Yesus dan Muhammad

Secara teologis, kehadiran sosok sejarah bernama Yesus sebagai peletak dasar agama Nasrani dan Muhammad sebagai peletak dasar agama Islam telah memberikan sumbangan sangat besar pada peradaban dan sejarah manusia sejagat. Pengaruh mereka masih berlangsung terus sampai hari ini.

Berdasarkan perhitungan statistis-demografis, pengikut dua agama tersebut menempati urusan terbesar, di luar kualitas dan loyalitas pengikut dalam menjalankan ajaran secara benar dan konsekuen.

Nama Yesus dan Isa menurut sebuah kajian historis ialah sosok yang sama, dengan sebutan yang berbeda semata karena pergeseran ucapan.

Isa, Yesaa, Yeshua, Yesus kesemuanya menunjuk pada aktor sejarah yang sama. Perubahan ucapan itu mirip dengan apa yang terjadi pada pemain bola dari Afrika atau Arabia, setelah pindah ke Eropa lalu berubah nama panggilannya seperti Zainuddin menjadi Zidan, Yusuf jadi Joseph, Ibrahim menjadi Abraham. Begitu pun beberapa nama Mehmet di Turki atau Memet di Sunda aslinya ialah Muhammad. Di Indonesia Timur, Abdurrahman bisa berubah menjadi Bedu Amang.

Karena kelahiran Muhammad jauh di belakang Yesus, yaitu 671 M, logis dan wajar saja jika pencatatan riwayat hidupnya lebih komplet dan transparan di mata sejarawan. Tak ada sejarah rasul Tuhan yang riwayat hidupnya tercatat sedemikian komplet kecuali Nabi Muhammad. Bahkan ucapannya yang dianggap autentik dan yang palsu pun terdokumentasikan dengan baik.

Dalam riwayat hidup Yesus banyak penggalan yang sulit ditelusuri sejarawan. Termasuk kompilasi dokumen tertulis ajaran yang disampaikan yang kemudian dihimpun dalam Kitab Injil.

Terlebih sosok Rasul Tuhan seperti Adam, Idris, Nuh, dan Sulaiman, para sejarawan kesulitan menemukan dan mengumpulkan informasi riwayat hidup mereka secara lengkap dan autentik. Itu semata alasan historis, bukan substansi kebenaran ajaran mereka karena semua nabi membawa ajaran dari sumber yang sama, Tuhan semesta alam.

Di luar perdebatan dan tafsiran terhadap ajaran yang diwariskan para rasul Tuhan, kedua sosok Yesus dan Muhammad telah menginspirasi dan menggerakkan jutaan bahkan miliaran orang untuk memperjuangkan cita-cita hidup berlandaskan moralitas agung. Sebuah moralitas yang berasal dari Tuhan yang kemudian menjadi hukum kemanusiaan universal. Tak ada sosok sejarah yang sangat dicintai umatnya, dijadikan model keteladanan hidup, bahkan umatnya rela mati jika kemuliaannya dihinakan, kecuali Yesus dan Muhammad.

Ironisnya, karena perbedaan paham, penafsiran, dan kepentingan politik dari para pengikutnya, pernah terjadi Perang Salib, perang antara pemeluk Nasrani dan Islam. Padahal, asal usul agama itu ialah dari Tuhan yang sama yang mengajarkan cinta kasih dan perdamaian.

Perbedaan paling fundamental antara pemeluk Nasrani dan Islam terletak pada penafsiran dan keyakinan posisi Yesus. Bagi umat Islam, Yesus atau Isa ialah rasul Tuhan sebagaimana sosok rasul yang lain, dengan mengajarkan keimanan dan akhlak mulia.

Umat Islam akan dicap kafir jika mengingkari kerasulan Yesus atau Isa. Umat Islam akan juga marah jika Yesus sebagai rasul Allah dihinakan martabatnya dan diingkari ajarannya.

Namun, bagi umat Kristiani, Yesus diyakini sebagai Juru Selamat yang dalam dirinya Allah bertajali dan berinkarnasi, menyatunya Sang Tuhan dan hamba, mirip pengalaman spiritual kalangan sufi. Hanya, dalam dunia sufi, tajali Allah itu hanya sesaat, sedangkan dalam Yesus bersifat permanen sejak kelahirannya. Maka, terkenal ungkapan bahwa Yesus sebagai jalan keselamatan yang telah mengalahkan dosa manusia, yang tidak mungkin mampu manusia mengalahkan dosa itu, kecuali Tuhan sendiri yang menjelma dalam manusia Yesus demi keselamatan manusia. Yesus sang penebus dosa.

Jadi, sesungguhnya baik Yesus maupun Muhammad keduanya sebagai ‘juru selamat’, tapi dalam konsep dan formula yang berbeda. Keduanya merupakan instrumen Allah untuk melakukan misi keselamatan dan kebahagiaan hidup manusia. Dalam konteks Yesus, iman Kristen meyakini penyatuan Tuhan dan Yesus dalam menaklukkan dosa manusia. Yesus ialah firman yang hidup mendunia. Jesus is the way. Paham yang ortodoks, Jesus is the only way.

Dalam konteks Muhammad, kehadiran Allah melalui firman-Nya yang terhimpun dalam Alquran. Jadi, Alquran ialah firman yang kemudian tertulis, lalu Muhammad sebagai perantara dan juru tafsirnya.

Karena mengingat Yesus dan Muhammad lebih daripada sekadar tokoh sejarah, melainkan figur metahistoris yang direspons dengan sikap iman oleh pengikut mereka, pembahasan terhadap kedua tokoh itu mesti dibedakan, apakah kita akan mendiskusikannya dalam jalur historis-ilmiah ataukah akan mendekati secara iman. Ini dua hal yang berbeda.

Sikap yang pertama banyak dilakukan ilmuwan di Barat sekalipun belum tentu sebagai pribadi yang taat beragama. Mereka mengkaji semata sebagai riset ilmiah. Pendekatan kedua, yakni sikap dan pilihan iman, sudah tentu justru hanya akan menimbulkan tengkar jika umat Islam dan Kristen memaksakan keyakinan masing-masing agar diterima pihak lain.

Keyakinan beragama itu melampaui nalar matematis. Tidak mungkin ditemukan pendapat dan kesimpulan akhir yang sama dan seragam. Makanya kata religions selalu berkonotasi plural, jamak, karena di muka bumi memang terdapat pluralitas agama yang tidak mungkin dilebur menjadi satu.

Sekali lagi, karena faktor kesejarahan, sejarah Muhammad memang lebih terang benderang di mata kritikus sejarah. Riwayat hidupnya, sejak lahir sampai wafat, semua mudah ditelusuri jika dibandingkan dengan sejarah Yesus. Namun, karena keduanya pembawa mukjizat Ilahi, yang membuat mereka berpengaruh pada dunia bukan soal akurasi tanggal lahir dan wafat, melainkan ajaran mereka.

Berapa miliar penduduk bumi yang meyakini telah mendapatkan jalan keselamatan dan kebahagiaan oleh kehadiran Yesus dan Muhammad? Tak terhitung orang tumbuh menjadi orang baik, menjadi penolong sesama, karena terinspirasi oleh kedua tokoh itu.

Sementara itu, ada saja yang terlibat permusuhan dengan dalih membela kedua tokoh itu, padahal keduanya mengemban misi yang sama. Instrumen Tuhan untuk menyebarkan kasih dan membangun peradaban. Lakum dinukum waliyadin. Bagimu agamamu, bagiku agamaku. (X-9)

Media Indonesia, Rabu, 25 Desember 2015 (Sumber: Disini)

Merayakan Kehidupan

Oleh: Komaruddin Hidayat

Ada nasihat sederhana. Kalau kita selalu mengenakan kacamata hitam, dunia sekeliling juga akan terlihat gelap.

Kacamata hitam itu sekali-sekali diperlukan untuk meredam cahaya panas dan terang yang menyilaukan mata. Tapi jangan selalu dipakai. Makanya ada orang yang memiliki beberapa jenis kacamata untuk dipakai sesuai situasi dan keperluan. Yang tidak mudah berganti adalah kacamata hati dan pikiran atau mindset. Ini terbentuk antara lain oleh pendidikan, kebiasaan dan sistem kepercayaan yang pada urutannya membentuk karakter seseorang.

Misalnya saja, kita dibuat heran mengapa ada orang yang meledakkan bom bunuh diri untuk memperjuangkan keyakinan agamanya. Tetapi bagi pelakunya, mungkin sekali itu dianggap pilihan mulia sebagai jalan terdekat masuk surga, satu kehidupan yang dibayangkan jauh lebih indah ketimbang hidup di dunia yang baginya menyengsarakan. Sementara ada orang lain yang berusaha mempertahankan hidup dengan biaya pengobatan dalam jumlah miliaran karena enggan pisah dari dunia.

Jadi, kacamata kehidupan yang dipakai jelas berbeda. Sekarang dunia semakin plural. Akibat perang, terjadi diaspora, orang mencari tempat pengungsian dan kehidupan ke negara lain, seperti korban perang di Palestina, Libya, Tunisia, Suriah, Irak, dan Afganistan yang mencari suaka ke Eropa. Pluralitas ini semakin dirasakan bagi mereka yang aktif malang-melintang di dunia maya.

Dengan mudahnya melakukan ziarah kultural dan intelektual seantero dunia. Tak hanya ziarah, tetapi seseorang bebas mau shopping ataupun berdebat menghadapi paham dan keyakinan yang berbeda. Festival kehidupan semakin meriah dan warna-warni. Jumlahnegara punsemakinbertambah yang diakui oleh badan dunia, Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB).

Ide dasar badan itu didirikan pada 1945 memang untuk mempersatukan dan mendamaikan hubungan antarbangsa dan negara. Jangan sampai meletus Perang Dunia ke-3. Kalau terjadi, peradaban akan kembali dari nol lagi. Meski tidak terjadi Perang Dunia ke-3, nyatanya kedamaian dan keadilan universal masih jauh. Mungkin kedamaian universal itu sebuah utopia. Tanpa utopia dunia manusia memang menjadi flat, datar, seperti putaran jarum jam.

Salah satu tugas sains adalah memprediksi dan merekayasa sejarah masa depan. Tapi yang namanya prediksi, tetaplah prediksi. Sehebat apa pun kemajuan iptek supermodern, masa depan manusia tetap mengandung misteri. Unpredictable. Perkembangan dan penyebaran sains modern telah menciptakan enclave komunitas akademik yang cenderung seragam di seluruh dunia.

Tetapi, lagi-lagi, universalisme sains tak mampu menghilangkan keunikan, fanatisme dan militansi kelompok-kelompok ideologis entah itu berakar pada etnis, agama, bahasa yang bisa saja mengkristal menjadi kekuatan konspirasi sejak dari tingkat lokal, nasional, regional bahkan global yang ditopang oleh kekuatan modal material, tekno-logikal, dan intelektual (economical, technological and intellectual capital). Man is homo festivus. Manusia itu makhluk yang senang merayakan festival. Masyarakat dan bangsa manapun senang berfestival.

Ada festival bunga, kembang api, tarian, dan sekian ragam lainnya. Celakanya, ada sekelompok orang yang memandang perang juga sebagai festival. Mereka sengaja menciptakan perang. Mengadu domba antarkelompok bangsa dan agama, agar pabrik senjata laku. Untuk apa pabrik senjata dibangun, ribuan scientist digaji tinggi, kalau di muka bumi ini tidak ada proyek peperangan yang menggunakan senjata modern yang mereka produksi agar dagangannya laku?

Berapa banyak orang menjadi kaya raya berkat jual-beli senjata? Jadi, bagaimana mestinya merayakan kehidupan? Jawabannya akan dipengaruhi oleh keyakinan agama dan filsafat hidup seseorang. Akan dipengaruhi oleh pengalaman masa lalunya dan cita-cita di masa depannya. Saya sendiri memilih untuk mengenakan kacamata humanisme religius. Bahwa Tuhan menciptakan ini semua untuk manusia.

Meminjam ungkapan Ibnu Araby, semua ini mewujud karena cinta ilahi. Tanpa energi cinta, semesta sudah lama hancur. Jejaring kosmos dan sosial terjalin karena energi cinta. Bahkan persahabatanyangterjalinantara bumi, matahari, air, hewan, tumbuhan, kesemuanya karena emanasi cinta dari Dia yang rahman dan rahim. Ketika terjadi krisis cinta, cosmos akan berubah menjadi chaos. Mungkin di situ tersimpan rahasia ilahi, mengapa setiap perbuatan hendaknya dimulai dengan ikrar dan manifesto: Bismillahirrahmanirrahim.

Semoga hati, pikiran, lisan dan seluruh tindakan kita menjadi agen, instrumen dan transmiter cinta ilahi untuk disebarkan ke seluruh makhluknya sehingga bumi menjadi panggung festival peradaban dalam berbagai ragam ekspresi dan artikulasinya. Maka pilihlah kacamata kehidupan yang enak, benar, dan pas dipakai agar hari-hari akan terasa nyaman dijalani. []

KORAN SINDO, 18 Desember 2015
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Pertanyaan Abadi dan Eksistensial

Oleh: Komaruddin Hidayat

Dari zaman ke zaman selalu muncul pertanyaan, apakah hidup ini merupakan anugerah yang mesti disyukuri dan dirayakan? Ataukah tragedi yang pantas disesali dan diratapi? Atau semua ini hanyalah ketidaksengajaan tanpa skenario?

Jawaban orang pasti berbeda-beda. Begitu pun dalam mengisi waktu dan jatah umur, seseorang mungkin saja merasa terlalu singkat, terutama bagi mereka yang usianya sudah memasuki angka 60 tahun. Tapi bagi mereka yang te-ngah berada di dalam penjara, jalannya waktu dirasakan sangat lambat. Jadi, ukuran panjang-pendek umur dan waktu sangat berkaitan dengan suasana psikologis seseorang.

Pada umumnya kalangan teolog dan filsuf berpandangan positif tentang hidup sekalipun sulit diingkari ada kesan narasi kitab suci yang menyiratkan bahwa kehidupan di dunia ini merupakan kelanjutan dari kehidupan Adam yang terusir dari alam surgawi. Dalam pandangan Islam, Adam telah diampuni dan anak cucunya tidak terbebani dosa asal. Bahkan manusia diberi mandat dan predikat wakil Tuhan di bumi (khalifatullah fi al-ardhi).

Meskipun begitu tidak dapat diingkari bahwa hidup memang merupakan serial suka dan duka. Bagi mereka yang berpandangan negatif-pesimistis, kehidupan ini merupakan serial derita, diawali dengan jeritan tangis ketika terlahirkan dan diakhiri dengan kesedihan serta kebisuan di ujung perjalanannya. Di sana terdapat tiga pandangan tentang kehidupan.

Ada yang melihatnya sebagai derita dan kutukan, yang lain melihatnya sebagai anugerah Tuhan yang mesti disyukuri dan dirayakan. Lalu, yang ketiga , mereka tidak begitu peduli pada pertanyaan teologis dan ontologis, yang penting hidup dijalani dengan kesiapan beradaptasi dengan situasi baru yang menjemputnya Dunia manusia adalah dunia makna.

Manusia bukan sebuah mesin yang bekerja otomatis tanpa motif dan nilai-nilai yang menjadi acuan dalam setiap geraknya. Manusia senantiasa bertanya dan mempertanyakan eksistensinya. Makanya agama selalu hadir dan diperlukan sepanjang zaman karena agama memberikan acuan makna serta tujuan hidup sekalipun oleh sebagian orang agama tak lebih sebagai mitos dan dongeng belaka.

Salah satu ciri dan identitas manusia adalah selalu bertanya, merasa dirinya dikurung misteri, lalu tak pernah berhenti mencari jawaban di luar kebutuhan dan aktivitas fisiknya. Setelah kebutuhan fisik terpenuhi, muncul pertanyaan ontologis, semua yang ada ini akhirnya akan menuju ke mana? Ada lagi pertanyaan etis, adakah nilai kebaikan dari yang kita perjuangkan dan raih ini?

Dalam ajaran agama-agama besar dunia terdapat doktrin yang sangat fundamental, yaitu beriman tentang adanya Tuhan dan adanya kehidupan lanjut setelah kematian. Keyakinan ini membawa implikasi sangat jauh terhadap pikiran dan perilaku seseorang. Bagi orang beriman, setiap tindakan lalu diniati sebagai pengabdian kepada Tuhan karena akan membawa implikasi moral pada kehidupan akhirat kelak.

Apakah tindakannya akan mendekatkan pada surga ataukah neraka, pada kebahagiaan ataukah penderitaan? Kesadaran transendental di atas menjadikan dunia manusia lebih luas, melewati batas ruang dan waktu empiris yang kita ketahui dan jalani selama ini. Dunia manusia tidak lagi sebatas makan dan minum layaknya dunia nabati dan hewani.

Hidup dan kehidupan tidak bermula dan berakhir dalam batas dunia ini. Kalau saja kita mau mengamati, merenung, dan membuat refleksi terhadap semua realitas di sekeliling kita, satu hal yang pasti: semua benda dan tindakan selalu berkaitan dengan yang lain. Selalu menimbulkan pertanyaan eksistensial, awal dan akhir dari semuanya ini, pertanyaan alfa dan omega. Misalnya kita melihat tukang kayu membuat kursi. Kursi baru benar-benar menjadi kursi ketika ia diduduki.

Jika ada sebuah kursi tetapi tidak pernah diduduki, ia baru potensial menjadi sebuah kursi. Ketika ada orang duduk di kursi, pertanyaan pun muncul, untuk kepentingan apa seseorang duduk? Misalnya saja dia duduk untuk istirahat dan makan. Pertanyaan berikutnya muncul, setelah makan kenyang untuk apa? Untuk bekerja, misalnya. Kita bertanya lagi, bekerja apa, untuk apa dan siapa?

Demikianlah seterusnya, setiap tindakan tidak berhenti di situ, melainkan selalu berada dalam jejaring alam dan sosial. Tidak mungkin kita berdiri terlepas dari yang lain. Makanya orang yang bersikap egois-individualistis hanya menunjukkan kepicikannya. Seakan semuanya bisa dicukupi oleh diri sendiri. Bahkan ketika orang melamun sendiri, dia tetap membutuhkan objek di luar dirinya untuk dilamunkan.

Ketika orang berbuat baik ataupun jahat, dia tetap memerlukan objek di luar dirinya untuk menyalurkan kebaikan atau kejahatannya. Dari sudut pandang agama, sungguh tepat sabda Nabi Muhammad SAW, sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling banyak memberi manfaat bagi sesamanya. Kalaupun tidak bisa memberi manfaat, minimal jangan merugikan pihak lain.

Dalam sabdanya yang lain disebutkan, berbicaralah yang baik, kalau tidak bisa lebih baik diam. Ketika agenda hidup dijalani dengan rutin tanpa kesadaran maknawi, seseorang sesungguhnya sudah mati sebelum mati. Ketika seorang eksekutif tengah antusias mengejar karier, misalnya, hal itu mesti disertai pertanyaan kontemplatif, apa ukuran sukses itu?

Bisa jadi ada orang merasa kayaraya, tetapi ketika hidupnya tidak sempat menaklukkan hartanya dengan membelanjakan di jalan kebaikan dan kebenaran untuk membantu meringankan beban hidup sesamanya, jangan-jangan dia tak ubahnya sebagai centeng atau satpam bagi hartanya.

Dia bukan majikan dari hartanya. Ketika ada mahasiswa tengah berjuang untuk meraih titel sarjana, muncul pertanyaan etis-teologis, untuk kepentingan apa dan siapa ilmu dan titel yang dikejarnya? Rasulullah mengingatkan, sebaik-baik ilmu adalah yang paling banyak mendatangkan manfaat bagi diri dan orang lain.

Bobot ilmu dan titel sarjana akhirnya terletak pada manfaat yang dibuatnya, bukan jumlah titel yang dikumpulkan, bukan pula jabatan yang dipeluknya. Aristoteles pernah dibuat kagum dan tercenung ketika mengamati kebunnya. Bahwa setiap biji pohon ketika disebar dan ditanam, semuanya mengarah pada tujuan yang pasti. Ada gerak teleologis , berkembang ke depan sesuai dengan potensinya.

Biji mangga kalau tumbuh akan jadi pohon mangga. Biji beringin meskipun kecil akan tumbuh jadi pohon beringin yang besar. Lalu bagaimana halnya dengan manusia? Ternyata manusia memiliki dimensi dan potensi yang tak terduga. Manusia memiliki nafsu, intelektualitas, imajinasi, dan kemerdekaan menentukan langkahnya.

Sejarah manusia penuh dengan eksperimentasi, trial and error. Beruntunglah bangsa yang mau belajar dari kesalahan masa lalu dan kesalahan bangsa lain lalu tidak mengulangi tindakan serupa. Kecuali bangsa yang bebal. []

KORAN SINDO, 11 Desember 2015
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Wakil Rakyat

Oleh: Komaruddin Hidayat

Berasal dari bahasa Arab, wakil artinya pribadi tepercaya tempat bersandar sehingga salah satu asma Allah adalah al-wakil.

Ketika seorang beriman telah berjuang keras untuk meraih cita-citanya atau mengatasi problem hidupnya, dia disarankan untuk tawakal kepada Allah. Artinya, bersandar dan memercayakan semua usahanya kepada Allah sebagai pribadi terakhir yang tepercaya untuk menolong hidupnya.

Ketika kata wakil dilekatkan pada rakyat, lalu menjadi wakil rakyat, yaitu mereka yang duduk di DPR, diharapkan mereka merupakan jajaran sosok pribadi yang andal, tepercaya, tempat rakyat bersandar dan memercayakan problemnya untuk dibantu dicarikan solusinya. Jadi, anggota DPR adalah pejuang dan penolong rakyat dari berbagai problem yang mereka hadapi.

Dengan demikian, mereka yang duduk sebagai anggota DPR mesti memiliki pengetahuan luas dan dalam tentang problem kenegaraan dan kemasyarakatan. Mereka mesti memiliki integritas, kepedulian, dan kesiapan mental untuk berkorban demi memenuhi harapan rakyat yang telah memilihnya serta menjaga martabat lembaga DPR.

Kembali pada pengertian dasar serta fungsi wakil, mestinya yang duduk jadi anggota DPR adalah sosok-sosok yang terbaik budi pekertinya dan luas ilmunya, serta bertanggung jawab atas amanat yang diembannya. Sangat disayangkan banyak anggota DPR yang tidak memenuhi kriteria dasar itu. Banyak kalangan intelektual dan profesional sama sekali tidak merasa terwakili, sebaliknya memandang rendah bahkan risi kepada mereka.

Tentu ini lelucon politik yang tragis dan berakibat fatal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika dicari siapa yang paling bertanggung jawab atas kekonyolan ini, pertama-tama tentu partai politik karena parpollah yang menjaring dan mengajukan anggota DPR. Mereka digaji dari uang rakyat dan negara, tetapi sebagian justru membuat rakyat susah dan kekayaan negara dicuri dan digerogoti.

Jabatan anggota DPR itu sarat muatan moral dan intelektual, bukan seperti pekerja industri yang mengandalkan keahlian teknis yang produk akhirnya dilempar ke pasar. Tugas utama DPR adalah bersama pemerintah berjuang bagaimana mencerdaskan dan menyejahterakan rakyat serta membangun kehidupan berbangsa yang beradab. Tugas menyusun UU, anggaran, dan mengawasi jalannya pemerintahan, semua harus bermuara pada peningkatan harkat hidup rakyat yang telah memberikan mandat dan harapan kepada mereka.

Jadi, sesungguhnya posisi anggota DPR sangat mulia karena itu mereka layak dipanggil “Yang Mulia Wakil Rakyat”. Rakyat adalah majikan dari pemerintah karena sesungguhnya pemerintah bekerja memenuhi dan melayani kebutuhan untuk rakyat. Adapun lembaga DPR adalah institusi jelmaan aspirasi dan kedaulatan rakyat. Untuk bisa duduk di kursi terhormat dan tepercaya itu sungguh tidak mudah. Mesti melalui proses seleksi panjang dan mahal mengingat tidak sembarang orang pantas dan memenuhi kualifikasi moral-intelektual memikul keterwakilan kedaulatan rakyat.

Pengkhianat kepada rakyat

Pertanyaannya, apakah kualitas dan perilaku DPR sesuai dengan harapan rakyat yang telah memercayakan dan melimpahkan kedaulatan mereka kepada anggota DPR yang mulia itu? Mengikuti pemberitaan selama ini, justru banyak dijumpai pengkhianat kepada rakyat.

Dulu, pada awal kemerdekaan, banyak wakil rakyat dari daerah yang pergi ke Jakarta dibekali uang oleh konstituennya. Rakyat percaya dan menitipkan problem agar diperjuangkan melalui lembaga DPR sehingga mereka dengan sukarela mengumpulkan uang untuk bekal para wakilnya. Anggota DPR kala itu dilihat sebagai pejuang rakyat.

Namun, seiring jalannya waktu, alih-alih demokrasi tambah matang dan dewasa, yang terjadi justru calon wakil rakyat dengan berbagai cara yang tak terhormat membeli suara rakyat. Rakyat dibodohi dengan iming-iming uang, bukan dengan keunggulan moralitas dan intelektualitas.

Jadi, kalaupun setelah duduk di kursi DPR banyak yang terlibat korupsi, itu hanya kelanjutan saja karena sejak hulu banyak anggota DPR yang lolos semata karena mengandalkan uang. Modus paling mutakhir adalah membeli saksi-saksi di tingkat perhitungan suara. Soal memengaruhi saksi dengan mengucuri uang memang sebagian anggota DPR sudah cukup pintar. Terlebih anggota DPR yang sudah berulang kali lolos. Dia bisa jadi mentor bagi temannya bagaimana mengakali hukum dan peraturan.

Nurani dan akal sehat? Saya khawatir pertanyaan itu tidak populer. Itu hanya retorika pemanis wacana. Profil anggota DPR sekarang banyak yang sebelumnya pengusaha. Tentu ini sesuatu yang logis karena untuk membeli suara rakyat hanya pengusaha yang lincah mencari uang. Sosok aktivis-intelektual umumnya hanya kaya gagasan, tetapi miskin uang. Akankah proses seleksi dan perekrutan anggota DPR yang hasilnya sangat mengecewakan ini akan diteruskan? Tentu kembali kepada anggota DPR yang mulia itu, sebab mereka yang punya kewenangan mengubah dan menyusun UU Pemilu dan kepartaian.

Namun, jika mereka berpikir praktik yang telah berjalan selama ini mereka pandang sudah bagus, maka pilihan rakyat ada dua: cabut mandat yang telah mereka berikan, atau rakyat tak akan peduli pada pemilu dan pilkada dengan segala konsekuensinya bagi kehidupan berbangsa. Rakyat tak akan percaya lagi pada partai politik yang tak ubahnya hanya sarana berebut kekuasaan dan uang negara. []

KOMPAS, 9 Desember 2015
Komaruddin Hidayat | Mantan Ketua Panwaslu 2004; Guru Besar Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah

Terorisme dan Negara Gagal

Oleh: Komaruddin Hidayat

Dalam suatu obrolan bersama Pak Jusuf Kalla belum lama berselang, ada beberapa pernyataan yang menarik dielaborasi. Di antaranya korelasi antara negara gagal, failed state, dan terorisme.

Dunia Arab yang semasa abad tengah dikenal sebagai pusat peradaban dunia dan belakangan sebagai sumber minyak hari-hari ini justru menjadi wilayah konflik berdarah-darah. Rakyatnya menderita dan sebagian besar mengungsi ke Eropa. Karier politik tokoh-tokoh fenomenal yang dikagumi dan sekaligus ditakuti, seperti Saddam Hussein di Irak, Moammar Khadafy di Libya, dan Hosni Mubarak di Mesir, berakhir mengenaskan. Kekacauan tiada henti juga terjadi di Afganistan, Suriah, dan beberapa negara Arab lain sehingga masuk jebakan negara gagal.

Negara-negara itu pada dasarnya kaya, tetapi pemerintah dan rakyatnya jatuh miskin dan saling bunuh. Dari situasi politis, ekonomis, dan psikologis seperti ini, terasa logis jika bermunculan tokoh-tokoh radikal dengan aura dendam dan amarah. Mereka marah kepada pemerintah dan pihak-pihak asing yang mereka anggap ikut andil bagi kegagalan negaranya.

Belajar dari pengalaman menyelesaikan konflik di Tanah Air dan mengamati terorisme global, Pak JK menyebut beberapa nama tokoh teroris, baik dalam maupun luar negeri, yang awalnya masuk kelompok preman. Jadi, akibat negaranya kacau, banyak pemuda yang hidupnya juga kacau. Ketika mereka bertemu dengan gagasan dan paham keagamaan yang menawarkan “jihad” melawan “orang kafir” sebagai jalan menebus dosa dan sekaligus ke surga, mereka melihat peluang untuk mengubah nasib, dari posisi tidak jelas dan tidak berguna menjadi pahlawan pembela umat dengan imbalan surga.

Mereka ingin dirinya berarti bagi agama dan negara. Mereka mendermakan pikiran dan nyawa pada paham agama yang mereka yakini sehingga jalan terorisme menjadi pilihan untuk membalas musuh yang membuat hidup dan negaranya gagal berantakan.

Kelompok teroris adalah mereka yang ingin mengubah kegagalan dan kelemahan membangun kehidupan di dunia menjadi kemenangan di balik kematian. Kematian adalah pintu terdekat untuk meraih kemenangan dan bisa membalikkan posisi sosial yang semula gagal menjadi pahlawan. Tentu sebuah penalaran yang absurd ketika merumuskan kategori musuh. Jika mereka membela negaranya yang gagal, mereka akan mencari sasaran negara lain yang membuatnya gagal.

Mereka tidak berbicara individu, tetapi menyerang kelompok-kelompok yang secara simbolik dianggap mewakili negara atau kelompok yang mereka benci. Dengan demikian, terorisme bertentangan dengan prinsip hak asasi manusia dan ajaran agama yang melarang menyakiti dan membunuh orang tidak bersalah.

“Holocaust”

Pikiran gila kelompok teroris ini pernah menjangkiti Adolf Hitler yang sangat kecewa dan marah atas kegagalan Jerman pada Perang Dunia I. Demi membela bangsa dan negaranya, dia tampil dengan slogan mengembalikan martabat Jerman sebagai bangsa unggul dunia. Dia membuat semua anggota Nazi bersumpah setia dan menaati komando apa pun darinya demi supremasi Jerman.

Dia mencuci otak (brainwash) anak buahnya, berpuncak pada arahan membersihkan etnis (ethnic cleansing) di seluruh Jerman, terutama Yahudi. Ketika berkunjung ke Auschwitz, Polandia, saya melihat dari dekat gedung-gedung tahanan dipagari kawat listrik, kamp pembakaran dengan gas, bahkan ruang-ruang penyimpan tumpukan kaleng gas untuk kremasi, tumpukan sepatu, kacamata, alat dapur. Foto dokumentasi berderet di tembok, membangkitkan imajinasi kekejaman Nazi.

Museum pembersihan etnis era Hitler yang dikenal dengan sebutan holocaust menarik minat pengunjung. Saya melihat serombongan pemuda membawa bendera Israel meneteskan air mata. Bagi pemuda Yahudi yang ziarah ke Auschwitz, sangat mungkin terpatri sebuah pesan ideologis yang bernama power atau kekuatan. Hanya dengan kekuatan teknologi, ekonomi, dan politik, sebuah bangsa-kecil sekalipun-tak akan dihinakan oleh bangsa lain. Mungkin sekali bagi generasi muda Yahudi, ziarah ke Auschwitz bagaikan recharging motivasi untuk survive. Sayang, bangsa Yahudi yang berulang kali merasakan pahitnya ditindas penguasa tidak bisa berempati dengan penderitaan bangsa Palestina yang mereka kuasai.

Hitler akhirnya bunuh diri pada 30 April 1945 setelah terkepung musuh. Saya tidak yakin ia membayangkan surga dan bidadari. Sangat berbeda dengan psikologi terorisme yang menjual simbol agama. Mereka meyakini kehidupan lain di balik kematian, lebih indah dan abadi, yang dengan mudah memikat remaja yang merasa gagal membangun kehidupan yang mereka idealkan.

Kita bisa bayangkan, Timur Tengah yang semasa abad tengah merupakan pusat peradaban dunia dengan simbol keislaman sekarang babak belur bertikai, berebut hegemoni kekuasaan dan sumber minyak. Timur Tengah bak papan catur. Yang jadi raja atau dalangnya adalah elite dalam negeri, berkolaborasi dengan kekuatan luar. Bidak-bidak yang jadi korban sudah pasti rakyat kecil, sesama bangsa Arab dan sesama Muslim.

Perang yang tidak jelas awal-akhirnya ini telah mengantar negara-negara Arab menjadi negara gagal, menyengsarakan rakyat, dan membuat masa depan tidak jelas. Tokoh-tokoh yang semula mereka kagumi dan takuti satu demi satu tumbang. Dalam keputusasaan ini, ideologi “jihadisme” merupakan tawaran menarik, yaitu menyerang pihak-pihak yang mereka yakini sebagai penyebab kegagalan dan kesengsaraan hidup.

Pihak-pihak yang terlibat dalam perang saudara di Timur Tengah merasa berada di jalan Tuhan. Yang mereka hadapi adalah musuh Tuhan sekalipun secara sosiologis-demografis sama-sama Muslim. Perang di jalan Tuhan lebih menjanjikan karena jika mati langsung ke surga, dibandingkan insentif jabatan dunia yang tidak mungkin diraih karena kondisi negaranya sudah kacau.

Maka, bagi mantan-mantan preman itu, bergabung dalam jaringan terorisme diyakini sebagai jalan penebusan dosa dan bahkan naik status sosial sebagai tokoh yang disegani. Semula hanya preman jalanan musuh polisi, sekarang berbalik menjadi pasukan suci di medan juang global. Nyawa orang lain dan dirinya sangat murah, ditukar dengan kematian sebagai tiket ke surga. Kompensasi kegagalannya di dunia.

Tentu ini sangat bertentangan dengan ajaran agama. Namun, logika gila beracun inilah yang mereka jual melalui berbagai cara dan telah menarik pembeli dari kelompok-kelompok yang terpinggirkan secara sosial-politik di sejumlah negara.

Kapan berakhir?

Sulit menjawabnya selama negara-negara Arab-khususnya-masih terus berkonflik sehingga tidak berhasil menciptakan kemakmuran, keadilan, dan menjaga identitas bangsanya. Saya sendiri sulit membayangkan munculnya tokoh Arab yang mampu menyatukan mereka untuk mengakhiri nestapa dunia Arab. Bak papan catur berdarah, setiap penguasa ingin menggulingkan yang lain.

Semua pihak memang harus introspeksi, baik kekuatan politik di lingkungan Arab maupun kekuatan asing. Bagi negara Arab yang secara ekonomi sudah terpenuhi, kebutuhan mereka meningkat pada pemenuhan kebutuhan nonfisik, misalnya kebebasan berserikat dan pendapat, yang pasti tidak disukai para monarki. Itu sebabnya, Iran dan Turki tidak disenangi para sultan karena mempromosikan demokrasi yang dipelintir menjadi isu Sunni-Syiah dan sekularisme.

Begitu juga negara asing yang terlibat permainan catur politik Timur Tengah karena ingin menguasai sumber minyak mesti berkomitmen membantu menciptakan kedamaian dan kesejahteraan. Kalau tidak, anak-anak muda yang frustrasi melihat negerinya kacau akan menumpahkan kemarahan kepada pihak asing yang empuk dan mudah ditembus.

Maka, Indonesia jangan sampai masuk perangkap negara gagal karena akan menyuburkan terorisme. Sebaliknya, sebagai masyarakat majemuk dengan mayoritas warganya beragama Islam, inilah peluang dan panggilan kemanusiaan untuk menunjukkan bahwa Islam Indonesia pro kedamaian dan pro peradaban. []

KOMPAS, 28 November 2015
Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta