Etika Dalam Kitab Suci dan Relevansinya Dalam Kehidupan Modern (Studi Kasus di Turki)

Sumber Tulisan: Disini

Dalam tradisi filsafat istilah "etika" lazim difahami  sebagai
suatu  teori  ilmu pengetahuan yang mendiskusikan mengenai apa
yang  baik  dan  apa  yang  buruk  berkenaan  dengan  perilaku
manusia.  Dengan  kata lain, etika merupakan usaha dengan akal
budinya untuk menyusun teori  mengenai  penyelenggaraan  hidup
yang  baik.  Persolan  etika muncul ketika moralitas seseorang
atau suatu masyarakat mulai ditinjau  kembali  secara  kritis.
Moralitas   berkenaan   dengan   tingkah  laku  yang  konkrit,
sedangkan etika bekerja dalam level  teori.  Nilai-nilai  etis
yang   difahami,   diyakini,  dan  berusaha  diwujudkan  dalam
kehidupan nyata kadangkala disebut ethos. [1]
 
Sebagai  cabang  pemikiran  filsafat,  etika  bisa   dibedakan
manjadi  dua:  obyektivisme  dan  subyektivisme.  Yang pertama
berpandangan bahwa  nilai  kebaikan  suatu  tindakan  bersifat
obyektif,  terletak pada substansi tindakan itu sendiri. Faham
ini melahirkan  apa  yang  disebut  faham  rasionalisme  dalam
etika.  Suatu  tindakan  disebut  baik,  kata faham ini, bukan
karena kita senang melakukannya, atau  karena  sejalan  dengan
kehendak  masyarakat,  melainkan semata keputusan rasionalisme
universal yang mendesak kita untuk berbuat begitu. Tokoh utama
pendukung  aliran  ini  ialah  Immanuel  Kant, sedangkan dalam
Islam --pada batas tertentu-- ialah aliran Muitazilah. [2]
 
Aliran kedua ialah  subyektifisme,  berpandangan  bahwa  suatu
tindakan  disebut  baik  manakala sejalan dengan kehendak atau
pertimbangan subyek tertentu. Subyek disini bisa  saja  berupa
subyektifisme  kolektif,  yaitu  masyarakat,  atau  bisa  saja
subyek Tuhan. Faham subyektifisme etika  ini  terbagi  kedalam
beberapa  aliran,  sejak dari etika hedonismenya Thomas Hobbes
sampai ke faham tradisionalismenya Asy'ariyah.
 
Menurut  faham  Asy'ariyah,  nilai  kebaikan  suatu   tindakan
bukannya  terletak  pada obyektivitas nilainya, melainkan pada
ketaatannya pada kehendak Tuhan. Asy'ariyah berpandangan bahwa
menusia  itu  bagaikan  'anak  kecil'  yang  harus  senantiasa
dibimbing oleh wahyu karena tanpa wahyu  manusia  tidak  mampu
memahami mana yang baik dan mana yang buruk.
 
Kalau  kita  sepakati  bahwa  etika  ialah suatu kajian kritis
rasional mengenai yang baik dan yang buruk,  bagaimana  halnya
dengan   teori   etika   dalam  kitab  suci?  sedangkan  telah
disebutkan di muka, kita  menemukan  dua  faham,  yaitu  faham
rasionalisme   yang   diwakili   oleh   Mu'tazilah  dan  faham
tradisionalisme yang diwakili oleh Asy'ariyah.
 
Munculnya perbedaan itu memang  sulit  diingkari  baik  karena
pengaruh  Filsafat  Yunani  ke dalam dunia Islam maupun karena
narasi ayat-ayat al-Qur'an  sendiri  yang  mendorong  lahirnya
perbedaan  penafsiran.  Di  dalam  al-Qur'an pesan etis selalu
saja   terselubungi   oleh   isyarat-isyarat   yang   menuntut
penafsiran dan perenungan oleh manusia. [3]
 
ETIKA DAN KEBEBASAN
 
Menurut aliran voluntarisme rasional, suatu tindakan etis akan
terwujud bilamana tindakan  itu  produk  pilihan  sadar  dalam
situasi  bebas,  bukannya  terpaksa.  Suatu pertanggungjawaban
etis bisa diberlakukan hanya ketika  seseorang  berbuat  dalam
keadaan  sadar  dan  bebas.  Dengan demikian, etika senantiasa
mengamsumsikan kebebasan.  Semakin  besar  wilayah  kebebasan,
semakin besar pula pertanggungjawaban moralnya.
 
Dalam   perspektif   di   atas,   maka   faham  Jabariah  yang
berpandangan  bahwa  tindakan  manusia  adalah  bagaikan gerak
wayang yang  ditentukan  oleh  'dalang'  tak ada tempat bagi
konsep etika voluntarisme rasional Kantianisme.
 
Etika  voluntarisme  rasional   melahirkan   suatu   pandangan
terhadap  manusia  sebagai  sosok  manusia berakal yang dewasa
suatu  pandangan   positif   bahwa   manusia   memang   pantas
mendapatkan  julukan  ahsan-u 'l-taq wim, puncak ciptaan Tuhan
meskipun  keunggulan  kualitas   manusia   itu   masih   harus
diperjuangkan   dan   disempurnakan   sendiri   oleh  manusia.
Barangkali saja dalam perspektif yang demikian ini  kita  bisa
memahami  mengapa  pewahyuan Tuhan melalui para rasulNya telah
diakhiri,  sementara  kehidupan   menusia   kian   hari   kian
berkembang sedemikian kompleknya.
 
Sebelum  kerasulan  Muhammad  problema kehidupan manusia tidak
sekomplek pasca-Muhammad, namun  justeru  pada  masa-masa  itu
Allah  sering  mengirimkan  rasul-rasulNya.  Mengapa demikian,
biasanya kita mengajukan dua jawaban. Pertama, tuntutan  Allah
yang   diturunkan   kepada   manusia.  Kedua,  manusia  dengan
kemampuan rasionalitasnya telah mampu  mengevaluasi  kehidupan
kesejarahan untuk menciptakan kebaikan hidup mereka.
 
Klaim  yang menyatakan Islam sebagai agama universal dan agama
paripurna tersirat pada  surat  al-Maidah  ayat  3  dan  surat
al-Anbiya  ayat  107.  Yang  pertama  menyebutkan  bahwa Islam
adalah nikmat  Tuhan  yang  telah  disempurnakan,  yang  kedua
menyatakan  bahwa Islam adalah agama rahmat bagi seluruh alam.
Secara dogmatis theologis kedua klaim  di  atas  memang  sudah
lazim  diterima  oleh  umat  Islam,  namun secara rasional dan
empiris tampaknya masih perlu dirumuskan serta  diuji  kembali
kebenarannya dalam perjalanan sejarahnya.
 
Dari  analisis bahasa dan sosio-historis, Islam hadir bukannya
dalam ruang kosong, melainkan dalam wacana yang memiliki sifat
lokal   dan  partikular.  Secara  eksplisit  disebutkan  bahwa
al-Qur'an  disebarluaskan  dengan  menggunakan  bahasa   Arab.
Bahasa  mau  tidak  mau  bersifat  budaya,  ia  terikat dengan
kaidah-kaidah sosial dan konsensus budaya. Jadi, universalitas
pesan  al-Qur'an akan bisa terkomunikasikan kalau manusia juga
memiliki dimensi universal. Dalam  hal  ini  rasionalitas  dan
substansi   bahasalah  yang  secara  jelas  merupakan  dimensi
universal yang melekat pada manusia.  Manusia  dibedakan  dari
binatang  terutama  adalah  karena  manusia  merupakan  animal
symbolicum, yaitu makluk yang hidup dengan symbol-symbol.  [4]
Berbahasa pada dasarnya adalah berpikir, dan berpikir tidaklah
mungkin tanpa bahasa, meskipun berbahasa  tidak  selalu  harus
berbicara ataupun menulis.
 
Karena  adanya rasionalitas dan kemampuan berbahasa maka suatu
masyarakat tercipta, komunikasi antar mereka berlangsung,  dan
dunia  di  sekitarnya  memperoleh  makna.  Barangkali fenomena
inilah yang telah diisyaratkan oleh al-Qur'an surat al-Baqarah
ayat 31 dimana Allah telah mengajar 'nama-nama' pada Adam.
 
Karena  rasionalitas  dan  sistem symbol yang dimiliki manusia
maka realitas masa lampau bisa direkontruksi, diceritakan  dan
dihadirkan  kembali  di  hadapan  kita melalui narasi sejarah.
Suatu nilai,  cita-cita  dan  gagasan  masa  lampau  pun  bisa
diwariskan  kepada generasi ke generasi lantaran adanya sistem
simbol ini. Dan sesungguhnya hanyalah  al-Qur'an  yang  secara
eksplisit dan tegas agar umat Islam mengembangkan rasionalitas
dan sistem simbol  untuk  membangun  peradabannya.  Kita  bisa
membuat  suatu  pengandaian, kalau saja al-Qur'an bertentangan
dengan rasionalitas, maka bisa dipastikan  bahwa  Islam  telah
terdistorsi  dalam  perjalan  sejarahnya. Lebih dari itu etika
Islam akan teranomali dalam kehidupan modern.
 
Dengan kata lain,  al-Qur'an  dan  pesan-pesannya  kini  telah
menjadi  bagian integral dari realitas sejarah masa lampau dan
tetap hidup sampai kini, tanpa adanya revisi dan campur tangan
Tuhan,  baik  isi  maupun  redaksionalnya.  Di  sini  tersirat
pandangan positif al-Qur'an tentang manusia. Kalau kita telaah
ayat-ayat  al-Qur'an  segera  kelihatan  bahwa etika al-Qur'an
amat humanistik dan  rasionalistik.  Pesan  al-Qur'an  seperti
halnya   ajakan   kepada   keadilan,   kejujuran,  kebersihan,
menghormati orang tua, bekerja keras,  cinta  ilmu,  dan  lain
sebagainya, semuanya amat sejalan dengan prestasi rasionalitas
manusia sebagaimana tertuang dalam karya-karya para filosof.
 
Etika Islam memiliki antisipasi jauh ke depan dengan dua  ciri
utama.  Pertama,  etika Islam tidak menentang fithrah manusia.
Kedua,  etika  Islam  amat  rasionalistik.   Sekedar   sebagai
perbandingan  baiklah akan saya kutipkan pendapat Alex Inkeles
mengenai sikap-sikap modern. Setelah melakukan kajian terhadap
berbagai  teori  dan  definisi  mengenai  modernisasi, Inkeles
membuat rangkuman mengenai sikap-sikap modern sabagai berikut,
yaitu:  kegandrungan menerima gagasan-gagasan baru dan mencoba
metode-metode  baru;  kesediaan  buat   menyatakan   pendapat;
kepekaan  pada  waktu  dan  lebih  mementingkan waktu kini dan
mendatang ketimbang waktu yang telah  lampau;  rasa  ketepatan
waktu  yang  lebih  baik;  keprihatinan yang lebih besar untuk
merencanakan organisasi dan efisiensi; kecenderungan memandang
dunia  sebagai  suatu  yang bisa dihitung; menghargai kekuatan
ilmu dan teknologi; dan  keyakinan  pada  keadilan  yang  bisa
diratakan. [5]
 
Rasanya  tidak  perlu  lagi dikemukakan di sini bahwa apa yang
dikemukakan Inkeles  dan  diklaim  sebagai  sikap  modern  itu
memang  sejalan  dengan etika al-Qur'an. Dalam diskusi tentang
hubungan antara  etika  dan  moral,  problem  yang  seringkali
muncul  ialah  bagaimana melihat peristiwa moral yang bersifat
partikular dan individual dalam perspektif  teori  etika  yang
bersifat rasional dan universal.
 
Islam  yang  mempunyai  klaim  universal  ketika  dihayati dan
direalisasikan  cenderung  menjadi  peristiwa  partikular  dan
individual.  Pendeknya, tindakan moral adalah tindakan konkrit
yang bersifat pribadi dan subyektif. Tindakan moral  ini  akan
menjadi  pelik ketika dalam waktu dan subyek yang sama terjadi
konflik nilai. Misalnya  saja,  nilai  solidaritas  kadangkala
berbenturan  dengan  nilai  keadilan dan kejujuran. Di sinilah
letaknya kebebasan, kesadaran moral serta rasionalitas menjadi
amat  penting.  Yakni  bagaimana  mempertanggungjawabkan suatu
tindakan subyektif dalam kerangka nilai-nilai etika  obyektif,
tindakan  mikro  dalam kerangka etika makro, tindakan lahiriah
dalam acuan sikap batin.
 
Dalam  teori  etika,  tindakan  moral  mengamsumsikan   adanya
otonomi  perbuatan  manusia.  Menurut  Islam,  untuk  mencapai
otonomi dan kebebasan sejati tidaklah  harus  ditempuh  dengan
menyatakan  'kematian  Tuhan' sebagaimana diproklamasikan oleh
Nietzsche atau Sartre  misalnya,  keduanya  berpendapat  bahwa
manusia akan terkungkung dalam kekerdilan dan ketidakberdayaan
serta  dalam  perbudakan  selama   tindakan   moralnya   masih
membutuhkan kekuatan dan kesaksian dari Tuhan. Oleh karenanya,
menusia  haruslah  bertanggungjawab  kepada  dirinya  sendiri,
bukannya  pada  Tuhan.  Lebih dari itu, untuk mencapai derajat
kemanusiaannya secara prima manusia harus meniadakan Tuhan dan
kemudian     menggali     dan    mengaktualisasikan    potensi
kemanusiaannya.
 
Dasar pemikiran seperti di  atas  tentu  saja  berangkat  dari
konsepsi   ketuhanan  dalam  tradisi  Kristen.  Dalam  sejarah
pemikiran Barat kita mencatat  bahwa  untuk  mencapai  derajat
filsuf  biasanya  mereka  mesti  bentrok dengan doktrin gereja
tentang Tuhan. Sedangkan dalam Islam  justru  ketika  tindakan
kita  diorientasikan  pada  Tuhan Yang Maha Absolut, Yang Maha
Bebas, maka kita tidak akan terjebak dalam  relativisme  dunia
dan sebaliknya kita akan terangkat menuju pada atmosphere Yang
Maha Otonom.
 
Pengakuan bahwa kita bukan makluk sempurna  yang  sudah  jadi,
dan  kemudian  diikuti  dengan usaha kontinyu menuju Yang Maha
Sempurna, di sanalah terletak  makna  keimanan  yang  dinamis.
Menurut   Kant,   puncak   rasionalitas   pada  akhirnya  akan
mengantarkan pada pintu keimanan yang bersifat supra-rasional.
Tuhan,   keimanan,   dan   kemerdekaan   bukanlah  obyek  ilmu
pengetahuan. Semua  berada  di  luar  jangkauan  rasio,  namun
puncak   rasionalitas  mengantarkan  menusia  untuk  melakukan
loncatan ke arah sana. [6]
 
ETIKA ISLAM: PENGAMATAN DI TURKI
 
Islam di Turki mempunyai sejarah panjang, bisa  ditelusuri  ke
belakang  sejak  abad ke-19 sampai hari ini. Bangsa Turki yang
sekarang berpusat di wilayah  Balkan  dan  Anatolia  itu  pada
mulanya pendatang dari daerah Turkestan, terletak antara Rusia
dan Cina.
 
Untuk  menyederhanakan  diskusi  kita,   saya   akan   membagi
periodisasi  Islam  di  Turki, yaitu Islam di masa Ottoman dan
Islam semasa Republik, yang berlangsung sejak 1924 hingga hari
ini.  Ada  tiga  pertanyaan  pokok  yang hendak diangkat dalam
uraian berikut ini. Pertama,  bagaimanakah  pergumulan  antara
nilai-nilai   keislaman  dan  tradisi  bangsa  Turki  di  masa
Ottoman? Kedua apakah dampak gerakan  Kemal  Ataturk  terhadap
kelanjutan  Islam  di  Turki?  Ketiga,  bagaimana perkembangan
Islam di Turki dewasa ini dalam etika Islam?
 
ISLAM DI MASA OTTOMAN
 
Dinasti Ottoman yang berdiri pada abad ke 14 dan berakhir pada
awal  abad-20  tentu  saja merupakan lahan kajian sejarah yang
amat kaya sehingga tidak  mungkin  makalah  singkat  ini  bisa
manyajikan  potret global yang memadai. Namun begitu bisa saja
kita membuat karakterisasi keislaman bangsa  Turki  pada  masa
Ottoman,  meskipun  bahaya simplifikasi dan reduksi tidak bisa
dielakkan.
 
Secara  antropologis  bangsa  Turki  kadangkala  disebut  'war
nation'  ataupun  'war  machine.'  Hal ini terlihat dari karir
mereka  dalam  perluasan  wilayah   kekuasaan   Ottoman   yang
terbentang  sejak dari Afrika, India, Persia dan bahkan sampai
Eropa. Sejak mulanya ideologi Ottomanisme dan Islamisme saling
kait berkait sedemikian rupa, keduanya didukung oleh ethos dan
keunggulan militer yang sulit dicari tandingnya.  Baik  semasa
Abasid  maupun  Seljuk  bangsa Turki ini telah dikenal sebagai
pasukan  berkuda  yang  handal.  Militansi   kemiliteran   ini
ditopang  oleh spirit jihad melawan orang kafir Eropa sehingga
dengan begitu semangat penaklukan semakin berkobar.
 
Abad-16  merupakan  masa  puncak  kejayaannya,  yang   diikuti
kemudian  oleh  berbagai  krisis,  dan berakhirlah dinasti ini
setelah mengalami kekalahan dalam Perang Dunia I.  Krisis  ini
datang dari dua jurusan dari dalam dan dari luar.
 
Massa  rakyat  di  bawah  kekuasaan Ottoman adalah kaum petani
yang   tidak   mendapat   pendidikan   secara   baik.   Dengan
mengandalkan  kontrol secara militer dan doktrin ketaatan pada
Sultan sebagai pemimpin  agama,  pada  mulanya  rakyat  secara
mudah  bisa  dikuasai.  Tetapi situasi demikian tidak bertahan
selamanya. Berbagai kelompok  agama,  suku,  dan  bangsa  yang
bernaung di bawahnya lama kelamaan berkembang sebagai ancaman,
terutama setelah meletusnya Revolusi Perancis dimana  semangat
nasionalisme menggulir dan menggerogoti kekuasaan Ottoman.
 
Sejak   itu  secara  diam-diam  muncul  tiga  ideologi,  yaitu
Ottomanisme,  Islamisme,  dan   Turkisme.   Karena   kekuasaan
cenderung  berpihak  pada  ambisi pribadi bukannya akal sehat,
Raja-raja  Osmani  (Ottoman)  tetap  mempertahankan   ideologi
Ottomanisme,   sementara  Islam  cenderung  diperalat  sebagai
ideologi pendukungnya.  Dengan  kata  lain,  keislaman  semasa
Ottoman  adalah  keislaman  yang berciri ideologi untuk ambisi
kekuasaan, bukannya keislaman yang melahirkan  ethos  keilmuan
dan peradaban modern.
 
Krisis  Ottoman  semakin terlihat di permukaan ketika apa yang
disebut 'millet system'  semakin  otonom  dari  kontrol  pusat
sementara  Eropa  sudah  bangkit  dari keterbelakangannya. [7]
Millet system dan capitulation adalah suatu bentuk  perjanjian
antara  Ottoman  dan  kekuasaan asing untuk menjalin kerjasama
ekonomi berdasarkan  pengelompokan  agama.  Sebagai  akibatnya
kelompok-kelompok   agama  non-Muslim  yang  berada  di  bawah
kekuasaan  Ottoman  lama-lama  berubah  manjadi   perpanjangan
tangan dari kekuatan Kristen Eropa untuk menghancurkan Ottoman
dari dalam, melalui jalur  penguasaan  ekonomi  oleh  kelompok
minoritas non-muslim. [8] Krisis yang melanda Libanon hari ini
akar penyebabnya bisa ditelusuri pada millet system ini.
Sebagaimana dikemukakan oleh Don Peretz, "The general decay of
Ottoman  governmental  institutions coincided with the rise of
more powerful European nation states". [9] Berbagai cara untuk
mengantisipasi kemerosotan Ottoman telah dicoba, misalnya saja
oleh gerakan  Tanzimat,  Turki  Muda,  dan  Sultan  Mahmud  II
(1808).  Di  antara  ciri-ciri  gerakan  yang ditawarkan ialah
berusaha untuk mengenalkan mesin percetakan, ilmu kemiliteran,
dan semacamnya yang dipandang sebagai gerakan baru di Eropa.
 
Namun  berbagai  usaha  itu gagal, antara lain disebabkan oleh
fanastisme  teologis  yang  menimbulkan  keyakinan   kuat   di
kalangan  Sultan  bahwa Tuhan mesti berpihak pada dirinya, dan
orang kafir Eropa  tidak  mungkin  bisa  mengalahkan  kekuatan
Islam.  Lebih  dari  itu,  sistem  pembagian  kekuasaan secara
rasional dengan melibatkan partisipasi massa  sama  sekali  di
luar  jangkauan  para  sultan.  Pendeknya  Sultan adalah pusat
kekuasaan, sedangkan gagasan-gagasan baru yang dikenalkan dari
Eropa  yang tengah bangkit itu dicurigai sebagai kekuatan yang
merongrong wibawa Sultan  serta  dicap  sebagai  budaya  kafir
Eropa.
 
Demikianlah,   Islam  yang  pada  mulanya  telah  mengantarkan
kejayaan  Ottoman,  pada  akhirnya  Islam  di  ideologisasikan
sebagai  kekuatan  penyangga  Ottoman yang nampak besar tetapi
sangat rapuh. Tampaknya perjumpaan  antara  Islam  dan  bangsa
Turki  Usmani  lebih menonjol dalam melahirkan ethos jihad dan
ketaatan pada uli al-amri  ketimbang  ethos  kerja  dan  ethos
keilmuan.  Oleh  karenanya  kita  akan  kecewa  kalau  mencari
tokoh-tokoh pemikir Islam yang brilian  yang  dilahirkan  oleh
bangsa Turki Usmani.
 
GERAKAN KEMAL ATATURK: MASALAH PENAFSIRAN
 
Mengawali  uraian  saya mengenai Islam pasca-Ottoman saya akan
mengutip tiga pendapat sarjana ahli tentang Turki:
 
    After a century of Westernization, Turkey has undergone
    immense changes-greater than any outside observe had
    thought possible. But the deepest Islamic roots of
    Turkish life and culture are still alive, and the
    ultimate identity of Turk and Muslim in Turkey is still
    unchallenged. (Bernard Lewis, 1961)
    
    It has often been thought that this secularism signified
    the separation of state and religion somewhat along the
    lines of French laicism and the involved and
    anti-religious policy seeking to eliminate Islamic
    faith. These assumptions are no correct. In fact, the
    new Turkish Republican regime tried to implement its
    constitutional mandate of freedom of concience by
    setting up goverment agencies charged with helping
    citizens to approach Islam through reason rather than
    tradition. (Howard A. Reed, 1981)
    
    The revitalization of Islam in this country is partly
    due to the success of the campaign to universalize
    education which was the foundation stone of the secular
    Turkish Republic and partly to economic achievements in
    the period 1950-1980. Syerif Mardin, 1989)
 
Pada   29   Oktober   1923   secara   resmi   Republik   Turki
diproklamirkan  oleh  sidang  parlemen  dimana  Mustafa  Kemal
terpilih sebagai  Presiden  pada  umurnya  yang  ke-42  tahun.
Gerakan  republiken  ini sekaligus menghadapi dua musuh, yaitu
kekuatan Sekutu yang  hendak  menguasai  Turki,  dan  kekuatan
tradisional yang berpihak pada ideologi teokratik Osmani.
 
Bila  kita  telaah  bunyi  ke-6  sila ideologi Kemalisme, akan
terlihat begitu jelas bahwa setiap  silanya  merupakan  kritik
dan sekaligus anti-thesis terhadap paradigma Ottomanisme. [10]
Sila   yang   dianggap   kontroversial   tentu   saja   dengan
dinyatakannya  bahwa  Turki menganut faham sekuler. Pernyataan
ini dinilai oleh dunia Islam lainnya sebagai tindakan 'murtad'
dalam pemikiran politik Islam.
 
Tetapi  kalau  gerakan Ataturk kita tempatkan dalam perspektif
sejarah, akan terlihat bahwa gerakannya merupakan mata  rantai
yang  berkesinambungan  dengan  gerakan  sebelumnya.  Apa yang
dilakukan Ataturk merupakan  pengejawantahan  ide-ide  gerakan
modernisasi  dan  westernisasi  yang  pernah  dicanangkan oleh
tokoh-tokoh sebelumnya, terutama Ziya Gokalp.
 
    Zia Gokalp, starting with Durkheim, formulated his own
    concept of community and society, which he defined as
    culture group and cilivization group. Turkism, according
    to Gokalp, aimed at synthesis of Turkish nationalism,
    islam, and modernization, althouh its formula was very
    different from that of the Islamic modernist." [11]
 
Apa yang dirumuskan Gokalp di atas sampai  kini  hampir  tidak
pernah   ditentang   oleh  para  intelektual  Turki.  Hal  ini
mengisyaratkan bahwa secara  cultural  dan  intelektual  Islam
tetap  bertahan  dan  bahkan  sebagai  identitas  bangsa Turki
sampai hari ini. Bila semasa  Ottoman  Islam  telah  mengalami
ideologisasi  untuk mendukung ambisi kekuasaan, kini keislaman
bangsa Turki lebih bersifat individual  dan  cultural.  Dengan
ungkapan  lain,  Ataturk,  sebagaimana Gokalp, akan sependapat
untuk mengatakan "Islam-Yes, Negara Islam-No".
 
Yang secara tegas-tegas ditentang oleh gerakan Ataturk  adalah
Ideologi  Klerikisme, bukannya nilai-nilai Islam. Bahkan dalam
prateknya  sikap  Ataturk  begitu  ekstrim  mengikis   warisan
klerikisme  Ottoman,  hal  ini  tidak  bisa  diingkari.  Namun
begitu, adakah  cukup  sah  untuk  menghukum  Ataturk  sebagai
pengkianat dan telah membuat 'blunder' bagi perkembangan Islam
di Turki ataukah justeru Ia telah  tampil  sebagai  penyelamat
eksistensi  Islam  bagi  bangsa  Turki,  kita  dihadapkan pada
masalah interpretasi sejarah.
 
Ketika Turki Usmani  berada  di  ambang  kehancuran,  terutama
setelah  kekalahannya  dalam  Perang  Dunia I, Ataturk melihat
bahwa satu-satunya ideologi  gerakan  yang  bisa  memobilisasi
massa  dan  kaum  intelektual  Turki  waktu  itu  tak ada lain
kecuali ideologi nasionalisme. Sedangkan model pembaharuan dan
alternatif satu-satunya ialah meniru Barat.
 
Ideologi  kekhalifahan  tidak lagi memiliki daya panggil untuk
berjihad  melawan  kekuatan  Sekutu.  Bahkan   sejak   sebelum
meletusnya  Perang  Dunia  ke-I beberapa wilayah Ottoman telah
menunjukkan usahanya untuk  memberontak  dan  melepaskan  diri
dari  pusat  simbol nasionalisme. Di sini sosok 'nasionalisme'
menampilkan dua fungsinya yang berlawanan.
 
Ketika Ottoman pada puncak  kejayaan,  Ottoman menggunakan  isu
nasionalisme   untuk   memobilisasi   massa   melawan   Eropa.
Demikianlah,  sebagaimana  perjuangan  kemerdekaan  Indonesia,
ideologi  nasionalisme dan Islamisme secara simbolik digunakan
Ottoman.
 
Kemudian, bagaimana kita mesti merumuskan  peran  Ataturk  dan
gerakan  revolusinya  dalam  perspektif  perjalanan  Islam  di
Turki?  Ada  kemiripan  antara  Ottoman  dan  gerakan  Ataturk
melihat  Islam.  Yaitu  Islam  didekati  secara amat pragmatik
untuk  tujuan  politik.  Sebagai  pengagum  Durkheim,  Ataturk
melihat  Islam  sebagai  refleksi sosial masyarakat Turki yang
telah  berakar  sedemikian   rupa   yang   memiliki   kekuatan
integratif  bagi  pertumbuhan  bangsa  Turki. Dengan demikian,
sejak semula tokoh-tokoh gerakan modernisasi dan  westernisasi
di  Turki  tidak pernah menyatakan anti-agama, melainkan ingin
mengadakan rasionalisasi agama, agar  agama  menjadi  kekuatan
penopang bagi kemajuan bangsa Turki.
 
Jadi,   kalaupun   Ataturk   bisa   dianggap  penyelamat  bagi
kelangsungan Islam  di  Turki  dari  ancaman  Eropa  dan  dari
penetrasi  para  missionaris  Kristen,  jasanya terhadap Islam
merupakan implikasi  tidak  langsung  dari  dedikasinya  dalam
membela   bangsa   Turki   dengan   semangat  nasionalismenya.
Sebagaimana dikemukakan oleh Syerif Mardin, sistem  pendidikan
Barat  yang  dipaksakan  oleh  Ataturk  ternyata telah berjasa
besar  bagi  peningkatan  intelektual  'kaum  santri.'  Sistem
pendidikan  Barat yang sejak awal abed-19 hendak diterapkan di
Turki oleh kalangan intelektual muda dan selalu ditentang oleh
jajaran  Sultan,  baru  berhasil  direalisir pada awal abad-20
dengan  cara  paksa  dan  setelah   Ottoman   berada   diujung
kehancuran.  Dengan  demikian, kalau saja Revolusi Ataturk ini
berlangsung seabad  sebelumnya,  mungkin  sekali  nasib  dunia
Islam  tidak  akan  tertinggal  sedemikian  jauhnya dari Barat
dalam bidang iptek dan sosial kemasyarakatan.
 
Bagaimana   ketertutupan   Ottoman   dari   pengaruh   gerakan
modernisme  Eropa  waktu  itu  diungkapkan  oleh  Bernad Lewis
sebagai berikut:
 
    ... the scientific awakening, humanism, liberalism,
    rationalism, the enlightenment - all great European
    adventures and confilcts of ideas passed unnoticed and
    unreflected in society to which they were profoundly
    alien and irrelevant. The same is true of the great
    social, economic, and political changes. The rise and
    fall of the baronage, the rise of the new middle class,
    the struggle of money and land, of city-state, and
    Empire all the swift yet complex evolution of European
    life and society, have no parallel in the Islamic and
    Middle Eastern civilization of the Ottomans. [12]
 
EKSPERIMEN SEJARAH YANG MONUMENTAL
 
Suatu hal yang sudah pasti amat berharga bagi dunia Islam pada
umumnya  ialah bahwa Turki telah melakukan eksperimen sejarah,
secara terang-terangan menyatakan sebagai negara sekuler serta
mengambil Barat sebagai model modernisasinya.
 
Tidak  lama  setelah meletusnya Revolusi Iran (1979), beberapa
wartawan asing berdatangan ke Turki dengan  perhitungan  bahwa
negara yang akan mudah tersulut oleh Revolusi itu ialah Turki.
Dugaan itu tidaklah terlalu salah. Pertama, pemeluk  Syiah  di
sana  diperkirakan  sekitar  10 juta, meskipun angka ini tidak
pernah  terungkap  secara   resmi.   Kedua,   walaupun   Turki
dinyatakan  sebagai  negara  sekuler, Islam tetap berakar kuat
pada masyarakat Turki, sementara agama selain  Islam  tak  ada
hak hukum untuk menyebar-luaskan missinya.
 
Republik Turki yang berjumlah sekitar 55 juta itu sebanyak 99%
adalah muslim dan antara  'keislaman'  dan  'keturkian'  telah
menyatu  sebagai  identitas diri setiap orang Turki, betapapun
kadar dan  corak  keislaman  mereka.  Sebutan  'sekuler'  bagi
negara  Turki  sejak  mulanya  sesungguhnya  tidak tepat kalau
istilah sekuler itu difahami dalam konteks negara Barat.
 
Di Barat paham sekularisme muncul antara lain  sebagai  akibat
logis  dari  doktrin  gereja  dan  akibat  pertumbuhan  sains,
teknologi  dan  ekonomi,   dimana   etika   Kristiani   secara
epistemologis   tidak   sanggup   menghubungkan  antara  faham
modernisme  dan   keyakinan   agama.   Sedangkan   di   Turki,
sebagaimana  dikemukakan Syerif Mardin, hasil westernisasi dan
modernisasi sistem pendidikan yang  diimport  Ataturk  justeru
pada gilirannya telah memberikannya peluang dan fasilitas bagi
umat Islam Turki untuk beradaptasi dengan  dunia  Barat  tanpa
harus terserabut keyakinan agamanya.
 
Jadi,  corak  keislaman  yang muncul dewasa ini bisa dikatakan
sebagai keislaman pasca-Ottoman dan pasca-Kemalisme.  Terutama
sejak 10 tahun terakhir ini, secara ideologis antara Kemalisme
dan Pancasila hanya berbeda dalam teorinya  saja,  namun  pada
praktek kenegaraan tidak jauh berbeda, yaitu baik Turki maupun
Indonesia  bukanlah  negara  teokratis,  bukan  pula  sekuler.
Negara  bertanggungjawab bagi pembinaan dan pengembangan Islam
bagi masyarakat Turki. Hal ini antara  lain  termanifestasikan
dalam  pembinaan  sekolah-sekolah agama, sejak dari tingkat SD
sampai Perguruan Tinggi, sejak  dari  pengangkatan  para  imam
atau  khatib  sebagai pegawai negeri sampai pengangkatan Atase
Agama pada kedutaan Turki  untuk  memberikan  pelayanan  agama
pada masyarakat Turki di negeri orang.
 
Secara  sosiologi,  barangkali saja keislaman model Turki akan
juga dilalui  oleh  masyarakat  Islam  lainnya  ketika  mereka
memasuki  kehidupan  modern.  Salah  satu  cirinya ialah agama
cenderung  sebagai  urusan  pribadi,  sebagai  tuntutan   etis
terjadinya  depolotisasi  dan  deideologisasi  agama,  praktek
ibadah yang cenderung "longgar" meningkatnya minat orang  pada
tasawuf.
 
Semua  ini  begitu  menyolok  menggejala  di Turki atau bahkan
telah menjadi corak keberagamaan mereka. Satu hal yang  mereka
tidak  miliki,  dibanding  Indonesia,  ialah rasa 'persaingan'
dengan agama lain di dalam negeri  sendiri.  Lebih  dari  itu,
baru  akhir-akhir  ini  saja  mulai  muncul generasi baru yang
merepresentasikan    generasi    Islam    pasca-Ottoman    dan
pasca-Kemalis,   yaitu   generasi  yang  tetap  konsisten  dan
memiliki wawasan keislaman dan sekaligus  juga  wawasan  sikap
kemodernan  sebagaimana  yang  dilihat  Gokalp ataupun Ataturk
pada masyarakat Barat.
 
PENUTUP
 
Dari  eksperimen  sejarah  yang  dilakukan   Turki,   hasilnya
memperkuat  teori  yang  mengatakan  bahwa  konsep sekularisme
Barat tidak akan tumbuh ketika ditabur atau  diterapkan  dalam
masyarakat  muslim. Kedua, semakin modern dan semakin rasional
seseorang  atau   masyarakat,   keislaman   mereka   cenderung
terefleksikan   dalam  etika  pribadi  dan  sosial,  sedangkan
hubungannya dengan Tuhan cenderung pada  pendekatan  sufistik.
Ketiga,   meskipun  pada  level  praksis  dan  ideologi  Islam
senantiasa    dipengaruhi    oleh    tradisi    lokal    serta
kepentingan-kepentingan  subyektif, secara epistemologis Islam
tetap memiliki  vitalitas  yang  bersifat  rasional,  sehingga
dengan demikian modernisasi tidak akan menjadikan ancaman bagi
Islam.
 
CATATAN
 
 1. Taylor, Paul W., Problems of Moral Philosophy.
    California: Deckenson Publishing Compant Inc., p. 3
    
 2. Hourani, George F., Reason and Traditon in Islamic
    Ethics. Cambridge: Cambridge University Press, p. 25
    
 3. Ayat al-Qur'an berulangkali menuntut pembacanya agar
    berjihad dengan menggunakan akalnya untuk menangkap
    pesan-pesan etis yang terkandung di dalamnya. Oleh
    karenanya adalah hal yang logis saja bahwa dalam sejarah
    Islam selalu terjadi perbedaan dan konflik intelektual
    yang dinamis antara sesama ahli pikir.
    
 4. Lihat Erns Cassirer, An Essay on Man, Yale University
    Press,
    
 5. Weiner, Myron., Modernisasi, Dinamika Pertumbuhan,
    Gajah Mada University Press, 1980, p. xii
    
 6. Lihat karya-karya Immanuel Kant, terutama Critique
    Pure Reason dan Religion within the Limit of Reason
    Alone.
    
 7. Peretz, Don, The Middle East Today, New York, 1986,
    p. 59
    
 8. Ibid, loc. cit.
    
 9. Ibid, p. fi2
    
10. Ke-6 sila dalam ideologi Kemalisme ialah:
    republikanisme, nasionalisme, populisame, sekularisme,
    etistisme, revolusionisme. semua sila di atas secara
    konotatif merupakan kritik frontal terhadap ideologi
    Ottomanisme.
    
11. Lihat Ergun Ozbodun (ed)., Ataturk, Founder of
    Modern State, London, 1981. Juga dalam Modern Turkey:
    Continuity and Change, Opladen, 1984
    
12. Bernard Lewis, The Emergence of Modern Turkey,
    London, 1967, p. 482

Berdamai

Sumber Tulisan: Disini

Ini adalah bentuk komunikasi eksternal antara manusia dan hal di luar dirinya.

Namun ada satu garis komunikasi yang seringkali luput dari perhatian kita, yaitu habl min al nafs, komunikasi dengan diri sendiri, jiwa kita sendiri.

Dalam istilah tasawuf, model komunikasi internal ini disebut muhasabah, yaitu berkomunikasi dengan diri sendiri untuk introspeksi menjadi pribadi yang memiliki kualitas lebih baik.

Membangun komunikasi eksternal tidak mudah. Banyak hambatan dan tantangannya. Dengan Tuhan misalnya, meskipun sebagai pemeluk agama kita tahu bahwa itu adalah sebuah kewajiban.

Namun tetap saja tidak selalu mulus karena kalau kita menjalankannya seringkali kita terjebak pada melaksanakannya sebagai rutinitas daripada sebagai bentuk ketundukan pada Tuhan.

Dengan manusia pun tidak berbeda. Tidak sedikit komunikasi dengan sesama hanya menorehkan noda, luka dan petaka. Jika berkomunikasi dengan sesuatu di luar diri sendiri saja sulit, apa lagi dengan diri sendiri.

Berkomunikasi dengan diri sendiri tingkat kesulitannya bisa jadi sama dengan sulitnya melihat tengkuk sendiri. Dia begitu dekat namun begitu jauh untuk dilihat dan ditelisik.

Area untuk melakukan objektifikasi kepada objek komunikasi, yaitu diri sendiri menjadi sangat sempit. Karenanya bukan hal yang aneh kalau ketika terjadi gejolak dalam diri sendiri, ada kecenderungan untuk lebih melemparkan kesalahan pada orang lain daripada mengembalikannya pada diri sendiri.

Makanya ada pepatah mengatakan, bila ingin tahu tentang pribadi seseorang yang sesungguhnya, tanyakan pada kawannya. Ini menunjukkan pesimisnya melihat kemampuan seseorang untuk mendeskripsikan dirinya sendiri secara objektif dan gamblang.

Mengenali diri sendiri sangat penting sebagai landasan untuk membangun komunikasi dengan manusia dan Tuhan. Salah satu bentuk mengenali diri adalah mengenali yang menjadi kelebihan dan kekurangan. Bila sudah mampu melakukan itu, maka akan lebih mudah menata diri dan kalau perlu menghiasinya.

Ibarat rumah, sebelum menata isinya dan menaruh pernak pernik disana sini, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah mengenali kelebihan dan kekurangan serta keterbatasan tata ruang atau desain interiornya.

Jangan sampai membeli kursi ukuran jumbo dan berbentuk huruf L padahal ruang tamu yang tersedia adalah ukuran kecil dan berbentuk bundar.

Batas dan `kekurangan’ rumah itu adalah ruang tamu yang sempit, sehingga jangan sampai dipaksakan untuk diisi dengan barang berukuran jumbo. Bisa saja masuk, tapi tidak lagi serasi dan nyaman dilihat dan ditempati. Padahal ruang sempit dan kecil juga akan tetap nyaman dan indah bila ditata sesuai dengan kondisi yang ada.

Dengan mengenali dan menerima keterbatasan ruang yang kita punya, tidak perlu ada pikiran, ucapan dan sikap yang menuduh bahwa si pembuat kursi jumbolah yang tidak tau diri, salah, atau bodoh karena membuat ruangan rumah menjadi sumpek dan tidak nyaman.

Bila tuduhan itu dilontarkan, maka saat  satu jarinya menunjuk kebodohan orang lain, tanpa disadarinya, keempat jari yang lain menunjuk dirinya sendiri. Halakan `imru’ lam ya’rif qadrah, hancurlah seseorang yang tidak mengenali kadar dirinya

Kesalehan Sosial

Sumber Tulisan : Disini

Pertama, sifatnya sangat pribadi (private) tujuan akhirnya adalah untuk mendekat dan menyatu dengan Tuhan dengan jalan mensucikan diri, menjauhkan pikiran, ucapan dan tindakan yang tidak terpuji.

Kedua, dimensi eksoteris, yaitu dimensi dan implikasi lahir  bahwa orang beragama dituntut untuk melaksanakan perintah agama dengan baik, terukur dan dapat diamati, yang tujuan akhirnya untuk membentuk karakter dan kepribadian mulia sehingga perilaku keberagamaan seseorang mendatangkan manfaat dan kebaikan bagi sesama manusia. Dengan demikian, dimensi iman selalu mengasumsikan munculnya kesalehan sosial.

Dalam tradisi Kristiani kedua dimensi ini disimbolkan dengan “salib”, yang satu ke arah vertikal,  yang lainnya horisontal. Dalam Islam, dituangkan dalam frase: “hablun minallah, wa hablun minannaas”. Mendekat dan berbakti pada Tuhan harus juga membuahkan kebaikan dan pelayanan pada sesama manusia.

Dalam Al-Qur’an terdapat isyarat bahwa manusia memiliki lima tingkat eksistensi dan perkembangan. Pertama, manusia ditopang oleh daya minerality. Kita tercipta dari tanah dan suatu saat kelak ketika mati elemen tanah itu akan kembali menyatu dengan tanah. Jadi secara fisik keberadaan kita berbagi dengan keberadaan batu, pasir dan benda lain di sekitar kita.

Kedua, dalam diri kita juga terdapat daya dan jiwa nabati. Pada level ini aktivitas yang paling utama adalah makan, minum dan tumbuh. Kalau nutrisi  yang diperlukan cukup, maka organ-organ tubuh kita akan tumbuh subur dan bekerja dengan baik.

Level ini sangat mencolok terutama pada anak kecil yang tengah mengalami fase pertumbuhan. Ketika kita makan dan minum, sesungguhnya kita tengah memenuhi tuntutan jiwa nabati kita agar tetap sehat.

Ketiga, manusia juga dianugerahi jiwa dan daya hewani. Daya ini terutama ditopang oleh kekuatan panca indra. Dalam hal aktivitas indrawi, lagi-lagi, manusia dan hewan banyak sekali memiliki kemiripan. Yang paling menonjol dari tuntutan indrawi adalah untuk mendapatkan pleasure. Oleh karenanya, hidup yang hanya mengejar dan memanjakan physical pleasure, tak ubahnya dengan kehidupan hewani.

Pada tahap ini kehidupan sudah sangat meriah. Gabungan antara jiwa nabati dan hewani telah memungkinkan terjadinya proses reproduksi dan regenerasi. Kompetisi dan mengejar sexual pleasure merupakan salah satu ciri kehidupan hewani yang disenangi manusia.

Namun jika hidup hanya mengutamakan jiwa nabati dan hewani, maka peradaban tak akan berkembang, karena hewan tidak mampu menciptakan kehidupan baru dengan keluar dari instingnya. Contoh paling nyata adalah teknologi rumah yang diciptakan hewan, dari dulu tak pernah berubah. Dengan kata lain, hewan merupakan ciptaan Tuhan yang sudah selesai, tak akan ada perkembangan dan inovasi baru yang akan mereka ciptakan.

Keempat, tahapan jiwa insani. Pada tingkat eksistensi ini yang paling menonjol adalah kapasitas manusia untuk berpikir dan berefleksi dengan kekuatan akal yang diberikan Tuhan. Dengan akalnya manusia mampu mengambil jarak dan bahkan keluar dari dunia hewani dan nabati untuk membangun dunia simbolik, sebuah dunia makna yang tidak bisa dilakukan oleh hewan.

Rasa seni, sikap kritis, rasa moral dan kreativitas merupakan ciri utama dari kapasitas jiwa insani yang telah membuka jalan bagi berbagai kemajuan dan inovasi ilmu pengetahuan yang sulit diprediksi batas akhirnya. Karena kekuatan jiwa insani ini maka peradaban berkembang. Berbagai lembaga pendidikan dan pusat-pusat industri dibangun. Beragam karya seni tumbuh karena kekuatan daya ini.

Namun setiap perkembangan dari tahap ke tahap selalu menuntut usaha  dan perjuangan, bahkan sering akan menghadapi jebakan. Manusia seringkali lebih cenderung untuk lebih memanjakan tuntutan jiwa hewani sehingga naluri hewani yang mestinya dikendalikan oleh akal sehat, yang terjadi bisa sebaliknya.

Dengan kecerdasannya  manusia bisa tergelincir hanya melayani tuntutan naluri hewani yang hanya mengejar physical pleasure. Perebutan dan eksploitasi sumber daya alam yang telah merusak lingkungan dan menimbulkan sengketa merupakan salah satu ekspresi naluri hewani yang lebih dominan daripada jiwa insani.

Kelima, manusia juga dianugerahi daya ruhani yang bersifat spiritual. Kekuatan spiritual inilah yang mampu menghubungan manusia dengan Tuhannya untuk mendapatkan pesan suci (divine messages) sebagaimana yang dialami oleh para nabi.  Karena ruhani bersifat fitri dan suci maka ia selalu mengajak pada kesucian.

Karena ruhani merupakan cahaya dari Tuhan Yang Maha Baik, Maha Benar dan Maha Indah, maka ruhani selalu mengajak pada kebaikan, kebenaran dan keindahan. Jiwa dan daya ruhani inilah yang mestinya memimpin jiwa-jiwa dibawahnya, sehingga peradaban yang dibangun oleh manusia semakin naik kualitasnya, semakin  cerdas dan bermoral bukannya terjatuh dikendalikan oleh nafsu-nafsu hewani.

Menarik direnungkan, ajaran agama dibangun oleh para Rasul Tuhan yang hidup ribuan tahun yang lalu, sebelum jumlah manusia sebanyak hari ini dan perkembangan ilmu pengetahuan belum semaju sekarang.

Secara hermeneutic, kita bisa menyimpulkan bahwa sebelum manusia dengan kekuatan jiwa nabati, hewani dan insani menggubah dunia dan membangun peradaban, Tuhan lebih dahulu mengirim para Rasul-Nya untuk meletakkan fondasi moral-spiritual  berupa ajaran agama yang bersifat abadi untuk membimbing dan mendampingi perjalanan hidup manusia.

Pesan dasar agama yang berkaitan dengan moral-spiritual sejak dahulu sampai sekarang  sifatnya simple, universal, tidak berubah. Kalau saja prinsip ini dijaga bersama maka hubungan antar manusia dan antar pemeluk agama berjalan lebih baik. Konflik sosial muncul seringkali disebabkan oleh perselisihan dalam menafsirkan dan melaksanakan prinsip keadilan ekonomi dan politik. Dan  ketika politik meninggalkan pesan moral-spiritual, maka peradaban manusia akan terjatuh pada kehidupan level hewani, homo-homini-lopus.

Jika kita konstruksikan perkembangan dan piramida peradaban manusia, maka secara historis akan terlihat bahwa fondasi awal yang dibangun oleh para nabi adalah landasan moral-spiritual. Fondasi ini dianggap telah selesai, sebagaimana telah berakhirnya kenabian. Tuhan telah mempercayakan pada evolusi kematangan dan otonomi manusia untuk membangun peradaban di muka bumi berlandaskan warisan luhur para nabi, namun tanpa intervensi mereka.

Sebagai master piece dan mandataris Tuhan, manusia diberi akal yang sangat hebat, namun dengan kehebatannya itu muncul dua kemungkinan. Pertama, manusia bisa merasa sangat otonom dan tidak lagi butuh Tuhan dan tidak memberi ruang pada agama karena sudah cukup dengan kekuatan nalarnya untuk mengatur dan menyelesaikan semua persoalan hidupnya.

Kedua, dengan nalarnya yang hebat dan dipandu oleh kesadaran spiritualnya itu maka manusia akan beriman, mengagumi kebesaran Tuhan dan mensyukuri  segala anugerahnya yang melimpah. Semoga kita semua termasuk golongan yang kedua ini

Cara Membaca Alquran

Sumber Tulisan: Disini

Pertama, membaca secara literal, yaitu membaca tulisan yang terdiri dari huruf-huruf dan kalimat-kalimat seperti membaca buku termasuk kitab suci dan sejenisnya. Kedua, membaca fenomena sekitar, mulai dari manusia sampai alam semesta.

Keduanya menuntut hal yang sama yaitu bukan hanya ketajaman indera mata, telinga, tapi juga hati untuk menangkap makna dari apa yang dibaca dan ditemui dalam kehidupan kita sehari-hari.

Apa istimewa dan pentingnya membaca? Dalam pengertian literal pun, membaca itu  mengasumsikan bahwa ada intensi dari seseorang untuk memperhatikan, mengamati dan memahami objek yang dibacanya.

Membaca seyogyanya berakhir dengan bertambahnya informasi dan pengetahuan seseorang tentang sesuatu sekecil apapun. Selain itu efek  yang hendak dilahirkan tidak hanya sekadar knowing atau recognizing (mengenali) tetapi juga mentransformasikan cara pandang seseorang.

Bahkan sangat mungkin membaca ini menjadikan seseorang seakan diberi jendela untuk melihat persoalan yang ada pada dirinya maupun orang lain.

Membaca dengan efek seperti di atas hanya akan terjadi bila apa yang kita baca diperlakukan sebagai sesuatu yang bisa diajak `berdialog’. Membaca novel misalnya, bila tuturan cerita novel itu hanya diperlakukan sebagai kata kata yang mati, maka tak akan ada interaksi dan imaginasi yang terbangun antara pembaca dan teksnya, apakah lagi mempengaruhi emosi pembacanya.

Tak akan ada orang yang bisa menangis dan tertawa hanya karena membaca novel tersebut ketika ia hanya dianggap kumpulan huruf-huruf semata.

Sama halnya dengan benda-benda peninggalan masa lalu seperti Candi Borobudur atau hajar aswad misalnya. Ketika mereka `dibaca’ sebagai sesuatu yang hidup dan bisa bercerita, maka akan tersingkaplah cerita bagaimana candi tersebut menjadi simbol kejayaan masa lalu dan bagaimana hajar aswad menjadi salah satu media Nabi pada waktu itu untuk menunjukkan kepemimpinannya sebagai seorang al-amin, orang yang dipercaya dan menengahi perselisihan antar suku.

Alquran pun demikian. Alquran hanya akan berbicara kepada kita bila ia dilihat dan dibaca sebagai teks yang hidup dan berbicara dengan konteks universal, lintas masa. Sehingga apa yang diwahyukan kepada Nabi zaman dahulu, masih bisa berbicara pada kita yang hidup pada masa kini.

Bila tidak demikian, maka ayat-ayat dalam kitab suci itu hanya seperti emas dalam debu,yang nilainya tertutup begitu saja.

Dengan membaca seperti yang disebutkan itu atau kita namakan saja membaca yang `authentic’ maka sesuatu yang terlihat `bukan apa-apa’ menjadi `sesuatu yang berharga’.

Saya teringat salah satu episode acara talkshow TV Amerika Oprah Winfrey. Dalam satu episodenya, Oprah menunjuk secara acak penonton dan diminta untuk menceritakan dirinya untuk jadi salah satu tema talkshow dia berikutnya.

Oprah mengatakan, mencari tema untuk sebuah talkshow selama ini selalu lahir dari diskusi-diskusi antara pakar-pakar. Namun, dia yakin sesungguhnya semua hal yang ada di sekitarnya, termasuk para penonton di studionya memiliki sesuatu yang menarik dan berharga dan `layak’ untuk menjadi topik acara tersebut.

Ternyata setiap orang itu menyimpan `emas’ yang terpendam seperti dalam pepatah tadi. Betul sekali yang disinyalir dalam Alquran Surah Ala’raf ayat 179, bahwa ada di antara  manusia itu memiliki mata tapi tak mampu melihat, punya telinga tapi tak mampu mendengar, dan memiliki hati tapi tak mau memahami. Barangkali orang-orang seperti inilah yang gagal membaca dengan sebenar-benarnya membaca.

Membacalah, karena melaluinya Tuhan menyediakan kita sebuah teropong untuk memandang dunia yang tak terjangkau oleh mata. Membacalah, karena dengannya Tuhan menorehkan rahmat-Nya dalam hati dan pikiran kita.

Membacalah, karena dengannya Tuhan mengajari kita, semua yang kita tak punya. Alladzzi `allama bi al qalam, `allam al insaan maa lam ya’lam

Meraih Energi Ilahi

Sumber Tulisan : Disini

ELEMEN paling vital namun sering diremehkan, bahkan ditolak, oleh para ilmuwan adalah  adanya jiwa rabbani dalam diri manusia. Sebagai seorang muslim, ketika berbicara masalah metafisik referensi saya tentu saja Alqur’an.

Jiwa rabbani ini sumbernya adalah ruh ilahi yang ditiupkan, bukan diciptakan,  oleh Allah ke dalam tubuh manusia. Di dalam Alqur’an ( QS 32: 7,8,9) disebutkan manusia diciptakan berasal dari tanah, lalu Allah menjadikan proses keturunannya dari sperma yang terpilih, dan lebih hebat lagi, disempurkanlah dengan ditiupkan ruh-Nya ke dalam diri manusia.

Bahwa dalam diri manusia terdapat ruh rabbani disebutkan juga dalam ayat yang lain (QS 15:29 – 38:72), setelah sempurna proses kejadiannya, maka Aku tiupkan ruh-KU ke dalam diri manusia, lalu mereka bersujud. Kutipan ayat Alqur’an ini sangat penting untuk memahami manusia bahwa dalam dirinya tidak saja terdapat jiwa nabati (vegetative soul), jiwa hewani (animal soul), dan jiwa insani  (human soul), namun yang paling tinggi adalah dalam diri manusia terdapat jiwa rabbani atau ruh ilahi (divine soul).

Perpaduan antara jiwa nabati, hewani, dan insani, manusia telah berhasil menciptakan perubahan dan peradaban yang spektakular. Dalam Alqur’an, kata an-nas dan al-insan, keduanya diterjemahkan menjadi “manusia” yang semuanya memiliki kehebatan namun juga kelemahan.

Dengan kekuatan akal-pikirannya masyarakat modern merasa telah mampu membuat loncatan sejarah dan peradaban sehingga di antara mereka tidak lagi memerlukan Tuhan. Semua persoalan hidup hendak dijelaskan dan diselesaikan dengan pendekatan empiris-ilmiah.

Kalaupun mereka masih percaya pada Tuhan dan agama, peran dan posisinya semakin mengecil, terpinggirkan. Orang yang percaya pada Tuhan dan agama dianggap menunjukkan keterbelakangan dan gagal memahami dunia secara rasional.

Yang cukup mengejutkan, ketika saya meneliti Alqur’an, kata insan kebanyakan  dikaitkan dengan kecenderungan negatif. Jadi, di balik kehebatannya, jiwa insani memiliki kelemahan dan cacat yang sangat merepotkan bagi dirinya.

Mari kita lihat beberapa kutipan Alqur’an: Sungguh ketika “insan” (manusia) merasa dirinya kaya, maka mereka lalu bersikap sombong dan melampaui batas (QS 96: 6,7).  Manusia (insan) itu mudah berkeluh kesah ketika mendapatkan kesulitan. Tetapi cepat berubah menjadi sombong dan kikir ketika nasibnya berubah menjadi kaya dan hidupnya enak  (QS 79: 19,20,21).

Manusia juga mudah sekali mengingkari nikmat Tuhan, enggan bersyukur (QS 100: 6). Manusia juga merasa hebat, pintar, namun sesungguhnya kesombongan itu sekaligus  menunjukkan kebodohannya (QS 33:72).

Demikianlah masih banyak lagi isyarat Alqur’an yang menunjukkan tanpa bimbingan jiwa rabbani sesungguhnya jiwa insani memiliki kelemahan yang fatal. Makanya Allah mengirimkan para Rasul dan Kitab Suci sepanjang sejarah sebagai peringatan, panduan, dan konsultan untuk meraih tahapan hidup  lebih tinggi, lebih bermakna, dan lebih terarah dalam meneruskan perjalanannya ketika satu saat  mesti  melalui pintu gerbang kematian.

Jiwa rabbani (QS 3: 79) yang jadi penghubung dengan Tuhan dan mengapresiasi realitas gaib yang tidak sanggup dijangkau nalar insani. Mereka yang beriman, yang kemudian disebut mukmin, adalah mereka yang jiwa rabbaninya selalu terhubungkan dengan  cahaya Ilahi sehingga menerangi jiwa-jiwa yang lain.

Beberapa instrumen yang menghubungkan jiwa rabbani dengan Allah terdapat beberapa istilah dalam Alqur’an, antara lain fuad, qalb, danalbab. Ketiganya menghubungkan antara jiwa insani dengan cahaya Ilahi.

Dalam sejarah banyak pemikir yang cerdas secara intelektual dan sekaligus cerdas secara spiritual. Sosok Muhammad yang lahir dan tumbuh di padang pasir pada abad ke-6, tidak pernah memperoleh pendidikan di perguruan tinggi, namun mewariskan himpunan ucapan (hadith), dan mushaf Alqur’an yang kandungan kebenarannya  melampui zaman, pasti memiliki jiwa rabbani sangat cerdas dan kuat.

Kebahagiaan Spiritual

Sumber Tulisan: Disini

KITA mengenal dimensi ataupun tangGa-tangga kebahagiaan, yaitu kebahagiaan yang bersifat fisikal, intelektual, estetikal. Dua kebahagiaan lain yang semakin tinggi adalah kebahagiaan moral dan spiritual.

Pada kebahagiaan moral, seseorang merasa bahagia dan bermakna hidupnya justru ketika dalam posisi memberi (bukan diberi) dan menolong (bukan ditolong) orang lain. Adapun kebahagiaan spiritual (spiritual happiness) bersifat ruhani atau  nurani.

Ruhani artinya bersifat ruh, nurani artinya bersifat nur atau cahaya. Ruh dan cahaya Ilahi yang bekerja dalam diri manusia sehingga hidupnya selalu terarahkan pada kebaikan sebagai efek dari kedekatannya dan kecintaannya pada Allah.

Seseorang akan meraih kebahagiaan tertinggi ketika jiwa robbani yang tertinggi berhasil mengemban tugasnya dengan baik mengendalikan nafsu, pikiran, dan tindakan seseorang untuk senantiasa merasakan kedekatan dan disayang Tuhan. Untuk bisa dekat dengan Tuhan yang suci,  seseorang haruslah berusaha menjaga kesucian dirinya.

Agar disayang Tuhan, seseorang hendaknya senang bebagi kasih sayang pada hamba-hamba Tuhan.  Jadi, kebahagiaan spiritual diraih melalui perjuangan ruhani untuk selalu menjaga fitrah keruhaniannya untuk memimpin jiwa insani, hewani, dan nabati sehingga melahirkan tindakan dan karya-karya kemanusiaan sebagai partisipasi dan realisasi asma Allah yang Rahman dan Rahim.

Kebahagiaan spiritual memiliki banyak pintu. Melalui kapasitas intelektualnya, seseorang bisa saja memperbanyak karya kemanusiaan sebagai rasa syukur pada Tuhan. Melalui kecerdasannya yang dimbimbing oleh jiwa robbani seseorang akan lebih mampu memahami dan menghayati kebesaran Tuhan sehingga ketika sujud akan lebih khusyuk.

Rasakan Nikmatnya Bersujud

Sumber Tulisan: Disini

SUJUD itu sangat nikmat kalau saja dilakukan secara khusyuk, menyatunya hati, pikiran, dan fisik bersimpuh di hadapan Allah dengan penuh rasa cinta dan syukur kepada-Nya. Adegan sujud tidak saja ditemukan dalam ritual umat Islam sewaktu menjalankan salat  namun juga dilakukan oleh penganut agama lain.

Sujud yaitu posisi kepala dan muka mencium tanah seraya memanjatkan doa pada Tuhan, pencipta, dan pemilik semesta. Sujud juga dianjurkan oleh Islam ketika seseorang tiba di tempat tujuan setelah berjalan jauh. Bagi umat Islam yang setia mendirikan salat, sedikitnya 34 kali melakukan adegan sujud dalam sehari semalam.

Bagi saya, sujud itu memiliki makna dan kesan yang amat dalam terhadap hati dan pikiran, sehingga saya punya tafsiran, pemaknaan dan pengalaman sendiri tentang sujud, yang mungkin saja tak beda dari teman-teman lain.

Tanpa mesti mengucapkan kata-kata secara verbal, adegan sujud itu sendiri sudah merupakan bahasa yang menyatukan antara gerak hati, pikiran, dan tubuh di mana seorang yang beriman, pertama, melakukan penyerahan total pada Tuhannya.

Wajah, kepala dan isinya yang kadangkala membuat seseorang sombong dan sibuk memikirkan diri dan dunia, ketika sujud semuanya ditundukkan serendah mugkin dengan mencium tanah. Posisi kepala bahkan lebih rendah dari posisi pantat. Tubuh ini berasal dari tanah dan kita secara sadar menyatu kembali dengan mencium tanah.

Di masjid-masjid Iran bahkan disediakan tanah liat yang sudah mengering tempat menempelkan jidat ketika orang bersujud dalam salat. Kedua, ketika muka, kepala dan tubuh ditundukkan dan dipasifkan melalui sujud, di situ kesadaran ruhani yang terdalam bangkit dan terbang keluar dari orbit bumi menuju orbit ilahi.

Lewat sujud terjadi sebuah mi’raj. Sujudnya seorang yang beriman mempertemukan bumi dan langit, jasmani dan ruhani,  kesadaran temporer dan kerinduan pada yang abadi. Ketika jasmani pasrah merendah, justru ruhani yang bangun dan naik ke langit ilahi.

Ketiga, sujud itu sesungguhnya lebih merupakan peristiwa ruhani, bukan jasmani: Muutuu qabla antamuutu (Matilah engkau sebelum mati). Yaitu sebuah kesadaran dan keyakinan mendalam bahwa perjalanan dan festival hidup itu pasti ada akhirnya.

Oleh karena itu sebelum kematian itu tiba, berpisahnya ruh dari basan, hendaknya engkau bekerja keras untuk meninggalkan jejak-jejak amal kebajikan. Jadi, keempat, adegan  sujud itu –disamping menyampaikan rasa syukur dan doa– adalah juga sebuah pernyataan, tekad, dan komitmen untuk mengisi jatah umur yang ada dengan kerja-kerja produktif bermakna.

Sujud, dengan demikian, merupakan bahasa ikrar dan kebulatan tekad, menyatunya doa dan kerja, ora et labora. Menyatunya kegelisahan kreatif dengan kepasrahan total pada Tuhan.
Kreatif untuk melakukan karya-karya kemanusiaan sebagai wujud pengabdian pada Tuhan sang pemberi hidup, dan pasrah total karena menyadari sesungguhnya Tuhan lah pemilik hidup dan semesta yang kita tempati ini.
Kelima, berdasarkan kajian medis ternyata sujud sangat membantu bagi kesehatan tubuh. Sujud yang dilakukan tujuah belas  kali sehari, mampu membantu melancarkan peredaran darah di kepala sehingga terjadi pemerataan dan keseimbangan.

Keenam, sujud yang dilakukan secara berjamaah di lapangan terbuka, terutama waktu Salat Idul Fitri dan Idul Adha, memberikan pemandangan indah dan sangat menyentuh hati. Sebuah ikrar kita semua derajatnya sama di hadapan Tuhan, apapun pangkatnya.

Gerakan Shalat Lenturkan Syaraf Tubuh

Sumber Tulisan : Disini

Kalau saja pesan salat bisa kita terapkan dalam pekerjaan dan aktivitas sehari-hari, tentu hasil kinerjanya akan optimal dan berkualitas.  Dampak positif lain dari salat juga mendatangkan kesehatan.

Jika kita perhatikan dan rasakan dalam gerakan-gerakan salat, dari mulai takbir mengangkat kedua tangan, ruku, sujud, duduk, dan gerakan lainnya,  jaringan syaraf tubuh akan tetap lentur dan  rileks.

Dari banyak penelitian, sujud misalnya, mampu membebaskan otak syaraf dari kegelisahan, rasa resah dan tekanan kejiwaan. Kepasrahan yang dilakukan orang yang sujud membuat otak dan syaraf menjadi tenang dan terasa kosong. Seorang yang salat telah berbagi keresahan dan kegelisahan hidupnya kepada Tuhannya sehingga akan terasa ringan.

Dengan ucapan dan gerakan salat kita dapat menyatukan antara hati pikiran dan gerak untuk mencapai khusyuk. Mengapa tahajjud pada waktu malam sangat ditekankan?  Karena dalam keheningan malam itu kita akan merasakan hubungan intim dan penuh privacy dengan Tuhan.

Setiap gerakan salat adalah bahasa ritual, sejak dari mengangkat tangan, membungkukkan badan, sampai menundukkan ke-pala ke tanah. Semuanya itu, kalau saja dihayati dengan mendalam, jauh lebih ekspresif ketimbang ucapan seribu kata.

Ketika seorang muslim bersujud dengan khusyuk menundukkan kepala dan menempelkan dahinya ke tanah, maka rangkaian kata-kata tidak cukup untuk mengungkapkan perasaan hatinya ketika bersimpuh menghadap Tuhan.

Dengan demikian, seseorang yang salat dengan tertib dan khusyuk akan mampu membuat dirinya dalam keyakinan tinggi untuk menjalani hidup serta kepasrahan tulus atas semua ketentuan Tuhan. Hidup akan tetap optimistis karena selalu dekat dengan Tuhan.

Allah Telah Menunggu

Sumber Tulisan: Disini

MANUSIA terhubung dan menghubungkan diri dengan Tuhan melalui doa. Dalam doa seorang hamba mengingat, menyeru, dan menyampaikan seluruh suka serta duka dalam menjalani hidup.

Bagi orang yang beriman, umur dan hidup adalah amanah, juga anugerah. Sehingga sangat logis jika Tuhan menjadi sandaran terakhir tempat mengadu.

Dalam Islam, satu di antara forum untuk mengadu adalah salat wajib. Kalau dirasa kurang puas, melalui salat sunnat. Banyak sekali forum salat sunnat yang diajarkan Rasulullah. Dalam berbagai hadits disebutkan, Allah senantiasa menunggu hamba-Nya yang mau datang beraudiensi dan bersujud pada-Nya.

Pintu-Nya senantiasa terbuka mengingat Allah adalah Maha Mendengar, Maha Penerima Taubat, dan sumber semua kedamaian hidup sebagaimana tersurat dan tersirat dalam asmaul husna yang berjumlah sembilan puluh sembilan.

Ketika seorang mukmin hatinya telah dipenuhi rasa cinta dan rindu pada Allah yang Maha Kasih dan Pemurah, panggilan salat merupakan panggilan yang indah dan menggairahkan, layaknya anak muda yang jatuh cinta selalu ingin berjumpa kekasihnya. Ibarat seorang ibu yang merindukan bertemu anaknya yang tengah pergi berlibur.

Dalam konteks inilah menjadi sangat mudah dipahami mengapa Rasulullah menganjurkan agar seorang muslim hendaknya salat di awal waktu. Jangan ditunda-tunda. Bergegaslah memenuhi panggilan Allah. Betapa sejuk dan ceria  waktu menjalani salat jika hatinya berbunga-bunga ketika beraudiensi pada Allah.

Semua kegiatan ditinggalkan karena tak ada yang lebih menarik ketimbang menghadap Allah.
Begitu nikmat berdialog sambil tegak berdiri, sambil membungkuk dan kemudian bersujud. Dalam bersujud kita berserah diri secara total. Tak sanggup bibir menyampaikan semua perasaan dan pikiran sehingga Rasulullah mengajarinya dengan ucapan yang penuh pujian dan mohon ampunan.

Tetapi sesungguhnya lebih dari itu, yang seorang hamba ingin sampaikan pada momen seperti itu, sebuah adegan sujud. Kepala yang biasanya dalam posisi tegak, kadang sombong dan tebar pesona menunggu pujian kanan-kiri, dalam sujud kita mencium tanah tanda kepasrahan dan pengakuan kekerdilann diri dan pengagungan Tuhan.

Posisi pantat bahkan lebih tinggi dari posisi kepala. Momentum sujud merupakan momentum puncak dalam salat sehingga banyak orang berlama-lama, enggan buru-buru mengangkat kepala sebelum puas menumpahkan pikiran, perasaan, pujian, dan permohonan ampun pada Tuhan.

Tetapi ini hendaknya dilakukan dalam salat sunnat saja, sebab kalau dalam salat berjamaah bisa mengganggu suasana batin teman yang mungkin ada agenda lain. Coba saja hayati dan jalani, ketika salat tumbuhkan dan ikuti parasaan rindu serta cinta pada Allah. Anda akan betah berlama-lama dan akan merasakan aliran energi cinta dan damai dari Allah mengalir ke diri Anda.

Kalau itu menjadi habit (kebiasaan) dan kualitas salat Anda, ketika mengakhiri salat dengan mengucap dan menebar salam, menengok ke kanan dan ke kiri, akan berkelanjutan dan dirasakan siapapun yang dekat dengan Anda.

Mereka yang senang salat adalah juga mereka yang senang menebar rasa damai bagi lingkungannya. Rasa intim dengan Allah akan semakin intens dirasakan ketika kita berada dalam bulan Ramadan. Kedekatannya tidak saja dirasakan sewaktu salat tetapi juga ketika sepanjang hari menjalani puasa.

Kita sungguh merasakan kedekatan dan kehadiran Tuhan sehingga larangan tidak makan dan minum serta perbuatan keji, dengan ringan kita taati. Setiap saat kita merasa dalam tatapan dan limpahan kasih-Nya. Dan memang begitulah firman Allah. Di manapun dan kapanpun berada, Allah sungguh dekat dengan kita, bahkan lebih dekat dari urat nadi kita sendiri.

Urat nadi adalah urat aliran darah  penyangga  kehidupan yang bergerak dan digerakkan oleh jantung. Artinya,  Tuhan paling dekat dan menguasai kehidupan kita, selalu peduli pada hidup kita. Selama Ramadan kita berintim diri dengan Allah baik sewaktu menjalani puasa, salat  tarawih maupun tadarrus Al-Qur’an.

Subhanallah, sungguh indah dan menggairahkan beribadah di bulan Ramadan. Tidak hanya merasa akrab dengan Allah, sewaktu bulan Ramadan terjadi  proses konsolidasi dan intensifikasi ikatan batin dengan sesama keluarga. Aura spiritual memenuhi kehidupan rumahtangga.

Lapar dan haus dirasakan semata karena memenuhi pesan Ilahi yang buah kebaikannya akan kembali pada diri kita sendiri. Lalu makan buka dan sahur bersama. Salat tarawih bersama. Terima kasih Tuhan, aku dipertemukan dengan bulan yang penuh berkah ini.

Menjadi Karyawan Tuhan

Sumber Tulisan: Disini

KETIKA masih kecil kita sering ditanya guru, kelak nanti kalau sudah besar kamu mau jadi apa? Kita pun menjawab spontan, ada yang ingin menjadi guru, tentara, dokter, insiyur, pilot dan lain sebagainya. Pendeknya kita mempunyai imajinasi untuk menjadi orang sukses, memiliki pekerjaan dengan gaji besar, berpakaian mentereng dan rumah megah.

Imjinasi dan cita-cita tentang masa depan itu memang selalu tumbuh bersama kita bahkan sampai hari ini. Dengan bertambahnya usia dan pengalaman hidup, imajinasi sewaktu kecil tentu saja banyak yang berubah.

Setelah memasuki duna kerja, ternyata bekerja tidak cukup hanya mengandalkan skill tanpa disertai hati dan semangat pengabdian. Bekerja tanpa hati akan terasa hambar dan membosankan. Idealnya dalam bekerja, seseorang melakukan aktualisasi diri sehingga ketika melihat hasil kerjanya seakan melihat potret dan karakter dirinya.

Hidup, berkarya dan bermain lalu menyatu, menjadi satu paket, three in one. Bukankah hidup itu sendiri sebuah anugerah Tuhan yang harus dirayakan dengan kerja kreatif, produktif dan konstruktif? Dengan semakin majunya teknologi moderen maka sekarang ini sangat memungkinkan menciptakan suasana kerja lebih nyaman, menyenangkan dan produktif.

Lebih dari sekadar tempat bekerja, suasana kantor mestinya juga diubah  agar merupakan suatu komunitas yang mendatangkan rasa hangat, penuh aura kekerabatan dan pertemanan yang mendukung kompetisi untuk berprestasi dengan tetap memegang komitmen etika professionalisme.

Orang yang bekerja namun tidak memiliki kebanggaan dan kepuasaan atas hasilnya disebut alienated person, yaitu pribadi yang teserabut dan tersingkir dari apa yang ia lakukan. Lebih parah lagi kalau  seseorang benci pada pekerjaannya, lalu berkembang pada lingkungan sosialnya, maka akan mengalami kepribadian yang pecah. Dan lebih jauh lagi bisa disebut sakit mental.

Bayangkan, betapa tersiksanya seseorang yang hidup menganggur, sementara ketika bekerja membenci pekerjaannya. Inilah yang dimaksud teralienasi di mana seseorang tidak lagi menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Tidak nyaman dengan keadaannya.

Dengan bekerja maka manusia menjadi dirinya dan menjaga martabatnya. Tuhan memberikan semua fasilitas yang terhampar dan tersimpan di bumi, dan manusia dianugerahi organ tubuh yang sangat canggih serta pikiran yang sangat hebat. Untuk apa semua itu jika tidak untuk berkarya, memakmurkan bumi dan berbagi kasih sayang serta kebajikan dengan sesamanya?

Demikianlah, Al-Quran selalu mengkaitkan anjuran beriman dengan dengan perintah amal saleh.  Ciri orang yang beriman adalah mereka yang selalu berkarya di jalan yang benar dan baik, untuk tujuan kebenaran dan kebaikan.

Tetapi bekerja sekadar benar dan baik belumlah cukup. Mesti ditambah nilai keindahan. Banyak pekerjaan yang benar dan baik, tetapi belum tentu indah. Tanpa keindahan kehidupan akan terasa kering.

Tanpa kerja produktif seseorang juga akan kehilangan harga dirinya. Jangan bayangkan seseorang akan merasa bahagia dengan mengandalkan warisan orangtua tanpa yang bersangkutan memiliki keterampilan kerja.

Sering kita jumpai pemuda yang merasa dirinya kaya, secara ekonomi berlimpah, namun hidupnya tidak bahagia karena semua itu hasil kerja orangtuanya. Dia tidak memiliki keterampilan dan kepandaian yang dibanggakan.

Di hatinya, merasa iri dan malu terhadap teman sebayanya yang bisa bekerja secara professional  dan hasil karyanya mendapat penghargaan dari  masyarakat. Jadi, kerja, harga diri dan kebahagiaan saling terkait dan saling mengisi.

Menjadi persoalan ketika bekerja secara  terpaksa karena tidak ada pilihan lain. Yang demikian ini dialami banyak penduduk Indonesia. Langkah pertama adalah mengembangkan keterampilan dan mencari pekerjaan yang cocok dan disenangi, entah di lingkungan lama ataupun yang baru.

Kedua, jika kondisi eksternal  tidak bisa dirubah, maka seseorang harus merubah kondisi internalnya. Yaitu belajar mencintai pekerjaan yang tersedia.

Namun di atas itu semua, seseorang akan merasa bermakna hidup dan aktivitasnya kalau memiliki niat dan pandangan hidup yang mulia bahwa hidup adalah festival yang harus dirayakan dan juga hidup adalah anugerah yang mesti disyukuri serta dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Kalau kita bekerja semata mengharapkan insentif material-duniawi, maka bersiaplah untuk kecewa. Kebaikan orang biasanya bersyarat dan terbatas.

Orang cenderung memikirkan dirinya sendiri dan enggan berkorban serta memberi berlebih pada orang lain, kecuali ada kalkulasi untung rugi. Kecuali mereka yang benar-benar menghayati bahwa kemuliaan dan kebahagiaan itu justru terletak dalam mencintai dan memberi, bukannya meminta dan mengambil, sebagai rasaya syukur pada Sang pemberi hidup.

Jadi, berbahagialah mereka yang berhasil mempertemukan: bekerja, bermain, beramal saleh, bermasyarakat dan mensyukuri hidup. Aku mengada karena aku berkarya. Dan aku bangga menjadi karyawan Tuhan