebas ke Jakarta seperti saya yang tidak mendapatkan dukungan uang dari keluarga di kampung karena memang tidak mampu. Pagi saya kuliah, sorenya mengajar privat agama dan aktif bakti sosial di Kompleks Mabad, Rempoa, tak jauh dari kampus.

Di kompleks ini saya dikenal layaknya pelaksana tugas pengurus RK (rukun kampung) yang mengurus KTP dan berbagai kepanitiaan acara sosial. Semuanya saya jalani dengan riang. Yang penting saya bisa kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah, sebuah dunia baru yang sangat menggairahkan.

Keberhasilanku terdaftar sebagai mahasiswa pada perguruan tinggi negeri sungguh merupakan hiburan dan anugerah hidup di luar perhitungan nalar mengingat agenda pertama saya ke Jakarta mau bekerja sebagai buruh, apa pun jenis pekerjaannya yang penting halal untuk menopang hidup mencari pengalaman di Ibu Kota.

Saya tercatat sebagai mahasiswa IAIN angkatan 1974 yang berlokasi di Ciputat, wilayah perkampungan yang masih sepi dan sangat tenang saat itu. Berkat aktivitasku di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Cabang Ciputat, saya berkenalan dengan senior saya, Farid Hadjiri, yang kuliah sambil bekerja sebagai wartawan Panji Masyarakat di bawah kepemimpinan almarhum Buya Hamka.

Dari perkenalan inilah sebuah jalan baru terbuka. Saya sampaikan ke Mas Farid, saya ingin belajar dan bekerja sebagai wartawan. Sejak dari pesantren saya sudah terbiasa menulis dan membuat mading atau majalah dinding. Bahkan Kiai Hamam Ja’far (alm) mewajibkan menulis buku harian dan seminggu sekali menyusun karangan lepas yang kemudian dijadikan bahan latihan pidato (muhadharah) di depan teman-teman. Setelah berlalu belasan tahun saya baru sadar bahwa membiasakan menulis akan berpengaruh untuk berpikir sistematis, ekonomis, dan terstruktur.

Demikianlah, tahap awal saya diajak melihat dan mendampingi Mas Farid melakukan wawancara tokoh sambil memegang kamera. Ketika hasil wawancara terbit di majalah, otakku mengingat kembali dan merenungkan tahapan proses dari awal wawancara sampai tersajikan dalam rubrik majalah, dengan disertai foto. Hatiku berkata, saya pasti bisa bekerja sambil kuliah sebagai wartawan, minimal sebagai reporter karena saya sudah terbiasa menulis esai.

Pikirku, wartawan itu keren, bisa bertemu tokoh-tokoh hebat, pekerjaan bisa dilakukan di luar jam kuliah. Sosok lain yang menginspirasi saya merambah dunia wartawan adalah Fachry Ali, sesama mahasiswa IAIN angkatan ‘74 yang juga aktif di HMI Ciputat. Sejak mahasiswa Fachry Ali rajin menulis puisi, naskah drama, dan menulis opini di surat kabar. Saya, Fachry Ali, disusul Iqbal Saimima (alm) dan Azyumardi Azra akhirnya bergabung sebagai wartawan Panji Masyarakat sambil kuliah dan aktif di HMI.

Terdapat korelasi positifproduktif antara professi wartawan dan dunia mahasiswa. Sebuah kerja semi-intelektual yang mendatangkan uang, memperluas pengetahuan dan pergaulan yang sekaligus juga memperkaya wawasan sebagai aktivis mahasiswa. Dengan pengalaman jurnalistik meliput acara-acara seminar nasional dan internasional, duduk di kelas mendengarkan kuliah dosen terasa ringan dan mudah membuat kesimpulan.

Mungkin pengaruh dari pengalaman bertemu berbagai tokoh nasional, muncul kesombongan membuat penilaian siapa dosen yang berbobot dan siapa dosen yang ilmunya pas-pasan. Siapa dosen yang rajin membaca dan mengikuti buku-buku mutakhir, dan siapa dosen yang hanya mengandalkan buku teks lama.

Berdekatan dengan Buya Hamka, seorang ulama dan pujangga besar yang semua novelnya pernah saya baca, sungguh sangat membanggakan dan menambah rasa percaya diri saya bekerja sebagai wartawan majalah Panji Masyarakat . Penyajian majalah dituntut memiliki bobot ilmiah dan mendalam, beda dari surat kabar berita.

Suatu pengalaman yang tak pernah lupa, suatu hari saya membuat janji wawancara dengan Dr Taufik Abdullah, sejarawan ternama, seputar Islam dan politik di Indonesia. Mungkin kurang percaya dengan penampilan saya, justru dia yang memulai mengajukan pertanyaan pada saya:

”Pernah membaca buku karangan saya? Apa kesan saudara tentang buku itu?” Langsung saya jawab dengan lancar dan percaya diri isi buku Islam Indonesia sehingga Taufik Abdullah berkata,”Baik, wawancara bisa kita mulai. Saya percaya pada kemampuan saudara untuk memahami pikiran saya.”

Pengalaman serupa ternyata saya temui lagi ketika wawancara Bang Ali Sadikin, Gubernur DKI waktu itu. Dia mengajukan pertanyaan, berupa jumlah penduduk Jakarta, apa problem terbesar yang dihadapi masyarakat Jakarta? Rupanya dia ingin menjajaki kesiapan intelektual saya untuk berdiskusi dan menangkap pemikirannya seputar kehidupan sosial Ibu Kota.

Sekian narasumber yang pernah saya wawancarai seperti Juwono Sudarsono, Sarlito Wirawan Sarwono, Suryanto Puspowardoyo, sampai sekarang masih terjalin persahabatan intelektual. Figur-figur yang telah meninggal yang semasih hidup pernah saya wawancarai dan terjalin persahabatan layaknya guru dan mahasiswa antara lain Mochtar Lubis, Ruslan Abdul Gani, Andi Hakim Nasution, Adam Malik, Slamet Iman Santoso, dan beberapa tokoh lain.

Mereka semua telah menularkan virus intelektual, bahwa saya tidak boleh berhenti sebagai wartawan yang membuat janji untuk wawancara. Suatu saat wartawan yang mencari dan menemui saya untuk minta wawancara, tekadku kala itu. []

KORAN SINDO, 12 Februari 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Merayakan Kehidupan

Oleh: Komaruddin Hidayat

Ada nasihat sederhana. Kalau kita selalu mengenakan kacamata hitam, dunia sekeliling juga akan terlihat gelap.

Kacamata hitam itu sekali-sekali diperlukan untuk meredam cahaya panas dan terang yang menyilaukan mata. Tapi jangan selalu dipakai. Makanya ada orang yang memiliki beberapa jenis kacamata untuk dipakai sesuai situasi dan keperluan. Yang tidak mudah berganti adalah kacamata hati dan pikiran atau mindset. Ini terbentuk antara lain oleh pendidikan, kebiasaan dan sistem kepercayaan yang pada urutannya membentuk karakter seseorang.

Misalnya saja, kita dibuat heran mengapa ada orang yang meledakkan bom bunuh diri untuk memperjuangkan keyakinan agamanya. Tetapi bagi pelakunya, mungkin sekali itu dianggap pilihan mulia sebagai jalan terdekat masuk surga, satu kehidupan yang dibayangkan jauh lebih indah ketimbang hidup di dunia yang baginya menyengsarakan. Sementara ada orang lain yang berusaha mempertahankan hidup dengan biaya pengobatan dalam jumlah miliaran karena enggan pisah dari dunia.

Jadi, kacamata kehidupan yang dipakai jelas berbeda. Sekarang dunia semakin plural. Akibat perang, terjadi diaspora, orang mencari tempat pengungsian dan kehidupan ke negara lain, seperti korban perang di Palestina, Libya, Tunisia, Suriah, Irak, dan Afganistan yang mencari suaka ke Eropa. Pluralitas ini semakin dirasakan bagi mereka yang aktif malang-melintang di dunia maya.

Dengan mudahnya melakukan ziarah kultural dan intelektual seantero dunia. Tak hanya ziarah, tetapi seseorang bebas mau shopping ataupun berdebat menghadapi paham dan keyakinan yang berbeda. Festival kehidupan semakin meriah dan warna-warni. Jumlahnegara punsemakinbertambah yang diakui oleh badan dunia, Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB).

Ide dasar badan itu didirikan pada 1945 memang untuk mempersatukan dan mendamaikan hubungan antarbangsa dan negara. Jangan sampai meletus Perang Dunia ke-3. Kalau terjadi, peradaban akan kembali dari nol lagi. Meski tidak terjadi Perang Dunia ke-3, nyatanya kedamaian dan keadilan universal masih jauh. Mungkin kedamaian universal itu sebuah utopia. Tanpa utopia dunia manusia memang menjadi flat, datar, seperti putaran jarum jam.

Salah satu tugas sains adalah memprediksi dan merekayasa sejarah masa depan. Tapi yang namanya prediksi, tetaplah prediksi. Sehebat apa pun kemajuan iptek supermodern, masa depan manusia tetap mengandung misteri. Unpredictable. Perkembangan dan penyebaran sains modern telah menciptakan enclave komunitas akademik yang cenderung seragam di seluruh dunia.

Tetapi, lagi-lagi, universalisme sains tak mampu menghilangkan keunikan, fanatisme dan militansi kelompok-kelompok ideologis entah itu berakar pada etnis, agama, bahasa yang bisa saja mengkristal menjadi kekuatan konspirasi sejak dari tingkat lokal, nasional, regional bahkan global yang ditopang oleh kekuatan modal material, tekno-logikal, dan intelektual (economical, technological and intellectual capital). Man is homo festivus. Manusia itu makhluk yang senang merayakan festival. Masyarakat dan bangsa manapun senang berfestival.

Ada festival bunga, kembang api, tarian, dan sekian ragam lainnya. Celakanya, ada sekelompok orang yang memandang perang juga sebagai festival. Mereka sengaja menciptakan perang. Mengadu domba antarkelompok bangsa dan agama, agar pabrik senjata laku. Untuk apa pabrik senjata dibangun, ribuan scientist digaji tinggi, kalau di muka bumi ini tidak ada proyek peperangan yang menggunakan senjata modern yang mereka produksi agar dagangannya laku?

Berapa banyak orang menjadi kaya raya berkat jual-beli senjata? Jadi, bagaimana mestinya merayakan kehidupan? Jawabannya akan dipengaruhi oleh keyakinan agama dan filsafat hidup seseorang. Akan dipengaruhi oleh pengalaman masa lalunya dan cita-cita di masa depannya. Saya sendiri memilih untuk mengenakan kacamata humanisme religius. Bahwa Tuhan menciptakan ini semua untuk manusia.

Meminjam ungkapan Ibnu Araby, semua ini mewujud karena cinta ilahi. Tanpa energi cinta, semesta sudah lama hancur. Jejaring kosmos dan sosial terjalin karena energi cinta. Bahkan persahabatanyangterjalinantara bumi, matahari, air, hewan, tumbuhan, kesemuanya karena emanasi cinta dari Dia yang rahman dan rahim. Ketika terjadi krisis cinta, cosmos akan berubah menjadi chaos. Mungkin di situ tersimpan rahasia ilahi, mengapa setiap perbuatan hendaknya dimulai dengan ikrar dan manifesto: Bismillahirrahmanirrahim.

Semoga hati, pikiran, lisan dan seluruh tindakan kita menjadi agen, instrumen dan transmiter cinta ilahi untuk disebarkan ke seluruh makhluknya sehingga bumi menjadi panggung festival peradaban dalam berbagai ragam ekspresi dan artikulasinya. Maka pilihlah kacamata kehidupan yang enak, benar, dan pas dipakai agar hari-hari akan terasa nyaman dijalani. []

KORAN SINDO, 18 Desember 2015
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Pertanyaan Abadi dan Eksistensial

Oleh: Komaruddin Hidayat

Dari zaman ke zaman selalu muncul pertanyaan, apakah hidup ini merupakan anugerah yang mesti disyukuri dan dirayakan? Ataukah tragedi yang pantas disesali dan diratapi? Atau semua ini hanyalah ketidaksengajaan tanpa skenario?

Jawaban orang pasti berbeda-beda. Begitu pun dalam mengisi waktu dan jatah umur, seseorang mungkin saja merasa terlalu singkat, terutama bagi mereka yang usianya sudah memasuki angka 60 tahun. Tapi bagi mereka yang te-ngah berada di dalam penjara, jalannya waktu dirasakan sangat lambat. Jadi, ukuran panjang-pendek umur dan waktu sangat berkaitan dengan suasana psikologis seseorang.

Pada umumnya kalangan teolog dan filsuf berpandangan positif tentang hidup sekalipun sulit diingkari ada kesan narasi kitab suci yang menyiratkan bahwa kehidupan di dunia ini merupakan kelanjutan dari kehidupan Adam yang terusir dari alam surgawi. Dalam pandangan Islam, Adam telah diampuni dan anak cucunya tidak terbebani dosa asal. Bahkan manusia diberi mandat dan predikat wakil Tuhan di bumi (khalifatullah fi al-ardhi).

Meskipun begitu tidak dapat diingkari bahwa hidup memang merupakan serial suka dan duka. Bagi mereka yang berpandangan negatif-pesimistis, kehidupan ini merupakan serial derita, diawali dengan jeritan tangis ketika terlahirkan dan diakhiri dengan kesedihan serta kebisuan di ujung perjalanannya. Di sana terdapat tiga pandangan tentang kehidupan.

Ada yang melihatnya sebagai derita dan kutukan, yang lain melihatnya sebagai anugerah Tuhan yang mesti disyukuri dan dirayakan. Lalu, yang ketiga , mereka tidak begitu peduli pada pertanyaan teologis dan ontologis, yang penting hidup dijalani dengan kesiapan beradaptasi dengan situasi baru yang menjemputnya Dunia manusia adalah dunia makna.

Manusia bukan sebuah mesin yang bekerja otomatis tanpa motif dan nilai-nilai yang menjadi acuan dalam setiap geraknya. Manusia senantiasa bertanya dan mempertanyakan eksistensinya. Makanya agama selalu hadir dan diperlukan sepanjang zaman karena agama memberikan acuan makna serta tujuan hidup sekalipun oleh sebagian orang agama tak lebih sebagai mitos dan dongeng belaka.

Salah satu ciri dan identitas manusia adalah selalu bertanya, merasa dirinya dikurung misteri, lalu tak pernah berhenti mencari jawaban di luar kebutuhan dan aktivitas fisiknya. Setelah kebutuhan fisik terpenuhi, muncul pertanyaan ontologis, semua yang ada ini akhirnya akan menuju ke mana? Ada lagi pertanyaan etis, adakah nilai kebaikan dari yang kita perjuangkan dan raih ini?

Dalam ajaran agama-agama besar dunia terdapat doktrin yang sangat fundamental, yaitu beriman tentang adanya Tuhan dan adanya kehidupan lanjut setelah kematian. Keyakinan ini membawa implikasi sangat jauh terhadap pikiran dan perilaku seseorang. Bagi orang beriman, setiap tindakan lalu diniati sebagai pengabdian kepada Tuhan karena akan membawa implikasi moral pada kehidupan akhirat kelak.

Apakah tindakannya akan mendekatkan pada surga ataukah neraka, pada kebahagiaan ataukah penderitaan? Kesadaran transendental di atas menjadikan dunia manusia lebih luas, melewati batas ruang dan waktu empiris yang kita ketahui dan jalani selama ini. Dunia manusia tidak lagi sebatas makan dan minum layaknya dunia nabati dan hewani.

Hidup dan kehidupan tidak bermula dan berakhir dalam batas dunia ini. Kalau saja kita mau mengamati, merenung, dan membuat refleksi terhadap semua realitas di sekeliling kita, satu hal yang pasti: semua benda dan tindakan selalu berkaitan dengan yang lain. Selalu menimbulkan pertanyaan eksistensial, awal dan akhir dari semuanya ini, pertanyaan alfa dan omega. Misalnya kita melihat tukang kayu membuat kursi. Kursi baru benar-benar menjadi kursi ketika ia diduduki.

Jika ada sebuah kursi tetapi tidak pernah diduduki, ia baru potensial menjadi sebuah kursi. Ketika ada orang duduk di kursi, pertanyaan pun muncul, untuk kepentingan apa seseorang duduk? Misalnya saja dia duduk untuk istirahat dan makan. Pertanyaan berikutnya muncul, setelah makan kenyang untuk apa? Untuk bekerja, misalnya. Kita bertanya lagi, bekerja apa, untuk apa dan siapa?

Demikianlah seterusnya, setiap tindakan tidak berhenti di situ, melainkan selalu berada dalam jejaring alam dan sosial. Tidak mungkin kita berdiri terlepas dari yang lain. Makanya orang yang bersikap egois-individualistis hanya menunjukkan kepicikannya. Seakan semuanya bisa dicukupi oleh diri sendiri. Bahkan ketika orang melamun sendiri, dia tetap membutuhkan objek di luar dirinya untuk dilamunkan.

Ketika orang berbuat baik ataupun jahat, dia tetap memerlukan objek di luar dirinya untuk menyalurkan kebaikan atau kejahatannya. Dari sudut pandang agama, sungguh tepat sabda Nabi Muhammad SAW, sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling banyak memberi manfaat bagi sesamanya. Kalaupun tidak bisa memberi manfaat, minimal jangan merugikan pihak lain.

Dalam sabdanya yang lain disebutkan, berbicaralah yang baik, kalau tidak bisa lebih baik diam. Ketika agenda hidup dijalani dengan rutin tanpa kesadaran maknawi, seseorang sesungguhnya sudah mati sebelum mati. Ketika seorang eksekutif tengah antusias mengejar karier, misalnya, hal itu mesti disertai pertanyaan kontemplatif, apa ukuran sukses itu?

Bisa jadi ada orang merasa kayaraya, tetapi ketika hidupnya tidak sempat menaklukkan hartanya dengan membelanjakan di jalan kebaikan dan kebenaran untuk membantu meringankan beban hidup sesamanya, jangan-jangan dia tak ubahnya sebagai centeng atau satpam bagi hartanya.

Dia bukan majikan dari hartanya. Ketika ada mahasiswa tengah berjuang untuk meraih titel sarjana, muncul pertanyaan etis-teologis, untuk kepentingan apa dan siapa ilmu dan titel yang dikejarnya? Rasulullah mengingatkan, sebaik-baik ilmu adalah yang paling banyak mendatangkan manfaat bagi diri dan orang lain.

Bobot ilmu dan titel sarjana akhirnya terletak pada manfaat yang dibuatnya, bukan jumlah titel yang dikumpulkan, bukan pula jabatan yang dipeluknya. Aristoteles pernah dibuat kagum dan tercenung ketika mengamati kebunnya. Bahwa setiap biji pohon ketika disebar dan ditanam, semuanya mengarah pada tujuan yang pasti. Ada gerak teleologis , berkembang ke depan sesuai dengan potensinya.

Biji mangga kalau tumbuh akan jadi pohon mangga. Biji beringin meskipun kecil akan tumbuh jadi pohon beringin yang besar. Lalu bagaimana halnya dengan manusia? Ternyata manusia memiliki dimensi dan potensi yang tak terduga. Manusia memiliki nafsu, intelektualitas, imajinasi, dan kemerdekaan menentukan langkahnya.

Sejarah manusia penuh dengan eksperimentasi, trial and error. Beruntunglah bangsa yang mau belajar dari kesalahan masa lalu dan kesalahan bangsa lain lalu tidak mengulangi tindakan serupa. Kecuali bangsa yang bebal. []

KORAN SINDO, 11 Desember 2015
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Jembatan

Oleh: Komaruddin Hidayat

Setiap jalan-jalan melihat kota-kota besar dunia yang memiliki sungai dan jembatan yang indah dan kokoh, saya selalu terhenyak kagum dan iri.

Ketika mengunjungi Kota Budapest pertengahan November 2015, misalnya, Sungai Danube yang panjangnya 2.850 km dan melintasi 10 negara itu membuat Budapest menyajikan kehidupan dan keindahan yang amat mengesankan. Begitu pula Sungai Vitava yang menghiasi Kota Praha. Danube yang legendaris itu bak kalung mutiara yang mempercantik Budapest.

Atau bagaikan ibu yang selalu memberikan sumber kehidupan ekonomi bagi penduduk setempat serta sumber inspirasi bagi para seniman dan perancang kota sehingga bermunculan bangunan-bangunan indah menjulang, baik yang kuno maupun modern. Hubungan antara sungai, kreasi arsitektur jembatan, dan bangunanbangunan megah nan indah akan ditemukan diberbagai kota dunia semisal Paris, San Fransisco, Sydney, Kairo.

Yang fantastis tentu jembatan Selat Bosporus di Istanbul yang menghubungkan daratan Eropa dan Asia. Atau jembatan dan bendungan raksasa Sungai Yangtze untuk menjinakkan banjir yang merendam ribuan desa dan kini jadi sumber penggerak tenaga listrik. Saya iri karena Indonesia memiliki banyak sungai tetapi itu tidak dirawat dengan cerdas dan indah, padahal di berbagai negara sungai itu menjadi sumber rezeki, tempat wisata warganya, dan ornamen kota dengan arsitektur jembatannya yang ikonik.

Setiap orang pasti senang melihat sungai dengan airnya yang jernih dengan ikanikannya yang berseliweran. Sikap masyarakat terhadap sungai dan jembatan sangat mungkin memiliki keterkaitan dengan budayanya. Mungkin karena kita penduduk kepulauan. Juga di kampung-kampung sungai itu bagaikan WC umum. Ketika urbanisasi ke kota, gaya hidup kampung terbawa.

Mereka tidak memiliki visi bahwa sungai itu bisa difungsikan sebagai hiasan kota, tempat rekreasi, dan pusat ekonomi. Di Jakarta sungai semakin sempit, dangkal, dan kotor oleh tingkah warganya yang tidak bisa merawat fungsi sungai dengan baik. Faktor lain karena masyarakat punya mental serobot dan selalu ingin jalan pintas, enggan melewati jembatan yang tersedia.

Lebih dari itu, desain jembatan yang ada kurang memperhitungkan aspek estetika dan rekreatifnya. Di dekat kampus saya, UIN Syarif Hidayatullah yang berlokasi di Ciputat, jembatan penyeberangan dibangun hanya melayani pemasang iklan, tak pernah ada warga atau mahasiswa yang melintasinya karena letaknya yang sangat tidak familier.

Untuk meraih karier dan prestasi hidup yang otentik, setiap orang juga memerlukan jembatan, terutama pendidikan dan pelatihan diri tahan banting menghadapi ujian, apa pun bentuknya. Anak sekolah yang senang mencontek dan berburu bocoran soal ujian adalah awal dari tindakan main serobot dan suap pada perjalanan hidup selanjutnya, baik waktu melamar kerja maupun mengejar jabatan, termasuk dalam kasus pilkada dan pemilu.

Miskin estetika dan etika dalam membangun kehidupannya. Tidak indah dan mengundang respek ketika catatan kariernya dibaca ulang. Kita sering lupa bahwa perjalanan hidup tak pernah lepas dari jembatan yang mesti kita seberangi. Ungkapan Inggris crossover atau abara dalam bahasa Arab berkembang menjadi i’tibar dan ibarat. Untuk menggapai tujuan dan makna yang benar, kita mesti menyeberang mengatasi rintangan.

Kalau ingin menikmati daging kelapa, mesti memecahkan dulu batoknya yang keras. Jika ingin berburu tambang emas atau minyak di perut bumi mesti melewati dulu bebatuan yang menutupinya. Dalam komunikasi dan pergaulan sehari-hari kita juga mesti mampu menangkap pesan dan makna sejati di balik ungkapan verbal yang disusun dengankata-kata.

Inilah yang dimaksud dengan kata ibarat dan isyarat. Hanya mereka yang cerdas dan bijak yang mampu menangkap pesan yang tersembunyi di seberang jembatan kata dan isyarat. Oleh karenanya dalam studi keagamaan ada disiplin ilmu tafsir untuk menggali makna tersembunyi di dalam kitab suci.

Dalam narasi kitab suci banyak ditemukan perumpamaan, misal, ibarat, isyarat, serta kiasan sehingga hanya mereka yang bisa menyeberang, menggali, dan menangkap makna di baliknya yang akan paham. Bukan berhenti dan terpenjara oleh jembatan penyeberangan berupa katakata verbal dan literal. Kalau makna mesti selalu melekat di permukaan kata, tak akan ada sastra.

Tak ada puisi. Bahasa jadi datar, kering miskin imajinasi. Bukankah setiap saat kita berdiri dan berjalan di atas jembatan? Bukankah kehidupan dunia ini juga jembatan untuk meraih kehidupan lebih tinggi dan membahagiakan? Jangan pernah berhenti menyeberang. []

KORAN SINDO, 20 November 2015
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah