Kerja Tanda Syukur

Oleh: Komaruddin Hidayat

Coba perhatikan Alquran Surat Saba (34:13) yang artinya begini: “Bekerjalah hai keluarga Daud sebagai tanda syukur. Sedikit dari hamba-hambaKu yang menjadi pribadi suka bersyukur.”
Dalam ayat ini bekerja merupakan tanda syukur. Jadi, bagaimana memahami cara dan sikap bersyukur? Mari kita lihat pengalaman sehari-hari dalam kehidupan rumah tangga.

Kalau ada anak minta komputer, pasti orangtua akan senang jika anak menggunakan pemberian komputer itu secara benar dan optimal untuk mendukung proses belajarnya. Jika hanya untuk main-main, pasti orang tua akan kecewa, berarti dia tidak memanfaatkannya secara benar.

Jadi, bersyukur itu menggunakan anugerah Tuhan agar hidupnya lebih produktif. Tidak cukup hanya memperbanyak ucapan verbal alhamdulillah.

Allah memberikan perangkat organ tubuh sangat canggih dan tak ada yang menjualnya. Sejak dari tangan, kaki, panca indera, otak dan lain-lainnya yang tak mampu kita menghitungnya.

Sebagai tanda syukur, kita wajib memfungsikannya sesuai saran permintaan Sang Pemberi, yaitu untuk kerja produktif dan tolong menolong. Berulangkali Alquran menyatakan tanda-tanda orang yang benar dalam menjalani agama adalah mereka senang berderma, membantu anak-anak miskin, memerdekakan mereka yang hidupnya tertindas.

Semua itu sulit dilaksanakan kalau kita miskin ilmu, miskin harta, dan tidak memiliki kewenangan politik untuk menyalurkan kekayaan negara di jalan yang benar. Maka relevan sekali perintah Allah (62:10), apabila sudah selesai melaksanakan salat, maka berteberanlah di muka bumi. Bekerjalah untuk menjemput karunia Allah dengan tetap selalu mengingat Allah, semoga kalian beruntung.

Ayat ini menyuruh kita jangan tinggal berlama-lama di masjid lalu enggan bekerja. Tentu saja tak ada larangan iktikaf di masjid jika memang itu sudah direncanakan, misalnya sewaktu kita pergi umrah ataupun malam hari iktikaf di masjid.

Kita berdiam lama di masjid untuk berzikir, salat sunah ataupun ikut pengaajian. Tetapi jika kita menghitung waktu ibadah salat wajib lima waktu, mungkin sehari semalam tak akan lebih memakan waktu dua jam. Artinya, waktu untuk bekerja dan ibadah sosial jauh lebih banyak ketimbang waktu salat.

Dalam ajaran Islam memang tak ada pemisahan antara ritual, bekerja, dan berumahtangga. Semuanya menjadi ibadah asalkan didasari niat melaksanakan perintah Allah.

Semuanya amal saleh, selama saleh niatnya, saleh tujuannya, dan saleh proses mencapainya. Saleh artinya benar dari sisi niat, benar metodenya, dan benar tujuannya yang pada urutannya mendatangkan manfaat dan keberkahan.

Dalam bahasa manajemen, saleh dalam bekerja artinya melakukannya secara professional yang mengikuti kaidah-kaidah ilmiah. Orang yang hanya memperbanyak ibadah ritual mengejar akhirat tetapi tidak mau membangun kebaikan dan kemakmuran dunia, jangan-jangan akhiratnya lepas karena kebaikan akhirat itu hasil akumulasi kerja keras amal saleh di dunia.

Coba saja baca dan renungkan perintah Alquran, orang yang berilmu dan kaya harta akan lebih mudah memenuhi anjuran Alquran. Jadi, mari kita mensyukuri hidup dengan kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas agar produktif dan berkah.

Dalam pandangan Tuhan, kekayaan itu akhirnya bukan terletak seberapa banyak seseorang mampu mengumpulkan ilmu dan harta. Tetapi seberapa banyak ilmu dan harta itu turut serta memakmurkan serta menyejahterakan hidup bersama.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, Rasulullah bersabda, andaikan kemiskinan dan kefakiran itu menjelma menjadi sosok manusia, kemanapun berada akan dibenci dan dimusuhi. Maka usirlah kemiskinan dan kefakiran dengan menciptakan banyak lapangan kerja dan mengusir kemalasan, bukannya mengusir orang miskin serta orang fakir. []

TRIBUNNEWS, 26 Juni 2016
Prof Dr Komaruddin Hidayat | Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah

Tiga Macam Ceramah Agama

Oleh: Komaruddin Hidayat

Dari sisi materi dan gaya penyampaian, saya amati terdapat tiga macam ceramah agama. Satu, ada ceramah yang memilih ayat Alquran maupun hadis yang nada dan kesannya menakut-nakuti.

Penuh dengan ancaman dan kemarahan Tuhan karena manusia tidak menaati ajaran Allah dan Rasul- Nya. Biasanya mereka akan mengutip sabda Nabi, ini semua merupakan fenomena zaman akhir yang sudah diprediksi Rasulullah.

Dalam hal ibadah pun umat beragama telah melakukan bid’ah. Menjalankan praktik ibadah yang tidak dicontohkan Rasulullah. Itu termasuk bid’ah dan semua bid’ah membawa pelakunya ke neraka. Dalam hal ibadah mesti persis mengikuti contoh Rasul.

Beberapa ustaz bahkan memasukkan tahlilan dan yasinan bagi keluarga yang ditinggal mati juga bid’ah. Itu sesat karena Nabi tidak melakukannya. Termasuk juga salawatan ramai-ramai dengan dilagukan juga bid’ah karena Nabi tidak mencontohkan.

Jika dibuka memang banyak hadis yang mengesankan bahwa melaksanakan ajaran agama itu berat. Surga itu sangat sulit untuk diraih. Jika melanggar larangan-Nya akan hapus semua ibadahnya.

Belum lagi ancaman siksa kubur akibat perbuatan yang tampaknya sepele ketika dilakukan di dunia, tetapi berakibat fatal di akhirat kelak. Misalnya memotong dahan pohon tetangga.

Atau kencing di sembarang tempat. Atau utang yang belum dibayar, sekecil apa pun utangnya. Semuanya akan mendatangkan siksa kubur. Dalam Alquran memang banyak ayat yang bernada ancaman, mewakili sifat Allah yang maha perkasa dan menghukum.

Di sisi lain, ada ceramah keagamaan yang memberikan kabar gembira. Surga itu tidak terlalu sulit diraih. Lalu dikemukakan beragam formula dan hadis. Misalnya siapa yang sudah bersyahadat dan hatinya tetap beriman kepada Allah, maka dijamin masuk surga.

Siapa yang selalu membiasakan zikir dan bersalawat di pagi dan petang hari akan dijauhkan dari neraka. Cerita yang populer adalah seorang pelacur yang masuk surga gara-gara berbagi air minum dengan anjing yang mau mati karena kehausan.

Lalu siapa yang melakukan puasa dengan penuh iman, bersihlah seluruh dosanya. Bagaikan anak kecil yang baru terlahir. Siapa yang berhaji dan berumrah karena Allah, pintu surga sudah terbuka baginya.

Demikianlah seterusnya sehingga masyarakat seakan disuguhi pilihan, mau mendengarkan ceramah agama yang penuh kabar gembira dengan menghadirkan wajah Allah yang maha pemurah dan pengampun ataukah wajah Allah yang kejam (muntaqim) dengan siksa-Nya yang pedih.

Saya juga mengamati ceramah dan doa dilingkungan masjid dan di lingkungan pejabat tinggi atau keluarga gedongan. Di masjid sering kali khatib seakan memarahi jamaah.

Bahasanya lantang, keras, dan mengkritik mengapa umat Islam ketinggalan dari umat dan bangsa lain. Karena bodoh, malas, beragama hanya main-main, beragama hanya keturunan. Agama untuk modal mengejar jabatan politik. Itu semua merupakan tindakan memperolok-olok agama. Dan tempatnya di neraka.

Namun sering kali saya mengamati ceramah di hadapan pejabat tinggi, bahasanya sopan, tertata baik, dan dalil-dalil yang dikemukakan serbamenggembirakan pendengarnya. Misalnya sabda Rasulullah yang memuji umat yang hidup setelah zaman beliau.

“Mereka tidak kenal aku, tetapi mengikuti ajaranku. Maka pahala keberagamaan mereka jauh lebih tinggi daripada mereka yang mengenal langsung denganku.”

Hadis ini berbeda kesannya dengan prediksi bahwa zaman akhir itu dunia semakin rusak. Umat Rasulullah akan terbagi menjadi 73 golongan dan hanya satu golongan yang masuk surga. Makanya penduduk surga itu nantinya lebih sedikit daripada penghuni neraka.

Namun ada pula penceramah yang lebih menekankan sifat kuasa dan kasih Allah. Dengan mengutip ayat Alquran dan hadis Nabi, kasih sayang Allah itu mengatasi kemarahan-Nya.

Jadi setiap orang bisa optimistis masuk surga semuanya mengingat luas surga itu melebihi luas langit dan bumi sehingga mampu menampung seluruh penduduk bumi. []

KORAN SINDO, 24 Juni 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Memakan Bangkai Teman

Oleh: Komaruddin Hidayat

Terdapat peringatan sangat keras di dalam Alquran bagi orang beriman agar menjauhi sikap prasangka buruk dan berbuat gibah, yaitu membicarakan kejelekan teman sendiri dari belakang. Coba simak Alquran surat 49: 12. “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah sikap suka berprasangka karena sebagian prasangka itu tidak selalu benar dan medatangkan dosa. Jangan pula kamu mencari-cari kesalahan orang lain serta saling menggunjingkan teman, membicarakan hal-hal yang kamu pandang buruk di saat temanmu tidak di tempat. Yang demikian itu, bukankah sama halnya kamu menikmati bangkai temanmu, yang tentu saja menjijikkan?”

Di sini Alquran menggunakan ungkapan sangat keras. Mencari-cari kesalahan teman lalu dijadikan bahan gunjingan itu tak ubahnya memmakan bangkai temannya.

Mengapa? Karena ketika bergunjing itu mungkin sekali merasa enak dan asyik layaknya orang lapar memperoleh makanan untuk disantap. Lalu, mengapa bangkai? Karena mungkin sekali apa yang digunjingkan itu tidak benar, mengandung fitnah, sementara orang yang dijadikan sasaran tidak bisa membela diri karena tidak berada di tempat, sehingga tak berdaya bagaikan mayat atau bangkai.

Kalau saja yang berbuat gibah sadar pasti merasa jijik karena yang tengah dinikmati itu oleh Alquran diidentikkan dengan bangkai. Berprasangka buruk (suuzan) adalah pangkal fitnah.

Orang membangun cerita negatif tentang orang lain, padahal itu hanya imajinasi yang muncul dari rasa iri dan dengki. Jika cerita itu sampai ke orang lain atau yang bersangkutan, sangat mungkin akan berkembang lebih jauh lagi menjadi kebencian, permusuhan, dan perkelahian.

Akibat yang ditimbulkan dari fitnah skalanya bisa lebih besar dan lebih berbahaya dari pembunuhan. Fitnah ini mudah sekali menyelinap melalui jargon dan mekanisme demokrasi, misalnya saja di saat menjelang pilkada atau pemilu.

Antar calon dan pendukungnya tidak segan-segan mengintip, mencari-cari dan mengorek kekurangan lawan. Jika ditemukan, kekurangan yang lalu dibesar-besarkan. Hal-hal gang sifatnya pribadi lalu dibuka secara terbuka ke publik.

Yang lebih bahaya lagi, jika ternyata tidak ditemukan kesalahan, maka diciptakan berita bohong untuk menjatuhkannya. Makanya dalam masyarakat muncul kesan kuat, politik itu kotor, penuh kebohongan, dan saling membunuh lawannya. Kata politik dan demokrasi yang pada dasarnya bagus serta mulia, lalu ternodai menjadi kotor.

Munculnya teknologi komunikasi yang semakin canggih seperti handphone, masyarakat begitu cepat menyebarkan berita gosip dan fitnah. Hanya dengan copy paste sebuah berita yang kadang bernada fitnah menyudutkan seseorang atau kelompok, bisa tersebar hanya dalam hitungan menit, menyebar ke ratusan ribu orang.

Ada lagi fitnah itu ditampilkan menggunakan bahasa gambar atau foto yang sudah diubah dan dimanipulasi. Foto wajah dan tubuh orang lain namun dimanipulasi seakan orang yang sama, dimaksudkan untuk memperolok.

Di samping fungsinya yang positif untuk menjaga pertemanan dan berbagi ilmu, media sosial juga banyak disalahgunakan untuk membunuh karakter seseorang (character assassination). Semua ini jelas tidak sejalan dengan etika Alquran. Persoalannya memang tidak mudah bagaimana mengendalikan dan mencegah lalu lintas informasi yang merusak.

Oleh karenanya menjadi sangat penting dan mendesak membangun daya tahan dimulai dari keluarga. Masing-masing saling mengingatkan yang lain untuk menjaga lisan.

Berbicaralah yang baik-baik, atau pilihlah diam untuk menjaga lisan, begitu sabda Rasulullah saw. Bahkan saya ketemu beberapa keluarga yang sangat pelit menonton televisi karena dinilainya tidak mendidik bagi anak-anak dan remaja. []

TRIBUNNEWS, 24 Juni 2016
Prof Dr Komaruddin Hidayat | Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah

Membalas Penghormatan

Oleh: Komaruddin Hidayat

Jika ada orang memberikan penghormatan, sapaan atau greeting, Alquran mengajarkan agar kita membalasnya dengan balasan lebih baik, atau sedikitnya setimpal (lihat Alquran 4:86). Dalam Alquran digunakan kata tahiyyah yang artinya sapaan penghormatan yang kadang dihubungkan dengan kalimat doa. Sebagaimana ucapan salam ketika bertemu teman atau memulai pidato.

Sapaan berupa greeting ini sifatnya universal. Bangsa manapun memiliki formula ucapan yang populer dan baku. Makanya ketika kita berkunjung ke sebuah negara, dianjurkan mengenal dan menghafal sapaan persahabatan ini.

Dalam bahasa Indonesia terdapat ungkapan, misalnya, selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam, selamat tidur, selamat makan, dan lain sebagainya. Alquran mengajarkan agar kita membalasnya dengan ucapan setimpal, atau lebih baik.

Biahsana minha aw rudduha. Tradisi ini sudah berlangsung lama di tanah air. Ketika seseorang hendak memulai memberi sambutan atau pidato, umumnya diawali dengan ucapan salam sesuai dengan tradisi yang berlaku.

Karena mayoritas rakyat Indonesia beragama Islam, siapapun orangnya dan apapun agamanya, umumnya memulai pidatonya dengan Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Semoga keselamatan dan berkah Allah terlimpah padamu. Para pendengar pun dianjurkan membalasnya.

Kalau saja penghormatan itu keluar dari hati yang tulus, muncullah sebuah aura dan energi positif dan damai dalam majelis itu sehingga mengusir emosi kebencian dan permusuhan, layaknya cahaya terang mengusir kegelapan. Sebutan dan nama Allah sesungguhnya tidak ekslusif milik umat Islam.

Ayah Nabi Muhammad saw. bernama Abdullah, menunjukkan sebutan Allah sudah dikenal sebelum kerasulan Muhammad saw. Jadi, jika Allah yang dimaksudkan adalah Tuhan pencipta semesta ini, semua agama akan menerimanya.

Yang berbeda adalah konsep ketuhanan dan doktrin keyakinan serta ritualnya. Jika ada orang non-Muslim mengucapkan salam atau greeting yang lazim dipakai dalam tradisi Islam, bisa saja disikapi secara positif. Berarti dia tertarik dan menghormati tradisi ajaran Islam. Dan lagi tak ada larangan orang meniru terhadap tradisi yang baik.

Rasulullah itu diutus bukan saja mendoakan masyarakat Arab yang kafir kala itu, bahkan juga mencintai dan membimbing mereka ke jalan kebaikan dan keselamatan. Rasulullah selalu mendoakan kaumnya agar mendapat hidayah Ilahi.

Rasulullah berdakwah dengan penuh kesabaran dan cinta kasih. Jadi, satu di antara etika Alquran bukan saja membalas penghormatan dengan penghormatan balik setimpal, melainkan mendoakan dan berbagai kasih sebagai sesama hamba Tuhan.

Alquran secara tegas melarang membenci seseorang karena alasan etnis, karena keragaman etnis itu ciptaan Tuhan, bukan rekayasa manusia. Kita juga tidak boleh memusuhi orang karena berbeda keyakinan.

Lakum dinukum waliyadin. Bagimu agamamu, bagiku agamaku.

Nanti di akhirat Allah yang akan menimbang dan mengadili keimanan dan amal kita masing-masing. Paling jauh yang kita minta dari sesama kita adalah agar berbuat baik, jangan membuat kerusakan di muka bumi, dan merampas hak-hak orang lain. Urusan iman biarlah Allah yang menjadi hakimnya. []

TRIBUNNEWS, 22 Juni 2016
Prof Dr Komaruddin Hidayat | Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah

Rakus dan Tamak

Oleh: Komaruddin Hidayat

Alquran menyinggung perilaku orang yang rakus. Uniknya, dalam bahasa Indonesia kata rakus jika diubah posisi hurufnya menjadi kuras dan rusak.

Mari kita simak terjemahan ayat Alquran berikut ini (2: 96); “Dan sungguh engkau Muhammad akan mendapati mereka yang sangat rakus terhadap kehidupan dunia, bahkan lebih tamak dari orang musyrik. Mereka pun berangan‑angan agar bisa hidup seribu tahun. Padahal umur panjang itu tak akan menjauhkan mereka dari azab Allah. Allah maha melihat apa yang mereka kerjakan.”

Beberapa ulama tafsir menyebutkan bahwa yang dicontohkan dalam ayat ini adalah kaum Yahudi di Arab kala itu. Mereka tidak hanya pelit, melainkan juga rakus. Bahkan jika terdapat sistim riba yang menjerat pihak peminjam itu lalu dinisbatkan pada kaum Yahudi.

Meski begitu mengingat pesan Alquran ditujukan untuk semua manusia, sesungguhnya potensi bertindak rakus itu bisa terjadi pada siapa saja, melintasi zaman dan ruang geografis. Dalam surat 104, Alquran berbicara lebih tegas lagi mengenai perilaku rakus ini: “Celakalah bagi setiap orang yang senang mengumpat dan mencela. Mereka senang mengumpulkan harta dan menghitung‑hitungnya, mengira harta itu akan mengekalkan hidupnya.”

Kutipan ayat‑ayat di atas menggambarkan orang yang rakus, cinta dunia secara berlebihan, memiliki keengganan untuk berpisah dari dunia. Maunya ingin hidup seribu tahun. Kata seribu sifatnya simbolik, ingin memeluk dunia ini selamanya. Mereka silau, lupa, dan tertipu oleh gemerlapnya dunia.

Padahal kenikmatan dunia itu teramat singkat dan pendek. Kata orang bijak, isi dunia ini kalau saja dibagi rata secara adil dan disikapi dengan rasa syukur dan saling menyayangi, sudah lebih dari cukup untuk menopang hidup mewah.

Tetapi karena muncul sikap rakus dan tamak oleh pribadi‑pribadi dan bangsa yang kuat, sehingga kemiskinan dan kekurangan muncul di mana‑mana. Sementara, sekelompok kecil penduduk bumi hidup amat sangat mewah yang didapat dari menindas.

Ketimpangan dan penindasan itu lalu melahirkan piramidal society. Sebuah masyarakat layaknya bangunan piramid, di mana sekelompok orang kaya berada di puncaknya sementara lapisan bawah bagian terbesar hidupnya menderita.

Ini akibat kerakusan pribadi‑pribadi, ditopang oleh sistem politik ekonomi yang menindas. Kerakusan struktural ini juga terjadi dan dilakukan oleh negara.

Negara yang kuat, pintar, dan maju mengeksploitasi negara lain, tak ubahnya sebuah imperialisme global yang terselubung. Kita lihat banyak negara‑negara yang berada di wilayah tropis ke selatan alamnya kaya raya, namun penduduknya miskin akibat dibodohi oleh negara maju di belahan utara.

Dalam Alquran (89: 17‑20) disinyalir terdapat sekelompok orang yang merampas harta anak‑anak yatim dan memakan harta pusaka (sebuah bangsa) dengan sangat tamaknya, nafsu cinta pada dunia berlebihan, hubban jamma. Allah mengancamnya dengan neraka jahanam.

Ini sebuah ungkapan yang sangat keras, menunjuklan kebencian Allah pada sikap rakus karena akan merusak harmoni sosial dan keseimbangan lingkungan hidup. Pesan agama selalu menekankan kasih sayang, hidup saling berbagi. Agama apapun memuji sikap filantropis.

Pribadi yang melimpah, bukannya yang selalu mengambil, menumpuk kekayaan yang akan mendatangkan kolestrol sosial. Kekayaan alam ini tidak boleh berputar hanya di antara sekelompok orang kaya. []

TRIBUNNEWS, 22 Juni 2016
Prof Dr Komaruddin Hidayat | Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah

Bakhil Membawa Sengsara

Oleh: Komaruddin Hidayat

Dalam Alquran terdapat berbagai ayat yang mengingatkan orang yang bersikap bakhil atau pelit, ujungnya malah menyengsarakan diri sendiri. Bahkan orang yang enggan bersyukur, yaitu memanfaatkan anugerah Allah di jalan kebaikan, Alquran menyebutnya sebagai kekufuran (14:7).

Kufur atau kafir artinya orang menutupi (cover) atau enggan mengakui kebaikan Allah kepadanya. Makna ini juga sejalan dengan pengertian kafir, yaitu orang yang menutup hati dan pikirannya dari cahaya kebenaran yang terlihat di depan matanya.

Mereka tahu kebenaran, tetapi mengingkarinya. Bahkan memusuhinya, seperti yang dilakukan Abu Jahal dkk terhadap Rasulullah, karena ego dan kepentingan pribadinya terancam.

Dalam Alquran Surat Al Lail (92), Allah berfirman: “Siapapun orangnya yang senang berbagi semata karena mengharap rida Allah, maka Allah akan melapangkan jalan hidupnya. Dan barang siapa kikir, merasa dirinya kaya, dan tidak memerlukan lagi pertolongan Allah, maka Allah akan mendekatkan pada pintu kesempitan dan kesulitan hidupnya.”

Kalimat ini merupakan ancaman dan janji dari Allah berupa akibat buruk dan baik bagi mereka yang suka berderma dan yang kikir. Ayat‑ayat serupa mudah dijumpai dalam Alquran dan Hadist.

Mari kita bahas sekilas secara psikologis‑empiris. Orang yang bakhil, pelit, akan selalu merasa dirinya miskin sekalipun berkecukupan atau bahkan berlebih dibanding orang lain. Kekayaan yang dimiliki takut berkurang sehingga tanpa disadari dia telah berperan sebagai pesuruh atau penjaga hartanya, bukannya harta yang menjadi penjaga dirinya.

Orang yang pelit, posisi hartanya yang menjadi majikan, bukan sebaliknya. Padahal Alquran menyebutkan, sesungguhnya semua yang ada ini hakikatnya milik Allah, manusia hanya dipinjami dan diberi kewenangan untuk mengelolanya dalam jumlah amat sangat sedikit.

Jika kita selalu memandang ke atas, di atas langit masih ada langit. Jika seseorang tidak pernah mensyukuri rezeki dan kekayaan yang ada, pasti akan lelah, selalu merasa miskin, karena di sana banyak orang yang lebih kaya.

Orang yang selalu menghitung‑hitung dan membanding‑bandingkan hartanya ibarat berjalan dengan mata dan muka memandang ke atas. Tidak menikmati perjalanan. Leher sakit dan kaki mudah kesandung.

Maka pandanglah ke depan dan sedikit ke bawah. Sekali‑sekali saja boleh ke atas agar muncul dorongan semangat berusaha.

Yang lebih bahaya dari orang pelit adalah jika menempatkan kekayaan sebagai status sosial dan identitas diri, sehingga berlaku formula: I am what I have (saya adalah apa yang saya punya) Penyakit having mode ini menggeser jati diri seseorang yang sesungguhnya lebih tinggi dan bersifat immateri mengingat misi kehidupan tertinggi manusia itu bersifat ruhani.

Kemuliaan di mata Allah dan di mata manusia yang dinilai bukanlah berapa banyak harta dan kedudukan, melainkan derajat ketaqwaan hidupnya, termasuk bagaimana jalan mendapatkan kekayaan dan untuk apa harta dibelanjakan. Harta yang abadi adalah yang telah dibelanjakan di jalan Allah, sedangkan yang belum dibelanjakan kita tidak tahu akan ke mana larinya.

Allah berjanji harta yang senantiasa dikeluarkan zakat serta shodaqohnya justru akan senantiasa diberkati dan dilipatgandakan pahalanya, akan dirasakan sejak di dunia maupun di akhirat kelak. Berapapun banyaknya harta dimiliki, seseorang akan tetap merasa miskin kecuali mereka yang bersyukur dan berbagai rezeki bersama mereka yang mesti dibantu.

Fenomena masyarakat Barat yang menarik direnungkan adalah kesukaan mereka berderma, antara lain berupa Corporate Social Responsibility (CSR), dan membantu lembaga‑lembaga sosial kemanusiaan serta pendidikan. []

TRIBUNNEWS, 21 Juni 2016
Prof Dr Komaruddin Hidayat | Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah

Kekuatan Ikhlas

Oleh: Komaruddin Hidayat

Alkisah di sebuah desa hiduplah seorang ulama yang sangat disegani meski secara ekonomi pas-pasan. Dia telah berusaha mengajak penduduk di sekitarnya untuk menyembah Tuhan dan meninggalkan tradisi serta kepercayaan lama.

Selama ini mereka suka menyembah gunung dan pohon-pohon besar karena diyakini keduanya memiliki kekuatan gaib yang bisa menyejahterakan maupun mencelakakan penduduk sekitar. Suatu hari ulama tadi mendapat laporan, tak jauh dari desanya terdapat sebuah pohon yang sering didatangi penduduk untuk membuat sesaji dan ritual.

Mendengar berita itu, sang ulama mengambil parang dan bergegas ke sana untuk memberikan khotbah, kalau perlu menebang pohon itu. Di tengah jalan, rupanya setan menjelma menjadi pemuda gagah dan kekar.

Dia gembira kalau banyak warga desa yang jadi temannya. “Mau pergi kemana ustaz?” tanya pemuda tadi. “Aku akan mengingatkan penduduk desa agar meninggalkan kepercayaan sesat dan aku akan tebang pohon yang membuat orang menjadi musyrik,” jawab sang ustaz.

“Aku pemilik dan penjaga pohon itu. Siapapun yang hendak menebang mesti melawan aku dulu,” gertak sang pemuda. Setelah ulama tadi mencoba berbicara baik-baik tidak mempan, akhirnya terjadilah perkelahian fisik, antara ustaz yang kecil dan kurus melawan pemuda yang kekar dan gagah.

Akhir perkelahian, pemuda tadi kalah. Ustaz kemudian mendatangi dan menasihati penduduk yang sedang menyembah pohon, agar membubarkan diri.

Selang beberapa hari, rupanya masih saja terjadi ritual menyembah pohon. Lagi-lagi sang ustaz pergi memberi khotbah. Di tengah jalan, setan yang menjelma menjadi pemuda kekar dan gagah mencegatnya, membujuk agar jangan menebang pohon sambil menyodorkan uang.

Ustaz marah, merasa terhina, sehingga perkelahian tidak terhindarkan. Lagi-lagi, pemuda yang tampaknya lebih kekar dan perkasa itu kalah. Penduduk kembali dinasihati dan kalau masih mengulangi pohon akan ditebang.

Ustaz tadi merasa lega karena telah berusaha berdakwah mengajarkan tauhid, mengajak warganya ke jalan yang benar, hanya menyembah Allah. Namun sungguh kaget, suatu hari ada berita penduduk lain berdatangan untuk melakukan ritual serupa.

Demikianlah, di tengah jalan ustaz sudah mengira, pasti seorang pemuda akan mencegatnya lagi. Dalam hati berbisik, berapa banyak uang kompromi yang mau ditawarkan kali ini. Kalau saja tawarannya di atas Rp 25 juta, lumayan jugalah untuk perbaiki rumah, pikir ustaz tadi.

Memang benar jumlah penduduk yang menyembah pohon masih banyak. Maka dicabutlah parangnya untuk menebang pohon itu. Namun pemuda tadi menghadang sehingga terjadi perkelahian, disaksikan orang banyak.

Nasib kurang beruntung, ustaz kali ini kalah. Dia pulang dengan wajah merunduk. Sampai di rumah dia merenung. “Mengapa dulu aku menang dengan mudahnya melawan pemuda itu, tetapi mengapa sekarang aku kalah,” keluhnya.

Ia lalu mengambil air wudu, terus salat memohon ampun dan petunjuk Tuhan. Dalam salat itu dia sadar dan mendapat jawaban mengapa dia kalah. “Perkelahian pertama dan kedua aku menang karena ikhlas, semata karena Allah. Sedangkan yang terakhir dalam hatiku sudah ternoda dan tergoda membayangkan uang kompromi atau sogokan dalam jumlah yang lebih besar, sehingga keikhlasanku tidak bulat, bahkan rusak. Aku tidak lagi sakti, bahkan jadi tertawaan setan dan konco-konconya meski aku seorang ulama.”

Masih ada kisah lain yang juga menjelaskan kekuatan dan keajaiban ikhlas. Di suatu desa terdapat seorang ulama yang juga disegani oleh warganya. Karena didorong oleh cintanya kepada ustaz, ada seorang warga desa yang menghadap minta didoakan sambil membawa oleh-oleh singkong dari kebunnya sendiri.

“Ustaz, ini sekadar hadiah tak seberapa nilainya, sebagai rasa cinta dan syukur, saya membawa singkong dari hasil panen kebun sendiri. Semoga ustaz bersedia menerima hadiah ini,” ujar warga kepada ulama.

Sang ulama terharu pada kepolosannya, sehingga menggerakkan hatinya untuk membalas dengan memberi hadiah. “Terima kasih kunjunganmu dan hadiah yang engkau bawa. Semoga ke depan panennya semakin banyak. Sebagai rasa terima kasih, terimalah hadiah dari saya, seekor kambing ini. Mudah-mudahan ke depan akan beranak-pinak yang banyak dan sehat-sehat”, kata ulama.

Selang beberapa hari rupanya ada tetangga yang tahu kebaikan ustaz tadi. Pagi-pagi dia bertamu ke rumah ustaz sambil membawa hadiah seekor kambing. “Semoga ustadz akan membalasnya dengan memberi hadiah seekor sapi pada saya,” bisiknya dalam hati.

“Terima kasih atas kebaikan hatimu. Sekadar sebagai tanda terima kasih, ini saya hadiahkan sekeranjang singkong, pasti istri dan anak-anakmu akan senang,” jawab ustaz sambil tersenyum. Dengan hati kecewa, ia pulang sambil membawa sekeranjang singkong.

Dia menyesal, alih-alih mendapat hadiah sapi yang dia bayangkan, kambingnya malah ditukar dengan singkong. Dua kisah tadi kelihatanya sepele. Namun ada pelajaran yang amat berharga.

Keikhlasan merupakan sumber kekuatan dan kebahagiaan hidup. Ikhlas adalah energi dan cahaya hati. Tanpa keikhlasan daya hidup akan melemah dan dunia menjadi pengap. []

TRIBUNNEWS, 21 Juni 2016
Prof Dr Komaruddin Hidayat | Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah

Poros Baru Mindanao-Aceh

Oleh: Komaruddin Hidayat

JAUH di luar nalar, peristiwa tsunami di Aceh (2004) pada urutannya setelah dua belas tahun kemudian mendekatkan poros pendidikan di Aceh dan Mindanao, dua wilayah yang memiliki kemiripan nasib. Dua provinsi yang alamnya kaya raya, tetapi penduduk setempat memandang pemerintah pusat yang menguasai dan menikmati hasilnya, lalu kedua wilayah itu menempuh perlawanan dengan senjata. Di Aceh terdapat GAM (Gerakan Aceh Merdeka), di Mindanao muncul MNLF (Moro National Liberation Front), dan MILF (Moro Islamic Liberation Front)

Tragedi tsunami di Aceh itu seketika membuat ribuan anak menjadi yatim, tak lagi memiliki sandaran membangun masa depan. Karena merasa jiwa mereka terpanggil, beberapa teman di lingkungan Metro TV dan Media Indonesia di bawah kepemimpinan Surya Paloh, mendirikan Yayasan Sukma Bangsa.

Agenda pertama dan utamanya ialah mendirikan tiga sekolah Sukma Bangsa di tiga wilayah, yakni Pidie, Lhokseumawe, dan Bireuen, semuanya berasrama untuk menyantuni anak-anak kurban tsunami. Modal pertama yang digunakan ialah dana yang terkumpul melalui program sosial Indonesia Menangis.

Generasi baru Aceh

Sebagai salah seorang pengurus Yayasan yang turut membidani lahirnya Sekolah Sukma Bangsa (SSB), saya dan teman-teman merasa bersyukur dan hampir-hampir tak percaya dengan capaian sekolah selama ini, mengingat berbagai rintangan dan tantangan yang kami hadapi cukup berat, terutama pada lima tahun pertama. Bukan saja masalah finansial yang mesti kami atasi untuk membiayai proses pendidikan bagi seluruh siswa, guru, dan karyawan, melainkan juga berbagai fitnah dan ancaman dari beberapa kelompok masyarakat akibat kesalahpahaman mereka terhadap misi dan eksistensi SSB yang dianggap melawan tradisi dan ideologi mereka.

Para siswa tinggal di asrama lazimnya sebuah pesantren, sejak dari tingkat SMP dan SMU. Para guru juga didatangkan dari berbagai provinsi di luar Aceh untuk mempercepat proses penanaman dan pemahaman akan nilai-nilai keindonesiaan. Kami menyeleksi dan melatih guru-guru agar benar-benar siap mental dan pengetahuan untuk mendidik siswa yang kehilangan keluarga serta tempat tinggal. Jadi, mereka bukan sekadar pengajar, melainkan juga pengganti orangtua. Kami menerapkan metode pendidikan dan pengajaran yang berorientasi futuristik, global, dengan tetap memperkukuh nilai keindonesiaan dan keacehan yang kental dengan keislaman.

Banyak tamu dan peneliti asing datang ke SSB, mereka tertarik melakukan penelitian bagaimana membangun pendidikan pascatrauma tsunami, dengan siswa yang menanggung beban psikologis Ketika para tamu datang, baik dari dalam maupun luar negeri, kami persilakan mereka mengamati dan mengikuti kegiatan para guru dan siswa secara langsung agar bisa berdialog dengan mereka secara lugas dan autentik. Apa yang kami lakukan sebagian sudah kami tulis dan terbitkan dalam beberapa judul buku, semoga menjadi kontribusi pemikiran dan pengalaman bagi dunia pendidikan di Indonesia.

Para siswa SSB terlahir dan tumbuh seiring dengan lahirnya generasi milenium di Tanah Air yang terkoneksi dengan kehidupan global melalui jejaring internet. Mereka ialah native netizen, melompat jauh dari lingkaran pergaulan orangtua mereka yang sebagian ialah para combatan GAM, hidup di hutan. Komunitas SSB bagaikan a brand new cultural enclave bagi masyarakat Aceh. Kami berharap mereka terbebas dari warisan konflik antarorangtua mereka, baik konflik antarsesama warga Aceh maupun dengan pemerintah pusat.

Di balik tragedi tsunami, terbuka lebar gerbang perdamaian dan pendidikan baru bagi anak-anak yatim korban tsunami. Di SSB, mereka menemukan keluarga besar dan bersama-sama membangun mimpi serta merintis masa depan yang lebih menjanjikan dengan modal collective memory kejayaan Aceh masa lalu. Integritas, toleransi, cinta ilmu, dan cinta bangsa sangat ditekankan di SSB. Makanya, sempat heboh ketika peserta ujian nasional SMU angkatan pertama yang lulus tak sampai 40%, sementara tawaran kunci jawaban dari pengawas ujian justru ditolak siswa SSB.

SSB-Finlandia University

Untuk menjadikan SSB sebagai salah satu pilihan pendidikan terbaik di Tanah Air, khususnya daerah Aceh, kami menjalin kerja sama dengan Universitas Finlandia, mendidik 30 guru SSB untuk meraih Master di bidang keguruan. Finlandia kami pilih, di samping sejak lama pemerintah Finlandia menaruh kepedulian pada proses perdamaian di Aceh, juga karena pendidikan di sana dianggap paling baik di dunia.

Ketika saya berkunjung ke Tampere University, misalnya disebutkan bahwa fakultas keguruan menerima peminat tertinggi calon mahasiswa. Artinya, putra-putri terbaik di Finlandia memilih profesi sebagai guru. Guru memiliki posisi yang terhormat dan tepercaya serta gaji yang cukup. Guru memperoleh kepercayaan dari pemerintah dan masyaraka sehingga sekolah berhak mengubah kurikulum tanpa intervensi Kementerian Pendidikan.

Di Finlandia, semua sekolah berafiliasi dengan fakultas pendidikan sehingga jajaran guru besarnya ikut bertanggung melakukan evaluasi dan peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan. Dengan demikian, menteri pendidikan di sana cukup membuat kebijakan umum untuk menjaga kualitas pendidikan.

Tentu saja, Finlandia dengan penduduk sekitar lima juta tidak fair jika dibandingkan dengan Indonesia yang penduduknya di atas 230 juta. Namun, pengalaman dan inovasi mereka menarik untuk dipelajari. Dengan program 30 Master, diharapkan akan mempercepat peningkatan mutu SSB ke depan dan lebih memungkinkan SSB untuk membuka cabang di luar Aceh.

Ada apa dengan Mindanao?

Sejak lima tahun lalu, Direktur Akademik Yayasan Sukma, Ahmad Baedowi dkk, sudah menjalin kontak kerja sama untuk membantu memajukan pendidikan dengan pemerintah dan aktivis pendidikan di Mindanao. Kami berempati dengan nasib pendidikan di sana dengan melihat dari dekat situasi pendidikan di Aceh selama masa konflik. Makanya, ketika muncul berita terjadi penyanderaan terhadap 10 awak kapal Indonesia, Surya Paloh meminta Ahmad Baedowi dkk untuk ikut serta melakukan lobi dalam rangka pelepasan sandera.

Dengan bantuan beberapa relasi di Mindanao dan pejabat ARMM (Autonomous Region in Muslim Mindanao), misi kemanusiaan Yayasan Sukma Bangsa punya andil besar dalam pelepasan sandera. Yayasan menawarkan 30 beasiswa bagi anak-anak miskin Mindanao untuk studi di SMP dan SMU Sukma Bangsa di Aceh sampai tamat. Pada Jumat 17 Juni lalu telah dilakukan penandatanganan MoA (Memorandum of Agreement) antara Yayasan Sukma dan ARMM bertempat di kantor KBRI Manila, tentang realisasi bantuan pendidikan tersebut. Saya hadir dan memberi sambutan atas nama Yayasan Sukma, didahului sambutan dari Dubes RI di Manila, Letjen (Purn) Johny Lumintang. []

MEDIA INDONESIA, 20 Juni 2016
Komaruddin Hidayat ; Ketua Majelis Pendidikan Yayasan Sukma

Interkoneksitas Ilmu Pengetahuan

Oleh: Komaruddin Hidayat

Yang namanya universitas itu merupakan sarana dan upaya sistematis untuk mendekati dan memahami universum bagi komunitas intelektual kampus. Orang yang tamat jenjang tertinggi setelah studi di universitas, diharapkan mengenal realitas hidup yang universal dan diharapkan mampu menyumbangkan pemikiran untuk memecahkan problem sosial yang muncul. Makanya titelnya PhD, Philosphy of Doctor. Ini tidak mesti berarti doktor filsafat, namun diharapkan mampu melihat dan berpikir filosofis universal terhadap realitas hidup dan kehidupan.

Untuk memasuki pintu universum itu maka dibukalah berbagai pintu fakultas, lalu dalam fakultas dirinci lagi menjadi program studi atau departemen. Masalahnya, fakultas itu sering kali berubah peran, dari pintu gerbang menjadi kamar tertutup yang memenjarakan mahasiswanya sehingga terkurung tidak mampu melihat dan mengapresiasi ilmu yang berkembang di fakultas lain.

Padahal ilmu itu bekerja saling berhubungan dan memerlukan yang lain, sebagaimana realitas hidup yang kompleks dan saling terkait. Ini juga tecermin dalam realitas semesta yang elemenelemennya saling terhubung. Ketertutupan fakultas dan program studi itu semakin rapat ketika muncul revolusi industri yang memesan pada universitas untuk menyediakan dan memasok tenaga kerja dengan skill yang spesifik guna memenuhi tuntutan kerja di pabrik. Maka muncul istilah link and macth.

Belajar ilmu itu mesti yang memiliki keterkaitan langsung dengan peluang pekerjaan yang disediakan oleh dunia industri. Yang namanya sarjana, lalu berperan bagaikan sekrup bagi mesin industri yang sekarang perannya mulai digantikan robot. Salahkah konsep di atas? Tentu saja tidak salah.

Dalam masyarakat industri memang sangat dirasakan adanya kebutuhan tenaga kerja yang memiliki keahlian spesifik. Turunan dari konsep ini maka tataran di bawahnya muncul SMK, sekolah menengah kejuruan. Tidak mengherankan makanya di Barat beredar candaan, jika ingin jadi orang kaya jangan mengambil program doktor. Doktor itu tidak cocok untuk bekerja mengejar kekayaan. Cukup MBA untuk memasuki sebuah usaha yang menjanjikan secara ekonomi.

Doktor itu pada awalnya memang dimaksudkan sebagai komunitas ilmuwan yang mencintai riset, memberikan kritik dan pencerahan pada komunitas praktisi dan politisi. Makanya titelnya PhD. Mereka mengembangkan tradisi berpikir filosofis agar mendapatkan wisdom dan memberikan rambu-rambu atau tanda zaman pada masyarakat.

Doktor itu diharapkan mampu membaca dan mengembangkan interkoneksitas keilmuan yang tumbuh dalam berbagai fakultas. Interkoneksitas ilmu itu analog dengan jejaring sosial, jejaring alam, bahwa variabel yang satu memengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain. Hal ini juga mirip dengan kerja otak. Tak ada yang linier tapi susunan saraf otak itu sangat lembut dan jumlahnya miliaran saling berkaitan.

Yang juga menarik, interkoneksitas ilmu, saraf otak dan realitas sosial sangat mirip dengan metode Alquran. Berbeda dari logika buku ilmiah yang linier, ayat-ayat Alquran itu bagaikan lingkaran. Ayat yang satu menjelaskan yang lain. Makanya mempelajari Alquran memerlukan metode tersendiri. Kadang terkesan diulang-ulang, padahal konteksnya berbeda. Ini yang membuat Alquran tak pernah habis dipelajari.

Memasuki era informasi ini, semakin terasa kita dituntut untuk bisa menghubungkan ilmu yang satu dengan yang lain. Kalau tidak maka akan kebingungan dibanjiri informasi yang kadang sampah dan tidak logis. Dengan mengetahui prinsip-prinsip dasar disiplin ilmu, kita akan terkondisikan berpikir interdisipliner sehingga bisa memahami universum relatif utuh.

Bukan terkurung oleh sekat fakultas. Semua ilmu itu mestinya bisa dipahami oleh orang lain atau lintas fakultas terutama menyangkut kontribusinya terhadap masalah kemanusiaan dan kenegaraan. []

KORAN SINDO, 17 Juni 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Urban Sufism

Oleh: Komaruddin Hidayat

Akhir 1990 saya kembali ke Jakarta setelah selesai menamatkan doktor di Turki. Almarhum Nurcholish Madjid (Cak Nur) dan Utomo Danandjaja (Mas Tom) meminta saya untuk bergabung ke Yayasan Paramadina.

Keduanya tidak memberi pengarahan apa pun tentang apa yang mesti aku lakukan di Paramadina. Keduanya memberi kebebasan terserah saya mau apa, yang penting mau bergabung mengembangkan Paramadina yang sudah dikenal sebagai gerakan moral-intelektual keislaman, dengan basis utama kelas menengah kota dan kalangan elite. Yang menonjol dari kegiatan Paramadina kala itu adalah menyelenggarakan Klub Kajian Agama (KKA) setiap bulan, bertempat di hotel berbintang.

Peserta datang dengan membeli karcis. Panitia menyediakan minuman dan makanan ringan, serta makalah yang hendak disajikan malam itu. Cak Nur selalu menjadi pembicara, didampingi pembicara tamu secara bergantian. Topik kajian pun begitu beragam, semuanya disajikan dalam makalah ilmiah. Sebelum dimulai, ada kalanya para peserta disuguhi permainan piano.

Melihat antusiasme kelas menengah terhadap studi islam dengan pendekatan ilmiah, dialogis, tanpa semangat menggurui, maka saya bersama Elza Taher dan Budhi Munawar Rahman lalu menyusun paket-paket studi Islam layaknya sebuah forum kuliah di universitas. Pusatnya di Pondok Indah Plaza Tiga, Jakarta Selatan. Setiap tema kuliah, kami pecah-pecah menjadi 8-16 topik pertemuan, dengan menghadirkan dosen secara bergantian sesuai minat dan bidang keahliannya.

Dalam kajian tematik ini, saya selalu hadir mendampingi dosen tamu. Kalau dosen tidak hadir, saya sebagai gantinya. Mungkin tahun itu Paramadina merupakan pionir menyelenggarakan studi Islam secara tematik, terstruktur, dan sangat diminati kalangan eksekutif. Peserta hadir ke Paramadina sesuai dengan mata kuliah yang dipilihnya.

Pada Sabtu banyak peserta yang mengikuti kuliah pagi hari, pukul 10.00-12.00 WIB, diteruskan mengambil kuliah sore pukul 14.00-16.00 WIB. Beberapa topik kajian itu antara lain: Pengantar Studi Islam, Sirah Muhammad, Tema-Tema Pokok Alquran, Hukum Islam, Filsafat Islam, Sejarah Islam, Ilmu Kalam, dan Tasawuf. Karena diisi oleh beragam dosen, kajian Islam ini tanpa disengaja menerapkan pendekatan interdisipliner. Islam didekati secara historis, rasional, filosofis, dengan pedoman dasar Alquran dan semangat tasawuf, yaitu penghayatan akan kasih sayang Allah. Semesta ini hadir karena cinta-Nya.

Manusia diciptakan karena cinta-Nya. Para Rasul diutus karena cinta-Nya. Islam adalah agama cinta. Itulah salah satu pesan yang terkandung perintah agar memulai semua tindakan dengan bacaan basmalah. Bismillahirrahmanirrahim. Jadi, kajian Islam di Paramadina berangkat dari wahyu Alquran, lalu didekati dengan berbagai disiplin ilmu, seperti Sejarah, Filsafat, Hukum, dan Tasawuf. Oleh karena itu, beberapa peneliti asing menempatkan Paramadina sebagai pionir gerakan urban sufism atau sufisme perkotaan.

Sebuah pendekatan tasawuf populer, dengan menekankan bimbingan untuk meraih pencerahan intelektual dan hati. Ini berbeda dari tarekat yang dibimbing oleh guru spiritual secara langsung dengan bacaan zikir atau wirid dalam jumlah tertentu. Metode yang dirintis Paramadina ini sekarang sudah tumbuh di berbagai tempat. Salah satu kelebihan Paramadina adalah berbagai ceramah yang disajikan ditulis dan diterbitkan dalam bentuk buku, terutama ceramah oleh Nurcholish Madjid.

Sekian banyak buku karangan Nurcholish Madjid pada awalnya adalah makalah-makalah di Paramadina, yang ditulis secara serius dengan standar ilmiah. Tak banyak penceramah yang juga penulis serius. Yang menonjol tentu saja Pak Quraish Shihab. Karya-karya tulisnya akan menjadi amal jariah dan umurnya menjadi lebih panjang dari usia biologisnya. Kita mengenal Imam Ghozali pun lewat dan karena warisan karya tulisnya, terutama Ihya Ulumuddin. []

Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
KORAN SINDO, 10 Juni 2016