Akar Rumput

Sumber Tulisan : Koran Sindo

Kita semua tahu ketika mendengar orang menyebut kata akar-rumput. Namun ketika dua kata ini diungkapkan bukan oleh petani, melainkan intelektual dan politisi, maknanya menjadi lain.

Mari kita membayangkan sejenak tentang akar dan rumput. Fungsi akar sangat vital bagi sebuah pohon. Pohon besar dengan batangnya yang tinggi, dahan bercabang-cabang dan ditutup daun lebat dan rindang serta buahnya bergelayutan, semua itu tidak lepas dari jasa dan peran akarnya. Jika akarnya tidak menghujam kokoh ke dalam tanah, pohon besar tadi akan mudah roboh ketika diterpa angin kencang.

Fungsi akar juga untuk menyerap vitamin atau pupuk yang kemudian disalurkan ke seluruh bagian dari pohon, sehingga jika akarnya mengalami defisit vitamin, pohon akan kurus mengering layaknya tubuh manusia. Kita sering kagum melihat pohon yang tumbuh segar dan rindang, namun jarang menyadari akar sangat besar jasanya, meskipun tidakterlihat oleh mata.

Jarang kita memuji akar karena memang tidak terlihat. Mata lebih mudah kagum dan terkecoh oleh objek yang terlihat. Begitu pun ketika kita masuk restoran menikmati hidangan lezat, yang menarik perhatian adalah pramusajinya serta dekorasi ruangnya. Padahal peran juru masak di belakang layar sangat menentukan kualitas makanannya. Lebih dari itu adalah jasa para petaninya.

Bagaimana halnya dengan rumput? Banyak sekali peran dan manfaat rumput untuk kehidupan kita. Tanpa rumput, yang muncul adalah tanah atau padang pasir gersang. Bagi mereka yang pernah melewati dataran gundul atau padang pasir, sangat menyadari betapa vitalnya rumput untuk menutupi permukaan bumi agar air yang dikandungnya tidak cepat menguap.

Agar permukaan bumi tidak gersang. Rumah-rumah mewah dengan halaman yang luas pasti memerlukan rumput untuk mempercantik halamannya dan menjaga kandungan air yang terserap di bawah permukaan tanah. Tanpa dukungan dan perlindungan rumput, tanggul-tanggul di pinggir jalan akan mudah tergerus air jika turun hujan.

Jangan tanya betapa besarnya peran rumput dalam permainan sepak bola dan golf. Lihat saja tayangan televisi ketika menyiarkan pertandingan sepak bola atau golf yang berkelas dunia. Di situ hamparan rumput nan hijau dan tertata rapi menimbulkan pemandangan yang indah bagi berlangsungnya sebuah festival berupa permainan dan pertandingan olahraga.

Jadi, jangan sekali-kali memandang rendah fungsi dan eksistensi rumput. Lalu, bagaimana ketika akar dan rumput digabung menjadi “akar rumput”? Lebih jauh lagi, bagaimana ketika akar rumput itu mengering? Yang dimaksud akar rumput oleh analis politik adalah eksistensi dan fungsi rakyat bawah atau rakyat kecil yang masif.

Mereka ini memiliki kekuatan sebagai penyangga jajaran elite yang berada di atas. Tanpa dukungan rakyat kecil, kehidupan berbangsa dan bernegara ini akan mudah ambruk ketika diterpa guncangan politik. Lebih bahaya lagi ketika akar rumput itu mengering, akan mudah sekali terbakar atau dibakar.

Hanya dengan lemparan sebatang rokok yang menyala, rumput itu akan mudah tersulut karena akarnya pun sudah mengering. Mereka mengering karena banyak penyebabnya. Bisa jadi karena kemiskinan, keterbelakangan pendidikan, meningkatnya jumlah pengangguran, buruknya kesehatan, yang semua ini akan mendekatkan pada keputusasaan dan menggerus kepercayaan rakyat pada pemerintah.

Jika akar rumput ini sudah mengering dan meluas maka sangat mudah terbakar dan menghanguskan bangunanbangunan capaian atau prestasi yang sudah diraih selama ini. Sekali lagi, yang dimaksud akar rumput itu tak lain adalah rakyat kecil. Lantaran kecil dan jumlahnya banyak, maka mereka dianalogikan dengan rumput.

Kalaupun dedaunan rumput itu terlihat mengering, namun jika akarnya masih kuat tertanam di bawah permukaan tanah, maka ketika mendapatkan siraman hujan, rumput itu akan seketika tumbuh subur menghijau. Namun jika yang kering itu sudah merasuk sampai akarnya, mudah sekali terbakar dan dapat menghanguskan hutan dan bangunan di sekitarnya ketika jilatan apinya dihempas angin.

Demikianlah adanya, jika rakyat sudah sampai pada titik lelah, jenuh, dan terhimpit oleh tekanan ekonomi yang dirasakan semakin sulit, maka mereka mudah sekali diprovokasi untuk meluapkan kekesalan dan kemarahannya yang bisa menciptakan kerusuhan dan keresahan sosial.

PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah @komar_hidayat

Pintu

Sumber Tulisan : Disini

Setiap hari kita berurusan dengan pintu. Di rumah saja setiap hari setidaknya kita keluar-masuk pintu rumah, kamar mandi, dan kamar tidur.

Begitu keluar kita melewati pintu pagar, lalu pindah lagi masuk pintu mobil. Sampai tempat kerja ketemu lagi sekian banyak pintu. Betapa vitalnya fungsi sebuah pintu sehingga pintu juga menjadi objek bisnis yang melibatkan sentuhan seni. Sebuah pintu pagar atau rumah bukan sekadar penutup dan pembuka lorong untuk keluar masuk bagi penghuninya, melainkan juga menampilkan status sosial pemiliknya.

Jadi, wujud fisik sebuah pintu juga berperan sebagai pintu atau jendela bagi orang lain untuk mengintip selera seni dan tingkat ekonomi tuan atau nyonya rumahnya. Pintu itu mendatangkan rasa aman dan nyaman bagi kita. Kapan kita buka dan kapan kita tutup terserah kita. Dengan demikian, pintu juga menandai kemerdekaan kita. Kita yang punya pintu, kita yang pegang kuncinya dan kita yang menentukan kapan mau membuka atau menutupnya.

Namun, pintu akan menimbulkan persoalan ketika kuncinya macet atau hilang sehingga tidak bisa dibuka. Tiba-tiba kita menjadi tahanan. Tidak lagi memiliki kemerdekaan untuk keluar-masuk. Dan itulah yang terjadi pada mereka yang tinggal di penjara atau rumah tahanan. Penghuninya tidak lagi memiliki dan menguasai kemerdekaan kapan mau keluar atau masuk. Bahkan setiap pintu ada penjaga dengan sikap curiga.

Pintu ternyata juga memiliki makna metaforis. Ada istilah pintu-pintu menuju Tuhan. Padahal, Tuhan lebih dekat dari urat nadi seseorang. Ada lagi pintu tobat, yaitu jalan kembali menuju kebenaran agar mendekatkan pada Tuhan. Dalam wacana politik juga sering terdengar ungkapan pintu masuk ke istana dalam arti literer maupun metaforis.

Untuk dekat dengan pusat kekuasaan para politisi dan pengusaha mesti tahu figur-figur penting yang bisa menjadi pintu masuknya. Namun, perlu diingat bahwa tidak semua pintu mendekatkan seseorang pada kebaikan dan kesejahteraan. Ada pintu-pintu maksiat dan pintu neraka. Salah pilih pergaulan akan menjerumuskan seseorang ke jejaring narkoba atau korupsi. Di sekeliling kita terbuka lebar pintu-pintu yang akan mengubah nasib begitu kaki melangkah masuk.

Misalnya saja kita salah masuk pintu tol, akibatnya bisa jauh dan nyasar. Begitu pun pintu-pintu kehidupan. Beberapa teman ada yang menyesal dan mengutuk kehidupan karena merasa salah masuk pintu politik yang ujungnya malah membawa sengsara diri dan keluarganya. Lebih jauh lagi memaksa dirinya mesti melangkah masuk pintu tahanan KPK.

Sekali masuk pintu tahanan seseorang terampas kemerdekaannya, suatu mahkota kehidupan termahal sebagai anugerah Tuhan. Semegah apa pun rumah tahanan, lebih mahal harga diri dan kemerdekaan. Ibarat sangkar burung, meski terbuat dari emas tetap tidak sebahagia terbang bebas di alam terbuka.

Perlu kita renungkan, meskipun rumah dan kantor megah, jika penghuninya terampas kemerdekaannya untuk selalu tumbuh berkembang menggapai derajat kebaikan dan kebenaran yang lebih tinggi, maka sesungguhnya seseorang telah terpenjara. Pintunya terkunci. Sekte-sekte keagamaan, ideologi, dan partai politik juga selalu membuka pintunya agar orang lain masuk. Tetapi jangan-jangan sekali masuk tidak bisa keluar lagi.

Dalam rumah kehidupan ini seseorang membuat pintu-pintu sampai dengan pintu bilik kamar yang kecil. Yang repot ketika seseorang terkurung dalam bilik kecil yang pengap dan tidak tahu bagaimana keluar. Orang tanpa sadar membangun penjara untuk dirinya.

PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah @komar_hidayat