Islam Mazhab Medsos

Oleh: Komaruddin Hidayat

DALAM diskusi teologi Islam muncul perdebatan klasik terhadap sebuah pertanyaan, apakah manusia memiliki kebebasan memilih dan menentukan tindakannya sendiri, ataukah nasib manusia semata wayang yang digerakkan Sang Dalang yaitu Tuhan? Kedua kutub itu masing-masing memiliki rujukan teks Alquran. Lalu muncul pendapat di antara keduanya bahwa manusia memiliki kebebasan, tapi tetap dalam keterbatasan di bawah kekuasaan dan kehendak Tuhan. Ketiga mazhab teologi itu produk tafsir dan penalaran manusia atas teks Alquran yang kemudian berkembang dalam sejarah dan masing-masing memiliki pengikut. Berjilid-jilid kitab klasik membahas perdebatan itu. Menjadi masalah sosial ketika perbedaan tafsir itu berkembang menjadi ideologi yang mematikan tradisi dialog kritis dan menimbulkan perpecahan serta percekcokan sesama umat Islam.

Perbedaan tafsir yang melahirkan perbedaan mazhab itu juga terjadi dalam pemikiran hukum Islam (fikih) dan pemikiran politik. Misalnya, adakah Islam mewajibkan membentuk negara Islam, ataukah yang primer itu bergerak pada tataran kemasyarakatan? Adakah membentuk sistem demokrasi sejalan Islam, ataukah mewajibkan sistem kekhalifahan, itu semua tafsir dan produk sejarah sepeninggal Rasulullah. Karena hasil ijtihad para ulama dan sarjana Islam, maka sulit ditemukan kata sepakat mengingat tiap-tiap pemikir punya argumen serta tumbuh dalam konteks sosial berbeda.

Tantangannya berbeda, bacaan buku-bukunya berbeda, dan lingkungan sosial, politik, dan ekonominya juga berbeda. Namun, para pemikir kenegaraan memandang model kekhalifahan itu sudah berakhir. Sebatas wacana sah saja, tetapi pada tataran implementasi sangat sulit dilaksanakan. Kecuali ketika jumlah ummat Islam sedikit dan belum muncul negara bangsa.

Ustaz google

Mazhab artinya jalan yang mengantarkan pada tujuan. Dalam konteks pemikiran keagamaan, mazhab berarti sebuah metode yang dirumuskan ulama atau pemikir ahli dalam rangka membantu umat beragama untuk mendekati dan meraih pemahaman Islam yang benar dan mudah yang bersumber pada Alquran dan Sunnah Rasul.

Ibarat Alquran dan Sunnah Rasul itu mata air, maka mazhab adalah jalan menuju ke sana, untuk membantu umat mendekati ajaran agama secara benar. Ulama ahli itu merumuskan metodenya setelah mendalami isi Alquran dan hadis secara mendalam, disertai argumen yang sistematis untuk mendukung pemikirannya. Dengan demikian, orang yang setuju ataupun yang menolak bisa mengikuti argumen yang dibangun dengan jalan membaca karya-karya tulis mereka.

Mazhab itu sangat diperlukan agar orang awam yang tidak ahli agama mendapatkan bimbingan dan jalan yang mudah untuk memahami Islam. Bayangkan saja, bagi masyarakat awam, begitu membuka Alquran dan tafsirnya, pasti tidak mudah menangkap pesan Alquran yang kadang terkesan paradoksal antara statement ayat yang satu dan yang lain, misalnya mengenai kebebasan manusia. Bahkan untuk menentukan awal Ramadan saja terdapat mazhab hisab dan rukyat.
Sekarang ini muncul mazhab baru dalam memahami Islam, yaitu mazhab medsos. Sebuah jalan dan pembelajaran agama yang didapat dengan mudah, tanpa harus membaca kitab tebal-tebal serta berguru lama-lama pada kiai. Melainkan cukup memiliki handphone yang memiliki aplikasi Facebook (FB), Whatsapp (WA), Twitter, Instagram, Google, dan aplikasi lain yang berbasis internet.

Muncul sebuah jargon baru; Anda bertanya, ustaz google menjawab. Baik untuk berdakwah maupun untuk mempelajari agama, cukup lewat WA atau FB, di sana bertebaran informasi agama. Bahkan mereka sering terlibat perdebatan dengan modal pengetahuan yang diperoleh melalui copas dan forward yang beredar di medos, terutama WA. Apakah kelebihan dan kelemahan mazhab medsos? Pertama, istilah mazhab medsos sendiri pasti mengundang pro-kontra. Kedua, bagi yang serius ingin melakukan riset kepustakaan, medsos menyediakan fasilitas untuk mengakses sumber informasi keilmuan yang amat kaya, seperti e-book atau e-journal sehingga perangkat handphone bisa berfungsi sebagai mobile-library. Ratusan ribu judul buku agama yang klasik dan kontemporer tersedia semuanya.

Ketiga, bagi mereka yang tidak sempat atau malas membaca buku, medsos menyajikan sekian banyak penggalan informasi keagamaan ibarat makanan cepat saji yang siap disantap. Keempat, wacana keagamaan di medsos bersifat sangat egaliter, siapa pun bisa memberi tausiah, berbantahan, bahkan sampai pada sikap mencaci dan mengafirkan jika tidak sependapat. Pembaca tidak tahu kualifikasi dan orisinalitas pendapat keagamaan yang di-posting, apakah itu sekadar forward dan copas, hasil baca buku, atau sekadar iseng. Atau sengaja ingin menciptakan perdebatan kontroversial.

Kelima, perdebatan emosional, sampai pada taraf caci maki, mudah muncul ketika paham keagamaan dikaitkan dengan sikap dan pilihan politik serta menyangkut isu mazhab dan keyakinan di luar mainstream, misalnya Syiah dan Ahmadiyah. Peristiwa pilkada DKI yang belum lama berlalu memberikan contoh dan temuan nyata bahwa paham keagamaan dan sikap politik saling berkaitan.

Namun, yang menonjol ialah sikap emosional like or dislike, bukan perdebatan argumentatif ilmiah layaknya perdebatan dalam mazhab tradisional. Sikap emosional cenderung menolak berpikir panjang dan detail, melainkan langsung pada kesimpulan setuju atau tidak setuju. Jadi, siapa pun yang bergabung dalam komunitas mazhab medsos sebaiknya bisa mengendalikan emosinya.

Eklektik dan fragmentatif

Lontaran pemikiran dalam medsos biasanya fragmentatif karena keterbatasan ruang. Kalaupun panjang, orang enggan membacanya. Terlebih mereka yang sibuk, tidak tertarik mengikuti argumen yang njlimet, detail. Makanya mazhab medsos pemikirannya bersifat eklektik, campuran dari berbagai tulisan orang, sambung-menyambung, tidak solid, dan kadang tidak sistematis. Terserah pembaca untuk memilih, menimbang, dan memutuskan sendiri, tak ada hubungan guru-murid secara langsung. Tak ada tokoh utama yang memimpin wacana publik dalam medsos.

Bahkan, orang pun bisa memalsukan identitas aslinya. Atau namanya dibajak. Makanya, setiap netizen yang bergabung dalam pemikiran Islam mazhab medsos, dalam waktu yang sama bisa berperan sebagai guru atau murid. Jika tidak setuju, bebas keluar dari jemaah netizen atau membantahnya, sejak dengan kalimat yang cerdas, halus, sopan, sampai yang terkesan sarkastik.

Perkembangan sosial ke depan, komunitas Islam mazhab medsos diperkirakan semakin membesar terutama ketika bulan pilkada atau pemilu tiba. Lebih seru serta heboh manakala para politikus mengapitalisasi isu agama untuk mendukung salah satu paslonnya dengan menggunakan sarana medsos sebagai ajang promosi dan kampanye, apakah kampanye putih, abu-abu, atau hitam. Kita lihat saja nanti, apakah prediksi ini sahih atau meleset. Namun saya kira, dan berharap, semakin cerdas dan dewasa masyarakat, ke depan mazhab Islam medsos kualitasnya akan meningkat dan terjadi seleksi alamiah. Yang tidak bermutu tidak akan laku dalam pasar bebas. []

MEDIA INDONESIA, 31 May 2017

Komaruddin Hidayat | Yayasan Pendidikan Madania Indonesia

Agenda Ramadan

Oleh: Komaruddin Hidayat

KEHADIRAN Ramadan seakan menjungkirbalikkan agenda kehidupan. Atau lebih tepatnya memperkaya. Mungkin di antara kita ada yang menjadikan malam hari sebagai waktu istirahat total.

Namun, selama Ramadan, bagi mereka yang berpuasa, menjadi malam yang lebih hidup, penuh dengan aktivitas. Yang pasti adalah agenda salat tarawih dan sahur.

Dari obrolan dengan beberapa kawan, ada yang menjadikan Ramadan tidak saja untuk melaksanakan puasa, melainkan diisi dengan agenda lain yang terencana. Misalnya sengaja membeli buku-buku keagamaan untuk memperdalam dan memperluas wawasan spiritual dan kaidah-kaidah agama.

Jika ini secara rutin dan terencana dilakukan, Ramadan tak ubahnya bulan perkuliahan semester pendek. Andaikan aktivitas belajar ini dikonversi ke dalam sistem kredit semester (SKS), banyak di antara teman-teman mungkin sudah ekuivalen ilmunya dengan sarjana strata satu, ada yang sudah strata dua (master), atau bahkan strata tiga (doktor) dalam kajian agama.

Hasil bacaan buku itu bisa diperkaya lagi dengan mendengarkan ceramah-ceramah keagamaan. Materi ceramah selama Ramadan, yang paling terstruktur mungkin kajian Alquran yang diasuh Prof Quraish Shihab di salah satu televisi swasta.

Dengan membaca buku dan mendengarkan ceramah, kita akan memiliki perspektif komparatif tentang berbagai topik kajian serta metode dan kualitas para penceramah. Mengingat begitu banyak penceramah yang kadang isinya berbeda dengan pemahaman yang biasa kita dengar, sebaiknya kita memahami ajaran-ajaran dasar keislaman berdasarkan Alquran dan Hadis yang mutawatir, yang tidak diragukan keaslian mata rantainya bahwa itu ucapan dan tindakan Rasulullah, agar kita tidak dibuat bingung oleh berbagai perbedaan pendapat yang disampaikan penceramah. Perbedaan yang muncul itu biasanya pada tataran ranting (furu’), bukan batang atau ajaran dasar dan pokok.

Ada lagi teman yang sengaja rajin mengeluarkan zakat, infak dan sedekah selama Ramadan, dengan keyakinan bahwa perbuatan baik selama Ramadan itu dilipatgandakan pahalanya. Yang sudah rutin dan mesti dijaga adalah meningkatkan silaturahim dengan tetangga, terutama melalui salat jamaah isya dan tarawih.

Bagi mereka yang tinggal di kompleks perumahan, suasana ini memberikan penyegaran dan penguatan persahabatan. Tak kalah pentingnya adalah untuk pendidikan anak-anak agar terbiasa dan merasakan kenyamanan beribadah dan bermain di masjid.

Mungkin saja banyak anak kecil yang lebih banyak bermain ketimbang ikut salat dan mengaji. Itu semua biarkan saja, asal tidak mengganggu orang dewasa yang lagi salat. Anak-anak yang masa kecilnya akrab dengan masjid, nantinya kalau sudah besar akan meninggalkan kenangan religius dan tetap tumbuh rasa cinta pada masjid.

Yang juga terasa lain selama Ramadan adalah suasana kerja di perkantoran. Kata beberapa teman, ternyata lebih efektif dan produktif mengadakan rapat ketika dalam suasana berpuasa.

Rapatnya tidak terinterupsi dengan acara makan siang. Otak dan hati lebih jernih dan sejuk. Relasi sosial yang tercipta selama Ramadan juga lebih damai. Masing-masing pribadi emosinya terkendali.

Yang mesti diapresiasi adalah sikap teman-teman non-muslim yang selama ini memiliki rasa empati tinggi. Meskipun tidak berpuasa, mereka tidak mau makan-minum di depan teman yang lagi berpuasa.

Sebaliknya, seorang muslim yang tengah berpuasa tidak perlu pamer tentang puasanya dan minta dihargai pihak lain. Jalani saja dengan biasa, dengan penuh keikhlasan.

Makanya, tidak relevan selama Ramadan melakukan sweeping terhadap restoran yang buka. Kalau mencolok, cukup diingatkan, itu pun melalui aparat negara, jangan dilakukan oleh ormas.

Justru salah satu godaan puasa itu melihat hidangan makan-minum, dan kita kuat menahannya (imsak). Jadi, mungkin saja puasanya orang yang kerja di kota dengan sekian banyak godaan, lebih besar pahalanya dari mereka yang di kampung tanpa godaan.

Demikianlah, sekarang kembali pada diri kita masing-masing, agenda apa yang sudah kita rancang dan tetapkan memasuki Ramadan ini? Jangan lewatkan kehadiran bulan penebar rahmat, berkah dan ampunan ilahi untuk kita sambut dan isi dengan amal kebajikan sebanyak-banyaknya. []

KORAN SINDO, 26 Mei 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Menyehatkan Wacana Publik

Oleh: Komaruddin Hidayat

BELAKANGAN ini wacana publik berkembang tidak sehat. Penuh cacian dan ekspresi subjektif yang lebih mengedepankan emosi. Bukan hasil perenungan dan penalaran demi kepentingan bersama.

Sejak ditemukan teknologi informasi dan komunikasi berbasis internet, setiap orang bebas, bahkan bisa seenaknya, ikut mengisi wacana publik. Terdapat perbedaan mencolok kualitas dan arah wacana publik pada masa sebelum dan sesudah ditemukan media sosial (medsos) yang berbasis internet. Mari kita amati bersama.

Dulu yang menjadi opinion maker dan opinion leader itu para elite pemimpin, intelektual, dan tokoh-tokoh masyarakat yang terseleksi, melalui media televisi, surat kabar atau mimbar ceramah. Pidato Presiden dan jajarannya akan dijadikan rujukan masyarakat, sementara pejabat di bawahnya akan menjadi penyambung lidah kebijakan atasan.

Kemudian peran televisi dan surat kabar juga terkontrol. Oleh karenanya yang mendominasi wacana publik bukan sembarang orang. Di samping pejabat tinggi negara, hanya figur-figur yang dianggap memiliki reputasi intelektual dan berpendidikan tinggi yang pendapatnya quotable, dikutip, dan disebarkan oleh media massa.

Sekarang era itu telah berakhir, suasana batin masyarakat mengalami perubahan, khususnya mereka yang masuk komunitas netizen. Dengan handphone, seseorang bisa jadi produsen berita dan opini serta konsumen sekaligus yang dengan mudah dan murah ikut menyebarkan berita maupun gambar melalui WhatsApp, Twitter atau program lain dalam waktu yang cepat dan singkat. Arah dan semangat yang mendominasi ruang publik sangat dipengaruhi peristiwa sosial yang sedang jadi tren.

Bagi pencinta sepak bola, misalnya, ketika berlangsung Piala Dunia, topik bola menjadi tema wacana publik yang mengasyikkan. Tapi belakangan ini peristiwa politik Pilkada DKI telah melibatkan partisipasi tidak saja sebatas warga Jakarta, tetapi juga berskala nasional untuk menyampaikan sikap politiknya.

Peristiwa itu sesungguhnya mengungkapkan banyak hal, tidak semata pemilihan gubernur DKI. Di antaranya perasaan dan pikiran privat yang bersifat sangat pribadi dan subjektif lalu muncul dan mendominasi ruang publik tanpa ada kriteria, standar, dan seleksi kepantasan dari sisi isi maupun etika.

Semuanya bisa dilempar dan ditumpahkan ke ruang publik hanya melalui handphone, kapan saja, dari mana saja, dengan jumlah pengguna yang selalu berkembang. Setiap orang bisa menjadi penulis, pembaca, dan analis tanpa seleksi dan moderator.

Dari pengamatan sementara, bahasa yang tampil di medsos akhir-akhir ini mungkin pengaruh dari Pilkada DKI, lebih mengemuka ekspresi like or dislike, senang atau tidak senang ketimbang ungkapan-ungkapan “salah-benar” hasil pengamatan dan penalaran kritis-kontemplatif.

Kalau sikap politik “senang-tidak senang”, argumen lawan secanggih apa pun tidak digubris. Orang pun terbiasa berpikir pendek, bacaannya pendek-pendek berupa postingan sehingga emosinya bersumbu pendek.

Anehnya, wacana publik yang memikirkan kebangsaan di atas segregasi sosial malah tidak muncul atau tidak laku. Pemikiran kritis dan objektif dikalahkan oleh semangat dan emosi “suka dan tidak suka” terhadap kelompoknya.

Jika sentimen identitas etnis dan agama ini berkelanjutan dan melebar ke mana-mana, pada urutannya hal itu akan mengkhianati amanat para pendiri bangsa yang mencanangkan moto Bhinneka Tunggal Ika. Kohesi sosial rapuh, ikatan berbangsa pun kendur, bahkan bisa putus. Yang namanya Indonesia seperti yang dicitakan para pejuang kemerdekaan akan tinggal nama tanpa substansi.

Yang juga menarik perhatian kita, perkembangan teknologi transportasi dan informasi yang berkembang sangat cepat berpengaruh sangat dahsyat dalam kehidupan sosial, politik, dan ekonomi sehingga mayoritas rakyat tidak sanggup memahami, mengikuti, dan menyesuaikan diri.

Untuk mayoritas rakyat yang tingkat pendidikan dan ekonominya rendah, yang dirasakan adalah kebingungan, tidak paham apa yang sesungguhnya tengah terjadi. Tidak tahu siapa sesungguhnya panutan bangsa ini.

Mereka tidak tahu mana berita dan omongan yang benar dan salah, mana yang palsu (hoax) dan yang asli. Suasana batin masyarakat semakin tidak menentu lagi ketika melihat para elite politik dan agama bertengkar dan masing-masing menggunakan dalil keagamaan.

Mereka bingung meskipun agamanya sama, tetapi saling mencaci, menganggap yang lain munafik, bahkan kafir hanya karena berbeda mazhab atau beda pilihan jagonya dalam pilkada atau pemilu. Agama bukannya menyatukan, tetapi memecah. Agama bukan menenteramkan, tetapi membuat panas.

Ketika masyarakat bingung dan tidak mampu mengikuti perubahan yang sedemikian cepat, muncul crowd mentality. Mental kerumunan untuk mendapatkan rasa aman karena kehilangan kepercayaan diri dan gamang.

Mereka memilih berkumpul dengan kelompok yang memiliki identitas sama entah identitas etnis, agama, mazhab atau sekadar seragam bajunya. Salah satu yang paling efektif sebagai tempat perlindungan untuk mendapatkan comfort zone adalah identitas agama karena agama diyakini sebagai ruang sakral, kebenarannya diyakini absolut, dan berada pada pihak Tuhan, padahal konstruksi pemikiran keagamaan itu hasil pikiran manusia yang nisbi.

Keyakinan agama cenderung close ended, beda dengan penalaran ilmiah yang bersifat open ended. Tapi jika peran agama hanya sebagai tempat berlindung bagi mereka yang memiliki crowd mentality, agama akan kehilangan fungsi dan misinya sebagai motor dan pilar peradaban, pilar perdamaian, dan sumber kecerdasan. Para aktivis intelektual dan agamawan yang independen serta bijak bestari mesti aktif ikut mengisi wacana publik agar berkembang sehat, konstruktif, dan produktif. []

KORAN SINDO, 19 Mei 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Saling Mendengarkan dan Menghargai

Oleh: Komaruddin Hidayat

PERJUMPAAN lintas budaya, agama, dan bangsa sekarang ini berlangsung semakin intens, terutama di kalangan profesional kelas menengah kota. Khususnya bagi seorang pemimpin, entah pemimpin di lingkungan pemerintah atau perusahaan, sangat penting memiliki perhatian dan kemampuan memahami budaya lain serta keterampilan berkomunikasi jika seseorang ingin sukses.

Tidak saja kalangan profesional, politisi dan pejabat negara pun harus mau mendengarkan, mempelajari, dan menghargai keanekaragaman budaya Indonesia agar memahami karakter anak buahnya dan masyarakat pada umumnya.

Tanpa memahami konteks kulturalnya, kita mudah salah paham terhadap individu seseorang. Namun menilai seseorang hanya dengan mengacu pada watak komunal sebuah kelompok etnik juga bisa menyesatkan.

Seperti tulis Erin Meyer dalam The Culture Map: Speaking of cultural differences leads us to stereotype and therefore put individuals in boxes with “general traits”. Instead of talking about culture, it is important to judge people as individuals, not just products of their environment. (Erin Meyer, hal 13). Jadi keduanya sama penting untuk memahami baik keunikan individu maupun watak etnisnya karena seseorang tidak terbebas dari pengaruh lingkungan budaya yang mengasuhnya.

Namun, sebagai pribadi, setiap individu memiliki keunikan dan kebebasan untuk memilih jalan hidupnya serta bertanggung jawab atas tindakannya.

Di alam demokrasi, sebuah masyarakat yang sangat majemuk ini, orang mudah terjebak pada stereotyping dan generalisasi dengan merujuk pada persepsi terhadap etnik tertentu, mengabaikan karakter individualnya.

Dalam konteks ini, sangat penting untuk saling mengenalkan diri dan mendengarkan yang lain (the others). Demokrasi memang selalu gaduh (noisy) dan membuat masyarakat tidak bisa diam (restless).

Di Indonesia kegaduhan wacana politik itu sangat terasa sejak era Reformasi yang ditandai dengan berakhirnya Orde Baru di bawah Presiden Soeharto pada 1998. Sejak itu bermunculan partai politik dan ormas baru yang juga menandai terbukanya ruang demokrasi dan meningkatnya partisipasi rakyat untuk memilih pemimpin melalui mekanisme pemilihan kepala daerah (pilkada) dan pemilihan umum (pemilu) secara langsung untuk memilih wakil rakyat dan pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Dengan melihat kenyataan bahwa Indonesia terdiri atas beragam suku dan budaya yang telah mapan dan berakar kuat ke masa lalu, muncul pertanyaan: apakah Indonesia ini merupakan ethnic nation, nation state, ataukah civic nation? Seperti dalam konsep ethnic nation dan nation state, sebuah negara dibangun atas dasar kesamaan bahasa, suku, dan bangsa.

Contoh yang mendekati adalah Turki, baik bangsa, bahasa maupun negaranya adalah Turki. Adapun civic nation yang menjadi perekat utama adalah civic identity, sebuah cita-cita bersama memajukan warga negara yang masing-masing memiliki hak dan kewajiban politik yang sama di depan hukum serta kesamaan hak dalam mengaktualisasi diri dan dalam meraih kesejahteraan hidupnya. Yang terakhir ini, contoh yang paling mendekati adalah Amerika Serikat mengingat yang namanya bangsa Amerika tidaklah populer karena warganya mayoritas imigran.

Dengan argumen di atas sesungguhnya Indonesia masuk kategori civic nation karena yang menjadi pemersatu dan identitas Indonesia adalah kesepakatan dan cita-cita bersama untuk merdeka. Adapun nama Indonesia lebih mengacu pada letak geografis, jajaran pulau di bawah India.

Sebuah negara baru di atas kekuasaan lokal yang secara ideologis diikat oleh ideologi Pancasila. Semua kekuasaan lokal bergabung ke dalam negara Indonesia. Semua warganya berkedudukan sama di depan hukum. Identitas lokal dan primordial bersifat sekunder-komplementer posisinya, lalu bersama-sama membentuk identitas nasional.

Kita sebagai generasi penerus selayaknya menyampaikan salut dan rasa kagum akan kerelaan dan ketulusan suku bangsa untuk menjadi bagian dari bangsa. Kenaikan status itu mengubah cara berpikir mereka secara revolusioner, yang tadinya selama berabad-abad hanya berpikir sebatas sukunya, lalu berkembang memiliki kerangka berpikir kebangsaan.

Perkembangan ini tidak berarti mengabaikan pola pikir kesukubangsaan, melainkan justru memperkaya keduanya. (Nunus Supardi, Bianglala Budaya, hal 767). Namun penyemaian dan pembentukan identitas nasional ini masih dalam proses menjadi (becoming) dan tidak mungkin bisa menghilangkan loyalitas warga negara terhadap identitas primordialnya, terutama identitas keagamaan.

Jadi kesadaran sebagai warga negara (citizenship) mesti disadarkan dan dibangun terus-menerus tanpa meremehkan identitas lokalnya. Ini sebaiknya dilakukan sejak dini, terutama di lingkungan sekolah, agar terbentuk pribadi toleran, inklusif, dan menghargai mereka yang berbeda sepanjang dalam koridor hukum dan kepantasan sosial. Perbedaan itu bukan saja diterima, dipahami, dan dihargai, melainkan juga dirayakan (celebrates the differences). []

KORAN SINDO, 5 Mei 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Merawat Indonesia

Oleh: Komaruddin Hidayat

MESKI Indonesia telah meraih kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 menjadi negara yang berdaulat, lepas dari penjajahan, namun sebagai sebuah bangsa sesungguhnya masih dalam proses menjadi (becoming) Indonesia. Kesadaran sebagai warga suku masih lebih kuat dibanding sebagai warga negara (citizen).

Hal ini sangat dimaklumi karena sejak berdirinya, bangsa dan negara Indonesia ini terdiri atas beragam etnis, bahasa dan agama, penduduknya pun tersebar ke ratusan pulau. Tidak kurang dari 13.000 pulau tersebar di wilayah Nusantara, terentang dari Aceh di ujung barat sampai Papua di ujung timur, dengan jarak lebih dari 5.000 kilometer, dihuni oleh lebih dari 200 etnis yang berbeda-beda.

Sampai-sampai muncul ungkapan, terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia ini sebuah mukjizat (miracle), yaitu kenyataan historis-sosiologis di luar jangkauan nalar.

Bayangkan saja, sebuah negara kesatuan yang terdiri atas ribuan pulau, lebih dari 500 bahasa lokal, puluhan keyakinan keagamaan dan kepercayaan, ratusan tradisi, yang kesemuanya bergabung ke dalam rumah bersama yang bernama Republik Indonesia. Tak ada preseden dalam sejarah, sebuah negara kepulauan yang sedemikian besar menjadi negara kesatuan.

Ini bisa dibandingkan negara Barat, China dan India yang merupakan negara kontinental. Atau negara-negara Arab yang memiliki kesamaan agama, bahasa dan daratan, tapi terbagi menjadi lebih dari 20 negara.

Jika diibaratkan kapal, Indonesia bagaikan sebuah kapal raksasa dengan penumpangnya yang sangat beragam. Atau ibarat rumah besar dengan ratusan kamar yang dihuni oleh beragam penduduk dengan bahasa, tradisi dan agama yang berbeda-beda. Kalau keragaman dan harmoni antar-kelompok tidak terjaga, maka akan memunculkan kegaduhan yang membuat kapal oleng atau rumah tangga kacau. Jangan-jangan malah terbakar.

Dengan ungkapan lain, apa yang disebut Indonesia dan keindonesiaan itu merupakan agenda sejarah yang tak akan pernah selesai. Rakyat bersama pemerintah dituntut untuk menjaga persatuan, keutuhan, ketahanan, kemajemukan, kedaulatan yang semuanya bermuara untuk mencerdaskan dan menyejahterakan rakyat. Itulah yang menjadi tujuan mengapa suku-suku bangsa dan sekian banyak kesultanan yang ada di Nusantara ini bersatu untuk mendirikan dan menjaga NKRI, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Generasi Hibrida

Penggunaan istilah generasi hibrida diilhami oleh ilmu pertanian. Yaitu terjadinya perkawinan silang untuk melahirkan generasi baru yang lebih unggul.

Istilah serupa dikemukakan oleh Eddie Lembong, yang kemudian jadi judul buku bunga rampai, Penyerbukan Silang Antarbudaya, dalam rangka membangun manusia Indonesia (Kompas Gramedia, 2015). Sebuah kebudayaan tidak mungkin tumbuh berkembang dalam isolasi. Melainkan mesti bertemu dan berinterakasi dengan budaya lain.

Budaya-budaya besar selalu akomodatif dan apresiatif terhadap pengaruh budaya lain tanpa kehilangan karakter aslinya. Itulah yang tengah terjadi di bumi Indonesia, juga di tingkat global.

Dengan berkembangnya transportasi dan teknologi informasi, maka perjumpaan antarwarga bangsa semakin mudah dan intens. Mereka mengenalkan budaya masing-masing yang pada urutannya saling belajar dari kelebihan budaya suku dan daerah lain.

Dalam seni budaya sangat mudah diamati, betapa kaya dan beragamnya budaya daerah. Belum lagi keunikan dan keindahan alamnya.

Dalam proses penyerbukan silang antarbudaya (Cross Cultural Fertilization) peran perguruan tinggi sangat besar perannya. Khususnya universitas papan atas, mahasiswa dan dosennya datang dari berbagai propinsi dengan latar belakang budaya dan agama yang berbeda sehingga tercipta miniatur intelektual Indonesia. Di universitas ini tidak saja terjalin persahabatan sesama mahasiwa, tetapi banyak juga yang berlanjut menjadi pasangan suami-isteri yang pada urutannya melahirkan keturunan yang semakin mengindonesia.

Pergaulan lintas etnis dan professi juga dengan mudah ditemukan pada lingkungan kantor dan perusahaan, tempat bertemunya anak-anak bangsa yang berpendidikan tinggi. Semua ini mengurangi sentimen etnis secara signifikan.

Berbagai keunikan dan stereotype yang melekat pada sebuah suku yang dahulu dianggap tabu dibicarakan, takut menyinggung perasaan, sekarang ini di lingkungan kampus dan kantor bisa dijadikan bahan candaan secara rileks. Ini menunjukkan pergaulan antarsuku berlangsung semakin intens, cair dan akrab serta semakin rasional.

Anak-anak yang lahir dari kelas menengah kota sejak dekade 80-an banyak yang orang tuanya melangsungkan cross cultural married. Tren ini akan berlangsung terus, volumenya membesar, sehingga diharapkan akan melapangkan jalan bagi lahirnya generasi baru yang semakin mengindonesia, yang memiliki semangat dan sikap citizenship atau kewarnegaraan serta memperkokoh semangat nasionalisme.

Meskipun secara genetis-biologis banyak generasi baru terlahir dari hasil pernikahan lintas etnis, namun dari sisi budaya keanekaragaman itu merupakan modal sosial dan kekayaan bumi Nusantara yang mesti dilestarikan sehingga keragaman dan keunikan budaya daerah mesti dilestarikan.

Masing-masing bisa belajar dari keunikan dan keunggulan budaya lain, bahkan juga dari bangsa lain. Proses asimilasi genetik ini pada urutannya akan mengaburkan apa yang disebut pribumi asli mengingat nantinya perkawinan silang atar etnis akan semakin banyak, sekalipun seseorang berhak memilih afiliasi identitas etnis dan agama.

Menjaga Kebhinekaan

Motto Bhinneka Tunggal Ika, beraneka ragam budaya, etnis dan agama namun tetap bersatu dalam naungan rumah bangsa Indonesia. Kita satu sebagai sebuah bangsa, namun beranekaragam dalam suku dan budaya. Unity in diversity. Kesatuan dalam keragaman. Satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan nasional.

Dibanding negara-negara lain, bangsa Indonesia mencatat prestasi luar biasa dalam mengembangkan bahasa nasional, yaitu Bahasa Indonesia, yang semula merupakan bahasa ibu penduduk wilayah Melayu.

Bayangkan, warga daerah yang tinggal di Aceh sampai Papua, Manado, Kalimantan dan pedesaan di Jawa, semuanya bisa saling berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, sekalipun setiap hari mereka menggunakan bahasa lokal sebagai bahasa ibu. Mungkin sekali Indonesia satu-satunya negara di dunia yang paling berhasil mengembangkan dan menjaga bahasa nasionalnya dari sebuah masyarakat yang sedemikian besar dan majemuk jumlah suku dan ragam bahasa serta budayanya.

Dengan menguatnya bahasa dan identitas nasional, terdapat suku-suku dan budaya lokal yang pelan-pelan punah karena perkembangan bahasa dan budaya memerlukan dukungan warganya. Misalnya saja, bahasa Jawa dan Sunda masih tetap berkembang karena penduduk di dua wilayah ini sangat besar dibanding daerah lain.

Namun dari semua suku yang ada, tak lagi memiliki huruf dan tulisan daerah. Majalah dan surat kabar yang menggunakan bahasa daerah hampir punah. Bahkan bahasa nasional pun menggunakan huruf Latin. Sedangkan huruf dan bahasa Arab banyak digunakan di dunia pesantren.

Moto Bhinneka Tunggal Ika memunculkan pertanyaan: apakah yang dikehendaki dengan motto itu adalah terpeliharanya multikulturalisme, pluralisme ataukah sebuah budaya hibriba produk penyerbukan silang antarbudaya?

Paham multikulturalisme menyatakan bahwa semua budaya masing-masing diberi kebebasan untuk tumbuh berkembang sesuai dengan keunikannya. Paham ini bersinggungan dengan paham pluralisme bahwa perbedaan itu mesti dihargai sehingga memungkinkan terjadinya asimilasi dan percampuran budaya.

Ketika masuk ranah keagamaan, paham pluralisme ini sering ditolak karena menganggap masing-masing agama itu sama dan benar adanya sehingga dikhawatirkan akan mengarah pada sinkretisme agama. Namun ketika terjadi pada wilayah budaya, justru paham itu yang sejalan dengan gagasan cross cultural vertilization untuk menemukan dan mengembangkan budaya unggul yang diambil dari beragam budaya Nusantara.

Saling Mendengarkan dan Menghargai

Perjumpaan lintas budaya, agama dan bangsa sekarang ini berlangsung semakin intens, terutama di kalangan profesional kelas menengah kota. Khususnya bagi seorang pemimpin, entah pemimpin di lingkungan pemerintah atau perusahaan, sangat penting memiliki perhatian dan kemampuan memahami budaya lain serta keterampilan berkomunikasi jika seseorang ingin meraih sukses.

Tidak saja kalangan profesional, para politisi dan pejabat negara pun harus mau mendengarkan, mempelajari dan menghargai keanekaragaman budaya Indonesia agar memahami karakter anak buahnya atau rakyatnya.

Tanpa memahami konteks kultural seseorang, kita mudah salah paham terhadap individu seseorang. Namun begitu, menilai seseorang hanya dengan mengacu watak komunal sebuah kelompok etnis juga sangat mungkin kita salah membuat penilaian. Seperti diingatkan oleh Erin Meyer: Speaking of cultural differences leads us to stereotype and therefore put individuals in boxes with “general traits”. Instead of talking about culture, it is important to judge people as individuals, not just products of their environment. (The Culture of Map, hal 13).

Jadi, keduanya sama pentingnya untuk untuk menghargai baik keunikan individu maupun perbedaan kultural. Seseorang tidak terbebaskan dari pengaruh lingkungan budaya yang mengasuhnya, namun sebagai pribadi, setiap individu memiliki keunikan dan kebebasan untuk memilih jalan hidupnya serta bertanggungjawab atas tindakannya. []

KORAN SINDO, 28 April 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Terima Kasih Guruku

Oleh: Komaruddin Hidayat

DALAM berbagai pelatihan guru, saya sering kali mengajak peserta untuk mengingat dan mengenang sosok-sosok guru yang paling mengesankan dan berjasa meraih kesuksesan hidup kita hari ini. Lalu, saya minta mereka menyebut nama dan pada strata sekolah apa, serta kelas berapa.

Biasanya peserta terbagi tiga kategori. Ada yang jawabannya mengambang, tidak memiliki ingatan, dan kesan kuat terhadap guru-gurunya. Lalu ada yang bisa menyebut beberapa nama dan kenangan kuat yang masih terekam.

Ada lagi yang bisa menceritakan lebih detail, lebih banyak nama guru yang diingat dan mengapa sosok-sosok guru itu begitu terekam kuat dalam ingatan. Apakah kelebihan dan keunikan mereka sehingga pantas berterima kasih dan mendoakan mereka.

Setelah selesai berbagi cerita tentang guru, lalu saya lontarkan pertanyaan; andaikan murid-murid Anda disurvei dibagi pertanyaan, apa kesan mereka tentang Anda, apakah kira-kira jawaban mereka? Jangan-jangan tak berbekas di hati para siswa.

Jadi, sebaiknya pimpinan sekolah perlu membuat evaluasi tahunan untuk memotret respons murid terhadap guru dan sekolahnya. Ini penting dilakukan untuk peningkatan kualitas guru-guru, karena fase dan proses sekolah yang dijalani siswa dari tahun ke tahun ibarat menata batu bata bagi bangunan kepribadian seseorang yang akan berpengaruh kuat pada perjalanan hidupnya sampai tua. Jangan sampai bibit unggul siswa malah tidak berkembang karena gurunya yang salah asuh.

Saya merasa beruntung bertemu guru dan dosen yang mengukirkan kesan kuat dalam memoriku. Sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi, saya masih ingat bahkan hatiku mencatat siapa guru dan dosen yang berjasa dan punya andil membentuk diriku.

Ketika SD, dulunya namanya SR atau sekolah rakyat, saya pernah malas bersekolah. Protes pada kondisi keluarga yang tidak nyaman. Ibuku meninggal ketika umurku masuk sembilan tahun. Entah selang berapa lama, ayahku kawin lagi, dan tidak lama ibu tiriku meninggal. Lalu, ayahku kawin lagi untuk yang ketiga kali.

Saya masih ingat waktu itu populer lagu ibu tiri yang isinya cukup menyayat dan menyudutkan posisi ibu tiri. Setelah besar, saya baru sadar bahwa lagu itu provokatif, tidak mendidik.

Tetapi yang pasti, dulu saya tidak betah di rumah karena kehilangan gravitasi seorang ibu kandung yang kata tetangga sangat memanjakan saya. Ketika saya enggan sekolah, Pak Suparmin, guruku kelas tiga SD, datang ke rumah membujuk agar saya bersekolah lagi. Dia orangnya lembut, wajahnya selalu senyum, dan sabar menghadapi anak didik.

Ada lagi guru-guruku lain di SD yang semuanya baik, melakukan pendekatan pribadi pada muridnya, yaitu Bu Ambar, Pak Suparman, Pak Jumali, Bu Romlah yang kesemuanya menumbuhkan benih imajinasi dan idealisasi betapa mulianya menjadi guru. Mereka membukakan jendela dunia masa depan bagi anak-anak kampung seperti saya, bahwa dunia itu luas.

Lanskap kehidupan tidak selebar kampungku. Mungkin karena pengaruh guru-guruku itu sejak kecil saya ingin jadi guru, dan sekarang sudah melebihi target, secara administratif sebagai guru besar.

Ketika pak guru atau bu guru datang ke sekolah, anak-anak berjejer berdiri menyambut sambil mengucapkan: Selamat pagi Pak Guru/Bu Guru. Sepedanya disambut oleh siswa, lalu disandarkan di tempat parkir sepeda, tasnya dibawakan ke ruang kelas.

Terjalin hubungan batin antara guru dan murid. Pak Guru dan Bu Guru menjadi orang tua kedua. Kenangan ini mungkin saja subjektif. Namun, itu semua tak pernah hilang dari memori saya.

Bahkan, sudut-sudut sekolah pun masih ingat dan bisa saya ceritakan kembali. Ketika masuk pesantren, hubungan batin terjalin tidak saja antara kiai, guru dan murid/santri, tetapi juga dengan sesama santri karena setiap hari tinggal bersama selama 24 jam.

Kata murid dan santri lebih tepat diterjemahkan learner atau pelajar karena keduanya berkonotasi sebagai subjek yang aktif, yang mencintai ilmu, yang berpusat di pesantren. Mereka merupakan komunitas pembelajar (learning community).

Secara etimologis, pesantren adalah tempat berkumpulnya orang-orang yang berbudi luhur dan mencintai ilmu pengetahuan di bawah asuhan seorang guru, dan para murid itu disebut santri. Baik kata pesantren, santri, asrama, guru, kesemuanya itu berasal dari tradisi Hindu.

Ini juga menunjukkan bahwa di Indonesia dalam beberapa aspek terjadi kesinambungan antara tradisi Hindu dan tradisi Islam. Sebuah paham keislaman yang inklusif. yang merangkul, bukan memukul. Yang mendekatkan, bukan menjauhkan dan memisahkan. []

KORAN SINDO, 21 April 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Membenci itu Melelahkan

Oleh: Komaruddin Hidayat

WAKTU itu, sekitar tahun 95-an, ketika saya masih aktif mengajar di Yayasan Paramadina, program Pengantar Studi Islam, seorang peserta menemui saya setelah acara kuliah selesai. Seorang wanita muda menceritakan kegalauan hatinya karena diputus dan ditinggal nikah oleh pacarnya dengan wanita lain.

Sudah berlangsung tiga tahun hatinya menyimpan kesal, benci, dan dendam. Dia merasa dipermalukan mengingat keluarga dan tetangga sudah tahu dan yakin bahwa hubungan pacaran itu akan berlangsung ke pernikahan.

Wanita tadi, sebut saja Tuti, sangat sulit melupakan dan memaafkan tindakan mantan pacarnya itu. Dia ikut kursus keislaman ke Paramadina pada akhir pekan untuk menghibur hati dan mendalami agama.

Setelah panjang lebar menyampaikan problemnya, giliran saya bertanya. “Anda percaya jodoh itu tidak sepenuhnya ketentuan manusia, tetapi Tuhan pun ikut terlibat di dalamnya?” Dia menjawab, “Saya percaya. Manusia berusaha, Tuhan yang menentukan.”

Dari jawaban itu saya teruskan bahwa putus sebelum pernikahan itu mungkin cara Tuhan mengasihi dan menolong Tuti jauh lebih ringan risiko dan pengorbanannya jika putus setelah nikah. Terlebih lagi setelah punya keturunan.

Saya tekankan, “Jika hatimu tidak rida terhadap keputusan Tuhan, maka Tuhan belum akan mengirimkan gantinya untuk pasangan hidupmu. Hatimu mesti bersih, rida, dan terbuka, maka sangat mudah bagi Tuhan untuk mengirimkan seseorang yang lebih baik.”

Saya ajarkan kepada Tuti untuk dipraktikkan cara membersihkan hati dari kesal dan benci adalah, pertama, mengenali perasaannya sendiri. Kedua, setelah dikenali, perasaan negatif itu diangkat dan dibuang. Caranya? “Anda mesti mendoakan mantan pacarmu secara tulus agar hidupnya bahagia.”

Tuti terperangah dan merasa keberatan mendoakan orang yang selama itu dia benci karena telah menyakiti dan mempermalukan dirinya. Saya katakan, itu cara paling efektif menyingkirkan rasa benci di hatinya.

Kebencian sebagai energi negatif dan destruktif mesti diangkat dan dikalahkan oleh energi positif-konstruktif. “Selama kamu masih membenci takdir Tuhan, maka takdir Tuhan untuk mengirimkan pasangan untukmu akan terhalang. Saya sarankan, sehabis salat lima waktu, doakan untuk kebaikan mantan pàcarmu. Setelah tiga bulan kita ketemu lagi.”

Demikianlah, tiga bulan kemudian Tuti datang menemui saya dengan wajah ceria. Dengan senang campur malu-malu dia bercerita telah menemukan pacar baru yang lebih baik dan meyakinkan masa depannya.

Mereka berjumpa di forum pengajian di masjid sarjana sebuah perguruan tinggi papan atas Indonesia. Dia tak lagi dibebani rasa benci pada mantan pacar lamanya. Rasa benci itu dia hancurkan dengan doa positif untuknya.

Cerita serupa mungkin sekali pernah dialami oleh pembaca. Betapa letihnya orang menyimpan rasa benci. Terlebih lagi jika sampai dendam. Sementara orang yang kita benci tak lagi ingat dan memikirkan diri kita, sementara dia sudah berbahagia dengan hidupnya.

Ketika software hati dan pikiran dipenuhi memori kebencian, betapa pengap dan beratnya hidup ini dijalani dari waktu ke waktu. Karena kita bukan malaikat, sangat wajar memiliki emosi benci.

Untuk kasus-kasus tertentu, sikap benci itu mengandung nilai positif. Misalnya kita membenci kemiskinan sehingga mendorong untuk membasminya dengan cara menjadi kaya. Kita benci kebodohan lalu belajar keras agar jadi pintar. Kita membenci suasana kotor lalu kita senantiasa membiasakan hidup bersih. Dan, seterusnya.

Tetapi, kebencian yang muncul dari sikap malas dan iri terhadap orang yang dianggap sukses tak ada gunanya, malahan akan menggerogoti ketenangan hidupnya, bagaikan kanker yang diam-diam merusak daya tahan seseorang yang ujungnya lelah tak berdaya.

Bayangkan, sebuah keluarga yang tinggal di rumah mewah, tetapi penghuninya saling menyimpan benci, maka kebahagiaan tak akan mampir dan tinggal di rumah itu. Begitu pun dalam lingkup kehidupan sosial, kehidupan di tempat kerja, atau bahkan hubungan antara pemerintah dan warganya.

Jika tidak terjalin tali kasih dan saling menghargai serta saling percaya, kedamaian dan kebahagiaan hidup Anda akan selalu terganggu sekalipun Anda punya jabatan, uang, dan fasilitas mewah. []

KORAN SINDO, 7 April 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Menjinakkan Kemarahan

Oleh: Komaruddin Hidayat

SUATU hari mobil sedan yang kami naiki bersenggolan dengan truk tentara. Persisnya di Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1980-an.

Saya duduk di samping Iwan Sastrowardoyo, ayahnya Dian Sastrowardoyo, sebagai sopirnya. Terlihat dari spion sopir truk turun menghampiri mobil kami dengan gayanya sebagai militer yang waktu itu merasa sebagai warga negara kelas satu di Indonesia. Iwan bilang, “Mas Komar, please, jangan turun. Cukup saya yang menghadapi. Mas Komar diam saja di mobil,” pintanya serius.

Tak lama kemudian Iwan kembali ke mobil untuk meneruskan perjalanan kembali ke Jakarta. Saya penasaran, apa yang terjadi.

Iwan pun bercerita. Sesungguhnya tak ada kerusakan yang serius, cuma mungkin mereka tersinggung diklakson dan disalip.

Tapi, menurut Iwan, “Saya tak memberi kesempatan energi kemarahannya menyentuh diri saya. Saya lindungi diri saya dengan energi positif, dengan cinta, dengan kasih sayang, dan pesan damai. Dengan demikian, ketika dia akan mengeluarkan energi kemarahan yang diarahkan ke saya, energi negatif itu tertangkal oleh energi positif yang membentengi diri saya sehingga kesalnya akan kembali ke dirinya.”

Ingatan peristiwa puluhan tahun lalu itu muncul kembali ketika saya sering membaca media sosial (medsos) yang isinya sebagian penuh nada kesal dan caci maki terhadap mereka yang berbeda pilihan politiknya. Bahkan ada yang dengan menggunakan dalil-dalil agama menurut selera penafsirannya.

Saya teringat Iwan, sebagai penganut Buddha yang disiplin bermeditasi, rupanya dia sudah sangat terlatih bagaimana mengendalikan emosinya. Ajaran pengendalian diri untuk menjinakkan kemarahan sesungguhnya juga ditemukan dalam agama-agama lain. Termasuk dalam pelatihan mazhab psikologi positif.

Ketika seseorang marah, sebaiknya Anda tidak perlu terpancing ikutan marah untuk membalasnya. Biarkan kemarahan itu kembali pada pemiliknya. Cukup didengarkan dan diambil isinya yang mungkin mengandung kebenaran.

Berkaitan dengan seni menjinakkan kemarahan, ada sebuah simulasi, seorang ayah dan anak berjalan-jalan memasuki wilayah lereng gunung yang cukup luas, kanan kirinya dikelilingi tebing. Lalu anaknya disuruh teriak keras-keras.

Sang anak heran dan bingung, suara teriakannya itu menggema dan memantul kembali. Lalu sang ayah menyuruh anaknya teriak dengan kata-kata yang baik dan positif.

Ketika teriakan itu memantul kembali, sang ayah menjelaskan kepada anaknya. “Demikianlah, anakku,” katanya. “Apa yang kita katakan, entah baik atau buruk, itu semua cerminan dari kualitas diri kita yang akhirnya akan kembali kepada diri kita juga. Makanya pilihlah berbicara yang baik sehingga orang-orang di sekitar kita akan senang menerimanya dan kita pun tidak akan menyesal setelah mengucapkannya. Bahkan senang mendengarnya kembali.”

Ada sebuah kata yang bisa membantu agar kita tidak terseret pada situasi kemarahan yang diciptakan orang lain, yaitu detachment. Secara psikologis kita mengambil jarak, tidak melekat dan lebur ke dalam sebuah objek.

Contoh paling gamblang adalah ketika mobil kita tertabrak, lalu penyok, seakan hati kita ikut penyok, sedih, menggerutu, mengumpat. Mengapa? Karena terjadi attachment, bukannya detachment.

Kita menyatu dengan sosok mobil sehingga ketika ada yang menimpa mobil, hati ikut merasakan. Ketika mobil penyok, hati ikut merasa penyok. Ketika mobilnya dipuji orang, hatinya ikut merasa dipuji. Di situ telah melebur antara subjek dan objek.

Sikap detachment tidak berarti tidak punya empati kepada orang lain. Tapi seseorang mampu mengatur dan mengendalikan gerak dan arus emosinya. Emosi tidak mengendalikan dirinya, tapi emosinya yang dia kendalikan.

Ada sebuah cerita, dua mahasiswa berjalan-jalan ke Pasar Senen Jakarta untuk melihat-lihat dan membeli buku bekas. Mereka berpisah memilih toko buku yang berbeda. Satu jam kemudian mereka bertemu di tempat yang disepakati.

Mahasiswa yang satu berhasil memilih dan membeli beberapa buku, yang lain tidak menemukan sama sekali. Lalu dia ditanya, “Mengapa tidak membeli buku, padahal kita ke sini niatnya untuk mencari buku?”

Dia jawab, “Saya sesungguhnya tertarik untuk memilih dan membeli buku di toko tadi. Tapi saya enggan karena raut muka penjualnya cemberut, sikapnya tak acuh.”

Temannya yang berhasil memilih dan membeli buku balas menjawab. “Dengarkan ya,” katanya. “Soal wajah penjual buku cemberut, itu urusan dia. Itu wajah dia. Urusanmu ke sini adalah mencari buku, jangan sampai agendamu gagal karena persoalan orang lain. Mengapa wajahmu ikut cemberut gara-gara wajah orang cemberut? Berarti kamu kalah, gagal menjaga hatimu agar tidak mudah terseret arus gelombang emosi orang lain.” []

KORAN SINDO, 31 Maret 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Agama Sumber Kekerasan?

Oleh: Komaruddin Hidayat

HARI-hari ini muncul opini sangat kuat bahwa agama menjadi sumber keresahan dan kekerasan di berbagai belahan dunia. Betulkah demikian?

Karen Amstrong, mantan biarawati yang sekarang paling aktif melakukan kajian sejarah agama-agama dan sangat produktif menulis buku tebal-tebal, secara tegas menyatakan “tidak”. Ini bisa dibaca dalam karyanya Fields of Blood: Religion and the History of Violence (2014) yang sudah dialihbahasakan dan diterbitkan Mizan (2016).

Menurut sejarawan militer, dalam setiap peperangan terdapat banyak faktor yang terlibat di dalamnya seperti faktor sosial, materiil, dan ideologis yang saling berhubungan. Dari semua itu alasan utamanya adalah berebut sumber daya yang langka.

Begitu pun terorisme tak bisa disederhanakan sebagai kekerasan agama meskipun sentimen agama terlibat di dalamnya. Mereka yang sudah terbentuk alam pikirnya dengan paham sekuler yang antiagama pun menjadikan agama sebagai kambing hitam, lalu melepaskannya ke padang gurun politik.

Mereka mengklaim bahwa monoteisme sangat tidak toleran dan agama tak mengenal kompromi. Mereka lupa bahwa perang dunia yang menciptakan trauma sejarah itu tidak dipicu agama.

Dulu pernah Kerajaan Islam berjaya, melampaui kekuasaan Barat. Tapi semua negara yang hanya mengandalkan pertanian pada akhirnya akan kehabisan sumber daya intrinsik yang terbatas, yang akan menghambat laju inovasi. Hanya bangsa dan negara industri yang jauh lebih berpeluang membuat kemajuan melampaui kebutuhan zamannya.

Mungkin ini yang menyebabkan kejayaan ilmu pengetahuan di dunia Islam terhenti atau jauh ketinggalan dari Barat. Di sini faktor sains dan militer sangat berperan, bukannya masalah agama.

Perlawanan agama muncul dengan kehadiran modernitas yang menguasai hampir seluruh lini kehidupan, lalu agama terpinggirkan. Ini dirasakan baik oleh Yahudi, Kristen maupun Islam. Kekuatan agama ingin mengembalikan romantisme masa lalu yang kemudian disebut sebagai kebangkitan fundamentalisme.

Istilah kembali ke fundamen ini dicetuskan Protestan Amerika tahun 1920, yang kemudian dilekatkan pada semua gerakan keagamaan yang antimodernitas. Gerakan fundamentalisme ini awalnya hanya sedikit yang melakukan kekerasan. Gerakan ini dipicu rasa takut dan terancam atas kekuatan sekuler yang akan menghancurkan kekuatan agama. Semacam paranoid.

Komunitas Yahudi selalu mengenang pengalaman sangat pahit dari kekuasaan Hitler yang mau menghabisi mereka.

Dalam sejarah Islam, kejatuhan Dinasti Usmani yang berpusat di Turki juga meninggalkan tragedi berkelanjutan bagi dunia Islam di hadapan kekuatan Barat yang agresif. Inggris dan sekutunya dengan seenaknya membagi dunia Islam menjadi negara-negara kecil berdasarkan kesukuan dan kebangsaan, suatu pengalaman baru yang dipaksakan, jauh di luar jangkauan tradisi dan nalar umat Islam.

Mereka terkondisikan menghadapi dua kekuatan sekaligus, yaitu berhadapan dengan Barat yang agresif untuk menguasai sumber daya alam dan merusak tradisi mereka, dalam waktu yang sama juga dihadapkan pada persaingan militer dengan negara-negara tetangganya yang dahulu satu rumpun agama dan kekuasaan di bawah Turki Usmani.

Kisah tragis yang diciptakan Barat juga menimpa India yang kemudian melahirkan pecahan Pakistan dan Bangladesh. Dalam berbagai konflik itu sesungguhnya agama berposisi pinggiran, bahkan dimanipulasi seperti yang dilakukan Amerika masuk ke Afghanistan untuk menghadang pengaruh Rusia dengan mengerahkan tentara Pakistan dan umat Islam lain dengan dalih agama, bagaikan David melawan Goliat. Sebuah jihad suci melawan kekuatan anti-Tuhan.

Jadi, kata Amstrong, agama itu bagaikan cuaca yang bisa berubah-ubah. Atau metafor kambing hitam sebagai penebus dosa manusia. Setiap kali ada keributan, lalu ramai-ramai menunjuk biangnya adalah “kambing hitam” agama untuk disembelih.

Gejala ini juga bisa dimaklumi mengingat ketika terjadi perebutan kekuasaan, misalnya pilkada atau pemilu, isu, simbol dan sentimen agama sangat manjur sebagai sarana bertahan atau melancarkan serangan terhadap lawannya. []

KORAN SINDO, 24 Maret 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Sampah

Oleh: Komaruddin Hidayat

ADA kesamaan antara tubuh, rumah, dan kota. Kesemuanya tak bisa lepas dari kotoran, sejak dari debu sampai sampah. Sekalipun kita rutin mandi dua kali sehari, tetap saja terdapat kotoran yang melekat. Belum lagi sampah-sampah yang melekat pada saluran makanan dan saluran darah di dalam pencernaan tubuh.

Orang yang terserang jantung biasanya saluran darahnya menyempit tertutup oleh kolesterol. Semacam lemak sisa-sisa makanan yang menempel pada dinding vaskuler.

Akibatnya pembagian darah tidak merata karena tekanan pompa jantung melemah dan saluran tersumbat. Akibat lebih lanjut, seseorang bisa terkena stroke.

Begitu pun kondisi rumah, kota, dan masyarakat, selalu saja ada sampah yang membuat saluran mampat sehingga menimbulkan kerisihan dan penyakit. Bangunan rumah yang setiap hari disapu dan disedot dengan menggunakan mesin modern tetap saja menyisakan kotoran di sudut-sudut ruang, di bawah lipatan karpet, dan saluran air.

Yang paling disadari adalah kotoran di WC sehingga memerlukan ekstra-perhatian agar tidak menimbulkan bau ke mana-mana. Lebih parah lagi jika penghuninya jorok dan malas membersihkan rumah.

Soal sampah ini lebih tak terelakkan lagi dalam sebuah kota besar semacam Jakarta. Setiap hari memunculkan ribuan ton sampah sehingga menjadi problem serius ke mana mesti dibuang atau bagaimana menghancurkannya agar tidak memperburuk pemandangan dan menjadi sumber penyakit.

Bagi negara maju, dengan teknologi modern sampah bisa diolah menjadi pupuk pertanian. Tapi di Jakarta, sampah sampai hari ini masih dianggap sebagai beban dan masalah.

Lalu bagaimana dengan ungkapan sampah masyarakat? Sebagaimana dalam tubuh, rumah, dan kota, semakin banyak penduduk pasti semakin bertambah jumlah orang yang dianggap sebagai sumber masalah.

Mereka diberi label sebagai sampah masyarakat. Label ini memang terasa keras dan pedas. Tapi begitulah keadaannya. Misalnya saja komunitas pengedar dan pengguna narkoba.

Mereka jadi beban dan sumber penyakit sosial. Atau para penjahat yang sudah parah oleh masyarakat dicap sebagai sampah.

Di samping sampah, ada lagi koruptor yang disebut sebagai ulat, rayap atau tikus yang menggerogoti sendi-sendi birokrasi pemerintah yang mengakibatkan rapuh, yang meskipun dari luar terlihat mulus tak ada masalah, tiba-tiba bisa roboh.

Para koruptor itu lebih busuk daripada sampah karena memiliki daya rusak yang kreatif dan sangat membahayakan negara dan pemerintah. Namun, bagaimanapun, yang namanya sampah dan sejenisnya, jika itu dianalogikan dengan seseorang, tetaplah merupakan sumber penyakit yang mesti dibersihkan dan dibasmi.

Bayangkan apa jadinya kalau ada politisi atau pejabat sampah? Kalaupun bukan sampah, mungkin yang lebih tepat adalah benalu.

Jadi pada korps atau komunitas mana pun akan ditemukan orang yang dianggap menyimpang, keberadaannya tidak dikehendaki karena membuat kotor kelompoknya. Kapan pun serta di mana pun akan tetap ada sebagaimana sampah atau kotoran akan selalu ditemukan dalam rumah kita.

Bayangkan saja, sekalipun tubuh ini kita bungkus dengan pakaian mahal dan disemprot minyak wangi, di dalamnya pasti terdapat kotoran dan benih penyakit. Semakin tua usia seseorang, semakin banyak sampah sisa-sisa makanan yang menempel pada saluran darah dan pencernaan.

Kalau sampah itu berupa benda, teknologi modern bisa mengubahnya. Tapi jika kata sampah itu melekat pada kualitas seseorang, tidak mudah dan tidak murah biaya untuk membersihkannya. Meski begitu, karena sampah itu tidak mungkin dibasmi, karena telah menjadi bagian integral dari keberadaan kita, kita sikapi dengan damai saja.

Hitung-hitung memberi peluang pekerjaan dan profesi manajemen sampah. Juga mendorong munculnya kreativitas baru bagaimana menangani sampah, termasuk sampah masyarakat. []

KORAN SINDO, 24 Februari 2017

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah