Kepemimpinan Spiritual

Sumber Tulisan : Disini

Jiwa dan raga kita ini ibarat sebuahnegara. Jika pemimpinnya tidak beres, akan kacau dan sakit semuanya. Yang sering menimbulkan masalah dan gangguan keamanan adalah ketika terjadi pembangkangan salah satu bagian tubuh terhadap pimpinan atau terjadi pertengkaran antarsesama organ. Tidak percaya? Coba dengarkan baik- baik dialog dan pertengkaran antara organ mulut dan perut ketika Anda makan enak atau terhidang makanan yang lezat, tetapi potensial membuat perut dan organ lain merintih protes.

Biasanya saking tergoda rasa enaknya, mulut tetap saja melahap makanan yang terhidang meskipun perut protes agar berhenti makan. Belum lagi pencernaan perut protes ketika menerima kiriman asupan yang penuh lemak dan mulut mengunyahnya kurang lembut. Yang paling parah adalah ketika mulut kecanduan rokok atau narkoba, paru-paru serta syaraf-syaraf tubuh menjadi rusak. Mereka sudah protes dan mengaduh kesakitan, tetapi tidak mau juga berhenti mengonsumsi.

Konflik lain antarorgan tubuh juga terjadi ketika kaki merintih capai membawa tubuh berputar-putar belanja. Lebih-lebih kala sang majikan menikmati belanja di mal lantaran ada diskon harga. Masih banyak contoh kejadian lain yang menggambarkan ketidakharmonisan dalam pemerintahan jiwa dan raga kita. Sayangnya kita enggan atau tidak jeli mendengarkan dialog dan pertengkaran yang sering kali terjadi karena terbiasa dengan konsep mendengar mesti suara yang bisa tertangkap telinga, konsep melihat mesti rupa yang harus kasatmata.

Perintah berpuasa yang datang dari Tuhan pencipta manusia bisa dipahami sebagai pedoman bagaimana menjalankan pemerintahan dalam dunia jiwa raga stabil dan seimbang. Bisa juga dipahami sebagai intervensi konstruktif demi menjaga kesehatan dan tercipta harmoni hubungan fungsional antarsemua organ fisik maupun nonfisik. Mari kita lihat dan renungkan. Kegiatan kita sehari-hari mungkin lebih didominasi tuntutan untuk memenuhi kebutuhan dan kenikmatan fisik atau jasmani.

Sehat jasmani ini sangat penting untuk mendukung kegiatan-kegiatan lain yang bersifat mental intelektual. Namun sering kali kita tidak mampu menjaga stabilitas dan keseimbangan serta keadilan dalam memperlakukan pembagian tugas. Nalar sebagai pemimpin pengambil keputusan dan mengontrol kinerja pasukan serta anak buah kenyataannya tidak selalu ditaati. Akibatnya yang terjadi adalah sakit, cepat letih, hidup tidak produktif serta melenceng dari arah dan tujuan yang didambakan.

Kepemimpinan nalar saja tidak cukup jika tidak dibantu konsultan yang membisikkan nilai dan orientasi spiritual. Sebuah seruan untuk setia pada jalan dan cita-cita yang melebihi kenikmatan fisikal, yaitu nilai-nilai luhur kemanusiaan yang muncul dari kesadaran dan penghayatan Ilahi yang sakral dan transenden. Namun pada praktiknya bisikan dan seruan spiritual itu pun tidak didengarkan dan dipatuhi. Nah, perintah berpuasa ibarat dalam dunia komputer merupakan reinstallment atau reset.

Tujuannya agar berbagai software yang telah diprogram dalam komputer diri kita bekerja kembali dengan normal dan sehat, di mana kekuatan dan visi spiritual harus mengambil kepemimpinan. Berbagai pembangkangan dan penyimpangan akibat hegemoni fisikal ditata ulang. Ritme hidup dijungkirbalikkan. Waktu malam yang biasanya untuk tidur nyenyak malah disuruh bangun untuk makan. Bahkan sekian televisi menyajikan kuliah keagamaan.

Kalau saja peraturan ini bukan datang dari Allah tak akan ditaati dan bertahan lama dari abad ke abad. Lalu pagi dan siang hari yang biasanya heboh makan minum memenuhi tuntutan fisik tiba-tiba distop. Kalau bukan karena kesadaran dan komitmen iman, tak mungkin orang mau melakukannya. Bagi yang tidak mau berpuasa, banyak jalan untuk makan dan minum. Banyak restoran yang buka.

Pemerintah pun tidak mencampuri apakah warganya benar-benar puasa atau tidak. Itu wilayah sangat pribadi. Hanya Allah dan yang bersangkutan yang mengetahui. Jadi, ibadah puasa melatih seorang yang beriman untuk mencapai martabat kemerdekaan yang sejati dalam beribadah. Benar-benar karena Allah tanpa paksaan dan pamer serta pencitraan. Ketika berpuasa seseorang telah menempatkan referensi spiritual di atas semua aktivitas.

Dengan ungkapan lain, puasa mengokohkan posisi spiritual leadership untuk memimpin dan mengarahkan aktivitas intelektual, fisikal, dan emosional. Ketika spiritualitas yang memegang tongkat komando, dampaknya ternyata sangat dahsyat dan mudah diamati. Jangankan yang haram, untuk halal pun seseorang sanggup menghindarinya seperti makan minum di siang hari. Pikiran, ucapan, dan tindakan juga terkontrol. Seseorang selalu ingin menjaga martabat dan kebersihan diri. Semuanya ini semata karena Allah, tetapi dampaknya untuk manusia.

Yang merusak puasa bukan hanya makan dan minum di siang hari, tetapi ucapan dan perilaku yang menyakiti serta merugikan orang lain. Alangkah indahnya kalau kepemimpinan spiritual ini efektif tidak hanya dijalankan pada bulan Ramadan.

PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah @komar_hidayat

Pilpres dan Ujian Berdemokrasi

Sumber Tulisan: Disini

KOMPAS.com – Ketika menulis esai ini, saya membayangkan pada hari Rabu, 9 Juli, ini masyarakat kita tengah merayakan pesta demokrasi menentukan siapa yang bakalan menjadi presiden dan wakil presiden periode 2014-2019.

Peristiwa mencoblos yang berlangsung hanya dalam hitungan menit akan menentukan perjalanan dan nasib bangsa lima tahun ke depan atau bahkan lebih.

Siapa pun yang akhirnya terpilih sebagai pasangan presiden dan wakil presiden semoga akan mengakhiri era transisi reformasi ini serta mendorong bangsa dan masyarakat berubah menjadi adil dan sejahtera. Jangan sampai agenda reformasi mengalami setback.

Dalam benak saya juga bertanya-tanya, apakah mayoritas pemilih ketika menentukan pilihannya didasari informasi dan pengetahuan yang cukup tentang capres-cawapresnya ataukah atas desakan luar dan merasa utang budi karena sudah menerima amplop ”serangan fajar” yang sesungguhnya menghina dirinya dan merusak kualitas demokrasi?

Dibandingkan dengan Pemilu 2004 dan Pemilu 2009, pemilu kali ini kualitasnya semakin menurun. Sewaktu pemilihan anggota legislatif yang lalu, praktik kecurangan dalam penghitungan suara dan politik uang semakin marak. Dan, semasa kampanye pilpres sebulan terakhir ini, kampanye hitam sampai fitnah bermunculan sehingga memanaskan suasana. Jadi, para pengamat dan peneliti menilai Pemilu 2014 ini merupakan pemilu yang paling buruk.

Keberhasilan seorang calon wakil rakyat dalam pemilu legislatif lebih ditentukan oleh uang dan kedekatan elite partai ketimbang prestasi, ideologi, dan gagasan. Dalam pilpres hari ini pun dikhawatirkan faktor uang dan kampanye hitam akan menggerus kualitas demokrasi sehingga prinsip jujur, adil, dan transparan tergusur ke pinggir.

Kebenaran dan kemenangan

Ada ungkapan klasik tentang politik yang sesungguhnya tidak benar, tetapi kelihatannya disetujui banyak orang, yaitu demi menutup kekurangan dan kesalahannya, seorang politisi tak segan melakukan kebohongan publik demi meraih kemenangan. Panggung politik penuh dengan pencitraan dan kepura-puraan.

Ini berbeda dari tradisi keilmuan yang harus mendahulukan kejujuran untuk mengakui kesalahannya karena kebenaran ilmiah di atas kepentingan pribadinya. Idealnya, dalam panggung politik pun menyatu antara kebenaran dan kemenangan. Seseorang menang karena benar atau dia benar, maka dia menang.

Tetapi, nyatanya tidak demikian dalam pergulatan politik dan kekuasaan. Di sana banyak wilayah kelabu sehingga kebenaran tidak menjamin sebuah kemenangan. Saya masih ingat pelajaran di pesantren dulu: Alhaqqu bilaa nidham, qod yaghlibuhul bathilu binnidhom. Kebenaran tanpa organisasi yang baik kadang kala dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisasi dengan baik.

Jangan diartikan saya memandang dua pasang capres-cawapres yang kemenangannya ditentukan hari ini sebagai gerakan kebatilan versus kebenaran. Namun, saya hanya ingin mengingatkan bahwa dalam pertarungan politik, kelompok mana pun, selalu saja ada oknum yang agenda utamanya hanya mengejar keuntungan pribadi sekalipun dengan cara batil untuk meraihnya.

Praktik fitnah dan kampanye hitam merupakan contoh nyata dari sebuah kebatilan yang dilakukan secara sistematis (well organized). Dan, ini akan ditemukan sepanjang sejarah perebutan kekuasaan. Sejarah memberikan catatan terang benderang bagaimana emosi dan simbol keagamaan dipermainkan untuk memenangi sebuah pertarungan politik, baik dalam dunia Kristen maupun Islam.

Perseteruan antara dinasti Abasiyah dan Umayah di abad tengah yang sesama Muslim sangat kental melibatkan emosi dan simbol agama untuk menjatuhkan yang lain. Begitu pun akar perseteruan antara kelompok Sunni dan Syiah adalah perebutan kekuasaan sesama umat Islam di abad tengah yang kini masih berkelanjutan di Timur Tengah yang sesungguhnya bukan bagian dari sejarah umat Islam Indonesia.

Jebakan reformasi

Setelah 16 tahun berjalan, prestasi nyata dari reformasi adalah munculnya iklim kebebasan berpendapat dan pembatasan masa jabatan presiden. Adapun desentralisasi kekuasaan yang semula diharapkan agar mempercepat dan memperbaiki layanan birokrasi pada rakyat, ternyata hasilnya sangat mengecewakan.

Kondisi pembangunan dan pendidikan daerah semakin mundur. Pemerintahan yang dihasilkan oleh pemilihan umum kepala daerah sebagian besar buruk kinerjanya, bahkan banyak yang kemudian berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Apa yang dibayangkan tokoh dan aktivis gerakan reformasi 1998 pada kenyataannya tidak seindah yang diharapkan. Ibarat kendaraan, perjalanan reformasi menemui banyak blind spot. Banyak lubang-lubang jebakan yang tidak terlihat sehingga kendaraan oleng dan tidak nyaman serta merusak kendaraan itu sendiri.

Kebebasan tanpa disertai penegakan hukum dan etika politik telah menciptakan kekecewaan dan kemarahan masyarakat. Beberapa survei menyebutkan bahwa rakyat semakin tidak percaya kepada lembaga perwakilan rakyat dan lembaga tinggi negara. Ini semua disebabkan maraknya korupsi yang dilakukan para pejabat pemerintah dan politisi yang ketika masa kampanye menebar janji untuk menciptakan pemerintahan yang bersih.

Kita semua ingin sekali Pemilu 2014 ini mampu mengakhiri kehidupan berbangsa yang masih karut-marut agar bangsa Indonesia lepas landas (take-off) mampu berkompetisi dengan membanggakan dalam pergaulan dunia berkat kemajuan dan kesejahteraan rakyatnya.

Namun, lagi-lagi keinginan itu masih juga disertai pesimisme ketika melihat proses dan hasil pemilu legislatif yang dicederai dengan maraknya politik uang dan yang memenuhi kursi wakil rakyat masih juga wajah-wajah lama yang kurang berprestasi. Kini, harapan masih ada yang dialamatkan pada pasangan capres-cawapres yang ditentukan hari ini yang memiliki mandat membentuk kabinet untuk memimpin pemerintahan Indonesia lima tahun ke depan.

Pilpres kali ini benar-benar merupakan batu ujian, akankah bangsa ini lulus dan naik kelas atau jatuh terperosok. Kalau kita lulus, harapan ke depan sangat menjanjikan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa. Rakyat akan menaruh kepercayaan kepada negara, parpol, dan demokrasi. Dunia pun akan respek kepada Indonesia.

Oleh karena itu, mari kita kawal bersama agar pilpres ini tetap berlangsung jujur, adil, transparan, dan damai. Kalau sampai terjadi keributan atau bahkan bentrokan berdarah-darah yang akan merusak mata rantai agenda pilpres yang telah menelan biaya sangat mahal ini, baik material maupun sosial, yang akan menanggung kerugiannya adalah kita semua. Dunia pun akan melecehkan kita. Investor dalam dan luar negeri tidak lagi percaya kepada pemerintah. Agenda pembangunan tidak berjalan. Ujung-ujungnya rakyat yang menderita.

Mengamati dinamika dan perilaku politik selama ini, saya sendiri tidak menaruh harapan terlalu tinggi terhadap hasil Pemilu 2014 ini. Namun, minimal menyaksikan pilpres berlangsung aman dan damai, sekecil mungkin terjadi kecurangan.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mesti bekerja secara profesional, sakti dari teror uang dan ancaman pihak-pihak yang akan mengacau dan merusak kualitas piplres. Rakyat sudah letih mengawal dan mengikuti rangkaian acara pemilu. Jangan sampai partisipasi dan perngorbanan mereka disia-siakan, bahkan dibuat lagi kecewa dan marah akibat penyelenggaraan pilpres yang tidak beres.

Rekonsiliasi nasional

Seperti dikemukakan oleh para pengamat, pilpres yang diikuti dua pasang capres-cawapres dengan mudah menciptakan keterbelahan masyarakat. Akan berbeda jika pasangan yang berkompetisi lebih dari dua sehingga tidak menciptakan suasana berhadapan-hadapan, head to head secara frontal.

Tidak bisa diingkari bahwa di sejumlah daerah dan lapisan masyarakat suasananya memanas untuk saling mengunggulkan jagonya dengan merendahkan yang lain. Bahkan, ada yang disertai dengan memfitnah terhadap yang lain. Namun, sisi positifnya juga banyak.

Masyarakat menjadi lebih tertarik dan mudah berpartisipasi karena pasangan capres-cawapres yang disodorkan hanya dua, dan mereka sudah dikenal publik. Dengan kata lain, telah terjadi pembelajaran politik bagi rakyat secara masif dalam rangka meningkatkan pemahaman dan kedewasaan berdemokrasi.

Hal baru yang ikut membuat gaduh dan letih masyarakat adalah peran media sosial yang menyediakan ruang bagi perdebatan bebas dan kadang melakukan dramatisasi secara hiperbolik tanpa kontrol. Rakyat pun sekarang mulai berani menyuarakan secara terbuka pilihan politiknya. Kini, semuanya sudah berlalu. Politics is restless. Democracy is noisy, kata orang.

Apa pun yang terjadi, mari kita terima dengan lapang, itulah realitas dan capaian bangsa kita dalam proses pendewasaan berdemokrasi. Di sana ada unsur trial and error. Ada eksprimentasi dan kesalahan. Dengan kesalahan dan luka yang kita alami bersama, kita akan memperoleh banyak pembelajaran berpolitik untuk bahan perbaikan ke depan.

Agenda berbangsa dan bernegara ini masih ratusan tahun ke depan, sedangkan agenda pilpres hanya dalam hitungan minggu. Jangan sampai perbedaan kubu pasangan dan dukungan politik yang hanya sesaat akan menggerogoti semangat persaudaraan, persatuan, dan tekad bersama untuk membangun bangsa dan rumah Indonesia, rumah kita bersama, apa pun asal etnis, agama, dan parpolnya.

Semoga pilpres ini nantinya akan kita kenang sebagai sebuah pesta. Setiap pesta besar pasti melelahkan dan menelan ongkos yang juga besar. Namun, melegakan karena hajat besar bangsa telah berhasil kita laksanakan dengan penuh gairah dan cinta semata untuk kemajuan bangsa dan rakyat.

Kepada pasangan yang kalah, secara moral mereka adalah juga pemenang karena telah mengantarkan pasangan baru presiden dan wakil presiden. Kepada yang menang, mereka mesti berterima kasih kepada yang kalah karena tanpa mereka Anda tak akan jadi pemenang. Jadi, sesungguhnya kedua pasangan itu merupakan putra-putra bangsa terbaik yang karena dorongan cintanya untuk memajukan bangsa, mereka berkompetisi.

Di atas semua itu, yang memiliki kedaulatan sesungguhnya adalah rakyat. Para elite politik dan parpol memiliki kewajiban moral untuk merajut kembali sekiranya pilpres ini menyisakan friksi dan luka dalam masyarakat.

Komaruddin Hidayat
Rektor UIN Jakarta

Pendidikan Mengangkat Martabat Bangsa

Sumber Tulisan: Disini

Komaruddin Hidayat ; Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
KORAN SINDO, 12 September 2014

Dalam berbagai forum pelatihan guru-guru saya sering memulai dengan mengajukan pertanyaan sambil memegang handphone (HP/telepon genggam) dan mikrofon: mengapa harga handphone jauh lebih mahal, bahkan berlipat, ketimbang mikrofon, padahal secara fisik ukurannya lebih kecil?

Jawabannya tentu sudah kita ketahui bersama. Meski ukurannya kecil, HP memiliki banyak fungsi yang sangat membantu aktivitas kita sehari-hari. Yang paling primer adalah mendekatkan jarak pendengaran dan pembicaraan yang tadinya jauh dan tak akan terjangkau oleh telinga lalu menjadi dekat. Di mana saja, kapan saja, selagi sinyalnya bagus kita bisa berkomunikasi lisan dengan teman melalui HP sekalipun berjarak lintas benua.

Lebih dari sekadar untuk berbicara, HP juga dilengkapi berbagai fasilitas yang kita perlukan, sejak dari kamera, kalender, akses ke internet, musik, peta bumi, kamus, Alquran, dan sebagainya. Faktor lain lagi yang membuat menarik dan mahal adalah desainnya yang indah dan mungil. Jadi, apa yang membuatnya mahal? Karena di dalam HP terdapat investasi sains dan teknologi canggih.

Demikian pula halnya dengan manusia. Hal yang membuatnya berharga dan dicintai serta diperlukan banyak orang bukan terletak pada fisiknya yang besar, melainkan kualitas yang melekat pada dirinya, terutama integritas dan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Keduanya ini merupakan produk pendidikan yang bermutu dan berkesinambungan, mengingat mendidik seseorang sampai membuahkan hasil diperlukan waktu sekitar 20-25 tahunan.

Beda dari menanam padi atau jagung yang menjanjikan panen hanya dalam waktu 3 bulanan. Pisang sekitar 6 bulanan, kelapa sekitar 5 tahunan. Jadi, untuk meletakkan dasar dan strategi pendidikan bagi anak-anak bangsa mesti berpikir jauh ke depan, bukan berubah-ubah dan heboh setiap lima tahunan seperti halnya pemilu. Presiden beserta jajaran kabinet serta anggota DPR boleh saja ganti setiap lima tahun.

Namun, pola dan strategi pendidikan tidak boleh berubah-ubah, kecuali dalam jangka waktu tertentu berdasarkan riset dan pemikiran yang matang. Bahkan sangat bisa jadi keberhasilan sebuah program pendidikan, ibarat menanam benih pohon, seorang presiden atau menteri pendidikan yang meletakkan fondasinya tidak melihat hasilnya karena sudah lebih dulu meninggal.

Sejarah berbagai negara memberikan pelajaran, misalnya saja China, Australia, Jepang, Korea, Hong Kong, Singapura, dan Malaysia, bahwa berkat pemerintah mereka yang sangat peduli dan serius dalam merancang dan melaksanakan strategi pendidikan bagi rakyatnya, negara-negara itu lebih maju.

Penduduk bukannya menjadi beban dan menambah angka kemiskinan, tetapi sebagai kekuatan produktif untuk memacu dan menyangga kemajuan bangsa dan negaranya. Australia, yang dulunya sebagai tempat pembuangan atau penampungan penjahat kulit putih dari Eropa, sekarang merupakan salah satu negara paling makmur di dunia dan menjadi kiblat pendidikan. Jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar ke Australia lebih besar ketimbang mereka yang ke Amerika.

Ini semua berpangkal pada sistem pendidikannya yang dikelola secara serius dan terbuka bagi inovasi baru yang lebih baik. Begitu pun Jepang dan Korea Selatan, meski sumber daya alam dan jumlah penduduknya jauh lebih kecil dibanding Indonesia, karena pendidikannya bagus maka sektor industri menjadi terdongkrak maju yang pada urutannya membanjiri pasar Indonesia.

Padahal, berapa banyak universitas di Indonesia yang usianya lebih tua, jumlah mahasiswanya lebih banyak, namun alumni yang dihasilkan tidak seproduktif mereka. Di mana letak kesalahannya? Bagaimana halnya dengan negara-negara kecil seperti Hong Kong atau Singapura? Mereka lebih mudah dan cepat melakukan pemerataan dan akselerasi pendidikan bagi warganya.

Singapura yang dulu lebih dikenal sebagai kota transit dan belanja, sekarang berhasil mengubah citranya sebagai negara yang menawarkan pendidikan bagus. Banyak profesor asing kelas dunia dihadirkan ke Singapura sehingga kultur dan kualitas pendidikannya berkembang baik berada pada peringkat kelas dunia. Yang juga fenomenal adalah Malaysia. Putra-putri terbaiknya secara masif difasilitasi untuk belajar ke luar negeri pada universitas kelas dunia atas beasiswa negara.

Selain itu, sekian banyak sarjana berkualitas dari Indonesia ditawari untuk menjadi dosen di Malaysia. Mereka bekerja untuk mendidik dan memintarkan warga Malaysia dengan fasilitas dan gaji cukup. Jadi, jika sektor pendidikan di Indonesia tidak dibenahi secara serius dan memperoleh perhatian serta prioritas langsung dari jajaran wakil rakyat dan presiden, mudah diprediksi bangsa ini akan kalah bersaing dalam percaturan global.

Sekarang pun dalam berbagai hal sudah kalah bersaing karena kelemahan kualitas SDM kita. Akar masalahnya adalah pada kebijakan dan politik pendidikan yang salah. Akibatnya, perkembangan penduduk yang mestinya menjadi ” bonus demografi”, jangan-jangan malah menjadi beban negara. Subsidi negara selalu naik, tetapi produktivitas rakyat menurun.

Kita tidak bisa lagi menggantungkan kemurahan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan hidup tanpa disertai keunggulan sains dan teknologi dibawah pemerintahan yang bersih.

Perennial Wisdom

Sumber Tulisan: Disini

Oleh : KOMARUDDIN HIDAYAT
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Sindo, Jumat 23 Mei 2014

Kapan pun diterbitkan, semua buku terasa baru ketika pertama kali dijumpai dan dibaca. Sebagaimana juga setiap anak manusia yang baru terlahir seakan bumi ini baru tercipta untuknya, padahal sudah lama dihuni oleh nenek moyangnya.

Ketika kita membaca buku, seringkali merasakan di sana tak ada gagasan baru. Banyak informasi dan pernyataan klasik yang diulang-ulang kembali. Ini amat terasakan ketika kita membahas pesan moral, misalnya tentang kejujuran, keberanian, kasih sayang, semangat saling tolong-menolong serta melayani, dan sebagainya. Bukankah sejak zaman Yunani Kuno sampai sekarang gagasan tentang kejujuran tak pernah berubah? Begitu pun teks kandungan kitab suci justru selalu dijaga keasliannya.

Meski diwahyukan ratusan atau ribuan tahun silam, kitab suci masih tetap menarik dibaca dan direnungkan karena apa yang disajikan merupakan perennial and timeless wisdom atau alhikmah al-khalidah. Sebuah ajaran dan pesan kebaikan abadi yang tak pernah lekang oleh waktu. Dalam ajaran Islam, misalnya, tata cara dan adegan sembahyang memiliki bacaan baku yang wajib dibaca berulang kali tanpa perubahan, dan itu sudah berlangsung sejak belasan abad lalu. Meski diulang-ulang pesan dan kandungannya senantiasa aktual dan relevan. Artinya, tidak semua yang klasik dan lama berarti buruk dan mesti diganti.

Jika kita perhatikan sejarah peradaban manusia, pada masa klasik antara Abad V sebelum dan setelah Masehi, di berbagai belahan bumi muncul guru-guru peradaban yang telah meletakkan dasar kebajikan moral dan ajaran ketuhanan dengan bahasa dan latar budaya yang berbeda. Zaman itu ada yang menyebutnya sebagai axial age. Abad poros bagi peletakan fondasi moral dan ketuhanan bagi manusia. Pada abad-abad itu lahir para nabi dan orang-orang suci yang menyuarakan pesan langit sebagai pedoman hidup bagi penduduk bumi.

Prinsip-prinsip moral dan paham ketuhanan yang disebarkan oleh para rasul Tuhan itu berkembang sampai tingkat kematangan jauh mendahului abad kelahiran sains dan teknologi modern. Menariknya lagi, setelah Nabi Muhammad tak ada lagi sosok nabi. Kalaupun ada yang mengaku dirinya nabi utusan Tuhan, ajaran dan pengaruhnya tak mampu menyaingi para nabi-nabi sebelumnya yang oleh umat Islam Nabi Muhammad diyakini sebagai pamungkasnya.

Dengan mengamati ulang evolusi peradaban manusia, tampaknya Tuhan ingin menyampaikan sebuah pesan bahwa silakan manusia melakukan eksplorasi dan pengembangan sains serta ilmu pengetahuan dan teknologi ultramodern dengan anugerah nalar yang telah diberikan, tetapi jangan sampai melepaskan landasan moral yang sudah ditanamkan oleh para rasul-Nya. Kalau itu terjadi, prestasi iptek modern tak menjamin membawa kebaikan dan kebahagiaan, sementara jauh-jauh sebelumnya Tuhan telah mengingatkan melalui para rasul-Nya agar nilai kebertuhanan dan moralitas harus menjadi fondasi.

Karenanya, kita melihat dua orientasi pemikiran manusia. Dalam hal kreasi dan inovasi bidang sains, para ilmuwan mesti menatap dan melangkah ke depan. Bahkan sains cenderung dan bisa bersifat ahistoris. Namun dalam bidang agama dan humaniora, kita diajak menghubungkan diri ke sumber masa lalu yang menyediakan pesan wisdom of life. Sumber masa lalu itu jika ditelusuri dan didalami akan memperkenalkan kita pada guru-guru peradaban agung yang ajarannya pasti sejalan dengan bisikan nurani kita terdalam.

Orang beragama selalu ingin terhubung dengan sosok nabi pembawa ajaran suci yang hidup ratusan atau ribuan tahun yang lalu. Membayangkan ingin hidup sezaman dan berada di dekatnya. Sebaliknya, para ilmuwan sains melakukan eksplorasi dan pengembaraan ke masa depan bagaikan mengejar kaki langit. Ilmuwan selalu menatap dan melangkah ke depan, agamawan selalu menengok dan mencari akar otentisitas ke belakang. Namun setelah pencari kebajikan abadi menemukan apa yang dicari di belakang, mereka harus kembali lagi memasuki percaturan hari ini dan berjalan menuju hari esok untuk mendampingi gerak laju para ilmuwan.

Dengan demikian, apa yang disebut perennial wisdom dan formula sains sesungguhnya saling isi mengisi, saling bergandengan tangan, tidak boleh keduanya berpisah atau bahkan bermusuhan. Kalau itu terjadi, maka bangunan peradaban dan kebudayaan akan keropos, lumpuh dan ambruk. Dengan ungkapan lain, ajaran moral tanpa dukungan sains tak akan mampu menyelenggarakan kehidupan yang nyaman dan sejahtera. Sebaliknya, sains tanpa prinsip moral dan ketuhanan akan kehilangan dimensi transenden, kehidupan menjadi mekanistis dan dangkal. Iptek mampu menawarkan fasilitas hidup secara teknis agar terasa nyaman dan mudah dijalani.

Tetapi iptek tak bisa mengambil alih ajaran moralitas agama yang menawarkan makna dan tujuan hidup transenden sehingga kehidupan tidak berhenti pada nihilisme, meaninglessness, dan absurditas

Defisit Kepercayaan

Sumber Tulisan : Disini

Defisit Kepercayaan

Oleh: Komaruddin Hidayat

Kita semua mudah membayangkan, bahkan mungkin pernah mengalami, betapa tidak nyamannya ketika sebuah relasi sosial diterpa defisit kepercayaan. Energi batin akan terkuras jika antara suami-istri sudah saling curiga.

Orang tua dan anak tak lagi saling percaya. Begitu pun jika hal demikian terjadi antar sesama teman atau antara atasan dan bawahan dalam sebuah perusahaan atau perkantoran. Kehidupan akan terasa aman, nyaman, dan menjadi produktif jika tercipta kultur saling percaya dan saling menghargai. Karena pada dasarnya kita semua makhluk sosial. Tidak akan bisa memenuhi kebutuhan dasar tanpa bantuan dan kerja sama dengan orang lain.

Meminjam ungkapan Fukuyama, masyarakat yang mengalami defisit kepercayaan (low trust society) akan menelan biaya ekonomi dan sosial amat tinggi sehingga pasti tidak akan sanggup berkompetisi dalam panggung dunia. Ini semua kita alami dan rasakan. Kita sulit percaya pada birokrasi dan pelayanan negara karena sering kali dikecewakan. Sejak mengurus KTP sudah diminta uang.

Dalam berbagai perizinan usaha banyak sekali pungutan ilegal sehingga menambah ongkos produksi. Padahal tugas negara itu melayani, sedangkan mereka sudah digaji. Tugas negara adalah memberikan kenyamanan kepada warganya. Sekarang ini banyak orang tua waswas ketika melepas anaknya ke sekolah. Padahal sudah ada penjaga keamanan di jalan maupun di sekolah. Bahkan sekolah mahal yang bertaraf internasional, Jakarta International School (JIS), tidak juga bisa dipercaya untuk menjaga keamanan anak-anak didiknya.

Guru pun tidak dipercaya menyelenggarakan ujian nasional sehingga dikerahkan polisi untuk mengawasi. Yang ironis adalah jika rakyat tidak lagi percaya kepada wakilnya yang duduk di lembaga DPR. Ini semua indikator nyata betapa kita dilanda krisis kepercayaan baik vertikal maupun horizontal. Sekarang ini yang juga menyedihkan adalah instrumen negara yang bertanggung jawab bagi keberhasilan pileg dan pilpres ternyata di berbagai daerah sulit dipercaya kinerjanya.

Rakyat kecewa pada kinerja Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang tidak amanah menjaga dan meneruskan data dan fakta otentik suara pemilih. Beberapa caleg marah karena hasil suaranya hilang berpindah ke caleg lain. Caleg yang tidak memiliki saksi suaranya tidak dijamin keselamatannya. Sementara saksi akan mempertimbangkan besar-kecilnya bayaran. Orang lebih percaya pada uang ketimbang kepada orang.

Zona yang paling dan harus mendatangkan rasa nyaman, aman dan saling percaya tentu saja keluarga. Tapi apa jadinya kalau lingkungan keluarga pun mengalami defisit kepercayaan? Pemerintah ke depan mesti bekerja keras membangun kepercayaan publik kepada negaranya. Oleh karenanya kabinet mendatang mesti diisi orang-orang yang pantas dipercaya baik karena integritasnya maupun kompetensi bidang keahliannya.

Tidak hanya kabinet, sesungguhnya semua pimpinan daerah juga mesti memiliki komitmen yang sama, bagaimana membangun pemerintahan yang bisa dipercaya dan jadi solusi bagi rakyat, bukannya malah menciptakan masalah dan menambah beban rakyat. Sebagai orang awam dalam bidang ekonomi, saya sulit menjelaskan mengapa negara kita terbelit utang. Padahal sumber alam melimpah.

Banyak orang pintar dan perguruan tinggi berdiri di mana-mana. Tapi mengapa kita sulit melakukan pembangunan sejak dari infrastruktur, pusat-pusat industri dan ruang publik yang indah dan nyaman dihuni? Para politikus sibuk memenangi pileg dan bersiap memenangi pilpres, tapi seberapa peduli dan serius memenangi hati rakyat untuk menciptakan trust society, masyarakat yang bisa hidup bersama dengan sikap saling menghargai dan memercayai?

Di antara solusi yang mesti ditegakkan adalah adanya kepastian hukum, birokrasi yang melayani dan tidak korup, keteladanan dari para pemimpin untuk hidup sederhana, dan keberpihakan yang jelas kepada rakyat menengah ke bawah. []

KORAN SINDO, 02 Mei 2014

Komaruddin Hidayat ; Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Agama dan Pemilu

Sumber Tulisan : Disini

Komaruddin Hidayat ; Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
KOMPAS, 25 Maret 2014

EMOSI dan keyakinan agama masyarakat Indonesia sangat kental sehingga opini dan pilihan keberagamaan seseorang akan selalu berpengaruh ketika mengambil keputusan penting, termasuk dalam peristiwa pemilu legislatif dan pemilihan presiden.
Ketika seseorang memilih wakil rakyat dan pasangan calon presiden-calon wakil presiden (capres-cawapres), sangat mungkin muncul pertimbangan afiliasi keagamaan seseorang. Jangankan di Indonesia yang masyarakatnya dikenal religius, di Amerikat Serikat yang pemerintahannya sekuler pun pengaruh Protestan masih sangat kuat dalam setiap pemilu.

Aspirasi dan emosi keagamaan setidaknya terekspresikan dalam empat domain, yaitu individual, komunal, kelembagaan, dan negara. Pada domain individual dan komunal, ekspresi keagamaan di Indonesia masih sangat kuat dan bahkan berkembang.

Tempat-tempat ibadah dan pengunjungnya terus bertambah jumlahnya. Namun, pada domain kelembagaan, terutama lembaga kepartaian, spirit dan identitas keagamaannya semakin mencair. Tentu saja lembaga partai politik mesti dibedakan dari lembaga sosial-keagamaan seperti halnya Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama (NU) yang jelas-jelas karakter dan jati dirinya memang penyebar dan pengayom kehidupan beragama.

Mencairnya simbol agama

Ketika simbol dan ekspresi keagamaan masuk ke wilayah publik, baik partai politik maupun negara, aspirasi satu agama akan bertemu atau mungkin berbenturan dengan aspirasi agama lain, mengingat ruang publik adalah ruang bersama yang sangat plural dan diatur dengan etika dan hukum positif sekalipun bisa saja sumbernya dari nilai-nilai agama.

Simbol dan kaidah agama yang dominan pada wilayah pribadi dan komunal ketika memasuki ruang publik dan negara mesti berkompromi dan taat pada dominasi hukum positif mengingat Indonesia bukanlah negara agama.

Mencairnya simbol-simbol agama pada lembaga partai politik disebabkan oleh tiga hal. Pertama, karena sikap kedewasaan dalam beragama dan berpolitik yang lebih mengedepankan substansi dan prestasi nyata mengingat ruang publik mestilah bersifat inklusif sehingga tidak memicu segregasi sosial berdasarkan sentimen etnis dan agama yang pada urutannya akan memperlemah kohesi bangsa.

Kedua, berdasarkan kalkulasi politik bahwa lembaga partai politik yang kental dengan jargon dan simbol agama ternyata selama ini semakin berkurang peminatnya. Oleh karena itu, akhir-akhir ini banyak partai politik, yang semula eksklusif dengan ciri keagamaannya, membuka diri bagi pemeluk agama lain dan menonjolkan semangat nasionalisme dengan harapan akan semakin memikat warga negara lintas etnis dan agama.

Ketiga, partai politik tidak perlu menonjolkan ciri keagamaan secara eksklusif mengingat negara Indonesia menganut falsafah dan ideologi Pancasila yang menempatkan ketuhanan pada sila pertama.

Sampai hari ini, siapa pun yang terpilih menjadi presiden, apa pun asal partai politik dan etnisnya, pasti seorang Muslim yang juga setia pada Pancasila. Dengan demikian, tuntutan pada komitmen keberislaman seorang pemimpin dan politisi bukan terletak pada penampilan formal-simbolis keislamannya, tetapi lebih pada kualitas kepemimpinannya dan karya nyatanya dalam memajukan bangsa dan melayani rakyat.

Dalam kaitan ini, ekspresi dan komitmen keagamaan seseorang pada ranah publik dan negara diharapkan lebih substantif, fungsional, dan kontributif bagi upaya-upaya mencerdaskan dan menyejahterakan rakyat. Adapun wacana keagamaan yang bersifat normatif-eskatologis biarlah itu bergerak pada wilayah individual-komunal.

Ruang publik dan jabatan kenegaraan yang diperebutkan banyak partai politik lebih memerlukan kualitas dan otoritas yang menjamin kesuksesan seseorang dalam melayani rakyat ketimbang simbol-simbol primordialisme etnis dan agama. Pernyataan ini tidak berarti anti agama dan mendukung paham sekularisme dalam sistem kepartaian di Indonesia, tetapi hanya ingin menekankan bahwa ekspresi keagamaan dalam ruang publik dan komunal itu berbeda.

Oleh karena itu, menjadi krusial ketika partai politik dan ormas keagamaan merebut ruang publik dengan mengedepankan semangat komunalisme keagamaan sehingga merusak kohesi dan kerukunan sosial yang dijaga dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Kepentingan bangsa

Tidak bisa dimungkiri bahwa banyak tokoh dan parpol yang berusaha menjaring dukungan massa selama masa kampanye dengan melekatkan jargon dan identitas keagamaan. Namun, ketika mereka telah masuk wilayah pemerintahan serta jabatan publik, loyalitas, dan etika yang mesti dikedepankan, hendaknya bersifat inklusif dengan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan agama dan kelompoknya.

Mereka mesti mampu membuktikan bahwa penghayatan dan komitmen keberagamaannya justru memperkuat agenda bangsa dan negara demi melindungi dan menyejahterakan rakyat. Spirit dan nilai-nilai ini telah dicontohkan oleh para pendiri bangsa, apa pun agama dan etnis mereka.
Sejauh ini sebagai warga negara, saya merasa bangga bangsa ini mampu melewati tikungan terjal yang mengancam keutuhan Indonesia. Proses demokratisasi berjalan dengan damai meskipun ongkosnya terlalu mahal.

Banyak politisi dan birokrat yang diharapkan mengawal proses demokratisasi dan reformasi untuk menciptakan pemerintahan yang bersih dan efektif, justru mabuk kekuasaan dan jabatan. Mereka telah mengubah konsep harga diri yang berdasarkan integritas dan kompetensi menjadi konsep yang dangkal, yaitu formula wani piro? Kamu berani membayar berapa?

Pendidikan Miskin Imajinasi

Sumber Tulisan : Disini

Semua kemajuan sains dan teknologi super canggih yang membuat kita kagum dan tercengang semula berawal dari kekuatan imajinasi manusia. Adalah Christopher Columbus (1451-1506) yang menggemparkan penduduk Eropa setelah berhasil mendarat di Pulau Bahama (1492) karena keberanian berimajinasi untuk menaklukkan lautan lepas yang semula tak terbayangkan.
Penduduk Eropa pun gempar dan mulai membayangkan adanya dunia baru untuk dijelajahi yang pada urutannya dunia baru itu bernama Amerika. Ini benar-benar menjanjikan kehidupan baru yang lebih bebas ketimbang Eropa. Begitu pun Thomas Alva Edison (1847-1931) yang selalu mendapatkan nilai buruk di sekolah sehingga ibunya mengajar sendiri di rumah. Karena kekuatan imajinasinya dan selalu ingin mencoba hal-hal yang baru, ia dikenal sebagai pemegang rekor 1.093 hak paten atas namanya. Yang paling fenomenal dan historikal adalah penemuan lampu listrik.
Demikianlah, masih terdapat sederet nama besar yang mengilhami kita semua yang namanya tertulis dengan tinta emas dalam buku-buku sejarah yang kemudian dibaca berulang-ulang oleh jutaan pelajar dan mahasiswa. Anak-anak Nusantara ini sesungguhnya dianugerahi talenta yang hebat. Mereka memiliki daya imajinasi yang luar biasa sehingga mampu mewariskan karya seni kelas dunia seperti bangunan Candi Borobudur dan Prambanan. Kehebatan dan kebesaran candi itu bukan semata terletak pada wujud fisiknya, tetapi juga nilai-nilai dan filosofi kehidupan yang terkandung di dalamnya. Begitu juga dunia simbolik dalam pewayangan yang amat kaya dengan wisdom dan imajinasi.
Bahkan Gatotkaca lebih dahulu terbang ke angkasa sebelum tercipta pesawat terbang. Problem kita adalah hanyut pada budaya melankolis dan seremonial, tetapi sangat lemah dalam tradisi riset empiris ilmiah untuk menciptakan karya-karya yang langsung mendatangkan kesejahteraan serta nilai tambah bagi masyarakat. Ini yang membedakannya dengan imajinasi yang tumbuh dalam masyarakat Barat yang dikaitkan dan diarahkan pada perbaikan dunia empiris melalui inovasi sains sehingga muncul temuan-temuan teknologi mutakhir yang disebut artificial intelligence dan artificial body.
Proses awal penemuan teknologi itu berangkat dari kejelian berimajinasi berdasarkan bacaan terhadap semesta. Mungkin sekali dahulu para penemu mobil itu iri pada kecepatan hewan-hewan ketika berlari. Tuhan telah menganugerahkan hewan bisa lari kencang, tetapi manusia diberi keunggulan anugerah otak (head), tangan (hand), dan perasaan untuk berkehendak (heart) sehingga dengan kekuatannya itu manusia berhasil menciptakan teknologi kendaraan yang kecepatannya melebihi hewan yang mereka kagumi. Sebagai apresiasi atau simbol kemenangan, mobil-mobil itu pun diberi nama hewan seperti kijang, kuda, panther, jaguar.
Lalu logo dan nama-nama pesawat terbang pun diambil dari nama burung. Jadi, semesta ini sebelum diposisikan sebagai objek eksplorasi dan eksploitasi oleh pemilik modal uang, mesin, dan politik semula merupakan kitab terbuka yang menggugah imajinasi kita. Sekian banyak lirik lagu bagus juga terinspirasi oleh keindahan alam. Disayangkan, anak-anak kita sekarang semakin terjauh dari alam. Mereka lebih asyik bermain pada artificial nature yang dihadirkan komputer. Seakan mereka berada dalam alam sungguhan, padahal mereka tak lebih berada dalam dunia maya (virtual world).
Jangan diragukan sumbangan komputer bagi pendidikan dan melatih imajinasi.
Tapi ketika komputer lebih banyak menyajikan permainan, games for fun, yang terjadi adalah proses penumpulan imajinasi anak dan hilangnya kepekaan sosial. Anak-anak tak lagi bergetar hatinya melihat berita perang di TV, misalnya yang terjadi di Gaza, karena permainan perang-perangan mereka jauh lebih seru dan mengasyikkan. Saling tembak, tendang, dan bunuh menjadi permainan yang akrab bagi anak-anak sekarang. Mereka melihat dan melakukannya di dunia maya, tetapi dampak negatifnya terjadi pada dunia nyata. Di samping asyik menghabiskan waktu dengan permainan komputer, lemahnya pelajaran humaniora juga telah memiskinkan daya imajinasi anak-anak.
Sejarah dan buku-buku novel sangat membantu membangkitkan daya imajinasi anak, tetapi sekarang tergeser oleh kursus matematika dan bahasa Inggris yang menekankan hafalan demi untuk lulus ujian nasional. Kenyataan ini menyedihkan mengingat bangsa Indonesia itu sangat majemuk, lagi pula kita hidup di era multiple intelligences. Jadi, pendidikan mesti semakin menawarkan banyak alternatif pilihan studi, pengembangan minat dan bakat, karena Indonesia realitasnya memang beragam dari berbagai aspeknya, sementara dunia kerja menuntut intellectual adaptability dan skill interconnectivity.
Jadi, keahlian tertentu sangat diperlukan, tetapi mesti memiliki kemampuan kerja sama dan komunikasi sosial yang baik. Muara dari pendidikan itu pembangunan budaya bangsa. Jadi hakikatnya pendidikan adalah agenda membudidayakan anak-anak bangsa untuk memakmurkan dan memajukan penduduk bumi bersama bangsa-bangsa lain. Oleh karenanya lewat pendidikan anak-anak kita antarkan agar menjadi warga dunia yang berbudaya dan berkeadaban, merayakan anugerah hidup dalam dunia yang semakin warna-warni yang merupakan anugerah Ilahi.  Lets accept the differences, respect the differences, share the differences, and celebrate the differences.

Menimbang Pendidikan Indonesia

Sumber Tulisan: Disini

Pekan lalu Anindiya, alumnus SMU Madania Parung, Bogor, yang sudah dua tahun berkuliah di Ritsumeikan APU, Jepang, sengaja datang ke kantor saya di sela-sela liburannya ke Jakarta.

Dia datang untuk berbagi kegelisahan mengenai pendidikan Indonesia yang menurutnya tertinggal dibanding negara-negara tetangga. Sebagai aktivis, Anin banyak bergaul dan diskusi dengan sesama mahasiswa Asia. Yang membuatnya gelisah, mahasiswa lain lebih siap menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Di Thailand misalnya sejak SMU anak-anak sudah mulai belajar bahasa dan peta bumi Indonesia.

Mereka mulai dipersiapkan mengenal potensi ekonomi dan lapangan kerja di Indonesia ketika nanti dibuka pasar bebas ASEAN yang memungkinkan tenaga kerja asing bekerja dan bersaing dengan putra-putra di negara kita. Anin sangat khawatir sarjana-sarjana Indonesia sulit bersaing dengan sarjana Jepang, Korea, Filipina, Thailand, Malaysia, dan Singapura dan kualitas pendidikan Indonesia tidak mengalami perbaikan serius dan segera.

Di Indonesia terdapat sekitar 3.500 perguruan tinggi negeri dan swasta, lulusannya akan bersaing ketat memperebutkan lapangan kerja dengan lulusan perguruan tinggi di ASEAN. Ini sebuah tantangan dan sekaligus mimpi buruk mengingat sebagian perguruan tinggi kita sekadar memberikan ijazah, namun miskin kompetensi. Sekarang ini diperkirakan setiap tahun terdapat satu juta sarjana baru.

Dibanding Malaysia dan Singapura, angkatan kerja mereka terbanyak diisi sarjana dan tamatan sekolah menengah kejuruan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2014, jumlah angkatan kerja Indonesia sebanyak 118,17 juta orang. Sungguh fantastis, suatu bonus demografi yang tidak dimiliki bangsa Jepang, Korea, dan negara-negara tetangga. Namun, itu semua akan berbalik menjadi beban jika ternyata miskin kompetensi dan kalah bersaing dalam panggung MEA nanti.

Diberitakan, sedikitnya 600.000 lulusan perguruan tinggi menganggur yang sekarang tengah berjuang mendapatkan lapangan kerja. Terdapat lima fungsi utama yang mesti diperhatikan oleh lembaga pendidikan pada setiap jenjang. Pertama, sebagai tempat pembentukan karakter. Lewat pendidikan seseorang diharapkan mendapatkan lingkungan dan keteladanan yang baik agar tumbuh menjadi pribadi yang terpuji.

Makanya sekolah disebut almamater, bagaikan sosok ibu kandung yang membesarkan dan mendidik kita semua agar jadi anak yang mandiri dan berkepribadian baik. Kedua, lembaga pendidikan adalah tempat transfer ilmu pengetahuan dari para guru pada anak didiknya. Jika guru atau dosen tidak menguasai dan menambah ilmu, lalu apa yang hendak ditransfer?

Tidak sebatas transfer, tetapi para guru dan dosen itu juga mengajari bagaimana berburu ilmu pengetahuan atau riset (re-search), sebuah usaha tanpa henti, mencari dan kembali mencari, untuk selalu memperluas cakrawala pengetahuan sehingga dunianya semakin luas dan kaya. Menguasai metode menggali ilmu tidak kalah pentingnya dari sekadar menerima ilmu. Seseorang yang kaya ilmu pasti akan banyak referensi dan komparasi ketika membuat sebuah keputusan dalam hidupnya.

Ketiga, lembaga pendidikan adalah juga tempat untuk melatih peserta didik mengembangkan keterampilan sosialnya. Keterampilan dan keluwesan berkomunikasi dan bersosialisasi sangat penting bagi kehidupan seseorang. Profesi apa pun, terlebih di zaman yang serba terbuka dan kompetitif ini, keterampilan berkomunikasi (communication skill) sangat diperlukan. Tidak lagi zamannya berpikir ”diam itu emas”.

Keempat, lembaga pendidikan juga berperan memberikan skill pada seseorang sehingga dengan keahlian yang dimiliki diharapkan akan bisa hidup produktif dan mandiri agar hidupnya tidak menjadi beban orang lain. Syukur-syukur bisa menciptakan lapangan kerja bagi orang lain. Kelima, lembaga pendidikan hendaknya secara sadar membantu mengantarkan agar seseorang tumbuh menjadi seorang pemimpin.

Sikap kepemimpinan (leadership) akan diperlukan oleh siapa pun, minimal sekali kepemimpinan dalam rumah tangga. Lebih dari itu, setiap posisi atau karier seseorang sesungguhnya memerlukan kualitas kepemimpinan. Karena itu, menjadi sangat penting pelajaran dan latihan kepemimpinan di sekolah dan perguruan tinggi.

Salah satu ciri seorang pemimpin adalah memiliki inisiatif, memiliki kepekaan sosial, peduli pada nasib orang lain, memiliki rasa tanggung jawab, dan berani ambil risiko atas keputusan yang diambilnya. Pelatihan kepemimpinan ini semakin kurang memperoleh perhatian di sekolah. Keenam, tidak kalah pentingnya dari semua itu, peran lembaga pendidikan adalah juga mendidik anak agar tumbuh menjadi pejuang kehidupan.

Agar memiliki climber mentality. Pendaki dan penakluk gunung kehidupan yang tak mudah menyerah ketika menghadapi berbagai rintangan. Banyak anak-anak yang bermental quitter, mudah takluk ketika dihadapkan problem. Demikianlah, sebagai orang tua kita pasti memiliki harapan pada anak-anak kita agar tumbuh menjadi pribadi seperti yang saya kemukakan di atas. Kewajiban pendidik itu sebagian diserahkan pada lembaga pendidikan. Orang tua dan guru merupakan mitra coeducator bagi anak didik.

Dulu ada ungkapan: al-ummu madrasatul ula. Sosok ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Sekarang tidak bisa lagi diandalkan karena banyak ibu yang juga aktif bekerja di luar, lalu peran pendidik diambil guru di sekolah, oleh pembantu rumah tangga, dan TV. []

KORAN SINDO,  03 Oktober 2014

Komaruddin Hidayat  ;   Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Ijazah Sama, Kualitas Berbeda

Sumber Tulisan: Disini

Setiap menghadiri wisuda sarjana selalu muncul pertanyaan dalam benakku, faktor apa saja yang membedakan kualitas mereka sekalipun mereka menerima ijazah dan mengenakan toga yang sama?

Belasan kali saya mewisuda sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan selalu meninggalkan kesan serta kenangan yang sulit terlupakan. Yang pertama, mayoritas wisudawan/wati terbaik adalah perempuan. Bahkan pernah sarjana kedokteran terbaik adalah perempuan dan seorang hafizah (penghafal Alquran) sebanyak 30 juz. Secara psikologis, perempuan memang memiliki bakat lebih telaten, konservatif dan hati-hati serta sanggup membaca dan menghafal hal yang sama secara berulang-ulang. Fenomena ini akan mudah dilihat dalam aktivitas pengasuhan.

Seorang ibu dengan sabar melakukan hal-hal yang sama secara berulang-ulang untuk melayani dan mendampingi anaka-naknya, satu hal yang sulit dilakukan seorang ayah. Faktor lain, di samping kecerdasan, adalah motivasi untuk menunjukkan bahwa perempuan mampu bersaing dengan mahasiswa laki-laki. Ketika memperoleh kesempatan yang sama, ternyata laki-laki dan perempuan sama saja kualitasnya dalam bidang keilmuan. Lalu ada lagi yang kerap mengejutkan dan membuat haru, yaitu mereka yang prestasinya bagus itu datang dari keluarga miskin.

Mereka kuliah sambil bekerja, seperti mengajar privat atau mereka sebagai mahasiswa penerima-penerima beasiswa. Beberapa dokter terbaik alumni UIN Jakarta berasal dari pesantren, datang dari keluarga miskin, namun memiliki semangat belajar yang tinggi sehingga ketika memperoleh beasiswa penuh dan kesempatan belajar, kesempatan emas itu dimanfaatkan secara optimal.

Dan ini tidak saja terbatas pada program studi kedokteran, tetapi juga program-program studi pada fakultas lain. Jadi, faktor motivasi belajar untuk meraih prestasi sangat signifikan pengaruhnya bagi seseorang. Keinginan kuat untuk menjadi anak yang membanggakan orang tua dan mampu memperbaiki nasib keluarganya juga menjadi pendorong yang sangat berpengaruh bagi sarjana yang datang dari keluarga kurang mampu. Namun, ada juga fenomena lain, yaitu mahasiswa yang memiliki kecenderungan jadi aktivis sosial.

Mereka kurang fokus pada kuliah karena waktu dan perhatiannya terbelah untuk mengikuti kegiatan sosial, pengembangan bakat, dan organisasi intra ataupun ekstra universitas. Grup band Wali yang terkenal itu adalah alumni UIN Jakarta, di antaranya ada yang belum sarjana. Bagi mahasiswa yang senang pada kegiatan yang bernuansa politik akan selalu rajin jika ada acara-acara diskusi atau demonstrasi. Mereka rela meninggalkan kuliah. Karenanya, mahasiswa tipe ini indeks prestasi kumulatifnya sedang-sedang saja, namun paling lama menghabiskan waktu di kampus.

Tetapi perlu juga dicatat, ada saja aktivis yang sekaligus juga prestasi akademisnya bagus. Mereka punya potensi jadi aktivis-intelektual atau intelektual-aktivis. Demikianlah, ketika tiba hari wisuda, mereka mengenakan toga sama, ijazah sama, tetapi kualitas dan minatnya berbeda-beda. Ini sangat tergantung bagaimana memanfaatkan fasilitas umur dan kampus untuk mengakumulasi ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya. Lebih dari itu, salah satu peran kampus adalah tempat menyemai calon-calon pemimpin bangsa dengan modal ilmu pengetahuan dan karakter serta kemampuan berkomunikasi sosial.

Orang pintar tetapi minus integritas bisa membahayakan dirinya dan orang lain. Orang bermoral baik tetapi bodoh juga tidak produktif hidupnya. Seorang sarjana yang pintar, baik moralnya, namun tidak memiliki keterampilan berkomunikasi juga repot mengembangkan kariernya sebagai seorang pemimpin. Ada sarjana yang bingung setelah diwisuda. Bingung dan gamang memasuki tantangan baru. Ada yang optimistis dan mantap melangkah ke episode kehidupan selanjutnya karena merasa mampu dan yakin dengan bekal yang telah dipersiapkannya. Padahal, mereka sama-sama memiliki jatah waktu 24 jam sehari-semalam.

Mereka sama-sama menjalani kehidupan mahasiswa selama empat atau lima tahun. Saya memiliki data cukup akurat seputar kehidupan mahasiswa dan sarjana, antara yang bermutu dan kurang bermutu. Lagi-lagi, faktor motivasi, imajinasi masa depan, dan kemampuan pengendalian diri yang akan menentukan kualitas seorang sarjana. Ijazah dan titel boleh sama, tetapi nasib dan prestasi berbeda. []

KORAN SINDO, 05 September 2014

Komaruddin Hidayat  ;   Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Jualan Surga

Sumber Tulisan : Disini

Setiap bermain golf bersama Pak JK (Jusuf Kalla), selalu saja saya mendapatkan cerita dan lontaran pemikiran yang spontan, cerdas, dan jenaka. Misalnya saja Jumat lalu saya bermain golf di Senayan, sambil berjalan menapaki hamparan lapangan hijau kami berbincang ringan tentang fenomena gerakan ISIS di Irak-Suriah yang imbasnya sampai Indonesia. Spontan, Pak JK berkomentar, gerakan radikalisme agama itu di mana-mana selalu menawarkan jualan surga. Dianggapnya surga itu bisa diraih dengan pintas hanya dengan melakukan bom bunuh diri dengan niat jihad di jalan Allah.

Padahal dalam setiap ceramah selalu ditutup dengan doa sapu jagat: Robbana atina fid-dunya hasana wa fil akhiroti hasanah waqina Robbana atina fid-dunya hasana wa fil akhiroti hasanah waqina adzabannar (Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Selamatkanlah kami dari api neraka). Jadi, kita diperintah oleh Allah, yang pertama untuk membangun kehidupan yang baik, damai, dan sejahtera. Sedangkan akhirat itu buah atau imbalan amal kita di dunia.

Anehnya, kita sangat hafal dengan doa itu, tetapi doa itu tidak menimbulkan gerakan membangun kebajikan di dunia. Orang sanggup berjam-jam mengikuti pengajian dan doa bersama. Itu satu hal yang sangat bagus. Tetapi, akan jauh lebih bagus lagi kalau umat dan masyarakat itu digerakkan untuk juga kerja produktif membangun kehidupan yang baik. Ukuran kebaikan itu secara umum ditandai dengan tingkat pendidikan yang bagus, sejahtera, aman, dan produktif.

Coba saja perhatikan, kata Pak JK. Dalam berbagai gerakan radikalisme agama itu yang diberitakan mati duluan adalah mereka yang pendidikannya rendah, ekonominya kurang baik. Tetapi, para pimpinannya yang menganjurkan jihad dengan kekerasan itu tinggal atau sembunyi di tempat yang aman. Mereka menganjurkan orang lain jihad dengan nyawa, tetapi dirinya sesungguhnya memiliki agenda dan cita-cita untuk menikmati kehidupan dunia.

Mengapa begitu? Karena pada dasarnya naluri manusia memang menginginkan kehidupan yang baik di dunia sebelum ajal tiba. Maka itu, agama pun menganjurkan agar manusia membangun kehidupan yang baik, hidup dalam suasana damai dan sejahtera. Pak JK memang sangat fasih dan tak pernah habis bahan cerita kalau bicara soal kekerasan dan perdamaian karena kita semua tahu reputasinya ketika mendamaikan konflik di Aceh, Ambon, dan Poso.

Baik provokator yang datang dari kubu Islam maupun Kristen, katanya, selalu menawarkan jalan ke surga secara pintas dengan modal nekat setelah didoktrin untuk menyerang lawan semata karena beda keyakinan agama. Bayangkan, jika hanya karena beda keyakinan agama lalu seseorang membunuh yang lain dengan harapan akan langsung masuk surga, agama justru akan menjadi sumber kekacauan dan permusuhan, bukan sumber pencerahan, perdamaian, dan kebaikan hidup bersama.

Padahal bukankah semua agama memiliki motto sebagai sumber dan kekuatan perdamaian dan keadaban? Timur Tengah yang dalam sejarahnya merupakan wilayah kelahiran para nabi pembawa agama besar dunia sekarang ini citranya justru menjadi sumber api peperangan dan saling bunuh dengan melibatkan slogan dan motto keagamaan. Sebuah ironi sejarah.

Anehnya lagi, masyarakat Indonesia yang memiliki sejarah toleransi dan saling menghargai perbedaan – Bhinneka Tunggal Ika – sekarang malah ada yang ikut-ikutan. Di rumah besar Indonesia ini melebur sekian banyak kesultanan untuk bersama menjaga dan memajukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kesultanan Hamengku Buwono Yogyakarta yang bergelar Khalifatullah Sayyidin Panata Gama bahkan rela melebur masuk dalam NKRI, juga beberapa sultan lain di Nusantara ini. Jadi, jauh sebelum ISIS mendeklarasikan khalifah yang diberitakan mengajarkan kekerasan dan pembunuhan, di Yogyakarta sudah ada khalifah dan sultan yang justru ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Mereka keras melawan penjajah, tetapi penyebar kedamaian sesama warga Indonesia meski berbeda etnis dan agama. Tulisan ini jangan diartikan saya anti gerakan jihad atau berjuang di jalan Tuhan. Tetapi, hanya ingin mengingatkan bahwa jihad yang lebih utama adalah berjihad membangun kehidupan yang baik, sejahtera, dan damai sebagai rasa syukur dan tanggung jawab atas anugerah kehidupan yang diberikan Tuhan kepada kita semua.

Sesekali dalam sejarah peperangan dan pertempuran memang tidak bisa dielakkan. Tetapi, itu mesti memiliki alasan yang sangat kuat yang dibenarkan nalar sehat, etika sosial, dan pemahaman agama yang senantiasa menekankan prinsip keadilan, kebenaran, dan prokehidupan.

Mengikuti berita seputar kekerasan oleh gerakan ISIS yang mendeklarasikan muncul khalifah baru bagi umat Islam sedunia, juga gerakan radikalisme keagamaan yang ingin mendirikan negara Islam sebagai pengganti NKRI, jika itu sebatas wacana keilmuan atau gerakan ideologis yang ditawarkan secara damai dan legal, itu sah-sah saja.

Kita hidup di zaman terbuka yang memungkinkan siapa pun mengemukakan gagasan asalkan tidak melalui jalan kekerasan dan pemaksaan. Ide apa pun dipersilakan masuk ke bursa pasar secara terbuka.

Nanti masyarakat yang akan menguji dan menilai itu. Hanya, di sana ada rambu-rambu hukum, undang-undang, etika kepantasan sosial, dan mesti menjaga hak-hak warga negara untuk hidup tenang, bebas dari ancaman dan paksaan. Semua itu mesti ditaati. []

KORAN SINDO, 26 September 2014
Komaruddin Hidayat ; Rektor UIN Jakarta