Pesona Istanbul

Oleh: Komaruddin Hidayat

Maret 1985 saya pertama kali menginjak Istanbul, Turki, dengan tujuan meneruskan studi pascasarjana di Universitas Istanbul, sebagaimana dokumen yang saya terima dari kedutaan Turki di Jakarta.

Saya ke Turki atas tawaran Menteri Agama Munawir Sjadzali. Setiba di Istanbul, setelah istirahat sejenak di hotel, saya langsung mendatangi pemimpin Universitas dengan menunjukkan surat pengantar Kedutaan Turki di Jakarta. Sebuah kampus megah dan klasik. Namun, yang membuat kaget dan kecewa, ternyata bahasa pengantarnya bahasa Turki.

Menurut penjelasan pimpinan fakultas, dibutuhkan waktu dua tahun untuk mendalami bahasa Turki guna membaca dan menulis karya ilmiah setingkat disertasi. Saya putuskan untuk mencari kampus lain, tetapi mesti diproses dari awal lagi. Maka saya menghadap duta besar RI di Ankara, Marsekal Abdulrachim Alamsyah.

Dengan gesit dia langsung mencari informasi, bahkan langsung membuat janji dengan rektornya, yaitu kampus Middle East Technical University (METU), Ankara. Keesokan harinya kami ke kampus. Hatiku langsung jatuh cinta. Sebuah kampus besar, dikelilingi hutan, terdapat lapangan sepak bola, banyak lapangan tenis, dan gedung-gedung fakultas serta asrama mahasiswa.

Saya mendaftar ke fakultas sosial, jurusan filsafat, namun mesti menunggu karena pembukaan semester baru tiga bulan lagi. Di negara orang, tiga bulan waktu berjalan terasa sangat lama. Untuk pulang ke Jakarta biaya tidak ada. Membaca kegundahan saya, Pak Dubes yang sangat baik hati ini menawari saya tinggal di rumah dinas.

Jadi, selama tiga bulan saya isi dengan kursus bahasa Turki, bahasa Inggris, dan rajin olahraga badminton serta tenis bersama teman-teman KBRI Ankara. Tiba harinya masuk kuliah dan tinggal di asrama, layaknya tinggal di kota kecil, international small city. Semua kebutuhan akomodasi, konsumsi, dan kesehatan gratis.

Belasan bus kampus antar-jemput karyawan dan mahasiswa hilir-mudik setiap hari di METU-Ankara. Yang paling berat adalah pisah dengan keluarga. Beasiswa setiap bulan hanya sekitar USD100. Jika untuk ukuran gaya hidup sewaktu di pesantren, tentu ini sudah mewah. Ini hanya standar untuk mahasiswa bujangan, mengingat semua fasilitas belajar terpenuhi.

Tetapi sebagai mahasiswa yang berkeluarga dengan dua anak, sungguh ini suatu tantangan baru, mengingatkan saya waktu tahun 1974 mengadu nasib ke Jakarta dengan kondisi miskin. Untunglah saya berdua dengan Amin Abdullah dari UIN Yogyakarta yang juga pejuang kehidupan bermental tahan banting. Pernah juga terpikir pulang melamar kuliah ke Kanada atau AS.

Tetapi, saya pikir temanteman akan menilai kami lari dari gelanggang perang. Tidak konsisten dengan niat dan tekad untuk studi ke Turki. Di lain sisi, membayangkan untuk menyelesaikan program master dan doktor dengan beasiswa kecil dan pisah dari keluarga, hati dan pikiran ini ngelangut. Ternyata kuliah di luar negeri dan pisah dari keluarga itu sangat berat.

Yang membuat saya tetap optimistis dan semangat adalah, pertama, melihat dari dekat Kota Istanbul yang begitu indah dan menyimpan kekayaan sejarah luar biasa. Turki satu-satunya negara muslim yang tidak pernah dijajah Barat, bahkan menaklukkan sebagian wilayah Eropa. Kedua, sikap Pak Dubes yang selalu siap membantu mencari solusi setiap ada problem, termasuk mencarikan tiket pulang ke Tanah Air setiap liburan musim panas.

Ketiga, suasana dan fasilitas kampus METU yang memungkinkan kami belajar serius. Kota Istanbul semula bernama Konstantinopel, ibu kota Kekaisaran Bizantium atau Kerajaan Katolik Romawi Timur, yang direbut oleh pasukan Sultan Muhammad Al-Fatih pada 1453. Drama peperangan yang berlangsung 50 hari ini sangat heroik, masing-masing mengerahkan pasukan dan strategi perang yang selalu menjadi kajian sejarah sampai hari ini, bahkan di Istanbul terdapat museum panorama penaklukan Konstantinopel itu dalam film tiga dimensi.

Pengunjung serasa berada di tengah medan pertempuran. Kejatuhan Konstantinopel ke tangan kekuasaan Islam seakan sebagai perimbangan dengan jatuhnya Granada pusat Islam di Spanyol yang jatuh ke tangan penguasa Katolik. Meski saya tamat S-3 dari METU pada 1990, setiap ada kesempatan saya dengan senang hati berkunjung ke Turki, khususnya Istanbul yang penuh pesona.

Belum lama ini, April 2016, saya ke Istanbul menemani Wapres Jusuf Kalla menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi OKI, yang dihadiri sekitar 30 kepala negara anggotanya. Tiga buah Jembatan Bosporus yang menghubungkan daratan Asia dan Eropa memperteguh posisi Kota Istanbul sebagai penghubung budaya Barat dan Timur, menyimpan warisan sejarah era Yunani, Katolik, Islam, dan peradaban kontemporer yang kesemuanya masih bisa dilihat dan dirasakan. []

KORAN SINDO, 29 April 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Poros Baru Studi Islam

Oleh: Komaruddin Hidayat

Saya memulai karier sebagai dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sejak 1981, dengan modal ijazah doktorandus. Ijazah ini sudah setingkat MA menurut tradisi Belanda, tapi di perguruan tinggi AS masih dianggap strata satu, karena belum memiliki ijazah resmi master. Padahal, untuk meraih doktorandus diperlukan waktu studi enam tahun, sudah ekuivalen dengan masa tempuh untuk meraih master. Saya menempuhnya sampai tujuh tahun. Bahkan beberapa aktivis ‘66 ada yang memerlukan waktu 14 tahun baru tamat doktorandus.

Sekarang hampir semua perguruan tinggi di Indonesia menerapkan strata S-1, S-2, dan S-3 dengan pembatasan waktu yang ketat, sehingga mahasiswa dituntut lebih menekankan studi, semakin berkurang peluang kiprah di luar kampus. Sejak diangkat sebagai dosen, sesungguhnya saya malu. Merasa tidak pantas. Sama saja dengan alumni SMA mengajar SMA. Secara intelektual dan emosional belum memenuhi syarat.

Semasa studi di pesantren saya selalu membayangkan betapa indahnya kalau saja bisa meneruskan belajar Islam ke Timur Tengah seperti di Mesir, Arab Saudi, atau Irak. Terbayang waktu itu masyarakat Arab orangnya saleh-saleh, calon penghuni surga karena mereka hidup dengan mengikuti tradisi ajaran Islam yang diwariskan Rasulullah. Tertanam dalam hati bahwa bahasa Arab adalah bahasa surga karena bahasa Arab adalah bahasa kitab suci Alquran. Belajar bahasa Arab seakan identik dengan belajar agama.

Kenangan dan impian sewaktu di pesantren ternyata meleset. Selagi masih kuliah justru saya ingin meneruskan studi lanjut ke Amerika Serikat (AS) atau Kanada. Dua orang yang memengaruhi pikiran saya, almarhum Prof Harun Nasution dan Nurcholish Madjd. Prof Harun alumni Mesir, meneruskan program master dan doktor di McGill University, Montreal, Kanada. Cak Nur alumni UIN Jakarta, menamatkan doktor di Chicago University, AS.

Berkat bergaul dekat dengan keduanya, di mata saya mereka berbudi luhur, santun, berintegritas tinggi, pengetahuan agama maupun umum sangat luas dan dalam. Kemuliaan akhlak dan keluasan ilmunya sangat mengesankan tidak saja terhadap saya, tetapi juga mahasiswa UIN Jakarta, terutama mereka yang juga aktivis HMI. Makanya banyak kemudian alumni UIN Jakarta yang tadinya berasal dari pesantren tertarik meneruskan program doktornya ke AS, Kanada, Inggris dan Australia.

Sebut saja Dr Din Syamsuddin dari UCLA, Dr Azyumardi Azra dari Columbia University, Dr Bahtiar Effendy dan Dr Saiful Mujani dari Ohio State University. Alumni doktor dari McGill paling banyak jumlahnya. Ada Fuad Jabali, Yeni Ratnaningsih, Nurlena, Yusuf Rahman, Didin Syafruddin, Muhammad Zuhdi, Hendro Prasetyo, dan Ali Munhanif.

Lalu ada Dr Mulyadi dari Chicago University, Dr Jamhari Makruf dan Dr Ismatu Ropi dari Australian National University (ANU), Dr Din Wahid dan Dr Chaider Bamualim dari Leiden University, Dr Saiful Umam dari University of Hawaii, Dr Amelia Fauzia dari Melbourne University, Dr Jajang Jahroni dari Boston University, dan masih banyak lagi alumni UIN Jakarta yang tidak saya sebut namanya, yang berasal dari pesantren berhasil menamatkan doktor dari universitas papan atas dunia, termasuk dari Sorbone, Berkeley, dan Harvard. Di negeri Barat sendiri beberapa universitas papan atas memiliki program studi Islam dengan mendatangkan profesor-profesor ternama dari dunia Islam.

Fakta di atas setidaknya menunjukkan satu hal, yaitu telah terjadi poros baru para santri Indonesia belajar Islam tidak selalu berkiblat ke dunia Arab. Terlebih sekarang lagi dilanda krisis politik, ekonomi, dan peradaban, jadilah daya tarik studi ke dunia Arab menurun. Saya sendiri meneruskan studi master dan doktor tidak ke Arab, tidak juga ke Barat, melainkan ke Turki. Neither West nor East. Sebuah negara yang terjepit antara Arab dan Barat, atau, negara yang mempertemukan antara tradisi Arab dan Barat.

Dari semua yang saya sebutkan di atas, saya paling senior. Peluang pertama yang terbuka bagi saya belajar ke luar negeri adalah ke Turki, yang waktu itu tidak masuk daftar tujuan studi bagi mahasiswa Indonesia.
Peluang ke Barat dengan basis beasiswa masih dalam proses negosiasi. Saya tidak punya gambaran bagaimana perguruan tinggi di Turki. Yang penting menamatkan doktor di luar negeri. Munawir Sjadzali, menteri agama kala itu, meminta saya menjadi pionir belajar ke Turki. Itu bangsa dan negara yang sangat kaya dengan sejarah masa lalunya. Bangsa yang tidak pernah dijajah Barat, bahkan pernah menguasai sebagian Eropa dan hampir seluruh dunia Islam semasa Kekhalifahan Usmani (Ottoman Empire ).

Saya belajar di Ankara, Turki, antara 1984-1990. Terbukanya poros baru dosen-dosen UIN dan IAIN belajar ke perguruan tinggi di luar Timur Tengah tak lepas dari peran Munawir Sjadzali yang sengaja mendorong mereka agar mempelajari ilmu sosial kontemporer untuk memperkaya studi Islam klasik yang telah dipelajari di pesantren dan IAIN. Sekarang ini minat dosen muda alumni pesantren lebih tertarik studi Islam ke perguruan tinggi Barat ketimbang ke Timur Tengah. Ada apa ini? []

KORAN SINDO, 22 April 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Peran Sosial Agama

Oleh: Komaruddin Hidayat

Dalam pandangan Marxian, kritik dan solusi yang ditawarkan agama untuk mengatasi problem sosial tidak pernah tepat sasaran karena salah asumsi dan metode.

Ketika merebak kemiskinan dan kesengsaraan, misalnya, solusinya mesti melalui analisis dan aksi sosial secara empiris dan terukur, bukan dengan lari kepada Tuhan yang akan memberikan penyembuhan psikologis sesaat, tetapi masalah utamanya tidak terselesaikan. Formula kebenaran agama berdasarkan kepercayaan yang bersifat subyektif sulit diukur dan dikuantitatifkan, sementara masalah sosial ekonomi sangat empiris. Tidak tepat diselesaikan dengan cara pandang normatif-metafisis. Tulisan ini akan mengulas secara singkat perbedaan metode kerja ilmu alam, ilmu sosial, dan ilmu agama dalam kontribusinya dalam menyelesaikan masalah sosial.

Ilmu alam

Obyek kajian ilmu alam dan kinerjanya lebih jelas dan konsisten dibandingkan dengan ilmu sosial dan humaniora. Variabelnya relatif homogen dan statis sehingga keberhasilannya mudah diukur dan diramal (predictable). Dalam kajian ilmu alam, antara subyek yang meneliti dan obyek yang diteliti terdapat jarak dan perbedaan karakter yang jelas sehingga ilmu alam sering disebut sebagai hard science atau exact science. Kalaupun terjadi deviasi dan kesalahan dalam membuat kesimpulan mudah dievaluasi dan diverifikasi secara faktual-empiris sehingga dengan demikian para saintis pun mudah untuk sepakat ketika dihadapkan pada bukti empiris.

Pada tataran teknis-aplikatif, jasa ilmu alam yang paling nyata adalah dalam jasa kedokteran yang tidak membedakan ras, suku, dan agama. Jasa lainnya yang juga mencolok adalah dalam layanan teknologi transportasi dan informasi. Siapa pun orangnya, apa pun agamamya, mereka bukannya menolak jasa sains, sebaliknya malah rela mengeluarkan dana besar untuk memperolehnya. Dengan demikian, penyebaran produk sains dan sikap masyarakat dalam menerimanya lebih luas dan lebih lapang ketimbang penyebaran agama. Masyarakat modern tidak bisa hidup tanpa jasa sains dan teknologi, sekalipun tanpa agama.

Ilmu sosial

Adapun ilmu sosial dan humaniora antara subyek yang meneliti dan obyek yang diteliti batasnya kabur karena sama-sama manusia yang memiliki kehendak dan emosi yang selalu berubah-ubah. Variabelnya begitu banyak dan heterogen ketika kita hendak mempelajari dunia manusia. Tidak mudah membuat formula idealstate of society yang diterima dan disepakati oleh para ilmuwan sosial, bahkan juga oleh masyarakat pada umumnya. Meskipun begitu cara kerja serta hasil yang ditawarkan ilmu sosial masih mudah dievaluasi dan diverifikasi mengingat data dan pengalaman yang ditampilkan bersifat empiris-historis, sekalipun asumsi dan variabelnya begitu banyak. Setiap komunitas dan bangsa memiliki mimpi, ingatan kolektif, mitos, keinginan, dan agenda hidup yang tidak sama, yang selalu berkembang dinamis dari zaman ke zaman.

Dengan memanfaatkan jasa ilmu alam dan teknologi, ilmu sosial berusaha melakukan rekayasa sosial untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar manusia, terutama dalam aspek kesejahteraan sandang, papan, pangan, dan kesehatan sebagaimana yang diperjuangkan oleh ideologi sosialisme dan kapitalisme. Akan tetapi, kenyataannya, warga dunia yang miskin, kurang gizi, dan tunawisma masih ditemukan di mana-mana, sementara mereka yang hidup mewah juga semakin banyak.

Untuk mengatasi ini, maka ilmu sosial selalu berusaha keras agar bisa menghasilkan berbagai resep dan formula politik yang bertujuan membantu penyelenggaraan pemerintahan sebuah negara agar warganya terpenuhi dan terlindungi hak- haknya. Akan tetapi, lagi-lagi, peperangan dan berbagai bentuk penindasan manusia terhadap yang lain juga terjadi di mana- mana. Demokrasi yang oleh sebagian orang dianggap mantra suci dan sakti masih juga menyisakan problem sosial yang tidak bisa diselesaikan.

Jika ilmu alam berusaha menginterogasi obyek alam lewat laboratorium agar alam mengenalkan diri akan sifat-sifatnya sehingga terhimpun laws of nature, ilmu sosial pun berbuat serupa, yaitu melakukan penelitian mengenai apa yang menjadi sifat dasar manusia serta apa saja yang didambakan sepanjang sejarahnya sehingga terhimpun berbagai asumsi dan hasil penelitian empiris yang kemudian dikuantitatifkan. Namun, ternyata sistem nilai dan perilaku manusia berbeda-beda antara masyarakat yang satu dari yang lain dikarenakan faktor yang juga berbeda-beda. Karena itu, tidak ada satu grand theory dan paradigma ilmu sosial yang bersifat universal. Kalaupun ada, paradigma ilmu sosial pun tidak sesolid kaidah-kaidah ilmu alam.

Di Indonesia, pakar-pakar ilmu sosial, terutama dalam bidang ekonomi dan politik, mesti jujur dan rendah hati untuk mengakui kesalahan-kesalahan asumsi dan formula yang disodorkan kepada pemerintah yang ternyata tidak berhasil menyejahterakan rakyat. Resep dan formulanya pasti ada yang keliru. Saat ini, misalnya, kita sepertinya lagi heboh dan mabuk demokrasi, tetapi korupsi selalu saja terjadi, kualitas kehidupan kita menurun. Berbagai perangkat negara sudah komplet, tetapi bangsa ini seperti berjalan di tempat, padahal pengeluaran anggaran belanja negara semakin membengkak.

Ilmu agama

Asumsi, premis, dan cita ideal yang ditawarkan ilmu agama berbeda lagi. Ciri dan kekuatan pokok agama adalah kepercayaan atau iman kepada Tuhan dan kepada hal-hal metafisik. Agama hadir dengan himpunan norma-norma atau nilai kehidupan agar seseorang selamat di dunia dan kehidupan setelah mati. Setiap agama mengajarkan doktrin eskatologis (kehidupan setelah mati) dan keselamatan (salvation) yang kemudian disertasi konsep surga-neraka. Masuk surga adalah target dan tujuan akhir misi kehidupan, sekalipun ada yang mau membayarnya dengan menjalani hidup miskin dan meledakkan bom bunuh diri agar meraih surga.

Tak mudah merumuskan idealstate of society menurut ilmu agama karena yang selalu ditawarkan adalah himpunan nilai baik dan buruk yang bersumber dari wahyu (revelation). Menurut ajaran Islam, misalnya, tidak ada preferensi absolut apakah sebuah pemerintahan mau menerapkan model demokrasi, kerajaan, kapitalisme, sosialisme, ataupun yang lain. Yang penting butir-butir norma agama dilaksanakan. Begitu pun gambaran hidup setelah mati kita tidak mempunyai data empiris. Yang ada adalah sederet ancaman siksa neraka jika menabrak norma agama dan insentif kenikmatan surgawi sebagai ganjaran dari ketaatan melaksanakan tuntunan agama ketika hidup di dunia. Ketika berbicara surga-neraka, kitab suci pun menggunakan ungkapan metaporis karena sesungguhnya otak dan perasaan hanya akan mengetahui dan mengenal apa yang pernah dialami sebelumnya.

Salah satu kekuatan agama yang membuatnya selalu eksis sepanjang zaman adalah agama memberikan makna dan harapan ketika seseorang dihadapkan derita dan misteri hidup yang sulit diterima nalar, sementara ilmu tidak mampu menjawabnya. Dalam ungkapan lain, agama memberikan sense of meaning and purpose of life berdasarkan iman. Di sinilah salah satu kekuatan agama, yang oleh pengkritiknya di sini pula kelemahan agama yang dinilai memanipulasi derita dan misteri hidup dengan jawaban yang sangat metafisis-spekulatif.

Dalam relasi sosial, agama memiliki peran integratif bagi umatnya yang seiman, yang sekaligus juga peran disintegratif terhadap yang berbeda keyakinan imannya. Makanya, setiap agama cenderung eksklusif (to exclude), bukannya inklusif (to include) terhadap kelompok luar. Namun, sikap eksklusif ini bukan monopoli agama mengingat spirit sukuisme dan nasionalisme-chauvinisme juga memiliki kecenderungan serupa. Konflik antar- bangsa, suku, dan kelas akan semakin mengeras jika memperoleh amunisi dari spirit keagamaan sehingga semangat membela agama dan suku tidak bisa lagi dipisahkan.

Kohesivitas dan solidaritas iman berlangsung lintas negara dan bangsa, dan bisa mengalahkan loyalitas seseorang kepada bangsa dan negaranya. Makanya, kita melihat sepak terjang kelompok teroris yang mengaku memperjuangkan agama kiprahnya melintasi batas negara. Mereka telah mengalahkan rasa takut mati karena justru dengan kematian semakin dekat kepada cita-cita ideal tertinggi untuk masuk surga. Betulkah mereka masuk surga setelah membunuh dan mencelakakan banyak orang tidak bersalah, keyakinan dan klaim kebenaran itu tidak bisa diverifikasi sebagaimana yang berlaku dalam ilmu alam-ilmu sosial yang bersifat empiris.

Meskipun agama merupakan himpunan normatif dan sebagian lagi askriptif, banyak data dan fakta bahwa agama juga telah melahirkan pribadi-pribadi pejuang moral pencerah zaman. Akan tetapi, dalam konteks rekayasa sosial, di zaman modern ini koalisi hasil kerja ilmu alam dan ilmu sosial-humaniora jauh lebih memperlihatkan hasilnya ketimbang ilmu agama. Bahkan, untuk melaksanakan pesan dan tuntutan nilai agama, jasa ilmu sosial dan sains amat sangat diperlukan. Misalnya, pesan agama untuk hidup sehat, tanpa dukungan kinerja ilmu kedokteran sulit dilaksanakan. Begitu pun untuk memberantas kejahatan, agama sangat memerlukan institusi negara yang dirancang oleh ilmu sosial yang dipersenjatai oleh hasil kinerja ilmu alam.

Jadi, dengan esai singkat ini saya hanya ingin mengajak pembaca melihat ulang peran sosial agama yang kadang klaimnya begitu luas, agama dapat menyelesaikan semua persoalan hidup. Dunia akan beres dengan agama. Religion is a solution. Sementara yang mengemuka, ekspresi dan peran sosial agama di sejumlah wilayah justru destruktif, menjadi sumber keresahan dan keributan. Kita sepakat bahwa agama menawarkan nilai-nilai kebajikan hidup dan menjanjikan keselamatan akhirat. Namun, mengapa untuk meraih surga di akhirat ada yang mesti membayarnya dengan menciptakan kegaduhan dan ketakutan warga dunia? Lalu, peran sosial apa yang hendak ditawarkan? Jika yakin bahwa agama yang dianutnya datang dari Tuhan Yang Maha Mencintai dan Mengasihi penduduk Bumi, mestinya ekspresi keberagamaan seseorang akan jadi instrumen penyebar cinta kasih Tuhan terhadap sesamanya dalam rangka membangun kehidupan yang berkeadaban.

Pengalaman Indonesia

Dalam hal kehidupan sosial keagamaan, Indonesia sangat kaya dan unik. Agama telah mendorong lahirnya organisasi sosial keagamaan, bahkan juga partai politik, yang membantu peran negara dalam mendidik dan mencerdaskan warga negara. Negara sangat berterima kasih kepada agama sehingga dengan APBN negara memberikan dukungan finansial dan politik kepada berbagai institusi sosial keagamaan. Tokoh dan institusi sosial keagamaan juga memberikan dukungan dan masukan moral kepada pemerintah dan negara. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai ruang publik dan institusi negara dijadikan obyek kontestasi hegemoni agama karena sifat pemeluk agama yang cenderung eksklusif dan sulit menerima kritik. Yang muncul adalah relasi kalah-menang, padahal di antara mereka baru pemula dalam mempelajari agama. []

KOMPAS, 22 April 2016
Komaruddin HidayatGuru Besar Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah

Pyongyang yang Cantik

Oleh: Komaruddin Hidayat

Juni 1983 saya menghadiri Konferensi Jurnalis Internasional di Pyongyang, Korea Utara. Lantaran waktu itu tak ada rute penerbangan melalui China agar lebih pendek, saya mesti terbang melingkar Jakarta- Moskow-Pyongyang.

Sesampai di Pyongyang, saya baru sadar, pada konferensi ini yang hadir para jurnalis aliran kiri, pendukung blok Uni Soviet yang tengah menghadapi penetrasi kekuatan Islam Afghanistan melawan Moskow, yang terkenal sebagai perang Soviet versus Afghanistan 1979-1989 di mana Amerika Serikat (AS) berada di belakang Afghanistan.

Uni Soviet di bawah kepemimpinan Leonid Brezhnef ingin mempertahankan pemerintahan Marxis-Lenin di Afghanistan di bawah komando Presiden Karmal, namun gagal karena memperoleh perlawanan sengit dari pasukan Mujahidin yang dibantu AS dan Pakistan. Moskow dibuat kaget ketika menemui kenyataan bahwa banyak tentara Uni Soviet, bahkan juga anggota KGB, ternyata membelot membela Afghanistan karena hubungan etnis dan agama (Islam).

Seperti kita ketahui bersama, rakyat negara bagian Asia Tengah masih banyak yang diam-diam memegang tradisi dan keyakinan Islam. Oleh karenanya, ketika mereka dikirim untuk menumpas perlawanan Afghanistan, banyak yang membelot sehingga tahun 1989 Soviet menyatakan mundur, tetapi perang saudara di Afghanistan masih berlanjut sampai hari ini.

Waktu itu Korea Utara berpenduduk sekitar 22 juta jiwa dipimpin Presiden Kim Il-sung yang berkuasa selama 46 tahun, sejak Korut berdiri 1948 sampai kematiannya tahun1994. Pyongyang ibu kota Korut sangat cantik. Semuanya terawat rapi dan serba teratur. Namun di balik kecantikan kota dengan warganya yang serbateratur dan disiplin, berlaku kontrol tangan besi Kim Il-sung yang bertindak diktator militeristik.

Saya perhatikan wajah-wajah panitia yang berusaha melayani para tamu sebaik dan seramah mungkin, tidak mencerminkan keramahan asli dan spontan. Mungkin benar kata pengamat, perilaku warga Korut serbadiatur negara. Bahkan untuk tersenyum atau menangis di depan publik tidak bisa sembarangan. Saya memperoleh cerita dari guide tour, jika menyimpan uang yang tertera foto Kim Ilsung tidak boleh disaku celana bawah, foto wajahnya juga tidak boleh dilipat.

Lalu, jika melewati patungnya mesti berhenti sejenak untuk memberikan hormat. Kalau tidak, bisa-bisa akan mendapatkan hukuman karena antarmereka saling bertindak sebagai mata-mata negara terhadap sesamanya. Penguasa Korut berusaha meyakinkan rakyatnya bahwa negara mereka paling indah, paling sejahtera dan paling unggul. Dengan berbagai cara, rakyat dihalangi untuk mengetahui dunia luar sehingga praktis Korut merupakan negara dan masyarakat tertutup.

Korut dan Kuba mungkin dua negara yang masih setia melaksanakan doktrin Marxisme- Leninisme, sementara Uni Soviet sudah bubar karena hantaman gelombang kapitalisme dan demokratisasi sebagaimana China yang sudah mulai mengadopsi model kapitalisme Barat. Sekarang ini Korut dipimpin Kim Jong-un, cucu dari Kim Ilsung. Sebuah pemerintahan dinastiisme yang otoriter-tiranik. Korea merupakan negara yang terbelah dengan berakhirnya Perang Dunia II.

Lagi-lagi, aktornya adalah AS dan sekutunya, di pihak lain Uni Soviet bersama gengnya. Uni Soviet didukung China menduduki Korea Utara, AS mengendalikan Korsel. Nasib serupa yang jadi korban persaingan antara blok Barat dan Timur adalah Vietnam yang juga terbelah menjadi Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, juga Jerman yang terbelah menjadi Jerman Barat dan Jerman Timur, namun kini keduanya telah menyatu kecuali Korea.

Ketika berlangsung konferensi, saya diberi waktu untuk menyampaikan pandangan politik mengenai pendudukan Moskow atas Afghanistan. Tanpa banyak pertimbangan saya sampaikan bahwa saya tidak setuju. Kita mesti menghargai kemerdekaan bangsa dan negara lain. Pidato singkat saya tentu saja sangat tidak disukai forum sehingga ketika selesai konferensi saya diundang menjadi tamu di TASS Moskow, kantor berita Uni Soviet waktu itu.

Saya diceramahi mengapa Moskow mengintervensi Afghanistan, karena AS telah menjadikan Afghanistan sebagai pintu gerbang untuk mengganggu stabilitas Uni Soviet melalui wilayah selatan yang berbatasan dengan Pakistan. Saya ditunjuki peta dunia mengenai agresivitas dan ekspansi AS ke negara-negara sahabat Uni Soviet. Kenangan yang tersisa, Pyongyang kotanya cantik. Tapi rakyatnya tertekan. Jauh berbeda dari Korea Selatan yang lebih terbuka dan pengaruh budaya AS sangat kental.

Negara adidaya ini selalu berkecenderungan menguasai dan mengendalikan negara lain dengan berbagai cara, baik melalui kekuatan senjata, ekonomi maupun politik. Indonesia pun tak luput dari objek kontestasi negara-negara adidaya. []

KORAN SINDO, 15 April 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Mengajar Keluarga Adam Malik

Oleh: Komaruddin Hidayat

Suatu hari di tahun 1979, Prof Harun Nasution, masih Rektor IAIN Syarif Hidayatullah saat itu, memanggil saya untuk memberi pelajaran Islam bagi keluarga Wakil Presiden Adam Malik, terutama anak-anaknya.

Pak Adam Malik minta didatangkan guru agama ke rumahnya di Jalan Diponegoro, lalu Pak Harun mempercayakan tugas itu kepada saya. Mereka memerlukan guru agama dengan pendekatan rasional. Mereka lama tinggal di luar negeri. Orang-orangnya senang berdiskusi. “Tipikal orang Batak,” kata Pak Harun, “kamu yang cocok mengajari mereka.” Pengalaman bekerja sebagai wartawan dan pernah aktif di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) membuat saya cukup percaya diri menerima permintaan ini.

Sesuai jadwal, saya pun datang ke kediaman Adam Malik, Jalan Diponegoro 29. Karena ini tempat kediaman wakil presiden, ketika masuk mesti melewati pemeriksaan, ditanya KTP dan tujuannya apa. Penjagaan ketat, standar rumah pejabat tinggi negara. Saya menghadap Bu Endang, sekretaris Wapres, kemudian diantar ke ruang belajar. Keluarga sudah berkumpul di ruang terbuka dekat taman belakang. Sangat nyaman untuk ruang pertemuan keluarga.

Acara ini saya lakukan setiap hari Jumat, dimulai pukul 9 pagi. Saya mengajar untuk mereka sekitar empat tahun, mengajar layaknya memberi kuliah kepada mahasiswa. Saya buat silabus dan saya bagi buku rujukan pokok. Salah satunya buku Pengantar Studi Islam karya Miftah Farid yang berisikan tema-tema pokok ajaran Islam yang dia persiapkan untuk mahasiswa ITB (Institut Teknologi Bandung).

Peserta intinya adalah putra Pak Adam Malik, yaitu Otto, Budi, Ilham, Rini, dan beberapa keluarga dekat serta staf sekretariat, sehingga rata-rata 10 orang setiap pertemuan. Karena mereka pernah belajar dan tinggal di luar negeri, wawasannya terlihat luas dan terbiasa berdiskusi secara bebas.

Setiap datang ke rumah Wapres, penjaganya selalu berganti-ganti.
Mungkin mereka heran ketika saya lapor mau mengajar agama, mengingat penampilan saya bukan tipikal ustaz. Kesan saya, keluarga itu begitu kompak dan rukun. Senang berkumpul dan pergi bareng-bareng, termasuk juga salat Jumat pindah-pindah masjid di wilayah Jakarta.

Sosok Pak Adam Malik dan Bu Nelly bagaikan rumah tempat anak cucu berkumpul dan berteduh dalam suasana yang selalu hangat. Meski anak-anaknya sudah dewasa dan tinggal di rumah masing-masing, tetap saja rumah di Jalan Diponegoro seakan jadi rumah utama mereka. Jika muncul problem keluarga, orang tua ikut menyelesaikan. Saya sendiri ikut merasakan keakraban keluarga ini.

Sehabis salat Jumat lalu makan bareng sambil ngobrol ke sana kemari. Gosip-gosip politik dan anekdot yang lucu tak pernah lepas dari obrolan.
Pak Adam pernah bercanda, suatu saat temannya kehilangan jam di NewYork. Lalu Pak Adam Malik memberi respons, ”Wah, wah, rupanya ada juga orang Batak yang kerja di sini,” candanya. Saya surprised ketika Pak Adam Malik memberi buku tentang filsafat tasawuf yang rupanya pernah dibacanya. Antara lain tentang tokoh sufi Idries Shah dan buku yang membahas wahdatul wujud, konsep menyatunya sang hamba dan Tuhannya. Manunggaling kawula Gusti.

Lima tahun saya bergaul dekat dengan keluarga Pak Adam Malik. Pernah suatu hari dia menyatakan kekecewaan kepada Pak Harto, gara-gara mengetahui posisinya berakhir sebagai wapres hanya melalui berita surat kabar. Katanya, apa beratnya kalau Pak Harto memberi tahu langsung secara lisan, toh sama-sama teman seperjuangan, sebelum keputusan itu disampaikan ke publik. Ini tidak etis dan melukai persahabatan.

Sebelum menjabat wakil presiden untuk periode 1978-1983, Adam Malik (1917-1984) pernah menjabat duta besar RI (1959), juga pernah menjabat menteri luar negeri pada 1966-1978. Untuk mengenang jasa-jasanya, pada 5 September 1985 Ibu Tien Soeharto meresmikan rumah kediaman di Jalan Diponegoro 29 itu menjadi Museum Adam Malik. Semasa hidup Adam Malik, rumah di Jalan Diponegoro itu berfungsi lebih dari sekadar rumah tempat tinggal, melainkan juga museum pribadi yang menarik minat para pengunjung.

Banyak benda-benda antik seperti batu permata dan guci buatan China yang usianya cukup tua. Koleksi yang paling khas dan tak ada duanya adalah berbagai ragam bentuk dan merek kamera atau tustel yang dipakai sejak Pak Adam Malik meniti karier sebagai wartawan pada zaman prakemerdekaan. Lalu koleksi suvenir yang diterima selama berkarier sebagai diplomat.

Begitu banyak kenangan saya yang bersifat humanis dengan keluarga Adam Malik. Mereka kaya dengan cerita humor dan anekdot politik maupun kehidupan sehari-hari. Saya sendiri sejak itu merasa akrab dengan Istana Wapres dan sosok wapres penerus Adam Malik karena sering diminta memberi khotbah Jumat dan ceramah pada hari-hari besar keagamaan.

Pada 1985 saya meninggalkan Jakarta, meneruskan kuliah tingkat master dan doktor di Turki, sebuah pergulatan baru menjadi mahasiswa miskin dimulai lagi. Beredarnya berita bahwa museum Adam Malik mengalami kebangkrutan dan banyak koleksinya hilang membuat hati saya ikut teriris sedih. []

KORAN SINDO, 01 April 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah