Fitrah Manusia Ber-Tuhan

Sumber Tulisan : Disini

Dalam sebuah forum dialog lintas umat beragama, sebelum menyampaikan ceramah, saya mengajukan dua pertanyaan untuk dijawab secara tertulis lalu dikumpulkan.

Pertama, perputaran bumi, matahari, dan planet di jagat semesta ini dikendalikan oleh satu Tuhan atau banyak Tuhan? Kedua, Tuhan yang kita sembah itu sama atau beda? Ketika jawaban tertulis dikumpulkan, jawaban pertama seragam. Bahwa semesta ini diciptakan dan dikendalikan oleh satu Tuhan. Argumen paling sederhana, ibarat pesawat terbang, jika banyak yang mengatur, pasti akan bertabrakan. Jadi, peserta meyakini bahwa yang paling logis dan mudah diterima nalar adalah hanya satu Tuhan yang paling berkuasa yang menguasai dan mengatur semesta ini. Yang menarik adalah jawaban nomor dua. Peserta yang jumlahnya sekitar 80 itu terbelah menjadi dua dan skor hampir seimbang. Bahwa mereka menyembah Tuhan yang berbeda.

Dari jawaban di atas, lalu saya majukan pertanyaan baru. Karena di ruang ini terdapat beragam pemeluk agama dan meyakini Tuhan yang berbeda, bumi yang kita huni dan matahari yang setia menyinari kita semua ini, pemeluk agama apa yang paling berhak mengklaim sebagai penghuni paling sah dalam pandangan Tuhan? Andaikan Tuhan menagih rekening matahari, ibarat PLN menagih uang listrik, kelompok agama apa yang paling berhak mengumpulkan sebagai mandataris Tuhan? Saya hanya sekadar melemparkan pertanyaan, tidak untuk dibahas pada forum itu.

Perdebatan abadi

Keyakinan dan pencarian manusia terhadap Tuhan sudah berlangsung berabad-abad. Banyak teori yang menjelaskan mengapa dalam diri manusia terdapat dorongan dan kebutuhan bertuhan. Banyak juga filsuf dan saintis yang membangun teori bahwa keyakinan tentang Tuhan itu palsu dan ilusi akibat dari kelemahan diri manusia menghadapi teka-teki hidup yang tak terjawab. Namun, jika dikumpulkan dan ditimbang, argumen dan keyakinan tentang Tuhan jauh lebih kuat. Dalam hal ini faktor pewahyuan dan kenabian amat sangat berperan.

Jika muncul perdebatan di kalangan saintis, penyelesaiannya lebih mudah mengingat obyek yang diperdebatkan masih dalam wilayah empiris. Pembuktiannya bersifat induktif dan positif. Di sini bukti (proof) empiris yang dijadikan rujukan. Namun, keyakinan terhadap Tuhan yang digunakan adalah argumentasi berdasarkan penalaran dan merujuk pada wibawa kitab suci serta pengalaman beragama, mengingat obyek yang diperselisihkan sifat abstrak, immateri. Yang namanya pengalaman beragama pun sulit dibuktikan jika menggunakan pendekatan sains.

Misalnya pengakuan Muhammad ketika bermeditasi di Gua Hira ditemui Malaikat Jibril. Di situ kekuatan pribadi Muhammad yang dikenal sebagai orang yang tak pernah berbohong dan kandungan berita yang disampaikan menjadi bahan para sahabat untuk membangun argumentasi, apakah mau percaya atau menolak. Namun, jika orang minta bukti empiris, lalu ramai-ramai mengajak Muhammad ke Gua Hira untuk berjumpa Malaikat Jibril, tentu tidak bisa diulangi lagi. Itu pengalaman beragama yang sangat privat. Begitu juga pengalaman isra-mikraj. Namun, akan berbeda dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad dan para sahabat dari Mekkah ke Madinah, pembuktiannya bersifat historis dan disaksikan banyak orang.

Meskipun abstrak, tak terbantahkan bahwa keyakinan pada Tuhan dan ajaran-Nya sangat besar pengaruhnya pada kehidupan seseorang dan komunitasnya. Banyak peradaban agung lahir dari keyakinan dan gerakan keagamaan. Monumen-monumen besar dengan arsitektur yang indah, juga dilahirkan dari keyakinan dan dorongan keagamaan. Seperti Candi Borobudur, gereja-gereja tua di Eropa, dan bangunan masjid di Timur Tengah, semua memiliki nilai arsitektur sangat tinggi sebagai persembahan pada Tuhan atau lebih tepat sarana menyembah Tuhan.

Namun, di sisi lain, tak terbilang lagi jumlahnya, peperangan dan tindak kekerasan meletus juga karena motivasi keagamaan. Ini bermula dari adanya keyakinan setiap agama memiliki jalan keselamatan (salvation) yang dijanjikan Tuhan, terutama keselamatan di akhirat. Keyakinan dan konsep keselamatan ini lalu berkembang pada penilaian bahwa di luar agamanya tidak ada jalan keselamatan. Artinya, orang yang berbeda agama berarti kafir, semuanya calon penghuni neraka. Sikap terhadap orang kafir ini ada tiga pilihan. Satu, mereka diajak dengan baik-baik agar ikut menjadi umat seiman dan seagama. Kedua, dibiarkan dan dihargai pilihan keyakinan agamanya dengan tetap menjaga persahabatan sesama manusia. Ketiga, diperangi karena orang kafir berarti melawan Tuhan yang mereka sembah yang berarti juga posisinya sebagai lawan mereka.

Konflik dan perang dengan motif keagamaan selalu mengandung logika paradoksal. Menawarkan kedamaian dan keselamatan dengan cara ancaman dan kekerasan. Meneriakkan misi Tuhan yang Maha Pengasih sambil mengintimidasi dan membunuh. Melakukan kekejaman dan pembunuhan, tetapi dianggap tindakan suci (holy war). Jika tidak ada cara pandang dan pendekatan baru, maka perbedaan pemahaman dan keyakinan agama akan selalu memicu konflik dan kekerasan. Tidak mengagetkan jika muncul sekelompok masyarakat ingin menemukan Tuhan di luar doktrin dan komunitas agama. God and spirituality without religion. Untuk apa beragama kalau agama bukannya menjadi kekuatan perdamaian dan peradaban.

Produk kultural dan ideologi

Meyakini dan mengikatkan diri sebagai komunitas umat beriman (the community of believers) sangat berbeda sifat dan implikasinya dari ikatan seseorang sebagai warga negara (citizen). Kewarganegaraan (citizenship) ditandai dengan kartu tanda penduduk dan paspor sehingga seseorang terikat wilayah dan hukum positif di mana dia tinggal. Adapun komunitas umat beragama menganggap hukum Tuhan di atas hukum positif dan tidak mengenal batas wilayah. Mereka merasa sebagai anggota Kerajaan Langit meskipun realitasnya lahir, tumbuh, dan tinggal di bumi. Mereka ada yang terobsesi membangun kejayaan langit, tetapi kadang dengan membuat kerusakan di muka bumi.

Namun, ada juga yang berpandangan bahwa misi agama itu untuk membangun kemakmuran dan kedamaian di muka bumi. Keselamatan akhirat itu reproduksi dan akibat dari prestasi membangun proyek kemanusiaan selama hidupnya. Oleh karena itu, pilihan dan praktik keberagamaan seseorang merupakan pilihan dan perjuangan moral. Sebuah tindakan moral meniscayakan dua syarat. Pertama, seseorang beragama berdasarkan pilihan bebas, bukan produk ancaman dan intimidasi. Kedua, moral itu muncul dalam konteks hubungan sesama manusia. Seseorang dikatakan bermoral baik jika berhasil membangun hubungan yang baik sesama manusia. Dalam konteks ini, ajaran Islam sangat jelas dan tegas bahwa ukuran dan ujian keimanan itu selalu dikaitkan dengan perbuatan baik terhadap sesamanya. Oleh karena itu, menyebarkan agama dengan ancaman justru merusak prinsip ajaran Islam. Kesalehan dan ketulusan tak akan muncul dari situasi terpaksa.

Jika nalar sepakat hanya ada satu Tuhan, tetapi mengapa terdapat ragam agama? Terdapat pandangan, naluri, dan kebutuhan beragama itu mirip naluri dan dorongan manusia untuk berbicara guna mengekspresikan perasaan dan pikirannya. Maka, bahasa yang akan digunakan adalah bahasa yang dia kenal dan familiar sejak kecil. Berbahasa tidak hanya mengucapkan kata-kata, sesungguhnya bahasa juga berfungsi dalam ranah pemikiran dan tindakan. Meminjam frasa Heidegger, language is the house of being. Sementara itu, setiap orang adalah anak kandung bahasa dan budaya yang membesarkannya yang pada urutannya keterikatan pada identitas budayanya berkembang menjadi sikap ideologis.

Oleh karena itu, pluralitas bahasa, sebagaimana agama, tak terelakkan. Pada tataran metabahasa dikatakan, There is only One Language, but everyone speaks with a language. Ungkapan serupa juga bisa diberlakukan pada ranah agama: There is only One True Religion but every believer tends to only embrace a religion.

Saya sangat sadar, menyikapi perbedaan bahasa dan agama tentu berbeda. Di sini saya hanya menganalogikan keragaman keduanya karena dorongan intrinsik yang muncul dari dalam, lalu seseorang terlahir disambut oleh budaya yang berbeda. Dalam bahasa tak ada janji-janji keselamatan hidup sebagaimana agama.

Peran institusi negara

Mengingat subyek yang bertuhan dan beragama itu manusia yang sama-sama tinggal di bumi yang sama dengan matahari yang juga sama, pilihan keyakinan dan tawaran keselamatan hidup yang melampaui batas dunia hendaknya jangan menghancurkan tata kehidupan di bumi. Yang mesti diusahakan adalah terjadinya kesesuaian (taufik) antara kehendak Langit dan kreasi manusia di bumi. Tuhan yang diyakini sebagai sumber kasih mesti diwujudkan dalam kehidupan sosial yang diikat dengan tali kasih (silaturahim). Sikap keberagamaan hendaknya mendatangkan rahmat bagi semesta.

Sesungguhnya fitrah manusia untuk bertuhan seiring dengan fitrah manusia untuk hidup merdeka, damai, dan teratur. Oleh karena itu, sejarah mencatat, proses panjang bagaimana manusia membangun perserikatan dan lembaga sosial sejak yang primitif sampai modern bernama negara untuk menjaga kedamaian dan kemerdekaan. Zaman dahulu ikatan suku dan agama sangat kuat, terlebih lagi ketika bergabung sentimen suku dan agama, maka kekuatannya kian solid sehingga mendorong jadi kekuatan misionaris-ekspansionis untuk memperluas pengaruh agama, militer, dan ekonomi.

Gejolak politik dan kekerasan yang terjadi di Timur Tengah akhir-akhir ini sulit dipisahkan antara sentimen keagamaan, perebutan sumber ekonomi, dan ekspansi militer. Ketiganya berjalin berkelindan dengan implikasi wajah agama jadi muram dan seram.

Di zaman modern, konstruksi negara cenderung lebih rasional dan warganya semakin plural. Kehadiran negara diperlukan untuk melindungi warganya, apa pun asal-usul etnis dan agamanya. Jadi, jika agama menjanjikan pada pemeluknya keselamatan di akhirat, negara memiliki tugas menjanjikan keselamatan warganya di dunia. Cukup menarik direnungkan, hubungan agama dan negara di Indonesia memiliki cita-cita sangat ideal, yaitu mempertemukan agenda agama dan negara sebagaimana tertera dalam Pancasila. Negara memberi wadah dan fasilitas bagi penyebaran agama, agama menjadi sumber kekuatan moral dalam kehidupan bernegara.

Sejak dulu di bumi Indonesia yang satu tumbuh beragam agama. Mereka mungkin sekali meyakini Tuhan Yang Esa, sebagai pencipta dan pengatur semesta, tetapi mengambil jalan yang berbeda-beda sehingga muncul pluralitas agama dan aliran kepercayaan. Adalah tugas negara untuk melindungi keselamatan warganya tanpa membedakan keyakinan agamanya.

KOMARUDDIN HIDAYAT

Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 27 Juli 2015, di halaman 6 dengan judul “Fitrah Manusia Ber-Tuhan”.

Indahnya Mudik Lebaran

Oleh: Komaruddin Hidayat

MUDIK Lebaran itu mengasyikkan. Banyak penjelasan mengapa orang ramai-ramai pulang mudik untuk ber-Lebaran di kampung. Di antaranya ialah untuk berkumpul keluarga di hari yang istimewa itu. Terlebih bagi mereka yang masih punya orangtua, kerinduan untuk bertemu mereka menjadi dorongan utamanya.

Bernostalgia tapak tilas masa-masa remaja di desa itu serasa rekreasi emosional menembus waktu ke masa silam yang begitu terasa indah melankolis setelah lama berlalu. Begitu besarnya arus dan gelombang mudik, sampai-sampai pemerintah menaruh perhatian istimewa untuk memfasilitasi acara pesta budaya ini.

Sejak dari perbaikan jalan darat, laut, dan udara, semuanya disiapkan sebaik mungkin. Tidak ketinggalan polisi dikerahkan untuk turut menciptakan keamanan dan kenyamanan perjalanan mudik. Tentu saja yang paling heboh ialah penduduk Pulau Jawa, yakni mudik ini telah mentradisi kuat, yang sekarang tradisi ini menular sampai ke luar Jawa.

Ada ungkapan klasik, manusia itu Homo festivus, yakni makhluk yang senang festival. Begitu banyak ragam festival, termasuk festival yang bernuansa keagamaan. Ramai-ramai merayakan Lebaran Idul Fitri bisa juga tergolong festival. Pada setiap festival ada pola yang ajeg, yang dilakukan berulang-ulang secara masif pada momen-momen tertentu, beramai-ramai dalam suasana kegembiraan. Ada lagi yang mengatakan, manusia itu makhluk peziarah. Wanderer or traveler being, yakni senang melakukan perjalanan atau jalan-jalan. Setiap datang hari libur, agenda utamanya jalan-jalan, rekreasi.

Tanpa dirancang sebelumnya, secara serempak dan akumulatif masyarakat ramai-ramai merayakan Lebaran menjadi sebuah festival dengan beragam dimensinya. Secara religius pada malam sebelum Lebaran, suara takbir bergemuruh memenuhi langit Indonesia, terpancar dari masjid, jalan-jalan, televisi, dan radio. Menjelang Lebaran, prosesi kendaraan memenuhi jalan raya bagaikan semut, masing-masing punya tujuan berbeda. Namun, pada umumnya menuju kampung halaman masing-masing. Setelah ber-Lebaran di kampung, kembali lagi konvoi kendaraan memadati jalan menuju kota-kota besar untuk kembali bekerja. Itu sebuah peristiwa budaya yang dilakukan rakyat secara spontan, masif, bukan ciptaan negara.

Bagi para wakil rakyat dan pejabat tinggi negara, bertemu warga desa tentu sangat berarti kalau saja dijadikan sarana dengar pendapat, bicara dari hati ke hati. Tentu saja, warga desa tidak mau merusak suasana Lebaran dengan menyampaikan keluh kesah hidup mereka. Namun, politisi yang memiliki kapasitas sebagai pengamat dan peneliti sosial, kalau saja mau tentu akan sangat mudah membaca dan mengamati kondisi sosial rakyat. Sejak dari kondisi jalan, bangunan sekolah, pertanian, pertumbuhan penduduk, pusat-pusat ekonomi, pengangguran, dan berbagai aspek lain akan mudah ditelusuri datanya. Namun, lagi-lagi, kalau mereka memang memiliki kepekaan dan kepedulian rakyat.

Keselamatan sosial

Suasana psikologis setelah berpuasa sebulan dan saling memaafkan mendatangkan rasa lega. Berbagai ganjalan di hati terasa hilang atau berkurang. Paling tidak untuk sesaat. Namun, perlu diingat bahwa hubungan dengan Tuhan dan kekeluargaan serta perkawanan sifatnya lebih pribadi, tidak berarti menyelesaikan persoalan yang menyangkut utang atau urusan perdata serta pidana. Terlebih lagi, jika seseorang terlibat korupsi, tindakan dosa dan pidana di hadapan publik dan negara, tidak akan selesai urusannya dengan jalan saling memaafkan. Semoga saja dengan sebulan berpuasa hati dan pikirannya menjadi bersih jernih sehingga kalau dirinya merasa punya utang pada negara atau rakyat, tergerak untuk segera membayarnya. Kalau ada uang hasil korupsi segera dikembalikan pada kas negara agar puasanya sempurna dan diampuni dosa-dosanya.

Tak bisa dimungkiri banyak nilai dan sikap yang mulia berkat berpuasa dan ber-Lebaran. Namun, tujuan puasa ialah untuk meraih keselamatan pribadi, lalu merambah ke ranah keselamatan sosial. Keselamatan pribadi agar terhindar dosa dan siksa neraka. Adapun keselamatan sosial ialah dengan mewujudkan kesejahteraan, keadilan, dan kedamaian. Keselamatan sosial inilah yang mesti menjadi agenda semua orang beriman yang juga menjadi tugas serta tanggung jawab negara untuk mewujudkannya. Meski kita ramai-ramai berpuasa dan ber-Lebaran, kalau tidak sanggup mewujudkan kesejahteraan, keadilan, dan kedamaian, masyarakat akan tetap resah gelisah dan kacau. Itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan memperbanyak doa dan ritual.

Kita semua berharap bahwa perilaku santun, damai, dan mampu menahan diri dari berbagai godaan duniawi bukan sekadar interval sesaat, melainkan merupakan jati diri dan komitmen bersama sebagai modal tekad dan kekuatan untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang bersih. Sudah dapat diduga, setelah Lebaran, suasana akan kembali seperti sedia kala.

Wacana politik jelang pilkada serentak akan mengemuka. Berita korupsi belum juga lenyap meski rakyat sudah merasa bosan dan lelah. Namun, apa boleh dikata, kita jangan sampai lelah dan putus asa untuk mendukung setiap upaya untuk memberantas korupsi yang kian berani dan melebar ke mana-mana. Apa yang akan kita banggakan sebagai warisan pada anak cucu kalau ternyata mereka justru akan mendapatkan kondisi bangsa yang amburadul akibat korupsi yang dilakukan orangtuanya?

Sebuah imbauan, media publik jangan terlalu didominasi pemberitaan sensasional yang membuat emosi rakyat letih tanpa diimbangi penalaran kritis yang memberikan harapan dan bangkit ikut melawan korupsi serta memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara. Diharapkan jajaran intelektual juga ikut bicara menyampaikan kritik serta saran agar muncul optimisme yang beralasan melihat hari esok. Jangan biarkan politisi hanya sibuk mempersiapkan diri menghadapi pilkada yang akan datang sehingga lupa melaksanakan janji dan sumpahnya untuk memajukan bangsa, melayani rakyat.

Keselamatan akhirat

Ramadan dan Lebaran bukanlah momen untuk menghibur diri karena merasa dosanya sudah terputihkan. Salah satu pesan dan tujuan puasa ialah untuk memutihkan dosa pribadi dan meningkatkan keimanan serta ketakwaan yang berdampak pada penguatan komitmen untuk membangun kefitrian sosial, yaitu kehidupan yang selalu berorientasi pada kebenaran, kebaikan, keindahan, dan kedamaian. Puasa Ramadan menjadi cara serta latihan untuk mengukur seberapa besar pengendalian emosi, intelektual, dan spiritual manusia ketika memasuki kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang semakin plural dan bergerak cepat. Agama sangat menekankan pada pemeluknya untuk menciptakan keseimbangan hidup, kebaikan dunia, dan keselamatan akhirat fiddunnya hasanah wa fil akhirati hasanah. Kebaikan dunia antara lain berupa kehidupan yang damai, adil, sejahtera, dan produktif, serta bermakna bagi masyarakat luas. Selanjutnya, keselamatan akhirat merupakan buah dari amal salehnya selama hidup di dunia.

Acara ber-Lebaran dan halalbihalal di kantor-kantor tentu bagus untuk menjaga hubungan sosial yang hangat dan saling memaafkan. Namun, itu sama sekali bukan pemutihan dosa-dosa pejabat terhadap negara dan rakyatnya. Korupsi tak akan menjadi putih dan tutup buku dengan pulang mudik Lebaran serta halalbihalal.

Dalam ucapan Idul Fitri terkandung pesan moral, mari kita rayakan kemenangan kembali ke fitrah kita. Fitrah manusia itu selalu merindukan kebaikan, kebenaran, keindahan, kedamaian, dan kemerdekaan jiwa. Kelima nilai itu selalu kita dambakan, kita akan sedih dan nurani akan berontak ketika kelimanya terampas dari hidup kita. []

MEDIA INDONESIA, 13 Juli 2015
Komaruddin Hidayat | Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bahasa, Agama, dan Budaya

Oleh: Komaruddin Hidayat

Dari nama saja sudah bisa diduga bahwa saya seorang Muslim. Belajar Islam sejak kecil di lingkungan keluarga dan masjid. Setelah tamat pesantren lalu meneruskan ke Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 1974, yang sekarang berkembang menjadi UIN, Universitas Islam Negeri.

Di samping sebagai anak kandung ayah-ibu, saya adalah anak kandung budaya yang mengasuh dan membesarkan diriku. Produk pengasuhan budaya itu terlihat paling nyata dalam aspek bahasa, yaitu bahasa Jawa dan Indonesia. Ada ungkapan klasik: language carries cultures. Dalam bahasa terkandung budaya. Dalam bahasa tersimpan nilai-nilai yang diekspresikan dan diwariskan dari generasi ke generasi melalui tradisi.

Jadi, dalam diriku terekam dan tertanam nilai-nilai yang berakar kepada tradisi Jawa, Indonesia, dan Islam. Tradisi kejawaan dan keindonesiaan telah berbaur dan sulit dipisahkan. Mungkin juga antara keislaman dan kearaban di Timur Tengah juga saling terkait.

Dalam pengasuhan budaya

Membayangkan keislamanku, pasti telah bercampur dengan nilai-nilai kejawaan, keindonesiaan, dan kearaban. Ditambah lagi mungkin pengaruh studi dan pengalaman saya tinggal di luar negeri non-Arab. Oleh karena itu, saya tak berani menyebut diriku menganut Islam murni.

Bagi saya, istilah dan pembatasan Islam murni itu mengundang perdebatan. Konsepnya belum jelas. Meski terlahir sebagai orang Jawa, bagi saya yang namanya Jawa murni itu tidak ada. Seseorang itu tumbuh dalam pengasuhan budaya yang di dalamnya terdapat unsur-unsur agama. Terlebih sekarang kita hidup di era informasi yang telah memungkinkan terjadi banjir informasi merambah ke berbagai kelompok masyarakat tanpa bisa dibendung. Ditambah lagi informasi yang hadir dalam bentuk bahasa gambar membuat dunia terasa semakin sempit sekaligus plural. Perjumpaan antar budaya dan agama telah melahirkan konflik, tetapi sekaligus juga pengayaan yang berlangsung setiap saat.

Ketika membaca keislaman saya sendiri, sering kali saya merasakan terjadi dialog dan konflik antara pengaruh tradisi kejawaan, komitmen keindonesiaan, kesetiaan kepada Islam dan juga pengaruh keilmuan literatur filsafat Barat yang pernah saya pelajari. Hati saya sering tergetar dan kagum ketika membayangkan pemuda-pemuda angkatan 1928 yang telah berjuang untuk membangun dan merajut bangsa Indonesia, tetapi tetap menghargai dan menjaga identitas suku serta kekayaan daerah yang begitu beragam. Mereka menghadapi tantangan tidak saja dari imperialis Belanda, tetapi juga dari penguasa-penguasa lokal yang tengah menikmati kekuasaan dan bersahabat dengan penjajah. Cita-cita dan tekad mereka secara resmi menjelma dalam rumah besar negara yang berdaulat pada 17 Agustus 1945, meski proses pematangan konsep kebangsaan masih terus berlangsung hingga hari ini.

Keterikatan saya kepada tradisi Jawa dan cita-cita keindonesiaan bertemu dengan komitmen keislaman saya dalam rumah epistemologis-ideologis yang bernama Pancasila. Jika sila ketuhanan diposisikan dalam titik sentral, maka yang dimaksudkan adalah kebertuhanan yang menumbuhkan komitmen kemanusiaan yang bermuara kepada kesejahteraan yang berkeadilan bagi rakyat Indonesia. Kalaupun sila kemanusiaan yang menjadi pijakan sentral, yang diharapkan adalah perilaku kemanusiaan yang berketuhanan dan yang peduli kepada agenda keadilan dan kesejahteraan bangsa.

Dengan demikian, saya tidak mau memperhadapkan antara tradisi kejawaan saya dengan semangat keindonesiaan dan keislaman. Lebih dari itu, setiap ajaran agama selalu memerlukan rumah dan teritori negara sebagai tempat untuk tumbuh berkembang. Membayangkan dunia hanya diisi dan dikuasai oleh satu bahasa, etnis, budaya, dan agama adalah mustahil. Di samping itu juga tidak menarik dihuni.

Dengan segala keterbatasan yang melekat, saya belajar ilmu keislaman yang disajikan terutama dalam bahasa Arab dan Inggris. Meskipun Al Quran saya yakini sebagai wahyu Allah, tetapi bahasa mediumnya adalah lisan Arab yang terikat dengan tradisi dan kaidah budaya.

Oleh karena itu, jika disebutkan salah satu kemukjizatan Al Quran terletak kepada dimensi keindahan dan keunggulan bahasanya, terus terang saya tidak mudah menghayati dan menyelaminya karena saya bukan ahli sastra Arab. Saya cukup percaya saja kepada pendapat yang ahli bahasa Arab. Bahkan ketika berdoa dalam bahasa Arab, otak dan hati saya berbicara kepada Tuhan dengan bahasa Indonesia atau Jawa. Bibir saya mengucapkan bahasa Arab-Al Qur an, tetapi hati saya berbahasa Indonesia. Dengan demikian, saya sembahyang menggunakan multibahasa. Jika kekhusyukan shalat itu di hati, maka hati saya jangan-jangan shalat dengan bahasa ibu. Agama dan budaya saling membantu dalam shalat saya.

Mengingat kitab suci lahir dan terbakukan dalam ranah budaya, maka tanpa mengetahui bahasa dan budaya tempat lahir sebuah kitab suci banyak pesannya yang tidak tertangkap. Bagi diri saya yang lahir dan tumbuh di Indonesia, untuk memahami pesan Tuhan yang terkandung dalam kitab suci Al Quran terdapat banyak hambatan serius. Pertama, hambatan bahasa. Saya memahami dan mereproduksi ulang pesan Al Quran dalam benak saya yang menggunakan bahasa Indonesia. Padahal, karakter bahasa Arab dan Indonesia memiliki perbedaan serius. Jumlah kosa kata bahasa Arab lebih kaya dibandingkan bahasa Indonesia sehingga banyak sekali kata dan istilah dalam Al Quran yang tidak ditemukan padanannya dalam bahasa Indonesia. Akibatnya, terjadilah distorsi dan penyempitan makna ketika diterjemahkan mengingat banyak diksi dalam kitab suci yang bersifat konseptual sehingga memerlukan penjelasan panjang lebar.

Universalitas dan lokalitas

Yang sangat membantu diri saya untuk menangkap pesan dasar agama dan kemanusiaan adalah adanya konsep universalitas yang didukung penalaran rasional. Apa pun bahasa, agama, dan budaya seseorang mereka sepakat bahwa dalam perilaku dan pergaulan internasional terdapat nilai-nilai universal yang sama-sama ingin dijaga dan ditegakkan. Misalnya, konsep dan keinginan untuk menegakkan keadilan, kejujuran, perdamaian, dan hidup saling hormat-menghormati.

Dalam kajian psikologi moral dikatakan, setiap pribadi ingin meraih well being, hidup yang baik, benar, dan bahagia. Untuk meraih itu, salah satu syarat mutlak yang mesti dipenuhi adalah mampu membangun a good relationship, hubungan yang baik dengan orang-orang di sekitarnya dan yang memiliki kepentingan dengannya. Hal ini meniscayakan sikap untuk selalu menghormati perbedaan, menerima perbedaan, dan merayakan perbedaan itu. Jadi, menghargai keragaman merupakan keniscayaan jika ingin hidup damai.

Bahwa dalam sejarah terjadi konflik, peperangan dan kejahatan, semua itu kenyataan yang tak terhindarkan. Manusia terlahir dengan membawa nafsu dan kecenderungan egoistik serta tega memangsa yang lain. Namun, rasanya nalar sehat sepakat mengatakan bahwa kebaikan, kebenaran, keindahan, dan kedamaian serta keadilan merupakan realitas yang diidealkan dan selalu didambakan sepanjang sejarah. Semua itu sejalan dengan pesan agama, sehingga peperangan dan kejahatan dianggap melawan ajaran dasar agama dan peradaban.

Mengingat semua agama diyakini datang dari Tuhan pencipta manusia, maka nilai-nilai dasar agama memiliki perhatian kepada agenda kemanusiaan universal, sekalipun agama lahir dan terbentuk dalam jubah budaya dan bahasa yang bersifat lokal. Oleh karena itu, pesan universalitas agama terwadahi dalam format lokalitas bahasa dan budaya. Hanya saja ketika jumlah penduduk bumi semakin banyak, tak sebanding dengan jumlah penduduk di saat agama-agama itu lahir, dan perjumpaan lintas pemeluk agama juga berlangsung secara intens dan masif, maka nilai-nilai universal agama sering kali tertutupi dengan bungkus lokalnya.

Bungkus yang semula merupakan budaya lokal serta profan lalu disakralkan. Membela budaya seakan identik dengan membela agama. Arabisme dan Islamisme lalu tak terpisahkan. Sementara itu, agama Kristen yang juga lahir di wilayah Timur Tengah sekarang ter-“Barat”-kan.

Keberagamaan di Nusantara ini bisa menjadi dalam berbagai aspeknya lebih esensial, substantif, tetapi oleh sebagian orang dipandang dangkal, pinggiran. Mungkin sekali umat Islam Indonesia lebih bersemangat dalam melaksanakan ibadah. Lebih toleran dan senang menjaga keamanan ketimbang masyarakat Arab yang ribut bertengkar dan berperang dengan membawa jargon keagamaan.

Misalnya saja konflik Sunny-Syiah, itu warisan lama perebutan kekuasaan politik umat Islam Arab sepeninggal Rasulullah. Sementara di Indonesia, para sultan rela membubarkan diri demi lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Jadi, mengapa perebutan politik di Timur Tengah mau dibawa-bawa ke Indonesia dengan baju keagamaan? Kita mesti bedakan antara universalitas Islam dan lokalitas bahasa serta budaya yang menjadi medium dan kendaraannya. []

KOMPAS, 26 Juni 2015
Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta

Filsafat Itu Mengasikkan

Sumber Tulisan : Disini

Oleh: Komaruddin Hidayat
Guru Besar Filsafat dan Rektor Universitas
Islam Negeri Jakarta; Pernah Menjadi Dosen Islamologi di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

Sewaktu belajar di pesantren, saya pernah mendengar peringatan seorang ustadz (guru) agar jangan mempelajari filsafat karena cenderung menyesatkan iman. Filsafat adalah ilmu yang tidak berguna, yang mengawang-awang tidak menginjak bumi. Percuma membuang umur untuk belajar filsafat. Bahkan, seorang dosen saya di IAIN dulu pernah membuat perumpamaan, belajar filsafat itu ibarat tukang pancing yang bisa-bisa dilarikan ikan. Alih-alih memperoleh ikan, malahan kita yang terseret hanyut. Ada benarnya, memang, memasuki dunia filsafat itu bagaikan menceburkan diri ke lautan ide yang tidak jelas batas kedalamannya.

Filsafat bermula dari pertanyaan, berakhir dengan pertanyaan. Namun, pertanyaan awal dan akhir memiliki bobot yang jauh berbeda. Bukankah pertanyaan cerdas dan mendasar (radikal) merupakan panduan dan amunisi bagi pencarian kebenaran? Ketika hidup tak lagi memiliki pertanyaan bijak dan cerdas, maka hati dan pikiran kita tak lagi tumbuh, terjebak pada kesombongan dan sekaligus kepicikan.

Ketika membaca Karya Lengkap Driyarkara ini, ingatan saya langsung pada warisan Aristoteles, The Complete Works of Aristoteles, yang disusun oleh Jonathan Barnes. Meskipun ditulis lebih dari dua ribu tahun yang lalu, sebagian besar isinya masih relevan dan mencerahkan untuk pembaca hari ini. Begitulah salah satu ciri karya filsafat yang ditulis secara serius dengan mengangkat tema dan masalah kehidupan yang sifatnya fundamental dan perenial.

Hemat saya, karya Driyarkara ini akan mengubah pandangan klise sebagian masyarakat yang memosisikan filsafat sebagai ilmu yang steril, sebuah permainan logika kering, dan tidak peduli pada kehidupan nyata sehari-hari yang penuh ingar-bingar dan sekaligus juga duka serta air mata. Hidup begitu kompleks dan warna-warni. Oleh karena itu, jika filsafat mengklaim dirinya sebagai sebuah pencarian serius, sistematis, dan mendalam tentang makna dan tujuan hidup yang sejati, maka filsafat juga harus terlibat dalam wacana kehidupan secara total dan multidimensional.

Dari sekian buku filsafat yang beredar, buku ini merupakan sebuah pembelaan nyata dan cerdas terhadap urgensi dan signifikansi studi filsafat, di samping buku ini juga merekam pemikiran reflektif dan konseptual, khususnya seputar kebudayaan dan pendidikan di Indonesia. Buah dari proses pendidikan suatu bangsa adalah membangun budaya unggul, tetapi di sisi lain jika budaya yang ada tidak sehat, maka kualitas pendidikan yang dihasilkan juga tidak bermutu.

Dalam buku ini hubungan dialektis antara pendidikan dan kebudayaan begitu kental dan menarik direnungkan, terutama oleh para politisi dan penyelenggara pemerintahan. Dikatakan, esensi pokok dari pendidikan adalah memanusiakan diri dan orang lain, lalu kita mengada bersama serta membangun kebudayaan yang merupakan rumah tempat tinggal.

Dalam rumah budaya itu kebebasan pribadi merupakan nilai yang sangat mahal dan harus dijaga bersama sehingga dalam proses mengada bersama terjalin komunikasi eksistensial yang autentik (halaman 282). Oleh karena itu, jika proses sosial, politik, maupun ekonomi malah menggerus kebebasan dan malah menindas pilihan-pilihan seseorang, yang demikian itu merupakan kejahatan eksistensial yang harus kita cegah.

Memiliki dan mengetahui

Sekalipun tema dan diskusi filsafat kadang muluk-muluk dan abstrak, sesungguhnya yang dikaji dan dibicarakan oleh filsafat adalah diri kita sendiri (halaman 1001). Dengan demikian, filsafat bersifat eksistensial, fokusnya adalah kehidupan kita sehari-hari, tentang keberadaan manusia itu sendiri dengan segala sepak terjangnya. Filsafat berpangkal pada kehidupan yang konkret dan nyata. Kalaupun muncul teori yang kadang kala rumit dan njelimet, itu semata untuk mencoba menerangkan dan menggali makna di balik kehidupan manusia sehari-hari yang memang kompleks, menyimpan misteri dan kejutan, bukannya sebuah perjalanan yang selalu mulus dan lurus.

Jadi, kalau pada mulanya semua ilmu muncul dari rahim filsafat, yang demikian itu tidak salah mengingat filsafat bangkit dari sebuah kesadaran dan keheranan tentang dunia di sekeliling yang pada urutannya mendorong pemikiran sistematis, empiris, dan riset ilmiah. Dengan memahami perilaku dan watak alam, manusia melakukan sintesis- teknis-fungsional yang disebut teknologi agar kehidupan pada tataran teknis-praktikal menjadi mudah dan nyaman. Dewasa ini masyarakat sudah sangat bergantung pada teknologi yang merupakan kreasinya sendiri. Perkembangan ini pun memengaruhi gaya dan makna hidup bagi seseorang.

Ketika seseorang terlahir, tumbuh, dan dimanjakan oleh kultur kapitalisme, maka filsafat tidak pernah berhenti melakukan interupsi dengan berbagai pertanyaan kritis dan radikal tentang makna hidup. Bagi para filsuf, konsep memiliki yang lebih tinggi bukannya berupa pengumpulan dan penumpukan materi, melainkan memiliki dengan jiwa dan akal sehat terhadap ilmu dan pengetahuan yang benar. Kebenaran dan jalan hidup yang benar, yang mestinya menjadi prioritas untuk dimiliki dengan jiwa dan pikiran. Dengan cara pandang ini, maka menjadi jelas konsep kekayaan dan kepemilikan menurut filsuf. Hal ini cukup menonjol pada perjalanan hidup dan jati diri Driyarkara, yang memilih kekayaan batin dan pengetahuan ketimbang popularitas dan jabatan, meskipun jalan terbentang.

Persona yang menyejarah

Sekalipun tema-tema yang disajikan dalam buku ini begitu beragam dan sudah akrab dengan telinga dan pikiran kita, pendekatannya sangat reflektif dan dalam. Di situlah salah satu kelebihan Driyarkara, mampu menyajikan masalah berat dengan bahasa yang cair, komunikatif, dan sangat piawai menciptakan istilah-istilah filsafat dalam bahasa Indonesia sebagai padanan bahasa asing, baik yang berasal dari bahasa Latin, Jerman, maupun Perancis.

Ketika membaca halaman 1267, “Ke Manakah Arah Sejarah?” yang merupakan epilog pembahasan seputar tokoh fenomenologi dan eksistensialisme, ingatan saya muncul kembali ketika pertama kali membaca buku itu sekitar tahun 1978 sewaktu menjadi mahasiswa fakultas usuluddin di IAIN Jakarta (sekarang UIN, Universitas Islam Negeri). Pengenalan saya terhadap aliran eksistensialisme pertama kali melalui buku karangan Prof Dr Fuad Hassan dan kedua Driyarkara.

Oleh Driyarkara, kita diajak melakukan tur intelektual secara reflektif dan kontemplatif, memasuki wilayah religi dan kemanusiaan yang merupakan subyek utama sejarah. Dia sangat menekankan dimensi kemanusiaan yang senantiasa tumbuh sehingga Driyarkara juga telah memperkaya dengan idiom-idiom filsafat dalam bahasa Indonesia yang mengekspresikan ciri aliran eksistensialisme yang religius. Misalnya, pembaca akan menemukan ungkapan-ungkapan kata kerja seperti mengada, menyejarah, membudaya, memasyarakat, dan menegara. Bahwa manusia senantiasa bereksistensi untuk membangun dan membentuk dan menjadi dirinya sendiri.

Menarik diamati bahwa eksistensialisme yang dikembangkan Driyarkara sangat kental dengan nuansa religius dan humanis yang kemudian diberi konteks keindonesiaan. Oleh karena itu, dia menawarkan relasi dinamis antara wilayah persona, masyarakat, dan negara dengan mengacu pada Pancasila pada tataran yang lebih substansial-filosofis, bukannya struktural-politik. Dengan ungkapan lain, sekalipun kemanusiaan bersifat universal, sebagai individu setiap pribadi lahir, tumbuh, dan mengada dalam rumah kebangsaan dan terikat pada negara. Oleh karena itu, agama, kemanusiaan, dan Pancasila sebagai ideologi negara janganlah dipertentangkan. Semua saling berkaitan, memperkokoh yang satu terhadap yang lain. Mengingat manusia dan kemanusiaan itu inklusif dan tidak terbatas, sesungguhnya pada kodratnya apa yang disebut nasionalisme itu menuju dan bagian dari internasionalisme.

Baik pada nasionalisme maupun internasionalisme, kemanusiaan merupakan tali pengikat dan penghubung yang paling fundamental. Ikatan itu jika ditelusuri adalah semangat cinta kasih, yaitu keinginan untuk saling memberi. Namun, sekadar keinginan baik tidaklah cukup kalau tidak diatur oleh pranata hukum dan modus hidup bersama yang disebut demokrasi. Dalam melaksanakan demokrasi, seseorang tumbuh menegara, mewujudkan dan melindungi nilai-nilai kemanusiaan dalam rumah tangga negara. Tetapi negara bisa saja mengingkari cita-cita luhurnya jika menindas kebebasan dan martabat kemanusiaan warganya. Jadi, spirit agama dan negara memiliki agenda besar untuk memanusiakan warganya sebagai bagian dari kemanusiaan universal dan sebagai makhluk yang selalu ingin memenuhi tuntutan religiusitasnya, yaitu mendekat Tuhan sebagai Sumber Kasih.

Putra bangsa yang visioner

Terlahir di lereng Pegunungan Menoreh, Purworejo, Jawa Tengah, pada 13 Juni 1913, orangtuanya memberi nama Soehirman, tetapi setelah memulai hidup baru di Serikat Jesuit (SJ), lalu berganti nama Driyarkara.
Kecerdasan Driyarkara sudah terlihat sejak kecil. Bahkan, ketika duduk di kelas satu SMA, ia sudah menciptakan nama majalah seminar bernama Aquila yang berarti ‘Rajawali’. Namun, Aquila sendiri merupakan akronim dari Augeamus Quam Impensissime Laudem Altissimi (bahasa Latin) yang berarti kira-kira ‘Marilah kita tumbuh berkembang sekuat tenaga menambah keluhuran Yang Mahatinggi’.

Himpunan karya Driyarkara setebal 1.500 halaman ini merupakan rekaman pengembaraan intelektual sang rajawali dari bukit Gunung Menoreh, salah seorang anak bangsa yang pantas dibanggakan. Karya-karya tulisnya mengasyikkan untuk dibaca, seakan mendengarkan langsung kuliah dari sosok guru yang cerdas dan komunikatif.

Pembaca bisa memilih topik yang dikehendaki secara selektif karena tema yang disajikan sedemikian luas, meliputi persoalan negara, ideologi, pencarian makna hidup, pendidikan, dan kebudayaan. Gagasan besar dan pendekatan filsafat yang selama ini dipersepsikan njelimet dan berat, lewat tangan Driyarkara narasi filsafat menjadi cair, enak dibaca, bagaikan novel.

Bagi mereka yang sudah akrab dengan studi filsafat, buku ini memberikan inspirasi bagaimana disiplin filsafat dijadikan alat analisis dan refleksi kritis untuk meresponi masalah empiris sehingga filsafat tidak terpisah dari konteks kehidupan nyata, baik pada tingkat mikro maupun makro. Lewat buku ini pembaca juga akan mengenal lebih dekat pemikir-pemikir besar filsafat seperti Edmund Husserl, Max Scheler, dan Maurice Merleau-Ponty. Dari sekian pemikir yang disajikan, tampaknya Malebranche memiliki tempat khusus bagi Driyarkara yang menekankan subyek sebagai persona yang senantiasa mengada bersama yang lain, bukannya relasi yang ingin menaklukkan atau menindas.

Dengan mengulas Malebranche, Driyarkara mengingatkan kita bahwa pengetahuan dan pendekatan ilmiah tidak cukup untuk mengerti totalitas dan misteri hidup itu sendiri. Apa yang dialami, dihayati, dan dicari manusia jauh melebihi apa yang bisa disajikan oleh logika murni dan penjelasan ilmiah.

Dalam hal ini tampaknya Malebranche mendahului Kant dalam melakukan kritik terhadap akal murni. Keyakinan dan kerinduan kepada Tuhan tidak cukup dengan mengandalkan logika ilmiah karena wilayah logika ilmiah selalu dibatasi oleh masukan dan wilayah empiris. Misalnya prinsip-prinsip moral yang selalu diperjuangkan manusia sepanjang sejarah, seperti kebebasan, harga diri, keadilan, dan perdamaian, semuanya masuk wilayah eksistensial yang ilmu pengetahuan positif tidak mampu menjelaskan.

Oleh karena itu, persona dan dunia tempat manusia menyejarah pada dasarnya sudah berada dalam wilayah keberadaan alam dan Tuhan itu sendiri. Manusia mencari dan membangun jati dirinya di dalam dan bersama keberadaan hidup itu sendiri, yang semuanya berada dalam kuasa ilahi. Jadi, keberadaan Tuhan yang menjadi sumber dan akhir hidup manusia yang selalu dicari sepanjang sejarah manusia sesungguhnya sangat dekat dan jelas, tetapi sekaligus juga merupakan misteri yang sangat sulit dijangkau. Dalam hal ini, yang namanya kebodohan adalah situasi yang menutup kedekatan manusia dan Tuhannya. Pengetahuan akan kebenaran secara langsung dilihat sebagai kesatuan dengan Allah, sedangkan kesalahan merupakan keterpisahan dari tujuan terakhir, yaitu Allah. Memiliki kebenaran berarti memperoleh kebahagiaan, dan kesalahan adalah sumber kesusahan (halaman 1403). Menurut Malebranche, hanya ada Allah sebelum semesta ini diciptakan, dan semua realitas ini keluar dari ide-Nya. Dengan demikian, sesungguhnya semua realitas semesta ini ada di dalam Allah. Manusia, ibarat ikan, berputar-putar mencari lautan, padahal dia sudah berada dalam lautan.

Secara pribadi saya menjadi semakin memahami mengapa sosok Driyarkara lalu diabadikan sebagai nama Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Dengan kedalaman ilmunya dan juga pandangannya yang visioner, bermunculan pemikir-pemikir tangguh di bidang filsafat, agama (Katolik), dan kebudayaan dari STF Driyarkara. Kebertuhanan, keberperikemanusiaan, dan keberindonesiaan begitu kental mewarnai buku ini, yang semuanya memiliki nuansa dan spirit kata kerja, bukan kata benda, atau rumusan kognitif-formal.

Jalan

Sumber Tulisan : Disini

PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
@komar_hidayat

Yang namanya hidup itu berarti selalu bergerak. Salah satunya adalah berjalan. Makanya kalau kita melihat sekeliling, pasti akan ditemukan yang namanya jalan, entah jalan besar atau kecil, lurus atau berkelok, datar, naik atau turun.

Manusia selalu bergerak merupakan naluri bawaan. Selalu ingin melihat wilayah yang baru. Selalu ingin memperluas wawasan dan pengalaman hidupnya. Untuk memfasilitasi naluri sebagai peziarah ini, diciptakanlah sarana sejak dari sandal, sepatu, jalan, kendaraan hingga sekian peralatan lain agar perjalanan nyaman. Tak kalah penting, manusia juga membangun jembatan.

Tidak cukup melalui daratan, manusia juga berjalan dengan menggunakan jalur lautan dan udara. Lautan dan udara pun dikavling- kavling untuk lalu lintas kapal dan pesawat udara sehingga kemacetan tidak saja terjadi di daratan, tetapi sekarang jalan udara di atas Bandara Soekarno- Hatta Jakarta dan Adisutjipto Yogyakarta juga sering macet. Pesawat mesti antre untuk takeoff maupun landing.

Ketika perjalanan dan pengembaraan fisik untuk mengetahui luasnya dunia terhambat secara teknis, diciptakanlah internet dan teknologi fotografi serta televisi demi memenuhi dahaga berziarah berlanglang buana. Sekarang, dengan duduk di depan komputer atau televisi, kita bisa menjangkau dunia yang lebih luas dan warna-warni meskipun dalam sajian potongan-potongan gambar, rekaman video atau foto.

Orang bilang kita hidup di era visual age. Meskipun begitu, dorongan untuk melihat teritori, bukan sekadar peta, tak pernah mati. Makanya industri motor, mobil, dan pesawat selalu berkembang. Agen-agen travel pun bermunculan. Ketika realitas ini saya kaitkan dengan ajaran Islam, saya menemukan beberapa istilah konseptual di mana Islam juga sangat menekankan etos gerak.

Anda mungkin sangat akrab dengan istilah-istilah ini yang semuanya memiliki konotasi gerak dan jalan. Misalnya kata syariah, thariqah, sabilillah, hijrah, thawaf, madzhab, musafir, ziyarah, sa’i, isra’, mi’raj. Kata-kata itu semuanya mengandung makna berjalan atau bergerak baik pada level fisik maupun spiritual, berdimensi horizontal maupun vertikal. Kata syariah misalnya berasal dari sebuah jalan yang mendekatkan sumber mata air.

Oleh Islam lalu ditransendensikan sebagai jalan menuju kebahagiaan dan keselamatan dunia-akhirat. Jadi di situ Islam (dan agama pada umumnya) memberikan dimensi moral spiritual agar aktivitas hidup yang selalu ditandai dengan gerak itu memiliki tujuan yang lebih bermakna, bukan sekadar mobilitas fisik tanpa tujuan yang bersifat Ilahi. Ketika seseorang memiliki mobil, sebuah pertanyaan moral muncul.

Untuk bergerak ke mana dan untuk tujuan apa seseorang menjalankan mobilnya? Ketika kaki melangkah keluar rumah, ke mana dan untuk apa tubuh ini hendak dibawa? Semua aktivitas fisik dan intelektual yang kita lakukan ujungnya mesti mengundang pertanyaan moral, apa makna dan manfaat apa dari semua itu?

Mengabaikan pertanyaan moral sama saja menempatkan manusia tak ubahnya seperti hewan atau mesin. Pasalnya, salah satu dimensi dan misi manusia sebagai moral being adalah menegakkan nilai-nilai moral dalam kehidupannya di mana pun berada. Bayangkan saja, di mana pun pergi kita akan melihat sarana jalan dan teknologi yang mendukung agenda perjalanan manusia.

Mobilitas migrasi manusia semakin bertambah. Pergerakan manusia terjadi di sekeliling kita dan kita juga menjadi bagian dari gerak itu. Lagi-lagi, sesungguhnya apa agenda paling primer dari mobilitas ini semua? Bagi mereka yang tidak memiliki tujuan hidup mungkin saja tidak penting bertanya ke mana tubuh ini mau dibawa.

Tidak penting kaki akan berhenti di mana karena tidak memiliki tujuan. Bisa jadi yang primer adalah avoiding the pain, menghindari apa pun yang menyakitkan, lalu looking for the pleasure, mengejar apa pun yang dirasakan menyenangkan. Dalam konteks ini semua, hidup itu pun sebuah ziarah. Sebuah perjalanan. Kita tengah menelusuri lorong waktu yang kadang terasa pengap dan kadang menyegarkan.

Kadang terang dan lain kali remang-remang atau gelap. Faina tadzhabun? Ke mana engkau hendak pergi, tanya Allah dalam Alquran. Dalam perjalanan ini jika ditanyakan pada akal, ke mana ujungnya, tak lain adalah kematian.

Tapi kesadaran moral dan agama menyatakan bahwa di sana mesti ada jalan dan kehidupan lain mengingat banyak sekali utang-piutang moral seseorang yang belum lunas terbayar. Dan sungguh melukai rasa keadilan jika kematian yang menanti di pengujung jalan ini mengakhiri semua cerita dan drama kehidupan seseorang.

Dunia Semakin Plural

Sumber Tulisan : Disini

Selain handphone, saya selalu ditemani komputer tablet yang memungkinkan saya mengakses internet di mana pun dan kapan pun saya mau.

Meski berada di mobil atau selagi pulang kampung, saya dengan mudah membaca berita apa yang terjadi di dalam maupun luar negeri. Bahkan dengan Youtube atau Google saya bisa memilih topik bahasan keilmuan atau melihat figur selebritis sekedar untuk tahu. Yang sangat membantu tentu saja saya bisa membaca e-book atau bahkan belanja e-book dengan mudah.

Tak perlu repot-repot ke toko buku. Komputer tablet bisa berfungsi layaknya home portable library, toko buku, bioskop, dan alat komunikasi. Akibat dari industri internet, dunia semakin terasa plural. Kadang terasa sempit, lain kali terasa semakin warna-warni, banyak pilihan untuk dilihat dan dikunjungi meskipun pada tataran dunia maya.

Meskipun maya, ledakan informasi pengetahuan yang tersebar melalui internet sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan sosial, keilmuan, bisnis, dan dunia kerja. Setiap hari pengguna Facebook, Twitter, dan media komunikasi lain berbasis internet selalu bertambah. Foto dan catatan pribadi yang semula masuk wilayah privat, sekarang justru disebarluaskan. Pola komunikasi via internet menimbulkan sikap paradoksal.

Orang merasa dekat, bebas ngobrol masalah-masalah pribadi, padahal secara fisik berjauhan. Obrolan di internet terasa egaliter, tak ada sekat kelas sosial, merasa intim, tetapi bisa juga egois karena yang terjadi bisa jadi menjadikan orang lain sebagai tempat curhat layaknya keranjang sampah. Ada teman bercerita, melalui Facebook atau Twitter dia bebas dan merasa lega setelah menulis mengeluarkan unek-uneknya tanpa peduli respons pembacanya.

Bagi yang sering mengamati diskusi dalam dunia maya, materi diskusi dan pikiran yang muncul bisa bebas sekali, suatu hal yang tak mungkin terjadi dalam forum seminar atau ceramah. Misalnya saja diskusi tentang agama atau politik, peserta bebas bicara apa saja, bahkan ada yang membela pandangan orang- orang yang sinis atau anti agama. Dinilainya agama itu menjadi sumber pertengkaran dan peperangan.

Dan masih banyak lagi pikiran-pikiran yang akan membuat marah pembacanya. Namun karena yang hadir adalah lontaran pemikirannya, bukan sosok orangnya, yang muncul hanya sebatas perang argumen dan kata, bukan konflik fisik. Di situlah salah satu keunggulan forum internet, orang bebas berpendapat tanpa terjadi benturan fisik.

Di sisi lain orang juga dituntut membangun argumen yang kuat, bukannya pengerahan massa untuk melawan mereka yang berseberangan pemikirannya. Perjumpaan pikiran lewat dunia maya membuat dunia terasa semakin sempit dan plural, ditambah lagi dengan perjumpaan antar penduduk bumi yang jumlahnya sekarang mencapai 6 miliar yang juga telah mendorong mobilitas dan tukar-menukar antar warga negara dan bangsa.

Di dunia kampus atau kota-kota besar dunia akan mudah dijumpai masyarakat yang plural, berbaur komunitas lintas agama, budaya, dan bahasa. Situasi ini bisa membuat seseorang semakin kaya dan terbuka wawasannya, tetapi bisa juga sebaliknya merasa semakin sumpek, bingung, dan tidak siap menghadapi pluralitas hidup, terutama jika sudah menyangkut keragaman agama.

Beda agama lalu disikapi dengan kecurigaan dan kebencian. Padahal pluralitas ini suatu keniscayaan yang kalau disikapi dengan lapang dan pengetahuan justru menjadi sumber pengayaan hidup.

Bagi masyarakat Indonesia, mestinya sudah siap dan terbiasa menghadapi pluralitas ini mengingat sejak awal berdirinya republik ini sudah mencanangkan slogannya Bhinneka Tunggal Ika. Yang diperlukan adalah kematangan pribadi dan keluasan ilmu sehingga tidak hanyut dan bingung memasuki dunia yang kian plural.

Prof DR Komaruddin Hidayat
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah @komar_hidayat

source: http://nasional.sindonews.com/read/1022217/18/dunia-semakin-plural-1436491067