Dunia yang Terkoyak

Oleh: Komaruddin Hidayat

Ketika saya menelusuri beberapa negara Eropa, baik Eropa Barat maupun Eropa Timur, melalui jalan darat (2014 dan 2015), ingatan saya melayang saat jalan-jalan ke Timur Tengah. Situasinya sangat berbeda. Kita cukup memiliki visa satu negara Eropa yang tergabung dalam Schengen, kecuali Inggris, kalau mau jalan-jalan. Bus dengan leluasa keluar-masuk tanpa pemeriksaan paspor. Ini sangat berbeda dengan pengalaman saya ketika tahun 1986 ke Arab Saudi dengan bus berangkat dari Turki.

Sedikitnya ini saya lakukan tiga kali ketika saya kuliah di Turki (1985-1990), yaitu untuk beribadah haji dan kerja musiman di KBRI. Begitu masuk wilayah Suriah, petugas keamanan memeriksa paspor semua penumpang dengan gayanya yang sok wibawa. Namun sopir sudah paham, ujung-ujungnya minta uang dan makanan khas Turki yang sudah disiapkan sopir.

Begitu pun ketika kendaraan masuk perbatasan Yordania dan Arab Saudi, peristiwa serupa terjadi. Kesimpulannya, mereka tidak punya tradisi melayani tamu yang datang agar tamu memiliki kenangan indah dan simpatik. Di sepanjang jalan pun kita sulit menemukan WC yang bersih. Apakah simpulan saya ini bersifat subjektif dan tidak fair, silakan bandingkan dengan pengalaman Anda sendiri ketika berurusan dengan petugas imigrasi negaranegara Timur Tengah, misalnya sewaktu ibadah umrah atau haji.

Kini situasinya semakin buruk. Ketika berkunjung ke Yerusalem, situasinya berbeda lagi. Di sana-sini terlihat tentara Israel bersenjata lengkap layaknya mau perang. Padahal sejak kecil saya diceramahi bahwa kota itu merupakan home base penyebaran agama Yahudi yang dibawa Nabi Musa dan agama Nasrani yang dibawa Nabi Isa, juga tempat Nabi Muhammad melakukan isra’ dan mi’raj.

Tapi yang kita tahu wilayah ini justru menjadi medan konflik dan perang yang dampak negatifnya dirasakan seluruh penduduk bumi. Bagi mereka yang menelusuri wilayah Arab dengan jalan darat, dibutuhkan bekal kesabaran tinggi.

Di daratan Afrika juga mirip kondisinya. Batas antarnegara yang merupakan gurun pasir tidak jelas dan tidak permanen memisahkan antarnegara sehingga potensial memancing konflik. Belum lagi konflik politik dan ideologi antarmereka. Sudan, Nigeria, Aljazair, Libya, dan beberapa negara lain tak sepi dari konflik.

Meski perjalanan ke negara- negara Eropa cukup lancar dan menyenangkan, semua pemandu wisata Indonesia selalu mengingatkan, hati-hati dengan copet yang beroperasi dengan sangat canggih. Penampilan perlente, sangat di luar dugaan bagi turis Indonesia yang mudah tertarik pada penampilan luar. Turis Asia saat ini jadi sasaran empuk bagi copet karena lebih senang membawa uang tunai dalam jumlah besar, bukannya mengandalkan kartu kredit. Jumlah turis China bisa mencapai 100 juta dalam setahun. Turis Indonesia pun ikut naik citranya di Eropa. Dianggap negara kaya. Sasaran empuk bagi copet dan penipuan.

Meminjam istilah JJ Rousseau, sejak manusia mengenal ungkapan ceci est a moi, ini milikku, this is mine, sumber kekayaan alam lalu jadi objek perebutan. Maka bumi pun dikaveling-kaveling. Pada awalnya mungkin saja kepemilikan itu berdasarkan hubungan darah dan warna kulit yang telah lama mendiami sebuah wilayah.

Tapi lama-lama perebutan dan pengavelingan itu atas nama bangsa dan negara yang ditopang senjata dengan motif akumulasi materi dan kekuasaan politik. Tidak hanya bumi, lautan dan udara pun dikaveling-kaveling. Dalam drama perkelahian antara Kabil dan Habil, nafsu kepemilikan ini dibumbui kedengkian dan kecemburuan seperti dalam kisah Alquran.

Akhir-akhir ini bahkan ditambah lagi dengan klaim atas nama Tuhan oleh sekelompok gerakan keagamaan yang mengusung nama tentara dan wakil Tuhan di muka bumi. Tak ada kepemilikan sejati kecuali semua ini milik Tuhan. Jadi merekalah yang punya hak, di luar mereka adalah kafir, perampok yang halal darahnya. Memang benar dikatakan bahwa damai itu merupakan dambaan fitri setiap manusia.

Namun kenyataannya sejarah manusia tak pernah sepi dari bahasa kebencian yang mengarah pada konflik dan perang. Langit canopy senantiasa terkoyak oleh perang simbolik, sementara perang fisik juga terjadi di mana-mana. Pakistan pisah dari India dengan kemarahan.

Menyusul kemudian Bangladesh memisahkan diri dari Pakistan. Ketegangan antara Pemerintah Korea Utara dan Korea Selatan masih berlangsung sekalipun warganya rindu untuk rekonsiliasi. Sisa-sisa kemarahan pecahnya Uni Soviet dan Yugoslavia juga masih jauh dari redam. Kadang kala apa yang disebut negara memang tak ubahnya penjara. Biangnya para elite penguasanya. []

KORAN SINDO, 27 November 2015
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Jembatan

Oleh: Komaruddin Hidayat

Setiap jalan-jalan melihat kota-kota besar dunia yang memiliki sungai dan jembatan yang indah dan kokoh, saya selalu terhenyak kagum dan iri.

Ketika mengunjungi Kota Budapest pertengahan November 2015, misalnya, Sungai Danube yang panjangnya 2.850 km dan melintasi 10 negara itu membuat Budapest menyajikan kehidupan dan keindahan yang amat mengesankan. Begitu pula Sungai Vitava yang menghiasi Kota Praha. Danube yang legendaris itu bak kalung mutiara yang mempercantik Budapest.

Atau bagaikan ibu yang selalu memberikan sumber kehidupan ekonomi bagi penduduk setempat serta sumber inspirasi bagi para seniman dan perancang kota sehingga bermunculan bangunan-bangunan indah menjulang, baik yang kuno maupun modern. Hubungan antara sungai, kreasi arsitektur jembatan, dan bangunanbangunan megah nan indah akan ditemukan diberbagai kota dunia semisal Paris, San Fransisco, Sydney, Kairo.

Yang fantastis tentu jembatan Selat Bosporus di Istanbul yang menghubungkan daratan Eropa dan Asia. Atau jembatan dan bendungan raksasa Sungai Yangtze untuk menjinakkan banjir yang merendam ribuan desa dan kini jadi sumber penggerak tenaga listrik. Saya iri karena Indonesia memiliki banyak sungai tetapi itu tidak dirawat dengan cerdas dan indah, padahal di berbagai negara sungai itu menjadi sumber rezeki, tempat wisata warganya, dan ornamen kota dengan arsitektur jembatannya yang ikonik.

Setiap orang pasti senang melihat sungai dengan airnya yang jernih dengan ikanikannya yang berseliweran. Sikap masyarakat terhadap sungai dan jembatan sangat mungkin memiliki keterkaitan dengan budayanya. Mungkin karena kita penduduk kepulauan. Juga di kampung-kampung sungai itu bagaikan WC umum. Ketika urbanisasi ke kota, gaya hidup kampung terbawa.

Mereka tidak memiliki visi bahwa sungai itu bisa difungsikan sebagai hiasan kota, tempat rekreasi, dan pusat ekonomi. Di Jakarta sungai semakin sempit, dangkal, dan kotor oleh tingkah warganya yang tidak bisa merawat fungsi sungai dengan baik. Faktor lain karena masyarakat punya mental serobot dan selalu ingin jalan pintas, enggan melewati jembatan yang tersedia.

Lebih dari itu, desain jembatan yang ada kurang memperhitungkan aspek estetika dan rekreatifnya. Di dekat kampus saya, UIN Syarif Hidayatullah yang berlokasi di Ciputat, jembatan penyeberangan dibangun hanya melayani pemasang iklan, tak pernah ada warga atau mahasiswa yang melintasinya karena letaknya yang sangat tidak familier.

Untuk meraih karier dan prestasi hidup yang otentik, setiap orang juga memerlukan jembatan, terutama pendidikan dan pelatihan diri tahan banting menghadapi ujian, apa pun bentuknya. Anak sekolah yang senang mencontek dan berburu bocoran soal ujian adalah awal dari tindakan main serobot dan suap pada perjalanan hidup selanjutnya, baik waktu melamar kerja maupun mengejar jabatan, termasuk dalam kasus pilkada dan pemilu.

Miskin estetika dan etika dalam membangun kehidupannya. Tidak indah dan mengundang respek ketika catatan kariernya dibaca ulang. Kita sering lupa bahwa perjalanan hidup tak pernah lepas dari jembatan yang mesti kita seberangi. Ungkapan Inggris crossover atau abara dalam bahasa Arab berkembang menjadi i’tibar dan ibarat. Untuk menggapai tujuan dan makna yang benar, kita mesti menyeberang mengatasi rintangan.

Kalau ingin menikmati daging kelapa, mesti memecahkan dulu batoknya yang keras. Jika ingin berburu tambang emas atau minyak di perut bumi mesti melewati dulu bebatuan yang menutupinya. Dalam komunikasi dan pergaulan sehari-hari kita juga mesti mampu menangkap pesan dan makna sejati di balik ungkapan verbal yang disusun dengankata-kata.

Inilah yang dimaksud dengan kata ibarat dan isyarat. Hanya mereka yang cerdas dan bijak yang mampu menangkap pesan yang tersembunyi di seberang jembatan kata dan isyarat. Oleh karenanya dalam studi keagamaan ada disiplin ilmu tafsir untuk menggali makna tersembunyi di dalam kitab suci.

Dalam narasi kitab suci banyak ditemukan perumpamaan, misal, ibarat, isyarat, serta kiasan sehingga hanya mereka yang bisa menyeberang, menggali, dan menangkap makna di baliknya yang akan paham. Bukan berhenti dan terpenjara oleh jembatan penyeberangan berupa katakata verbal dan literal. Kalau makna mesti selalu melekat di permukaan kata, tak akan ada sastra.

Tak ada puisi. Bahasa jadi datar, kering miskin imajinasi. Bukankah setiap saat kita berdiri dan berjalan di atas jembatan? Bukankah kehidupan dunia ini juga jembatan untuk meraih kehidupan lebih tinggi dan membahagiakan? Jangan pernah berhenti menyeberang. []

KORAN SINDO, 20 November 2015
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Menembus Batas

Oleh: Komaruddin Hidayat

Di mana batas akhir perjalanan manusia? Dari sisi kapasitas intelektualnya menurut neurosains, capaian manusia saat ini belum seberapa. Potensi intelektual rata-rata manusia belum sampai 5% yang digunakan.

Jadi, kita yang hidup hari ini sulit membayangkan inovasi sains dan teknologi di masa depan yang semua itu akan memengaruhi pola hidup manusia. Dengan ditemukannya teknologi internet dan telepon seluler saja moda kerja, jejaring sosial, dan metode belajar serta relasi sosial sudah berubah drastis, tak terbayangkan oleh generasi orang tua yang lahir prakemerdekaan.

Pertanyaan tentang batas akhir perjalanan manusia akan semakin sulit dipahami kalau dialamatkan pada perjalanan rohani. Bagi orang yang beriman, kehidupan ini tak akan berakhir dengan pisahnya roh dari badan wadak. Jika kita amati, terdapat dua karakter yang melekat pada manusia, yaitu pertumbuhan dan pengembaraan. Yang namanya hidup selalu bergerak, tidak statis.

Secara fisik manusia terkena hukum pertumbuhan layaknya dunia flora. Namun secara intelektual dan spiritual orang berharap agar semakin tambah usia seseorang tumbuh menjadi semakin bijak dan bermanfaat sebanyak-banyaknya bagi lingkungan. Orang yang tidak produktif sungguh merugi dan menyia-nyiakan fasilitas umurnya.

Bagi seorang sopir taksi, umur itu bagaikan argometer yang selalu bergerak. Jika argometer berjalan, tetapi tidak mendapatkan penumpang, dia akan merugi karena tidak mencapai target setoran. Dia telah mengeluarkan bahan bakar, waktu, dan tenaga, tetapi tidak produktif. Demikianlah, sering kali tak disadari bahwa kita telah terpenjara oleh kemalasan, kebodohan, dan kebutaan dalam membaca dan memahami kehidupan.

Hidup menjadi rutin dan tumpul. Dunia menjadi penjara yang menahan pertumbuhan dan perjalanan lebih lanjut, menembus batasbatas yang kita ciptakan sendiri. Meminjam bahasa Taufik Ismail, kita hidup dalam kotak, lalu sibuk membuat kotak-kotak yang semakin kecil lagi sampai kita tidak bisa bergerak karena terjepit oleh kotak terkecil yang kita ciptakan sendiri.

Alquran mengingatkan, Allah tidak akan mengubah nasib satu kaum kecuali mereka mengubah terlebih dahulu mindset mereka. Mengubah jiwa dan mental mereka sendiri. Baik secara individual maupun kelompok dan generasional, sejarah manusia selalu memiliki agenda menembus batas. Dalam bahasa akademis disebut riset, terdiri atas dua kata re dan search .

Mencari dan mencari kembali agar batas pengalaman, pengetahuan, dankeilmuan senantiasa melebar. Dan ini dilakukan sambung-menyambung dari generasi ke generasi untuk memperluas dunia manusia. Ibarat ulat yang bergulat untuk bermetamorfosis menjadi kupu-kupu agar bisa terbang menikmati indahnya taman yang luas.

Setiap manusia dan masyarakat selalu dibatasi geraknya oleh garis perbatasan (boundary), oleh batasan fisik, bahasa, dan tradisi. Teknologi internet telah merobohkan tembok perbatasan ini. Masyarakat modern telah menciptakan benua yang keenam, yaitu benua maya, dunia simbolik (virtual world) yang dihubungkan oleh internet yang memfasilitasi warganya berkomunikasi dengan simbol kata dan gambar.

Di dunia yang baru ini komunikasi warganya tidak bisa dihalangi oleh sekat-sekat negara, etnis, budaya, dan agama. Mereka bebas mengemukakan imajinasinya. Di dunia virtual, orang bebas berbicara, berdiskusi, dan berdebat tanpa kehadiran fisik. Ide dan gagasan apa pun mesti siap diuji, dipuji, dan dicaci sekalipun itu merupakan pemikiran keagamaan.

Di dunia virtual akan dijumpai ribuan agama dan kepercayaan. Orang pun bebas untuk menerima atau menolaknya. Bagi mereka yang tak tahan dengan kritik dan cacian, cara termudah tinggal klik, matikan internetnya atau TV-nya. Mau teriak pun boleh di kamar sendiri asal tidak mengganggu orang lain atau tetangga.

Sedemikian mudah dan bebasnya orang melakukan pengembaraan di dunia maya bagaikan berselancar di lautan informasi tanpa hambatan. Kebebasan ini tentu tidak semahal dan sesulit kalau kita hendak melihat-lihat negeri dan budaya orang dari dekat dalam wujudnya yang nyata. Faktor kesehatan, kesempatan, dan finansial mesti mendukung.

Esai ini pun saya tulis di airport Istanbul, 7 November 2015 pukul 6 pagi, sambil menunggu jadwal penerbangan ke Wina dalam rangka berwisata menembus batas geografis untuk melihat dari dekat negara-negara Eropa Timur. Sejak berangkat dari Jakarta saya sudah niatkan perjalanan ini merupakan wisata budaya (cultural tour ) untuk melihat kota-kota tua di Eropa Timur yang tidak semegah dan seglamor kalau kita jalan-jalan misalnya ke Paris, London, New York, Frankfurt, Tokyo.

Namun kota-kota bekas rezim sosialis ini menyimpan monumen sejarah peradaban manusia yang amat berharga untuk diapresiasi, merekam inovasi dan eksperimentasi politik dan budaya yang telah memperkaya khazanah peradaban dunia. Menurut Alquran, semesta dan sejarah manusia merupakan ayat-ayat Tuhan yang mesti dibaca dan dipahami. []

KORAN SINDO, 13 November 2015
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Dari Penjara ke Penjara

Oleh: Komaruddin Hidayat

Penjara itu membatasi dan merampas seseorang untuk bergerak secara leluasa dan bebas. Jika yang dimaksudkan gerak adalah gerak fisik, yang namanya penjara tentu saja berupa bangunan fisik dengan tembok tebal dan tinggi, disertai kawat berduri.

Tidak cukup itu saja, melainkan ada penjaganya lengkap dengan senjata mengawasi selama 24 jam. Bahkan banyak penjara yang dibangun di wilayah yang lokasinya sulit dijangkau karena terletak di pulau terpencil agar pengamanannya lebih mudah andaikan ada tahanan yang berusaha melarikan diri. Sebut saja Penjara Nusakambangan.

Tapi di sana juga ada penjara nonfisik yang menghalangi seseorang bergerak bebas, baik secara fisik maupun intelektual. Ketika salah memilih sekolah dan lingkungan pergaulan, bisa jadi seorang remaja tanpa sadar sudah melangkah terseret ke penjara sosial. Masih beruntung kalau dia mampu mengubahnya menjadi tempat menempa diri agar tumbuh kuat, lalu suatu saat keluar dari penjara yang mengungkungnya. Tapi, jika tidak, dirinya terkurung sehingga sulit tumbuh mengembangkan potensinya untuk mewujudkan cita-citanya yang tinggi. Sebagian besar umurnya tak ubahnya bagaikan penjara.

Begitu pun mereka yang pindah-pindah partai politik, jangan-jangan hanya pindah dari penjara ke penjara ketika suasana dan budaya politik yang dimasuki malah menjerat tak bisa melangkah dan berkiprah untuk membangun bangsa. Niat dan tujuan didirikannya parpol itu untuk mengemban tugas sangat mulia, yaitu melakukan pendidikan politik untuk rakyat, terutama konstituennya, dan memberikan pikiran serta kader terbaiknya untuk memperkuat kinerja pemerintahan.

Tapi ketika para kadernya malah terlibat korupsi yang kemudian menjadi penghuni penjara, sementara partainya hanya ribut melulu dari kongres ke kongres, jika kondisi ini berkelanjutan, bukankah akan menjadikan keberadaan parpol kehilangan justifikasi moralnya? Dulu, di berbagai kelompok masyarakat, menjadi pegawai negeri merupakan posisi yang sangat didambakan. Jika seseorang kuliah di perguruan tinggi, tujuan akhir setelah jadi sarjana adalah melamar menjadi pegawai negeri sipil (PNS) agar nantinya memperoleh gaji pensiunan sekalipun tidak lagi bekerja.

Padahal, jumlah kursi PNS sangat terbatas, gaji pun tidak berlebihan. Alhamdulillah, nasib PNS sekarang semakin baik. Kesejahteraan meningkat. Namun sangat disayangkan, korupsi di kalangan PNS masih juga besar karena terjebak gaya hidup yang melampaui batas kemampuannya. Lagi-lagi, kadang kita terpenjara oleh angan-angan, citacita, dan gaya hidup yang sering kali tidak lagi sesuai dengan kenyataan dan kemampuan.

Statemen ini tidak berarti saya anti-PNS, melainkan ingin memberikan peringatan, kalau ingin kaya-raya janganlah menjadi PNS. Jadilah pengusaha, tapi pengusaha yang pintar dan benar. Fanatisme dan kesetiaan eksklusif terhadap asal etnis juga bisa memenjarakan seseorang, menutupi dan menghalangi untuk berbaur memperluas wawasan dan pergaulan lintas budaya dan agama. Kita tahu, dunia semakin plural.

Bagi masyarakat Indonesia yang sejak awal mula sudah majemuk, mestinya tidak lagi kaget berjumpa dan bekerja sama dengan komunitas yang berbeda budaya dan agama. Mestinya justru menjadi model dan percontohan ideal bagi dunia bagaimana menjaga taman sari keragaman budaya dan agama. Cukup menggembirakan, sekarang ini eksklusivisme etnis semakin mencair. Mobilitas dan partisipasi masif anak-anak bangsa dalam pendidikan semakin memperluas jalan bagi terciptanya integrasi nasional yang kokoh.

Lembaga universitas menjadi tempat bertemunya putra-putri terbaik bangsa. Mereka berbicara dengan bahasa yang sama, tumbuh berkembang dalam budaya akademis yang sama, yang pada urutannya perkenalan dan perkawinan silang budaya juga semakin berkembang. Ini terlihat dengan semakin banyaknya pasangan suami-isteri lintas etnis yang pada urutan selanjutnya melahirkan generasi hibrida, generasi yang kian mengindonesia.

Dengan perkembangan ini, identitas etnis bukan jadi rumah sempit bagaikan penjara, tetapi menjadi kamar-kamar yang nyaman dihuni, bagian dari rumah besar Indonesia. Rasulullah Muhammad pernah bersabda, dunia itu bagaikan penjara bagi orang beriman, tetapi tak ubahnya surga bagi orang kafir. Artinya, banyak batasan, hambatan, dan larangan bagi orang beriman agar tidak ditabrak dan dilanggar.

Di sana banyak rambu-rambu yang mesti dipahami dan ditaati demi kebaikan dan keselamatan hidupnya. Larangan untuk kebaikan dan keselamatan bukan belenggu yang menyengsarakan. Sebaliknya, bagi orang yang tidak beriman, dunia ini panggung kebebasan, tetapi ujungnya bisa membawa mereka pada kerugian dan kesengsaraan. Jika tidak di dunia, kesengsaraan itu akan dirasakan di akhirat kelak. []

KORAN SINDO, 06 November 2015
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Kita dan Bahasa

Oleh: Komaruddin Hidayat

Berbahasa itu tidak hanya berbicara. Tetapi berbahasa juga berpikir dan berperilaku. Ketika seseorang berbicara, otaknya ikut berpikir, hatinya ikut merasakan, lalu tindakan fisiknya mendukung.

Makanya ada istilah speech act. Jadi, berbahasa melibatkan pikiran, emosi, pengucapan, dan tindakan. Mereka yang menderita kelainan tidak bisa berbicara, misalnya, maka digunakan bahasa gerak isyarat. Ketika seseorang berdiam diri melamun, mulutnya memang tidak berbicara, tapi pikiran dan hatinya lagi sibuk bekerja. Dia berbicara dalam diam. Jadi, bahasa dan pikiran tak terpisahkan.

Dalam masyarakat yang sudah maju, pikiran dan ucapan dilengkapi dengan tulisan. Bahkan dilengkapi lagi dengan mesin percetakan. Tapi ada juga komunitas yang tidak punya tradisi menulis. Mereka tidak mengenal huruf. Di Indonesia ada beberapa suku yang memiliki bahasa lokal, namun tidak memiliki huruf. Suku Jawa yang terbesar saja semakin tidak mengenal huruf dan tulisan Jawa, sehingga bahasa lisan yang lebih dominan. Masyarakat Sunda pun demikian.

Majalah lokal dengan bahasa dan huruf lokal pelan-pelan mati. Sekian puluh bahasa lokal bahkan sudah lama hilang. Saya sering membayangkan dan membandingkan ketebalan kamus bahasa. Kamus bahasa Inggris dan Arab mungkin paling tebal. Masyarakat dan bangsa yang semakin maju peradabannya akan diikuti dengan ketebalan kamusnya. Ini menunjukkan progresivitas, keluasan, dan ketinggian garis batas bahasa dan pikiran mereka.

Sebaliknya, masyarakat yang khazanah kata dan bahasanya sempit dan sedikit, maka alam pikiran mereka juga terbatas karena aktivitas berpikir memerlukan instrumen bahasa. Anak kecil yang pengetahuan kata dan bahasanya terbatas juga terbatas olah pikirnya. Pada anak kecil pertumbuhan pikiran berbarengan dengan perkembangan khazanah bahasanya. Lalu, bagaimana halnya dengan bahasa Indonesia?

Bahasa ini mulanya merupakan bahasa orang-orang Melayu yang tinggal di daerah Riau yang jumlahnya tidak sebanyak orang Jawa dan Sunda. Dengan dipilihnya bahasa Melayu sebagai nasional, mengandung nilai pembelajaran yang sangat berharga bagi kita sekarang ini. Bahwa para pejuang kemerdekaan dan angkatan muda 1928 itu sangat bijak dan toleran.

Bayangkan, kalau saja bahasa Jawa yang dipilih, mungkin sekali masyarakat Sunda akan iri dan menolak karena mereka sama-sama penduduk pulau Jawa dengan jumlah yang besar. Kedua, karakter bahasa Melayu yang menjadi bahasa orang pantai dan juga pedagang, jauh lebih egaliter ketimbang karakter bahasa Jawa dan Sunda yang mengawetkan kasta sosial.

Sifat bahasa Melayu yang telah menjadi bahasa nasional lebih cocok dengan semangat kemerdekaan dan modernisasi yang menekankan persatuan dan kesatuan Indonesia serta kesamaan derajat di depan hukum. Kalau kita amati, penyebaran bahasa Indonesia yang sedemikian cepat tidak luput dari aktivitas dan jaringan pada pedagang yang juga penyebar Islam yang berpusat di kotakota pantai.

Dulu, dan bekas peninggalannya masih terlihat sampai sekarang, kota-kota pantai adalah pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam, dengan penduduknya yang majemuk. Posisi kota pantai dengan jejaring kegiatan perdagangan dan penyebaran agama telah berperan sebagai tonggaktonggak pengikat simpul persatuan Nusantara. Karenanya, semangat dan perjuangan keindonesiaan tak bisa dipisahkan dari penyebaran bahasa nasionalnya.

Dalam hal ini Indonesia merupakan bangsa dan negara yang paling berhasil dalam perjuangan politik bahasa. Bangsa yang sedemikian besar dan majemuk dengan mulus dan sukses berhasil memperjuangkan bahasa nasional, yaitu bahasa Indonesia yang menjadi pengikat, penghubung, atau jembatan komunikasi lintas etnis dan pulau. Bayangkan, betapa repot, lambat dan mahalnya ongkos dan proses pembangunan kalau saja warga Indonesia tidak bisa berbahasa Indonesia.

Jadi, kita pantas berterima kasih pada para pendahulu kita yang telah berhasil membangun rumah budaya yang sedemikian besar berupa bahasa Indonesia. Kita tinggal dan berpikir dengan dan dalam bahasa. Kita dan bahasa bagaikan ikan dan airnya. Tanpa bahasa dunia sekeliling tidak memiliki struktur dan nama. Tanpa bahasa tak ada bangunan ilmu pengetahuan.

Tanpa bahasa tak ada yang namanya peradaban. Yang ada tak ubahnya kerumunan hewan- hewan yang hanya mengejar kebutuhan fisik untuk bertahan hidup (survive). Karena bahasa adalah rumah budaya, mereka yang menguasai banyak bahasa pasti dunianya lebih luas. Dengan membaca buku, novel, atau menonton televisi yang menggunakan bahasa asing, serasa kita rekreasi dan masuk rumah budaya lain sehingga kehidupan lebih luas, kaya, dan warna-warni.

Perkembangan sebuah bahasa sangat dipengaruhi oleh jumlah pemakainya. Sekarang ini bahasa Inggris berkembang paling luas mendunia karena bahasa Inggris berhasil sebagai bahasa ilmu pengetahuan yang menyebar ke seluruh lembaga pendidikan di dunia. Ilmu pengetahuan modern yang dimotori ilmuwan Inggris maka konsekuensi logisnya bahasa Inggris menjadi alat penyebarannya.

Di samping faktor inovasi keilmuan, Inggris juga yang memiliki negara koloni terbanyak di dunia, maka praktis bahasa Inggris juga paling ekspansif penyebarannya. []

KORAN SINDO, 30 Oktober 2015
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah