The Fallen Creature

Oleh: Komaruddin Hidayat

ADA pandangan teologis bahwa manusia itu bagaikan makhluk yang terjatuh (the fallen creature). Terusir dan terlempar dari alam surgawi karena menentang titah Ilahi sehingga manusia mesti menebusnya dengan hidup sengsara di muka bumi.

Kehidupan duniawi adalah sebuah rangkaian pencarian dan pendakian jalan pulang kembali ke alam surgawi yang penuh derita. Kelahirannya diawali dengan jeritan tangis, ujungnya adalah kekalahan ketika dihadapkan pada misteri kematian yang menakutkan. Di tengahnya adalah sebuah ketidaktahuan dan ketidakpastian.

Hatinya selalu dihinggapi perasaan harap-harap cemas. Berharap semoga menemukan cahaya terang dan jalan kemudahan untuk bisa kembali ke alam surgawi, tapi juga selalu cemas karena setiap langkahnya mengandung spekulasi tidak memberi jaminan kepastian. Trial and error.

Dalam pandangan teologis ini, kalau saja bukan karena kasih dan maaf dari Tuhan, maka hidup ini tak lebih sebagai rangkaian penderitaan yang sekali-sekali diselingi senyum kegembiraan. Kalau bukan kasih dan ampunan Tuhan yang kemudian mengutus rasul-Nya sebagai guru dan penggembala agung, maka manusia akan melihat dunia sebagai titik alpa dan omega.

Titik awal dan akhir yang dihubungkan dengan tali usia sangat pendek untuk ukuran individual. Kita tidak cerita apa sebelum dan sesudah kehidupan ini.

Jarak antara lahir dan mati bagaikan jarak tempuh dalam sebuah rumah singgah, masuk pintu depan, istirahat dan bermain sebentar di ruang tengah, lalu keluar pintu belakang. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika kaum atheis yang berpandangan pesimis mengatakan, hidup itu bermula dari kejatuhan dan berakhir pada kekalahan.

Namun, bersyukurlah bagi orang beriman, Tuhan maha pengasih dan pemaaf. Kehadiran manusia diyakininya bukan sebuah kutukan, melainkan sebuah ziarah untuk memakmurkan bumi dan menikmati indahnya ciptaan Tuhan.

Sebuah ziarah sambung menyambung lintas generasi dengan mandat yang amat mulia. Khalifah Allah di muka bumi. Manusia sebagai mandataris Tuhan mengingat kualitas dan posisinya paling unggul di tengah seluruh makhluk-Nya.

Meski posisinya sangat mulia, manusia tetaplah manusia. Sebagaimana kita sadari dan alami, hidup ini tak pernah terbebas dari dosa dan kesalahan. Bahkan, tak ada hari tanpa berbuat kesalahan.

Hanya saja ada kesalahan dengan akibat yang kecil, ada yang besar, dan fatal. Kesalahan atau kelengahan orang mengendarai sepeda, risiko dan akibat yang ditimbulkan jauh berbeda jika kesalahan serupa dilakukan seorang pilot. Kesalahan membuat keputusan yang dilakukan rakyat biasa, akibat yang muncul sangat jauh berbeda jika tindakan serupa dilakukan seorang presiden.

Masih dari sudut pandang teologis, salah satu asma Allah adalah pemaaf, pengampun, dan penerima taubat. Pasti Allah maha tahu bahwa manusia makhluk yang lemah, mengingat Allah sendiri yang mendesain dan menciptanya. Manusia tak pernah absen dari berbuat salah.

Bahkan, Adam sendiri terusir dari alam surgawi akibat kesalahan yang dilakukan. Karena itu, Allah selalu membuka pintu maaf dan taubat. Bayangkan, andaikan tak ada pintu maaf, maka hidup benar-benar sebuah rangkaian kutukan dan derita. Life is a terrible joke. Hidup itu guyonan yang mengerikan.

Begitu pun dalam kehidupan sehari-hari, andaikan tak ada kata maaf, maka yang terjadi adalah sebuah panggung perseteruan, baik vertikal maupun horizontal. Baik antarpribadi maupun kelompok. Baik antarpejabat dan rakyat. Muncul jarak menganga menimbulkan rasa nyeri di hati setiap tersentuh atau bertemu orang yang pernah menyakiti.

Karena itu, Tuhan selalu memuji pada orang yang suka memaafkan. Memaafkan itu sebuah sumber energi bisa mendekatkan hati yang berjauhan. Menyembuhkan luka yang tergores. Memperindah kehidupan dan membuat ringan beban hidup sehingga kita bukannya makhluk yang terlempar di bumi yang terkutuk, melainkan sebuah ziarah mesti dirayakan. []

KORAN SINDO, 21 Juli 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Politik dan Pasar Bebas

Oleh: Komaruddin Hidayat

MUNCULNYA fenomena benua maya dan melahirkan a global network society yang cair serta tanpa batas menjadi tantangan serius bagi agenda pembangunan jati diri bangsa. Logika pasar dengan kalkulasi untung-rugi secara material sangat memengaruhi para pengambil kebijakan publik, termasuk lingkungan partai politik.

Bisa jadi sekelompok orang lebih merasa perlu pada paspor dan kartu kredit ketimbang kartu tanda penduduk (KTP). Jaringan internet telah menjadi kebutuhan vital layaknya kita menghirup udara atau ikan menghajatkan air.

Menghadapi ini semua, sesungguhnya masyarakat Indonesia dikenal sangat mencintai budaya dan tanah airnya. They are very much attached to their land and families. Hal ini ditopang oleh kekayaan budaya, sumber alam, dan bahasa nasionalnya.

Menjadi persoalan dan juga agenda adalah bagaimana membangun kebanggaan berbangsa, terutama bagi generasi mudanya. Kebanggaan akan muncul jika banyak role model dan prestasi yang diakui dunia.

Bangsa ini haus prestasi yang membanggakan, tidak seimbang dengan aset yang dimiliki. Namun, lagi-lagi yang mengemuka di media sosial, wacana politik merupakan isu paling dominan tapi tidak produktif, sementara biayanya tinggi.

Dunia politik telah terseret oleh arus pasar bebas, kepanjangan dari iklim kapitalisme global, seiring dengan sistem demokrasi liberal yang menjadi rujukan kehidupan perpolitikan Indonesia. Layaknya dalam pasar bebas maka terjadi kompetisi sengit antara kualitas produk yang dilempar ke tengah masyarakat sebagai calon pembelinya.

Tak terelakkan kadang terjadi kanibalisme politik seperti “handphone makan handphone” semata karena berbeda merek, berbeda pabrik, dan berbeda pemodalnya. Kompetisi bisa semakin mengeras setiap menjelang pilkada dan pemilu, meskipun banyak di antara mereka itu mengaku agamanya sama. Bahkan, elemen agama telah diseret ke dalam arus kompetisi sehingga menciptakan segregasi sosial yang dipicu oleh pilihan politik dan sentimen keagamaan.

Sebagaimana yang terjadi dalam pasar bebas, iklan pencitraan produk perannya dianggap sangat vital dan strategis. Maka, para politisi dan parpol ramai-ramai memasang iklan untuk membangun citra diri agar daya jualnya tinggi.

Tak mengherankan bila bermunculan profesi baru yang disebut konsultan politik dan survei politik untuk menjajaki selera pasar. Lebih dari sekadar menjajaki harga jual, para konsultan ini juga merekayasa dan memberi rekomendasi bagaimana seorang calon yang mau berlaga mesti bersikap dan berbicara di depan publik.

Lembaga konsultan ini ada yang serius, profesional, betul-betul ikut memikirkan kemajuan rakyat dan negara. Mereka ingin partisipasi membangun demokrasi yang rasional. Konsultan model begini yang mesti diapresiasi mengingat kalangan parpol kalau tidak dibantu konsultan ahli yang profesional hanya akan menambah daftar panjang kebangkrutan parpol.

Tetapi ada juga konsultan abal-abal yang tujuan utama dan pertama hanya cari uang, serta tidak segan-segan memanipulasi data. Pendeknya yang penting jagonya menang, sekalipun dengan cara curang dan ikut melakukan provokasi membangkitkan emosi massa.

Dalam masyarakat yang sedemikian majemuk, sikap toleran, empati, dan koperatif sangat diperlukan demi kepentingan yang jauh lebih besar, menjaga keharmonisan berbangsa dan menyejahterakan rakyat. Ibarat atlet pelari maraton, politisi itu mesti bernapas panjang.

Berpikir lintas generasi demi kemajuan bangsa, bukan pelari jarak pendek yang hanya mengejar kemenangan pilkada, pemilu atau lolos jadi anggota DPR atau DPRD. Tetapi berapa banyak mereka yang tidak berprestasi, bahkan banyak yang kemudian masuk penjara akibat korupsi.

Andaikan toh politik telah menjelma menjadi semacam industri, masih dapat ditoleransi selama proses dan produk serta jasa yang dihasilkan mendatangkan kemajuan dan kesejahteraan rakyat. Tetapi sejauh ini politik lebih sibuk dengan dirinya sendiri, menyedot APBN, tapi produk yang dihasilkan sangat mengecewakan. Mungkin ada benarnya kritik yang mengatakan bahwa pasar bebas yang menggusur tradisi gotong royong dan musyawarah mufakat perlu ditinjau kembali. []

KORAN SINDO, 14 Juli 2017
Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Memaknai Hari Lebaran

Oleh: Komaruddin Hidayat

KATA Idul Fitri mengandung dua makna. Pertama, kembali pada fitrah kesucian seseorang setelah sebulan berpuasa. Ini sesungguhnya lebih tepat dipahami sebagai sebuah doa. Semoga dosa-dosa diampuni dan dengan puasa memperoleh kekuatan serta komitmen baru untuk senantiasa menjaga kefitrian kita.

Kedua, kembali pada kebiasaan sebelumnya, yaitu pagi-pagi kita makan dan minum. Makanya Idul Fitri merupakan perayaan dan tasyakuran rohani dan jasmani sekaligus. Pada hari itu Allah melarang seorang mukmin berpuasa.

Dalam masyarakat Jawa khususnya, Idul Fitri dikenal dengan sebutan Lebaran. Lebar artinya rampung, usai; yaitu berhasil merampungkan perintah puasa.

Terdapat beberapa kata dan istilah yang serumpun dengan kata lebar (usai), yang memiliki spirit dan pengayaan arti dari Idul Fitri, yaitu luber. Maksudnya, perayaan Idul Fitri ditandai dengan jiwa luber, melimpah, yang diwujudkan dengan pelunasan zakat fitrah dan sedekah untuk menyempurnakan ibadah Ramadan.

Ketika kita berkunjung ke rumah tetangga, saudara atau teman, berbagai hidangan sudah tersedia. Kenangan waktu kecil dulu, ruang tamu seakan disulap jadi warung, menyediakan berbagai makanan yang tentu saja gratis.

Kata lain yang serumpun adalah lebur. Idul Fitri merupakan momentum seseorang untuk melebur ke dalam jaringan sosial yang penuh semangat perdamaian dan egaliter. Kita saling memaafkan dan menghargai sesama manusia yang pada dasarnya adalah baik.

Sikap lebur hanya dimungkinkan jika kita memiliki pandangan positif serta respek pada yang lain. Untuk ini diperlukan jiwa yang lebar atau luas.

Ini terlihat dan terasakan, ketika Idul Fitri tiba, jiwa kita menjadi lebar, lapang, karena sekat-sekat yang membatasi persaudaraan telah kita robohkan. Kita saling memaafkan dan mendoakan.

Dalam bahasa Sunda juga dikenal kata lubar, yang artinya lapang. Kalau semua itu kita wujudkan dengan sungguh-sungguh maka muncul istilah labur. Dalam masyarakat Jawa, labur berarti membuat pagar dan tembok menjadi putih kembali. Begitulah semangat Idul Fitri, semoga kita berhasil membuat hati, pikiran dan perilaku menjadi putih kembali.

Uraian singkat di atas sedikitnya menjelaskan sebuah realitas sosial keagamaan, bahwa Islam di Nusantara ini telah berbaur dengan tradisi lokal, keduanya saling mengisi dan memperkaya. Tentu saja sumber agama datang dari wahyu ilahi, sedangkan budaya adalah kreasi manusia.

Tetapi hubungan agama dan budaya, bagaikan hubungan ruh dan tubuh. Tanpa budaya maka pesan wahyu sulit dipahami dan diterapkan dalam sebuah masyarakat, atau ibarat pesawat tidak punya landasan untuk mendarat.

Bahkan, halalbihalal dan mudik Lebaran yang sedemikian kolosal saat ini menjadi acara khas Indonesia. Sebuah inovasi dan kreasi budaya keagamaan yang sangat jenius dan berhasil, bahkan telah menjadi bagian dari agenda negara.

Lebaran sepenuhnya agenda masyarakat tanpa minta APBN. Namun, pemerintah membantu memfasilitasi terhadap warga negaranya. Adapun ritual salat Id dan khotbahnya seragam di seluruh dunia. Namun, ekspresi kulturalnya berbeda-beda. Ini sebuah bidah budaya (cultural innovation) yang mesti kita apresiasi dan lestarikan.

Makanya kalau ada kelompok ekstremis yang menempatkan negara RI sebagai musuh agama, pemikiran itu jelas salah. Ajaran agama apa yang dilarang di Indonesia?

Agenda yang mendesak itu bagaimana memberantas korupsi, meningkatkan kualitas pendidikan, menciptakan lapangan kerja, dan bersama-sama menjaga kedamaian. Bukan gerakan merobohkan Indonesia, lalu diganti dengan ideologi lain yang tak punya akar historis-politis di Indonesia. Itu hanya akan menciptakan segregasi dan perseteruan sosial yang sia-sia, bahkan menyengsarakan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kebaikan apa yang mau ditiru dan diimpor dari krisis Suriah yang dimotori oleh ISIS? Yang ada hanyalah sebuah kehancuran dan kesengsaraan rakyat dan tercorengnya martabat Islam.

Sebagai pesan penutup, dengan datangnya Idul Fitri, yang berakhir itu puasa makan dan minum di siang hari. Adapun pesan puasa hati, pikiran, dan tindakan justru akan diuji setelah Idul Fitri, apakah kita berhasil menjalani training Ramadan ataukah gagal. []

KORAN SINDO, 23 Juni 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Komunalisasi Ruang Publik

Oleh: Komaruddin Hidayat

Menurut cita rasa bahasa, kata ‘Indonesia’ merujuk pada letak dan kondisi geografis, yaitu sederet pulau di lautan India, bukan menunjuk sebuah entitas bangsa. Pernyataan ini lebih mudah dipahami dengan membuat perbandingan, misalnya Turki, nama bangsa dan negaranya adalah identik. Atau bangsa dan negara Korea, keduanya juga identik. Sementara kata Indonesia jika dimaksudkan sebagai sebuah bangsa, yang namanya bangsa Indonesia masih dalam proses menjadi Indonesia atau mengindonesia. Sebuah cita-cita politik yang memerlukan perjalanan panjang dan berliku.

Melihat geneologi bangsa dan negara Indonesia, Indonesia merupakan proyek politik dari warga masyarakat serta pemimpin daerah yang tinggal dan tersebar di Nusantara ini untuk meraih kemerdekaan dari cengkeraman penjajah. Indonesia merupakan rumah besar yang elemen-elemen bangunan dan kamar-kamarnya terdiri dari sekian ragam etnis, budaya dan agama yang sepakat tegak berdiri saling bergandeng tangan, saling menjaga dan memperkokoh yang lain.

Hidup berdaulat, merdeka dan sejahtera merupakan cita-cita dan tekad utama yang mendasari berdirinya Republik Indonesia. Oleh karena itu, moto Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar menggambarkan pluralitas suku, bahasa, dan agama penduduk Nusantara, tetapi sebuah janji dan komitmen politik yang harus dipenuhi oleh pemerintah dan negara untuk melindungi serta memupuk pohon kebinekaan itu.

Wilayah yang diperebutkan

Moto Bhinneka Tunggal Ika dan kesepakatan Pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara juga merupakan bukti sejarah dan janji politik agar Indonesia tak dikuasai dan dimiliki ideologi primordial, komunal, dan kesukuan karena jika hal itu terjadi pasti Indonesia akan gaduh, kehilangan ruh dan mengingkari jati dirinya dengan ongkos sosial, ekonomi, dan politik teramat mahal.

Langkah paling logis dan strategis adalah memenuhi janji untuk menjaga keutuhan berbangsa serta menyejahterakan warganya secara merata karena merekalah pemilik sejati Tanah Air Indonesia. Pemerintah dan negara mesti menindak tegas serta menghalau terhadap predator dengan berbagai macam bentuk, rupa, kostum, dan modus yang merampas hak-hak rakyat serta mau menggergaji tiang negara.

Sejak dulu wilayah Nusantara ini memang selalu menjadi daerah yang diperebutkan (contested zone) oleh kekuatan asing. Kekuatan asing mana yang tidak tertarik untuk datang dan menguasai wilayah yang indah, makmur dengan sumber alamnya kaya raya ini?

Oleh karena itu, konsep Indonesia asli itu tidak mudah dicarikan akar tunggangnya secara otentik. Bahkan, agama-agama besar yang diakui oleh negara pun semuanya agama pendatang. Meminjam bahasa bisnis, semuanya adalah agama impor. Kalaupun ada agama asli Indonesia, barangkali berupa kepercayaan dan tradisi lokal yang masih bertahan di sejumlah daerah yang posisinya pun semakin tergusur. Akan tetapi, memang demikianlah yang terjadi, di tingkat global pun migrasi penduduk lintas bangsa, agama, dan negara semakin intens.

Hal ini bisa memperkaya peradaban sebuah bangsa, tetapi bisa juga malah menimbulkan persoalan baru, seperti ekses eksodus kurban peperangan di Timur Tengah yang mencari suaka ke Eropa. Sejumlah pelaku teroris diidentifikasi sebagai warga imigran.

Bangsa-bangsa yang dulu dikenal sebagai kapitalis, imperialis dan agresor nalurinya tidak akan pernah mati. Yang berubah adalah modusnya. Namun, mereka dihadapkan kenyataan sosial baru bahwa sekarang ini tak akan bisa sebuah bangsa dan negara untuk maju dan kaya sendiri. Dalam diplomasi luar negeri, kata kemandirian telah diubah menjadi kemitraan. Ketika ilmu pengetahuan, teknologi dan demokrasi semakin mendunia, semua bangsa dipaksa untuk saling kerja sama dan menghargai hak-hak bangsa lain. Naluri imperialisme mesti berdamai dengan rasionalitas urgensi kerja sama antarbangsa. Kita hidup dalam global network society.

Urgensi kerja sama dan nafsu kompetisi ini mengingatkan kita pada teori Darwinisme sosial, survival of the fittest. Hanya mereka yang kuat dan fit memasuki lingkungan baru yang bisa bertahan dan berkembang. Kalau ada negara yang kaya sumber alamnya, tetapi tidak memperoleh perlindungan kuat, pasti akan jadi mangsa negara kuat yang agresif.

Ini sudah dan masih berlangsung di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Sampai-sampai muncul istilah a natural curse. Kekayaan sumber daya alam yang tidak memperoleh perlindungan dan pemanfaatan yang benar, akan berbalik menjadi sumber malapetaka. Alam mengutuk balik penghuninya. Lihat saja apa yang terjadi di Irak, Libya, Suriah, dan beberapa daerah di Indonesia.

Yang menyedihkan adalah ketika terjadi persekongkolan kekuatan asing dan oknum-oknum dalam negeri sebagai komprador. Lebih menyedihkan lagi ketika oknum dalam negeri itu menggunakan instrumen negara untuk merusak dan merampok kekayaan rakyat dan negaranya sendiri.

Politik komunalisme

Perkembangan dan perubahan politik yang berlangsung sedemikian cepat, ditambah lagi pengguna media sosial (medsos) yang terus bertambah membuat masyarakat mengalami gegar ledakan informasi, bingung, tidak bisa membedakan antara berita sampah, hoaks, dan yang konstruktif-edukatif. Lewat medsos siapa pun punya peluang yang sama untuk menulis menyampaikan aspirasi dan opininya terhadap berbagai berita dan peristiwa yang terjadi.

Sedemikian penuh dan hiruk pikuk informasi dan opini di medsos sehingga komunitas netizen cenderung berpikir fragmentaris dan eklektik tanpa kedalaman. Bahasa medsos pun cenderung subyektif, like or dislike, bukannya salah atau benar berdasarkan kajian dan perenungan mendalam.

Suasana gamang dan insecure, mendorong seseorang untuk membangun afiliasi emosional dan imajiner dengan mereka yang memiliki gelombang emosi yang sama. Afiliasi emosional ini akan menjadi semakin kental ketika disatukan oleh kesamaan kepentingan dan identitas keagamaan sehingga pada urutannya menimbulkan crowd mentality. Mental kerumunan. Ketika tampil figur yang bisa menjadi lokomotif, komunitas netizen yang bermental kerumunan ini bisa muncul sebagai kekuatan riil meskipun hanya sesaat karena bukan himpunan massa yang organik.

Dalam sebuah pesta demokrasi, mental kerumunan ini mudah dikapitalisasi dan direkayasa untuk sebuah tujuan politik jangka pendek. Kehadiran medsos dan sosok pemimpin massa sangat instrumental untuk menjaring dan menggalang emosi yang sama dalam menentukan sikap politik massa, meskipun di situ tidak jarang terjadi proses manipulasi dan pembodohan.

Bahkan, organisasi semacam Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS) pun sangat sadar dan piawai melakukan propaganda sampai cuci otak (brain washed) melalui medsos. Anak-anak muda yang tidak beruntung secara ekonomi dan dangkal wawasan pengetahuan agamanya menjadi sasaran empuk propaganda gerakan NIIS dan gerakan radikal sejenisnya.

Dalam konteks Indonesia yang penduduknya sangat beragam dan dari sisi pendidikan serta ekonomi masih banyak yang kurang beruntung, mereka mudah tertarik jika ada tawaran insentif berjihad mencari kemuliaan di jalan Tuhan dan janji-janji perbaikan nasib. Di antara janji-janji yang ditawarkan itu adalah mengganti ideologi dan sistem kenegaraan yang menerapkan demokrasi lalu diganti sistem kekhalifahan. Pancasila dan demokrasi itu pemerintahan taghut, berhala, kafir, mesti diganti. Atau setidaknya diterapkan sistem syariah, tetapi syariahmenurut pemahaman mereka.

Tema-tema itu pantas diragukan, jangan-jangan hanya jargon kosong dan pemikiran utopia karena yang sesungguhnya terjadi adalah perebutan kekuasaan dan sumber daya ekonomi di kalangan elite yang kemudian mengkapitalisasi sentimen komunalisme etnis dan agama. Menjadi semakin complicated ketika kekuatan asing ikut bermain memperburuk suasana dengan melatih para aktivis radikal dan menyuplai kebutuhan finansialnya.

Jika asumsi dan dugaan di atas benar, kita mesti bersiap-siap mental mendekati Pemilu 2019 ini Indonesia akan semakin gaduh. Ekspresi keagamaan yang garang yang akan lebih mengemuka, dan bukannya keberagamaan yang sejuk dan mencerahkan untuk bersama-sama memajukan dan menyejahterakan rakyat Indonesia. []

KOMPAS, 19 Juni 2017
Komaruddin Hidayat ; Dosen pada Fakultas Psikologi UIN Jakarta

Nuzulul Quran

Oleh: Komaruddin Hidayat

SETIAP bulan Ramadan kita menyaksikan dan mungkin juga mengikuti acara peringatan Nuzulul Quran, yakni berkaitan awal mula diturunkannya Alquran yang selanjutnya diwahyukan secara berangsur kepada Nabi Muhammad selama 23 tahun. Ada beberapa pendekatan terhadap peringatan Nuzulul Quran.

Pertama, peringatan peristiwa sejarah awal mula diturunkan wahyu Alquran pada bulan Ramadhan. Tentu saja waktu itu belum ada komunitas muslim yang ramai-ramai berpuasa Ramadan. Perintah puasa dan salat pun belum turun.

Kedua, dan ini lebih penting dampaknya, yaitu doa dan harapan agar Alquran itu juga turun (nuzul) pada setiap muslim-mukmin, bukan hanya kepada diri Rasulullah. Dengan berpuasa dan menjalankan ritual secara sungguh-sungguh, semoga hati dan pikiran menjadi suci. Sehingga ayat-ayat suci yang berisi petunjuk kehidupan turun dan masuk pada bumi orang mukmin, yaitu hati dan pikirannya. Muaranya hidupnya selalu dijiwai dan dibimbing Alquran.

Suatu hari seorang sahabat bertanya pada Aisyah, istri Rasulullah: Bisakah aku diberi penjelasan singkat yang bisa aku jadikan pedoman hidup, apakah akhlak Rasulullah yang demikian agung dan mulia perilakunya? Jawab Aisyah: Akhlaquhul-quran. Akhlaknya adalah Alquran. Demikianlah, Alquran telah nuzul dan mempribadi pada diri Rasulullah.

Alquran telah jadi spirit dan pedoman hidupnya. Tentu saja banyak tema pokok Alquran yang bisa dibahas panjang lebar. Di antaranya disebutkan dalam Surat Alqalam ayat 4: Hai Muhammad, sungguh engkau memiliki akhlak yang mulia.

Tema paling pokok dalam Alquran adalah keimanan pada Allah dari hari kebangkitan. Aspek ini berakar pada keyakinan. Kita tidak bisa mengukur keyakinan seseorang. Namun aspek fundamental lain ajaran Alquran antara dua keimanan itu adalah beramal saleh dan berakhlak mulia, di mana aspek ini bisa diamati, diukur dan dirasakan oang-orang di sekitarnya.

Jadi, jika Alquran telah nuzul pada seseorang, salah satu buah dan indikasinya adalah berakhlak mulia. Akhlak mulia selalu menebarkan sifat ilahi, terutama selalu mengajak kebenaran dan kebaikan dengan penuh kasih sayang, sehingga Allah pun mengajarkan agar setiap memulai pekerjaan mesti dimulai dengan: Bismillahirahmanirrahim. Semoga semua aktivitas kita senantiasa mengambil bagian bagi penebaran kasih dan rahmat bagi sesama.

Ketika selesai melakukan pekerjaan, kita tutup dengan Alhamdulillah. Bahwa segala pujian itu hanya milik Allah. Artinya, kita jangan membanggakan diri dan jangan minta dipuji setelah menyelesaikan sebuah tugas. Ketika memulai memohon bimbingan dan rahmat dari Allah, setelah selesai bersyukur pada Allah.

Istilah Alquran turun ke bumi, bukan bumi yang kita injak karena bumi pasti tidak akan mampu dan tidak memahami Alquran. Tetapi bumi manusia, yaitu hati dan pikiran yang mengarahkan perilaku manusia.

Inilah yang terlihat dalam sejarah, masyarakat Arab pra-Islam yang dikenal jahiliyah setelah mengenal Alquran berubah sangat drastis. Yang tadinya selalu membanggakan sukunya dan gemar berperang antarsuku, lalu berubah menjadi masyarakat yang senang bersujud pada Allah. Mereka berlomba beramal kebajikan. Tak ada yang pantas dikejar-kejar kecuali menjaga iman dan memperbanyak amal saleh.

Dengan kehadiran Alquran dan kepemimpinan Muhammad Rasulullah, padang pasir Arab yang tandus berubah menjadi pusat ilmu dan peradaban. Inilah salah satu makna dan bukti nuzulul-quran yang telah mengubah sejarah.

Tetapi sangat disayangkan, masyarakat Arab yang menjadi tempat penyemaian Islam dan menjadi sumber peradaban, hari-hari ini dikenal sebagai bangsa dan masyarakat yang penuh dengan konflik dan peperangan, mengingatkan kita pada situasi zaman pra-Islam, sebelum Alquran turun. []

KORAN SINDO, 16 Juni 2017

Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Beragama dengan Marah

Oleh: Komaruddin Hidayat

KATA marah dan ramah itu jumlah dan bunyi hurufnya sama, tapi beda letak posisinya sehingga konotasinya juga sangat beda. Bahkan, bertolak belakang. Kemarahan itu tidak saja muncul dalam relasi sosial sehari-hari dalam urusan yang profan, melainkan dalam beragama kadang kala seseorang memunculkan kemarahan.

Saya kira itu bisa dibenarkan, atau bahkan mungkin diperlukan, ketika dilakukan dalam waktu, tempat, dan peristiwa yang tepat. Terhadap mereka yang terang-terangan dan gamblang menghina dan menodai agama, wajar kalau ada ulama yang mengaku sebagai penjaga martabat agama marah.

Tetapi ketika kemarahan tidak dilandasi dasar yang kuat dan hati yang ikhlas, maka kemarahan hanya akan merugikan dirinya karena ketika seorang marah, ada kecenderungan nalar sehatnya menurun.

Marah yang baik adalah marah yang terkontrol dan memiliki nilai edukatif, baik bagi orang yang marah dan yang dimarahi maupun bagi kebaikan publik. Dalam bahasa teologi dan kitab suci, kadang Tuhan juga digambarkan memiliki sifat marah.

Namun begitu, sifat kasih sayang-Nya jauh melebihi sifat marahnya. Kemarahan Tuhan lebur ke dalam sifat kasih-Nya. Karenanya, Tuhan mengajarkan agar setiap mengawali pekerjaan apa pun hendaknya dimulai dengan mengingat dan menyebut asma Tuhan yang Mahakasih agar sejak dari niat, tujuan, dan caranya dibimbing dan dirahmati oleh Allah.

Adapun yang kadang mengusik hati dan menimbulkan tanda tanya adalah ketika ekspresi keberagamaan disampaikan dengan marah, dengan menggunakan simbol dan istilah-istilah agama, namun konteksnya kurang tepat. Misalnya melakukan penyerangan dengan cara meledakkan bom bunuh diri, sementara sasaran dan korbannya belum tentu bersalah. Bahkan, sangat mungkin satu bangsa dan satu agama.

Mereka itu marah dengan melibatkan simbol dan jargon agama. Padahal, kemarahan itu mungkin saja akibat dirinya terpinggirkan dari dinamika politik dan ekonomi, merasa dirinya terancam dan jadi korban, namun sasaran kemarahannya sesungguhnya tidak jelas. Yang jadi korban pun mungkin nasibnya secara politik dan ekonomi tak beda jauh dari dirinya.

Ada lagi ekspresi kemarahan dalam bentuk verbal, yaitu ungkapan yang penuh kebencian dan cacian dengan disertai istilah-istilah keagamaan, menilai orang yang tidak sepaham dengan kata kafir, munafik, lemah iman, dan sejenisnya. Mereka seakan memiliki hak monopoli untuk menafsirkan dan menentukan kebenaran agama.

Padahal, kalau niatnya ingin berdakwah dan berbagi ajaran agama yang begitu baik dan mulia, maka caranya pun harus baik dan mulia. Dalam kaitan ini, saya salut kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengeluarkan fatwa mengharamkan ujaran fitnah, kebohongan, dan adu domba dalam media sosial (medsos).

Dampak negatifnya cukup parah bagi masyarakat. Sama halnya kita menyebar racun kepada masyarakat sehingga layak diharamkan dan pelakunya, siapa pun, melakukan mesti diingatkan atau diberi sanksi.

Marah yang muncul karena dorongan nafsu like or dislike, tanpa alasan yang benar, hanya akan menimbulkan lawan atau setidaknya membuat persahabatan renggang, bahkan putus. Ujungnya merugikan diri sendiri. Terlebih jika kemarahan urusan politik yang berangkat dari kepentingan pribadi atau kelompok, lalu meminjam dan memanipulasi jargon-jargon agama, ujungnya akan menodai citra dan martabat agama.

Seperti citra Islam yang dirusak oleh teroris. Berbagai ledakan bom di Eropa, pelakunya diidentifikasi sebagai aktivis gerakan keagamaan Islam.

Dalam Alquran memang ada isyarat-isyarat yang membolehkan marah dan maju perang. Tapi yang dominan adalah menebar rahmat.

Bahkan, itu jadi misi Rasulullah. Menebar keramahan, bukan kemarahan. Menebar kebenaran, kebaikan, dan kedamaian. Bukan menebar terorisme dan cacian. []

KORAN SINDO, 9 Juni 2017
Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Multiperan Agama

Oleh: Komaruddin Hidayat

Di kalangan sarjana ahli, sulit dirumuskan definisi agama yang bisa diterima dan disepakati bersama. Jadi, sejak merumuskan definisi saja, para sarjana ahli sudah berselisih sehingga mudah dipahami kalau sikap masyarakat terhadap dalil-dalil agama berbeda dari penyikapan mereka terhadap formula sains yang lebih mudah diterima sekalipun beda bangsa dan agama.

Di samping persoalan definisi, juga ada beberapa kategori agama, misalnya, revealed religion dan natural religion. Agama wahyu bikinan Tuhan dan agama evolusi alam rekayasa manusia. Agama langit dan agama bumi. Ada agama rumpun Abrahamik, Yahudi, Nasrani, Islam, dan agama non-Abrahamik. Dalam literatur filsafat, ideologi semacam Marxisme pun ada juga yang memasukkan kategori religion.

Dibandingkan ideologi sekuler dan ilmu pengetahuan, agama Abrahamik memiliki distingsi tersendiri, yaitu doktrin keselamatan abadi di akhirat nanti, berupa kehidupan surgawi yang telah dijanjikan Tuhan. Bagi orang beriman, seindah dan senikmat apa pun kehidupan dunia tak akan sebanding dengan kenikmatan janji surga yang dijanjikan Tuhan. Oleh karena itu, terdapat pemeluk agama yang lebih mengharapkan kehidupan akhirat dan mengecilkan kehidupan duniawi.

Bahasa agama

Oleh pemeluknya, agama diyakini sebagai jalan keselamatan yang menghubungkan dirinya dengan Tuhan, yang di dalamnya terdapat kredo, kitab suci, pedoman ritual, konsep tempat suci, dan etika sosial kemasyarakatan. Keyakinan tentang hari akhir, pengadilan ilahi, dan balasan surga-neraka merupakan kredo yang paling fundamental dalam rumpun agama Ibrahim. Oleh karena itu, konsep dan keyakinan akan “jalan keselamatan” (salvation) menjadi inti keyakinan orang yang beriman. Apakah jalan keselamatan, dan bagaimana untuk meraihnya, masing-masing agama memiliki ajaran dan tafsiran berbeda-beda yang tak mungkin dipersatukan, sifatnya doktrinal, sangat pribadi, dan tidak bisa dipaksakan.

Pada awalnya, semua agama merupakan peristiwa dan pengalaman rohani yang bersifat sangat pribadi, kemudian berkembang ke lingkungan sosialnya. Dalam konteks Islam, misalnya, bermula dari cerita dan pengakuan pemuda Muhammad yang ditemui makhluk gaib ketika menyepi bermeditasi di Goa Hira, pinggiran kota Mekkah pada abad ke-6. Di Goa Hira ini, Muhammad menerima wahyu, yang itu diyakini dari Tuhan melalui malaikat Jibril, isinya mengajak manusia menjalani hidup yang benar dan terhormat serta hanya menyembah pada-Nya. Pada awal mulanya Muhammad pun tak tahu, siapa makhluk gaib itu. Secara historis-ilmiah sejarawan sepakat mengenai peristiwa Muhammad sering ke Goa Hira. Itu fakta historis. Namun, pengakuan Muhammad ditemui malaikat Jibril menerima wahyu Al Quran, hal itu di luar jangkauan ilmu untuk melakukan validasi dan verifikasi. Sejarawan tak bisa menemukan eviden sosok Jibril yang berbicara kepada Muhammad.

Bahwa Muhammad menerima wahyu dari Jibril itu tafsir dan respons iman, didukung argumen penalaran terhadap kebenaran kandungan isi wahyu. Contoh lain, peristiwa Muhammad hijrah ke Madinah, itu peristiwa historis, faktual. Sejarawan Muslim atau non-Muslim sepakat tentang terjadinya peristiwa hijrah. Namun, peristiwa Isra Mi’raj itu peristiwa meta-historis, sifatnya sangat pribadi, menuntut respons iman. Dalam Kristen pun banyak peristiwa serupa. Secara historis, karier hidup Yesus berakhir kalah di tiang salib. Namun, bagi iman Kristen, itu justru peristiwa kemenangan Yesus untuk mengalahkan dosa-dosa manusia sehingga Yesus disebut Juru Selamat dan Sang Penebus Dosa. Demikian juga peristiwa Paskah, itu mirip mi’raj dalam Islam, yakni peristiwa rohani yang berada dalam wilayah iman, bukan faktual-historis. Umat Kristen yakin, Yesus dibangkitkan pada hari Minggu, setelah penyaliban pada hari Jumat, lalu naik ke atas (mi’raj) menuju Tuhan.

Dari contoh di atas, dalam tradisi dan paham keagamaan memang sering kali bercampur antara narasi historis dan meta-historis, antara yang faktual dan simbolik-metaforis, sehingga ketika semuanya hanya dipahami secara verbal-literal, pasti akan kehilangan pesan dan makna terdalam. Atau, akan terjadi perbedaan dan konflik tafsir atas teks kitab suci. Padahal, salah satu aspek dan karakter kitab suci yang membuatnya abadi dan selalu hidup serta tidak habis-habis digali dan ditafsirkan adalah karena kekuatan bahasanya yang sebagian simbolik dan metaforik. Dengan demikian, perbedaan tafsir itu memang dimungkinkan dan salah satu sumbernya adalah teks kitab suci sendiri.

Dari aku ke kami

Meski bermula dari pengalaman dan keyakinan pribadi, ketika ajaran agama disebarluaskan kepada lingkungan sosial sekitarnya, muncullah komunitas yang percaya (community of believers) dan mereka yang menyangkal (community of non-believers) yang dalam bahasa Arab disebut kafir atau infidel dalam istilah Eropa. Konsekuensinya, siapa pun orang yang beriman akan disebut kafir oleh komunitas lain yang beda keyakinan agamanya. Menjadi persoalan ketika penilaian dan penyikapan iman terhadap umat yang berbeda, yang semula bersifat pribadi dan komunal, lalu bergerak keluar ke wilayah publik, bahkan berebut hegemoni ruang publik dan jaringan kekuasaan dengan mengatasnamakan agama. Ini akan dijumpai di berbagai belahan dunia.

Terbentuknya umat beriman ada yang bersifat cair dan kolosal seperti halnya, dalam konteks Islam, ketika umat Islam menunaikan ibadah haji atau melakukan istigasah. Namun, ada juga himpunan umat yang terstruktur dalam ikatan institusi, organisasi, atau bahkan parpol. Namun, yang mudah dijumpai, setiap agama akan melahirkan komune yang memiliki tempat ibadah sehingga di mana pun akan dijumpai bangunan ibadah semacam masjid atau gereja. Tempat ritual itu diyakini sebagai tempat suci di muka bumi yang menghubungkan jemaahnya dengan singgasana Tuhan di langit, tempat menyampaikan rasa syukur, ataupun mohon ampun dan petunjuk jalan keselamatan di dunia sampai akhirat.

Pengelompokan umat seiman ini di Indonesia masih kuat, salah satu faktornya karena diabadikan dalam kartu tanda penduduk. Di sini agama menjadi identitas sosial dan data kependudukan. Di tambah lagi banyaknya ormas keagamaan yang bermunculan. Identitas keagamaan ini diperkuat lagi oleh pemerintah dengan memberikan fasilitas pembinaan keagamaan yang masuk dalam anggaran belanja negara yang disalurkan melalui Kementerian Agama. Peran agama secara vertikal menghubungkan dengan Tuhan, sedangkan secara horizontal berkembang cukup kompleks, bercabang dan beranting. Ada kalanya agama menjadi motor dan pilar peradaban serta perdamaian, ada kalanya agama dinilai sebagai sumber perpecahan, bahkan motor peperangan.

Pada tahun-tahun awal pertumbuhannya, para Rasul Tuhan dengan ajaran agamanya selalu berpihak dan membela orang tertindas. Maka, para musuh Rasul Tuhan datang dari penguasa yang tiran. Agama hadir sebagai kekuatan pembebas (liberating force). Namun, ketika agama sudah berada di tangan pemenang yang memiliki kekuasaan, tak jarang terjadi pergeseran pendulum peran sosial agama, yaitu sebagai instrumen untuk mengawetkan kekuasaan, bahkan terlibat dalam penindasan. Makanya, sejarah memiliki catatan panjang seputar keterlibatan agama dalam perebutan kekuasaan serta konflik sosial. Pengalaman pahit inilah yang mendorong negara-negara Eropa memilih jalan sekuler dalam mengendalikan kekuasaan. Agama cukup menjadi urusan pribadi, sedangkan politik, ekonomi, dan peradaban dipercayakan pada penalaran dan kekuatan ilmu pengetahuan.

Institusi keagamaan di zaman modern ini mesti bersaing dengan institusi sekuler dalam melayani kebutuhan manusia dan mengatur kehidupan sosial. Seperti dunia kampus, rumah sakit, perbankan, industri, birokrasi pemerintahan dan negara yang kesemuanya merasa bisa berkembang memenuhi hajat penduduk bumi tanpa melibatkan agama. Yang tak tersaingi oleh ideologi dan institusi sekuler adalah agama menawarkan jalan keselamatan di akhirat. Sebuah tantangan bagi para pemikir dan aktivis keagamaan. []

KOMPAS, 03 Juni 2017
Komaruddin Hidayat ;
Dosen pada Fakultas Psikologi UIN Jakarta

Menimbang Efek Puasa

Oleh: Komaruddin Hidayat

DI berbagai forum diskusi keagamaan sering muncul pertanyaan, mengapa Indonesia yang warganya rajin meramaikan masjid, ibadah umrah, haji, dan puasa Ramadan, masih saja mau melakukan korupsi dan lemah dalam etika sosialnya?

Tulisan ini tidak akan memberi jawaban panjang lebar. Silakan pembaca ikut memikirkannya dan mencari jawaban yang tepat serta mencarikan jalan keluar.

Dalam ibadah puasa setidaknya terdapat tiga aspek yang saling berkaitan. Pertama, aspek puasa yang bersifat metafisis, vertikal, sepenuhnya menuntut respons iman.

Sebuah hubungan yang sangat pribadi antara seseorang dan Tuhannya. Misalnya pahala orang puasa dan keyakinan bahwa bulan puasa adalah bulan pembakaran dosa serta pengampunan, itu semua merupakan keyakinan iman.

Evidence ilmiah secara empiris tidak bisa diukur dan dibuktikan sekarang ini. Pendeknya, orang dituntut untuk meyakininya sebagai respons iman.

Kedua, dampak terhadap aspek psikologis dan fisik terhadap individu yang berpuasa. Berkat ilmu kedokteran dan psikologi, aspek ini bisa diamati dan dibuat instrumen pengukurannya, seperti apakah dampak puasa bagi kesehatan mental dan fisikal.

Bahkan berdasarkan hasil penelitian neurosains, berpuasa selama sebulan akan membantu terjadinya peremajaan sel-sel jaringan otak serta terjadi semacam detoksifikasi, sehingga kinerja otak lebih tenang dan lebih jernih berpikir. Kontribusi ilmu kedokteran untuk meneliti dampak puasa sudah banyak ditulis.

Intinya, puasa itu mendatangkan kesehatan jasmani, sebagaimana sabda Nabi: Berpuasalah niscaya kamu akan sehat. Begitu juga halnya hasil kajian ilmu psikologi, mereka yang berpuasa akan lebih bisa mengendalikan emosi dan memiliki daya juang lebih ketika menghadapi masalah.

Aspek ketiga, yaitu dampak puasa dalam konteks sosial. Ini juga mudah diamati. Perhatikan saja bagaimana suasana di kantor dan kehidupan sosial selama Ramadan.

Terjadi perubahan perilaku dan relasi sosial yang signifikan. Lebih damai, sejuk dan masyarakat lebih mampu menahan diri agar tidak menciptakan keributan yang akan merusak kesucian dan kemuliaan bulan Ramadan. Agenda demonstrasi massa pun biasanya tidak terjadi selama bulan puasa.

Kesan saya mendengarkan berbagai ceramah keagamaan, umumnya yang ditekankan adalah puasa merupakan bulan pembakaran dan pengampunan dosa. Dalam bahasa Arab, kata ramadhan memang punya konotasi pembakaran.

Tetapi jika penekanannya hanya pada aspek metafisiknya, yaitu bulan pahala dan ampunan, maka Ramadan seakan menjadi bulan penebusan dosa yang terakumulasi selama sebelas bulan sebelumnya. Nanti setelah berakhir puasa ditandai datangnya hari Lebaran. Artinya tugas berat sudah usai dilakukan, lalu masuk agenda rutin seperti sedia kala.

Di sini muncul kesan, puasa itu sebuah siklus pengulangan, bukan sebuah proses metamorfosis untuk naik kelas, ibarat ulat berproses menjadi kupu-kupu. Padahal jika dikaji rangkaian ayat tentang perintah berpuasa, juga berbagai sabda Rasulullah, maka aspek puasa mesti berlanjut pada pembentukan pribadi dan masyarakat yang tahan godaan terutama dari korupsi yang tak kunjung surut pertumbuhannya.

Salah satu kata kunci puasa adalah imsak. Kemampuan menahan diri dari rayuan kenikmatan fisik (physical pleasure) sesaat yang merusak aset kebaikan lebih besar. Pesan imsak ini berlaku universal. Kalau saja dilaksanakan dengan konsisten, dampaknya mudah diamati serta diuji.

Seseorang atau bangsa yang maju ekonominya pada umumnya memiliki ketahanan mental untuk membiasakan hidup hemat, tidak mudah tergoda menghamburkan uang untuk membeli gaya hidup glamour. Tidak senang hidup foya-foya.

Ceramah-ceramah Ramadan mestinya juga menekankan urgensi pembentukan karakter, berangkat dari kesalehan pribadi menuju kesalehan sosial, politik, dan birokrasi. Saya pernah baca sebuah buku, lupa persisnya judul dan pengarangnya, bahwa keberagamaan yang lebih menekankan ritual sebagai lembaga atau sosok penebusan dosa, akan membuat etika sosialnya lembek karena merasa berbagai salah dan dosa yang dilakukan akan mudah dihapus cukup lewat ritual.

Dosa sosial-horizontal diselesaikan dengan formula ritual-vertikal. Asumsi atau sinyalemen ini menarik direnungkan. Jangan-jangan sebagian pejabat negara yang rajin umrah, puasa, dan haji tujuan utamanya adalah untuk penebusan dosa-dosa politiknya, termasuk dosa korupsi.

Perlu ditegaskan di sini, tak ada yang salah seseorang melakukan ritual untuk minta ampun pada Tuhan. Tapi perlu juga diingat bahwa berapa banyak ayat-ayat Alquran dan sabda Nabi yang mengajarkan bahwa iman itu mesti berlanjut pada pembentukan karakter serta bertindak jujur dan adil ketika memangku amanat jabatan publik.

Makanya perlu dibuat pembedaan antara sin dan crime. Yang pertama lebih bersifat pribadi dan vertikal, yang kedua adalah kejahatan horizontal di mana sikap Islam sangat tegas dan jelas hukumannya.

Asumsi di atas mungkin juga membantu menjelaskan, mengapa banyak negara sekuler dan kafir tingkat korupsinya rendah. Karena hukumannya langsung dijatuhkan di dunia melalui lembaga pengawasan dan pengadilan yang tegas, tidak mesti menunggu di akhirat, sehingga orang lain mesti berpikir ulang kalau mau korupsi. []

KORAN SINDO, 2 Juni 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah