Sawang Sinawang

Oleh: Komaruddin Hidayat

DALAM frase Jawa dikenal istilah sawang sinawang yang dalam bahasa psikologi disebut persepsi. Kita mengenal dan menilai orang di sekitar kita mungkin sekali lebih banyak berdasarkan persepsi, dimulai dengan melihat dan mendengar apa kata orang. Terlebih sekarang berita dan gosip lewat medsos (media sosial) telah menjadi konsumsi sehari-hari, sehingga apa yang kita katakan dan nilai tentang orang lain tak lebih hanya persepsi.

Orang saling memandang, menduga-duga, lalu disimpulkan sendiri. Seterusnya disebar lewat medsos semacam Twitter, Facebook atau Whatsapp. Mungkin sekali asupan pikiran lewat medsos itu tak ubahnya junkfood, makanan yang tak lagi bergizi meskipun bergairah melahapnya serta murah harganya. Jika disebut murah sesungguhnya juga tidak karena kita membayar pulsa dan membuang waktu hanya untuk bergosip.

Saya mengamati beberapa orang yang ikut WAG, Whatsapp group, lebih dari lima. Setiap hari pesan yang masuk bisa di atas 500. Bayangkan saja, berapa lama waktu untuk membaca dan merespons, belum lagi mesti berpikir dan menuliskannya dengan jari. Menulis pesan pendek lewat medsos biasanya dilakukan terburu-buru, sambil lalu, dan tidak mendalam. Tidak juga terstruktur dengan baik logika dan bahasanya.

Jika hal ini menjadi kebiasaan yang mentradisi, sangat mungkin membuat otak kita tidak terlatih berpikir dan menulis secara sistematis, reflektif dan mendalam. Dan ini kurang bagus dampaknya bagi remaja kita. Mereka juga tidak terbiasa membaca novel yang tebal-tebal. Padahal novel yang bagus sangat membantu untuk mengembangkan imajinasi dan menambah wawasan hidup. Juga memperkaya khazanah berbahasa yang indah.

Sebagian besar isi otak dan rekaman emosi kita jangan-jangan produk persepsi, bukan hasil informasi ilmiah ataupun informasi yang sahih dan valid. Jika betul demikian keadaannya, sungguh disayangkan. Kalau kita beli flashdisk, tentu yang hendak kita rekam dan simpan adalah memori yang baik-baik dan berguna. Ketika kita membeli lemari pakaian, yang kita simpan pakaian yang bersih dan ditata rapi. Apa yang terjadi jika pakaian kotor dan sampah yang kita simpan? Pasti bau dan tidak sehat.

Ungkapan sawang sinawang dalam bahasa Jawa memiliki nilai positif, ketika didasari sikap bersangka baik pada orang lain. Bahwa kita tidak baik cepat-cepat menilai dan menghakimi orang lain hanya berdasar kesan dan penglihatan. Hanya berdasar kata orang. Tetapi kita juga tidak dibenarkan menyelidiki serba ingin tahu kehidupan pribadi seseorang.

Oleh karena itu, bersangka baik lebih didahulukan dan diutamakan ketimbang bersangka buruk. Lebih dari itu, jangan mudah silau dan iri melihat orang lain yang kelihatannya mewah dan gemerlap hidupnya. Urip iku sawang sinawang. Hidup itu hanya saling memandang dan menduga-duga. Di balik gemerlap hidup seseorang, pasti menyimpan problem yang disembunyikan, karena tak ada kehidupan tanpa problem.

Sebaliknya, kita seringkali terkecoh dengan penampilan seseorang yang kelihatannya miskin atau sederhana, ternyata dia memiliki kekayaan materi berlimpah atau kebahagiaan hidup yang tidak kita miliki. Oleh karenanya, mengingat hidup ini saling sawang sinawang, maka ojo gumunan. Jangan mudah kagum terhadap penampilan seseorang. Jangan mudah silau lalu bersikap minder atau kecil hati. Jangan mudah kecil hati.

Ojo kagetan. Jangan mudah kaget melihat dan bertemu seseorang yang penampilan awalnya memukau. Melihat rumahnya mewah bak istana. Kita tidak tahu persis kehidupan sejatinya di balik itu semua. Ojo dumeh. Jangan bersikap mentang-mentang. Sombong dan tinggi hati. Roda kehidupan ini senantiasa berputar. Ada kalanya di atas, lain kesempatan di bawah. Makanya bersikaplah wajar. Urip sak madyo. Hidup tidak banyak tingkah, agar tidak mengundang kesan dan komentar yang Anda sendiri tidak senang jika mendengarnya.

Demikianlah, tulisan singkat ini muncul terstimulasi oleh lingkungan sosial yang seringkali asyik bergunjing membicarakan pesan singkat, kutipan dan gambar yang beredar di medsos. Di antara pesan-pesan dan kutipan-kutipan itu banyak pula yang bagus, berisi kutipan ayat-ayat suci, kalimat bijak dan gambar yang mengundang aha!. Namun jangan-jangan semua itu easy come, easy go. Tak sempat dicerna dan direkam mendalam dalam hati dan pikiran, bagaikan angin lalu atau air lewat. Yang tersisa hanya sedikit. []

Koran SINDO, 15 Juli 2016
Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Indonesia Milik Siapa

Oleh: Komaruddin Hidayat

Jika disebut Indonesia, bisa jadi yang terbayang sebuah entitas bangsa, sebuah institusi negara, sebuah teritori yang terdiri dari puluhan ribu pulau dan hamparan lautan, atau himpunan rakyat sekitar 235 juta yang terdaftar sebagai warganya.

Dari kesemuanya itu, yang paling riil dan tangible adalah himpunan ribuan pulau dan laut, tetapi dari sisi jumlah dan luas masih juga diperselisihkan. Belum lagi kemampuan menguasai dan mengelola seluruh kandungan kekayaannya, baik yang di perut bumi, udara, maupun lautan, bangsa kita masih sangat lemah.

Istilah dan konsep bangsa pun sejak awal kemerdekaan sudah disadari mengandung problem serius karena ketika Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia, yang namanya bangsa Indonesia belum terwujud sosoknya secara jelas dan utuh. Yang ada adalah the imagined Indonesia, sebuah cita-cita politik yang menyatukan sekian ratus suku yang ada di Nusantara ini dalam rumah besar negara Indonesia. Bahkan, kata Indonesia sendiri ciptaan orang asing yang berkonotasi posisi geografis, bukan nama sebuah bangsa.

Oleh karenanya, Bung Karno dan Bung Hatta tidak saja dinobatkan sebagai proklamator kemerdekaan, tetapi juga perajut dan pendiri bangsa. Mereka menangkap semangat penduduk Nusantara untuk memiliki rumah bangsa dan negara yang berdaulat dan bermartabat setelah puluhan dan ratusan tahun dihina dan diperas oleh kekuatan penjajah.

Dalam teori politik dikenal istilah sosial kontrak. Yaitu, warga negara menyerahkan kedaulatannya kepada pemerintah untuk menciptakan kesejahteraan dan keamanan serta mencerdaskan anak keturunannya. Lalu, pemerintah sebagai mandataris menerima dan bertanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan rakyat dengan imbalan otoritas politik dan sejumlah fasilitas. Namun pada kenyataannya, kita menjadi warga negara ini bukan produk pilihan suka rela dan kontrak sosial, melainkan sebuah takdir sejarah.

Pemerintah pun mungkin memandang kekuasaan di tangannya sebagai hasil dari pergulatan perebutan dengan biaya yang mahal sehingga tak merasa salah ketika berfoya-foya menikmati fasilitas negara seakan merupakan hasil perburuannya. Takdir sebagai warga Indonesia mirip keberagamaan seseorang, yang pada umumnya produk takdir historis-sosiologis, bukan perjuangan dan pilihan sadar sebagaimana seseorang menjadi sarjana. Namun, masih tetap terbuka peluang bagi seseorang untuk memilih agama dan warga negara yang dimaui setelah dewasa.

Obyek kontestasi

Tak ada teori yang disepakati, penduduk pulau apa yang paling tua peradabannya di Nusantara ini. Ingatan kolektif yang menonjol dan mengikat kohesi sosial kita adalah penduduk Nusantara ini ingin bangkit dan bersatu sebagai bangsa yang makmur, maju, dan beradab, terbebas dari berbagai bentuk penindasan serta mengakhiri fragmentasi sosial berdasarkan etnis, suku, agama, ataupun kelas sosial.

Oleh karenanya, meskipun Indonesia sudah menyatakan diri merdeka dari penjajah, ketika melihat kesejahteraan dan kemakmuran belum juga terwujud secara merata, rakyat akan tetap merasa dirinya terjajah. Yang berubah adalah aktor penjajahnya dan modusnya. Padahal, lewat pilkada dan pemilu, rakyat selalu memperbarui kontrak sosialnya untuk menyerahkan kedaulatannya pada pemerintah lewat parpol, khususnya dengan harapan cita-cita kemerdekaan benar-benar terwujud dan dirasakan. Pertanyaan yang muncul setiap usai pilkada dan pemilu, benarkah parpol itu menyadari akan amanat yang diberikan rakyat dan telah memilih kadernya yang terbaik sehingga mampu mewujudkan amanat rakyat?

Gambaran sekilas, potret Nusantara ini dari zaman ke zaman ada aspek yang tidak berubah. Yaitu, selalu menjadi obyek kontestasi kekuatan asing yang berkolaborasi dengan aktor-aktor anak bangsa. Jadi, siapa nakhoda Indonesia?

Tak bisa diingkari banyak kekuatan dan budaya asing yang sangat besar jasanya dalam memajukan paradaban Nusantara, terutama pengaruh pendidikan asing dan penetrasi budaya agama. Baik Hindu, Buddha, Islam, maupun Kristen semuanya adalah agama pendatang yang telah berjasa memajukan peradaban Nusantara. Dan, sekarang ditambah lagi agama Konghucu. Uniknya, ketika agama itu masuk dan tumbuh di Indonesia justru lebih kreatif sehingga melahirkan budaya keberagamaan yang inovatif, sintetis, dan lebih estetis dibandingkan di tempat asalnya.

Lihat saja warisan Candi Prambanan, Borobudur, dan komunitas Hindu Bali, kesemuanya lebih indah dibandingkan yang ada di India. Begitu pun ekspresi Islam Indonesia lebih kaya dimensi budayanya dibandingkan di Timur Tengah. Dimensi ritual keislaman tetap sama dan tak berubah, tetapi dimensi sosialnya jauh lebih kreatif dan kaya dibandingkan negara-negara Arab. Agama Kristen-Katolik Indonesia pun begitu. Mereka jauh lebih paham tradisi Islam dibandingkan masyarakat Kristen Eropa atau Amerika karena faktor persaudaraan suku ikut menjembatani terciptanya hubungan harmonis lintas iman dan agama. Tradisi Lebaran Idul Fitri, misalnya, telah menjadi budaya nasional, bukan hanya dirayakan umat Islam, tetapi juga secara signifikan memperkuat kohesi sosial dan sikap toleransi antar-umat beragama.

Generasi penikmat

Namun, ketika bicara solidaritas politik dan ekonomi, gambaran dan permasalahannya tidak seindah aspek budaya. Tidak perlu belajar menjadi pengamat ahli ekonomi dan politik internasional, kita melihat sendiri betapa kuatnya jaringan modal asing dan negara industri maju menguasai sumber daya alam dan pangsa pasar Indonesia. Indonesia memiliki bahan baku paling banyak yang diperlukan negara industri, tetapi Indonesia sendiri sulit melompat jadi negara industri sehingga kita masih sebagai bangsa dan negara konsumen.

Masyarakat industri memiliki sikap mental (industrial mentality) yang berbeda dari masyarakat agraris atau nelayan. Mereka familiar dan sangat sadar akan makna dan fungsi teknologi modern untuk menciptakan nilai tambah (added value) dalam mengapitalisasi bahan baku dan sumber daya alamnya. Mereka terkondisikan selalu tepat waktu (punctual) dan setia mengawal sebuah proses sejak dari hulu sampai hilir, bahkan sampai proses pemasaran produknya. Dalam dunia pemasaran, persaingan tak lagi mengandalkan kualitas produk, tetapi kepuasan dan loyalitas pelanggan dengan menambahkan nilai-nilai estetika, kemanusiaan, dan spiritualitas yang melekat pada sebuah produk. Budaya melayani jadi salah satu elemen mental industri.

Sayangnya, hampir semua dunia Islam belum pernah mengalami revolusi industri meskipun benih-benih sains modern yang menjadi pilar industri pada awalnya diciptakan ilmuwan Muslim di abad tengah. Mungkin hanya Turki yang relatif paling maju dalam mengembangkan industri, meski tidak memiliki sumber minyak sebagaimana negara Muslim lainnya.

Dunia Arab dan Indonesia, misalnya, sumber utama ekonominya masih mengandalkan kemurahan alam. Dunia agraris tidak berkembang, tetapi belum juga masuk dalam jajaran negara industri maju. Sementara kekuatan asing secara agresif masuk jadi aktor pemain ekonomi di Indonesia. Etos budaya dan pemahaman agama yang berkembang dan selalu dipuji-puji lebih berperan sebagai penghibur di tengah maraknya korupsi dan persaingan berebut kekuasaan politik. Meminjam diksi Ibn Khaldun, mungkin generasi pasca-45 telah terjebak menjadi bangsa dan generasi penikmat. Generasi malas, korup, dan tak pernah serius mengemban amanat sejarah yang dibangun oleh pejuang kemerdekaan, yang pada urutannya tenggelam lebih dalam lagi menjadi generasi perusak. Kalau sudah demikian, siapa sesungguhnya pemilik dan penguasa Indonesia ini? []

KOMPAS, 14 Juli 2016
Komaruddin Hidayat | Guru Besar Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Budaya Mudik Lebaran

Oleh: Komaruddin Hidayat

RASULULLAH mengingatkan umatnya, ibarat memacu kuda maka mendekati garis finis hendaknya larinya semakin kencang agar menjadi pemenang. Begitu pun dalam ibadah puasa Ramadan, di 10 hari terakhir hendaknya diperbanyak ibadah karena hari-hari itu justru akan menentukan kualitas dan keutuhan ibadah Ramadan. Namun, rupanya yang lebih heboh ialah agenda pulang mudik. Semoga saja mudik Lebaran pun akan tercatat sebagai ibadah.

Fenomena Lebaran telah berakar kuat dalam masyarakat dan ini akan tetap bertahan terus terlebih ketika urbanisasi juga semakin meningkat.

Pengamat asing mengatakan orang Indonesia, khususnya Jawa, they are very much attached to their lands. Masyarakat kita sangat terikat kuat dengan tanah air dan kampung halaman.

Itu terbukti, ketika keluarga yang mengalami rumah hancur terkena tanah longsor ditawari pindah tempat oleh pemerintah, mereka menolak pindah. Jadi, masyarakat Indonesia bukan bangsa yang senang berdiaspora. Mangan ora mangan asal ngumpul.

Tentu saja di kalangan generasi muda sudah mulai kendur ikatan etnik dan kedaerahan, mereka berkarier dan hidup di rantau. Namun, sangat jauh jika dibandingkan dengan masyarakat Tionghoa, Turki, India, dan Yahudi, yang tinggal dan membangun komunitas di luar negeri.

Dugaan saya, kata lebaran berasal dari bahasa Jawa, yang berarti seseorang sudah selesai menyelenggarakan sebuah hajatan. Itulah hajatan melaksanakan perintah puasa selama Ramadan. Dengan hadirnya Hari Lebaran, seseorang diajarkan untuk lebur, yaitu menyatu kembali dengan sesama hamba Tuhan, apa pun status sosialnya, setelah kembali ke fitrahnya.

Itu ditandai dengan diselenggarakannya acara halalbihalal di lingkungan perkantoran dan masyarakat, sebuah forum untuk saling memaafkan dan memperkukuh rajutan sosial.

Lebaran juga mendorong munculnya sikap luber, yaitu sikap filantropis, senang berbagi rezeki, mensyukuri anugerah Tuhan yang diterimanya selama ini. Karena itu, banyak keluarga muslim yang mengeluarkan zakat tahunan serta sedekah sehabis Ramadan, di luar zakat fitrah. Tradisi mudik pulang kampung juga menjadi medium untuk mengekspresikan rasa syukur setelah puasa sebulan yang di dalamnya terkandung semangat lebur dan luber.

Kreasi masyarakat

Tradisi yang memiliki dimensi keagamaan sulit hilang atau dihilangkan dari masyarakat, seperti di Bali tempat agama dan budaya telah menyatu. Di Indonesia, budaya Lebaran justru semakin meriah dan menguat karena dampak ekonomi dan sosialnya sangat positif bagi masyarakat dan negara.

Budaya Lebaran secara signifikan ikut memperkukuh kohesi sosial dan mendukung pemerataan ekonomi. Mobilitas warga yang sedemikian masif telah mendorong pembangunan infrastruktur dan menghidupkan bisnis transportasi nasional dengan segala turunannya. Tradisi pulang mudik yang awalnya hanya populer di kalangan masyarakat Jawa sekarang juga menular ke luar Jawa.

Festival yang telah mentradisi yang diciptakan negara ialah peringatan kemerdekaan 17 Agustus. Namun, dampak sosial ekonominya tidak sebesar dan seheboh Lebaran. Begitu pun pesta tahun baru. Gebyarnya hanya sesaat dan miskin aura keagamaannya. Namun, suasana Ramadan yang ditutup dengan Idul Fitri sangat kental aura religiositasnya.

Banyak orang yang mengeluarkan zakat dan sedekah pada bulan Ramadan sehingga ketika tiba Hari Lebaran suasana batin terasa lega. Masing-masing merasa saling memaafkan dan dimaafkan.

Suasana yang demikian ini bukan hasil rekayasa politik, melainkan benar-benar tumbuh dari bawah, keluar dari hati yang selalu ingin memperbaiki kualitas hidup dan merasakan nikmatnya kebersamaan, toleransi, dan kedamaian yang muncul dari penghayatan iman.

Konon sejarahnya, di Eropa hari libur Sabtu dan Minggu disebut holiday karena diinspirasi Bibel bahwa Tuhan istirahat mengurus dunia pada Sabtu. Karena itu, manusia juga istirahat dari kerja mengejar duniawi lalu diganti dengan acara ritual memuja Tuhan sehingga pada holy-day, hari suci, orang pergi ke gereja atau kuil untuk memuja Tuhan.

Namun, sekarang telah terjadi proses sekularisasi, nilai-nilai keagamaan justru hilang pada holiday, yang menonjol ialah pesta duniawi yang penuh hura-hura. Ketika saya jalan-jalan ke Eropa Timur masih terdapat sisa-sisa tradisi Kristen kuno. Ketika datang Sabtu dan Minggu, toko-toko tutup sekalipun banyak turis. Itu pengaruh metafora Bibel, bahwa Sabtu Tuhan pun istirahat sehingga manusia juga mesti istirahat lalu diganti dengan memperbanyak berdoa dan bekerja bakti, tidak mencari uang.

Dari sekian banyak tradisi, jika di dalamnya ada unsur keagamaan, biasanya itu akan mampu bertahan lama. Contoh yang fenomenal ialah masyarakat Hindu Bali, antara ritual keagamaan dan budaya telah menyatu, bahkan menjadi daya tarik turis yang mendatangkan devisa.

Bagi masyarakat Islam Indonesia, selama Ramadan juga berkembang tradisi berbuka bersama. Jusuf Kalla, wakil presiden, pernah berujar kepada saya, puasa itu hanya sebulan, tapi acara berbuka puasa bisa 50 kali, karena mesti menghadiri undangan acara buka bersama di berbagai tempat.

Ketika Lebaran tiba, yang paling utama dari segi agama ialah mendirikan salat Idul Fitri di lapangan atau masjid agung. Namun, yang membuat heboh ialah acara pulang mudik kumpul keluarga, dilanjutkan dengan silaturahim saling memaafkan dan menikmati hidangan Lebaran bersama tetangga dan sanak saudara.

Silaturahim itu juga diselenggarakan di perkantoran, biasanya pada minggu pertama masuk kerja, diikuti semua karyawan lintas agama.

Mengingat animo pulang mudik tetap tinggi, syukurlah pemerintah selalu berusaha meningkatkan kenyamanan dan keamanan acara mudik berupa perbaikan infrastruktur sehingga budaya Lebaran semakin terasa ramah dan menggembirakan. Orang bilang, kalau tidak mudik, Lebarannya serasa hanya separuh. []

MEDIA INDONESIA, 02 Juli 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Memaafkan Itu Sehat

Oleh: Komaruddin Hidayat

Agama selalu memberi pujian kepada orang yang saling memaafkan. Jika berbuat salah jangan segansegan mengakui kesalahannya serta meminta maaf dan pihak yang dimintai jangan pelit untuk memaafkan.

Semuanya hendaknya dilakukan dengan tulus. Bahkan sekalipun terhadap musuh, memaafkan itu tindakan yang terpuji. Namun ihwal maaf-memaafkan ini pada praktiknya tidak semudah membicarakannya. Baik meminta maupun memberi maaf itu berat. Jika itu terjadi antarnegara, praktiknya semakin berat karena ada unsur gengsi dan harga diri sebuah negara.

Kebenaran ajaran agama tentang maaf-memaafkan ini tidak sulit dibuktikan secara empiris dengan bantuan ilmu jiwa. Orang yang hatinya dipenuhi rasa marah, dendam, dan kecewa kepada orang lain pasti terasa berat membawanya. Bayangkan, orang membawa beban fisik saja meskipun ringan jika terus-menerus dibawa pasti akan letih, capai. Lama-lama akan terasa semakin berat.

Begitu juga halnya orang yang menyimpan kejengkelan dan kebencian di hati, lamalama akan semakin terasa berat jika tidak dilepaskan. Ada orang yang melepaskan kebencian dengan cara menumpahkannya kepada orang yang dibenci. Apa yang terjadi? Bisa jadi akan lepas sementara, tapi setelahnya justru akan membesar jika terjadi perlawanan balik.

Perhatikan saja, sering terjadi perkelahian fisik yang bermula dari adu mulut. Akibatnya luka di hati kian menganga. Makanya cara terbaik mengurangi beban yang menjadi penyakit hati adalah saling memaafkan. Ketika orang memaafkan dengan tulus, yang pertama diuntungkan adalah pihak yang memaafkan karena dengan begitu dia telah menaruh dan membuang beban di hatinya.

Ada sebuah eksperimentasi yang dilakukan seorang guru kepada murid-muridnya. Mereka disuruh membawa kentang masingmasing lima biji. Lalu anak-anak diminta menuliskan nama lima orangyangmerekabenci. Setelah itu dimasukkan di kantong plastik dan dibiarkan terbuka, tidak bolehdiikat rapat.

Kantongberisi kentang itu mesti dibawa ke mana pun mereka berada, bahkan juga ketika mau tidur agar diletakkan di sampingnya atau ke kamar kecil, selama seminggu. Sebelum hari kelima, anakanak mulai mencium bau kentang busuk. Muncul rasa risi. Mereka menanti tibanya hari pembebasan, hari ketujuh.

Tiba harinya anak-anak pergi ke sekolah dengan semangat karena sudah tak tahan lagi dengan bau busuk itu. Lalu bu guru menyuruh membuang kentang busuk itu. Namun sebelumnya bu guru bertanya kepada muridmuridnya, ”Bagaimana pengalamanmu dengan kentang-kentang yang kamu bawa itu?” Murid menjawab, ”Bau Bu, kami tidak tahan. Seminggu serasa lama sekali ke mana-mana diikuti bau busuk.”

Bu guru pun meneruskan nasihatnya. Begitulah contoh nyata yang sudah mereka rasakan dan alami sendiri bahwa jika anak-anak itu menyimpan hati busuk berupa kebencian, iri, dan dengki, mereka sendiri yang akan tersiksa dan merugi. Tapi begitu kentang busuk itu dibuang, legalah hati anak-anak semua.

Merasa terbebaskan dari penderitaan bau busuk. Begitu juga halnya jika anak-anak menjaga hatinya selalu bersih, saling memaafkan, pasti hati serasa lapang dan hidup nyaman dijalani. Demikianlah, di balik perintah agama agar kita saling menolong dan maaf-memaafkan, secara empiris ternyata kebaikannya kembali kepada manusia.

Allah tidak mengambil keuntungan dari kebaikan hamba- Nya, tidak juga dirugikan atas kejahatan hamba-Nya. Allah tetap Maha Agung, terlepas manusia akan menyembah- Nya ataukah tidak. Allah tetap Maha Kaya dan mandiri, apakah hamba-Nya mau bersyukur atau mengingkari anugerah rezeki- Nya. Maaf-memaafkan ini tidak saja ketika datang hari Lebaran, tetapi jika ingin hidup sehat, setiap saat sebaiknya hal itu kita lakukan jika kita merasa terjadi gesekan dengan keluarga atau teman. []

KORAN SINDO, 01 Juli 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah