Pendidikan Mengubah Hidup

 

Oleh: Komaruddin Hidayat

SEWAKTU masih nyantri di Pondok Pabelan, Magelang, ada nasihat kiai yang masih melekat di hati, bahwa seseorang akan naik derajat karena ilmu pengetahuan, akhlak (integritas), dan membuang jauh-jauh sikap malas. Coba kita amati kehidupan sosial sekeliling. Banyak keluarga desa miskin berubah nasib ketika salah satu anak dan warganya memperoleh pendidikan bagus yang mengantarkan pada karier ekonomi yang lebih baik, dan pada urutannya bisa membantu pendidikan saudara-saudaranya.

Saya sering bertanya pada teman yang sudah sarjana dan sudah memperoleh pekerjaan, bagaimana rasanya sudah kerja? Rata-rata menjawab gembira karena bisa membantu biaya pendidikan adik-adiknya. Bahkan pertanyaan serupa juga saya ajukan ke PRT (pembantu rumah tangga), jawabnya sama. Gaji yang diterima sebagian ditabung untuk membantu pendidikan keluarganya.

Artinya, masyarakat sangat menyadari untuk mengubah nasib seseorang, pendidikan satu-satunya jalan yang mesti ditempuh. Orangtua yang berhasil mengantarkan pendidikan anak-anaknya yang berkualitas jauh lebih berharga daripada mewariskan harta tanpa disertai pendidikan.

Pada zaman modern, pendidikan itu diintegrasikan dengan sistim sekolahan sehingga orang yang berpendidikan artinya mereka yang memiliki ijazah resmi sebagai tanda tamat dan sewaktu-waktu ijazah itu diperlukan untuk melamar pekerjaan dan menaiki jenjang karier. Sekalipun kita kecewa dengan kualitas pendidikan di Tahah Air, sistem pendidikan di sekolah tetap kita butuhkan. Dalam skala nasional kita bisa membandingkan, wilayah dan etnik yang maju selalu berkorelasi dengan tradisi dan tingkat pendidikan yang sudah mapan.

Jika dibandingkan dengan masyarakat lain, penduduk Jawa lebih maju karena memiliki tradisi sekolah yang sudah tua dan mapan. Perguruan tinggi yang bagus-bagus berada di Jawa. Belum lagi kondisi alamnya yang subur. Namun, pemerintah mesti mendorong tumbuhnya pusat-pusat pendidikan yang bagus secara merata di seluruh Tanah Air. Sekarang ini dunia pendidikan, mau tak mau, terseret masuk pada persaingan mutu produk layaknya dunia industri.

Lembaga pendidikan yang tidak bisa menghasilkan alumnus yang berkualitas dan kompetitif dalam lapangan kerja akan menyusut peminatnya. Prestasi sebuah sekolah dan universitas tidak bisa lagi sekadar memperbanyak wisudawan-wisudawati tanpa yang bersangkutan memiliki kedalaman, teori ilmiah, skill, kemampuan komunikasi sosial dan integritas. Ketika melamar pekerjaan, semata mengandalkan ijazah tidak jaminan diterima tanpa tambahan pendukung lain, misalnya, pengalaman kerja, kemampuan berbahasa asing keterampilan komputer dan komunikasi sosial.

Situasi ini jauh berbeda dari tahun-tahun jauh sebelumnya ketika jumlah sarjana masih sedikit sehingga siapa pun memiliki ijazah menjadi jaminan untuk memperoleh pekerjaan. RI beruntung punya tetangga Australia, Singapura, dan Malaysia sehingga dihadapkan pada persaingan dan pembelajaran langsung dari kemajuan mereka dalam memajukan pendidikan. Sekitar 100 tahun lalu orang memandang Australia tak lebih sebagai daratan luas yang tandus di bawah koloni Inggris, tempat pembuangan penjahat kulit putih dari daratan Eropa.

Tetapi sekarang Australia berhasil membangun peradaban moderen dan menjadi tujuan pendidikan dari berbagai negara asing, termasuk dari Indonesia. Berkat pendidikan yang dikelola serius dan maju, salah satu sumber devisa Australia datang dari sektor pendidikan, di samping sumber alamnya yang dapat dieksplorasi dan dikelola dengan sangat baik. Begitu pun Singapura yang dulu miskin ketika lepas dari Malaysia, sekarang menjadi negara kota yang sangat maju dalam industri pendidikan yang berdampak pada kemajuan jasa kesehatan dan keuangan sebagai hub kemajuan ekonomi Asia Tenggara.

Lagi-lagi, pendidikan lah yang telah mengubah Singapura menjadi salah satu negara kota termodern tidak hanya di Asia Tenggara, tapi juga dunia. Yang juga membuat kita terpana, kemajuan pendidikan di Malaysia. Pusat-pusat pendidikan di sana dibangun dengan standar internasional, termasuk bahasa pengantarnya. Putra-putri Malaysia yang terbaik dijaring lalu dikirim keluar negeri untuk belajar di perguruan tinggi ternama di dunia dalam rangka mendongkrak program dan standar internasionalisasi pendidikan di dalam negerinya ketika alumninya kembali ke Malaysia.

Dan ini sudah berlangsung tiga generasi secara masif. Jumlah universitas di Indonesia lebih dari 4.000, lebih banyak daripada jumlah perguruan tinggi di Tiongkok. Namun kualitasnya masih medioker, alias pas-pasan, jauh di bawah Singapura. Kekalahan kontingen olahraga RI di SEA Games yang berada di nomor lima mengindikasikan pembinaan bakat dan bibit unggul anak-anak bangsa tidak berjalan bagus, untuk tidak mengatakan kedodoran.

Saya pernah mendengar cerita, dulu Bung Karno mengirimkan putra-putri bangsa terbaik untuk mendalami sains dan teknologi ke negara maju dengan harapan kekayaan alam Indonesia dieksplorasi bangsa sendiri. Namun, agenda Bung Karno berantakan, lalu yang lebih menonjol orang belajar ke luar negeri untuk mendalami ilmu sosial, terutama ke Barat (AS). Gagasan Bung Karno ini diteruskan BJ Habibie dengan mengirim putra-putri terbaik untuk belajar sains, tapi lagi-lagi karena turbulensi politik banyak dari mereka yang tidak pulang ke Tanah Air lalu memilih berkarier di luar negeri.

Saat ini RI memiliki sarjana ilmu sosial yang jauh lebih banyak daripada sarjana bidang sains. Fenomena ini berpengaruh pada perkembangan ekonomi dan politik. Kata demokrasi seakan jadi mantra suci yang selalu muncul dalam wacana sosial. Orang lebih disibukkan wacana dan manuver politik menghadapi pilkada dan pemilu, tetapi lemah sekali dalam inovasi sains serta pengembangan bidang industri manufaktur.

Kita jadi mangsa empuk dan menggiurkan bagi negara produsen dan eksportir asing karena jumlah penduduk Indonesia yang tinggi dan sumber alamnya yang melimpah, padahal SDA semakin menipis dan lingkungan rusak. Pada para siswa kita tidak bisa lagi memberikan harapan besar atas belas kasih alam, tanpa dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih. Pembelajaran ilmu sejarah di sekolah perlu diubah materinya. Tidak hanya fokus pada sejarah Indonesia, tetapi perlu sejarah komparatif bangkitnya negara-negara di Asia agar siswa memiliki kesadaran dan tantangan membangun bangsa sendiri di tengah persaingan global. []

MEDIA INDONESIA, 11 September 2017

Komaruddin Hidayat | Dewan Penasihat Yayasan Sukma,Jakarta

Indeks Kebahagiaan

 

Oleh: Komaruddin Hidayat

BISAKAH kebahagiaan yang bersifat subjektif-kualitatif diukur lalu dikuantitatifkan? Dengan bantuan ilmu psikologi dan statistik, para sarjana telah mencoba melakukan pengukuran, antara lain melalui wawancara.

Sepanjang yang merasakan derita dan bahagia itu manusia, sesungguhnya bisa digali, diajak dialog, dan secara statistik bisa diukur lalu diperbandingkan. Hanya saja mesti diingat bahwa kebahagiaan seseorang sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya dan agama yang dianut seseorang.

Namun dari semua masyarakat yang hendak disurvei, di sana terdapat kemiripan faktor yang mendukung kebahagiaan seseorang. Misalnya kebutuhan rasa aman, lingkungan sosial yang jujur, tempat tinggal, lapangan kerja, penerimaan sosial, kesehatan, pendidikan dan pandangan optimistik melihat masa depannya.

Terdapat dua masyarakat atau negara yang dilaporkan paling bahagia saat ini, yaitu Buthan dan Norwegia, dua masyarakat yang memiliki budaya dan agama yang berbeda. Buthan adalah kerajaan kecil dengan luas wilayah 38.394 km persegi, berpenduduk sekitar 750.000 jiwa. Sebuah masyarakat agraris, pemeluk Buddha yang sangat setia. Income per kapita sekitar USD2.730. Letaknya berdekatan China, India, dan Nepal, serta berada di lereng Pegunungan Himalaya.

Berdasarkan World Happiness Report (WHR) 2017, dari 155 negara yang diurvei, Norwegia dinyatakan sebagai bangsa yang paling bahagia di dunia. Menyusul di bawahnya adalah Denmark, Iceland, Switzerland, dan Finlandia. Kesemuanya tergolong negara kecil dengan jumlah penduduk sekitar 5 juta, bahkan kurang.

Norwegia letaknya di semenanjung Skandinavia, bertetangga dengan Swedia, Finlandia, dan Rusia, dengan luas wilayah 385.525 km persegi serta berpenduduk sekitar 5 juta jiwa. Alam Norwegia sangat kaya, memiliki cadangan minyak bumi, gas alam, mineral, makanan laut dan air segar yang melimpah di bawah pemerintahan seorang raja. Pendapat per kapita sekitar USD54.397.

Beberapa aspek yang dijadikan kriteria mencakup rasa aman, sikap tolong-menolong, kedermawanan, kejujuran, pemerintahan yang melindungi dan melayani, ketersediaan lapangan kerja, emosi positif warganya, bebas dari rasa tertekan dan eudaimonia atau perasaan hidup bermakna dan memiliki tujuan yang jelas.

Warga Amerika Serikat, misalnya, meskipun secara ekonomi tinggi dan maju, tingkat kebahagiaan rakyatnya menurun. Berbagai ancaman terorisme dan dinamika politik serta ekonomi yang fluktuatif telah mengurangi rasa aman dan bahagia warganya.

Indeks kebahagiaan China pun menurun. Suasana hidup yang penuh kompetitif dalam ekonomi dan politik, memang telah menciptakan kegaduhan. Restless, noicy. Kondisi demikian kurang, atau tidak, dirasakan masyarakat negara-negara kecil yang menempati peringkat kebahagiaan tinggi.

Sebagai pemeluk Buddha, masyarakat Buthan bahkan diajari konsep detachment. Hidup merdeka, tak mau terbelenggu oleh nikmat dunia. Bahkan warga Buthan diajarkan untuk selalu berbuat baik dan mengingat mati sebagai jalan pembebasan.

Dalam konstitusi Buthan tertulis, yang dalam bahasa Inggris berbunyi: If the government cannot create happiness for its people, then there is no purpose for government to exist. Makanya cukup populer ungkapan Khesan Namgyel Wangchuck, Raja ke-5 Buthan, yang menegaskan bahwa Gross National Happiness (GNH) lebih penting dari Gross National Product (GNP).

Jika diskusi ini dibawa ke ranah bangsa dan masyarakat Indonesia, bagaimana potretnya? Dalam WHR 2017 ini, Indonesia menduduki peringkat ke-81.

Sebagai negara besar dan yang penduduknya tersebar ke sekian banyak pulau dengan beragam tradisi, agama, sumber ekonomi, dan pekerjaan, sudah pasti tidak bisa disajikan secara utuh dan mudah potret kebahagiaan warganya sebagaimana negara-negara yang penduduknya di bawah 5 juta dan menempati daratan yang sama.

Jika diambil rata-rata secara nasional, income per kapita rakyat Indonesia sekitar USD3.500. Tapi pada kenyataan di lapangan, ada yang di atas USD25.000 dan ada yang di bawah USD1.000. Pemerataan masih jauh untuk diwujudkan dan dinikmati.

Belum lagi bicara ketersediaan lapangan kerja, rasa aman, dan optimisme memandang hari depan, suasana batin masyarakat Indonesia pun diliputi rasa ketidapkastian (uncertain). Suasana keterbukaan dan persaingan antarbangsa dan negara telah menimbulkan dorongan untuk maju, tetapi juga perasaan tertinggal dan terancam, bahkan sebagian merasa sebagai warga negara yang kalah.

Di tengah ekspansi ekonomi dan pengaruh budaya asing yang semakin gencar, sesungguhnya masyarakat Indonesia memiliki tradisi dan modal untuk merasa bahagia. Setidaknya terdapat empat faktor yang pantas disyukuri.

Pertama, alam Indonesia yang indah sehingga untuk melihat dan menikmati alam tak perlu pergi rekreasi jauh-jauh dan mahal. Bandingkan saja dengan mereka yang tinggal di alam yang panas dan gersang. Di sini terdapat laut, pantai, sawah, sungai, gunung, hutan, pedesaan yang membuat bangsa lain iri.

Kedua, tradisi hidup komunalisme. Berbeda jauh dari masyarakat barat, masyarakat kita masih memiliki hubungan kekerabatan yang kuat, baik atas dasar suku, marga, famili maupun kedaerahan.

Sekarang ini dengan ditemukannya media sosial berbasis internet, hubungan kekerabatan dan pertemanan lama mudah terjalin kembali. Sering sekali ada acara reuni teman sekolah atau sedaerah yang difasilitasi dengan WhatsApp untuk mengumpulkan teman-teman lama. Secara psikologis forum ini membuat para peserta merasa bahagia, terhibur, membuang lelah dan jenuh dari rutinitas kerja.

Ketiga, tradisi humor. Coba saja perhatikan, betapa kayanya tradisi humor dan candaan di tengah masyarakat kita. Berbagai problem hidup yang pahit bahkan bisa dan sering diolah menjadi bahan humor dan parodi, sehingga menjadi semacam katarsis sosial.

Jika ditelusuri ke belakang, kekayaan humor mungkin berkaitan dengan kekayaan dan keragaman suku yang dulunya hidup secara komunal, dalam lingkungan alam dan sosial yang nyaman, sehingga masyarakatnya menjadi santai, tidak mesti kerja keras yang pada urutannya mengondisikan untuk senang bercanda.

Keempat, aspek ini mungkin yang sangat besar perannya dalam membuat seseorang tahan uji dan sabar menjalani kehidupan. Yaitu faktor agama.

Meskipun secara ekonomi Indonesia kalah jauh dibanding Norwegia atau Jepang, tapi angka bunuh diri sangat kecil. Jumlah angka bunuh diri dalam sebuah masyarakat merupakan salah satu indikator kerentanan jiwa ketika diterpa masalah hidup.

Masyarakat Indonesia yang dikenal religius, apapun agama dan kepercayaannya, mempunyai peran sangat besar pada pemeluknya untuk selalu bersabar ketika musibah dan senantiasa bersyukur menerima anugerah Tuhan, termasuk anugerah kehidupan ini.

Banyaknya mimbar pengajian keagamaan melalui televisi, radio, di tempat ibadah dan dalam masyarakat sudah pasti memperkuat dan menginspirasi mental masyarakat untuk merayakan kehidupan dengan memperbanyak amal kebajikan dan menjaga silaturahmi. Keduanya ini menimbulkan eudaimonia, yaitu perasaan hidup bermakna, memiliki tujuan hidup dan harmoni sosial. []

KORAN SINDO, 8 September 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Mengapa Berumah Tangga

Oleh: Komaruddin Hidayat

MESKIPUN jumlah penduduk bumi semakin bertambah dari hari ke hari, tidak berarti hidup seseorang merasa kian hangat karena banyak teman. Sebaliknya, kita sering mendengar ungkapan paradoksal, sepi dalam keramaian.

Yang demikian bisa terjadi ketika seseorang tidak memiliki teman dekat yang cocok dan saling mencintai, terutama teman hidup lawan jenis yang bisa menciptakan suasana batin, to love and to be loved, saling merasa mencintai dan dicintai. Akan lebih kuat lagi ketika perasaan batin itu dikukuhkan dalam ikatan perkawinan dengan mengikuti petunjuk dan pedoman agama sehingga menjadi lebih sakral.

Secara psikologis dan memperhatikan isyarat Alquran (30:21), dorongan orang berkeluarga itu untuk mendapatkan hidup sakinah dan memperoleh keturunan. Sakinah artinya tenang, tenteram dan nyaman, yang di dalamnya tumbuh mawaddah dan rahmah.

Yang pertama, mawaddah, dalam istilah psikologis mungkin bisa dimaknai sebagai conditional love. Yaitu, orang mencintai dan memilihnya sebagai sebagai pasangan hidup karena adanya beberapa pertimbangan, misalnya karena kecantikan atau ketampanannya, agamanya, asal-usul keluarganya, kemampuan finansialnya, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, mawaddah artinya “cinta karena”. Orang memilih pasangan hidup pada tahap awalnya lebih dominan dimensi “cinta bersyarat”.

Bersama jalannya waktu, diharapkan tumbuh rahmah, cinta kasih yang tulus, senantiasa ingin memberi, atau unconditional love, “cinta tanpa syarat”, atau “cinta walaupun”. Orang tua memiliki kiasan, rumah tangga itu bagaikan tempat berlabuh. Tentu ungkapan ini muncul dari masyarakat maritim atau pelaut. Mereka merasakan sebuah risiko perjalanan laut yang setiap saat bisa dihantam ombak.

Ketika siang hari udara panas. Ketika datang malam suasana gelap. Ikan yang diburu pun tidak selalu berhasil ditangkap. Kalau badan dan pikiran sudah letih, yang dirindukan adalah pantai tempat berlabuh untuk memperoleh suasana rileks, aman, dan nyaman.

Begitulah mestinya sebuah kehidupan rumah tangga, menjadi tempat yang membuat aman, nyaman, damai dan merdeka bagi semua anggota kekuarga begitu masuk rumah. Saat ini sesungguhnya kehidupan di darat tidak kalah bahaya dan penuh risiko dibanding kehidupan di laut bagi para nelayan.

Persaingan dan perebutan yang keras terjadi hampir di semua lini kehidupan sehingga membuat suasana hostile, hurried, dan humourless. Di mana-mana muncul suasana permusuhan, hidup serba buru-buru, dan suasana rileks, humor, jadi barang yang mahal.

Nabi Muhammad memberikan kiasan rumah tangga itu bagaikan taman surgawi, baiti jannati. Kiasan ini tentunya karena pengaruh gersangnya alam padang pasir, yang selalu merindukan taman hijau, rindang, dan tempat bermain. Demikian juga kehidupan keluarga, idealnya adalah bagaikan taman tempat santai, rileksasi, menghilangkan semua beban dan ketegangan hidup.

Tetapi pada kenyataannya kehidupan keluarga tidak selalu indah dan seideal yang dibayangkan setelah seseorang menjalin perkawinan dan membangun rumah tangga. Namun begitu, kita juga menyaksikan banyak sekali keluarga yang bahagia, mereka sukses mengalahkan dan menjinakkan berbagai problem dan tantangan yang menghadang.

Banyak pasangan yang berhasil meraih status rahmah, yaitu cinta tanpa syarat, terutama sering kita jumpai dalam pasangan tua. Mereka tetap kokoh saling mencintai “walaupun” usia sudah lanjut, “walaupun” kondisi fisik tak lagi menarik, “walaupun” sakit-sakitan, dan sekian “walaupun” lainnya.

Namun perlu dicatat bahwa pohon cinta yang akarnya menghunjam, daunnya rindang dan buahnya lebat bukan datang dengan sendirinya. Tetapi mesti dipupuk, dirawat dan dijaga oleh pasangan suami-istri. Suatu usaha yang mulia namun kadang terasa berat sehingga ada juga pasangan yang putus di tengah jalan, karena berbagai faktor, mengingat jalinan suami-istri tak ada yang terbebas dari berbagai cobaan dan godaan.

Yang namanya kehidupan rumah tangga selalu saja muncul masalah-masalah baru yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya, sampai-sampai muncul ungkapan populer, It is easy to build a house, but not a home.

Bagaimana halnya dengan keturunan? Ini juga anugerah sekaligus ujian. Sering kita temukan orangtua prihatin dan merasa kurang beruntung karena tidak punya keturunan, namun tak sedikit orangtua yang mengeluh dan pusing karena problem anak-anaknya.

Perubahan sosial yang berlangsung sedemikian cepat tanpa dibarengi edukasi publik telah membuat banyak masyarakat bingung, tidak tahu apa yang sesungguhnya tengah terjadi. Orangtua selalu dibayangi rasa was-was, khawatir dan takut terhadap anak-anaknya, baik khawatir dari segi keamanan, pengaruh narkoba, perkelahian, pergaulan bebas, dan berbagai sumber kekhawatiran lain, termasuk pengaruh gerakan radikalisme-terorisme.

Pendeknya para orangtua dan guru saat ini dihadapkan problem yang semakin berat dalam mendidik anak-anak dan remaja. Belum lagi banyak remaja yang memandang pesimistis terhadap masa depan mereka.

Salah satu sumber harapan dan optimisme dalam upaya menjaga dan meningkatkan kualitas keluarga dan masa depan generasi penerus adalah senantiasa berpegang teguh pada nilai-nilai agama, pada tradisi luhur, memiliki pendidikan yang bagus, memilih lingkungan pergaulan yang berkualitas, memberi asupan yang bergizi dan halal.

Berbagai problem yang menghadang janganlah dihindari, tetapi dipahami dan diatasi karena sesungguhnya problem kehidupan itu justru mengajarkan pada kita agar tumbuh menjadi pribadi lebih kuat dan lebih bijak. []

KORAN SINDO, 25 Agustus 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Sakral dan Profan

Oleh: Komaruddin Hidayat

KEDUA istilah di atas, sakral dan profan, lazim dijumpai dalam berbagai kajian ilmu sosial, filsafat, dan agama. Secara populer sakral artinya suci, disucikan, atau dianggap suci, sedangkan profan bermakna sebaliknya. Contoh paling sederhana, ada dua buku tebal, yang satu kitab suci, satunya lagi buku akademis.

Buku pertama dianggap sakral, yang lain profan. Tentu saja sakralitas sebuah entitas berkaitan dengan kepercayaan dan iman seseorang. Kitab Injil dan Alquran bagi pemeluk Nasrani dan Islam diyakini sakral sehingga disebut kitab suci, tetapi bagi orang ateis dianggap profan.

Bagi muslim, bangunan Kakbah dan batu hitam (hajar aswad) yang melekat di tembok Kakbah, Mekkah, dianggap sakral, suci, bukan bangunan sembarangan dan bukan sembarang batu. Kakbah itu bahkan disebut baitullah dan hajar aswad itu simbol tangan Tuhan.

Secara tekstual, baitullah berarti rumah Allah. Apakah berarti rumah milik Allah ataukah Allah bertempat di situ? Tentu bukan begitu maknanya. Semua langit dan bumi seisinya adalah milik Allah.

Di situ terkandung konsep sakral, sesuatu yang dianggap suci. Dan Kakbah memiliki derajat kesucian istimewa karena semua bangunan masjid oleh umat Islam juga disebut tempat suci. Tempat ibadah agama lain, misalnya gereja, juga dipandang sebagai tempat suci. Tempat khusus untuk memuji Tuhan.

Contoh lain yang sakral dan yang profan misalnya gerakan salat dan senam. Keduanya sama-sama gerak tubuh secara teratur dan terstruktur, tetapi senam tubuh diposisikan sebagai budaya yang bersifat profan.

Jadi yang disebut sakral selalu dikaitkan dengan keyakinan dan ritual keagamaan, sedangkan yang profan masuk pada kategori kebudayaan. Keduanya secara teori dan konsep bisa dibedakan, tetapi pada praktik dan kenyataannya sesungguhnya tidak bisa dipisahkan antara yang sakral dan yang profan, antara agama dan budaya.

Bangunan masjid, misalnya, sejak dari bahan, arsitektur, karpet, menara, dan seluruh wujud fisiknya adalah fenomena budaya tak ubahnya bangunan rumah. Hanya saja oleh masyarakat disepakati sebagai masjid, tempat suci, di mana entitas budaya tadi disakralkan sebagai instrumen keagamaan.

Begitu pun bahasa Arab adalah bahasa budaya. Tapi ketika dipinjam atau dipilih Tuhan untuk mewadahi wahyu yang diterima Nabi Muhammad, bahasa Arab itu lalu disakralkan. Terjadi sakralisasi budaya.

Tapi proses sakralisasi ini kadang melewati batas proporsinya. Misalnya model pakaian budaya Arab yang dikenakan Nabi juga oleh sebagian orang disakralkan, dianggap sebagai pakaian keagamaan.

Mengenakan gamis model Arab diidentikkan dengan mengikuti sunah Rasulullah, padahal sejatinya adalah fenomena budaya, bukan agama. Wilayah profan, bukan sakral. Dulu orang-orang kafir yang memusuhi Rasulullah juga sama pakaiannya.

Jadi bagi mereka yang menganut paham sekularisme, semua yang ada ini profan, sekuler, duniawi, tak ada kualitas ilahi di dalamnya. Tapi ada pula yang membedakan antara entitas sakral, yang suci atau disucikan, dan entitas yang duniawi, sekuler, yang masuk ranah budaya.

Makanya ada ungkapan, yang agama jangan dibudayakan, yang budaya jangan diagamakan. Lebih ekstrem lagi, sesungguhnya yang suci secara absolut itu hanyalah Allah semata. Selain Allah dianggap suci atau disucikan karena menjadi instrumen dalam peribadatan untuk memuji dan menyucikan Allah.

Meski begitu, jika ditarik pada tataran kesadaran dan perilaku batin orang beriman, semua tindakan yang diniati sebagai sujud dan berserah diri kepada Tuhan adalah suci. Bekerja mencari rezeki (uang) juga tindakan sakral karena menjalankan perintah Tuhan. Apa pun kegiatannya yang dimaksudkan dan diarahkan sebagai amal saleh adalah suci, sebagai ibadah, tidak semata salat. []

KORAN SINDO, 18 Agustus 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Reason in History

 

Oleh: Komaruddin Hidayat

JIKA sejarah diibaratkan panggung yang senantiasa berjalan tak kenal henti, aktor yang tampil di panggung sejarah ini silih berganti, sambung-menyambung baik pada konteks individu maupun generasi, entah sampai kapan kehidupan berlangsung, kita tidak tahu.

Setiap menit terjadi peristiwa kelahiran dan kematian, namun jumlah kelahiran rupanya lebih banyak ketimbang yang pamitan undur diri, sehingga jumlah manusia di muka bumi terus membengkak dan bertambah. Diperkirakan hari ini tidak kurang dari enam miliar manusia berada bumi.

Setiap pribadi dan generasi memiliki peran dan tantangan masing-masing. Ada di antaranya yang kreatif menciptakan teknologi dari bentuknya yang sangat sederhana, seperti halnya tongkat, lalu dikembangkan oleh generasi berikutnya dalam aspek bahan, bentuk, dan gunanya sehingga saat ini setiap bangunan mesti ada unsur tongkat sebagai penyangganya.

Inovasi yang juga abadi adalah teknologi roda. Mungkin dulu bentuk, bahan dan gunanya sangat simpel untuk ukuran sekarang.

Tetapi bayangkan dan amati, andaikan tak ada teknologi roda, maka sekian ragam kendaraan, mulai sepeda ontel, motor, mobil, hingga pesawat terbang pasti tidak akan berkembang seperti yang kita saksikan dan nikmati hari ini. Bahkan fungsi roda masuk ke sekian ragam produk teknologi, mulai jam tangan yang kecil dan rumit sampai dengan kursi, lemari, dan meja, banyak yang menggunakan jasa roda.

Masyarakat modern tinggal menikmati dan mengembangkan warisan teknologi roda, sampai-sampai ada ungkapan: We should not reinvent the wheel.

Demikianlah, sejarah manusia telah menciptakan dan mewariskan sangat banyak temuan dan percobaan dalam berbagai bidang, baik dalam bidang sains, teknologi, pranata sosial, sistem politik, ekonomi, pendidikan, kebudayaan maupun paham keagamaan.

Jika direnungkan, dalam perjalanan sejarah itu ada kekuatan logos dan reason yang ikut berperan mengarahkan jalannya kebudayaan. Di sana terdapat daya dan kekuatan penalaran logis yang selalu menyertai perjalanan dan pengembaraan manusia di muka bumi ini.

Pikiran waras lebih dominan ketimbang yang sakit. Sekalipun sering muncul drama dan episode konflik serta peperangan yang digerakkan dan digelorakan oleh nafsu atau emosi untuk menghancurkan yang lain, namun akal sehat akan tampil mengutuk, mengerem, dan menata kembali lakon sejarah yang berantakan dan berdarah-darah.

Misalnya saja, sadar dan menyesali akibat tragedi Perang Dunia (PD) I dan PD II yang mengerikan itu, maka akal budi memandang sangat urgen untuk membentuk Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) guna menata dan menjaga perdamaian dunia. Akibatnya jumlah peperangan di dunia semakin mengerucut jumlahnya, sekalipun tidak mungkin kerusuhan dan peperangan dihilangkan seluruhnya.

Begitu pun berbagai pranata atau institusi sosial sejak dari model pemerintahan sebuah negara sampai tingkat pemerintahan desa, semuanya itu produk inovasi dan evolusi penalaran akal budi manusia yang berkembang dari zaman ke zaman, tujuannya adalah bagaimana menciptakan keteraturan, keselamatan, dan kedamaian hidup masyarakat. Misalnya ide dan sistem demokrasi, teori dan praktiknya senantiasa berkembang dalam sejarah.

Sekali lagi, ini merupakan produk penalaran kolektif masyarakat yang berlangsung secara evolutif dari generasi ke generasi, dan ketika penalaran itu menjadi sebuah teori yang baku maka teori itu kemudian mengarahkan perilaku sosial masyarakat, bahkan sekarang berkembang artificial intelligence dan robot sebagai ekstensi cerdasan manusia.

Dengan mengamati semua ini, terlihat jelas adanya the power of reasoning in history, yang berkembang dan bekerja lintas generasi, bangsa, dan agama. Kekuatan ini bekerja secara otonom, invisible power, melahirkan hubungan dialektis antara manusia sebagai aktor dan hukum sejarah yang bersifat impersonal. Makanya ada istilah the iron law of history. Hukum besi sejarah.

Bagi yang percaya terhadap the reason in history, mereka akan memandang hidup lebih optimistis. Bahwa proses kehidupan ini bergerak semakin membaik dan naik bagaikan spiral.

Tetapi bagi yang kalah, mungkin mereka akan berpandangan sebaliknya. Bahwa hidup ini kian turun kualitasnya. Tanda bahwa kiamat sudah dekat. Perbedaan cara pandang itu muncul karena perbedaan mindset kepercayaan masing-masing pribadi. []

KORAN SINDO, 4 Agustus 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Guru yang Menginspirasi

 

Oleh: Komaruddin Hidayat

SEWAKTU belajar di pesantren, ada ungkapan kiai yang selalu saya ingat. Menurutnya, metode mengajar itu tak kalah penting dari materi yang hendak diajarkan. Namun guru yang baik jauh lebih penting daripada materi pelajaran dan metode pengajarannya. Jadi sosok guru merupakan aktor terpenting bagi suksesnya sebuah proses pembelajaran dan pendidikan.

Guru bagaikan aktor atau aktris yang setiap hari tampil untuk dilihat, didengarkan, dan ditiru tutur katanya. Makanya sebaik apa pun konsep kurikulum yang dihasilkan pemerintah, kalau kualitas gurunya tidak berkualitas, sasaran dan target pendidikan tidak akan tercapai.

Statemen ini telah dibuktikan Pemerintah Finlandia yang menerapkan rekrutmen calon guru sangat ketat hingga mengantarkan negara ini berada paling tinggi dalam bidang pendidikannya. Pelamar calon mahasiswa terbanyak adalah pada fakultas keguruan.

Makanya tenaga pengajar di sana adalah putra-putri terbaik bangsanya. Mereka bekerja sebagai pendidik tidak direcoki berbagai urusan birokrasi. Sebaliknya mereka mendapatkan kebebasan berinovasi berdasarkan riset secara kontinu.

Dalam berbagai forum pelatihan guru, saya sering membagikan kertas kepada para peserta untuk menuliskan nama guru dan sekolahnya yang telah memengaruhi kualitas dan jalan hidup mereka. Siapakah guru-guru yang memberi inspirasi, motivasi, dan teladan yang masih terkenang meskipun sudah belasan tahun tidak pernah berjumpa.

Setelah dituliskan, mereka lalu saya minta berbagi cerita di hadapan peserta. Dari sekian pengalaman memberi pelatihan guru, guru-guru yang baik setidaknya memiliki empat ciri.

Pertama, mereka menguasai materi yang hendak diajarkan. Kedua, pandai memilih metode yang tepat agar mudah dipahami siswa serta tidak menjemukan. Ketiga, membangkitkan imajinasi dan motivasi siswa untuk berani bermimpi tentang masa depan. Keempat, mengajar dengan cinta.

Sewaktu menjadi mahasiswa, saya pernah diajar oleh seorang dosen yang rajin membaca. Koleksi bukunya banyak. Namun ketika memberi kuliah, mahasiswa sulit memahaminya.

Mungkin ini disebabkan miskin metode. Kurang kreatif dan terampil membuat hal-hal yang rumit menjadi simpel tanpa kehilangan substansinya. Dia pintar untuk diri sendiri, tetapi kurang pandai memintarkan mahasiswa.

Sebaliknya, saya pernah bertemu dengan dosen yang bacaannya tidak kaya, tetapi pintar meringkaskan isu yang sulit, lalu mengembangkannya dengan contoh-contoh yang familier dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja, dosen dan guru yang baik adalah yang menguasai keduanya.

Para psikolog mengatakan, usia pelajar itu disebut formative years. Masa pembentukan pribadi. Kalau pada usia mereka menemukan lingkungan dan guru yang bagus, yang memiliki empat kriteria di atas, umumnya ketika masuk kuliah mereka akan meraih prestasi yang bagus.

Berdasarkan pengamatan saya di lingkungan Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, mahasiswa dan alumni yang prestasinya menonjol dan berhasil menempuh program doktor di universitas ternama di dunia umumnya mereka datang dari lingkungan pendidikan yang bagus. Bahkan banyak di antara mereka yang berasal dari dunia pesantren atau mirip boarding school.

Di pesantren tumbuh budaya cinta ilmu dan hidup sederhana dalam suasana persaudaraan. Tak dikenal berantem antarsiswa. Ada suatu prinsip, attitude above knowledge.

Para siswa begitu hormat dan santun kepada guru. Nilai dan tradisi ini justru sangat kuat berakar dalam masyarakat Jepang. Sementara kultur semacam ini saat ini semakin menurun di lingkungan sekolah kita pada umumnya.

Dengan munculnya media sosial (medsos), anak-anak dan masyarakat memiliki hobi baru, yaitu berkomunikasi lewat Twitter atau WhatsApp. Lewat medsos, berbagai macam informasi mudah didapat. Mereka terlibat diskusi dan perdebatan lewat medsos tanpa kedalaman, yang menonjol justru sikap like or dislike, bukannya right or wrong.

Di sana juga ada nilai dan tradisi yang hilang, yaitu sopan santun, layaknya dialog guru-murid, dalam perjumpaan tatap muka. Makanya jangan heran, isi dan komunikasi di medsos sering kali penuh caci maki. Tak ada jenjang tua dan muda. Semuanya merasa sama dan bebas menulis apa saja.

Di lingkungan sekolah, terlebih lagi dengan sistem boarding, mesti ditumbuhkan budaya sekolah (school culture) yang membiasakan diri menghormati keunikan pribadi masing-masing. Setiap anak adalah istimewa, maka biasakan menghargai perbedaan dengan tetap berpegang pada nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan universal.

Semua itu sulit diwujudkan kalau tak ada jalinan cinta kasih antara guru-murid, antarsesama murid, dan antarsemua komunitas sekolah. Mengajar tanpa cinta tak akan membekas dalam sanubari anak didik.

Allah pun mengutus para rasul-Nya karena cinta kepada makhluknya. Sekalipun seorang guru menguasai materi dan metode yang hendak diajarkan, jika masuk kelas tanpa hati, bekasnya tak akan mendalam.

Bila guru melibatkan hati dalam mengajar, murid juga akan melibatkan hati dalam menerimanya. Guru yang baik tidak sekadar terpaku untuk transfer pengetahuan, tapi yang menebarkan cinta kasih dan menginspirasi anak didiknya. []

KORAN SINDO, 28 Juli 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah