Menjadi Sarjana

Oleh: Komaruddin Hidayat

Sekitar empat dekade yang lalu, menyandang titel sarjana dari perguruan tinggi negeri (PTN) itu sangat membanggakan dan jaminan diterima sebagai pegawai negeri sipil (PNS) bagi yang berminat. Bagi orang tua pada umumnya, kalau anaknya sudah tamat kuliah dan meraih titel sarjana, maka langkah berikutnya adalah masuk menjadi PNS.

Dalam pandangan masyarakat kampung, menjadi PNS itu merupakan idaman tertinggi. Orang tua sering berkata, PNS itu tiap bulan pasti panen, tidak kenal musim kemarau atau musim hujan seperti yang dialami para petani.

Sawahnya tidak pernah dimakan tikus. Penghasilannya ajeg, setiap bulan terima gaji. Makanya banyak orang tua yang menginginkan anak atau menantunya bekerja sebagai pegawai negeri. Tapi sekarang keadaan sudah berubah.

Untuk diterima menjadi PNS, peluangnya semakin sempit. Saking banyaknya peminat, sering terbetik berita bisik-bisik bahwa untuk bisa diterima mesti membayar uang koneksi minimal Rp50 juta.

Pada tahun 80-an ketika tamat kuliah dari IAIN, jumlah pegawai negeri di kampung saya, Pabelan, Magelang, tak melebihi jumlah jari tangan. Salah satunya adalah ayah saya, Imam Hidayat, seorang tentara berpangkat prajurit, katanya sebagai hadiah dari keikutsertaannya bergerilya melawan Belanda dan Jepang. Sekolahnya setingkat SD pun tidak tamat. Ayah saya perangainya sangat halus, sangat jauh dari kesan seorang militer.
Saya tidak pernah bercerita pengembaraanku sampai berhasil jadi sarjana. Setahunya, saya bekerja di Jakarta. Yang selalu saya lakukan hanyalah minta doa restu semoga selamat lahir-batin bekerja di Ibu Kota.

Menjelang tamat dari IAIN, almarhum Prof Harun Nasution, waktu itu menjabat rektor, meminta agar saya nantinya mau bergabung menjadi dosen, berarti masuk PNS. Sebuah tawaran yang menggembirakan, meskipun saya tidak terlalu antusias karena sudah menikmati bekerja di dunia jurnalistik. Sejak kecil, saya memang mencintai profesi guru. Kenangan masa kecilku tentang guru begitu indah, damai, dan terhormat. Masih mudah mengingat kembali guru-guru SD yang telah menjadi bagian dari perjalanan intelektual saya, antara lain Pak Djumali, Bu Ambar, Pak Sugriwo, Pak Suratmin, Pak Suparman, Bu Romlah. Kadang muncul keinginan berjumpa dan mencium tangan mereka sebagai tanda hormat dan terima kasih, sekalipun saya tahu mereka sudah meninggal. Sering terpikir, sebagai seorang dosen ataupun guru, apakah kesan dan penilaian mahasiswa terhadap saya?

Sampai hari ini, jumlah sarjana ilmu sosial di Indonesia jauh lebih banyak dibanding ilmu-ilmu alam dan teknik sehingga kekayaan alam yang sedemikian melimpah belum bisa dieksplorasi secara efektif oleh putra-putra bangsa sendiri. Konon ceritanya, Bung Karno banyak mengirimkan putra-putri bangsa terbaik belajar ke negara blok Uni Soviet untuk mendalami ilmu teknik dan nuklir, agar kekayaan alam Nusantara dikelola oleh bangsa sendiri. Tetapi mimpi Bung Karno itu berantakan dengan terjadinya tragedi Gestapu, dan setelah itu kiblat pendidikan kita beralih ke Barat, di mana ilmu sosial jadi primadonanya. Sumber alam dieksplorasi dan dikuasai oleh modal asing (Barat).

Dari sekian banyak program studi, rasanya hanya kedokteran yang paling jelas keahliannya. Begitu tamat langsung bekerja sebagai dokter. Sebagai sarjana Ilmu Perbandingan Agama, saya sendiri merasa tidak jelas profesi apa yang paling tepat. Saya mempelajari berbagai agama dan filsafat, namun tidak cukup mendalam. Mirip profesi wartawan, merasa mengetahui banyak hal tetapi serbasedikit. Sok tahu. Untunglah saya senang membaca buku ilmu-ilmu sosial, meskipun hanya pengantar, sehingga sangat membantu untuk melakukan intellectual adabtability dan mencari titik temu serta interkoneksitas antardisiplin ilmu. Ini sangat diperlukan mengingat kehidupan ini pada kenyataannya merupakan sebuah jejaring yang saling berkaitan (the web of life).

Sebagai sarjana Ilmu Perbandingan Agama, suatu keniscayaan untuk mempelajari psikologi, antropologi, sosiologi, dan sejarah, mengingat semuanya itu sangat instrumental untuk memahami perkembangan agama dari masa ke masa.

Diperlukan interdisiplin ilmu untuk mengkaji beragam ekspresi dan praktik keberagamaan dalam masyarakat, sejak dari yang menonjolkan aspek sufisme sampai gerakan fundamentalisme-radikalisme yang ingin mendirikan kekhilafahan dan senang mengafirkan kelompok lain yang berbeda mazhab. Jadi, praktik keberagamaan itu melahirkan banyak mazhab dan wajah.

Bagi orang luar, siapa pun alumni IAIN dianggap ahli ilmu keislaman. Padahal, Islam sebagai warisan peradaban dan studi keilmuan, dibagi ke dalam banyak cabang dan ranting sebagaimana tecermin dalam banyaknya jumlah fakultas dan program studi UIN (Universitas Islam Negeri) hari ini.

Oleh karena itu, muncul candaan dan kritik terhadap alumni IAIN yang bergelar S Ag atau Sarjana Agama, lalu dipelesetkan menjadi Sarjana Alam gaib, karena yang dibicarakan seputar akhirat, atau Sarjana Acan gawe, karena sulit cari pekerjaan.

Dengan berubahnya IAIN menjadi UIN, dari institut ke universitas, banyak kajian dibuka, khususnya di UIN Jakarta, seperti kedokteran, ekonomi, psikologi, politik, sains, yang diintegrasikan dengan studi keislaman sebagai sarana mobilitas intelektual anak-anak santri agar memiliki kecakapan teknokratik. Tapi sangat disayangkan, pihak Kemenristek-Dikti tidak paham atau tidak ingin memahami agenda integrasi keilmuan ini sehingga kurang sportif pada agenda UIN untuk membuka prodi sains, misalnya jurusan Pertambangan atau Geologi yang jelas-jelas dibutuhkan oleh kaum santri agar ikut serta mengeksplorasi dan mengelola kekayaan alam negeri tercinta ini.

Dunia perguruan tinggi sekarang ini tidak lagi hanya menekankan diri sebagai Teaching University, tetapi sudah bergerak menjadi Research University. Bahkan beberapa perguruan tinggi sudah berada dalam tahapan Entrepreneurial University. Masing-masing memiliki standar dan karakter tersendiri. []

KORAN SINDO, 26 Februari 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Menjadi Wartawan

Oleh: Komaruddin Hidayat

Di Jakarta, kuliah sambil bekerja atau bekerja sambil kuliah, rupanya tidak sulit dijalani. Banyak keluarga di kota besar yang memerlukan guru privat untuk mengajari matematika dan agama untuk anak-anaknya.

Tentu ini peluang bagus bagi mahasiswa yang terjun bebas ke Jakarta seperti saya yang tidak mendapatkan dukungan uang dari keluarga di kampung karena memang tidak mampu. Pagi saya kuliah, sorenya mengajar privat agama dan aktif bakti sosial di Kompleks Mabad, Rempoa, tak jauh dari kampus.

Di kompleks ini saya dikenal layaknya pelaksana tugas pengurus RK (rukun kampung) yang mengurus KTP dan berbagai kepanitiaan acara sosial. Semuanya saya jalani dengan riang. Yang penting saya bisa kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah, sebuah dunia baru yang sangat menggairahkan.

Keberhasilanku terdaftar sebagai mahasiswa pada perguruan tinggi negeri sungguh merupakan hiburan dan anugerah hidup di luar perhitungan nalar mengingat agenda pertama saya ke Jakarta mau bekerja sebagai buruh, apa pun jenis pekerjaannya yang penting halal untuk menopang hidup mencari pengalaman di Ibu Kota.

Saya tercatat sebagai mahasiswa IAIN angkatan 1974 yang berlokasi di Ciputat, wilayah perkampungan yang masih sepi dan sangat tenang saat itu. Berkat aktivitasku di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Cabang Ciputat, saya berkenalan dengan senior saya, Farid Hadjiri, yang kuliah sambil bekerja sebagai wartawan Panji Masyarakat di bawah kepemimpinan almarhum Buya Hamka.

Dari perkenalan inilah sebuah jalan baru terbuka. Saya sampaikan ke Mas Farid, saya ingin belajar dan bekerja sebagai wartawan. Sejak dari pesantren saya sudah terbiasa menulis dan membuat mading atau majalah dinding. Bahkan Kiai Hamam Ja’far (alm) mewajibkan menulis buku harian dan seminggu sekali menyusun karangan lepas yang kemudian dijadikan bahan latihan pidato (muhadharah) di depan teman-teman. Setelah berlalu belasan tahun saya baru sadar bahwa membiasakan menulis akan berpengaruh untuk berpikir sistematis, ekonomis, dan terstruktur.

Demikianlah, tahap awal saya diajak melihat dan mendampingi Mas Farid melakukan wawancara tokoh sambil memegang kamera. Ketika hasil wawancara terbit di majalah, otakku mengingat kembali dan merenungkan tahapan proses dari awal wawancara sampai tersajikan dalam rubrik majalah, dengan disertai foto. Hatiku berkata, saya pasti bisa bekerja sambil kuliah sebagai wartawan, minimal sebagai reporter karena saya sudah terbiasa menulis esai.

Pikirku, wartawan itu keren, bisa bertemu tokoh-tokoh hebat, pekerjaan bisa dilakukan di luar jam kuliah. Sosok lain yang menginspirasi saya merambah dunia wartawan adalah Fachry Ali, sesama mahasiswa IAIN angkatan ‘74 yang juga aktif di HMI Ciputat. Sejak mahasiswa Fachry Ali rajin menulis puisi, naskah drama, dan menulis opini di surat kabar. Saya, Fachry Ali, disusul Iqbal Saimima (alm) dan Azyumardi Azra akhirnya bergabung sebagai wartawan Panji Masyarakat sambil kuliah dan aktif di HMI.

Terdapat korelasi positifproduktif antara professi wartawan dan dunia mahasiswa. Sebuah kerja semi-intelektual yang mendatangkan uang, memperluas pengetahuan dan pergaulan yang sekaligus juga memperkaya wawasan sebagai aktivis mahasiswa. Dengan pengalaman jurnalistik meliput acara-acara seminar nasional dan internasional, duduk di kelas mendengarkan kuliah dosen terasa ringan dan mudah membuat kesimpulan.

Mungkin pengaruh dari pengalaman bertemu berbagai tokoh nasional, muncul kesombongan membuat penilaian siapa dosen yang berbobot dan siapa dosen yang ilmunya pas-pasan. Siapa dosen yang rajin membaca dan mengikuti buku-buku mutakhir, dan siapa dosen yang hanya mengandalkan buku teks lama.

Berdekatan dengan Buya Hamka, seorang ulama dan pujangga besar yang semua novelnya pernah saya baca, sungguh sangat membanggakan dan menambah rasa percaya diri saya bekerja sebagai wartawan majalah Panji Masyarakat . Penyajian majalah dituntut memiliki bobot ilmiah dan mendalam, beda dari surat kabar berita.

Suatu pengalaman yang tak pernah lupa, suatu hari saya membuat janji wawancara dengan Dr Taufik Abdullah, sejarawan ternama, seputar Islam dan politik di Indonesia. Mungkin kurang percaya dengan penampilan saya, justru dia yang memulai mengajukan pertanyaan pada saya:

”Pernah membaca buku karangan saya? Apa kesan saudara tentang buku itu?” Langsung saya jawab dengan lancar dan percaya diri isi buku Islam Indonesia sehingga Taufik Abdullah berkata,”Baik, wawancara bisa kita mulai. Saya percaya pada kemampuan saudara untuk memahami pikiran saya.”

Pengalaman serupa ternyata saya temui lagi ketika wawancara Bang Ali Sadikin, Gubernur DKI waktu itu. Dia mengajukan pertanyaan, berupa jumlah penduduk Jakarta, apa problem terbesar yang dihadapi masyarakat Jakarta? Rupanya dia ingin menjajaki kesiapan intelektual saya untuk berdiskusi dan menangkap pemikirannya seputar kehidupan sosial Ibu Kota.

Sekian narasumber yang pernah saya wawancarai seperti Juwono Sudarsono, Sarlito Wirawan Sarwono, Suryanto Puspowardoyo, sampai sekarang masih terjalin persahabatan intelektual. Figur-figur yang telah meninggal yang semasih hidup pernah saya wawancarai dan terjalin persahabatan layaknya guru dan mahasiswa antara lain Mochtar Lubis, Ruslan Abdul Gani, Andi Hakim Nasution, Adam Malik, Slamet Iman Santoso, dan beberapa tokoh lain.

Mereka semua telah menularkan virus intelektual, bahwa saya tidak boleh berhenti sebagai wartawan yang membuat janji untuk wawancara. Suatu saat wartawan yang mencari dan menemui saya untuk minta wawancara, tekadku kala itu. []

KORAN SINDO, 12 Februari 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Mengapa Mudah Marah?

Oleh: Komaruddin Hidayat

AKHIR-AKHIR ini masyarakat kita mudah marah, bahkan mengamuk dan tega membunuh teman sendiri. Tentu alasan mereka beraneka ragam. Secara psikologis, orang marah itu bisa jadi disebabkan beberapa hal, yaitu merasa tersinggung atau dihinakan, kepentingan terancam oleh pihak lain, merasa dizalimi dan dirugikan, iri dan dengki, merasa keamanan dan kenyamanan hidup terancam, sakit jiwa, terprovokasi, terbawa arus perilaku kelompok karena dorongan solidaritas, pesanan dengan imbalan uang, motif berjuang membela Tuhan menurut versi keyakinannya, dan ketika jalan damai dan nalar sehat gagal untuk menemukan solusi persengketaan.

Mungkin saja terdapat motif dan penyebab lain seseorang mudah marah. Dorongan marah dan mengamuk itu mudah terekspresikan manakala seseorang bergabung dalam kelompok yang masif, sementara pemerintah atau pemimpin masyarakat lemah, lengah, dan kehilangan wibawa.

Biasanya seseorang akan berpikir ulang untuk melakukan tindak kekerasan kalau sendirian, tapi akan muncul keberanian kalau bergabung ke dalam kelompok. Itu disebabkan perilaku kelompok cenderung emosional dan menggeser nalar sehat.

Melawan ketidakadilan

Sejarah mencatat berbagai pergolakan sosial biasanya dilakukan mereka yang merasa teraniaya atau dizalimi kelompok lain yang lebih kuat. Perasaan teraniaya itu jika membesar dan mengental akan menjadi sikap perlawanan yang pada urutannya akan menjelma menjadi kekuatan militan yang tidak takut risiko apa pun, termasuk risiko kematian.

Itu terjadi dulu semasa perjuangan perlawanan penjajah Belanda, yang hari ini juga dilakukan para pejuang Palestina melawan hegemoni Israel, atau dulu ditunjukkan warga Vietnam melawan tentara Amerika. Perjuangan manusia mencari keadilan, meraih kemerdekaan, dan perubahan nasib selalu muncul sepanjang sejarah.

Konsep keadilan dan kemerdekaan memang tidak mudah didefinisikan. Namun, mereka yang terzalimi dan terjajah tak perlu penjelasan ilmiah karena langsung merasakan dan mengalami secara nyata dan autentik sehingga melahirkan energi untuk marah dan melakukan perlawanan sesuai dengan kemampuan dan keberanian.

Jadi, jika di berbagai tempat terjadi gejolak dan konflik sosial, sebaiknya kita jangan buru-buru menghakimi, tapi mengkaji secara jernih, mendalam, dan objektif apa sesungguhnya akar permasalahannya sehingga seseorang atau sekelompok masyarakat marah dan mengamuk. Namun, yang lebih penting lagi ialah pemerintah bersama tokoh masyarakat bergandengan tangan mencegah agar tidak terjadi benturan fisik.

Kita semua saudara yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga kerukunan dan kedamaian rumah kita, Indonesia. Belum cukupkah pelajaran pahit akibat perang saudara yang terjadi di Mesir, Libia, Irak, Yaman, dan Suriah? Sekali konflik fisik terjadi, sungguh tidak mudah untuk mengakhiri dan mendamaikan. Itu akan menyisakan luka dalam yang sewaktu-waktu akan terasa perih dan kambuh kembali.

Konflik keagamaan

Belakangan ini keresahan dan konflik sosial yang muncul justru berakar pada paham keagamaan, terutama yang terjadi di Timur Tengah yang berimbas ke Indonesia, misalnya, antara kelompok penganut mazhab Sunni dan Syiah, yang akar persoalannya lebih pada perebutan akses politik dan ekonomi.

Di Indonesia yang sejak awal masyarakatnya sudah sangat plural dari segi budaya, agama, dan aliran kepercayaan, perbedaan keyakinan agama ini mestinya tidak dijadikan alasan untuk bertikai, mengancam, dan menafikan yang lain. Kalau pun agama terlibat dalam konflik antarkelompok, pasti ada faktor-faktor politik dan ekonomi yang dominan. Situasi akan semakin runyam jika pemerintah melakukan pembiaran atau tidak segera meredam.

Misalnya, kelompok Ahmadiyah, mengapa baru sekarang diributkan? Dunia ini semakin plural. Jika hanya karena perbedaan keyakinan agama lalu menimbulkan konflik sosial, saya kira ke depan masyarakat kita akan dibuat lelah dan marah terus-menerus karena perbedaan dan keragaman pendapat semakin banyak dan membesar.

Hubungan dan benturan antarkelompok yang berbeda frekuensi akan semakin naik. Teknologi internet merobohkan batas-batas komunikasi antarpenduduk Bumi. Terlebih, jika pengaruh asing ikut bermain dalam satu konflik regional, kehidupan beragama ikut terganggu. Ekspresi keberagamaan yang akan menonjol ialah konflik dan ritual, bukannya kekuatan peradaban yang mencerdaskan dan menyejahterakan umat dan bangsa.

Membatasi dan memonopoli suatu paham keagamaan tentu tidak mudah karena menyangkut pengalaman, pikiran, dan keyakinan seseorang. Dalam hidup keberagamaan, terdapat aspek metafisik, pengalaman hidup, mazhab pemikiran, keyakinan, solidaritas kelompok, pengaruh budaya, dan politik yang saling berkelindan.

Mengendalikan dan mengklaim satu keyakinan agama juga sangat sulit mengingat pemahaman agama itu dinamis dan tidak ada instansi yang memiliki hak paten layaknya sebuah produk teknologi. Dalam kasus pemalsuan dan pembajakan produk teknologi, misalnya, pihak yang dirugikan bisa langsung menggugat ke lembaga pengadilan.

Namun, bagaimana kalau ada pihak-pihak yang mempunyai tafsiran keagamaan baru yang dipengaruhi paham mainstream? Siapa yang paling berhak mengontrol dan melarang? Aktivitas fisik bisa saja dikontrol, tapi pikiran, keyakinan, dan ideologi tak akan bisa ditaklukkan secara fisik. Problem dan fenomena itu ke depan akan semakin bermunculan.

Dalam konteks masyarakat Barat yang sekuler, munculnya paham dan perbedaan itu tidak begitu menjadi masalah karena agama diposisikan sebagai urusan pribadi. Negara tak akan mencampuri. Yang penting tidak melanggar undang-undang negara dan tidak mengganggu orang lain.

Pembiaran?

Berita yang muncul akhir-akhir ini ialah masyarakat dengan dalih menjaga kemurnian agama sering melakukan ancaman dan pengusiran terhadap mereka yang dianggap mengikuti ajaran sesat atau berbeda dari paham mainstream. Itu dilakukan secara berkelompok sehingga pemerintah, khususnya aparat kepolisian, merasa kewalahan atau melakukan pembiaran.

Di situ nalar sehat dan spirit persaudaraan telah tergusur oleh kemarahan. Mengusir mereka yang berbeda paham dianggap menodai keyakinan mayoritas, sedangkan memusuhi mereka diyakini sebagai amal saleh untuk membela dan memuliakan Tuhan.

Sekali lagi, kita tidak bisa mengekang pikiran dan keyakinan seseorang. Namun, paham keberagamaan yang menghalalkan darah orang yang tidak berdosa atau merusak hubungan baik dalam keluarga dan masyarakat pasti akan memancing kemarahan dan kebencian masyarakat. Pemerintah wajar turun tangan. Agama merupakan sumber perdamaian dan peradaban, bukan mesin perang. Namun, selama mereka tidak melakukan provokasi dan menciptakan keresahan sosial, tidak dibenarkan mereka diperlakukan seperti penjahat. Jangan-jangan pemerintah dan jajaran ulama serta kaum intelektual juga ikut-ikutan bingung. []

MEDIA INDONESIA, 01 Februari 2016
Komaruddin Hidayat | Guru besar Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Proeksistensi

Oleh: Komaruddin Hidayat

Candi Borobudur yang berada di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, oleh UNESCO ditetapkan sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia.
Sekalipun candi ini merupakan warisan Hindu-Buddha yang dibangun sekitar abad ke-7, masyarakat sekelilingnya mayoritas beragama Islam, termasuk mereka yang bekerja sebagai penjaga keamanan, penjual suvenir, pemandu wisata, dan pekerja lain yang berkaitan dengan Borobudur.

Oleh karena itu, sulit dipahami oleh masyarakat Islam sekitar ketika dulu pernah ada orang meledakkan bom dengan tujuan untuk menghancurkan monumen sejarah ini dengan alasan akan merusak akidah umat Islam.

Patung-patung itu dianggap berhala yang diharamkan untuk disembah. Padahal, jangankan agama Islam, agama Hindu-Buddha pun tidak mengajarkan menyembah batu.

Orang Islam yang bertawaf mengelilingi Kakbah dan berebut mencium Hajar Aswad juga bukan memuja Kakbah.

Terbayang, andaikan Borobudur ini berada di Timur Tengah, mungkin sekali telah dihancurkan oleh kelompok Taliban atau pun ISIS karena mereka memang rendah apresiasinya terhadap warisan dan monumen sejarah. Sekian banyak warisan budaya keagamaan, termasuk gereja yang usianya ratusan tahun, merekahancurkan.

Karena terlahir dan tumbuh dewasa di daerah Magelang, saya merasakan dan melihat sendiri betapa masyarakat di sana hidup damai dalam keragaman agama dan budaya. Di sana terdapat pusat pendidikan seminari Katolik yang terkenal di tingkat Asia Tenggara, yaitu di Muntilan dan Mertoyudan.

Tak jauh dari situ terdapat pondok pesantren tua yang tersohor, misalnya saja Pesantren Watucongol, Pesantren Pabelan, Pesantren Tegalrejo, dan Pesantren Payaman. Di Muntilan juga terdapat bangunan Kelenteng Konghucu tertua di Indonesia. Jadi, Magelang merupakan daerah titik temu berbagai agama dan budaya tua yang semuanya hidup damai, berdampingan, dan tidak saling menghancurkan, yang saya istilahkan proeksistensi, bukan sekadar koeksistensi.

Akhir-akhir ini muncul suasana batin sebagian umat Islam yang selalu menekankan perbedaan yang mengarah pada kebencian dan permusuhan terhadap kelompok umat beragama lain. Bahkan terhadap sesama muslim hanya karena berbeda mazhab, mereka mudah melakukan kekerasan. Perlu kita sadari bahwa ajaran dasar Islam itu satu, namun memungkinkan muncul tafsiran yang berbeda, sehingga melahirkan beragam mazhab.

Namun, ajaran dasarnya tak pernah berubah sejak zaman Rasulullah sampai hari ini. Sejak dari doktrin bagaimana salat, puasa, zakat, dan haji, semuanya sama dan tak berubah. Tetapi ketika menyangkut kekuasaan politik yang berimplikasi pada keuntungan ekonomi, muncullah ketegangan dan pertikaian antarkelompok.

Situasi ini semakin memburuk ketika ada kekuatan luar yang mendompleng mengambil keuntungan. Apa yang terjadi di Timur Tengah dan Indonesia selalu terkena dampaknya, akarnya adalah persaingan politik-ekonomi dan kekuasaan dengan melibatkan kekuatan asing, Amerika dan Rusia.

Khususnya di wilayah Magelang, saya mengalami sendiri. Dulu perbedaan agama dan mazhab itu tidak menimbulkan perpecahan dalam keluarga dan masyarakat. Namun, akhir-akhir ini umat beragama di berbagai kawasan cenderung menjadi sensitif dan pemarah ketika melihat perbedaan. Berbeda itu tidak bisa dinafikan, bahkan kini kian membesar dengan hadirnya revolusi teknologi informatika, terutama internet. Kalau kita tidak siap menghadapi maka jangan-jangan keberagamaan justru akan menjadi pemicu keresahan dan perpecahan masyarakat. Agama bukan memperkuat negara, melainkan malah jadi beban negara.

Kalau setiap perbedaan, lalu disikapi dengan penindasan dan ancaman, ini menunjukkan negara gagal melindungi dan mendidik warganya untuk hidup damai saling menghormati. Lebih dari itu, kalangan intelektual dan ulama berarti gagal menawarkan jalan damai bagi umatnya yang bertikai. Kesimpulan akhir bisa mengarah bahwa umat beragama, termasuk partai keagamaan, lebih disibukkan oleh percekcokan ketimbang memajukan peradaban, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat.

Slogan Bhinneka Tunggal Ika dan Islam sebagai rahmat hanya berhenti sebagai pernyataan verbal. Ini mesti menjadi keprihatinan kita semua, jangan sampai organisasi semacam ISIS yang merupakan urusan internal Irak dan Suriah menjalar ke Indonesia. Apa urusan kita dengan ISIS?

Pertanyaan serupa juga berlaku dengan ide mendirikan kekhalifahan, yang sesungguhnya bagi umat Islam Indonesia tidak relevan. Karena umat Islam Indonesia justru memiliki prestasi politik yang luar biasa, yaitu ikut mendirikan Republik Indonesia, bukan negara agama, bukan negara sekuler, bukan pula sistem dinasti atau khalifah sebagaimana yang masih berlaku di Timur Tengah.

Dulu di Indonesia berdiri banyak kesultanan yang kemudian bergabung masuk dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jadi, isu dan agenda kekhalifahan yang diusung ISIS tidak relevan untuk gerakan Islam Indonesia. []

KORAN SINDO, 29 Januari 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Pesantren

Oleh: Komaruddin Hidayat

Sejak awal mula, pesantren merupakan pusat pendidikan keagamaan di daerah perdesaan yang dipimpin seorang kiai. Dari segi bahasa, kata pesantren dan kiai yang berasal dari bahasa Sansekerta sudah menunjukkan produk akulturasi budaya Islam dan Hindu. Santri artinya pelajar, tempatnya disebut pesantren. Lembaga pendidikan pesantren memiliki keunikan tersendiri yang masih bertahan sampai hari ini. Di situ ada figure sentral yang disebut kiai, bagaikan sumber mata air keilmuan yang menarik para santri berdatangan dan tinggal di asrama berdekatan dengan rumah kiai.

Di zaman penjajahan, pesantren merupakan basis perlawanan terhadap penguasa, baik karena alasan agama maupun membela Tanah Air. Penjajah Belanda waktu itu diidentikkan dengan orang kafir (Kristen) dan pesantren di mata penjajah diposisikan sebagai basis perlawanan umat Islam terhadap penguasa. Oleh orang kota, komunitas pesantren sering kali dipersepsikan sebagai orang kampungan karena memang lahir dan besar di kampung, bahkan belajarnya juga di kampung.

Oleh orang kota, mereka dianggap tidak terpelajar—padahal kata santri itu sendiri berarti pelajar— hanya karena orang pesantren waktu itu umumnya buta huruf dan buta bahasa Eropa. Di pesantren yang dipelajari hanyalah kitab-kitab klasik berhuruf Arab yang kertasnya sudah menguning sehingga popular dengan sebutan kitab kuning, yaitu kitab keagamaan yang dikarang oleh ulama klasik. Mayoritas pesantren dimiliki kiai yang berafiliasi kepada NU.

Adapun Muhammadiyah lebih fokus membangun lembaga pendidikan model sekolah yang kebanyakandidirikandiperkotaan sehingga warga Muhammadiyah sering dipersepsikan sebagai orang-orang modernis dan warga NU sebagai orang-orang tradisionalis. Lembaga pendidikan Muhammadiyah dimiliki oleh perserikatan, sedangkan lembaga pesantren umumnya dimiliki oleh pribadi kiainya.

Seiring dengan perkembangan zaman, dunia pesantren banyak mengalami perubahan. Pembedaan dikotomis pemahaman keagamaan antara warga Muhammadiyah dan NU juga mengarah pada konvergensi. Dunia pesantren mulai mengadopsi sistem sekolah, sementara beberapa sekolah Muhammadiyah mengadopsi sistem pesantren meskipun jumlahnya lebih banyak pesantren yang mulai memberlakukan sistem sekolah di pagi harinya.

Karena ciri pesantren ditandai dengan adanya sosok kiai, kualitas dan popularitas kiai sangat menentukan terhadap kualitas dan popularitas pesantrennya. Kurikulum pendidikan pesantren berlangsung selama 24 jam di bawahpengawasandanbimbingan kiai dan para pembantunya yang disebut ustaz atau guru. Model pendidikan seperti itulah yang saya masuki setelah tamat SR (sekolah rakyat), yaitu Pondok Pesantren Pabelan, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi pesantren itu hanya 10 menit bila ditempuh dengan berjalan kaki dari rumah saya.

Sebelum masuk pesantren, ayah saya menyuruh belajar pertukangan kayu di STK (Sekolah Teknik Kanisius) Muntilan. Namun tidak sampai setahun saya keluar karena merasa kurang tertarik, di samping mesti jalan kaki ke kota. Ketika almarhum Kiai Hamam Ja’far membuka Pesantren Pabelan pada 1965, saya bersama 28 santriwansantriwati berbaur di kelas yang sama, merupakan santri angkatan pertama. Pusat belajar kami di serambi masjid, dilengkapi meja dan bangku layaknya sebuah ruang kelas. Meski begitu kami belajar sangat serius.

Para guru atau ustaz masuk kelas dengan mengenakan dasi. Kami belajar sangat disiplin. Malam hari pun kadang ada kelas. Setidaknya ada jam wajib belajar. Hidup di pesantren dari bangun tidur sampai mau tidur diatur dengan jadwal. Beberapa nilai pesantren yang merupakan living values serta selalu dijaga dan ditaati adalah, pertama, persaudaraan.

Bayangkan saja, setiap hari 24 jam berkumpul, belajar, dan hidup bareng selama beberapa tahun, maka terbentuk suasana persaudaraan yang akrab. Di pesantren pantang terjadi perkelahian. Risikonya dikeluarkan. Kedua, kesederhanaan. Di pesantren tumbuh suasana hidup sederhana.

Santri dikondisikan untuk merasa malu kalau bermewah diri melebihi saudaranya yang lain dengan membanggakan kekayaan orang tuanya. Ketiga, cinta ilmu. Belajar di pesantren tidak ditanamkan untuk mengejar ijazah. Kalaupun ada ujian, itu bagian dari belajar, bukan belajar untuk lulus ujian. Oleh karenanya di pesantren mencontek itu aib besar. Keempat, berwawasan luas. Kami diajari untuk menatap kehidupan lebih luas karena panggung kehidupan yang telah menanti tidak sebatas ruang kelas.

Dunia itu luas, isinya sangat beragam. Jangan mudah kagetan (terkejut), jangan mudah gumunan (silau dan kagum), janganmudah membenci. Kelima, mandiri. Di pesantren kami selalu diingatkan agar bisa dan berani hidup di atas kaki sendiri. Jangan bermentallembek, selaluinginmencari sandaran dan belas kasih orang. Pekerjaan apa pun mulia di mata Allah asal halal dan tidak merepotkan orang lain. Keenam, ikhlas.

Jalanilah hidup dengan ikhlas, jangan ciut hati ketika dicela dan dikritik, jangan pula lupa diri ketika dipuji. Setialah pada hati nurani karena hati nurani penghubung terdekat kepada Allah. Demikianlah, angkatan pertama santri Pondok Pabelan hanya bertahan empat tahun yang semuanya memang berasal dari Desa Pabelan. Satusatu selepas itu keluar. Ada yang bekerja sebagai kusir andong, ada yang bertani, berjualan martabak di kota, menjadi sopir truk, kondektur bus, membantu administrasi pesantren, jadi ibu rumah tangga, dan lainlain.

Saya sendiri lalu pindah meneruskan ke Madrasah Aliyah Al-Iman, Muntilan. Saya hanya setahun di sekolah yang baru ini semata untuk mendapatkan ijazah setingkat SLTA. Tanpa ijazah SLTA saya tak mungkin diterima sebagai mahasiswa. Terima kasih pesantren, kau laksana ibu kandungku yang telah mendidik dan membesarkan diriku. Saya sedih dan prihatin ketika ada beberapa teroris yang membawa-bawa nama pesantren, padahal setahu saya para kiai itu sangat menekankan kedamaian, kerukunan, dan keramahan sekalipun terhadap mereka yang bukan muslim.

Justru karena sikap kiai yang seperti itu, dulu Islam sangat mudah diterima masyarakat perdesaan di Pulau Jawa yang semula beragama Hindu-Buddha atau penganut kepercayaan lokal. []

KORAN SINDO, 22 Januari 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Anak Kampung

Oleh: Komaruddin Hidayat

Khususnya di Pulau Jawa, suasana kampung dulu dan sekarang sudah banyak berubah. Saya terlahir di Kampung Pabelan, dekat Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, akhir 1953. Dalam rentang waktu 60 tahunan, banyak yang sudah berubah, sekalipun banyak pula yang masih sama. Jumlah penduduk desa bertambah banyak, namun dari segi ekonomi dan pendidikan tidak banyak berubah. Sawah-sawah di perdesaan Jawa semakin sempit, belum setelah dibagi-bagi pada anak-anak sebagai ahli warisnya, sementara sektor industri hampir-hampir tidak berkembang, khususnya di daerah Magelang.

Sampai tamat SLTA praktis saya habiskan umur saya di Desa Pabelan, baik untuk belajar di tingkat sekolah dasar —dulu namanya SR (Sekolah Rakyat)— maupun sekolah lanjutan di Pesantren Pabelan. Tumbuh sebagai anak di kampung, yang mengasuh seakan seluruh warga kampung karena orang tua saling mengetahui dan menjaga keselamatan anak-anak, sehingga ke mana pun anak pergi bermain, orang tua tidak merasa khawatir. Anak kampung itu tak ubahnya ayam kampung.

Pagipagi dilepas dari kandangnya, sore akan kembali dengan sendirinya dengan perut kenyang. Kelebihan ayam kampung itu bisa cari makan sendiri di kebun, tidak mudah terserang penyakit, daging dan telurnya lebih mahal harganya disbanding ayam negeri yang hidupnya dimanjakan. Untuk menyalurkan kebutuhan bermain bagi anak kampung sangatlah murah dan mudah. Semua alat yang dibutuhkan bisa dibuat sendiri dengan bahan yang tersedia.

Misalnya membuat layanglayang, mobil-mobilan dari kulit jeruk, petasan bambu dengan karbit, main gobak sodor, gundu, adu menyelam di sungai, adu jangkrik, dan masih banyak permainan lain yang sekarang tidak lagi populer. Semasa kecil, masjid merupakan pusat berkumpulnya anak-anak baik untuk bermain di halamannya yang luas maupun di ruang serambi. Bahkan sekali-sekali kami tidur di masjid. Kami belajar membaca Alquran tidak menunggu disuruh siapa pun, tetapi secara suka rela kami belajar di masjid dengan guru yang juga dengan suka rela mengajari kami.

Seiring berjalannya waktu, suasana damai perdesaan yang kami alami dulu sekarang sudah berubah. Listrik masuk desa sungguh sangat signifikan pengaruhnya. Kehadiran televisi telah mengurangi atau mengalihkan aktivitas anak-anak untuk bermain di luar rumah. Saya tak lagi melihat permainan anak-anak yang dahulu sangat populer dari ujung ke ujung desa.

Jumlah sekolah dasar meningkat dengan bangunannya yang permanen. Beberapa remajanya mulai mengenal kehidupan kota, sebagian bekerja sebagai buruh di kota, pekerja bangunan dan jasa angkutan umum. Saya sulit menduga-duga, apa yang menjadi mimpi anak-anak remaja kampung yang dari segi pendidikan mayoritas hanya tamat SD, sebagian kecilnya lagi hanya SMP. Pasti mereka tidak tahu apa itu MEA, Masyarakat Ekonomi ASEAN, tidak juga bonus demografi, yang justru akan menjadi beban jika usia angkatan kerja kitamiskinpendidikan, skill, dan gizi.

Orang tua sering kali bercerita betapa susahnya hidup di zaman Belanda dan Jepang. Tanpa disadari, cerita pahit kenangan masa lalu itu bisa memengaruhi mental miskin warga desa serta tahan banting. Bahwa kondisi sekarang jauh lebih baik ketimbang zaman dulu. Kalaupun di dunia kita kalah, kemenangan di akhirat sudah menunggu asal kita sabar dan tawakal kepada Allah. Kehidupan desa yang saya rasakan semasa kecil, hidup itu sekadar untuk bertahan dan menapaki hari tua sembari berdamai dengan nasib.

Ketika pengaruh kota masuk desa, terutama melalui televisi dan banyak warga kampong yang mulai bekerja di kota, apa pun pekerjaannya, tembok isolasi mulai terbuka. Kemiskinan semakin dirasakan sebagai penyiksaan, tidak bisa lagi dijinakkan dengan membandingkan semasa penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang.

Cerita-cerita masa lalu tidak lagi populer, menghilang bersama beragam permainan semasa kecil saya dulu. Yang kemudian muncul adalah tontonan gebyar artis sinetron dan penyanyi dangdut yang mendadak populer dan kaya, yang mungkin sekali menstimulasi anak-anak kampung untuk bermimpi bagaimana mengubah nasib.

Saya sendiri merasa beruntung berhasil menerobos tembok isolasi kampung, lalu bergulat berguru kehidupan di Jakarta sejak 1974. Tetapi setiap pulang kampung, yang muncul adalah rasa empati dan kasihan melihat kondisi perdesaan yang masih tertindas oleh kemajuan kota. Dalam konteks nasional, pemerintah kita memang tidak punya master plan bagaimana membangun perdesaan di Pulau Jawa yang padat penduduk ini. []

KORAN SINDO, 08 Januari 2016
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah