Kita dan Wajah Suram Arab

Oleh: Komaruddin Hidayat

Sehabis menyaksikan gerhana matahari total di Palu, 9 Maret lalu, saya makan siang satu meja di rumah dinas gubernur Sulawesi Tengah bersama Jusuf Kalla dan Imam Daruquthny, intelektual Muhammadiyah; serta Farid Masdar Mas’udi, kiai intelektual Nahdlatul Ulama.

Jusuf Kalla (JK) mengatakan, para ilmuwan jauh-jauh hari sudah bisa menghitung, tanggal, jam, dan tempat kapan dan di mana gerhana matahari total bisa disaksikan. Ratusan ilmuwan asing berdatangan ke Palu untuk menyaksikan fenomena alam langka ini. Ternyata perhitungannya tepat. Jarak putar bulan dan matahari bisa dihitung secara ilmiah.

Lalu, dia bertanya kepada dua intelektual Muhammadiyah dan NU itu, apakah susahnya umat Islam Indonesia menentukan datangnya Ramadhan dan Idul Fitri? Tolonglah Muhammadiyah dan NU bermusyawarah mencari titik temu. Tentu masing-masing harus saling mengalah untuk memperoleh kesepakatan. Bukankah masalah khilafiah hukum selalu memungkinkan ditafsir ulang karena masuk wilayah ijtihadi? Anehnya, meskipun Muhammadiyah dan NU berbeda dalam menentukan awal Ramadhan dan Idul Fitri, mereka sepakat kembali merayakan tahun baru Hijriah. Ini tidak konsisten.

Dunia Arab

Menurut JK, kita mesti bersyukur, perbedaan dalam menentukan awal Ramadhan di Indonesia tentu saja tidak separah perbedaan yang terjadi di dunia Arab yang mengarah pada peperangan sesama Muslim. Jangankan bagi orang awam, para pengamat ahli Timur Tengah pun merasa kesulitan meramalkan kapan dunia Arab akan meraih kedamaian. Infrastruktur dan kebudayaan Arab yang dibangun ratusan tahun hancur hanya dalam hitungan dekade dan akan memakan waktu lama untuk memulihkan kembali. Itu pun kalau bisa.

Begitu banyak variabel yang membuat suasana politik Timur Tengah kian semrawut dan menyedihkan. Sedikitnya, menurut JK, terdapat tujuh akar persoalan pokok yang saling berkaitan yang tak mudah diselesaikan bersamaan.

Pertama, sentimen sukuisme yang mengakar kuat di dunia Arab sejak ratusan tahun lalu yang sewaktu-waktu berpotensi menimbulkan konflik dan peperangan. Kedua, kemunculan konflik baru gerakan rakyat pseudo-demokrasi versus penguasa tiran. Gerakan rakyat ini berhasil menumbangkan Presiden Tunisia Zainuddin bin Ali, disusul jatuhnya Presiden Mesir Hosni Mubarak, lalu pemimpin Libya Moammar Khadafy, Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, dan sebelumnya dengan sebab yang berbeda didahului kejatuhan penguasa Irak Saddam Hussein. Semua itu merupakan tsunami politik di Arab yang membuat wajah Timur Tengah dan Islam semakin suram, menakutkan, dan sekaligus mengenaskan.

Ketiga, konflik kelompok Sunni dan Syiah juga telah memicu krisis politik yang berkepanjangan di Timur Tengah, yang diwakili terutama oleh Arab Saudi dan Iran, yang hal ini juga menambah runcing fraksi di Palestina, antara Fatah dan Hamas. Keempat, ditemukannya sumber minyak tidak saja menjadi sumber kemakmuran, tetapi juga sumber konflik, baik sesama negara di Timur Tengah maupun kekuatan luar yang ikut berebut ladang minyak.

Kelima, konflik historis antara keluarga Hasyimiyah di Jordan yang dikalahkan keluarga Saudi setelah bubarnya Kerajaan Usmani, yang sekarang menjadi penguasa dua kota suci Mekkah dan Madinah. Keenam, kehadiran dan peran Israel yang didukung Barat, terutama Amerika Serikat, telah menjadi bisul yang selalu membuat suhu politik dunia Arab panas serta mengakibatkan derita berkepanjangan rakyat Palestina. Ketujuh, tidak adanya pemimpin kuat yang disegani di dunia Arab yang mampu menjembatani dan mendamaikan konflik sesama mereka serta memiliki lobi dan pengaruh kuat dalam panggung internasional.

Setelah keruntuhan Kesultanan Usmani akibat kalah dalam Perang Dunia I, dunia Islam Arab mengalami krisis kepemimpinan politik dan peradaban. Wilayah Arab dikapling-kapling oleh Inggris dan Perancis dengan batas wilayah yang tidak solid karena kebanyakan merupakan padang pasir. Namun, setelah tahun 1930-an ditemukan ladang-ladang minyak, perbatasan antarnegara berubah menjadi sangat penting. Meskipun mayoritas masyarakat Arab berbicara dengan bahasa yang sama, memeluk agama yang sama, ternyata kesamaan bahasa, agama, dan daratan tidak bisa menjadi pemersatu. Kabah di Mekkah yang menjadi kiblat sembahyang dan pusat umrah serta haji seluruh umat Islam belum mampu menjadi pemersatu masyarakat Arab. Fanatisme etnis dan kepentingan dinasti tetap saja memunculkan persaingan sengit.

Krisis Suriah yang berlangsung lima tahun terakhir kian menambah suram wajah Arab. Lebih dari 5 juta jiwa warga Suriah eksodus ke luar negeri, mayoritas ke Turki. Sekitar 300.000 jiwa tewas akibat konflik bersenjata. Ironisnya lagi, ratusan ribu imigran ini sebagian justru ditampung di negara-negara Eropa non-Muslim, korban dari peperangan sesama Muslim. Di tempat yang baru ini, tak mudah bagi mereka untuk beradaptasi dengan budaya dan hukum setempat sehingga menimbulkan masalah sosial.

Selama ini, keberadaan negara Israel saja sudah cukup membuat gaduh dunia Arab, kini ditambah lagi dengan kelahiran NIIS yang seakan menjadi saudara kandung Israel dalam membuat babak belur dunia Timur Tengah. NIIS tidak pernah menyerang Israel yang jelas-jelas melakukan agresi terhadap Palestina. Mengakhiri bincang-bincang seputar kegaduhan yang terjadi di Timur Tengah, JK mengutip tulisan George Friedman dalam bukunya, The Next 100 Years, ketika terjadi kekacauan di dunia Islam, khususnya di Timur Tengah, pemenangnya tetap saja Amerika Serikat.

Muslim non-Arab

Baik Yahudi, Nasrani, maupun Islam, ketika ketiga agama itu berkembang di luar ranah kelahirannya, telah mendorong lahirnya budaya dan peradaban baru, produk akulturasi dan sinkretisme antara nilai keagamaan dan budaya lokal. Sejarah mencatat, puncak peradaban Islam di abad tengah justru tumbuh berkembang di Iran, Irak, Spanyol, dan Turki. Di empat wilayah ini, Islam bertemu terutama dengan filsafat Yunani yang sangat menekankan pemikiran rasional, termasuk masalah ketuhanan dan kenegaraan.

Merasa tertantang oleh pendekatan filosofis-rasional dan radikal warisan Aristotelianisme, lahirlah pemikir-pemikir Muslim bintang zaman, misalnya Farabi, Alkindi, Ibnu Sina, Imam Ghozali, Ibnu Rusyd, dan beberapa nama lain. Mereka bersikap kritis apresiatif terhadap peradaban non-Arab yang pada urutannya melahirkan peradaban sintetik dengan basis keislaman. Zaman itu sering dipandang sebagai masa keemasan peradaban Islam. Jadi, yang dinamakan peradaban Islam sarat dengan muatan unsur peradaban non-Arab dan non-Islam, dengan cirinya yang humanis, rasional, dan universal.

Kehadiran Islam ke Indonesia yang kemudian dipeluk mayoritas rakyat sungguh merupakan keajaiban sejarah. Banyak teori yang memberikan penjelasan rasional mengapa wilayah Nusantara menjadi kantong umat Islam terbesar di dunia. Salah satunya adalah melalui jalur perdagangan. Rempah-rempah menjadi daya tarik pedagang Muslim dari Timur Tengah datang ke Nusantara sambil menyebarkan agama. Jika teori ini betul, faktor anugerah alam memiliki peran signifikan dalam penyebaran Islam di Indonesia. Sesungguhnya tak hanya Islam, agama lain dan ideologi dunia pun berkembang subur di bumi Nusantara ini. Dengan kata lain, sejak dulu bumi Nusantara ini telah menarik orang luar datang ke sini terutama dengan motif ekonomi yang diikuti penyebaran agama, entah Hindu-Buddha, Islam, atau Kristen. Bahkan, sekarang Konghucu pun ditetapkan sebagai agama. Yang juga fenomenal, ideologi komunisme yang anti agama pun pernah berkembang luas di Indonesia yang kini digantikan oleh ideologi kapitalisme global.

Jadi, di bumi Nusantara ini sejak ratusan tahun memang telah terjadi kontestasi antar-agama dan ideologi asing. Dalam hal agama, Islam tampil sebagai pemenangnya. Namun, dalam panggung ekonomi, posisi Islam tergeser. Meskipun demikian, jangan sampai kontestasi antar-komunitas agama dan ideologi lalu mengarah pada konflik dan saling menghancurkan seperti yang terjadi di dunia Arab. Sekali perang dan saling bunuh dimulai, tak pernah akan dilupakan oleh masing-masing pihak serta sulit untuk dihentikan. Berarti kita menciptakan neraka untuk diri kita sendiri. Sebaliknya, mari menjadikan kehidupan beragama di Indonesia yang menempuh jalan moderat dan damai menjadi inspirasi dan kontribusi pada dunia. []

KOMPAS, 28 Maret 2016
Komaruddin Hidayat | Guru Besar Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah

Rumahku Surgaku

Oleh: Komaruddin Hidayat

Rasulullah pernah bersabda, rumahku surgaku. Baiti jannati. Ungkapan ini akan sangat dipahami dan dirasakan oleh mereka yang merintis kerja di Jakarta yang dimulai dari nol seperti yang saya alami ketika masuk Jakarta tahun 1974 tanpa agenda jelas.

Saya membeli rumah melalui kredit Bank BTN pada tahun 1983, ukuran 54 meter persegi, selama 15 tahun, lokasi di Pamulang, Tangerang Selatan. Salah satu kemewahan yang dirasakan ketika seseorang memiliki rumah sendiri adalah adanya zona privasi, hidup terasa merdeka ketika berada di rumah. Dan lagi terbebas dari bayar kontrakan setiap bulan atau tahun.

Sekecil apa pun, yang namanya rumah pribadi jauh lebih indah dan nikmat ketimbang tinggal di rumah kontrakan sekalipun lebih besar dan bagus kondisinya. Konon katanya, memiliki rumah pribadi hasil jerih payah sendiri jauh lebih nikmat ketimbang tinggal di rumah warisan orang tua. Saya sadar betul, kalau tidak nekat mengambil kredit BTN, sulit dibayangkan kapan akan punya rumah sendiri.

Tidak mungkin menunggu tabungan cukup untuk membeli rumah. Penghasilan dari gaji PNS waktu itu sekitar Rp50.000, angsuran bulanan Rp36.000. Untunglah istri saya, Ait Choeriah, juga bekerja sebagai PNS sehingga ikut membantu kebutuhan dapur. Dengan tanggungan dua anak dan seorang pekerja rumah tangga, hidup di Jakarta sebagai pegawai negeri mesti punya ketahanan mental tinggi.

Mesti kreatif mencari penghasilan tambahan. Cara termudah adalah mengajar di luar tugas utama di IAIN Syarif Hidayatullah. Kalau diputar kembali memori pergulatan hidup berkuliah sambil mencari biaya sendiri, lalu berumah tangga, kemudian nekat mengambil kredit rumah, saya sendiri heran, kok berani membuat keputusan yang menantang.

Tapi setelah berlalu, justru semua itu menjadi kekayaan mental yang indah dan lucu untuk dikenang. Kata orang, jika sudah memiliki rumah sendiri di Jakarta, berarti 50% beban hidup teratasi. Saya percaya saja ungkapan itu sebagai motivasi. Cara paling baik adalah menciptakan tantangan.

Berumah tangga pun kalau menunggu cukup modal harta dan punya rumah sendiri, bisa jadi mesti menunggu sampai tua atau malah akan hidup membujang. Karena pernah berkarier sebagai wartawan, saya jadinya banyak tahu bahwa orang-orang yang sekarang sukses pun dulunya merintis dari bawah. Kalangan Tionghoa yang banyak menguasai perekonomian Indonesia dulunya datang ke Nusantara bermodal tekad dengan menaiki perahu tongkang.

Tapi karena mereka gigih, tekun, dan tahan banting, banyak yang kemudian masuk deretan orang terkaya di Indonesia. Tradisi kerja keras ini diwariskan secara turun-temurun. Orang Inggris punya ungkapan bijak, it is easy to build a house, but not home. Membangun rumah dalam arti fisik adalah mudah. Yang sulit adalah membangun kehidupan rumah tangga.

Oleh karenanya kita tidak kaget, ada rumah tangga yang secara materi berlimpah, rumah mewah, tetapi kehidupan keluarganya tidak bahagia. Sebaliknya, banyak keluarga yang tinggal di rumah yang sederhana, tetapi hidupnya bahagia. Pendidikan anak-anaknya sukses. Hidup terhormat di tengah lingkungannya. Tentu saja yang ideal adalah lahir-batin, moril-materiil sukses.

Selamat dan bahagia dunia-akhirat. Orang tua sering membuat ungkapan, rumah tangga itu ibarat tempat berlabuh, melepaskan semua rasa penat dan gelisah. Mungkin saja ungkapan itu muncul karena nenek moyang kita banyak yang mencari nafkah sebagai pelaut. Atau pedagang lintas pulau yang selalu menghadapi ancaman ombak ganas, cuaca panas, dan meletihkan.

Makanya, yang paling didambakan adalah berlabuh, melepas rindu kumpul dengan keluarga dalam suasana aman dan nyaman. Bagi mereka yang tinggal di kota besar semacam Jakarta, suasana kerja dan lalu lintas kadang kala juga tidak kalah ganas dari lautan. Hidup penuh persaingan, lalu lintas macet, ancaman narkoba dan kejahatan selalu membayangi.

Jika rumah tangga tidak menawarkan kedamaian, sebesar dan sebagus apa pun bangunan rumah, mimpi indah memiliki rumah sendiri sebagai basis kehidupan rumah tangganya tak akan tercapai. Alhamdulillah, meski tembok bangunan rumah yang saya angsur melalui BTN terbuat dari batako, kami sekeluarga merasa memiliki istana sendiri.

Tak lagi hidup di rumah kontrakan yang sempit, sumur dengan airnya yang kadang keruh dan mesti berbagi dengan tetangga. Sekecil dan sejelek apa pun rumah sendiri yang sudah permanen, isian kartu tanda penduduk (KTP) juga ikut permanen, tidak nomad. Namun sejak tahun 2000 kami lalu pindah ke rumah baru yang lebih dekat dengan kampus, masjid, rumah sakit, dan kuburan. []

KORAN SINDO, 25 Maret 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Pertama Kali ke Luar Negeri

Oleh: Komaruddin Hidayat

Sebagai orang kampung dari keluarga miskin, pengalaman pertama kali ke luar negeri dengan pesawat terbang sungguh merupakan pengalaman tak terlupakan. Bahkan sejak proses mengurus paspor hatiku sudah berbunga-bunga.

Waktu itu saya mewakili Pengurus Besar HMI menghadiri seminar kebudayaan Islam di Kuala Lumpur, Malaysia. Persisnya pada bulan April 1980. Saya datang bertiga bersama Sahar L Hasan, sekarang aktivis Partai Bulan Bintang (PBB), dan Harry Azhar Azis yang sekarang menduduki jabatan sebagai ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Karena Malaysia dan Indonesia sama-sama menggunakan bahasa Melayu, yang paling mengesankan adalah naik pesawat terbang ke luar negeri sekalipun jarak penerbangan Jakarta-Kuala Lumpur hanya dua jam. Saya bertemu dengan dua sosok intelektual dan aktivis Malaysia yang sangat populer dan disegani. Pertama Prof Naquib al-Attas, kedua Anwar Ibrahim. Saya membeli dua buah buku Naquib yang berulang kali saya baca ulang karena isinya yang cukup mencerahkan, yaitu Islam and Secularism serta Islam dan Peradaban Melayu.

Prof Naquib melakukan kritik epistemologis sangat mendasar terhadap filsafat Barat yang telah memengaruhi dunia Islam. Dia menawarkan agenda Islamisasi ilmu pengetahuan untuk menangkal proses sekularisasi pemikiran yang meracuni generasi muda Islam. Adapun di buku kedua, Naquib menjelaskan sumbangan bahasa dan peradaban Melayu terhadap penyebaran Islam di Indonesia.

Dikatakannya, terjadi hubungan simbiosis antara penyebaran Islam, bahasa Melayu, dan dinamika perdagangan yang pada urutannya baik Islam maupun bahasa Melayu dengan cepat menyebar ke wilayah Nusantara dengan pusatnya di kota-kota pantai. Budaya pantai yang egaliter juga sejalan dengan karakter Islam dan bahasa Melayu, berbeda dari budaya pedalaman serta karakter bahasa Jawa atau Sunda yang mempertahankan strata sosial.

Dengan ditetapkannya bahasa Melayu sebagai bahasa Indonesia, komunikasi sosial berlangsung egaliter dan bahasa Indonesia juga menjadi pengikat kohesi berbangsa dengan masyarakatnya yang sangat majemuk. Salah satu efek pengalaman pertama ke luar negeri yang saya rasakan kala itu adalah munculnya keinginan dan lamunan, kapan bisa ke luar negeri berikutnya?

Bagi keluarga yang berkecukupan, liburan ke luar negeri tentu bukan acara yang menghebohkan. Tapi bagi saya yang masih berstatus mahasiswa, bisa ke Malaysia atas sponsor donatur HMI merupakan kebanggaan tersendiri yang ternyata menjadi pemula untuk jalan-jalan ke
luar negeri pada tahun-tahun berikutnya.

Sampai hari ini saya ingat-ingat sedikitnya 40 negara pernah saya kunjungi, baik sebagai wartawan, undangan seminar maupun untuk rekreasi. Sayang sekali saya tidak membuat catatan tertulis dan lengkap saat menjelajahi berbagai kota dunia dan bertemu dengan orang-orang yang menginspirasi hidup saya. Misalnya sebagai tamu Muammar Qadafi, diterima dalam kemah di halaman istananya. Ketika pulang diberi uang lalu saya belikan dasi dan parfum karena uang Libya sulit dibelanjakan di luar negaranya.

Dulu hubungan antara Indonesia dan Malaysia saya rasakan hangat dan akrab. Sama-sama rumpun Melayu yang memiliki banyak kesamaan. Indonesia dianggap saudara tua yang disegani. Banyak guru dan dosen Indonesia diundang ke sana untuk membantu meningkatkan kualitas pendidikan mereka. Tapi dengan berjalannya waktu, Malaysia yang saat ini berpenduduk sekitar 30 juta banyak membuat terobosan dalam bidang pendidikan yang pada urutannya mendongkrak perbaikan ekonomi negaranya.

Sebagai bagian dari negara persemakmuran Inggris, bahasa Inggris masih dipertahankan, bahkan dijadikan bahasa pengantar dalam pembelajaran di kampus, sehingga sangat membantu mempermudah kerja sama keilmuan dengan negara-negara Barat, terutama Inggris dan Australia. Ini berbeda dari Indonesia yang pernah dijajah Belanda, yang kemerdekaannya diraih melalui pertempuran, sehingga bahasa Belanda pelan-pelan hilang. Di samping pula bahasa Belanda memang tidak menonjol sebagai bahasa ilmiah dan bahasa diplomasi dalam panggung global. []

KORAN SINDO, 18 Maret 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Mengajar dengan Hati

Oleh: Komaruddin Hidayat

Selaku dosen junior di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 1981, setiap masuk ruang kuliah untuk mengajar saya berusaha menata hati. Tidak cukup hanya menguasai materi ajar, tetapi ke ruang kelas mesti membawa cinta.

Hati mesti gembira. Saya ingat salah satu sabda Rasulullah: Barangsiapa menyampaikan ilmu Allah pada orang lain dengan ikhlas, maka gantian Allah yang akan menjadi gurunya, mengajari ilmu yang belum diketahuinya. Itu saya yakini sejak masih di pesantren sampai hari ini. Bahwa mengajar hendaknya diniati sebagai ibadah, dilakukan dengan ikhlas, kemuliaan ilmu itu jangan ditukar dengan gaji.

Kalaupun terima gaji, itu upah sebagai pegawai negeri sipil (PNS) yang dibayarkan oleh negara. Jika diniati sebagai ibadah, Allah akan memberi imbalan dengan cara-Nya sendiri, di luar gaji PNS. Tentu ini merupakan keyakinan iman. Di samping sebagai karyawan pemerintah, jauh lebih penting lagi saya ingin menjadi karyawan Tuhan sehingga yang akan saya dapatkan bukan saja rezeki yang halal dan berkah, namun juga Allah akan membukakan jalan untuk memperoleh ilmu baru.

Mengajar dengan hati itu akan terasa ringan dalam melakukannya, dan lagi akan menimbulkan jalinan yang lebih akrab dengan mahasiswa. Yang demikian itu saya rasakan dan amati setiap mengikuti kuliah almarhum Prof Dr Harun Nasution. Pak Harun selalu menolak menghadiri undangan seminar jika bentrok dengan jadwal mengajar. Mengajar dan bertemu mahasiswa selalu menjadi prioritas.

Pak Harun terlihat semakin antusias memberi kuliah jika mahasiswa aktif bertanya secara kritis. Mahasiswa yang diam, tak pernah bertanya, tidak berarti dia pintar, katanya. Sebaliknya, mungkin tidak tahu apa yang akan ditanyakan, atau tidak tahu dan tidak berani bagaimana bertanya. Pak Harun selalu mengoreksi jika mahasiswa salah membuat pertanyaan, tanpa mempermalukan. Ilmu pengetahuan itu tersembunyi di balik pertanyaan yang kritis dan mendasar.

Pertanyaan yang serius dan sistematis namanya research. Sebuah pencarian kebenaran terhadap objek yang diriset. Jadi, dengan bertanya mahasiswa akan mendapatkan informasi lebih banyak lagi dari dosen. Ini mirip dengan pepatah lama, malu bertanya sesat di jalan. Pelajar dan mahasiswa Indonesia memang kalah aktif dalam mengajukan pertanyaan dibanding hasil pendidikan di Barat yang sejak awal siswa diajari bersikap asertif. Menyampaikan perasaan dan pikirannya dalam forum secara jujur. They are thinking loudly.

Berpikir sambil berbicara. Kalau masyarakat Timur cenderung thinking silently. Tetapi kita tidak tahu persis, apakah diam berarti berpikir atau pasif. Sepanjang pengalaman memberi kuliah, mahasiswa strata satu kebanyakan enggan mengajukan pertanyaan kritis pada dosen. Kalaupun ada hanya sedikit jumlahnya. Tetapi jika dosen membiasakan dan mengondisikan sejak awal, suasana kuliah akan berubah. Menjadi cair dan lebih hidup.

Salah satu cara paling efektif adalah memberi tugas pada mahasiswa untuk menyampaikan hasil kajiannya terhadap topik tertentu, lalu diperdalam dan diperkaya oleh dosen. Keengganan bertanya dan mendebat guru ini mungkin sekali dipengaruhi oleh pendidikan sewaktu di SMP dan SMA, khususnya di pesantren, di mana guru adalah pembicara, murid adalah pendengar. Guru adalah sosok yang paling tahu, yang tidak mungkin ilmunya dilangkahi oleh murid.

Murid masuk kelas layaknya celengan yang siap diisi oleh guru, lalu dicatat, dihafal, dan nanti dikeluarkan untuk menjawab pertanyaan dalam ujian. Pola menghafal untuk bersiap menghadapi ujian masih cukup menonjol dalam pendidikan kita. Padahal, yang lebih penting itu proses memahami dan latihan menyelesaikan masalah agar terbentuk sikap kritis kreatif, bukan berpikir repetitif, mengingat dalam realitas kehidupan ini akan ditemui masalah dan tantangan baru.

Guru-guru kita kurang mendidik para siswa untuk berimajinasi, keluar dari pakem berpikir yang ada. Rasa kagum dan mencintai profesi guru atau dosen, rasanya sudah merupakan panggilan hati sejak kecil. Kata orang bijak, seorang guru itu memberikan yang terbaik dan termahal dari apa yang dimiliki untuk anak-anak bangsa. Jika orang kaya menolong orang lain dengan memberikan sebagian kecil hartanya, seorang guru memberikan hati, pikiran, dan jiwanya.

Mereka mesti tampil sebagai role model bagi muridnya, guru artinya digugu lan ditiru, mendidik mereka agar berbudi luhur, berpengetahuan luas, bisa mandiri, dan berani menghadapi masa depan yang kita semua belum tahu dan belum mengalami. Mirip ungkapan Khalil Gibran, orang tua, termasuk guru, hendaknya berperan bagaikan busur yang mampu melepaskan anak panahnya untuk melesat jauh ke depan, melampaui dan meninggalkan dirinya.

Anak-anak kita akan menjadi anak zamannya. Mereka berumah di masa depan. Guru dan orang tua hanya bisa mengantarkan dan membayangkan, tetapi tidak bisa menyertai dan tidak bisa menengoknya. Sampai hari ini saya percaya bahwa jika guru mengajar dengan hati, maka murid juga akan mendengarkan dengan hati, bukan sekdar masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Bahkan ada yang mengatakan, masuk telinga kanan keluar lagi dari telinga kanan.

Makanya, kalau seseorang ingin menyampaikan pengumuman, dimulai dengan kalimat: Saudara-saudara sekalian, mohon per-hati-an…. []

KORAN SINDO, 11 Maret 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah