Berkurban, Yuk!

Oleh: Komaruddin Hidayat

HARI raya haji juga disebut Idul Adha atau Idul Qurban, yaitu menyembelih hewan untuk dibagi-bagi pada fakir miskin. Secara historis, Idul Adha mengenang kembali kemenangan Ibrahim ketika dinyatakan lulus ujian oleh Allah SWT saat diperintah untuk menyembelih putranya yang bernama Ismail, yang sudah puluhan tahun ditunggu-tunggu kelahirannya. Sebuah ujian yang maha berat. Jangankan mengurbankan putra tersayang, banyak dari kita yang diperintah memotong sebagian hartanya untuk berzakat dan bersedekah saja sangat berat.

Rupanya yang diminta Allah pada Ibrahim itu bukannya menyembelih anak manusia, melainkan memotong berhala yang bersemayam di hati agar kebanggaan dan kecintaan pada anak itu jangan sampai mengalahkan kecintaan dan ketaatan pada Allah. Ternyata Ibrahim lulus, sehingga doanya dikabulkan, yaitu diganjar keturunan yang unggul, hebat dan saleh, yang menurunkan sekian banyak nabi, termasuk Isa dan Muhammad. Nabi Ibrahim pun memperoleh gelar kholilullah. Kekasih Allah. Kalau saja berita dan cerita perintah penyembelihan itu tidak tertulis dalam Alquran, nalar saya sulit mempercayainya.

Melaksanakan perintah kurban itu semata karena Allah dan untuk Allah, namun wujud material dagingnya disampaikan dan dinikmati fakir miskin. Di sini muncul formula bahwa dalam Islam yang namanya pengabdian atau penghambaan pada Alah yang bersifat vertikal itu mesti membawa dampak nyata untuk kebaikan kehidupan sosial yang bersifat horisontal. Ini juga tercermin dalam berbagai ibadah lain. Misalnya ibadah puasa, kualitas puasa itu mesti juga diwujudkan dalam sikap menjaga diri jangan sampai menyakiti orang lain. Yang ikut puasa adalah pikirannya, lisannya, kakinya, matanya, telinganya yang semua itu berlangsung dalam konteks sosial, jangan merugikan orang lain.

Jadi, kata kurban sendiri artinya dekat, telah menjadi bahasa Indonesia seperti dalam kata teman karib atau kekerabatan. Dengan menyembelih hewan kurban, maksudnya untuk mendekatkan diri pada Allah, namun dengan jalan mendekati dan menyayangi fakir miskin yang disimbolisasikan dengan pemberian daging hewan kurban. Dalam Alquran disebutkan, yang sampai pada Allah itu ketaqwaannya, adapun dagingnya untuk dinikmati manusia. Allah maha suci, tidak makan dan tidak minum. Ajaran kurban dalam Islam ini sekaligus juga mengoreksi tradisi kurban yang menyembahkan sesaji berupa makanan atau manusia untuk para dewa atau makhluk-makhluk gaib. Itu dilarang dalam Islam.

Mesti kita beri apresiasi, tradisi dan latihan berkurban ini semakin menyebar di kalangan anak-anak sekolah. Oleh gurunya mereka diajari menabung selama setahun, sedikit demi sedikit, lalu setelah terkumpul uangnya dibelikan kambing atau sapi menjelang idul kurban. Pendidikan berkurban ini juga dilakukan di lingkungan keluarga.

Ini pendidikan yang bagus agar anak-anak memiliki sikap kepedulian pada orang lain sebagai rasa syukur pada Allah sejak kecil. Dan agar tertanam nilai serta keyakinan bahwa dalam harta kita itu terdapat milik fakir miskin yang dititipkan Allah pada kita. Karena itu hak milik fakir miskin, mesti kita berikan pada yang berhak. Jika hak orang lain tidak dikeluarkan, ibarat susu sebelanga dibuat rusak oleh setitik racun sianida.

Jadi, semangat berkurban adalah semangat berbagi, mengeluarkan harta orang lain yang menempel pada harta kita. Makanya menjadi ironis menyaksikan orang sudah berhaji dan sering berumrah melakukan korupsi. Mengambil hak orang lain. Tak ubahnya mengoleksi sampah dan bangkai untuk dijadikan tempat tidurnya dan makanannya. Ironis dan tragis, retorika dan simbol agama ditonjol-tonjolkan setiap menjelang pilkada dan pemilu, tetapi setelah menang perilakunya menodai dan melecehkan agama, yang juga melecehkan kehormatan diri dan keluarganya. []

KORAN SINDO, 09 September 2016
Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Jadilah Air Yang Jernih

Oleh: Komaruddin Hidayat

RUPANYA peringatan ulang tahun ke-80 BJ Habibie tidak cukup hanya sekali dirayakan. Selasa 2 Agustus 2016 lalu, HUT Habibie (25 Juni 1936) dirayakan lagi di Hotel Shangri-La Jakarta atas prakarsa Dato Sri Tahir, pendiri Mayapada Foundation. Persahabatan kedua orang itu sudah terjalin lama. Tahir mengagumi Habibie sebagai putra bangsa yang sangat peduli pada dunia pendidikan agar Indonesia mampu bersaing dalam bidang sains dan industri dalam kancah dunia. Habibie tak pernah lelah untuk mendorong dan menginspirasi generasi muda untuk selalu menuntut ilmu, karena sebuah bangsa akan maju bukan karena kekayaan sumber daya alamnya, melainkan keunggulan ilmu pengetahuan dan integritas generasi mudanya.

Dalam sambutannya, Habibie berpesan kepada para tamu dengan menggunakan metafora air. Jadilah air yang jernih. Yang selalu membawa kesegaran, kebersihan, dan kesuburan bagi lingkungannya. Air yang jernih senantiasa diperlukan oleh siapa pun. Untuk minum, mandi, mencuci kesemuanya diperlukan air jernih. Begitulah kehidupan kita, mari kita isi agar dengan jatah usia yang sangat terbatas, kita isi dengan karya laksana air jernih yang selalu bermanfaat dan diperlukan orang lain. Kehadirannya selalu ditunggu atau bahkan dicari karena kelangsungan hidup ini sangat bergantung pada air. Jangan jadi air yang keruh dan kotor yang akan jadi sumber penyakit.

Metafora Habibie berupa air ini sejalan dengan narasi Alquran yang sering kali menggunakan kata air dan cahaya. Padang yang tandus itu bisa berubah menjadi hijau dan enak dipandang setelah air hujan mengguyurnya. Lalu, hewan ternak merumput sehingga bisa menyuguhkan daging segar dan susu untuk manusia. Bahkan terdapat ayat yang menyatakan, ’dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup’. Wa ja’alna minal ma’i kulla syai’in hayyin. Jika tubuh mengalami dehidrasi, mesti segera memperoleh perawatan medis agar tidak fatal akibatnya.

Metafora lain adalah cahaya yang kehadirannya akan mendatangkan terang karena gelap akan lari. Kita sangat memerlukan cahaya agar jalan terlihat terang benderang sehingga terhindar dari lubang atau jurang yang mencelakakan. Ajaran para nabi dan rasul Allah itu sering diibaratkan air dan cahaya. Air membawa kehidupan dan kesegaran, cahaya menuntun pada jalan yang benar dan lurus.

Jadi, meneruskan sambutan dan menilai sosok Habibie, dia telah berusaha hadir dan tumbuh bagaikan air yang membawa kesuburan dan nilai tambah dari apa yang dilakukan selama ini. Sayang sekali, mimpi besar dengan seluruh kesiapannya untuk membangun industri dirgantara terganjal di tengah jalan. Ratusan anak didiknya yang dikuliahkan ke berbagai kampus papan atas dunia akhirnya justru negara dan bangsa lain yang menikmati hasilnya. Mereka tidak bisa mengimplementasikan ilmunya di negaranya sendiri. Sebuah teka-teki dan kecelakaan sejarah.

Habibie juga bagaikan cahaya. Tak lelah berbagi ilmu dan pengalaman hidupnya untuk kita semua. Dia akan tercatat sebagai salah satu peletak dasar tradisi berdemokrasi secara elegan. Meski tidak duduk dalam pemerintahan, dia tidak pernah menunjukkan kesal pada lawan politiknya, karena Habibie memandang semuanya adalah teman seperjuangan dalam memajukan bangsa dengan cara dan kemampuannya masing-masing. Maka ibarat air jernih, Habibie selalu disambut hangat oleh semua pihak. Semua politisi menaruh respek padanya. Kehadirannya tidak mengancam, tetapi menyejukkan.

Mewakili The Habibie Centre, Sofian Effendi memberi sambutan singkat pada malam itu. Dengan berseloroh, mantan rektor UGM ini mengatakan bahwa Pak Habibie sekarang ini tak ubahnya selebritas bintang film. Sibuk syuting pembuatan film. Dua film tentang dirinya telah beredar di gedung bioskop, Habibie-Ainun dan Rudy Habibie, sekarang tengah digarap berjudul Ainun. Telah menunggu pembuatan film berikutnya, pengalaman dan kesaksian Habibie mengawal transisi pascalengsernya Pak Harto yang penuh intrik dan ketegangan.

Dalam usianya yang ke-80, Pak Habibie masih energik dan selalu antusias jika pidato di atas mimbar. Otaknya selalu bekerja aktif sehingga selalu segar bugar mengalahkan usia fisiknya. Empat bulan lalu saya menemani Pak Habibie memberi sambutan pada acara peluncuran buku Dato Tahir, Living Sacrifice, di Kampus NTU Singapura.

Mengawali pidatonya, Habibie berucap: I am sorry, my English is not good. So, allow me to speak in bahasa Indonesia. Saya sangat tersentuh dengan kalimat itu, betapa Habibie bersikap rendah hati. Siapa yang meragukan kecakapan Pak Habibie berbahasa Inggris? Atau dia ingin mengingatkan agar warga Singapura menghargai bahasa dan bangsa Indonesia, mengingat ekonomi Singapura sangat dipengaruhi ekonomi Indonesia. Bukankah banyak orang kaya Indonesia yang uangnya parkir di Singapura? Selamat panjang umur Pak Habibie, engkau bagaikan air jernih yang selalu membawa kesejukan, kesuburan, dan pertumbuhan bagi anak-anak bangsa. []

Koran SINDO, 5 Agustus 2016
Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Islam di Garis Batas

Oleh: Komaruddin Hidayat

Percobaan kudeta di Turki pada Jumat (15/7) malam sungguh mengagetkan. Kudeta ini mengingatkan kita pada kudeta militer yang terjadi pada 1960, 1971, 1980, dan 1997, yang terhitung berhasil. Hanya saja, yang jadi alasan sangat berbeda. Kudeta sebelumnya kekuatan militer sekuler berhadapan dengan kekuatan sipil, sekarang—berita yang beredar—yang berseteru sama-sama kekuatan islamis. Namun, keterlibatan pihak ketiga mungkin saja ada.

Secara geografis ataupun kultural, Turki merupakan garis batas, atau titik temu, antara Timur Tengah dan Eropa. Warga Turki, sekitar 80 juta, 95 persen adalah Muslim Sunni, meskipun negaranya sekuler. Islam di Turki memiliki sejarah panjang dan sangat kaya. Pernah menjadi pusat kekuatan politik dan militer yang disegani dunia selama enam abad di bawah Kesultanan Usmani (Ottoman Empire), yang berakhir pada Perang Dunia II ketika Ottoman bersama Jerman dikalahkan tentara Sekutu. Eksistensi Turki sebagai bangsa diselamatkan oleh Mustofa Kemal Ataturk dan pasukannya kemudian mendirikan sebuah negara baru bernama Republik Turki (1923).

Prinsip republikanisme dan sekularisme yang diperjuangkan Ataturk merupakan antitesis terhadap ideologi dinasti Islamisme Ottomanisme. Ideologi Turkisme ditampilkan sebagai antitesis terhadap Pan-Ottomanisme. Menurut Ataturk, hanya dengan mengobarkan ideologi nasionalisme, maka Turki bisa bertahan melawan gempuran Sekutu dan rongrongan bangsa-bangsa Arab yang diprovokasi oleh Inggris dan Perancis dengan janji mereka akan memiliki negara sendiri jika melepaskan diri dari Ottoman.

Sejak awal berdirinya Republik Turki, militer menempatkan diri sebagai pendiri dan pengawal paham sekularisme, juga merasa warga negara kelas satu. Jika Republik Indonesia diperjuangkan oleh rakyat, Turki dilahirkan oleh jajaran elite militer di bawah komando Mustofa Kemal Ataturk, sehingga muncul istilah revolution from above dan democracy under the bayonet. Mustofa Kemal pun diberi gelar Ataturk— Bapak Bangsa Turki—oleh Majlis Agung Turki pada 1934.

Islam pinggiran

Terdapat cara pandang terhadap Islam dengan kategori pusat dan pinggiran, di mana dunia Arab, khususnya Arab Saudi, sebagai pusatnya (the heartland of Islam). Masyarakat Islam Turki dan Indonesia diposisikan pinggiran, baik secara geografis maupun budaya, sehingga dua masyarakat ini masuk kategori the least Arabized Muslim countries, masyarakat Muslim, tetapi pengaruh Arabnya tak kental. Masyarakat Turki dan Indonesia memiliki bahasa dan budaya nasional tersendiri, sangat berbeda dari Arab.

Pertanyaan yang muncul, adakah Islam pinggiran semacam Turki dan Indonesia berarti juga kualitas dan kuantitas keislamannya juga pinggiran dan supervisial? Ternyata tidak selalu demikian. Bandingkan saja dengan Yahudi dan Nasrani yang keduanya lahir di Timur Tengah. Sekarang kedua agama ini selalu diposisikan sebagai agama Barat. Budaya dan peradaban Yahudi dan Nasrani dengan segala capaian politik, ekonomi, dan sains selalu dipersepsikan sebagai prestasi dan budaya Barat. Jerusalem merupakan bukti dan jejak sejarah Yahudi dan Nasrani, tetapi bukan pusat peradaban. Yang mengemuka justru wilayah konflik dan perang yang sulit diprediksi kapan akan berakhir.

Kondisi serupa mirip Islam, meski kondisinya jauh lebih baik. Posisi Mekkah-Madinah bukti dan saksi otentik jejak sejarah Islam. Akan tetapi, situasi Timur Tengah saat ini justru tengah diwarnai kegaduhan politik dan peperangan sehingga menghancurkan warisan peradaban masa lalu, alih-alih membangun yang baru. Jadi, kategori pusat-pinggiran dalam memandang Islam tak lagi tepat.

Sekarang ini, muncul pusat-pusat studi Islam di luar wilayah Arab yang memiliki keunikan dan keunggulan yang tidak ditemukan di Timur Tengah. Banyak intelektual Muslim Arab yang memilih berkarier di luar negara asalnya. Islam yang berkembang di Turki, Iran, dan Indonesia memiliki distingsi dan diferensiasi yang sarat dengan inovasi budaya non-Arab dan semua ini telah memperkaya lanskap kebudayaan Islam.

Eksperimentasi Turki

Menurut beberapa pengamat, Islam di Turki dan Indonesia memiliki kemiripan. Keduanya bukan Arab, melainkan sekaligus juga telah meratakan jalan bagi sebuah eksperimentasi historis bagaimana Islam masuk dan berinteraksi secara intens dengan ide dan praktik demokrasi, modernisasi, dan pluralisme, suatu hal yang sulit dilakukan oleh masyarakat Arab. Kemal Ataturk sendiri dinilai sebagai pelaksana dari gagasan Zia Gokalp (1878-1924), pengagum Emile Durkheim, dengan gagasannya untuk menyatukan nasionalisme, islamisme, dan modernisme bagi masa depan Turki. Bagi Gokalp, Islam merupakan identitas dan kekuatan kohesi sosial masyarakat Turki, tetapi pemerintahannya mesti dimodernisasi dengan model Barat.

Mesti dipisahkan antara urusan agama dan negara. Maka, Kemal Ataturk pun melakukan revolusi kebudayaan, salah satu elemennya adalah de-Arabisasi. Berbagai simbol Arab digusur, tetapi Islam sebagai agama tetap dipertahankan. Orang-orang Turki di Eropa memiliki formula, I am Turk, therefore I am a Muslim. Oleh karena itu, orang-orang Turki tetap setia dengan identitas keislamannya meskipun tak mesti taat menjalankan ritual agama.

Di wilayah Turki yang sistem pemerintahannya sekuler itu, tidak ditemukan bangunan gereja baru, sementara masjid bermunculan. Suasana kampus di Turki pun tak ubahnya kampus di Barat, pergaulan muda-mudi terlihat begitu bebas, tetapi begitu kembali ke lingkungan keluarganya mereka menjadi konservatif. Sekalipun pemerintah, terutama militer, tetap setia menjaga paham sekularisme, orang Turki sangat sadar bahwa kejayaan Islam semasa Ottoman menjadi kebanggaan dan sumber inspirasi serta motivasi mereka untuk bangkit kembali membangun kebesaran bangsa Turki di masa depan. Jadi, semangat islamisme dan pemerintahan sekularisme adalah dua hal yang eksis dan tumbuh bersamaan.

Baik Fethullah Gulen maupun Erdogan datang dari keluarga dan pendidikan santri par excellence. Namun jika Erdogan tergoda untuk membawa dan mengubah politik Turki ke pendulum islamis, pasti akan memancing reaksi, terutama dari sayap militer. Bagi blok Barat, Turki berada di garis batas untuk membendung ekspansi blok Timur. Posisi Turki sangat dibutuhkan Barat. Namun karena dihambat bergabung ke Uni Eropa, Turki lalu mendekati blok Rusia dan sekutunya.

Negara-negara Asia Tengah mayoritas berbahasa Turki dan mitra bisnis bagi Turki. Suatu kekuatan politik dan ekonomi yang jadi perebutan pengaruh Turki, Iran, dan Rusia. Oleh karena itu, Uni Eropa terbelah sikapnya, apakah menerima atau menolak keanggotaan Turki. Kelihatannya Erdogan memiliki insting politik tajam, ingin memainkan posisi strategisnya di antara kekuatan Barat, Timur, dan Arab. Ketiganya memerlukan Turki sebagai sahabat baik mereka; bahkan mitra strategis dari sisi militer, bisnis, dan tenaga kerja.

Kudeta kilat

Hanya dalam waktu lima jam kudeta bisa dijinakkan, yang dilanjutkan dengan penangkapan ribuan tokoh yang dituduh terlibat, terdiri atas sedikitnya 50.000 orang yang dianggap lawan politiknya, termasuk tentara, 100 polisi, 755 hakim, gubernur, bupati, dan jajaran fungsionaris universitas; mulai dari rektor, dekan, dan dosen. Mereka dianggap pengkhianat negara dan kelompok teroris. Fethullah Gulen (75), yang sejak 1999 tinggal di Pennsylvania, AS, dituduh sebagai dalangnya.

Padahal, kalau saja keduanya bersinergi, sesungguhnya Erdogan-Gulen pasangan ideal bagi kemajuan dan eksperimentasi Islam Turki pada era global ini. Erdogan memegang kendali politik dalam negeri, lalu Gulen berkiprah melakukan diplomasi dan kontribusi kultural-intelektual pada panggung dunia. Tidak kurang dari 3.000 sekolah dan pusat kebudayaan Turki tersebar di sejumlah negara, di bawah kepemimpinan Gulen.

Dengan kekayaan sejarah dan posisinya di garis batas, diharapkan Turki mampu memberikan salah satu model keislaman yang kontributif kepada masyarakat Barat dengan tetap setia pada identitas keislamannya. Namun, terjadinya kudeta dan mengerasnya perseteruan antara Erdogan dan Gulen, yang bisa mengguncang stabilitas dan progresivitas Turki, jangan-jangan Turki akan mundur kembali terbawa demam politik Arab yang lelah dengan konflik serta menguras ongkos sosial, politik, dan ekonomi yang teramat mahal. Dalam situasi demikian, apa yang hendak diperankan Indonesia? []

KOMPAS, 30 Juli 2016
Komaruddin Hidayat | Guru Besar Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah